
🌵Tidak ada yang salah dengan mengungkapkan perasaan, karena cinta tidak cukup hanya ditunjukkan oleh perhatian.🌵
“Siapa yang ikut mobil ayah?” Fares berdiri di samping mobil, menatap ke arah orang-orang yang sedang berjalan mendekat.
“Jenar ikut Kak Neesha!” seru Jenar yang sudah menggamit lengan kakak tersayangnya.
“Lingga juga!” Lingga bergegas mendekati mobil MPV hitam yang terparkir di depan mobil Fares.
“Bunda ikut Aneesha juga, ya, Ay?” tanya Riani dengan nada merayu, “ingin dekat anak-anak, masih kangen.”
Fares membuang napas kasar, merasa diabaikan oleh istri dan anak-anaknya. Sebab mereka lebih memilih ikut mobil Aneesha.
“Ayah mau sekalian ikut sini juga boleh,” saran Reyfan sambil membuka pintu mobil untuk istrinya.
“Memangnya masih muat? Terus mobil ayah bagaimana?” Fares mengerutkan dahi.
“Masih, kok. Keluarga Pakdhe Teguh bisa pakai mobil ayah, mobilnya Mas Faiz sudah penuh, tuh.” Reyfan menunjuk mobil katana yang telah ditumpangi Faiz, Irkham, Nanda dan kedua anaknya.
Fares berpikir sebentar, lalu menyerahkan kunci mobil kepada kakak iparnya.
“Mas Teguh bawa mobil saya, Mbah Uti sama Mbak Sari ikut jenengan (anda) saja.” ucap Fares.
“Nah! Mbak Say sekeluarga bisa ikut Pakdhe Teguh,” usul Aneesha kepada asisten rumah tangga bersama suami dan kedua anak mereka.
“Ikut siapa saja yang penting katut (keangkut), Mbak. Sayang, kan, sudah cantik begini nggak jadi diajak.” seloroh Mbak Sayumi yang mengundang tawa semua orang.
Satu per satu orang-orang masuk ke mobil. Reyfan mempersilakan ayah mertuanya duduk di depan, sedangkan istri, ibu mertua dan adik iparnya duduk di tengah. Ia sendiri memilih duduk di kursi paling belakang bersama Lingga.
Jenar baru saja akan menutup pintu mobil setelah memastikan tidak ada yang tertinggal. Pakdhe Teguh dan Faiz pun telah memanasi mesin mobil. Ketika dari arah pintu gerbang yang terbuka lebar, datang jeep warna hijau. Jenar mendengkus, mengetahui siapa yang datang di saat mereka sekeluarga sudah bersiap hendak pergi.
“Pacarnya Jenar datang, tuh!” sindir Aneesha.
Jenar memutar bola mata, sambil mencebik. Dalam hati ia membatin, mau apa pria itu datang tidak di akhir pekan.
“Wah! Sepertinya saya datang di saat yang tidak tepat, nih? Mau pada pergi, ya?” tanya Lion begitu turun dari mobil.
“Sudah tahu masih nanya?” sahut Fares setelah membuka kaca jendela mobil.
“Eh, ada Om Fares. Kapan datang, Om?” Lion gegas mendekat, menjulurkan tangan untuk menyalami Fares.
“Lebaran tahun lalu,” sahut Fares ketus, seraya menerima uluran tangan Lion. Dia cukup enggan menanggapi putra tuan tanah yang sombongnya setinggi langit ini.
“Om masih suka bercanda saja. Eh? Ada Aneesha, tante, Lingga, Reyfan?” Lion mengabsen penumpang dalam mobil, “sedang berkumpul di sini, nih? Apa kabar semuanya?”
Semua mengangguk hampir bersamaan. Aneesha dan Riani sejenak menanggapi basa-basi Lion, sebelum pria itu meminta ijin untuk berbicara dengan Jenar.
“Mau bicara apa, sih, Kak? Nggak bisa di sini saja?” protes Jenar, menolak untuk turun dari mobil karena sudah nyaman duduk.
“Sebentar saja, kok, nggak sampai lima menit.” bujuk Lion, bagaimana pun ia harus melancarkan rencana yang sudah disusun matang.
“Beneran sebentar saja, ya? Soalnya kami mau pergi, nggak enak sama yang lain kalau menunggu lama.” pinta Jenar.
Lion mengangguk, “Pinjam Jenar sebentar, Om, Tante!”
Fares dan Riani kompak mengangguk tanpa menjawab. Hanya senyum tipis dari bibir Riani, melambangkan dengan berat hati ia memberikan ijin.
Lion mengajak Jenar menghampiri mobil jeepnya. Ia lalu membuka pintu bagian penumpang guna mengambil sesuatu.
Sebuah bucket yang terbuat dari bunga asli telah berada di tangan kanan, sedangkan kotak warna biru berukuran sedang di tangan kiri. Ia lebih dulu mengulurkan bucket bunga mawar merah kepada Jenar.
“Kamu pasti tahu jika bunga mawar merah ini melambangkan cinta sejati. Kamu juga pasti tahu tentang perasaan saya. Melalui bunga ini saya ingin menegaskan, bahwa sayang saya ke kamu tidak akan berubah. Meskipun kamu pernah bertunangan dengan orang lain, tapi kenyataannya kalian gagal menikah. Mungkin ini takdir Alloh untuk kita, jodoh tidak akan lari walau ke mana.” ucap Lion panjang lebar.
Jenar mematung, tidak tahu harus berkata apa atau bersikap bagaimana. Bibirnya terkatup rapat, tangan seolah beku tidak bisa digerakkan.
“Aku nggak minta kamu menjawab. Cukup rasakan saja, biarkan hatimu tahu ada aku yang sangat menyayangimu.” Lion mengambil tangan Jenar, menggenggamkan bucket bunga padanya. Kemudian ia juga memberikan sebuah kado, “selamat ulang tahun, ya. Semoga panjang umur.”
Bukan untuk pertama kali Lion mengungkapkan perasaan. Jenar pun sudah tahu bahwa pria itu tertarik padanya, tapi ia tidak pernah bisa menjawab. Sebab ia merasa Lion hanya menjadikannya sebuah pelarian, setelah tidak berhasil mendapatkan kakaknya. Semua barang yang pria itu berikan lebih pantas untuk Aneesha, bukan untuknya.
“Sudah belum, Dek? Keburu magrib, nih!” seru Fares.
__ADS_1
Jenar menoleh sejenak, menangguk menjawab seruan ayahnya. Lalu bertanya apakah masih ada yang ingin dikatakan oleh Lion atau tidak. Sebab ia harus segera pergi bersama keluarganya. Dengan berat hati Lion menggeleng, lalu mengantar Jenar kembali menuju mobil. Mereka tidak tahu jika ada sepasang mata tajam yang mengawasi sejak tadi.
“Tidak ada yang ketinggalan?” tanya Hara ketika hendak menutup pintu mobil setelah Jenar masuk. Seisi mobil menjawab dengan gerakan kepala.
Hara menyibak jilbab Jenar yang menjuntai, agar tidak terjepit pintu. Gerakan sederhana yang membuat Jenar tersenyum dan berterima kasih. Dibanding Lion, Hara memang tidak pernah memberikan barang-barang sebagai hadiah. Namun, perlakuan pria itu mampu membuat Jenar selalu merasa nyaman dan terlindungi.
“Mau ikut?” tanya Hara basa-basi saat berbalik badan hendak melewati Lion.
Lion sudah membuka mulut, tapi tidak sempat menjawab karena Fares sudah lebih dulu menyela. “Ngapain kamu ajak dia, Hara? Ini acara keluarga, orang lain tidak ada yang boleh ikut.” ucap Fares ketus.
Hara membungkukkan sedikit badan, meminta maaf kepada Fares atas kelancangannya. Ia lalu mengitari mobil menuju tempat kemudi. Setelah itu, kendaraan mulai berjalan diiringi gumaman do’a dari semua penumpang.
“Li! Cepat keluar, pintu gerbang mau dikunci!” seru Fares karena mengetahui Lion tidak bergerak dari tempatnya berdiri, padahal tiga mobil yang membawa keluarga besar sudah menuju pintu keluar.
Sementara itu di dalam mobil, Jenar terus memandangai dua benda pemberian Lion. Bucket bunga mawar merah dan sebuah kotak yang entah apa isinya.
“Dapat kado dari pacar, nih?” goda Aneesha. Jenar hanya menanggapi dengan senyum tipis sambil terus memandangi dua benda tersebut.
"Buka, dong, Dek? Kakak penasaran apa isinya." Aneesha menunjuk kotak warna biru kado dari Lion.
Jenar mengembuskan napas kasar, sebenarnya enggan membuka kotak yang sudah bisa ditebak isinya pasti buka barang kesukannya.
Aneesha kembali menggoda adiknya, “Senangnya dapat kado istimewa dan bucket bunga yang cantik dari pacar.”
"Apa, sih, Kak? Pacarnya siapa?" gerutu Jenar kesal.
“Buat kakak saja kalau mau, nih!” Jenar melempar bucket kepada Aneesha, “Jenar nggak suka bunga.”
“Kalau bunga bank mau, ya, Kak?” sindir Lingga.
“Beda urusan kalau itu, Dek.” sahut Jenar ringan.
Riani menggeleng, Fares sekilas menoleh ke belakang, Aneesha terkekeh sedangkan Reyfan cuek.
“Bagus begini bunganya, Dek. Hmm …” Aneesha mencium bucket yang terbuat dari bunga mawar segar itu dalam-dalam, “wangi sekali, Dek. Ini bunga asli-” Aneesha menjeda kalimat, sadar akan sesuatu, “eh? Bunga asli? Kamu nggak pa-pa, Dek?”
Riani tiba-tiba panik. Ia dan Aneesha kompak memeriksa kulit tangan Jenar.
“Untunglah! Kalau sampai kena kulit, bisa gagal buka puasa bersama kita karena harus bawa kamu ke rumah sakit.” Riani mengembuskan napas lega.
“Memangnya ada apa sampai Jenar harus dibawa ke rumah sakit?” Reyfan yang sejak tadi diam, ternyata peduli juga dengan obrolan para wanita.
“Jenar ini alergi bunga, Pi. Serbuk sarinya bisa bikin dia bersin-bersin terus, kalau ada bagian bunga yang kena kulitnya bisa ruam seperti gatal-gatal itu. Kalau tidak diberi obat tidak akan sembuh.” jelas Aneesha.
Reyfan manggut-manggut dengan mulut membentuk huruf O. Fares meminta bucket bunga, menjauhkannya dari Jenar agar tidak terkena alergi. Dia tidak habis pikir dengan tubuh Jenar yang sangat sensitif terhadap alergi. Kemungkinan karena punya genetik trauma dari ibunya, jadi gampang terkena alergi.
Langit sore berhias awan-awan putih yang melayang terhempas angin. Matahari bertahta di ufuk barat, pertanda sebentar lagi akan tergelincir ke peraduan. Jalanan ramai lancar oleh lalu-lalang orang beraktivitas. Hara menghentikan mobil tepat di depan lampu rambu lalu-lintas berwarna merah. Tidak ada yang tahu betapa ia sedang berusaha keras menahan gejolak emosi yang hadir di dalam hati.
Begitu semua kendaraan berhenti, dua orang yang memakai pakaian badut bergerak dari sisi kanan dan kiri, lalu berdiri tepat di atas zebracross. Alunan musik disko terdengar lantang, dua badut itu pun mulai bergoyang sesuka hati. Sejenak perhatian Hara teralihkan oleh aksi pengamen badut itu.
Jenar pun tersenyum melihat aksi dua badut berwajah tokoh film animasi paling populer di kalangan anak-anak. Setelah cukup berjoged, badut-badut itu pun mengambil kaleng, lalu menghampiri satu per satu kendaraan yang berhenti.
Hara membuka kaca jendela, lalu menggeleng saat badut menyodorkan kaleng padanya. Sementara Riani yang sudah menyiapkan uang receh, urung memberikan kepada badut karena mobil buru-buru bergerak.
Tindakan Hara tak lepas dari pengamatan Fares. Ia yang memang terbiasa bersedekah, tentu saja heran mengapa Hara tidak mau mengisi kaleng si badut. Padahal memberikan lima ratus rupiah saja sudah cukup dan pasti tidak akan mengurangi hartanya.
“Kenapa kamu tidak kasih uang ke badut itu? Nggak punya receh, ya?” Fares tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
“Bukan karena tidak punya receh, Pak. Menurut saya mereka tidak pantas dikasihani. Sebab masih sehat dan punya raga utuh, seharusnya bisa mencari pekerjaan lain. Bukan malah mengemis di lampu merah,” jawab Hara sarkas dengan pandangan lurus menatap jalan di depannya.
“Mereka tidak mengemis, loh. Bisa jadi karena susah mendapatkan pekerjaan, jadi mereka memilih menjadi badut pengamen seperti itu.” Fares berkomentar.
Hara menoleh sekilas, “Memang mereka tidak melulu hanya menengadahkan tangan meminta-minta, mungkin hanya beda tipis dengan pengemis. Karena ada pertunjukka yang mereka pertontonkan. Namun, menurut saya pedagang asongan dan penjual koran lebih berhak menerima uang saya, dari pada badut-badut itu.”
“Mau kita membeli koran, tissu, atau rokok pada pedagang asongan dan memberikan uang receh kepada pengemis, sama saja harus mengeluarkan uang. Namun, memberikan secara cuma-cuma kepada pengemis dan pengamen hanya akan menjadikan mereka pemalas dan terbiasa meminta-minta. Menurut Pak Fares, lebih baik yang mana?” Hara mengakhiri penjelasannya dengan pertanyaan.
“Tentu saja membeli dagangan pedagang asongan, meskipun kita tidak butuh tapi bisa menghargai jerih payah mereka. Juga tidak akan menyinggung perasaan dibanding kalau kita memberikan uang secara cuma-cuma.” sahut Aneesha.
“Tapi harga barang di penjual asongan itu biasanya dua kali lipat lebih mahal dari pada di warung, Sha.” Riani ikut berkomentar, sebagai seorang manajer keuangan rumah tangga, tentu saja ia selalu mengedepankan prinsip ekonomi.
__ADS_1
“Ya enggak masalah, Nda. Toh, kita tidak setiap hari belinya. Anggap saja sedekah tanpa menyakiti hati sesama manusia dan melatih sikap peduli yang tepat sasaran, biar sedekah juga makin berkah.” jawab Aneesha disertai senyum lebar.
Riani mengangguk paham akan penjelasan putrinya. Menjadi dermawan itu baik, tapi harus lebih teliti memilih mana yang pantas diberi dan yang tidak. Fares manggut-manggut, perlahan pikirannya terbuka oleh penuturan Hara dan penjelasan Aneesha. Ia menatap pria yang sedang konsentrasi menyetir di sampingnya. Hara tidak beragama islam, tapi sikapnya sangat mencerminkan akhlak seorang muslim.
Obrolan ringan mengalir begitu saja sepanjang perjalanan sore itu. Hingga mobil kembali berhenti pada antrean panjang kendaraan yang menunggu lampu rambu lalu-lintas berubah warna. Kali ini tidak ada badut yang beraksi, tapi sayup-sayup terdengar suara musik khas topeng monyet.
Mobil melaju pelan, saat antrean kendaraan di depannya mulai bergerak. Lingga melongok, pikirannya terpancing ketika melihat seorang pria membawa monyet kecil di bahunya. Pria itu berjalan di antara deretan kendaraan sambil mengulurkan kaleng kosong.
“Kalau seperti itu bagaimana, Kak? Apakah kita juga tidak pantas memberikan uang kepada tukang topeng monyet sebagai penghargaan telah memberikan pertunjukkan menarik?” tanya Lingga
Semua orang menoleh ke arah pandang Lingga, pikiran mereka sibuk menganalisa situasi. Sementara itu, Jenar yang sejak tadi mengamati topeng monyet, tiba-tiba memalingkan wajah. Gadis itu meraih bahu kakaknya, menunduk lalu terisak.
“Hei! Kamu kenapa, Dek?” tanya Aneesha heran melihat adiknya tiba-tiba menangis.
Jenar hanya menggeleng, isak makin terdengar membuat penumpang mobil yang lain memusatkan perhatian padanya. Riani mengusap kepala Jenar tanpa berkata-kata, Fares sampai melepas seat bealt demi mengulurkn tangan ke belakang. Lingga dan Reyfan diam dengan menyimpan tanda tanya dalam benak.
Secara impulsif Hara meraih kotak tissue, lalu mengulurkannya kepada Aneesha yang sedang sibuk menenangkan adiknya. Ia berinisiatif memelankan laju mobil, konsentrasinya pecah antara jalan di depan dan suara isak Jenar di belakang.
"Apa kita perlu berhenti sebentar, Pak?" tanya Hara kepada Fares.
Fares menggeleng, "Tidak perlu, paling dia hanya sedang terbawa perasaan. Anak saya yang satu itu memang terlalu sensitif. Maaf, ya. Jadi ganggu konsentrasi menyetir."
Hara mengangguk, tapi tidak bisa berhenti dari sesekali melihat kaca spion dalam. Ia sampai mengeratkan genggaman pada kemudi, demi menahan gejolak hati. Rasanya ingin meraih tangan Jenar, lalu bertanya penyebab gadis itu menangis.
Jenar berangsur tenang, setelah puas menangis dalam dekapan kakaknya. Ia mengambil beberapa lembar tissu untuk mengusap airmata.
“Maaf …,” ungkap Jenar setelah ia bisa menguasai diri.
Aneesha dan Riani kompak tersenyum. Aneesha mengusap punggung adiknya sambil bertanya, “Ada apa, sih, Dek? Nggak ada angin, hujan, petir, tiba-tiba nangis?”
Jenar meringis lalu menjawab dengan suara parau, “Jenar nggak kuat, waktu lihat monyet kecil tadi di ikat pakai rantai. Jadi tiba-tiba ingin nangis saja, Kak. Kasihan monyet itu masih kecil ditarik-tarik rantainya, pasti sakit. Nggak punya perasaan banget orang itu, tega menyiksa binatang.”
Riani menutup mulut dengan telapak tangan, Fares menggeleng, Reyfan membuang napas. Lingga menggerutu, “Dasar kakak cengeng!”
Tidak ada yang menyangka bahwa penyebab Jenar menangis karena melihat monyet kecil yang dijadikan alat pencari uang.
Suara tawa berderai memenuhi mobil, Aneesha memeluk adiknya penuh sayang. Hara tidak bisa menahan senyum melihat adegan itu dari kaca spion dalam. Ada kelegaan menyusup dalam perasaannya.
Fares kembali memanjangkan tangan, mengusap kepala anak perempuannya yang manja. Jenar memang sangat mudah tersentuh hatinya, bahkan hanya dengan melihat hal yang bagi orang lain sepele sekali pun.
"Jadi ... Kamu pacaran sama Lion, Dek?" Riani tak bisa lago menahan rasa ingin tahu setelah melihat putrinya berbicara serius dengan Lion tadi.
Jenar menghela napas, malas membahas masalah tersebut. Namun, tentu saja ia tidak bisa membiarkan keluarganya salah paham.
"Kak Lion datang setiap akhir pekan ...," ungkap Jenar yang mendapat jawaban berupa suara embusan napas dari hidung Fares.
"Kak Lion selalu bawa banyak oleh-oleh. Bukan hanya buat Jenar, kadang juga kasih buat Pakdhe Teguh, Mas Faiz, bahkan Mbah Uti. Mbak Sayumi juga sering dibawain oleh-oleh." jelas Jenar.
Kali ini embusan napas terdengar dari hidung Riani, "Terus kamu tanggapin dia?"
Jenar menggeleng, "Hanya sekedar menyambut sebagai tamu saja."
"Syukurlah kalau begitu, bunda nggak suka kamu dekat-dekat sama dia. Mulut ibunya itu, lho. Nyakitin seperti nggak pernah dizakatin." gerutu Riani.
"Ayah juga nggak suka kamu dekat sama Lion, Dek. Jangan sampai ayah besanan sama mereka. Enggak bisa banyangin nanti cucu ayah jadi ajang buat pamer." Fares menimpali.
Tawa kembali terdengar, memenuhi mobil. Walau bagaimanapun, keluarga adalah tempat paling nyaman untuk bercerita.
Diam-diam Hara mengamati seluruh interaksi keluarga itu. Sebuah rasa menelusup dalam hati, iri melihat kehangatan keluarga yang tak pernah ia dapatkan.
.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1
Maaf tidak bisa membalas komentar satu per satu seperti biasanya. Di bab sebelumnya sudah saya jelaskan, kalau cerita ini masih panjang. Namun, maaf tidak bisa up rutin dikarenakan alasan yang belum bisa saya sebutkan😁🙏