
🍁Cemburu dan cinta adalah dua rasa yang muncul beriringan dan saling berkaitan🍁
Hara.
“Akhir pekan ini cafe akan dibuka,” aku mengalihkan topik pembicaraan, ketika Jenar bercerita tentang masa kecil bersama keluarganya. Bukan tidak suka, aku hanya merasa masa kecilku makin tidak menarik setelah mendengar ceritanya.
Jenar mengangguk, “Tadi Nalini kasih tahu saya tentang itu.”
Aku mengernyit, mungkinkah pembukaan cafe merupakan kabar buruk bagi Jenar.
“Kamu mau datang?” pancingku.
Jenar mengangkat bahu, lalu menjawab singkat, “Belum tahu.”
“Kalau kamu merasa tidak nyaman, tidak perlu datang.” Aku mencoba memberi saran.
“Tidak masalah bagi saya datang ke acara tasyakuran itu, hanya saja belum minta ijin ke ayah. Jadi belum tahu bisa datang atau tidak.” jawab Jenar seraya menghela napas panjang.
Aku paham, Jenar memang selalu minta ijin orang tuanya jika mau melakukan apa pun di luar tugas kuliah. Apalagi acara pembukaan cafe dilaksanakan malam hari, bisa disalahkan kalau dia tidak minta ijin.
“Pak Hara akan datang?” Jenar mengembalikan pertanyaan.
Aku mengangguk, “Ya. Akbar bilang saya harus datang, lagi pula yang mengisi acara Gus Hafidz jadi saya sekalian mengantar. Kalau mau bareng, saya bisa jemput kamu dulu.”
Jenar mengangguk. Aku berharap dia mempertimbangkan niat baikku dan segera meminta ijin kepada ayahnya.
“Besok saya kabari, kalau dapat ijin dari ayah.” jawab Jenar.
Aku mengangguk, mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya. Entah batang ke berapa yang habis kuhisap selama menunggu Jenar salat, lalu makan. Meski lama, tapi tidak terasa jenuh menunggunya. Bahkan ingin berlama-lama melihatnya makan, wajah memerah karena kepedasan menurutku lucu.
Obrolan itu sudah beberapa hari berlalu, tapi masih jelas kuingat dalam benak. Pagi ini aku akan memastikan kembali, dia mau datang atau tidak. Biar nanti sore, aku bisa mengatur waktu menjemputnya, sebelum mengantar Gus Hafidz.
Lama sekali panggilan teleponku tidak diangkat oleh Jenar, sudah dua kali aku mengulang panggilan. Kemarin-kemarin dia cepat mengangkat, mengapa pagi ini tidak? Sedang apa, sih, anak itu?
Setelah hampir frustasi menelponnya berkali-kali, tapi tidak dijawab. Akhirnya dia yang balik menelponku.
“Lagi ngapain, sih? Dari tadi saya telepon tidak diangkat.” cecarku begitu sambungan telepon terhubung.
Namun, bukan jawaban yang kudapatkan, melainkan sapaan dengan nada ceria yang akhir-akhir ini kudapatkan setiap pagi.
“Selamat pagi, Pak Hara? Apa kabar pagi ini?” sapa Jenar.
“Tidak baik! Pagi ini hampir kacau karena kamu nggak angkat telepon saya.” gerutuku.
“Pagi-pagi tidak baik mengomel Pak Hara, kerutan di wajah bapak tambah jelas kalau marah-marah terus.”
Reflek aku meraba kulit wajah dengan telapak tangan. Dari dahi, turun ke pipi, lalu berkaca di jendela. Memang ada kerutan tipis di dahi dan sekitar mata, tapi tidak terlalu kelihatan. Ah! Jenar mengerjaiku, pasti.
“Jangan mengalihkan pembicaraan! Kamu belum jawab pertanyaan saya tadi.” ketusku.
Terdengar tawa kecil. Walau tak terlihat, Jenar pasti sedang menertawakanku di seberang sana.
“Maaf, Pak Hara. Saya sedang di bus tadi, tidak enak sama penumpang lain kalau saya angkat telepon. Lagian takut terlewat turunnya, karena Pak Hara kalau telepon pasti lama.” jawab Jenar menjelaskan, tumben dia jam segini sudah berangkat.
Aku mengerutkan alis, anak ini benar-benar pintar beralasan. Kapan aku menelponnya lama? Setiap pagi tidak lebih dari setengah jam, bukankah itu hanya sebentar?
“Saya sudah bawa bekal makanan sehat, air putih, payung dan sandal. Tidak ada yang lupa, tadi malam Pak Hara juga sudah kirim pesan. Karena pagi ini ada ujian, jadi saya berangkat lebih awal dari biasanya. Begitu, ya, sekilas info dari saya.”
Mendengar kata-kata panjang lebar yang Jenar ucapkan, sudut bibirku reflek terangkat ke atas. Anak itu memang menggemaskan sekali, setiap sikap dan tingkahnya berhasil menyita seluruh perhatianku. Membuatku selalu ingin mengetahui kabarnya, tidak ingin luput walau sehari pun.
“Sudah dulu, ya, Pak. Saya mau masuk kelas.” ucap Jenar membuyarkan anganku yang baru saja berkelana.
“Tunggu!” cegahku, agar Jenar tidak bergegas menutup teleponnya.
“Cuma mau tanya, nanti sore kamu jadi datang ke pembukaan cafe atau tidak?” tanyaku cepat, khawatir Jenar memutus pembicaraan.
__ADS_1
“Ehm …,” gadis itu terdengar ragu menjawab, “Sudah minta ijin ayah, sih.”
“Terus?” kejarku.
“Kata ayah boleh asal sama teman berangkat dan pulangnya. Nah! Saya tidak tahu ada yang mau diajak atau tidak.” lanjut Jenar.
“Ada Nalini di sana, atau kamu juga bisa mengajak Aina,” usulku.
“Saya tidak begitu akrab dengan Nalini, kalau Aina katanya dia ada acara hari ini, jadi nggak bisa ikut.”
“Kesimpulannya, kamu tidak akan datang?” tebakku.
“Belum tahu juga, Pak. Kalau tiba-tiba Aina mau diajak, ya, saya datang.”
“Oke, kalau begitu. Kabari saya kalau kamu mau datang, ya! Biar saya bisa jemput.” tidak tega rasanya membiarkan Jenar berangkat dan pulang sendiri. Walau sebenarnya dia bisa singgah dulu di tempat Aina sepulang kuliah, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus dan cafe.
“Insyaalloh.” jawabnya singkat.
“Kalau saya tidak kasih kabar, berarti tidak jadi datang.” menjadi kalimat penutup yang Jenar ucapkan sebelum sambungan telepon kami benar-benar terputus.
Walau hanya percakapan singkat dan biasa, tapi menelpon Jenar mampu membuat pagiku terasa begitu cerah. Langit biru, hanya sedikit terdapat awan putih, nampak seperti goresan kuas pada lukisan alam nyata. Sinar matahari pagi terasa begitu menyengat, menghapus dingin, menguapkan embun yang menempel pada dedaunan. Sempurnanya pagi ini untuk mengawali hari yang sibuk.
Kupandangi layar ponsel sejenak, nama Jenar tertera di daftar riwayat panggilan teratas. Sudut bibirku kembali terangkat, membayangkan jika setiap hari bisa bercengkerama dengan gadis itu. Pasti menyenangkan mendengarkan dia yang tampak pendiam, tapi suka bercerita. Sepertinya bayanganku terlalu jauh, belum tentu juga Jenar mempunyai perasaan yang sama denganku.
Segera kuputus khayalan dengan menggeleng, lalu berbalik hendak masuk ke rumah. Sudah terlalu lama di teras, kalau tidak segera sarapan, Mbak Nabila pasti mengomel. Jangan sampai pagiku yang indah ini rusak hanya karena omelan Mbak Nabila.
Begitu berbalik badan, betapa terkejutnya aku. Sebab, tiba-tiba Mbak Nabila sudah berdiri tepat di belakangku dengan tangan terlipat di dada.
“Mbak! Bikin saya kaget saja.” ungkapku seraya memegang dada, benar-benar terkejut.
“Habis telepon siapa? Beberapa hari ini tiap pagi kamu teleponan sambil senyum-senyum.” Mbak Nabila rupanya curiga padaku.
“Telepon teman, Mbak.” jawabku jujur.
“Iya, Mbak. Masa depan pekerjaan.” jawabku berkilah, tak ingin Mbak Nabila tahu yang sebenarnya.
“Kayaknya nggak mungkin masalah kerjaan, deh. Auramu beda dengan beberapa hari yang lalu, pasti sedang jatuh cinta. Iya, kan?”
“Mbak Nabila sok tahu, memangnya saya pernah ngobrol di luar masalah kerjaan?” kembali aku berkilah.
“Matamu tidak bisa berbohong, Hara!” Mbak Nabila memang selalu jeli.
“Terserah Mbak saja!” ucapku pasrah, sambil lalu masuk ke rumah. Ada sedikit rasa khawatir. Jika Mbak Nabila tahu perasaanku terhadap Jenar, apa yang akan dia lakukan? Mendukung, atau menentang?
Meja makan yang tidak terlalu besar dengan empat kursi yang mengitarinya, pagi ini tampak penuh dengan hidangan. Hanya menu rumahan biasa, semangkuk sop sayur, tempe goreng tanpa tepung, terong sambal balado, dan ikan asin. Nasi dalam wadah bambu yang masih mengepulkan uap panas dan aroma masakan yang memanjakan indera penciuman, berhasil membuat cacing di perutku protes minta segera diisi.
“Hari ini sibuk, Hara?” Mas Akmal membuka obrolan ketika aku mengambil piring kosong.
Aku mengangguk, “Padat, Mas. Pagi sampai sore di Magelang, lalu ke Yogya menghadiri pembukaan cafe bersama Gus Hafidz. Malamnya mengantar Kyai Ali mengisi pengajian di Bantul. Mungkin menjelang pagi baru pulang, kalau Pak Kyai tidak minta mampir berziarah.”
Mas Akmal terlihat manggut-manggut, ia bicara setelah menelan makanan, “Kalau besok ada acara tidak?”
Aku berpikir sejenak, mengingat-ingat jadwal kegiatan hari minggu esok.
“Sepertinya tidak ada, memangnya kenapa, Mas?” tidak biasanya Mas Akmbal bertanya tentang kesibukanku, mungkin ia sedang butuh sesuatu.
“Begini, Hara …,” Mbak Nabila yang menjawab, bukan Mas Akmal. Kakak perempuanku yang anggun itu telah duduk di hadapanku sambil menangkupkan kedua telapak tangan di atas meja. Aku hanya bisa diam dan menunggu Mbak Nabila melanjutkan kalimatnya.
“Besok adalah jadwal terapinya bapak, tapi saya dan Mas Akmal harus mengantar pesanan. Jadi tidak bisa nganterin bapak, kira-kira kalau mbak minta tolong kamu bagaimana?”
Mbak Nabila ini, masih saja merasa sungkan denganku. Padahal tanpa dia minta pun, jika aku tahu tenagaku dibutuhkan sudah pasti akan membantu.
“Iya, bisa Mbak. Terapinya di mana?” selama ini aku tidak tahu Pak Wawan rutin terapi, memangnya dia sakit apa?
“Dekat dari sini, kok. Nanti mbak berikan alamatnya, tapi harus pagi-pagi sekali, apa kamu tidak keberatan?” Mbak Nabila menjawab sekaligus bertanya.
__ADS_1
Aku menggeleng cepat, “Sama sekali tidak, Mbak. Dari pada saya di rumah saja hari minggu, bosan juga.”
“Beneran nggak ngrepotin, nih? Barang kali kamu mau ke gereja atau holiday ke mana gitu?” Mas Akmal memastikan, dia tidak tahu saja kalau aku sudah lama tidak pergi ke gereja. Setiap minggu pagi justru aku lebih menikmati melihat para santri berlatih memanah di lapangan pesantren, dari pada pergi beribadah.
Tiba-tiba Mbak Nabila juga seperti teringat sesuatu, “Ah, iya! Jangan-jangan tadi kamu teleponan karena besok mau janjian kencan. Aduh! Kalau begitu mbak ngrepotin, dong.” ucap Mbak Nabila dengan wajah bersalah.
“Kencan apa, sih, Mbak. Besok saya tidak ada agenda mau pergi, jadi nggak ngrepotin sama sekali. Saya senang bisa mengantar bapak.” jawabku menyanggah prasangka Mbak Nabila.
“Ya, kalau ada janjian kencan biar sekalian bapak ikut. Bapak, kan, juga jomlo.”
Sontan semua mata tertuju pada Pak Wawan yang bersuara setelah sejak tadi hanya diam. Tawa pun meledak begitu saja, hanya karena sebuah kalimat sepele yang diucapkan dengan mimik wajah datar.
“Bapak mau kencan dengan siapa, kayak masih muda saja.” gerutu Mbak Nabila di sela tawa.
“Ya, barang kali ada ABG yang mau sama kakek-kakek,” jawab Pak Wawan ringan.
“Yang ada bapak bisa jadi obat nyamuknya Hara sama pacarnya.” seloroh Mas Akmal.
“Nggak papa, bapak terima. Alhamdulillah, hidup kakek-kakek ini masih bermanfaat walau hanya sebagai obat nyamuk anaknya pacaran.” sempat tertegun karena Pak Wawan menyebut kata anak. Andai boleh berharap Pak Wawan benar-benar menganggapku sebagai anaknya.
Pak Wawan melanjutkan makan setelah membuat kami semua tertawa. Naufal yang sedang makan di depan televisi pun menoleh, ingin tahu dengan apa yang membuat kami tertawa. Bagaimana aku tidak betah tinggal di sini? Rumah yang kecil, bahkan mau jalan ke belakang saja sering bertabrakan dengan sesama penghuni. Namun, selalu ada suasana hangat kekeluargaan yang tercipta. Candaan receh, gurauan ringan, obrolan akrab, dan makanan yang selalu enak di lidah. Rasanya tidak ingin kehilangan semuanya, setiap detail yang terasa di rumah ini.
***
Sabtu merupakan hari tersibuk sepanjang pekan. Ada banyak hal yang harus kuurus selain pekerjaan renovasi rumah Aneesha yang hampir selesai. Seharian hampir tidak ada waktu untuk istirahat, apalagi bersantai.
Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 19.30 waktu aku memarkirkan mobil di depan cafe. Nampak beberapa kendaraan berjejer rapi sepanjang halaman, menandakan jika di dalam sudah banyak orang. Aku mengecek ponsel sebelum turun dari mobil, tapi nihil. Tidak ada pesan atau panggilan yang kuharapkan.
Beberapa waktu yang lalu aku sempat mengirimkan pesan kepada Jenar, memastikan jika dia mau datang atau tidak ke acara pembukaan cafe ini. Aku sengaja menunggu di rumah Aneesha, agar tidak perlu bolak-balik untuk menjemputnya. Namun, hingga menjelang maghrib dia belum tampak pulang, bahkan tidak memberi kabar sama sekali. Mungkin dia masih ada kelas, jadi belum sempat membaca pesan. Lagi pula, tadi pagi dia sudah bilang, jika tidak memberi kabar berarti tidak jadi datang.
Acara sudah dimulai, ketika kami masuk ke cafe. Tampak orang-orang duduk di atas karpet, mendengarkan seorang pria yang sedang membawakan acara.
“Ada Aina,” gumam Gus Hafidz.
Sontan aku mengikuti arah pandangnya, nampak seorang gadis yang dimaksud duduk tenang di antara beberapa orang. Aku mengernyit. Jika Aina ada di sini, mungkinkah Jenar juga ada? Jenar tadi bilang jika Aina tiba-tiba mau diajak, dia akan datang. Kemungkinan lain, adalah Aina menggantikan Jenar menghadiri undangan.
Kuedarkan pandangan mengelilingi ruangan. Sosok yang sedang kupikirkan tidak nampak sama sekali. Mungkin Aina datang untuk menggantikan Jenar, begitu pikirku.
“Assalamu’alaikum … sudah datang, Gus?” Akbar tergopoh-gopoh menyapa lalu menyalami Gus Hafidz, diikuti semua tamu laki-laki yang langsung berdiri menyambut kedatangan kami.
“Silakan lewat sini, Pak Hara! Duduk sebelah sana saja.” Akbar menunjukkan di mana aku harus duduk, karena sebentar lagi Gus Hafidz akan mengisi acara.
Acara pembukaan cafe ini hanya tasyakuran sederhana. Yang diundang pun tidak banyak, hanya orang-orang yang terlibat langsung dalam prosesnya.
Dari tempatku duduk yang menghadap tamu undangan, bisa kulihat satu per satu wajah siapa saja yang hadir. Beberapa saat kemudian, saat orang-orang menjawab salam yang Gus Hafidz ucapkan, aku melihat seorang gadis datang. Ia mengenakan gamis berwarna pastel dengan jilbab panjang warna senada. Gadis yang sangat kukenal, dan seharian ini kutunggu kabarnya.
Jenar berjalan pelan dari arah belakang tamu, lalu mengambil tempat duduk di sebelah Aina. Aku melihat dua gadis itu saling berbisik, lalu Jenar menatap ke arahku. Senyum yang membentuk cekungan samar di kedua pipinya terukir manis. Senyum sederhana yang begitu menenangkan jiwa.
Hampir saja aku membalas senyumnya, jika tidak memerhatikan siapa yang baru saja datang. Seorang pria yang wajahnya sangat tidak asing. Untuk apa pria itu datang kemari? Untuk beberapa saat aku berpikir, sebuah terkaan pun melintas dalam benak. Dia pasti datang karena mengantar Jenar. Jadi inilah alasan Jenar tidak mengabariku? Karena sudah ada yang mengantar, jadi tidak penting lagi memberi kabar padaku.
Seketika aku merasa menjadi pria paling bodoh, karena berharap Jenar hanya bergantung padaku. Aku lupa, kalau dia juga mempunyai orang lain yang bersedia mengantarnya kemana pun. Mungkin Jenar lebih nyaman ketika diantar pria itu, dari pada saat sedang bersamaku.
Suasana ruangan yang tidak terlalu besar ini mendadak berubah menjadi panas. Gerah bukan karena terlalu banyak orang, tapi hatiku yang merasa diabaikan. Kekhidmatan yang terasa sepanjang mendengarkan ceramah Gus Hafidz, buyar sudah. Rasanya ingin segera beranjak pergi dari tempat ini. Pemandangan di hadapan membuat dadaku sesak saja, seperti kesulitan menghirup oksigen.
Sepertinya aku telah salah mengartikan sikap Jenar. Mungkin sekarang kami telah berada pada batas maksimal toleransi rasa. Sebuah rasa yang kuharap berbalas, tapi kini aku sadar. Jika mencintai seseorang ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Ya, Tuhan! Kenapa perasaan ini harus terbangun megah di dalam hati kalau hanya kecewa yang akan kudapati?
.
.
.
Bersambung....
Maaf, telat up, karena godaan alam bawah sadar. He he ... Selamat membaca dan menerka apa yang sedang terjadi.😊 Sampai jumpa minggu depan. (Semoga tidak meleset lagi.)
__ADS_1