
...🌸Kadang sesuatu yang sepele bagi kita, justeru sangat berharga untuk orang lain.🌸...
Jenar.
Aku tidak tahu pasti mengapa tubuhku merespon rasa takut secara berlebihan. Aku juga tidak tahu secara jelas mengapa aku tidak bisa melupakan rasa takutku ini, justeru berkembang menjadi phobia akut.
Paling parah yang kualami adalah saat aku berdekatan dengan pak Hara kemarin. Bayang-bayang itu muncul dalam benak, memaksaku terlempar ke masa lalu meski sekuat tenaga aku menahannya. Saking parahnya reaksi tubuhku sampai aku tidak bisa mengingat apapun. Aku limbung dan pingsan.
Untuk pertama kalinya aku pingsan karena phobiaku kambuh. Biasanya aku hanya merasa detak jantung yang berkejaran dan napas yang tidak bisa teratur. Tapi kemarin, reaksi tubuhku terlalu berlebihan. Membuat semua orang khawatir akan keadaanku.
Kupikir setelah sadar dari pingsan, tidak ada yang berubah dengan kondisi badanku. Ternyata tidak, tubuhku menjadi lemah, kantuk menyerang tidak bisa dicegah. Sepertinya seluruh tubuhku berunjuk rasa minta diistirahatkan.
Bunda membangunkanku karena waktu subuh hampir terlewat sedangkan aku belum bangun. Kupaksakan bangun hanya untuk salat subuh lalu tidur lagi. Rasanya seluruh badanku seperti habis melakukan perjalanan jauh. Lemah, letih, lesu cenderung malas dan mengantuk.
Aku terbangun lagi ketika matahari sudah meninggi. Suara berderit memilukan yang berasal dari gesekan batang bambu mengusik tidurku. Sinar matahari masuk melalui jendela kamar yang terbuka lebar, menerpa tubuhku yang terbalut selimut tebal.
Aku menggeliat, masih enggan beranjak. Kulihat jam weaker di atas nakas menunjukkan pukul 10.15. Itu artinya aku sudah tidur cukup lama sejak selesai salatp subuh tadi. Tidak biasanya, ada apa dengan tubuhku ini? Mengapa aku malas sekali bangun.
Aku mengambil ponsel, melepas kabel charge kemudian menghidupkannya. Kutunggu sampai ponsel siap digunakan, sambil kutarik selimut untuk menutup tubuhku sampai ke dada. Di luar matahari sudah terang dan panas, tapi aku masih merasakan udara dingin dan lembab di dalam kamar.
Terdengar suara notifikasi pesan masuk beruntun, pantas karena aku mematikan ponsel sejak kemarin. Aku mengabaikan obrolan grup yang sudah mencapai ratusan, kuscrol kebawah daftar pesan masuk untuk mengetahui siapa saja yang mengirim pesan padaku.
Satu nama kontak membuat kedua sudut bibirku tertarik ke atas. Kubuka pesan singkat yang dikirimkan oleh mas Ghufron. Ia mengirimkan beberapa chat sejak kemarin dan belum kubaca semuanya. Juga 18 kali panggilan tak terjawab yang sukses membuat hatiku mencelos.
Baru saja aku hendak membalas pesan mas Ghufron, tapi si empunya nomer sudah memanggil duluan. Buru-buru kuangkat, sebab dia pasti sudah menunggu balasanku sejak kemarin sore.
“Assalamu’alaikum …”
“Wa’alaikum salam ….”
“Ya, Alloh, Nduk. Kemana saja, sih? Dari kemarin nggak bales chat, ditelpon nggak bisa. Bikin khawatir saja.”
“Ngapunten (maaf), Mas. Saya tidur awal tadi malam. Lupa tidak nyalain hp.”
“Mas cari kamu di kampus, lho. Nggak masuk hari ini? Masih di Magelang, ya?”
“Nggih, Mas. Ayah bunda masih di sini, sepertinya saya di sini untuk beberapa hari ke depan. Ada apa, to, Mas? Kok, nyari saya?”
“Haadeeh. Gitu saja pake tanya, to, Nduk? Ya, jelas mas ini kangen sama kamu. Pengen tahu wajah kamu setelah kemarin resmi jadi calon istrinya Ghufron al-ghazali.”
Aku tersenyum. Kututup wajah dengan selimut, padahal aku tahu mas Ghufron tidak mungkin bisa melihat wajahku yang bersemu merah.
“Ganti video call, ya, Nduk? Boleh, kan?”
Aku mengangguk, meski kutahu mas Ghufron tidak bisa melihat apa yang kulakukan. Dengan gerakan cepat aku bangun dari ranjang, mengambil jilbab yang tergantung di dinding. Secepat kilat juga memakainya sebelum menjawab panggilan video dari calon suamiku. Ah! Hanya dengan menyebutnya seperti itu saja, wajahku terasa panas.
“Lho? Masih di kamar, to? Jangan bilang kamu baru bangun tidur!” Suara pertama mas Ghufron saat wajahnya muncul di layar ponsel.
Aku mengangguk, menyembunyikan sebagian wajah di balik selimut. Malu melihat mas Ghufron yang menertawakanku.
“Ya Alloh, aku punya calon istri pemalas rupanya.”
Kubuka selimut, mendesah kesal karena dibilang pemalas, “Eh! Saya bukan pemalas, Mas. Tadi sudah bangun, salat subuh, tapi tidur lagi.”
“Ha ha ha. Jenar … Jenar. Eh! Tunggu! Kamu kelihatan pucet? Kenapa? Sakit, ya? Nggak enak badan?”
“Iya, Mas. Mungkin kemarin lupa badannya nggak dikasih garam, jadi nggak enak.”
Mas Ghufron terbahak sambil menggelengkan kepala, “mancing, nih!”
Aku melepas sebuah senyuman, ingin memberi tahu mas Ghufron kalau aku baik-baik saja.
“Mas lagi dimana? Lagi apa? Sama siapa?”
“Wah! Kamu mulai posesif rupanya. Mana yang harus dijawab, nih?”
__ADS_1
“Semuanya, dong.”
“Dasar kamu! Aku lagi di kantin, nih. Sama temen-temen, lagi ngobrol sambil isi perut.” Mas Ghufron sengaja memindah kamera ponsel agar teman-temannya bisa melihatku.
“Wah! Yang kemarin tunangan, sekarang bolos kuliah. Kecapekan, Non?” Seloroh teman-teman mas Ghufron.
“Takut ditodong kue hantaran kali, makanya dia bolos. Ha ha ha.” ada juga yang hanya melambaikan tangan ke arah ponsel. Membuatku mengu-lum senyum malu.
“Kecapekan beneran sepertinya kamu, ya? Kemarin siapin acara sendiri atau gimana, Nduk? Sampai kelihatan pucet banget gitu.”
“Ini bukan karena acara kemarin, Mas. Tapi-” aku tercekat sulit rasanya mengatakan apa yang terjadi padaku kemarin.
“Biar kutebak, kamu … kambuh?” Suara mas Ghufron memelan sembari matanya bergerak ke kanan dan kiri. Tidak ingin teman-temannya mengetahui apa yang kami bicarakan.
Aku mengangguk tanpa menjawab dan dia sudah paham apa maksud dari anggukan kepalaku. Seketika bahunya luruh, seperti menyesalkan sesuatu. Mungkin karena hanya dia yang tahu apa yang kualami, tapi mas Ghufron tidak bisa membantu.
“Kapan-kapan kita harus bicarakan tentang ini, Nduk. Aku nggak tega lihat kamu tersiksa seperti itu.”
“Nanti saja, ya, Mas. Kalau skripsi mas sudah selesai, banyak yang lebih penting dari hal itu, Mas.”
“Nduk! Jangan terlalu lama ditunda, mas takut makin parah.”
Aku tersenyum dalam diam. Mas Ghufron memang paling bisa mengerti keadaanku. Dia selalu mengkhawatirkanku melebihi orang tuaku sendiri. Kalau aku cerita kemarin aku pingsan, bisa-bisa dia langsung melesat kemari. Lebih baik tidak kuceritakan, aku tidak ingin mengganggu mas Ghufron sedang sangat sibuk dengan skripsi dan kegiatan kampus.
Pagi menjelang siang itu kami berbincang cukup lama. Lewat video call mas Ghufron membuat semangatku kembali. Aku yang sejak pagi enggan beranjak dari ranjang, setelah selesai bertukar pikiran dengannya menjadi ingin mandi dan keluar kamar.
“Jangan lupa salat dhuha, ya!” Begitu pesan mas Ghufron sebelum menutup panggilan video.
Hari beranjak siang, saat aku selesai mandi dan salat dhuha. Baru kusadari keadaan rumah yang sepi seperti tidak berpenghuni. Mbak Sayumi yang biasanya sibuk di dapur atau di tempat cuci pun tidak kudapati.
Aku keluar dari pintu belakang yang terbuka. Merasakan hembusan angin menerpa wajah, mengibarkan ujung jilbab instant yang kupakai. Terik mentari terasa panas menusuk ke dalam pori-pori kulit. Menghalau dingin di tubuhku, mengganti dengan hangat merasuk ke aliaran darahku.
Aku berjalan menyusuri jalan setapak diantara kolam ikan dan taman. Melewati gazebo kecil, rumpun bambu dan pendopo, lurus menuju gazebo yang terletak di tengah kolam ikan besar.
Aku masuk ke dalam gazebo sembari mengucapkan salam agar kakakku yang sedang berkonsentrasi membaca buku tidak terkejut. Merebahkan kepala di pangkuannya yang nyaman, kucium perut kakakku yang sedikit membuncit.
“Assalamu’alaikum ponakan utun? Sehat, ya, kamu di sana.”
“Wa’alaikum salam tante utun pemalas.” Suara kak Neesha dibuat seperti anak kecil, dia menjawab tanpa melepas pandangan dari buku yang sedang ia baca, “anak perawan jam segini baru bangun. Kalah sama ayam, tuh! Jam segini sudah dapat banyak makanan.”
“Kakak lupa, kalau aku perlu tidur 14 jam dalam sehari?”
“Dasar pemalas!”
“Orang-orang kemana, Kak! Sepi banget, nih, rumah. Hampir mirip kuburan.”
“Ayah sama kak Reyfan sedang ke Temanggung, survey tembakau yang siap panen. Kalau bunda sejak pagi ke rumah mbah uti mau ngobrolin acara empat bulanan besok. Mbak sayumi sedang ke pasar, kakak suruh beli cethil, pengen banget.”
Cethil\=cenil. Credit foto by. koleksi pribadi.
“Kakak sendirian di sini dari tadi? Jadi empat bulanan di sini, Kak?” Kak Aneesha mengangguk.
Dia mengulurkan tangan, mengambil sesuatu dari meja di sebelah laptop yang menyala, “ada titipan dari Hara, nih!”
Kuterima kantong plastik berlogo brand baju muslim paling terkenal seantero negeri ini. Kuintip isinya sambil bangun dari pangkuan ternyaman kakak perempuanku, “apa ini?”
“Mana kakak tahu. Hadiah dari Hara kali.”
“Tumben pak Hara kasih hadiah ke aku, memangnya aku ulang tahun?”
“Hara kali yang ulang tahun.”
“Ih! Kakak aneh, mana ada ulang tahun bagi-bagi hadiah. Biasanya juga orang yang ulang tahun yang dikasih hadiah.”
__ADS_1
“Itu, kan, orang biasa, Dek. Kamu tahu sendiri Hara bukan orang biasa, tapi luar biasa.”
Kami berdua tertawa. Bisa-bisanya kak Aneesha mengejek asisten suaminya yang paling kompeten. Kalau tidak ada pak Hara entah bagaimana nasib perusahaan mereka yang sering ditinggal.
Kukeluarkan barang dari dalam plastik, membukanya, “Wah! Jilbab, Kak. Pak Hara kenapa kasih aku jilbab, ya?”
“Nggak tahu! Tanya aja sendiri!”
Kuambil ponsel kak Aneesha yang tergeletak di atas meja. Tanpa meminta ijin kucari nomer kontak pak Hara di sana.
“Kamu mau apa, Dek?” Tanya kak Aneesha menyadari ponselnya kupinjam.
“Telpon pak Hara, bilang makasih.” Tepat saat itu kudengar nada sambung tapi tidak diangkat.
“Percuma kamu telpon, dia sedang nyetirin ayah sama kak Reyfan. Jangan diganggu!”
Kuputuskan untuk mengirim pesan singkat padanya. Aku tahu niat baik pak Hara mengganti jilbabku yang kupakai untuk menutup lukanya kemarin.
[Pak Hara, makasih hadiahnya. Ini untuk ganti jilbab kemarin yang saya pakai buat nutup luka pak Hara, kan? Padahal nggak diganti juga nggak pa-pa.]
[Malah diganti sama yang harganya mahal banget.]
[Betewe makasih banget, semoga Alloh membalas kebaikan pak Hara dengan kebaikan pula. Aamiin.]
[Jenar.]
Tidak peduli dibalas atau tidak. Kuletakkan kembali ponsel kak Aneesha setelah menyentuh tombol 'sent'.
Aku kembali ke posisi semula, merebahkan kepala di pangkuan kak Aneesha.
Tadi pagi bunda bilang mbak Sayumi nggak bisa bersihin noda darah di jilbab warna peachku. Aku tidak masalah, itu hanya jilbab biasa, tidak ada yang spesial. Tidak bisa dibersihkan ya, sudah. Pakai aja buat lap sekalian. Tapi pak Hara malah memberiku jilbab baru untuk mengganti jilbabku itu. Jadi aku harus berterima kasih padanya, bukan?
“Pak Hara baik banget, sih, Kak. Jilbab Jenar yang nggak bisa dicuci diganti sama yang baru, loh. Sudah gitu belinya yang brand ternama, sepuluh kali lipat dari harga jilbabku yang lama.”
“Memangnya berapa harga jilbabmu yang lama? Beli dimana?”
“Beli di Bringharjo, jilbab segiempat rawis jumbo. Seratus ribu dapet tiga.”
Kak Aneesha tertawa sampai bahunya terguncang. Otomatis aku ikut tertawa juga. Bagaimana tidak? Sebab kami tahu jilbab yang dihadiahkan oleh pak Hara untukku adalah jilbab branded ternama. Seharga sepuluh kali lipat dari jilbabku.
Mungkin pak Hara mengira barang-barang yang kupakai adalah barang branded. Padahal hampir semua yang kupakai adalah fashion style dari pasar tradisional seantero Magelang-Jogja. Yang harganya sudah pasti nyungsep, harga rakyat jelata.
Jilbab hadiah dari pak Hara ini menjadi jilbab mahal dan branded pertama yang kumiliki. Kalau disuruh memilih mending aku milih dibelikan jilbab harga standart, biar sisanya bisa buat beli cethil dan kacang bawang kesukaanku. Kadang memang yang sepele bagi kita justeru berharga untuk orang lain.
Aku dan kak Aneesha menghentikan tawa, berganti menikmati pagelaran wayang kulit dari layar laptop. Dalang favorite kami berdua sedang memainkan lakon Antasena Rabi. Cerita penuh makna berhias canda yang membuat kami tenggelam menikmati alur yang dimainkan.
Tak berselang lama, sebuah mobil memasuki pintu gerbang yang terbuka. Mobil jeep warna hijau yang sangat kami kenal, sebab hanya orang-orang tertentu yang datang lewat pagar belakang. Orang itu bisa dipastikan sudah sangat akrab dengan kami. Ah! Sebentar lagi aku harus menghadapi sesuatu yang rumit.
“Sepertinya akan ada keributan, nih!” Ucapan kak Aneesha bersamaan dengan saat aku berangsur dari pangkuan kakakku.
“Kakak!” Kupegang lengan kak Aneesha yang sudah akan beranjak, “di sini saja, jangan pergi!”
Tiba-tiba aku merasa sedang dalam posisi Dewi Jenakawati yang diperebutkan oleh Antasena dan Lesmana. Jenakawati yang dipinang oleh dua pangeran dari dua kerajaan. Menyebabkan perang antara dua kerajaan tidak bisa dihindarkan.
Aku berdo’a dalam hati semoga kisahku tidak seperti Dewi jenakawati, tidak harus ada perang antara dua keluarga. Seiring langkah panjang seorang pria yang baru saja turun dari mobil jeep. Mendekat ke arah kami dengan wajah tidak bersahabat.
Melihat kilata amarah dari gestur tubuhnya saat berjalan, membuatku mempersiapkan diri untuk apapun yang akan terjadi....
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1