
🌵Yakinlah pada hati, bahwa perasaan tulus akan berbalas. Getaran hati akan sampai, tidak hanya bertepuk sebelah tangan.🌵
“Sejak kamu tinggal di sini, mbak belum pernah melihatmu seceria ini,” ujar Nanda yang sedang memilah bumbu dapur bersama Jenar.
Jenar tersenyum, “Memangnya kemarin-kemarin saya sering cemberut, Mbak?”
“Mbak Sayumi bilang, sekarang kamu jarang bangun malam-malam karena mimpi buruk.” Nanda mengkonfirmasi berita dari asisten rumah tangga yang setiap malam menemani Jenar tidur. Ia tahu adik sepupunya ini tidak bisa tidur sendiri karena takut mimpi buruk.
“Alhamdulillah, sudah jarang mimpi buruk. Akan tetapi saya masih tidak bisa tidur sendiri, Mbak. Apalagi kalau hujan dan mati listrik, takut ada monster yang datang,” Jenar menjelaskan dengan serius, tapi Nanda menanggapi dengan tersenyum. Sebab, ia tidak tahu keadaan Jenar yang sebenarnya.
“Apakah kamu sudah menemukan cara yang bisa membuatmu berhenti mimpi buruk?” tanya Nanda.
Jenar mengangguk, tentu saja karena manfaat menjalani terapi konseling selama tiga minggu. Namun, ia belum ingin menceritakan kepada siapa pun, termasuk Nanda.
“Bagaimana caranya?” Nanda segera menambah penjelasan pada pertanyaan yang mungkin menyinggung Jenar, “Ah! Mungkin bisa kupraktekkan bila nanti mengalami mimpi buruk.”
Jenar menarik kedua sudut bibirnya ke atas, “Melakukan relaksasi sebelum tidur, lalu jangan berhenti berdo’a sebelum benar-benar lelap.”
Nanda manggut-manggut. Namun, rasa ingin tahunya belum terpuaskan dengan jawaban Jenar. Masih ada sesuatu yang mengganjal perasaan.
“Itu yang membuatmu jadi lebih semringah?” Nanda mengamati adik sepupunya dari atas ke bawah. Dalam hati mengiyakan jika akhir-akhir ini air muka Jenar tampak lebih riang, memancarkan aura kecantikan alaminya.
“Ehm … mungkin karena saya bisa tidur nyenyak pada malam hari, jadi saat bangun lebih segar. Pikiran juga lebih rileks, Mbak.” Jenar menjelasakan secara logika.
“Mbak rasa bukan hanya itu yang membuat wajahmu jadi berseri setiap hari,” Nanda memutar tubuh, menatap adik sepupunya, lalu menyimpulkan sendiri, “Pasti ada hal lain.”
“Maksud mbak?” Jenar menatap Nanda sekilas.
“Mungkin telah terjadi sesuatu yang tidak kamu ceritakan pada kami.” Nanda memberi clue, memancing agar Jenar mau bercerita.
Jenar hanya menggeleng sambil tersenyum. Tampaknya masih belum ingin mengungkapkan rahasia yang tersimpan. Bukan hal mudah berbagi cerita yang menyakitkan, bukan?
“Jen?” panggilan dari belakang punggung membuyarkan pikiran. Kedua perempuan itu kompak menoleh, mendapati Hara telah berdiri di ujung dapur.
“Mas Faiz minta pisau untuk membersihkan ikan,” ucap Hara kepada dua perempuan berjilbab lebar di hadapannya.
Jenar segera mengambil beberapa pisau dan memberikannya kepada Hara. Ia menatap Hara dari atas ke bawah, terdapat noda pada kaos dan celananya basah. Kaki dan tangan pria itu pun kotor.
“Koyone ono sing kesenengen ngesat blumbang.” ujar Mbak Nanda sebelum Jenar sempat berkata. (Sepertinya ada yang terlalu senang menguras kolam ikan.)
Jenar terbahak sampai menutup mulutnya dengan punggung tangan. Hara mendengkus, paham jika dua perempuan itu sedang menertawakan keadaannya yang penuh lumpur akibat menangkap ikan di kolam.
“Ini gara-gara ide konyolmu!” gerutu Hara pada Jenar.
Jenar makin terpingkal. Ingat beberapa waktu yang lalu, saat Arkaan dan Naufal memancing dan hanya mendapat ikan kecil. Ia mengusulkan untuk menguras kolam saja, agar bisa menangkap ikan yang besar. Ide yang disambut suka-cita oleh anak-anak, tapi membuat para orang dewasa kerepotan.
“Kaca matanya dilepas saja, Pak! Khawatir jatuh, malah susah nanti.” ujar Jenar setelah tawanya mereda.
Hara sedikit menunduk, mencondongkan badan ke depan, “Bisa minta tolong? Tangan saya kotor.”
Jenar paham maksud Hara. “Maaf, ya, Pak?” ucapnya sebelum membantu melepas kaca mata pria itu. Ia merasa jantungnya berdesir, ketika tidak sengaja jemarinya menyentuh pipi Hara.
“Tolong simpankan! Nggak bisa pulang saya nanti kalau sampai hilang.” seloroh Hara seraya menegakkan badan, segera menampik desiran aneh yang hadir saat tanpa sengaja jemari Jenar menyentuh pipinya.
Jenar mengangguk, “Bisa melihat, kan, Pak? Jangan sampai salah tangkap, loh.” ia kembali menutup mulut, menahan tawa.
Hara tersenyum menanggapi kelakar Jenar. Embusan napas pun terdengar dari hidung, mengiringi langkahnya keluar dari pintu. Ia harus menghalau perasaan aneh yang baru pertama menghinggapi hati itu.
Jenar menatap punggung tegap yang berjalan menjauh. Embusan napas pun terdengar dari hidungnya, ketika bayangan Hara tak lagi terlihat. Senyum pria itu menari-nari di pelupuk mata, menghadirkan desir aneh dalam hati yang kian menjalar, menghangatkan aliran darah.
“Waku pertama bertemu, mbak pikir Hara itu laki-laki angkuh yang dingin. Makin kenal, ternyata dia baik dan ramah, ya?” ucap Nanda ketika Jenar kembali ke dapur.
“Every body never stop change!” jawab Jenar seraya tersenyum. Mengungkapkan jika setiap orang akan berubah seiring berjalannya waktu dan ia sangat menikmati perubahan sikap Hara akhir-akhir ini yang cenderung menghangat.
Nanda manggut-manggut. Interaksi antara Jenar dan Hara makin memperkuat asumsinya. Meski tanda-tanda yang terlihat belum cukup untuk menjawab sebuah tanda tanya besar dalam benak.
“Saya petik daun kemangi dulu, ya, Mbak.” Jenar mengambil wadah, lalu bergegas keluar tanpa menunggu persetujuan kakak sepupunya.
***
Naufal dan Arkaan tampak senang sekali menangkap ikan di kolam yang sudah dikuras airnya. Mereka tidak risih berjalan di atas lumpur, tidak kapok walau berkali-kali terseok sampai jatuh. Tak peduli dengan pakaian kotor dan sekujur tubuh penuh lumpur. Ikan yang menggelepar di antara lumpur hitam, membuat mereka tergelak dan antusias menangkap.
“Yang kecil jangan dicampur sama yang besar, Fal! Susah nanti milihnya, kalau mau dilepas lagi.” Hara memberi peringatan kepada ponakannya. Naufal mengangguk, meski tidak yakin bisa melaksanakannya. Sebab, ia tidak begitu paham bagaimana cara memisahkan ikan yang bervariasi besar kecilnya.
“Hara!” Faiz memanggil Hara yang sedang membantu Irkham mengurangi lumpur di kolam agar tidak terlalu dangkal. Sudah terlanjur dikuras, lebih baik dibersihkan sekalian kolam itu.
Hara mendongak, mendapati Faiz melambai ke arahnya. Ia mengangguk, lalu bergegas menghampiri pria itu.
“Bantu saya membersihkan sisik ikan, ya?” pinta Faiz yang segera disetujui oleh Hara.
“Bisa, kan?” Mengingat siapa Hara dan apa pekerjaannya, Faiz sangsi pria itu bisa melakukan pekerjaan yang ia minta.
__ADS_1
“Bisa, Mas.” sahut Hara yakin, “Sudah beberapa kali disuruh Mbak Nabila membersihkan ikan.”
“Bagus kalau begitu."
Detik berikutnya, Hara sudah duduk di sebelah ember besar berisi ikan nila dan lele. Ia membersihkan sisik ikan dengan telaten, sedangkan Faiz yang membersihkan bagian perut ikan.
“Saya nggak nyangka kamu bisa tinggal di rumah Nabila, setahu saya Akmal itu menyebalkan.” Faiz memulai obrolan basa-basi.
“Mas Akmal memang kadang menyebalkan, tapi dia baik. Lagi pula saya lebih sering menginap di pesantren sekarang.” ungkap Hara.
Faiz mengernyit. Hara segera menjelaskan sebelum lawan bicaranya bingung, “Saya bekerja mengawal Kyai Ali jika beliau mengisi pengajian di tempat-tempat tertentu.”
Faiz menanggapi dengan mengangguk serta mulut berbentuk huruf o tanpa suara. Kemudian ia bertanya lagi, “Tempat tertentu seperti apa yang Kyai Ali membutuhkan pengawalan kamu? Setahu saya biasanya Pak Kyai hanya pergi dengan sopir dan santri kalau mengisi pengajian.”
“Ada tempat-tempat tertentu yang menurut Kyai Ali tidak aman, sehingga membutuhkan keberadaan saya. Seperti saat mengisi di panti rehabilitasi pecandu narkoba, atau lokalisasi wanita tuna susila.” jelas Hara.
Faiz manggut-manggut. Ia menyayat kulit ikan, membuka perut, lalu mengeluarkan isinya. Setelah itu ia meletakkan ikan yang telah dibersihkan pada ember, terpisah dari ikan yang masih hidup.
“Memangnya kamu jago berkelahi, sehingga Kyai Ali memintamu menjadi pengawalnya?” Faiz makin gencar mencari informasi.
Hara mengangguk, “Saya memegang sabuk hitam taekwondo, beberapa kali memenangkan kejuaraan saat sekolah. Akan tetapi, Kyai Ali memerlukan saya bukan untuk berkelahi. Beliau ingin mengantisipasi jika suatu saat harus menempuh jalur hukum. Karena selama ini dakwahnya di tempat-tempat yang tidak biasa, khawatir ada golongan yang memanfaatkan kesempatan untuk menyebar fitnah.”
“Oh, pasti karena Kyai Ali tahu kredibelmu di Jakarta. Sudah biasa mengurus hal-hal yang berkaitan dengan birokrasi jadi tak diragukan lagi.” puji Faiz.
Hara hanya memberi respos dengan mengangkat sudut bibir ke atas. Pikiran jelinya menerka jika Faiz sedang menggali informasi tentang dirinya.
“Sudah berapa lama kerja sama keluarga Reyfan?” tanya Faiz.
“Hampir seumur hidup,” Faiz membelalakkan mata mendengar jawaban Hara. Gerakan membersihkan isi perut ikan terhenti sementara.
Hara menceritakan tentang asal-usul keluarganya, bagaimana bisa berhubungan dengan Reza dan Reyfan. Siapa orang tuanya, juga termasuk hubungannya dengan Nabila.
“Maaf, saya turut prihatin.” Faiz jadi tidak enak karena membuat Hara menceritakan tentang masa lalunya.
“It’s ok, kok. Dulu mungkin berat menceritakan masa kecil saya. Saat teman-teman sebaya masih senang nongkrong dan bermain, saya sudah harus terbiasa mengurus dan menghidupi diri sendiri.” Mata Faiz kembali terbelalak mendengar pengakuan Hara. Pantas saja pria ini tidak bisa mengekpresikan perasaan pada wajahnya, karena biasa tertekan sejak kecil.
“Itu yang menjadikanmu bisa melakukan banyak hal, ya, Hara?” sanjung Faiz.
Hara tersenyum masam, “Selalu ada berkah dalam tiap musibah.”
Faiz setuju dengan pendapat Hara. Ia mengalihkan pandangan ke samping kiri, ketika mendengar Arkaan berteriak. Rupanya anak itu baru saja mendapat ikan yang lumayan besar hingga tidak kuat mengangkatnya. Irkham segera mengambil jaring, meminta Arkaan menempatkan ikan itu agar tidak lepas.
“Anak-anak itu seperti punya baterai cadangan yang otomatis terisi, jadi tidak punya rasa lelah meski telah beraktivitas seharian,” ujar Hara seraya menggeleng.
“Saya sudah katam kalau soal itu, Hara. Kamu yang belum punya anak pasti kerepotan menghadapi mereka.” jawab Faiz.
Hara tersenyum tipis, beberapa kali ulah Naufal memang membuatnya repot. Namun, berada di sekitar anak itu mampu membuat pikirannya yang kusut oleh pekerjaan, berangsur memudar. Sepertinya Naufal mampu menularkan energi positif, sehingga ia tidak pernah menolak kapan saja anak itu mengajak bermain.
“Nggak habis pikir sama Lion, sudah ditolak mentah-mentah sama keluarga Om Fares, kok masih gencar deketin Jenar. Kadang saya risih setiap kali dia datang, menawarkan bantuan sebagai modus.” gerutu Faiz. Hara kini mengerti apa yang membuat pria di sebelahnya ini menampilkan mimik tidak suka.
“Mungkin ingin membuktikan bahwa dia serius dengan Jenar, selalu bisa membantu keluarganya.” ada rasa aneh yang menelusup relung hati, saat ia mengatakan kalimat itu. Ungkapan yang sebenarnya tidak ingin terlontar dari mulutnya.
Faiz menggeleng, justru mematik Hara untuk berkomentar, “Mereka pasangan serasi.” ucapnya tanpa dengan pandangan lurus menatap Jenar tanpa berkedip dan nada suara sendu. Sejenak kemudian ia memalingkan wajah, kembali fokus membersihkan sisik ikan.
“Kata siapa serasi? Jenar itu anaknya lugu, nggak suka neko-neko, cocoknya sama laki-laki yang unik, bukan sok borjuis seperti Lion.” jawab Faiz.
Hara menoleh sejenak, sosok Ghufron berkelebat di pelupuk mata. Pria sederhana, tapi memancarkan kepribadian diri yang kuat. Tidak banyak bicara, tapi mampu menghadirkan suasana keramah-tamahan setiap kali berbincang.
“Oya? Seperti Ghufron, ya, Mas?” ia jadi antusias menebak pria yang cocok bersama Jenar menurut penilaian Faiz.
“Ya. Kira-kira seperti dia,” Faiz mengarahkan dagu ke arah jam tiga.
Hara mengikuti arah pandang yang dituju, seorang pria berambut panjang ikal, bertubuh kurus tidak terlalu tinggi, nampak sedang menyiapkan tungku untuk membakar ikan. Ia memicingkan mata, mengamati pria yang baru pertama kali dilihatnya itu.
“Namanya Liam, mahasiswa kedokteran, satu kampus dengan Ghufron. Sedang menempuh pendidikan spesialis neurologi. Dia sering ke sini untuk melakukan riset, karena di sini banyak anak-anak berkebutuhan khusus. Pertama kali bertemu, pasti orang tidak menyangka kalau dia calon dokter spesialis neurologi.” Faiz menjeda kalimat, memberi kesempatan kepada Hara untuk mengamati Liam, mahasiswa kedokteran yang penampilannya lebih mirip seniman.
“Ibunya Liam menjadi guru di pesantren tempat saya mengajar. Beberapa kali meminta bantuan saya mencarikan jodoh untuk anaknya. Sempat berpikir dia cocok dengan Jenar, karena penampilan Liam itu mirip Om Fares waktu masih muda.” Faiz menerawang, wajah Fares muda yang sering dilihat lewat foto menghiasi ingatan, “Menjodohkan mereka berdua tidak sulit bagi saya, tapi ternyata Jenar tidak mau.”
Hara mengernyit, ditahannya niat untuk bertanya sampai Faiz selesai bercerita.
“Awalnya saya pikir karena dia belum move on dari Ghufron. Menikah dengan orang yang mempunyai latar belakang pendidikan dan nantinya akan berprofesi sama dengan mantan kekasih, hanya akan menyebabkan dia terus ingat masa lalu, kan?” Faiz menatap Jenar sekilas, lalu kembali melanjutkan kegiatan membersihkan perut ikan.
“Ternyata saya salah, bukan itu yang membuat Jenar tidak mau dijodohkan dengan Liam.” Hara sudah hendak membuka mulut, tapi diurungkan karena tidak ingin terkesan sok tahu.
“Kamu tidak ingin tahu kenapa Jenar tidak mau dijodohkan dengan Liam?” Faiz mulai menebar umpan yang lebih besar untuk menarik mangsanya.
Hara memakan umpan, “Apa?”
Faiz dapat melihat antusiasme Hara, pria itu telah terjerat pancingannya. Sekarang waktunya melancarkan serangan.
“Entahlah! Jenar hanya mengatakan belum ingin menikah sampai urusannya selesai. Apa kamu tahu urusan seperti apa yang dimaksud Jenar?” tanya Faiz dengan wajah serius yang tentu saja dibuat semeyakinkan mungkin jika dia benar-benar ingin tahu.
__ADS_1
Hara tentu saja tahu apa urusan Jenar, pasti berkaitan dengan terapi untuk menyembuhkan traumanya. Namun, ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Faiz demi menjaga privasi Jenar. Gadis itu memegang hak penuh untuk menyimpan rahasia, atau mengungkapkannya kepada keluarga.
“Saya lihat akhir-akhir ini kamu cukup dekat dengan Jenar. Kata Mbak Sayumi beberapa kali kalian pergi berdua, kamu sering antar-jemput dia ke kampus?” Hara tidak bisa mengelak lagi, karena semua tebakan Faiz tepat sasaran.
“Mungkin Jenar pernah cerita sama kamu tentang urusan yang sedang dia kerjakan, atau-” Faiz sengaja menggantung kalimat, untuk melihat langsung respons Hara.
Hara diam, bahkan sengaja fokus membersihkan sisik ikan. Meski sebenarnya sangat ingin tahu lanjutan kalimat Faiz, tapi ia menahan diri. Faiz tersenyum, paham tidak mudah membuat orang seperti Hara berterus terang.
“Saya sempat mengira kamu sedang melakukan pendekatan dengan Jenar, sehingga urusan yang Jenar maksud itu ada hubungannya dengan kamu.”
Hara reflek menoleh dengan mata membelalak, tak menyangka Faiz bisa membaca manuvernya. Faiz kembali tersenyum, pancingannya berhasil membuat Hara tidak bisa berkutik, menjerat terlalu dalam.
“Maaf kalau saya salah terka.” ujar Faiz, sengaja membuat Hara terpojok dengan perlahan.
“Kalau tebakan saya benar, ada banyak hal yang harus saya sampaikan ke kamu.” Kali ini Faiz memilih langsung melakukan threepoint,agar tidak membuang waktu untuk basa-basi.
“Jenar cenderung pendiam, tidak terlalu atraktif seperti Aneesha. Dia hanya akan bicara kalau sudah menemukan lawan yang bisa membuatnya nyaman. Seperti saat kalian makan blendrang tadi … baru sekali ini saya lihat Jenar bisa tertawa lepas di hadapan laki-laki, selain keluarga kami tentunya.”
Hara merespons dengan tersenyum sambil sibuk membersihkan sisik ikan. Ia tidak menyangka Faiz memperhatikan semua aksinya. Perlahan ia mulai bisa mengerti arah pembicaraan Faiz, dan alasan pria itu memintanya membantu membersihkan sisik ikan.
“Pada dasarnya, saya tidak ingin mengekang Jenar. Om Fares juga tidak memberikan ultimatum, melarang putrinya untuk didekati oleh pria mana pun. Namun, kami mempunyai kriteria khusus untuk yang ingin serius.” Faiz melanjutkan penjelasannya, dengan sengaja menekankan kalimat terakhir.
“Kriteria khusus seperti apa, Mas?” tanya Hara. Pertanyaan yang tanpa sadar telah memperkuat kebenaran tebakan Faiz.
Faiz menoleh, senyum kepuasan menghiasi bibir, ketika matanya bertemu dengan mata Hara. Ia sengaja bertanya kepada Hara, “Jadi … tebakan saya benar atau salah?”
Hara tertawa, sadar telah masuk dalam jebakan Faiz. “Saya sedang diintimidasi rupanya.”
“Jangan remehkan cara menginterograsi seorang guru, yang hanya tersurat saja bisa terkuak, apalagi yang sudah tersirat.” jawab Faiz.
Hara tidak bisa berkutik lagi, seperti ikan yang sudah tertangkap dan hanya bisa menunggu eksekusi pemancing.
“Apakah sangat terlihat, Mas?” tanya Hara, penasaran bagaimana Faiz bisa menebak kedekatannya dengan Jenar sebagai rasa tertarik, padahal Jenar sendiri mungkin tidak sadar akan hal itu.
Faiz menggeleng, “Kamu pintar melakukan manuver, membuatnya nyaman dengan hal-hal kecil yang tidak berlebihan. Saya yakin Jenar tidak sadar bahwa kamu sedang berusaha meraih hatinya.”
“Sampai tadi bahkan dia tidak tahu kalau saya cemburu melihatnya turun dari mobil Lion.” Hara spontan berkata jujur, karena merasa Faiz bisa dipercaya.
Faiz terbahak, sampai ikan yang sedang dipegang hampir saja lepas. Ternyata perkiaraannya tadi bahwa telah terjadi sesuatu dengan Hara dan Jenar benar.
“Itu yang membuatmu bergegas mengajak Naufal pulang habis salat dzuhur tadi?” Bukan sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan yang disetujui dengan anggukan oleh Hara.
“Kamu tahu Hara? Perempuan memang lebih sering menggunakan perasaan dari pada akal, tapi ada kalanya kaum hawa itu kurang peka dan perlu pengakuan.” seloroh Faiz.
Hara mengangguk, membenarkan ucapan Faiz. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan bertanya, “Tadi kriteria khusus seperti apa yang dimaksud Mas Faiz?
“Wah! Nggak sabar rupanya,” ucap Faiz.
Hara tergelak, "Saya perlu tahu sebelum memantapkan hati untuk mengungkapkan."
Faiz tersenyum penuh arti, baru melanjutkan kalimat, “Jadi keluarga kami punya kriteria khusus untuk para laki-laki yang ingin mendekati anak perempuan kami. Pertama, kalau serius mengajak pergi harus berani datang ke rumah, kami tidak akan menerima calon yang main belakang, ketemuan di luar tanpa sepengetahuan kami. Kedua, kami bukan penganut pacaran dulu baru menikah. Kalau memang serius, mintalah secara baik-baik, kami tidak akan mempersulit.”
Hara merekam semua penjelasan Faiz, sejauh ini tidak ada yang susah dilakukan. Dia tidak pernah main belakang, selalu menjemput dan mengantar langsung ke rumah setiap kali mengajak Jenar pergi. Namun, dia tetap butuh penjajakan sebelum memutuskan untuk datang meminta secara baik-baik.
“Oya, satu di antara yang paling penting dan tidak bisa ditoleransi adalah tentang agama.” Faiz sengaja berbicara tegas dan penuh penekanan, “Kami tidak menerima calon yang tidak seiman. Mungkin kami bisa membaur dengan semua kalangan, termasuk umat berbeda agama. Namun, hanya sebagai saudara, bukan untuk masuk ke dalam silsilah keluarga.”
Hara tersenyum getir, ini juga yang dikatakan oleh Noura kemarin. Ucapan yang membuatnya sadar, ada benteng besar menjadi penghalang hubungannya dengan Jenar. Seserius apa pun, ia tidak akan pernah bisa melangkah maju selama masih berada dalam iman yang berbeda.
“Saya mengatakan seperti ini, agar kamu bisa mempersiapkan diri sekaligus meyakinkan hati." Faiz merapikan peralatan memasukkan ke ember, lalu beranjak. Ia sempat berucap sebelum melangkah, “Memang berat, Hara! Akan tetapi, bukan berarti tidak bisa diperjuangkan. Saya yakin kamu tidak sekedar ingin main-main dengan Jenar.”
“Saya merasa seperti sedang diinterview, lalu diberi challenge oleh pegawai HRD, Mas.” Ada nada sendu dalam ucapan Hara, tapi pria itu menutupnya dengan ulasan senyum tipis di bibir.
Faiz terbahak, tidak ingin membuat Hara terhanyut sedih. Ia pun pernah mengalami berada dalam situasi seperti Hara. Bedanya, ia tidak perlu meyakinkan orang tua Nanda tentang keimanan, karena mereka memeluk agama yang sama.
“Ini baru permulaan, akan lebih berat jika bapak atau Om Fares yang melakukan wawancara. Jadi siap-siap saja!” ujar Faiz seraya melangkah pergi.
Hara mendengkus. Ingat saat Reyfan datang hendak melamar Aneesha satu setengah tahun yang lalu. Pakdhe Teguh sengaja mempersulit dengan mengajukan berbagai macam persyaratan aneh dan tidak masuk akal. Berbagai pikiran berkecamuk dalam benak, membelukar. Jika syarat yang diajukan padanya sama dengan Reyfan, maka sudah tentu ia akan kalah sebelum berjuang.
Ia mendongak, menatap Jenar yang sedang berjalan melewati kolam. Pandangan mereka sempat bertemu, hanya sejenak karena Jenar segera menunduk setelah mengulas sebuah senyuman yang hanya ditujukan untuk dirinya. Ia mulai terbiasa dengan senyum itu, juga suara riang Jenar kala menyapa lewat sambungan telepon. Sejujurnya ia tidak ingin kehilangan, semua yang bahkan belum benar-benar tergenggam di tangan.
Let me fight to love you, batin Hara dalam hati.
.
.
.
Bersambung ....
Eh, sudah berani buka-bukaan sama Mas Faiz si Hara. Kira-kira selanjutnya akan berani mengungkapkan sama Jenar tidak? Mau cepet atau lama ngungkapinnya? Bisa dipercepat, sih. Tapi habis itu tamat, hehe ....
__ADS_1