
🍁Perempuan, dengan segala keunikan yang sering tidak bisa dimengerti. Kadang ceria, sangat lemah, bisa tenang seperti tanpa beban, juga paling pandai menyembunyikan perasaan.🍁
Hara.
Sejak tinggal di Yogya, pola dan gaya hidupku berubah banyak. Jarang makan di luar, membeli barang yang tidak penting, atau hanya sekedar nongkrong di tempat hiburan malam. Semua karena lingkungan tempat tinggalku menerapkan gaya hidup sederhana, jauh dari sikap berfoya-foya dan pemborosan. Apalagi Mbak Nabila yang terlalu cerewet mengatur hidupku.
Ketika Jenar berkata bahwa dia lapar, kupikir dia ingin cepat pulang agar bisa makan di rumah. Seperti aku yang sekarang terbiasa makan di rumah. Namun, terdengar bunyi perut tanda lapar sebelum mesin mobil kuhidupkan. Sukses membuatku hampir tertawa.
“Mau makan dulu?” tanyaku sambil menahan tawa. Baru kali ini aku melihat seorang gadis yang malu-malu menahan lapar.
Aku sempat menoleh sebentar, sebelum menjalankan mobil. Jenar mengangguk, dengan tangan memegang perut. Sepertinya dia benar-benar sedang sangat lapar.
“Pak Hara nggak keberatan kalu kita makan dulu? Nanti saya yang traktir." Terbersit nada rayuan dalam pertanyaan itu.
Aku menatapnya sebentar, saat Jenar juga sedang menoleh ke arahku. Wajah lugu dengan alis hampir menyatu dan tatapan penuh permohonan, terlihat lucu sekali. Antara iba dan geli, aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.
“Mau makan apa? Di mana?” aku bertanya, karena tidak tahu tempat yang ingin Jenar tuju.
“Lotek,” jawab Jenar singkat.
Aku mengernyit, sebab baru pertama kali mendengar nama makanan yang disebutkan Jenar.
“Saya pengin makan lotek,” jelas Jenar. Aku belum mengatakan apa pun, tapi sepertinya dia mengerti ketidaktahuanku, “Pak Hara nggak tahu lotek?”
“Makanan apa itu? Memangnya ada makanan seperti itu?” tanyaku benar-benar tidak tahu.
“Sudah kuduga Pak Hara pasti tidak tahu, nih!” Jenar mengarahkan layar ponselnya padaku. Aku memicingkan mata, demi memerhatikan sebuah gambar yang tertera pada layar.
“Ketoprak,” ucapku begitu melihat gambar makanan pada layar ponsel.
“Mirip, tapi bukan.” Jenar menarik kembali ponselnya. Dia berkata sambil sibuk mengusap jari pada layar, “nanti Pak Hara tahu bedanya kalau sudah lihat dan ngrasain.”
Aku tidak mau ambil pusing dengan jenis makanan seperti apa yang diinginkan Jenar. Tanpa banyak tanya, kuikuti arah petunjuk jalan yang dia berikan. Saat berhenti karena lampu rambu lalu-lintas berwarna merah, baru aku sadar Jenar tidak memakai seat-bealtnya.
__ADS_1
Kuhardik dia dengan nada sedikit ketus, sedangkan dia meminta maaf tapi dengan raut muka tanpa rasa bersalah. Mungkin menurutnya, lupa memakai sabuk pengaman adalah masalah sepele. Padahal penting sekali demi keamanan berkendara.
Aku mengira tempat yang dituju Jenar adalah sebuah rumah makan. Ternyata hanya sebuah warung tenda yang terletak di pinggir jalan. Dari luar terlihat sangat tidak meyakinkan, saat masuk pun terasa tidak nyaman. Sebab, hanya terdapat dua bangku panjang dan sebuah meja. Memungkinkan untuk para pembeli duduk berhimpitan, saat makan. Beruntung tidak terlalu ramai, jadi aku dan Jenar bisa mendapat tempat duduk.
“Rodo suwi, ya, Mbak. Antri wolu iki. (Agak lama, ya, Mbak. Antri delapan ini.)” Jenar mengangguk, menjawab ucapan penjual yang merupakan seorang ibu bertubuh subur.
“Unjukane nunopo, Mbak? (Minumannya apa, Mbak?)” tanya penjual itu lagi.
Jenar tidak segera memberi jawaban, melainkan melempar pertanyaan padaku, “Pak Hara mau minum apa?”
Aku berpikir sejenak, lalu menjawab, “Kopi hitam tanpa gula.”
Di saat yang sama, Jenar menoleh ke arah penjual sambil setengah berteriak, “Saya kopi hitam tanpa gula, ya, Bu.”
“Kompak banget, kalian kembar, ya?” tanya penjual dengan nada menyelidik, sambil menatap arah aku dan Jenar duduk.
Jenar mengalihkan pandangan ke arahku yang duduk di hadapannya, sejenak kami saling pandang lalu sama-sama tertawa kecil. Tidak ada yang mengomando, tapi kami kompak menjawab dengan kalimat yang hampir sama.
Kopi hitam tanpa gula, memang sudah menjadi favoriteku sejak dulu. Namun, baru kali ini, aku bertemu dengan gadis yang memesan minuman itu saat makan di warung. Biasanya para gadis memilih kopi yang lebih soft, seperti capucino atau white cofee. Jenar memang gadis yang unik, sama seperti kakaknya yang juga aneh. Semua keluarganya, memang lain dari pada yang lain.
Pesanan datang cukup lama. Untung aku sempat membeli rokok, jadi tidak terlalu bosan menunggu. Hari ini, banyak waktuku terbuang gara-gara Jenar. Kalau bukan karena dia adiknya Aneesha, sudah kutinggalkan sejak tadi di ruko.
“Ini namanya lotek,” ucap Jenar ketika pesanan datang. Dia menunjuk arah seberang jalan dengan garpunya sambil menjelaskan, “Kalau di sana namanya jadi vegetables salad with brown sugar and peanut sauce. Harganya bisa jadi lima kali lipat dari pada di sini.”
Aku melirik arah yang ditunjuk Jenar, sebuah bangunan hotel yang berdiri megah, berseberangan dengan warung tenda ini. Kemudian menatap makanan yang sudah tersaji di meja, berupa macam-macam sayuran hijau dicampur dengan bumbu kacang yang aromanya menguar khas.
“Pak Hara harus coba dulu, baru tahu bedanya lotek dengan ketoprak.” ucap Jenar menunjuk makanan dengan dagunya.
Melihat Jenar makan dengan lahap, ragu-ragu aku mulai menyendok makanan. Satu suap sayuran bercampur dengan bumbu kacang masuk ke mulut. Saat lidah mengecap, otakku bekerja menganalisa rasa makanan itu. Rasa gurih, manis, sedikit asam dan pedas, bercampur dengan aroma segar jeruk purut. Enak.
Aku seperti sedang mengalami dejavu, pernah makan makanan seperti ini tapi entah kapan dan di mana. Memoriku tidak lekas mengingat, mungkin karena sudah terlalu lama, atau aku hanya terbawa perasaan saja.
“Bagaimana? Beda dengan ketoprak, kan?” tanya Jenar.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk. Masih berusaha memutar ingatan yang tak kunjung terngiang. Aku menyuapkan kembali sesendok makanan, barang kali bisa mengingat rasa yang pernah kurasakan di waktu lalu. Namun, berkali-kali makanan masuk ke mulut, aku sama sekali tidak mengingat apa pun. Justru lidah dan bibirku terasa seperti terbakar karena pedas.
Jenar berinisiatif meminta segelas air putih hangat kepada pemilik warung, karena melihatku kepedasan. Dia terkekeh, saat aku panik tidak bisa menghalau sensasi rasa terbakar di mulut. Tawanya makin menjadi, sampai dia harus menutup mulut dengan telapak tangan.
“Apanya yang lucu?” tanyaku dengan masih menahan pedas, padahal segelas air putih hangat sudah kuminum sampai habis.
“Wajah Pak Hara merah, seperti udang goreng.” jawab Jenar di sela tawa.
Aku mendengus kesal, bukannya membantu, Jenar malah terus menertawakanku. Dia mengambil sebuah travel pack tissue dari tas, mengulurkannya padaku. Tanpa menjawab, aku mengambilnya. Mengelap peluh yang membasahi dahi dan hidung yang terus berair. Walau terlalu pedas, makanan dalam piring tetap kuhabiskan. Kata Mbak Nabila, tidak boleh menyisakan makanan, karena bisa jadi keberkahan dalam makanan terletak pada suapan terakhir. Apalagi ini rasa makanan ini enak dan khas, meskipun terasa sangat pedas.
“Padahal punya Pak Hara cabenya cuma satu, lho. Punya saya malah lima, tapi saya nggak kepedesan,” ujar Jenar yang baru saja meredakan tawa.
“Satu, tapi segede gajah, makanya pedas.” jawabku asal. Mana mungkin ada cabe segede gajah? Ada, sih. Kalau cabe satu truk digabung jadi satu.
Jenar tertawa lagi, bahkan terbahak. Sampai dia menutup wajah menggunakan ujung jilbabnya. Harusnya aku merasa kesal, tapi suara tawa Jenar justru membuatku jadi tersenyum. Seingatku, ini adalah tawa pertama Jenar, setelah aku melihat wajah sendunya di rumah sakit beberapa waktu yang lalu.
Sejak Ghufron sakit dan akhirnya meninggal, sangat jarang aku melihat Jenar tertawa selepas ini. Dia lebih banyak murung dan diam. Beberapa jam yang lalu-saat kami sedang rapat-dia juga tidak seceria ini. Sudah lupakah dia akan rasa kehilangan yang dalam atau pada trauma yang menyakitkan?
Sisa sore itu aku habiskan dengan mengantar Jenar pulang. Sepanjang jalan Yogya-Magelang, kulewati dengan mendengarkan musik dari audio mobil, tanpa mengobrol dengan Jenar. Sebab, gadis itu tertidur pulas. Perempuan memang unik, bisa berubah-ubah seperti cuaca yang tidak menentu. Dia yang tadi ketakutan dan lemah, berubah menjadi ceria, lalu sekarang bisa tidur dengan sangat tenang.
Bahkan ketika, kami sudah sampai di rumah Aneesha pun dia tetap nyenyak takterusik. Berkali-kali aku mencoba membangunkannya, tapi Jenar tetap terbuai dalam lelap. Sampai aku memanggil mbak Sayumi dan Irkham, Jenar tidak juga bangun.
“Jane bobok po semaput, iki bocah?” (Sebenarnya tidur atau pingsan, ini anak?) kata Mbak Sayumi.
Terpaksa aku menggendong Jenar keluar dari mobil, membawa dan membaringkannya di kamar. Dia menggeliat saat Mbak Sayumi menyelimutinya, tapi tidak sampai bangun. Sepertinya gadis itu kekenyangan sampai tidur senyenyak itu.
“Iki bocah urung adus, salat, maem, njut piye nek turu terus ngeneki?” gerutu Mbak Sayumi. (Ini anak belum mandi, salat, makan, terus bagaimana kalau tidur terus seperti ini?)
“Benke wae, Mbak. (Biarkan saja, Mbak.)” cetus Irkham.
Aku kembali ke mobil, setelah berpamitan dengan Mbak Sayumi dan Irkham. Sebuah benda bercahaya menarik perhatian, saat baru saja aku akan menghidupkan mesin mobil.
Kuambil benda yang merupakan sebuah ponsel. Bukan milikku, pasti punya Jenar, sebab hanya aku dan dia yang baru saja ada di mobil ini. Taksengaja aku melihat sebuah pesan yang muncul di layar utama, saat hendak mengembalikan benda pipih itu pada pemiliknya. Pesan dari seseorang yang namanya tidak asing.
__ADS_1
‘Akhir pekan ini, saya mau ke Yogya. Boleh mampir, nggak?’
Beruntung Irkham baru saja keluar, jadi aku tidak perlu masuk rumah lagi hanya untuk memberikan ponsel Jenar. Petang berganti malam, aku harus segera pulang.