Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
78. Khawatir


__ADS_3

🌹Perempuan adalah pemilik kelembutan hati yang mudah tersentuh. Dalam keadaan paling tidak peduli sekali pun, pasti masih terbersit rasa khawatir dalam dirinya.🌹


Jenar.


“Malah ketawa gitu, sih?” aku menggerutu, melihat tawa Aina berderai.


“Sorry, sorry!” Aina menangkupkan tangan di depan dada.


“Apanya yang lucu?” tanyaku heran.


Aku menceritakan kepada Aina tentang kejadian pagi tadi saat akan berangkat ke kampus. Tidak ada yang lucu, justru aku sangat merasa bersalah karena telah melukai kening Pak Hara, walau tidak disengaja.


“Jenar, jenar!” Aina menghentikan tawa. Kini ia meluruskan pandangan ke depan. Kami sedang duduk berdua di bangku taman kampus, menikmati jeda istirahat setelah menyelesaikan satu kelas.


“Sumpah, aku nggak nyangka banget kalau ada orang di depan jendela. Sepertinya Pak Hara lagi tidur, matanya kelihatan merah tadi.” ungkapku melanjutkan cerita.


Aina kembali tertawa, sampai memegang perutnya. Aku masih bingung, apa yang lucu dari cerita itu hingga Aina terpingkal-pingkal.


“Udah, dong, Na! Dari tadi kamu ketawa terus, padahal ceritaku nggak lucu, loh.” Aku bersungut-sungut, kesal karena Aina masih saja terbahak.


“Coba kamu inget-inget lagi kejadian tadi pagi! Semua orang yang dengar ceritamu, pasti ketawa, Jen.” terang Aina sambil menyusut sudut mata yang berair karena banyak tertawa.


Aku menuruti kata-kata Aina, kembali mengingat detail peristiwa pagi tadi. Mulai dari selesai mandi dan hari masih terlalu pagi. Kuputuskan untuk membaca Al-qur’an dari pada menunggu dengan aktivitas yang tidak jelas. Lagi pula, aku baru ingat belum menyelesaikan tadarus satu juz yang hanya kurang dua lembar.


Semua berjalan seperti biasanya. Mbak Sayumi mengerjakan pekerjaan rumah; menjemur cucian dan menyapu halaman. Sementara itu, aku bersiap pergi ke kampus, setelah selesai mengaji. Lalu hendak keluar kamar, sambil mencangklong tas. Namun, akses menuju pintu belakang tertutup bahan bangunan. Secepat kilat aku memutar otak, agar bisa keluar tanpa memindahkan material yang menumpuk di sana-sini. Sebuah ide melintas dalam benak, membuatku bergegas membalikkan badan.


Dengan langkah cepat, aku kembali ke kamar. Sejenak mematut diri sekali lagi di depan cermin. Sebuah kebiasaan yang kulakukan sejak lama, yaitu menatap pantulan gambar diri di depan cermin berulang kali sebelum pergi. Sebab, aku sering merasa insecure dengan penampilan sendiri.


Setelah memastikan penampilan rapi dan barang-barang lengkap tersimpan dalam tas, aku segera membuka jendela. Namun, begitu daun jendela ku dorong, suara memekik membuatku terkejut.


Aku menarik kembali jendela sisi kanan, mengintip dari sebaliknya. Siapa gerangan yang berada di balik dinding kamar?


Aku sangat kaget, ketika mendapati Pak Hara sedang duduk di bawah jendela sambil memegang keningnya. Ya, Alloh! Dia pasti terkena ujung jendela yang baru saja kubuka, batinku dalam hati.


Aku benar-benar tidak sengaja, tidak tahu kalau ada kursi di depan kamar, pun tidak pernah menyangka ada orang yang duduk di sana. Keadaan rumah sepi seperti biasanya, Pak Hara juga tidak bersuara sama sekali, wajar kalau aku membuka jendela tanpa permisi, kan?


Ketika selesai mengingat tentang kejadian itu, tanpa sadar aku tertawa. Ternyata kalau diingat kembali seluruh rangkaian kejadian memang lucu. Wajah panik Pak Hara saat aku keluar kamar dengan memanjat jendela, keningnya yang berdarah, tapi menolak kuobati karena takut traumaku kambuh.


Tidak, tidak! Itu bukan hanya lucu, tapi memalukan sekali. Ya, Alloh! Bisa-bisanya aku memanjat jendela di depannya? Setelah tempo hari tidak sengaja juga tertidur saat sedang menunggu dia makan. Sungguh tidak tahu malu sekali aku ini.


“Masih bilang ceritamu tidak lucu?” Aina bertanya, pasti karena melihatku tertawa tanpa suara, sambil menggeleng. Seketika aku pun menyudahi lamunan.


“Menurut kamu Pak Hara marah nggak, sih, Na?” Pertanyaan yang sebenarnya sudah kutebak jawabannya, tapi demi memuaskan perkiraan aku tetap mengungkapkannya kepada Aina.


“Karena kejadian tadi?” Aina justru mengembalikan pertanyaan padaku, “Kamu pikir sendiri saja, deh! Seandainya kamu terluka oleh perbuatan orang lain, yang walau bisa dibilang tidak sengaja, sih. Terus kamu ditinggal pergi begitu saja, kamu marah tidak?”


Aku berpikir sejenak. Sebenarnya bukan hanya tentang kejadian tadi pagi, tapi juga beberapa peristiwa sebelumnya. Aku sudah banyak merepotkan Pak Hara, bahkan dia sampai susah payah mencari psikolog hingga mengantar berobat. Seharusnya tadi aku menunggu sampai dia selesai mengobati luka, bukan langsung pergi begitu saja, seperti orang yang tidak tahu berterima kasih.


“Menurutku, nih! Minimal kamu obati lukanya, atau ambilkan minuman, gitu. Ish! Keterlaluan sekali anak ini.” Aku menoleh, nampak Aina menggeleng.


Namun, batinku tidak terima dikatakan keterlaluan. Sebab, tadi aku sudah menawarkan untuk mengobati lukanya, tapi Pak Hara menolak. Salah sendiri kenapa dia minum alkohol segala, padahal hari masih pagi. Memangnya dia tidak tahu kalau minuman haram itu tidak baik untuk kesehatan?


Ah, biarlah!


Tidak peduli dia marah atau tidak, yang penting aku sudah berusaha minta maaf sebagai pertanggung jawaban karena tidak sengaja melukainya. Lagi pula hanya luka kecil, tidak akan menjadi masalah besar.


“Harusnya tadi kamu antar Pak Hara ke klinik. Kamu nggak tahu, kan, separah apa lukanya? Kalau sampai gegar otak bagaimana? Kamu harus tanggung jawab, loh!”


Rasa khawatir tak pelak menjalari hati, ketika mendengar ucapan Aina. Secara logika, tidak mungkin hanya karena terkena ujung daun jendela bisa mengakibatkan luka serius, tapi perasaan berkata lain. Bagaimana kalau yang dikatakan Aina benar?


“Aku tanya, deh. Daun jendela kamar kakakmu terbuat dari kayu, bukan?” Aku mengangguk, menjawab pertanyaan Aina.

__ADS_1


“Nah!” Aina memukul pahaku pelan, tapi sukses membuatku terkejut.


“Bisa jadi ada serpihan kayu yang nancep di keningnya Pak Hara, terus dia mengalami pendarahan. Mungkin dia kena ujung kunci jendela yang sudah berkarat. Aduh! Kalau Pak Hara kena tetanus bagaimana, Jen?”


Mendengar kalimat panjang lebar yang Aina katakan, kekhawatiranku bertambah. Meskipun tadi pagi kulihat Pak Hara baik-baik saja dan masih bisa menenggak alkohol dengan santai, tapi aku tidak tahu setelahnya. Bagaimana kalau yang dikatakan Aina semuanya benar?


Berbagai kemungkinan terlintas dalam benak. Hendak kuungkapkan kepada Aina, tapi urung. Sebab, terdengar suara dering ponsel dari dalam tasnya. Wajah Aina berubah murung, mana kala melihat layar hp yang menyala.


“Ada apa? Siapa yang telepon?” Aku tidak bisa melihat nama pemanggil, karena Aina telah memindahkan ponsel yang berdering pada bangku dalam posisi terbalik.


“Siapa lagi?” Nada bicara Aina berubah malas, sepertinya aku tahu siapa yang menelponnya.


“Kenapa tidak diangkat?” Aku bertanya, walau sudah tahu pasti apa jawabannya.


Aina tidak menjawab, membuatku tergerak untuk membujuknya, “Siapa tahu penting.”


Dia bergeming. Ponsel di atas bangku berhenti berdering, tapi beberapa saat kemudian berdering lagi. Berulang hingga tiga kali, tapi Aina tetap tidak mengangkat panggilan itu.


“Angkat aja kenapa, sih, Na?” bujukku lagi. Aku berpikir, jika sampai mengulang telepon yang tidak diangkat berkali-kali, pasti ada yang penting. Namun, Aina tetap menggeleng.


Dia justru mengambil hp lalu mengulurkannya padaku, “Kamu aja yang angkat kalau mau, nih!”


Aku hanya bisa menghela napas berat, menatap layar yang menyala dengan satu nama kontak tertera. Begitu layar redup-tanda panggilan berakhir-Aina lantas menarik tangan, lalu mematikan daya ponselnya.


Tak berselang lama, berganti terdengar bunyi ponsel dari tasku. Aku segera mengambilnya, dan benar yang sempat terbersit dalam perkiraan. Sebab, bukan baru sekali terjadi. Jika Aina tidak segera menjawab telepon, maka aku yang menjadi sasaran berikutnya.


“Na?” aku memanggil Aina, seraya menunjukkan layar ponsel yang menyala.


Aina tersenyum penuh arti. Meski tanpa berucap sepatah kata, aku tahu dia seperti sedang berkata ‘tolong carikan alasan untukku’. Itu yang sering terjadi selama kami bersahabat.


“Aku harus bilang apa, Na?” tanyaku meminta pendapat Aina tentang alasan apa yang sebaiknya kukemukakan.


“Terserah!” jawab Aina seraya mengambil tas.


“Bilang saja, Aina sedang salat dluha.” jawab Aina sambil lalu beranjak.


Aku mengangguk. Alasan yang tepat, tidak mungkin Gus Hafidz memintaku mengganggu Aina yang sedang salat. Namun, sebuah kebohongan kadang tidak berjalan dengan lancar seperti yang dibayangkan. Sama halnya ketika aku menjawab telepon Gus Hafidz seperti yang Aina minta.


“Sejak kapan salat dluha pindah waktu menjadi menjelang azan dzuhur?” begitu pertanyaan Gus Hafidz dari seberang telepon.


Aku menepuk jidad, menyadari kekeliruan saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Pukul 11.25 WIB, bahkan hanya menunggu beberapa menit lagi azan dluhur berkumandang. Begini jadinya kalau tidak biasa berbohong, dipaksa mencari alibi yang tidak tepat. Maksud hati membantu teman, malah terlihat menjerumuskan.


Ini hari apa, sih? Dari pagi ada saja masalah yang kubuat. Sepertinya aku harus banyak-banyak beristigfar. Barangkali ada tutur kata atau perilaku yang tanpa sadar membuat orang lain sakit hati, dan hari ini Alloh sedang mengabulkan do’a orang itu untukku.


Astaghfirullohaladzim ….


***


Aku bergegas pulang, setelah menyelesaikan semua jadwal mata kuliah hari ini. Bahkan demi segera sampai rumah, aku rela turun di depan klenteng, lalu naik ojek. Padahal biasanya aku sangat menghindari naik ojek, karena semua pengendaranya laki-laki. Namun, tukang ojek yang mangkal di depan klenteng kebanyakan sudah berumur, jadi bisa kupastikan tidak akan bau parfum atau alkohol. Yang ada bau keringat khas pejuang nafkah di bawah terik matahari.


Sampai rumah, pertama yang kucari adalah keberadaan mobil mpv hitam yang biasa dikendarai oleh Pak Hara. Sedikit kecewa, karena di halaman belakang maupun depan, tidak ada yang kucari. Hanya ada beberapa motor terparkir di garasi belakang, sepertinya milik pekerja bangunan.


Pak Hara pasti sudah pulang, begitu pikirku.


Namun, ketika aku akan masuk kamar, terdengar suara beberapa orang berbincang dari arah bangunan baru. Rasa ingin tahu menyeruak, tapi akses menuju ke tempat itu tertutup material dan para tukang yang sedang melakukan pekerjaannya.


Kuputuskan untuk masuk kamar, menunggu sampai orang-orang itu keluar. Sesekali aku harus melongok dari jendela, takut tidak tahu kapan mereka pergi.


“Ibu! Ibu! Bapak!” Terdengar suara anak kecil memanggil dari luar kamar, ketika aku sedang konsentrasi mengintip dari jendela kamar.


Sejak kapan ada anak kecil di rumah ini?

__ADS_1


Karena penasaran, aku bergegas keluar. Harus memicingkan mata, ketika mendapati seorang anak kecil berdiri di antara tumpukan tegel motif dan bahan bangunan. Dia seperti sedang kebingungan mencari seseorang sambil mengucek matanya.


“Eh! Cah bagus wes tangi.” (Eh, anak ganteng sudah bangun.) Mbak Sayumi datang dari arah dapur, menghampir anak kecil itu.


Aku melihat Mbak Sayumi menggandeng tangan anak laki-laki berwajah kusut dengan rambut acak-acakan itu. Ketika mereka berjalan mendekat, aku baru bisa mengingat siapa anak itu.


“Naufal?” aku memanggil. Mbak Sayumi dan anak kecil yang dituntunnya kompak menatapku.


Mbak Sayumi seperti hendak membuka mulut, tapi gerakan Naufal mengambil dan mencium tanganku lebih menarik perhatian. Perempuan awal empat puluhan itu menatapku dengan tatapan menyelidik.


“Assalamu’alaikum …,” gumam Naufal.


“Wa’alaikum salam,” aku menjawab ucapan salamnya. Lalu berjongkok demi menyejajarkan tinggi kami untuk merapikan rambutnya, “Naufal kok bisa di sini? Sama siapa?”


Naufal menggeleng dengan tatapan nanar. Anak itu sepertinya masih bingung, mungkin karena baru saja bangun tidur.


“Dia datang sama siapa, Mbak?” aku mengalihkan pertanyaan pada Mbak Sayumi, yang kemungkinan paling tahu siapa yang membawa Naufal.


“Sama bapaknya ditinggal sini, karena tadi dia ketiduran waktu bonceng motor,” jawab Mbak Sayumi.


“Terus bapaknya kemana?” Mbak Sayumi mengangkat bahu, tanda tidak tahu.


Baru saja aku hendak bertanya lagi, tapi suara bariton dari balik punggung membuatku mengurungkan niat.


“Sudah bangun, Fal?”


Aku menoleh, lalu reflek berdiri ketika melihat Pak Hara berjalan mendekat. Dia mengangkat Naufal yang rupanya sudah merentangkan tangan minta digendong.


“Mau minum atau cuci muka dulu?” tanya Pak Hara.


Naufal menggeleng seraya mengalungkan tangan di leher omnya. Lalu anak itu menyandarkan kepala di bahu Pak Hara sambil menggumamkan pertanyaan, “Bapak nandi, Om?” (Bapak kemana, Om?)


“Sedang jemput ibu pengajian di Dukun*, nanti mereka ke sini kalau urusan sudah selesai.” jawab Pak Hara.


“Makasih, ya, Mbak Sayumi. Maaf merepotkan, karena saya minta tolong jagain Naufal.” sambung Pak Hara dengan nada yang sangat sopan. Apa memang begitu cara bicara Pak Hara? Hanya membuka suara seperlunya, tapi bersikap sopan kepada siapa saja.


“Wateper, Mas Pak Hara. Jangan sungkan sama saya, timbang jagain anak kecil yang lagi tidur, nggak ngrepotin sama sekali.” Mbak Sayumi selalu ekspresif dalam segala situasi.


Tanpa menjawab, Pak Hara berlalu sambil membawa Naufal dalam gendongan. Lamat-lamat aku masih bisa mendengar dia berbicara kepada Naufal, walau tidak begitu jelas. Kalau sedang bersama Naufal, Pak Hara jadi terlihat seperti manusia. Bukan papan tulis yang datar, tanpa ekspresi dan jarang bicara.


Ih! Ada apa denganku? Mengapa jadi membatin yang tidak-tidak tentang seseorang, menambah tabungan dosa saja.


Meski kami hanya bertemu sekilas, tapi akhirnya aku bisa merasa lega. Sebab, Pak Hara terlihat baik-baik saja. Dia sehat dan bisa menggendong Naufal, artinya luka karena kejedot jendela tadi pagi tidak terlalu parah. Kekhawatiranku terjawab sudah dan ucapan Aina terpatahkan. Alhamdulillah ….


.


.


.


Bersambung....


Note :


*Dukun : Nama sebuah desa di daerah kabupaten magelang. Sebelah utara tempat tinggal Jenar yang tak lain adalah rumah Aneesha, satu wilayah dengan rumahnya Mbah Uti. Nah, biasanya di daerah sini kalau ada pengajian akbar, orang-orang dari luar kecamatan bahkan kabupaten akan berbondong-bondong datang. serombongan bahkan sekompi. Makanya Nabila rela jauh-jauh dari perbatasan Jogja ke Dukun demi mendengarkan pengajian. (Sebenarnya sengaja disetting, sih. Biar bisa titip Naufal sama Hara yang lagi kerja di rumahnya Aneesha.) 😂


Jadi, Dukun di sini bukan dukun santet apalagi dukun pelet, ya. 😉


Hai, Teman-teman! Jenar ternyata khawatir sama Pak Hara. Eits! Jangan senang dulu, khawatir belum tentu adanya benih cinta dalam hati, loh. Bisa jadi memang karena dia merasa bersalah dan punya hutang budi saja, kan?


Selanjutnya, kira-kira ada cerita apa antara Jenar, Naufal dan Hara? 

__ADS_1


.


Nggak ada apa-apa, deng. Jangan ditunggu.😂


__ADS_2