
🌹Sebuah peristiwa mengerikan yang menimpa, bisa jadi membekaskan luka dan trauma yang akan bersarang seumur hidup pada jiwa. Jika tidak segera disembuhkan maka kesehatan mental akan terus terganggu. Begitulah jiwa rapuh seorang wanita, jika sudah sakit sulit untuk disembuhkan.🌹
Jenar.
Tujuh hari setelah mas Ghufron berpulang ....
Masih tidak percaya dia benar-benar sudah pergi dan tidak akan pernah kembali ke dunia ini. Meninggalkan aku dan semua orang yang menyayanginya.
Room chat dengan mas Ghufron belum terhapus, sering aku membuka dan membaca lagi percakapan kami melalui aplikasi berkirim pesan paling populer itu. Kadang masih ada desir dalam dada, ketika mengetahui nomer kontaknya sedang online. Padahal aku tahu ponsel milik mas Ghufron sekarang dipegang oleh Nalini lengkap dengan semua akun sosial medianya. Nalini bilang akan segera dioffkan setelah semua urusan selesai.
Rasanya mas Ghufron seperti hanya sedang pergi kemana dan untuk sementara. Mungkin karena dia tidak sempat berpamitan denganku, jadi perasaanku mengatakan dia masih ada. Kami hanya sedang tidak bisa bertemu saja.
Pertemuanku dengan mas Ghufron yang singkat tapi membekas dalam hati, telah mengukir banyak cerita dan kenangan indah. Pantas, kan, kalau aku masih belum bisa mengikhlaskan kepergiannya? Walau bibirku berkata rela, tapi ternyata hati ini sulit untuk mengikhlaskan.
Pagi tadi, Nalini mengirim pesan, bahwa teman-teman mas Ghufron di komunitas ingin bertemu denganku. Mereka ingin membicarakan tentang kelanjutan rencana pembukaan cafe yang semula dihandle oleh mas Ghufron.
Cafe yang menjadi rencana besar kami berdua. Rencana itu yang hampir setiap hari kami diskusikan, dari desain interior, menu, konsep, semuanya kami diskusikan bersama. Rasanya berat jika aku harus membicarakan tentang cafe itu sekarang, di saat aku masih berusaha melapangkan hati atas kepergian mas Ghufron.
Namun, demi menghargai ketulusan teman-teman komunitas dan mewujudkan cita-cita besar mas Ghufron, aku bersedia menemui mereka. Kami membicarakan masalah cafe sampai siang, lalu kami mengunjungi Gus Hafidz di pesantren milik kyai Ali. Bisa dibilang, putra tunggal kyai Ali itu adalah guru spiritual kami di komunias. Gus Hafidz rutin mengisi ceramah sekaligus memberikan motivasi untuk kami.
“Kalau mau melanjutkan buka cafe sebaiknya seperti yang sudah Ghufron dan Jenar rencanakan. Konsep dan tempatnya sudah jadi, kan? Tinggal diteruskan saja.” begitu kata gus Hafidz waktu kami mengunjunginya.
“Kalau konsepnya sudah jadi, Gus. Hanya tempatnya yang belum beres, kemarin mas Ghufron belum deal sama pemiliknya.” Jawabku. 90% dari rencana tentang cafe ini sudah matang, sudah didiskusikan antara mas Ghufron, aku dan teman-temannya.
“Soal anggaran modal juga belum beres, Gus. Kami masih membutuhkan dana tambahan.” kata mas Haikal, nantinya dia yang akan menggantikan semua tanggung jawab mas Ghufron di komunitas, termasuk soal cafe.
“Gampang, nanti saya bantu cari investor. Asal konsepnya jelas dulu, termasuk perkiraan keuntungan yang didapat. Jenar tetap akan invest, kan?”
Kami menghabiskan waktu siang di pesantren Al-Hidayah milik kyai Ali. Berdiskusi dengan gus Hafidz, mendengarkan nasehat yang diberikan kyai Ali dan bu Nyai. Juga mengirim do’a untuk mas Ghufron, semoga dilapangkan dan diterangkan kuburnya.
Rencananya dari pesantren, aku ingin langsung pulang. Tinggal jalan kaki dari pesantren sampai jalan raya, lalu naik bis ke Magelang. Namun, rencanaku berubah ketika bertemu dengan pak Hara. Dia datang karena ditelpon oleh Nalini, minta tolong mengantar pulang.
__ADS_1
Dasar Nalini, bisa-bisanya minta tolong sama pak Hara yang baru saja dikenal, padahal ada banyak teman-teman mas Ghufron. Kalau Nalini mau aku juga bisa mengantarnya pulang dengan meminjam motor pesantren, atau Nalini bisa pulang bareng Aina. Tapi Nalini lebih memilih minta tolong kepada pak Hara. Kalau mas Ghufron masih ada dia pasti kena marah.
Waktu hendak melaksanakan salat ashar, pak Hara menahan langkahku. Dia memberikan sepucuk surat yang katanya titipan dari mas Ghufron. Tadinya kupikir surat apa, sebab amplopnya berkop nama rumah sakit umum pusat tempat mas Ghufron berobat. Setelah kubuka, ternyata ada tulisan tangan mas Ghufron di balik hasil pemeriksaan laboratorium itu. Melihat hasil uji laboratorium atas sample darah mas Ghufron, hatiku seperti diiris sembilu, kembali teringat kepergiannya yang begitu cepat.
Karena penasaran, langsung kubaca surat itu. Kata demi kata yang terangkai dalam sebuah surat sederhana itu membuat mataku memanas dan airmata kembali menetes. Setelahnya, aku jadi makin merindukan mas Ghufron. Rencana untuk segera pulang berubah, setelah berpamitan dengan kyai Ali, bu Nyai dan gus Hafidz, aku justru meminta Aina mengantar ke makam.
Kyai Ali sudah memperingatkanku sebelumnya, “langit sudah gelap, Nduk. Langsung pulang saja, tidak baik seorang gadis pergi ke makam sendirian dalam cuaca seperti ini.”
Tapi aku berkilah, “namung sekedap abah yai, insya Alloh mboten dangu.” ( Hanya sebentar, abah yai. Insya Alloh tidak lama.)
Aina juga sudah menawarkan diri untuk menemani. Tapi aku bersikeras hanya minta diantar sampai depan makam, akan segera pulang setelah mengirim do’a. Karena aku tidak ingin merepotkan Aina, kasihan kalau dia harus kehujanan hanya karena menungguku.
Saat hendak memasuki area pemakaman aku melihat sebuah motor terparkir di samping kanan jalan masuk ke makam. Merasa sedikit lega, setidaknya aku tidak akan sendirian di dalam makam. Aku tidak pernah tahu kalau ternyata pak Hara yang ada di makam, ia sedang berdiri di depan pusara mas Ghufron. Dia sedang khusyuk menatap gundukan tanah yang masih berwarna merah dengan taburan kelopak bunga memenuhi seluruh permukaannya.
Sempat aku menyapa sekilas, baru memanjatkan do’a untuk mas Ghufron. Aku pikir setelah itu akan langsung pulang, agar tidak kehujanan. Namun, ternyata belum juga aku selesai berdo’a, tetes air hujan sudah jatuh titik demi titik menghujam kepalaku yang tertutup jilbab. Tidak ada pilihan lain selain berteduh karena hujan tiba-tiba bertambah deras. Beruntung ada cungkup yang tidak terlalu jauh dari tempatku. Sore itu aku dan pak Hara terjebak hujan berdua di tengah makam.
Sebetulnya aku tidak takut berada di tengah makam saat hujan lebat, setidaknya ada pak Hara yang menemani jadi aku tidak sendirian. Namun, aku juga khawatir kalau hanya berdua dengan pak Hara akan membuat phobiaku kambuh. Beruntung pak Hara cukup pengertian untuk tidak terlalu berdekatan denganku, meskipun demikan tetap ada rasa tidak nyaman.
Merasa lega karena sampai hujan mereda dan kami keluar dari makam, tidak terjadi apa-apa denganku. Sempat panik karena ponselku tidak ada di dalam tas, padahal aku harus memesan taksi online. Mungkin karena kepanikan itu, perasaan takut kembali muncul. Ditambah tubuhku yang kedinginan, suasana hujan dan surup persis waktu peristiwa itu terjadi.
Aku sudah berusaha dengan keras melupakan, tapi setiap kali ada setitik aroma atau suasana yang hampir sama, ingatan tentang hari itu terpanggil lagi. Sepertinya otakku selalu dipaksa memutar ulang kejadian beberapa tahun yang lalu dan hal itu pasti membuatku panik sekaligus ketakutan.
Sore itu saat menunggu taksi online yang kupesan menggunakan ponsel milik pak Hara datang, potongan kejadian mengerikan itu hadir tanpa diundang. Aku seperti terlempar ke masa lalu, saat aku berada di tenda sendirian dalam keadaan hujan deras dan petir menyambar, lengkap dengan gemuruh guntur yang menggelegar.
Aku sedang berusaha menetralkan perasaan saat pak Hara menawarkan jaketnya padaku. Sudah kutolak dengan sopan, tapi dia tetap memaksa memakaikan jaketnya padaku. Seketika aroma menyengat itu kuhirup dan bayangan hitam itu seolah berada di hadapanku.
Mas Ghufron pernah mengajarkan, saat aku sudah merasa tubuh akan bergejolak, maka aku harus mengambil napas dalam-dalam sembari berdzikir. Aku sudah melakukan seperti yang mas Ghufron ajarkan, juga meyakinkan diri bahwa aku tidak sedang berada di dalam tenda sendirian danyang bersamaku adalah pak Hara bukan laki-laki itu.
Sambil meremas jemari untuk meredam gejolak yang sudah menyeruak, aku bergumam dalam hati, ‘ini pak Hara, bukan dia. Pak Hara orang baik, tidak akan menyakitiku. Pak Hara orang baik, pak Hara orang baik, pak Hara orang baik.’
Namun, semua yang kulakukan tidak bisa mengatasi trauma yang sudah terlanjur menguasai diri. Aku seperti merasakan bayangan hitam itu menghampiri, mendekat dan makin dekat sekali. Kusilangkan kedua tangan untuk memeluk diriku sendiri karena tubuhku mulai bergetar lengkap dengan keringat dingin yang keluar dari pori-pori.
__ADS_1
Setelah itu aku tidak bisa menguasai diriku sendiri, lututku terasa lemas, tapi seluruh tubuh kaku. Pandangan kabur, karena kepala terasa berputar, lalu menggelap. Tubuhku limbung, kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.
Kejadian seperti ini bukan baru sekali kualami, sudah sering. Walau pun demikian tidak banyak yang tahu kalau aku mempunyai trauma di masa lalu. Hanya sebagian temanku, bahkan keluargaku juga tidak tahu. Ayah dan bunda yang mengetahui tentang peristiwa itu tidak akan mengira kalau efeknya sangat dahsyat bagiku.
Dulu, untuk menyembuhkan mentalku setelah kejadian mengerikan itu, ayah dan bunda membawaku ke psikiatri. Saat itu aku belum merasakan ketakutan dan serangan panik seperti ini. Seiring berjalannya waktu, ternyata peristiwa yang menimbulkan trauma itu masih membekas, jiwaku tidak benar-benar sembuh. Kata mas Ghufron, mentalku masih sakit perlu diobati.
Itulah alasan kenapa setiap bulan aku mengunjungi pesantren milik kyai Ali bersama mas Ghufron dan teman-temannya. Aku berikhtiar di sana, mencari ketenangan jiwa dengan mendengarkan ceramah keagamaan. Walau belum bisa sepenuhnya menyembuhkan jiwa, setidaknya aku berusaha mengisi batin dengan siraman rohani.
Mas Ghufron bilang, aku harus ke psikiatri lagi. Dia sudah berjanji akan menemaniku berobat secara medis, tapi apalah daya hanya rencana yang dibuat oleh manusia kalau tidak diridhoi Alloh? Belum sempat rencana itu terealisasi, dia sudah meninggal.
Mungkin nanti, aku harus berobat sendiri karena tidak mungkin aku bertahan dengan keadaan seperti ini selamanya. Aku tidak ingin kesehatan mentalku terganggu karena peristiwa mengerikan yang telah lalu.
.
.
.
Bersambung....
Hai, teman-teman tersayang. Semoga selalu dilimpahkan kesehatan, rejeki dan umur bermanfaat, aamiin. Maaf, melenceng dari perkiraan sebelumnya untuk jadwal up. Ini juga sedikit sekali, mohon dimengerti. hehe.
Apaan, sih? Minta dimengerti melulu. Ya, begitulah, ya. karena kalau minta dicintai sudah biasa hehe.
Untuk bab selanjutnya, kapan?
kapan-kapan, ya. hehe.😊😊
Salam damai,
Desi Desma/La lu na
__ADS_1