
🍁Jika seseorang tengah jatuh hati, maka rindu dan cemburu kian pasti merajai.🍁
Hara
Aku memejamkan mata sejenak sambil membuang napas, demi menghalau rasa yang terus berkelindan. Kuambil sebatang rokok dari bungkus yang terletak di atas meja, ingin mengenyahkan berbagai pikiran dengan merokok. Namun, begitu lintingan tembakau itu menyentuh bibir, justru berbagai bayangan makin berkelebat dalam benak.
Kuhempaskan punggung pada sandaran sofa, seraya mengusap wajah. Banyak pekerjaan hari ini yang membutuhkan konsentrasi penuh, aku tidak boleh terpengaruh oleh pikiran-pikiran tidak penting. Kuambil korek api dari saku celana, segera menyalakan rokok. Menikmati lintingan tembakau rasa vanila, berharap bisa mengenyahkan rasa tak nyaman penuh prasangka.
Ada apa sebenarnya denganku? Sejak semalam pulang dari rumah Aneesha, banyak pikiran yang mengganggu. Obrolan ringan dengan Jenar membuatku memikirkan banyak hal.
Jenar itu tidak cantik, tapi manis dan menyenangkan jika dipandang. Hampir setiap hari kami bertemu, aku sadar bahwa dia punya daya tarik yang berbeda dibanding gadis lainnya. Bahkan dengan penampilannya yang selalu sederhana, mampu memancing keinginan terpendamku sebagai seorang laki-laki.
Dia gadis yang ceria, meski lebih banyak diam jika sedang berkumpul dengan orang banyak. Mandiri, pandai menyembunyikan sisi lemahnya agar orang lain tidak memberi belas kasihan. Hal ini justru membuatku ingin selalu melindungi dan berada dekat dengannya.
Jenar adalah seorang gadis yang ceroboh, tidak rajin, tapi pandai memasak. Rasa masakannya khas, seperti selalu ingin mencicipinya lagi. Dia sering sekali melalaikan hal-hal penting, seperti memakai seatbealt, membawa payung, bahkan pernah lupa mengikat tali sepatu karena terburu-buru. Pernah juga aku mendapatinya lupa mengikat tali gamis, ketika akan berangkat ke kampus. Sepertinya dia butuh seseorang yang bisa mengatur hidupnya agar lebih tertata.
Aku menggeleng, seraya mengusap wajah sekali lagi untuk menghentikan pikiran yang berkelana. Apa sebenarnya yang membuatku terus memikirkannya? Hari masih pagi dan bayangan wajah sederhana dengan senyum yang membentuk lesung di kedua sisi pipinya itu tak bisa kuenyahkan. Justru makin berkelebat, merajai pikiran dan perasaan.
Jatuh cinta, beginikah rasanya? Saat pandangan hanya tertuju pada satu arah, dan hati tak bisa berbohong jika ada rasa yang sedang tumbuh di dalam sana. Ketika wajah seseorang terus membayang, menghadirkan keinginan untuk bertemu setiap saat. Ternyata rasa rindu memang berat.
Kurogoh saku celana, guna mengambil ponsel. Sepagi ini aku sudah merasa resah hanya karena belum mendengar kabar darinya. Jika bukan hari minggu, aku pasti sudah pergi pagi-pagi dan duduk di luar kamarnya demi menunggu dia selesai mengaji. Aku selalu hanyut dalam suara lirih yang menenangkan jiwa, setiap kali mendengar mengaji.
Tiga kali kucoba mendial nomornya, tapi hanya nada tunggu yang terdengar. Ah, aku lupa! Dia pasti tidak sempat memegang ponsel karena sedang mengajar anak-anak menghafal kitab suci. Lebih baik mengirimkan pesan saja, dia bisa membalas nanti kalau sudah ada waktu.
Kumasukkan kembali ponsel ke saku, seraya mengambil rokok beserta korek apinya. Kyai Ali dan Bu Nyai Aisyah nampak keluar dari rumah utama, artinya aku harus siap melaksanakan pekerjaan.
“Sudah siap semuanya?” tanya Kyai Ali.
Aku mengangguk, begitu juga dengan Kang Mardi yang sedang membukakan pintu mobil. Kyai Ali menoleh ke arah istrinya sebentar sambil bertanya, “Benar kamu mau ikut? Mumpung masih ada waktu untuk berubah pikiran.”
Bu Nyai mengangguk, “Saya harus tahu medan lapangan, sebelum berperang.”
Kyai Ali tertawa, lalu merangkul bu nyai. Beliau mempersilakan istrinya masuk mobil lebih dulu sambil bergumam, “This is my wife! Terima kasih sudah menjadi pendukung pertama dan utamaku.”
“You’re wellcome! Kalau bukan istri yang mendukung suami, lalu siapa lagi?” jawab Bu Nyai sebelum masuk mobil.
Kyai Ali tertawa lagi, “Kita seperti mau maju calon legislatif saja, ya, Mi? Padahal hanya mau membagikan mukena dan gamis.”
“Lho, kalau nyaleg malah umi nggak mau dukung abah. Wegah nek terus abah sibuk kampanye rono-rene, ora duwe wektu kanggo keluarga.” Bu Nyai berseloroh, tidak ingin suaminya sibuk kampanye hingga melupakan waktu untuk keluarga.
__ADS_1
"Iya, ya, Mi. Ngurus pesantren dan santrinya saja sudah sangat sibuk, kok, aneh-aneh nyaleg." Kyai Ali menimpali selorohan istrinya.
Aku dan Kang Mardi saling lirik mendengar obrolan sepasang paruh baya ini. Hingga Kang Mardi mulai menjalankan mobil, pak kyai dan bu nyai masih saling melempar gurauan. Cukup untuk mengalihkan pikiran-pikiran dalam benak yang belum juga hilang.
Ponselku bergetar, beberapa saat ketika mobil telah berbaur dengan kendaraan lain di jalan raya. Segera kuambil, untuk mengecek notifikasi pesan masuk. Sedikit lega, melihat nama kontak pada deretan chat teratas.
Maaf, habis dluha, baru buka hp. Ada apa Pak Hara pagi-pagi telepon?
Kalimat balasan dari Jenar atas pesan yang kukirim beberapa saat yang lalu. Tak perlu berlama-lama, aku segera mengirim balasan.
'Nggak pa-pa, hanya ingin tahu kamu sedang apa?'
Selang beberapa detik, pesan balasan datang lagi. Diawali dengan gambar emoticon tersenyum, disusul dengan deretan kalimat.
Oh, ini lagi siap-siap mau ziarah keliling.
Aku mengerutkan dahi sejenak, setelah membaca chat yang berhasil menggelitik rasa ingin tahuku.
'Ziarah keliling mana? Sama siapa? Kok, kamu nggak cerita kemarin?'
Aku membuang napas, selama beberapa jenak menunggu balasan pesan dari Jenar. Namun, yang datang hanya sebuah foto, justru membuat kepalaku panas saat melihat itu. Tanpa berpikir lama, segera aku menelponnya.
“Mau ke mana, sih? Kenapa harus sama dia?” Tanpa basa-basi aku bertanya, begitu Jenar mengangkat telepon.
Aku menggeleng seraya memijat pelipis yang tiba-tiba terasa pening, hanya karena membayangkan Jenar pergi seharian ke tempat-tempat yang disebutkan bersama seorang laki-laki.
“Kenapa kemarin nggak bilang?” aku bertanya dengan nada marah, merasa dicurangi.
[Kenapa saya harus bilang sama bapak? Nggak mungkin bapak ingin ikut, kan? Saya sering ikut rombongan ziarah keliling yang rutin diadakan oleh Mas Faiz dan pengurus rumah seni ini, kok.]
Aku diam, mendengarkan penjelasan panjang Jenar. Kalimat menohok yang ia sampaikan membuatku sadar akan sesuatu. Memang siapa aku hingga Jenar harus memberi tahu setiap kegiatannya? Sikapku terlalu posesif, padahal kami tidak memiliki hubungan khusus.
[Pak Hara mau saya belikan oleh-oleh?]
Aku tersenyum masam mendengar pertanyaan Jenar. Keluguan gadis itu mampu menghalau amarah yang semula hendak meninggi. Meski semua pikiran belum hilang sempurna.
“Nggak, terima kasih.” jawabku singkat.
[Oke, kalau begitu. Udahan dulu, ya, Pak. Sudah mau berangkat, nih.]
__ADS_1
“Ya, hati-hati! Bawa payung buat jaga-jaga kalau nanti hujan.”
[oke! Insyaalloh ....]
Tampilan roomchat terlihat, setelah Jenar mengakhiri panggilan. Kembali kupandangi foto yang ia kirimkan beberapa saat yang lalu, membuat rasa tidak nyaman kembali hadir. Foto yang menampilkan beberapa orang pria, salah satunya adalah Lion. Pria itu nampaknya makin rajin saja mengunjungi Jenar. Aku tidak suka melihatnya berada di antara anak-anak kecil, nampak seperti sedang mengobrol dengan Mas Faiz.
Astaga! Hanya melihat foto yang bahkan tidak ada Jenar di dalamnya saja, bisa membuatku iri. Sepertinya benar, bahwa aku sedang cemburu. Namun, pada siapa dan apa alasanku?
Tiba-tiba berbagai macam pikiran berkelebat dalam benak. Membayangkan Lion melancarkan aksi untuk mendekati Jenar, bisa saja pria itu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Memanfaatkan sisi lemah Jenar demi mengambil peluang.
Aku membuang napas kasar, sembari menutup room chat. Berusaha keras untuk menyingkirkan prasangka tak beralasan yang muncul begitu saja. Seumur hidup baru kali ini, aku merasa khawatir terhadap seseorang secara berlebihan. Tak ayal membuat kepala terasa pusing.
“Kenapa, Mas?”
Aku menoleh ke samping kanan, demi mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Kang Mardi. Rupanya dia sedang mengamatiku. Bisa-bisanya aku lupa, jika sedang berada di mobil bersama tiga orang lain, hanya karena saking terbawa perasaan yang tidak masuk akal.
“Ada masalah, Hara?”
Astaga! Kyai Ali juga memerhatikanku rupanya. Jangan-jangan semua yang ada di mobil ini mencuri dengar pembicaraanku dengan Jenar di telepon tadi.
“Telepon siapa, Mas? Sepertinya ada masalah serius, ya?” Kang Mardi bertanya lagi, padahal aku belum sempat menjawab pertanyaan pertama.
“Tidak ada masalah, kok. Hanya telepon teman,” jawabku sekenanya.
“Pasti teman dekat, ya, Hara? Kamu sepertinya khawatir sekali.” tebakan Bu Nyai tepat sasaran.
Namun, aku tetap mengelak. Sedikit memutar badan untuk memberi jawaban, “Tidak, Bu Nyai. Hanya teman biasa.”
Tentu saja aku tidak ingin ada yang tahu tentang perasaan yang belum jelas ini. Akan kusimpan rapat-rapat, sampai menemukan saat yang tepat untuk mengungkap. Sebab, aku harus meyakinkan diri dulu, tentang perasaan yang masih abu-abu ini. Aku bukan anak kecil, yang gegabah mengambil langkah.
.
.
.
Bersambung....
Teman-teman, maaf, baru sempat up. 😉 Sabtu-minggu banyak acara, ternyata tidak sempat menengok ke sini. Dimaafkan, ya? Iya, dong, pasti. Awas kalau nggak? 😁👌❤
__ADS_1
.
Hara sudah sadar akan perasaannya, nih, teman-teman! Tapi dia masih butuh keyakinan, ya? Bagaimana nanti Jenar kira-kira akan sadar juga tidak kalau sedang ditaksir pria berwajah bapak-bapak tapi ganteng ini. hehe. Next, kita lihat apa yang akan terjadi setelah Hara cemburu karena rindu. 😉