
...🍁Jangan mengira sudah menjadi pria paling kompeten, kalau belum pernah mengalami, bagaimana rasanya berurusan dengan perempuan.🍁...
Hara.
Perlahan Jenar mulai tenang, tubuhnya pun taklagi bergetar hebat, meski genggaman tangan masih terasa dingin. Embusan angin membelai tubuh kami berdua, menggoyangkan ujung jilbab lebar yang dipakai Jenar.
Dia membuka mata, mengernyitkan dahi, saat sadar jemarinya sedang menggenggam tanganku. Pelan dia mengangkat kepala, manik kecoklatannya menatapku sendu. Namun, hanya sebentar, segera Jenar membuang pandangan ke sembarang arah.
“Maaf …,” lirihnya seraya melepas genggaman tangan.
Aku berdiri setelah meletakkan kopi sachet begitu saja di lantai, lalu melangkah, membentangkan jarak diantara kami. Kubiarkan Jenar mengembalikan kesadaran secara utuh, pasti dia perlu waktu untuk menguasai diri.
Aku memilih berdiri di tepi pagar rooftop, membelakanginya. Menatap langit biru sambil menyulut sebatang rokok.
“Tadi ke sini sama siapa?” tanyaku setelah beberapa menit membiarkan Jenar berusaha menenangkan diri sendiri.
“Diantar Aina,” jawab Jenar pendek dan lirih. Masih terdengar ada sedikit getar dalam nada suaranya.
“Pulangnya bagaimana?” tanyaku lagi, tanpa membalikkan badan. Langit biru lebih menarik untuk dilihat, dari pada keadaan Jenar yang memprihatinkan.
“Saya masih ada satu kelas lagi jam 14.30 nanti,” sekali lagi aku mendengar getar pada nada suara gadis itu.
“Mau balik kampus?”
Aku menoleh, sebab tidak mendengar jawaban dari Jenar. Dia hanya mengangguk lemah. Entah mengapa, aku merasa terganggu dengan jawaban itu. Yang benar saja dia mau kembali ke kampus ... dalam keadaan seperti ini?
Aku melangkah panjang, tepat saat Jenar berusaha berdiri dengan sempoyongan sambil mencangklong tasnya. Hampir saja dia jatuh, kalau saja aku tidak segera meraih bahunya. Lihat! Badannya masih sangat lemah, dengan kondisi seperti ini tidak mungkin dia pergi ke kampus sendiri, kan? Mana bisa dia belajar kalau tubuhnya saja tidak bertenaga.
“Terima kasih,” ucap Jenar, saat merasakan aku menopang punggungnya.
Aku melepaskan tangan, tapi tetap berjaga-jaga kalau dia terhuyung lagi. Sementara Jenar berusaha berjalan selangkah demi selangkah, aku mengikutinya dari belakang.
“Saya antar kamu,” kataku. Bukan sebuah tawaran, tapi lebih condong ke perintah yang tidak ingin mendapat penolakan.
“Terima kasih, tapi saya bisa pergi sendiri.”
Jawaban Jenar membuatku tersenyum masam, berkata dengan nada mulai meninggi, “dengan kondisi seperti ini kamu mau pergi sendiri? Mau naik apa? Taksi? Bus? Bagaimana kalau nanti kamu pingsan di perjalanan, apa sopir taksi yang tidak kamu kenal itu mau menolong?”
“Maaf, tapi saya punya langganan sopir taksi perempuan,” jawab Jenar seraya membuang pandangan ke sembarang arah, tapi aku tau ada apa di matanya.
Entah mengapa tatapan sendu dengan kaca-kaca bening yang terlihat di pelupuk mata itu justru membuatku meradang. Keadaan Jenar sedang tidak stabil, tapi dia memaksa agar terlihat sok kuat. Lucu sekali sikap gadis ini.
“Tunggu di luar! Saya ambil barang-barang dan pamit ke Akbar dulu,” cetusku sambil melangkah melewatinya, tanpa memberi kesempatan kepada Jenar untuk menjawab.
Tidak perlu waktu lama untuk membereskan barang-barang. Kepada Akbar dan yang lain, kukatakan bahwa aku harus segera mengantar Jenar kembali ke kampus.
Tentu saja aku tidak mengatakan tentang keadaan Jenar. Bahkan Nalini sempat protes, mengatakan bahwa rapat belum selesai. Namun, aku menyerahkan semua kepada Akbar, agar kami bisa membahasnya lain waktu saja.
Begitu kembali menemui Jenar, dia menyambut dengan ucapan, “Pak Hara tidak perlu re-”
__ADS_1
Aku memangkas begitu saja kalimat Jenar yang belum selesai dikatakan, “Saya antar kamu!”
“Ta-pi sa-,”
“Masuklah!” perintahku setelah membuka pintu mobil, “saya sudah ganti deodorant, juga tidak sedang mengkonsumsi alkohol.”
Jenar terlihat ragu, tapi aku tidak peduli apa yang dia pikirkan. Sebab yang terlintas dalam benak saat ini adalah memastikan gadis itu aman dan selamat. Sanubariku tidak tega membiarkannya sendiri, dalam kondisi lemah seperti ini.
“Pakai seatbealtnya!” ketusku setelah melajukan mobil beberapa meter meninggalkan ruko.
Dari ekor mata dapat kulihat Jenar terpaksa menarik dan memasang seatbealt. Dia mengembuskan napas berat, menyandarkan punggung pada sandaran kursi, dengan pandangan mengarah ke jendela samping.
Marahkah dia? Biarlah! Aku tidak peduli. Yang penting bisa memastikan keadaan gadis ini baik-baik saja, hanya itu yang ada dipikiranku saat ini.
Selama beberapa menit, kami hanya saling diam. Aku memilih menghidupkan audio mobil agar suasana tidak terlalu sepi.
Meski dia berpaling, tapi sekilas bisa kulihat wajah Jenar pucat. Mungkin karena tadi traumanya kambuh, jadi sekarang tubuhnya belum kembali normal. Aku ingin terus mengabaikannya, tapi tatapan kosong Jenar yang terlihat dari pantulan kaca spion dalam cukup mengusik.
Hingga terpaksa aku bertanya padanya, “Kita perlu ke rumah sakit atau bagaimana? Kamu terlihat pucat.”
Jenar menggeleng lemah, tanpa mengubah posisi. Dia tetap membuang wajah ke jendela samping. Sikapnya ini, membuatku merasa diremehkan. Baiklah! Aku tidak akan bertanya lagi, kalau begitu.
Aku menambah volume suara audio mobil. Lebih baik mendengarkan suara penyiar radio yang renyah, dari pada memikirkan keadaan orang yang tidak seharusnya dipikirkan.
Jenar membuka suara, saat mobil berhenti karena lampu rambu lalu lintas berwarna merah, meski terdengar sangat lirih dan ragu. Membuatku reflek mengecilkan volume audio mobil agar bisa mendengar apa yang dia katakan.
“Saya khawatir melewatkan waktu sholat dzuhur, Pak Hara keberatan tidak kalau antar saya ke masjid terdekat? Nanti setelah sholat, baru saya ke kampus. Kalau Pak Hara buru-buru atau ada kerjaan, nggak apa saya ke kampus sendiri,” ujar Jenar panjang lebar, padahal intinya hanya minta diantar ke masjid. Mungkin sudah menjadi ciri khas perempuan, selalu mengatakan keinginan dengan berbelit-belit.
Begitu aku menemukan menara khas tempat ibadah umat islam, segera kubelokkan kemudi untuk masuk ke halaman masjid.
Jenar segera turun, saat mobil berhenti di area parkir. Dia sempat mengucapkan terima kasih dan tidak keberatan jika aku meninggalkannya. Namun, entah mengapa naluri mengatakan aku harus menunggu sampai dia selesai sholat. Tidak tega rasanya membiarkan dia sendiri, di tempat yang bagiku asing. Entah apa Jenar pernah sholat di masjid yang terletak tidak jauh dari jalan Malioboro ini atau juga ini adalah kali pertama dia ke sini.
Cukup lama aku menunggu, sampai bosan rasanya. Entah sudah berapa kali aku scrolling akun sosial media dan mengganti chanel radio. Tidak terhitung pula sudah berapa batang rokok yang habis terbakar, selama menunggu. Namun, Jenar takkunjung kembali.
Ketika rokok yang kupunya hanya tersisa bungkusnya saja dan aku sudah lelah menaik-turunkan kaca jendela, gadis itu baru terlihat dari kejauhan. Gamis warna coklat muda yang dia kenakan, melambai-lambai dihempas angin. Jilbab besar yang senada dengan warna gamisnya pun berkibar ke kanan-kiri.
Jenar berjalan dengan satu tangan memegang jilbab bagian dada, sedangkan tangan yang lain memegang tali tas yang tergantung di bahunya. Sebenarnya tidak ada yang istimewa, tapi aku tidak tahu kenapa mataku seolah tidak ingin lepas dari melihat setiap gerak langkahnya.
Termasuk saat dia berhenti tepat di depan mobil, lalu berbicara dengan seorang ibu yang menggendong anak. Aku memperhatikan bagaimana tangan Jenar menunjuk suatu arah, lalu mengusap kepala anak kecil dalam gendongan. Lesung di kedua pipinya terbentuk, saat dia mengembangkan senyum. Manis. Setidaknya gambaran itu yang kutangkap setiap kali Jenar tersenyum.
Perhatianku belum teralihkan, sampai ibu yang menggendong anak kecil pergi. Pandanganku masih tertuju pada Jenar yang berjalan mengitari mobil, lalu mengetuk kaca di sebelahku. Wangi aroma bunga melati semerbak menyapa indera penciuman, ketika aku menurunkan kaca jendela.
“Pak Hara masih di sini? Saya kira sudah pergi,” ucap Jenar sambil membetulkan tali tas yang melorot dari bahunya.
Lesung di kedua pipinya kembali terlihat, sebab dia tersenyum.
Bukan baru pertama kali, aku melihat Jenar tersenyum, tapi kali ini entah mengapa tenggorokanku jadi terasa kering. Entah karena sejak tadi memperhatikan gerak Jenar atau bau wangi parfum yang dia pakai, membuat aku kesulitan hanya untuk sekedar menelan ludah.
“Pak Hara?” Jenar bertanya sambil menyipitkan mata.
__ADS_1
Aku segera memalingkan muka. Membuang pandangan ke sembarang arah, lalu berdehem agar suara tidak serak, sebab tenggorokan benar-benar terasa kering.
“Saya-,” aku menjeda ucapan yang seperti tercekat di kerongkongan. Sial! Hanya ingin menjawab satu pertanyaan saja, kenapa harus terbata seperti ini?
“Pak Hara kenapa?” tanya Jenar lagi.
Aku harus menahan napas, agar wangi bunga melati itu tidak tercium. Namun, embusan angin yang bertiup sedikit kencang justru menghantarkan aroma menyenangkan itu. Seiring dengan jilbab besar Jenar yang terus melambai karena ditiup angin, aroma melati itu pun menggoda hidung.
Segera aku menghalaunya, agar tidak makin membuatku ingin terus menghirupnya.
“Tentu saja saya nunggu kamu! Kamu kenapa lama banget, sih, sholatnya? Sampai bosan aku nunggu di sini. Kayaknya sholat dzuhur belum tambah jumlah raka'atnya, deh. masih 4 kali, kan?" ketusku tanpa melihat ke arah Jenar.
“Bukannya tadi saya sudah bilang kalau pak Hara boleh pergi?” Jawaban Jenar yang terdengar lebih mirip pertanyaan, membuatku berdecak kesal.
Dengan pandangan jengah, aku bertanya padanya, “Kalau saya pergi, siapa yang antar kamu ke kampus?”
“Saya bisa naik-”
Aku memangkas jawaban Jenar, sebelum dia sempat menuntaskan kalimat, “Mau naik bus? Kalau penumpang dalam bus ada yang pakai parfum atau habis minum alkohol, terus nanti trauma kamu kambuh lagi, bagaimana?”
“Saya bi-,” Jenar tidak melanjutkan ucapan, dia seperti sedang mengingat sesuatu, entah apa.
“Yakin masih mau naik bus dengan wajah pucat begitu?” tanyaku masih dengan nada ketus.
Jenar memang masih terlihat pucat, meskipun tidak sepucat tadi, sebelum dia sholat. Aku tidak habis pikir dengan gadis ini, bisa-bisanya bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal beberapa jam yang lalu, aku seperti melihat sisi terlemah dari dirinya.
“Mau masuk atau tetap di situ? Saya sudah terlalu lama nunggu kamu, loh. Masih mau buang waktu saya lagi?” serentetan pertanyaan kulontarkan, sebab Jenar tidak segera masuk ke mobil. Dia berdiri mematung di tempat, mungkin sedang berpikir.
Aku membuang napas kasar, sepertinya kesabaranku sedang diuji. Dengan nada meninggi, aku memanggil, “Jenar?”
Gadis itu tergeragap, seperti baru saja mengembalikan kesadaran. Tanpa menjawab, dia berjalan memutar, lalu membuka pintu mobil. Semua gerakan Jenar tidak luput dari penglihatanku. Bahkan sampai dia duduk, aku masih memperhatikannya.
“Langsung ke kampus?” tanyaku. Jenar menggeleng. Membuat dahiku berkerut, tanda tidak mengerti.
“Nggak jadi ke kampus?” tanyaku lagi.
Jenar menggeleng lagi, kemudian menjawab, “Tadi Aina kirim pesan, katanya dosen yang mengisi mata kuliah hari ini tidak bisa datang. Jadi jadwal pertemuan dibatalkan. Makanya tadi saya nunggu waktu ashar, biar sekalian sholat di sini. Saya pikir Pak Hara tidak sedang menunggu.”
Penjelasan panjang lebar Jenar, membuatku makin merasa jengah. Apakah setiap perempuan selalu seperti ini? Menyimpulkan sesuatu tanpa bertanya kepada yang bersangkutan. Atau hanya Jenar saja yang selalu membuatku seolah sedang dikerjai oleh gadis ingusan.
“Terus sekarang kamu mau saya antar kemana?”
“Harusnya saya langsung pulang, tapi-”
“Tapi kenapa?”
Aku belum menghidupkan mesin mobil. Bahkan kaca jendela samping pun belum tertutup, menunggu Jenar menjawab pertanyaanku.
Namun, jawaban yang ditunggu justru membuat aku yang tadinya sudah hendak marah, jadi ingin tertawa. Apalagi melihat mimik wajah yang terlihat tanpa rasa bersalah, saat Jenar berkata, “Sebenarnya saya pengin pulang, tapi saya lapar….”
__ADS_1
Ya, Tuhan … dasar perempuan! Apa sikap semua perempuan memang bisa berubah-ubah seperti ini?
Mimpi apa aku semalam, bisa berurusan dengan perempuan yang aneh ini?