
🍁Jika perempuan terlalu mengedepankan perasaan dari pada logika, maka laki-laki sering salah mengartikan sikap perempuan yang kadang justru tidak sesuai dengan perasaannya.🍁
Hara.
Jika bukan karena tanggungjawab terhadap pekerjaan, mungkin aku akan memilih tidur di rumah dari pada berkendara di tengah hujan lebat seperti ini. Jalan Yogya-Magelang sedikit sepi, tidak banyak kendaraan yang melaju karena hujan cukup deras, siang hari ini.
Berkali-kali kuusap wajah dengan kasar untuk mengusir kantuk yang hendak datang. Badan rasanya lelah sekali, karena beberapa hari ini jadwal Kyai Ali mengisi pengajian sangat padat. Tadi malam, aku baru bisa istirahat lewat tengah malam. Pagi-pagi sekali aku sudah harus mengantar Kyai Ali mengisi kajian rutin di tempat penampungan para perempuan pekerja se-ks komersial.
Rutinitas setiap tengah pekan yang cukup menyita tenaga dan pikiran. Sebab, aku tidak cukup hanya mengantar dan mengawal Kyai Ali dari awal sampai selesai mengisi kajian. Di sana, aku pun harus siap dengan semua tingkah laku takterduga dari penghuni lokalisasi itu. Ada yang datang ke pengajian dengan pakaian super ketat yang sama sekali tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya, sengaja merokok sambil mendengarkan kajian, ada juga yang sengaja menebar pesona untuk menggoda. Sungguh tidak pernah terbayangkan sebelumnya, aku akan ada di tempat dan situasi membahayakan seperti ini.
Pukul 13.20, hujan deras belum reda saat aku memarkirkan mobil di halaman belakang rumah Aneesha. Keadaan sepi sekali, tidak terlihat seorang pun yang sedang beraktivitas. Mungkin karena hujan, para pekerja pasti memilih melakukan pekerjaan di dalam rumah yang terhindar dari hujan
Benar saja, terdengar suara orang menggergaji kayu, juga memukul paku, saat aku baru saja sampai di pintu belakang rumah yang terbuka. Sambil mengusap baju yang basah, aku melongok ke dalam. Terlihat beberapa orang sedang bekerja sambil bercanda.
Melihat kehadiranku, salah seorang diantara mereka menghentikan aktivitas untuk menyapa, “Tak kiro nek ora rene je, Mas. Udan deres koyo ngene.” (Saya kira tidak ke sini, Mas. Hujan deras seperti ini.)
Aku menghampiri mereka, seraya mengangguk sebagai tanda memberi salam. Tanpa banyak basa-basi aku segera meneliti sudah sampai mana tahap renovasi yang mereka kerjakan, termasuk apa yang dibutuhkan agar proses pengerjaan tidak terhambat.
Harus kuakui mereka bekerja dengan profesional, sesuai kontrak kerja yang sudah disepakati. Jadi sebenarnya aku tidak perlu khawatir dengan hasil pekerjaan mereka, tapi demi tanggungjawab tetap harus melakukan pengawasan. Sering kali keteledoran terjadi bukan karena tidak profesional dalam bekerja, tapi karena minimnya pengawasan dari pihak terkait.
Sampai sore aku masih di sana. Selain mengawasi pekerjaan tukang, juga menunggu hujan yang sepertinya belum ada tanda-tanda akan reda. Kuputuskan untuk duduk sebentar bersama para tukang yang sudah menyudahi pekerjaan. Kami mengobrol basa-basi sambil merokok, di tengah suara gemuruh hujan.
“Tak damelke unjukan malih, nggih, Mas?” teriak Mbak Sayumi dari arah dapur, bersaing dengan suara hujan dari luar. (Saya buatkan minuman lagi, ya, Mas.)
“Ampun repot-repot, Mbak. Ning nek onten nggih mboten nolak,” seloroh seorang tukang yang ditimpali tawa oleh semua orang. (Jangan repot-repot, Mbak. Tapi kalau ada, ya, tidak menolak.)
Aku menggelengkan kepala seraya mengembuskan asap rokok yang baru saja kuhisap. Berusaha membaur dengan mereka yang sedang berkelakar, meski sama sekali tidak ingin menanggapi.
Tawa renyah para tukang terhenti, saat terdengar suara langkah kaki berlari dari arah pintu. Seketika fokus semua orang tertuju pada gadis yang baru saja masuk dengan tergesa sambil mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum! Mbak Say! Tolong ambilkan baju dan handuk! Bawakan ke kamar mandi!” teriak Jenar sambil meletakkan tas sembarangan, lalu melesat ke arah kamar mandi yang terletak di dekat dapur.
__ADS_1
Semua orang bergumam menjawab salam, tentu saja aku tidak melakukannya. Terdengar samar-samar Mbak Sayumi menggerutu sambil memunguti tas dan sepatu Jenar yang tersebar di lantai.
“Owalah, bocah! Yen dikon gowo payung ora tau gelem, malah milih bali udan-udan. Nek masuk angin wae, gawe bingung wong sak donyo.” (Dasar, bocah! Kalau disuruh bawa payung tidak mau, malah milih pulang hujan-hujan. Kalau sakit saja, bikin bingung orang sedunia.)
Meski tidak terlalu mengerti apa yang Mbak Sayumi katakan, tapi aku tahu dia sedang menggerutu atas sikap Jenar. Perhatianku justru teralihkan karena para pekerja saling membicarakan gadis yang baru saja pulang dengan pakaian basah kuyup itu.
“Ayu, yo, sing duwe omah?” tanya seorang yang merupakan pemimpin proyek renovasi ini. (cantik,ya, yang punya rumah?)
Seorang yang lain menanggapi dengan menganggukkan kepala, “Anak e Mbak Riani ayu ro ganteng kabeh telune. Sing paling kalem yo, Jenar. Ayu, soleha, pinter ngaji, menengan, wes pokok e calon mantu idaman.” (Anaknya Mbak Riani cantik dan tampan semua ketiganya. Yang paling kalem, ya, Jenar. Cantik, soleha, pandai baca al-qur’an, pendiam, pokoknya calon menantu idaman.)
“Cocok yen dadi mantune Pak Kyai, yo? Cobo aku duwe anak lanang, pengen tak kenalke,” sahut yang lain. (Cocok jadi menantunya Pak Kyai, ya? Coba saya punya anak laki-laki, ingin kukenalkan.)
“Hust! Mbak Riani rung mesti gelem besanan ro awakmu! Jenar uwis tunangan karo konco kuliahe.” sanggah pimpinan proyek. Yang ditimpali dengan tawa oleh yang lain. (Hust! Mbak Riani belum tentu mau besanan sama kamu. Jenar, kan, sudah tunangan sama teman kuliahnya.)
“Wah! Pak tukang kecewa.” semua tertawa dan saling berkelakar, sedangkan aku tidak ingin menanggapi apa-apa. Rupanya belum banyak yang tahu kalau Ghufron sudah meninggal. Padahal kebanyakan pekerja proyek renovasi rumah Aneesha ini adalah tetangga yang tinggal satu desa dengan Pak Teguh.
Dari ekor mata, aku menangkap sekelebat bayangan Jenar menerima baju yang diulurkan oleh Mbak Sayumi, lalu dia berlari. Aku mendongak, mengikuti arah kepergiannya sampai menghilang dibalik tembok. Masih jelas kuingat kemarin malam, saat dia tidur pulas sepanjang perjalanan pulang dari Yogya sampai Magelang. Sampai aku harus menggendong dan membaringkannya di kamar. Merepotkan sekali.
Lucu juga, aku rela mengorbankan janji dengan keponakan tersayang, demi Jenar yang bahkan tidak mengucapkan terima kasih. Harusnya dia melihatku ada di sini, kan? Sepertinya dia tidak punya niat untuk menemuiku dan mengucapkan terima kasih. Sebab, dia justru menunjukkan sikap seolah kami tidak saling kenal.
Mbak Sayumi datang dengan membawa nampan berisi beberapa gelas teh yang masih mengepulkan uap panas. Dia memindahkan isi nampan pada meja, seraya mempersilakan, “Monggo diminum, mumpung masih hangat. Hujannya deras sekali, ya?”
Kami sedang berbincang ringan, ketika aku melihat Jenar berjalan melintas. Pandangan kami sempat bertemu, tetapi hanya sesaat karena dia segera membuang wajah. Dia menjadi bahan perbincangan para tukang, dan itu cukup mengusikku. Memang bukan aku yang dibicarakan, tapi ada rasa tidak rela ketika aku mengetahui orang lain menilai Jenar tidak langsung di hadapannya, tapi hanya saling berbisik.
Mbak Sayumi berpamitan, gegas pergi mengikuti majikannya yang berjalan cepat menuju kamar.
“Sekecake, nggeh! (Selamat menikmati, ya!) Maaf, saya harus menemani Mbak Jenar. Kalau hujan deras begini dia suka ketakutan sendiri, mungkin takut tersambar petir dia.” jelas Mbak Sayumi sebelum berlalu.
Diantara semua orang ini, mungkin hanya aku yang tahu tentang keadaan Jenar sesungguhnya. Mengingat cerita Jenar tempo hari, wajar kalau dia sampai takut saat hujan deras. Bisa jadi potongan kejadian itu terlintas dalam ingatannya, seperti sedang memutar rekaman kaset.
Hujan berangsur mereda walau masih menyisakan gerimis rapat. Para pekerja berkemas untuk pulang, begitu pula dengan aku. Tidak mungkin aku berlama-lama berada di rumah ini, karena masih ada pekerjaan lain menanti. Aku juga masih punya hutang yang harus segera kubayar kepada Naufal.
__ADS_1
Beberapa hari setelah hari itu, aku dan Jenar jarang sekali bertemu apalagi berbincang. Sesekali kami berpapasan, tapi tidak saling tegur sapa karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Aku sibuk dengan pekerjaanku, sedangkan dia tenggelam dengan urusannya sendiri.
Walau demikian, kadang Jenar berhasil menarik perhatianku. Pernah aku melihatnya sedang menunggu bis di pinggir jalan raya. Dia sengaja menepi dari kerumunan orang, pasti sedang menghindar agar phobianya tidak kambuh. Tidak habis pikir dengan orang seperti Jenar ini. Sudah tahu dirinya memiliki kelemahan, tapi tidak lantas ingin mengatasinya agar tidak menghambat aktivitas. Justru menyembunyikan keadaan, bersikap seolah kondisinya baik-baik saja.
Seperti itukah sifat perempuan? Jarang mau berterus terang dan mengedepankan rasa tidak enak hati atau sungkan. Selalu lebih memikirkan perasaan orang lain dan mengorbankan perasaannya sendiri.
Sama halnya dengan yang kulihat akhir pekan ini. Saat aku sedang kerepotan membuat rekapan pembelian bahan bangunan dan upah tukang, rutinitas setiap akhir pekan. Aku harus melaporkan setiap detail jalannya renovasi rumah kepada Reyfan, tapi pemandangan di hadapan justru mengalihkan konsentrasi.
Nampak seorang pria sedang menurunkan banyak barang dari mobil jeep warna hijau. Saking banyaknya barang-barang yang diturunkan, jadi lebih mirip orang mau pindahan saja. Sementara itu, Mbak Sayumi tergopoh-gopoh keluar dari rumah, segera membantu membawakan barang bawaan pria itu. Sejenak aku ingin tertawa dengan tingkah Lion yang datang membawa banyak barang. Entah apa saja yang dia bawa, sampai tidak habis-habis dia keluarkan dari mobil.
Jadi ingat pesan singkat di ponsel Jenar yang tidak sengaja kubaca, ternyata anak itu benar-benar datang. Sebentar lagi aku pasti akan melihat serunya drama rayuan cinta nggak jelas ala anak muda yang biasanya hanya ada di serial televisi.
.
.
.
Hai teman-teman ... para pembaca budiman yang saya cintai dan saya banggakan. Apa kabar? Long long long time no see, ya? Lama banget rasanya nunggu cerita ini up. Padahal udah pernah bilang, jangan ditunggu! Masih saja pada nungguin, hehe.
Sampai di sini ada yang gregeten sama Pak Hara nggak? Kira-kira dia akan peka dengan keadaan tidak, ya? Masa iya, cuma mau nonton Lion mencari celah untuk melepas panah rayuan terhadap Jenar. Itu Pak Hara kenapa diam saja, sih? Mbok ya, disapa Jenarnya gitu, loh. Eh, kenapa malah saya yang jadi gregetan, ya?😊😂 Padahal saya yang tahu alur ceritanya.
Bab selanjutnya kita cari tahu tentang perasaan Jenar, ya? Kira-kira bagaimana responnya dibawain banyak barang sama kakak Lionel Baga Wisesa.
Maaf, atas ketidaknyamanan ini. Rencana saya setelah tanggal 8 kemarin mau fokus selesaikan naskah ini sampai end. Qodarulloh, anak-anak sakit dan suami sedang tidak bisa diganggu karena pekerjaannya yang sekarang dobel-dobel, alhamdulillah. Jadi, belum bisa membahagiakan para pembaca budiman untuk bisa menikmati kelanjutan cerita ini setiap hari.
Namun demikian, tetap saya usahakan mengetik meskipun sangat sangat sangat lambat sekali, (hiperbola pake banget, ya?) 😊
Mohon dimaafkan, ya, teman-teman tersayang. Insyaalloh tetap lanjut walau agak tersendat. Terima kasih kepada semua pembaca budiman semuanya, yang telah menunggu dengan sabar.😊
Salam sayang,
__ADS_1
La Lu Na (Desi Desma)