Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
38. Calon Menantu yang Bijaksana


__ADS_3

...🌵Tidak perlu tergesa dalam mengambil sebuah keputusan, agar tidak berujung penyesalan.🌵...


Prov. Author.


Rumah minimalis nan asri yang terletak di pinggir jalan, pagi menjelang siang ini terlihat lebih ramai dari biasanya. Dua buah mobil terparkir di depan rumah berhalaman sempit tersebut. Daun pintu bercat putih terbuka lebar, tampak dari luar beberapa orang duduk di kursi ruang tamu.


Suara berisik orang bercakap-cakap dengan sesekali tertawa, kepulan asap rokok memenuhi ruangan dan hidangan yang tersedia di meja menjadi pertanda rumah itu sedang kedatangan tamu. Tamu istimewa yang disambut hangat oleh pemilik rumah.


Bukan hanya kursi ruang tamu yang penuh terisi, tapi ruang tengah pun tak kalah ramai. Tiga anak muda memilih duduk lesehan di ruang tengah yang hanya dibatasi oleh sebuah partisi dengan ruang tamu. Terpisah dengan para orang tua yang sudah tenggelam dalam perbincangan sejak beberapa saat yang lalu.


Jenar sedang mengupas apel yang ia bawa sebagai buah tangan untuk menjenguk calon suaminya. Nalini duduk disamping Jenar, sibuk memilah buku-buku tebal milik kakaknya yang akan disumbangkan ke komunitas. Sedangkan Ghufron duduk diatas kasur lantai, menyandarkan punggung pada dinding dengan kaki diluruskan. Ia khusyuk memperhatikan jemari lentik tunangannya yang cekatan mengupas apel.


“Padahal kandungan antioksidan paling banyak pada buah apel terdapat pada kulitnya, lho, Mas.” ucap Jenar tanpa mengalihkan fokus dari mengupas kulit buah berwarna merah di tangannya.


“Tapi mas nggak suka makan apel sekalian kulitnya, Nduk. Rasa manisnya jadi kecampur sama sepet gitu.” jawab Ghufron.


“Jangan-jangan kalau mas makan anggur juga tanpa kulitnya?”


“Memang iya, otomatis aja nggak bisa nelen kulit anggur. Makan jeruk aja selaputnya mas buang, nggak ikut ditelan.”


“Wah! Ribet, dong, Mas?”


“Ya, itu tadi. Kenapa mas nggak suka makan buah, karena males ngupasnya. Kalaupun makan yang nggak perlu dikupas, nggak bisa juga telan selaput buahnya.”


“Ya, sudah. Kalau pengin makan buah, pas sama saya aja. Nanti tak kupasin, deh.”


“Mathuk (cocok), Nduk. Sekalian disuapin, ya?” Ghufron memiringkan kepala, mencari wajah Jenar yang menunduk. Ia senang melihat Jenar mengangkat kepala dengan wajah bersemu merah.


“Nggak malu lagi disuapin? Ibu lihat, lho.” ucap Jenar saat mengiris apel menjadi beberapa bagian kecil.


“Malu, sih. Apalagi ada di sini semuanya,” jawab Ghufron sambil menunjuk arah ruang tamu dengan pandangan, “bukan cuma bapak sama ibu, tapi ayah bunda kamu, om Dito dan tante Yumna juga. Sudah kepalang basah, ya, mandi sekalian. Kalau nggak gini, kapan lagi bisa ngrasain makan dari tangan kamu langsung.”


Sejenak Jenar mengikuti arah pandang Ghufron, tapi kemudian ia menunduk sembari menipiskan bibir lagi. Dengan wajah bersemu merah, ia mengangkat sedikit kepala. Mengambil sepotong apel, mengulurkannya di depan mulut Ghufron. Ia harus menahan malu saat Ghufron menggigit ujung potongan apel yang ia suapkan tanpa menyentuh jarinya. Juga dengan tidak melepas sedikitpun pandangan darinya.


“Hanya perasaanku saja atau kamu memang tambah cantik, ya, Nduk?”


“Nggak usah gombal, Mas.”


“Mas nggak gombal, kamu juga sependapat dengan mas, kan, Lin? Jenar tambah cantik, ya?”


Nalini yang ditanya hanya mengangguk tanpa mengalihkan fokus dari menulis daftar buku yang sudah selesai dipilih. Sejenak Nalini memainkan pulpen sebelum tangan kanannya terulur hendak mengambil apel yang baru saja selesai dikupas oleh Jenar. Ghufron segera memukul tangan adiknya, sebelum berhasil mencapai potongan apel.


“Jangan, Lin! Ini apel buat mas, kamu kupas sendiri, sana!”


“Pelit banget, sih, Mas? Biasanya apa-apa juga kita bagi dua. Minta satu apel aja masa nggak boleh.” gerutu Nalini sembari memanyunkan bibir, ia merajuk kepada calon kakak iparnya, “boleh, ya, Mbak?”


Jenar mengangguk, tapi secepat kilat Ghufron mengambil piring berisi potongan apel, menjauhkannya dari Nalini. “Nggak boleh, Lin. Yang ini udah kena tangannya Jenar, hanya mas yang boleh makan,” ucapnya persis seperti anak kecil yang tidak ingin mainannya direbut.


“Kamu mau tak kupasin?” Tanya Jenar karena tidak ingin dua kakak beradik berebut potongan apel.


“Nggak usah, Mbak. Mbak Jenar mau ngupasin tapi sama mas pasti nggak boleh.” Nalini bersungut-sungut seraya mengambil apel dari atas meja langsung memakannya tanpa dikupas.


“Nah! Itu tahu,” kata Ghufron penuh kemenangan dengan memberikan piring kepada Jenar seraya melirik manja, “lanjutkan suapinnya, Nduk.”


“Mas manja banget kayak anak kecil.” Gerutu Nalini sambil mengunyah apel.


“Biarin! Jenar saja tidak protes, ngapain kamu yang keberatan?”


Jenar menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia tidak habis pikir dengan tingkah laku Ghufron akhir-akhir ini. Kadang sangat bijaksana, kadang sangat tegas, tapi kadang tiba-tiba berubah menjadi sangat manja seperti anak kecil.

__ADS_1


Jenar juga merasa Ghufron sangat manis dan romantis, padahal awal mereka bertemu Ghufron sama seperti pria kebanyakan yang tidak banyak bicara, dingin dan kaku. Tapi sejak mereka dekat dan bertunangan, Ghufron tidak malu lagi menunjukkan rasa sukanya pada Jenar.


Sementara itu di ruang tamu, para orang tua yang tadi berbincang santai, kini berubah menjadi serius. Diawali oleh pak Haryo yang mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan untuk pengobatan Ghufron.


“Saya tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa, terlalu banyak yang diberikan keluarga pak Fares untuk anak saya.”


“Sebenarnya saya baru tahu tadi pagi soal ini, Pak. Putri dan menantu saya tidak cerita apa-apa tentang pengobatan Ghufron. Kalau Jenar tidak cerita, saya juga tidak tahu.” Jawab Fares diakhiri dengan tawa ringan.


“Mulia sekali putri dan menantu bapak itu, insyaalloh kalau saya diberi kesempatan bertemu, tentu saya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung.”


“Jangan berlebihan, pak Haryo. Reyfan dan Aneesha tidak melakukan apa-apa. Yang pontang-panting kesana-kemari, kan, Hara. Jadi harusnya kita berterima kasih kepada Hara. Iya, kan?” Fares menepuk punggung Hara, sedangkan yang ditepuk hanya diam tanpa menjawab apapun.


“Itu benar,” ucap Riani. “Anak dan menantu saya cuma bisa memberi perintah. Yang eksekusi, ya, Hara. Selalu begitu dari dulu.”


“Rasanya ratusan kali kami berterima kasih pun tidak akan cukup, karena terlalu banyak yang Nak Hara lakukan untuk kami.” ujar pak Haryo menatap Hara lekat-lekat.


“Saya hanya melaksanakan perintah.” jawab Hara singkat, padat dan tanpa basa-basi.


"Semoga Nak Hara selalu dalam lindungan Alloh, semoga diberi kebahagiaan tak bertepi dan terkabul apa yang menjadi kelinginanmu, Nak!"


"Aamiin."


Sejenak semua mata terjutu pada Hara, termasuk Nalini yang baru saja selesai merapikan kardus berisi buku. Ia memakan apel sambil pandangannya lurus melewati partisi pemisah ruang tengah dengan ruang tamu. Menatap seorang pria yang sejak tadi duduk diam sembari merokok, tidak ikut larut dalam perbincangan para orang tua, hanya menjawab dengan satu kalimat singkat.


Nalini menggeser duduk agar lebih dekat dengan Jenar, berbisik di depan telinga calon kakak iparnya itu, “mbak? Pak Hara pendiam, ya?”


Sontan Jenar menoleh ke ruang tamu, mengikuti arah pandang Nalini. Ia mengangguk saat melihat Hara duduk di samping ayahnya yang sedang mengobrol dengan pak Haryo.


“Pak Hara umur berapa, sih, Mbak? Aku kok ngrasa dia belum terlalu tua, ya?” Tanya Nalini masih dengan berbisik tapi terdengar jelas oleh Ghufron yang hanya berjarak sekitar satu meter dengannya.


Jenar hanya menggeleng tidak menggubris keingintahuan Nalini. Ia lebih tertarik menyuapkan sepotong demi sepotong apel kepada calon suaminya. Namun Nalini terus saja beranya, “pak Hara sudah menikah belum?”


“Mbak nggak tahu, mbak jarang ngobrol sama pak Hara.”


“Kamu kenapa, sih, Lin? Kepo banget sama pak Hara?” Bukan Jenar yang menjawab, tapi Ghufron malah betanya dengan penuh curiga.


“Pengen tahu aja, Mas.” Nalini menegakkan badan, menatap lurus ke arah Hara dengan dua tangan terbuka seperti membentuk bingkai foto, “laki-laki sesempurna dia, gitu. Tampan, kaya udah jelas kelihatan dari penampilannya, cekatan dan … suka menolong sesama. Sempurna, kan? Meski misterius, sih. Wajah pak Hara itu menyimpan banyak teka-teki, bikin penasaran.”


Ghufron mengusap kasar wajah adiknya dari belakang, “kedipin mata kalau lihat lawan jenis. Nggak boleh lebih dari tiga menit, nanti jatuhnya zina mata, lho.”


Nalini mencebik, “ck! Apa, sih, Mas? Orang aku cuma sedang mengagumi ciptaan Alloh, kok.”


Ghufron menggelengkan kepada sambil beberapa kali mencebikkan bibir, prihatin dengan ulah adik perempuannya. Namun, Jenar justeru tertawa kecil, bertanya dengan nada menggoda, “suka sama pak Hara, ya?”


Nalini mengangkat bahu, “bukan tipe Lini, sih, Mbak. Tapi kalau pak Hara ngajak nikah, bisa Lini pertimbangkan,” ucapnya dengan penuh percaya diri.


“Jangan harap, Lin! Mana mau pak Hara sama kamu. Mandi aja jarang-jarang.” Gerutu Ghufron sambil menarik jilbab adiknya.


“Yee! Itu, kan, kemarin waktu Lini marahan sama gayung. Sekarang udah baikan, jadi rajin mandi.”


“Dasar kamu!”


Jenar menutup mulut dengan satu tangan, mencegah agar tidak terbahak. Sebab ia tidak ingin menjadi pusat perhatian para orang tua, tapi melihat kakak beradik di hadapannya saling ejek, ia merasa terhibur.


“Oya!” ucapan Fares menarik perhatian semua orang, ia berkata setelah berdehem, “saya ingin mengutarakan niat utama saya dan keluarga datang kemari.”


Pak Haryo dan bu Nuning saling pandang sekilas, kemudian mengangguk, mempersilakan Fares melanjutkan kalimat.


“Selain ingin bersilaturahmi, menjenguk Ghufron yang kemarin baru keluar dari rumah sakit. Saya dan keluarga datang kemari tidak lain tidak bukan karena ingin melanjutkan niat baik.”

__ADS_1


Fares menatap satu per satu orang di dalam ruangan sebelum kembali berkata, “terus terang, beberapa hari ini saya dan istri saya ini merasa tidak nyaman. Pikiran saya terusik karena Ghufron sakit dan Jenar sering datang kemari, menemani periksa, sampai menjenguk di rumah sakit.”


“Bukan karena saya keberatan putri saya melakukan hal baik itu, pak, bu.” Fares menatap pak Haryo dan bu Nuning bergantian, “tapi sebagai orang tua, saya merasa tidak baik jika hal ini berlarut-larut. Jadi, saya tadi sudah bicara dengan Jenar dan seluruh keluarga. Kalau bapak dan ibu setuju, saya ingin mempercepat pernikahan Jenar dan Ghufron.”


“Biar pikiran saya ini tidak kemana-mana. Apalagi adik saya, Dito, minggu depan dipindah tugaskan ke Ternate. Saya akan merasa lebih tenang kalau Jenar sudah ada yang menjaga. Maaf, lho, ini. Bukan maksud saya melenceng dari kesepakatan kita yang lalu, ini karena keadaan mendesak.”


Pak Haryo dan bu Nuning saling pandang, terkejut dengan apa yang baru saja Fares katakan. Sebenarnya mereka berdua juga punya pemikiran yang sama dengan Fares, hanya saja belum sempat dibicarakan. Belakangan konsentrasi mereka tersita untuk pengobatan Ghufron.


“Aduh, bagaimana, ya?” Pak Haryo bingung harus menjawab bagaimana, sebab ia tidak bisa mengambil keputusan sendiri.


“Hanya jika bapak, ibu dan Ghufron setuju. Kami tidak memaksa, kok.” ucap Riani seraya mengusap bahu bu Nuning.


“Kalau boleh jujur, sebenarnya saya ini sudah ingin sekali punya menantu. Tapi bagaimana, ya?” bu Nuning merasa ragu.


“Kami tidak bisa memutuskan sendiri, karena bukan kami yang akan menjalani,” kata pak Haryo bijaksana sambil menoleh ke belakang, “kamu bagaimana, Le?”


Ghufron yang tadi sedang menggoda adiknya, sejenak terdiam. Ia melirik Jenar yang khusyuk dalam tundukan. Gadis yang ia damba untuk dijadikan pendamping, kini sudah ada di depan mata. Restu dari orang tua pun sudah ia dapatkan, tinggal selangkah lagi untuk menghalalkan hubungan. Namun, ia punya pemikiran lain.


“Saya senang sekali kalau pak Fares sudah siap menikahkan kami, lahir batin saya juga sudah siap menikah dengan Jenar. Namun-” Ghufron menjeda kalimat sejenak, “kalau boleh saya minta waktu. Bukan ingin menolak, tapi saya ingin menunda dulu.”


“Lho? Awakmu ora setuju, to, Le?” (kamu tidak setuju, ya, Nak?) Tanya pak Haryo ingin mendengar alasan putra sulungnya menolak niat baik Fares.


“Kulo setuju, Pak. Namung nyuwun wekdal rumiyen. Menawi sakniki kulo ngrabeni Jenar kok mboten prayogi ngoten, Pak.” (Saya setuju, Pak. Tapi ingin meminta waktu dulu. Kalau sekarang saya menikah dengan Jenar, saya merasa tidak baik.)


“Ora prayoga piye, to, Le? Awakmu dewe wes matur karo bapak yen wes siap rabi, endi ne sing ora prayoga? Opo masalah biaya?” (Tidak baik bagaimana, ya, Nak? Kamu sendiri yang bilang sama bapak kalau sudah siap menikah, mana yang tidak baik? Apa masalah biaya?).


“Sanes, Pak?” (Bukan, Pak.)


“Terus masalah opo?” (Lalu masalah apa?)


“Mboten prayogi menawi Jenar kulo rabeni namung kagem ngopeni kulo. Kulo kedah sehat rumiyen, kersane saget nindake kewajiban kulo minongko imam kagem Jenar.” (Tidak baik kalau Jenar saya nikahi hanya untuk merawat saya. Saya harus sehat dulu, biar bisa melakukan kewajiban saya sebagai imam untuk Jenar.)


“Maaf, pak Fares. Sekali lagi, bukan maksud saya menolak niat baik bapak.” ucap Ghufron dengan nada santun. Ia mengalihkan pandangan dari ruang tamu ke arah Jenar yang masih menunduk, “kamu sabar menunggu saya, kan, Nduk? Saya tidak ingin egois dengan menikahi kamu dalam keadaan saya sakit.”


“Insyaalloh saya sabar, Mas.”


Semua orang manggut-manggut. Riani sampai berkaca-kaca karena terharu dengan kebijaksanaan ghufron. Ia kagum dengan sosok yang dipilih oleh putrinya sebagai calon suami itu, “masyaalloh! Terima kasih kamu tidak egois, Nak. Tidak salah Jenar sangat sayang sama kamu.”


“Saya juga sayang sama putri bu Riani. Cinta dan hasrat saya untuk menikahi Jenar tidak berkurang sedikitpun. Justeru menjadi penyemangat saya berikhtiar meminta Alloh segera mengangkat penyakit saya.” jawab Ghufron tanpa melepas pandangan dari Jenar.


“Teima kasih, Mas. Saya menghargai keputusan mas.”


“Masyaalloh!” gumaman orang-orang secara hampir serentak. Suasana rumah sederhana di pinggir jalan yang menjadi jalur alternatif Jogja-Solo itu berubah menjadi haru.


Ketika mendapat kabar bahwa calon menantunya sakit, Fares dan Riani segera mencari waktu yang tepat untuk berkunjung. Ketika memperoleh hari yang tepat mereka segera memberi kabar kepada putri sulungnya.


Aneesha sendiri yang memesankan tiket kereta pulang-pergi untuk orang tuanya. Ia juga meminta Hara mengawal orang tuanya selama berada di Yogya. Semalam Fares dan Riani baru sampai di Yogya dan pagi ini segera berkunjung ke rumah calon besan.


Aneesha dan Reyfan setuju saat Fares mengatakan ingin segera menikahkan Jenar dengan Ghufron. Mereka meminta Hara menyiapkan segala sesuatunya jika pernikahan jadi dilaksanakan.


Namun, Alloh belum berkenan menyatukan dua hati dalam ikatan yang halal. Keputusan Ghufron yang bijaksana pun diterima oleh semua pihak termasuk Fares. Orang yang paling antusias ingin segera menikahkan putri keduanya. Namun, pernikahan adalah sebuah rencana besar seumur hidup, sudah sepantasnya diputuskan secara matang, tidak tergesa-gesa.


Karena Alloh tidak menyukai segala sesuatu yang dilakukan secara terburu-buru. Sedangkan mengambil keputusan secara tergesa, bisa mengakibatkan penyesalan di kelak kemudian hari. Perlu pemikiran matang dan bijaksana.


Alasan Ghufron ingin menunda pernikahan adalah untuk dua hari kedepan ia harus melakukan pemeriksaan lanjutan atas penyakitnya. Sebelum dilakukan pemeriksaan sum-sum tulang belakang, untuk mengetahui jenis kerusakan sel darah yang ia alami.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2