Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
71. 1.Tentang Arah Pandang


__ADS_3

🍁Jangan menyepelekan pandangan. Sebab, apa yang dilihat oleh mata bisa masuk sampai ke hati.🍁


Hara.


“Salat di rumah saja, dari pada kehujanan.” ujarku memberi saran karena melihat Irkham menunjukkan raut wajah khawatir.


Antara ingin beribadah ke masjid, tapi tidak tega meninggalkan Jenar sendirian di rumah. Dia berpikir sebentar, lalu tanpa menjawab, lalu masuk lagi ke rumah. Aku sudah hampir tertawa, kalau saja anak itu tidak kembali dengan tergesa.


“Mlebu, Mas!” (Masuk, Mas!) Aku mengangguk, menjawab tawaran Irkham.


Sebenarnya sudah sejak tadi aku menunggu dipersilakan. Meskipun sudah biasa keluar-masuk rumah ini tanpa ijin, tapi rasanya tidak sopan jika sedang ada yang lebih berwenang.


Aku mengikuti Irkham masuk, lalu menutup pintu di belakang punggung. Ruang tamu lengang, hanya terdengar suara deras hujan menimpa atap.


“Numpang ke toilet boleh, Kham?” tanyaku meminta ijin, sambil melepas kaos yang basah di bagian lengan sampai bahu kiri. Karena tadi berbagi payung dengan Jenar.


Irkham mengangguk sebelum menjawab, “Gek dinggo Jenar.” (Sedang dipakai Jenar.)


Aku paham apa yang dia ucapkan dalam meski dalam bahasa jawa, tapi belum bisa menjawab menggunakan bahasa yang sama. Embusan angin kencang, baju dan celana yang basah karena terkena cipratan air hujan membuat seluruh tubuh terasa dingin. Menyebabkan kandung kemih penuh dan minta segera dikeluarkan isinya.


“Mas Irkham, salat bareng!” Jenar berseru dari dalam rumah.


Aku yang sedang duduk di ruang tamu sambil mengeringkan lengan dengan handuk, sontan menoleh ke arah sumber suara. Tidak terlihat sosok pemilik suara, sebab antara ruang tamu dan ruang tengah dibatasi oleh sintru. Sepintas lalu hanya terdengar lantai kayu berderit karena terinjak, lalu pintu kamar dibuka.


Irkham yang tadi duduk di sebelahku, segera beranjak. Dengan tetap diam, dia meninggalkanku begitu saja. Beberapa detik kemudian suara bercakap-cakap menghampiri telinga.


“Wes wudlu, Mas?” (Sudah wudlu, Mas?)


“Tak tunggu kono, yo?” (Saya menunggu di sana, ya?)


Bisa kutebak, pasti Jenar sedang berbicara dengan Irkham. Namun hanya dijawab dengan mengangguk atau menggeleng saja. Sudah menjadi maklum jika anak itu sukar menjawab pertanyaan dengan kata-kata, karena Irkham tidak punya banyak perbendaharaan kata.


Langkah kaki terdengar menjauh. Itu pasti Jenar dan Irkham meninggalkan ruang tengah menuju mushola kecil yang terletak di ujung ruangan.


Aku bangkit, melangkah melewati ruang tengah, menuju kamar mandi. Sempat aku melihat Jenar masuk ke mushola kecil dekat dengan perpustakaan pribadi. Sementara Irkham sedang mengambil wudlu kran yang bersebelahan dengan kamar mandi.

__ADS_1


Aku bergegas masuk ke kamar mandi, hendak menuntaskan hajat dan mencuci muka. Seharian beraktivitas di luar ruangan membuat kulit wajahku terasa kotor dan berminyak. Badanku pun lengket oleh keringat yang mengering lalu terkena lembab hujan, jadi terasa tidak nyaman.  Perlu kubasuh sedikit dengan air, agar kulitku bisa bernapas.


Suara panggilan ibadah terdengar sangat jelas dan keras, menggema ke seluruh penjuru ruangan. Aku baru saja keluar dari kamar mandi, setelah selesai membuang hajat. Kakiku tiba-tiba terasa kaku, hanya bisa berdiri terpaku menyaksikan hal menarik di hadapan.


Irkham yang tidak banyak bicara, kadang berkata dengan tergagap dan tidak jelas. Kini dia sedang berdiri menghadap ke barat, menyerukan panggilan salat dengan sangat lantang. Dari tempatku berdiri terlihat jelas, Jenar berada di belakang Irkham, sedang merapikan mukena dan bersiap untuk melakukan ibadah.


Selama beberapa jenak, aku tertegun melihat apa yang terpampang tepat di hadapan. Sepasang remaja yang sedang melakukan gerakan salat bersama. Irkham memimpin ibadah, sedangkan Jenar mengikutinya. Mereka terlihat romantis dalam makna yang berbeda.


Aku segera memupus pandangan, menyudahi rasa kagum melihat orang yang sedang beribadah. Harusnya aku langsung pulang, karena sudah tidak ada kepentingan lain lagi di rumah ini. Akan tetapi hati rasanya belum ingin pergi. Rak penyimpanan yang terletak di atas kitchen island, justru menarik perhatian. Toples-toples berisi berbagai jenis kopi, seolah melambai minta disentuh. Tidak ada salahnya minum secangkir kopi dulu sebelum pulang. Di luar masih hujan, pun aku perlu memastikan keadaan Jenar baik-baik saja setelah traumanya kambuh tadi.


Kuambil teko kecil dari lemari kaca, mengisi dengan air lalu meletakkannya di atas kompor. Aku lebih suka membuat kopi dengan air yang baru saja mendidih, dari pada air panas yang sudah tersimpan di dalam thermos atau dispenser. Seduhan kopi terasa lebih nikmat, jika menggunakan air panas yang baru saja matang.


Sambil menunggu air mendidih, kuedarkan pandangan ke sekeliling. Baru sadar kalau rumah ini sepi sekali, tidak ada Mbak Sayumi yang biasanya berberes sambil bernyanyi. Pantas tadi Irkham mengkhawatirkan Jenar yang sendirian di rumah kalau dia pergi ke masjid.


Lamunan terputus, karena ada yang membuka kulkas di belakang punggung. Membuatku reflek menoleh ke belakang, Irkham sudah selesai salat rupanya. Kini dia sedang membungkuk di depan kulkas, mencari sesuatu. Hanya sebentar, lalu menegakkan badan seraya menutup pintu kulkas. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi dari gestur tubuh, bisa kutebak kalau dia tidak menemukan apa yang dicari.


“Cari apa?” tanyaku ingin tahu.


Irkham tidak menjawab, malah mengedarkan pandangan ke segala arah. Aku terus menatapnya dengan dahi berkerut, menunggu dia menjawab pertanyaanku. Namun, Irkham tak kunjung membuka suara sampai Jenar datang menghampiri kami. Gadis itu mengulurkan baju dan celana padaku, pasti karena melihatku bertelanjang dada dan memakai celana setengah basah.


Aku menerima kaos warna biru cerah dan celana hitam yang dia ulurkan. Segera memakai kaos setelah mematikan kompor karena air sudah mendidih, menyampirkan celana pada bahu. Nanti saja aku mengganti celana, kalau sudah selesai membuat kopi. Setelah itu, aku mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi.


“Mbak Sayumi sedang menjenguk putranya di pesantren, jadi hari ini dia tidak datang.” Jenar menjelaskan seraya berputar badan, dia seolah tahu apa yang tadi sempat kupikirkan.


“Tadi pagi saya tidak masak, hanya beli makanan di warung untuk sarapan. Rencananya siang ini mau ke rumah Mbah Uti, sudah ngomong sama Pakdhe Teguh kemarin. Mas Irkham pasti ke sini disuruh Budhe Sari menjemput saya, dia pasti bingung karena saya tidak di rumah juga tidak membawa ponsel,” tutur Jenar.


Lagi-lagi dia memberi penjelasan, padahal aku tidak meminta. Sepertinya dia sedang ingin menyalahkanku karena tidak segera mengantar pulang setelah selesai memesan tegel motif tadi


“Saya baru saja telepon Budhe Sari,” Jenar menutup kalimatnya dengan menatapku sinis sejenak. Benar, kan? Dia ingin menyalahkanku karena telah mengajaknya pergi lama tanpa ijin.


“Mas Irkham sudah makan siang, belum?” tanya Jenar mengalihkan pandangan pada Irkham.


Aku beralih menatap Irkham yang masih berdiri di sebelahku. Pria itu berbalik badan lalu menggeleng.


“Gawe mie wae yo, Mas. Kesuwen nek ndadak ngliwet (bikin mie saja, ya, Mas. Kelamaan kalau menanak nasi dulu),” ujar Jenar seraya mengambil mie instant di rak penyimpanan bahan makanan yang terletak tepat di belakangnya.

__ADS_1


Irkham mengangguk, lalu melangkah menjauh dari depan kulkas. Dia memberi akses kepada Jenar yang hendak mengambil panci.


Aku sedang menuang air panas untuk menyeduh kopi, saat Jenar meletakkan panci ke atas kompor lalu menyalakannya. Dia lantas membuka kulkas guna mengambil sayuran dan telur.


“Pak Hara lapar, tidak? Barang kali mau dibuatkan mie sekalian?” Jenar menoleh sedikit, tapi arah pandangnya bukan ke wajahku, melainkan pada kopi panas yang baru saja kuseduh.


“Kenapa makan mie instant? Bukannya itu tidak sehat?” Bukannya menjawab, aku justru balik bertanya. Pikirku, calon tenaga kesehatan seperti dia akan menghindari makanan instant yang dibuat dengan bahan pengawet dan bumbu yang tidak sehat.


“Semua makanan instant tidak ada yang sehat, Pak. Tapi menahan lapar demi makan makanan sehat, justru bisa menimbulkan penyakit yang lebih parah.” tutur Jenar sarkas.


Aku sedang mengaduk kopi, belum sempat menjawab. Sementara itu Jenar tampak masih ingin melanjutkan kalimat.


“Pak Hara tahu tidak, barang apa yang pertama kali datang di tempat pengungsian korban bencana alam?” aku masih diam, sebab Jenar terlihat akan menjawab pertanyaannya sendiri, “Kebanyakan mie instant yang dikirim lebih dulu, bukan beras, daging, atau sayuran. Kenapa? Karena lebih praktis, juga dalam keadaan darurat tidak penting makanan sehat atau tidak. Sebab mereka tahu, yang paling penting adalah perut terisi, maka otak bisa diajak berpikir, badan pun bisa beraktivitas normal.”


Aku berhenti mengaduk kopi. Satu tanganku bertumpu pada kitchen island, mengubah posisi berdiri menghadap ke samping kiri dengan arah pandang tertuju pada gadis yang menecoros tanpa henti. Jenar ini kenapa? Aku hanya menanyakan dua hal dalam satu kalimat, tapi dia menjawab dengan rentetan kata-kata panjang tanpa jeda.


“Sekarang sedang dalam keadaan darurat karena saya sudah sangat lapar dan hujan deras. Tidak mungkin beli makan di luar, pesan antar pun mungkin tidak ada driver yang standby.” Jenar berkata tanpa menoleh, sebab dia sedang sibuk mencuci sayur dan telur.


“Jadi Pak Hara mau nahan lapar atau makan makanan yang tidak sehat ini?” tanya Jenar dengan mengarahkan sebungkus mie instant warna hijau di hadapanku.


Aku mendengkus sambil mengangkat cangkir, enggan menimpali cerocosnya. Jenar ini sebenarnya ingin menawarkan makan atau tidak suka aku berada di sini? Apa dia keberatan karena aku membuat kopi dan bermaksud menikmatinya sebentar?


 “Terserah kamu saja,” ucapku sambil lalu pergi meninggalkan dapur, sebelum Jenar mengatakan kalimat panjang lagi.


Percuma menanggapi perempuan yang sedang labil, apa pun yang kukatakan pasti akan salah di matanya. Mungkin Jenar masih marah karena kejadian di restorant tadi,  Jadi dia seketus ini padaku. Biarlah! Lebih baik segera kuhabiskan kopi ini, lalu pulang.


.


.


.


Hai, Teman-teman ... Yee! Tebakan kalian salah semua, karena tidak terjadi apa-apa. 😊 Hara cuma pengin minum kopi, Jenar kelaparan, Irkham tidak mau hujan-hujan ke masjid. hehe...


.

__ADS_1


Bab selanjutnya, besok setelah subuh. (Setelah subuh hari berikutnya juga masih terhitung setelah subuh, lho.)😂


__ADS_2