
...🌹Sikap seseorang bisa mencerminkan isi hatinya. Perhatian yang diberikan, bisa jadi adalah ungkapan kasih sayang yang belum terucap.🌹...
Jenar.
Selesainya jam terakhir mata kuliah, adalah waktu yang paling ditunggu oleh semua mahasiswa. Begitu dosen menutup kelas-tanda pemberian materi berakhir-adalah saat yang paling menyenangkan bagiku. Meski artinya harus siap mengerjakan tugas yang diberikan, karena tidak ada mata kuliah yang benar-benar berakhir, meski kelas telah dibubarkan.
Kukemas buku dan barang-barang, memasukkan semuanya ke tas sambil melirik jam di pergelangan tangan. Pukul 15.30 … alhamdulillah hari ini bisa pulang lebih awal setelah berhari-hari selepas isya’ baru sampai rumah. Kalau tidak hujan, bisa berziarah ke makam mbah kakung; mumpung hari kamis.
Aku sudah siap mencangklong tas, setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Namun, urung beranjak ketika melihat ke samping kanan. Nampak Aina berkemas dengan malas, seolah badannya masih lemah setelah sakit beberapa hari yang lalu.
“Lemes banget, sih? Lapar, ya?” tanyaku dengan nada bergurau.
Aina menggeleng, tangannya memasukkan buku dengan gerakkan sangat pelan. Setelah beberapa hari tidak masuk karena sakit, ia memang terlihat tidak bersemangat. Mungkin tubuhnya belum pulih sempurna, atau sedang ada masalah.
“Motor masih di bengkel, ya? Pulang naik apa?”
Waktu menjenguknya ke kost, Aina cerita kalau motornya butuh banyak perbaikan. Turun mesin akibat keteledoran lupa mengganti oli, sehingga harus menginap di bengkel berhari-hari. Menurut Aina karena motornya keluaran lama, jadi perlu waktu dan mekanik khusus untuk membetulkan. Supaya bisa dikendarai lagi seperti semula.
“Naik motor,” jawab Aina singkat, terkesan malas.
“Alhamdulillah udah jadi motornya. Udah nggak minta dipesenin taksi online lagi, dong?”
Selama motor Aina di bengkel, ia selalu minta bantuan memesankan taksi daring untuk pulang ke kost. Kalau aku tidak bisa membaca peta dan susah menghafal jalan, maka Aina bingung cara menggunakan berbagai aplikasi pada smartphone. Kami saling melengkapi satu sama lain, menjalin persahabatan karena sama-sama mempunyai kekurangan.
“Terima kasih bantuannya selama ini,” tutur Aina sambil melirik padaku dan memasang senyum terpaksa.
Melihat ekspresinya, sontan sifat perempuanku sebagai makhluk yang punya rasa ingin tahu paling tinggi muncul, “Pasti habis banyak, ya, benerin motor?”
“Nggak tahu habis berapa, udah dibayarin sama Gus Hafidz.” jawab Aina. Terdengar nada tidak suka pada kalimatnya.
“Alhamdulillah, dong. Berarti kamu nggak perlu pusing mikirin uang jajan habis gara-gara buat benerin motor. Memang perhatian sekali Gus Hafidz sama kamu, bikin iri saja, deh.” tuturku memuji pria yang dulu sering menjadi topik pembicaraan kami waktu masih mondok di pesantren Al-Hidayah putri.
“Perhatian apa? Orang motornya nggak dikembaliin, yang diantar ke kost malah motor baru. Nggak pakai tanya dulu, main ganti motor orang sesuka hati. Itu namanya bukan perhatian, tapi egoistis!” Aina menggerutu.
Aku justru membelalakkan mata mendengar penuturannya. Tidak menyangka jika Gus Hafidz memberi perhatian yang kelewatan terhadap sahabatku ini. Gadis mana pun akan melambung tinggi kalau diperlakukan seperti Aina, tapi dia malah menggerutu tidak terima.
“Motor baru beneran?” aku menggeleng demi meralat ucapan, “Maksudku baru beli gitu?”
Aina mengangguk, “Ho-oh! Langsung dikirim dari showroom, udah dibayar kontan sama dia. Kebangetan, kan? Bagaimana aku nggak marah, coba?”
Reflek aku memukul meja, sampai orang-orang yang masih berada di ruangan menoleh. Aku membalas tatapan mereka dengan meringis, menyadari kekonyolan sikap spontan itu.
“Kamu yang kebangetan! Dibeliin motor baru malah marah, otak nggak dibawa ke mana-mana jadi gini, nih!” aku mengomeli sikap bo doh Aina.
“Emang sering ketinggalan, sih. Suka bingung sama otak, nggak sinkron dengan hati kalau diajak mikir. Ya, udah aku tinggal aja.” Aina balas menggerutu.
__ADS_1
Aku menutup mulut demi menahan tawa. Kami memang kadang-kadang tidak jelas jika sedang membicarakan sesuatu. Yang serius bisa dijadikan bahan gurauan, begitu juga sebaliknya. Saat ingin bergurau, malah ditanggapi dalam mode serius.
“Gimana ceritanya bisa dibeliin motor baru? pengin tahu, deh!” rasa ingin tahuku muncul kepermukaan, tanpa malu mendesak Aina agar mengungkapkan cerita.
“Beneran pengin tahu? Bisa jaga rahasia, nggak?”
Aku mengangguk yakin. Sudah lama bersahabat, tapi Aina selalu bertanya seperti itu jika ingin bercerita. Seolah apa yang akan diungkapkannya adalah sebuah rahasia besar yang tidak boleh diketahui orang lain. Harusnya dia sudah hafal bahwa aku tidak pernah membocorkan rahasianya pada siapa pun. Sebab, dia pun memegang rahasiaku dengan erat dan tertutup rapat.
Aina menceritakan mulai dari awal. Sejak aku pergi meninggalkannya bersama Gus Hafidz di teras minimarket. Sesekali aku menanggapi ceritanya dengan memuji Gus Hafidz.
“Kalau aku jadi kamu, Na. Pasti sudah klepek-klepek jatuh cinta sama Gus Hafidz, perempuan mana yang tidak mau diberi perhatian dengan sikap romantis seperti itu?” tuturku setelah Aina selesai bercerita.
“Kita beda, Jen. Aku nggak seperti kamu yang nyaman dikit, langsung sayang.”
Ucapan Aina membuatku tersenyum masam sambil mengerutkan dahi. Batinku bertanya, apakah benar aku seperti yang Aina katakan?
“Aku nggak bisa terima semua yang dia lakukan, kalau ujung-ujungnya ada udang dibalik batu.” tutur Aina.
"Maksudnya?" aku tidak paham maksud ucapan Aina.
“Kamu lupa slogan hidupku? Tidak ada manusia yang benar-benar tulus, Jen. Kita salat sehari lima kali, buat modusin gusti Alloh, kan? Biar dapat pahala, terus masuk surga. Nah! Apalagi antar manusia, kebanyakan modus dari pada tulus.”
Aku mengangguk, tapi tidak sepenuhnya membenarkan pendapat Aina. Mungkin aku terlalu lugu karena menganggap pasti ada manusia yang tulus. Entah seribu banding satu, tapi pasti ada.
“Kalau yang Gus Hafidz lakukan itu untuk mendapatkan hatimu, sah saja, kan? Kita mana tahu, seseorang suka sama kita kalau dia diam saja. Iya nggak?” aku mengemukakan pendapat untuk menanggapi Aina.
Spontan aku meninju lengannya, “Gimana, sih? Dulu kamu ingin paling diperhatikan sama Gus Hafidz, kagum sama dia. Sekarang sudah menjadi kenyataan malah nggak terima.”
Aina mendengkus lagi sambil melirik ke arahku dan berkata, “Kagum bukan berarti ingin mendapatkannya. Lagi pula dulu kita masih Mts, Jen. Wajar ingin diperhatikan sama cowok yang menurut kita mengagumkan. Iya, nggak, sih? Sekarang sudah beda kondisi.”
“Bedanya apa, sih? Justru sekarang karena kita sudah dewasa waktunya serius sama cowok, iya, kan?” aku menyindir Aina yang sebenarnya memang menaruh hati pada putra kyai itu, tapi gengsi mengungkapkan.
“Justru karena sekarang kita sudah dewasa, aku jadi mikir … nggak mungkin bisa dapatin cintanya.” Aina berucap lirih, “Siapa aku ini? Lancang mendambakan cinta seorang Gus Hafidz yang terhormat, pintar dan dikagumi banyak orang.”
“Kalau jodoh, yang nggak mungkin bisa jadi mungkin, Na. Atas ijin Alloh.”
Tepat setelah mengatakan kalimat itu, ponsel dalam tas berbunyi. Segera kuambil, agar tidak terus menggelepar dan berisik. Namun, tanda panggilan itu berakhir, ketika aku hampir menggeser tombol hijau untuk menerimanya. Berganti dengan notifikasi pesan singkat yang datang satu detik kemudian.
“Pulang, yuk!” aku beranjak, setelah membalas pesan dengan singkat dan cepat.
“Belum selesai curhat padahal,” gerutu Aina sambil menarik tali tasnya.
“Lanjutin curhat online aja, nanti! Hari kamis, nih. Harus pulang cepat biar bisa ke makam.” aku menarik tangan kirinya. Meski malas, ia beranjak juga, karena tidak ingin ditinggal sendiri di dalam ruangan.
“Kenapa buru-buru, sih?” protes Aina ketika aku menariknya berjalan cepat, menyusuri selasar kampus.
__ADS_1
“Aku udah ditunggu di depan.” jawabku cepat.
“Siapa? Pak Hara?” aku mengangguk, menjawab tebakannya yang tepat.
“ Pantesan nggak mau dengerin curhatku. Gitu, ya? Yang udah punya sopir pribadi, sekarang nggak butuh tebengan sampai jombor?” Aina mencibir sambil ikut melangkah.
“Apa, sih, Na? Pasti didengerin, kok. Eh, kamu seneng, dong. Nggak perlu repot nganterin aku sampai terminal?” sindirku.
“Alhamdulillah, berkurang sudah beban hidupku karena tidak perlu mengantar Jenar dan menunggu dia sampai dapat bus.” Aina menengadahkan satu tangan, layaknya orang yang sedang berdo’a.
Kami tertawa sambil berjalan. Selalu ada hal yang menyenangkan jika sedang bersama dengan sahabat.
“Jen?” panggil Aina.
“Heem,” jawabku.
“Kamu nggak takut tiap hari diantar-jemput Pak Hara? Pernah mikir nggak, tujuannya antar-jemput kamu buat apa?” pertanyaan Aina membuatku menghentikan langkah.
Ia menyilangkan tangan di depan dada ketika melanjutkan kalimat, “Bukan gimana-gimana, ya? Cuma … kamu pernah cerita kalau Pak Hara itu tangan kanannya kakak kamu. Artinya, dia sibuk, kan? Setahuku dia juga punya tugas mengawal Kyai Ali mengisi pengajian tiap sabtu, minggu dan Rabu pagi. Belum kalau Bu Nyai atau Gus Hafidz butuh bantuan.”
Aku melihat Aina, sahabatku itu belum selesai bicara rupanya, “Aneh saja ketika sekarang dia jadi punya banyak waktu buat kamu. Susah payah antar-jemput, padahal dia tinggal di dekat pesantren, kan? Jaraknya cukup jauh, lho, dari rumah kamu.”
Kalimat panjang lebar yang Aina katakan membuatku berpikir. Memori otak memutar alur kejadian demi kejadian mulai pertemuanku dengan Pak Hara di makam Mas Ghufron. Sampai kini, aku tidak tahu sejak kapan tepatnya kami menjadi dekat. Makin dekat, karena hampir tidak ada waktu yang kami lewatkan tanpa bertukar kabar.
Sejak aku menceritakan tentang traumaku padanya, dia mengantarku berobat atau saat aku memintanya mengantarku ke kostan Aina? Bahkan aku tidak pernah menolak diantar-jemput tanpa menanyakan alasan dan memperhitungkan jarak. Seolah aku merasa aman sekaligus nyaman jika sedang bersamanya.
“Jangan-jangan Pak Hara suka sama kamu, Jen?”
Pertanyaan Aina membuyarkan lamunan, sekaligus membuatku tersadar. Tidak mungkin orang se-perfect Pak Hara suka dengan gadis sepertiku, atau justru kenyamanan yang kurasakan saat bersamanya adalah tanda bahwa aku menyukainya?
Tidak, tidak! Itu sangat tidak mungkin. Aku pasti hanya merasa terlindungi, sedangkan Pak Hara juga hanya sebatas ingin membantu saja. Sebagai totalitas pengabdian pada kakakku.
Seharusnya aku tidak mimiliki praduga tanpa bukti nyata.
.
.
.
Bersambung ....
*Ini nih, yang nungguin bagaimana perasaannya Jenar. Eh, ternyata dia nggak peka, ya? Padahal orang yang sering overthinking biasanya terlalu peka. Namun, bisa jadi dia terjebak dengan kebiasaannya sendiri. Jadi yang akibat orang yang sering overthinking itu, kadang jadi susah membedakan prasangka. Yang seharusnya dipikirin serius, malah diabaikan, tapi sebaliknya. Yang harusnya diabaikan karena terlalu berlebihan, malah dipikirin serius.
Nah, makanya ... udah stop! mulai dari sekarang, kendalikan emosi agar tidak terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan. khawatir boleh, cemburu boleh, curiga boleh, berprasangka juga boleh, yang tidak boleh itu ... kalau sudah terlalu berlebihan. Jadi sewajarnya saja, ya. Biar nggak rugi seperti Dek Jenar. 😊*
__ADS_1
Terima kasih atas perhatian dan kasih sayang yang diberikan kepada Jenar-Hara. Bab ini harusnya tayang besok, tapi karena bab sebelumnya dapat komentar yang paling banyak, jadi saya tayangin sekarang, deh. Terima kasih untuk teman-teman yang udah kasih vote dan hadiahnya. Bunga bermekaran, kopi, pulsa atau apa pun itu ... terima kasih banyak, love kalian sekebon teh punya Lion yang sertifikatnya bertumpuk2❤❤😍😍. Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula ... aamiin. 🙏
Selamat membaca, ya, teman-teman. Bersyukur diberi nikmat sehat yang tiada tara .... ❤❤