Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
21. Sebuah Ketulusan.


__ADS_3

🍁Jika kamu telah menemukan sebuah ketulusan, maka jagalah. Jangan sampai terlepas, bisa jadi kamu tidak akan pernah lagi menemukan ketulusan yang sama.🍁


Hara.


Semilir angin sore membelai tubuh lelahku. Mengusik rambut yang sudah tidak tertata rapi menjadi makin berantakan. Dingin menembus kaos tipis yang kukenakan, menyusup ke dalam pori-pori.


Aku berdiri di sisi mobil yang kuparkir di halaman masjid. Sambil menikmati rokok, kuperhatikan lalu-lalang remaja bersarung dan berpeci di sekitar pintu gerbang sampai pelataran masjid. Senja hampir beranjak, dari pengeras suara masjid aku mendengar suara orang sedang berceramah.


Saat sampai tadi, rumah pak Wawan sepi. Tetangga sebelah rumah bilang, semua penghuninya sedang ke masjid, sedang ada pengajian katanya. Jadi kuputuskan untuk menghampiri ke masjid dan menunggu sampai mereka selesai.


Matahari tenggelam ke peraduan, membiaskan sinar kekuningan yang perlahan mulai menghilang. Berganti dengan pekat malam berhias bulan separuh. Titik-titik sinar kecil mulai bermunculan di langit, pertanda malam merangkak.


Aku menegakkan badan, ketika melihat orang-orang keluar dari masjid. Bak lebah yang keluar dari sarang, mereka berpencar ke segala arah. Gumam-gumam pelan sampai gelak tawa terdengar mewarnai kerumunan.


Seorang anak kecil berdiri terpaku setelah keluar dari masjid dan memakai sandal. Awalnya anak itu bercanda dengan teman-teman sebayanya, tapi setelah melihatku ia terdiam. Mengabaikan ramai anak-anak yang saling tertawa entah menertawakan apa.


Aku melambai untuk memanggilnya. Aku tahu ia memicingkan mata, mungkin tidak percaya akan kehadiranku. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas lalu ia berlari menembus kerumunan. Anak laki-laki menggemaskan itu menghampiriku sembari berteriak.


“Om Hara!”


Aku berjongkok seraya merentangkan kedua tangan. Kutangkap tubuh kecilnya yang menabrakku, kuangkat dan kuayunkan ke udara sampai ia terkekeh.


“Halo jagoan!”


Naufal melingkarkan kedua lengan di leherku, kurasakan haru saat ia memelukku erat. Namun tak berlangsung lama, sebab rasa haruku berubah menjadi tawa ketika Naufal berbisik, “Om! Eskrim e endi?” (Om! Eskrimnya mana?)


Kupanjangkan tangan, untuk mengambil sesuatu di dalam mobil melalui jendela yang terbuka. Kuberikan sebuah kantong plastik berlogo minimarket warna biru kepada Naufal.


“Maaf, ya. Tadi om beli eskrim, tapi om makan sendiri. Om nggak tahu kamu di dalam lama, eskrimnya keburu mencair. Jadi om ganti jajanan saja, ya.”


Meski memanyunkan bibir, tapi Naufal mengangguk sembari melongok isi kantong plastik. Aku berbisik padanya agar ia tidak memberengut, “di dalam mobil masih banyak makanan. Nanti kita beli mobil-mobilan juga."


“Yess!” Seru Naufal seraya mengepalkan tangan.


Banyak pasang mata yang menatapku sambil berbisik-bisik, pasti karena tidak biasa melihat keberadaanku. Dari kejauhan kulihat mbak Nabila sedang berbincang dengan beberapa orang. Setelah melihatku dia segera bersalaman dengan orang-orang itu dan menghampiriku.


“Hara? Dari tadi di sini? Kok, nggak bilang mau datang?”


“Lumayan, Mbak. Tadinya mau bikin kejutan buat bocah ini,” kucubit pelan pipi Naufal sampai dia pura-pura mengaduh, “ternyata rumah kosong, pada di sini semuanya.”


“Iya. Biasa, pengajian rutin. Sebentar, ya. Nunggu bapak sama mas Akmal.”


Aku mengangguk. Kerumunan orang-orang mulai memudar, perlahan halaman masjid menjadi sepi. Hanya ada satu-dua orang yang masih terlihat bercakap-cakap di selasar masjid. Juga anak-anak kecil berlarian, mungkin menunggu orang tua mereka yang belum keluar.


Tidak berselang lama, kulihat mas Akmal dan bapak keluar sambil berbincang bersama dua orang pria. Begitu bapak melihatku, ia tersenyum. Kubalas senyumnya dengan anggukan kepala.


Bapak melambaikan tangan. Paham akan maksud bapak, mbak Nabila mengajakku mendekat. Aku tahu masjid itu tempat suci, sedangkan kakiku meski terbungkus sepatu tapi kotor belum dicuci. Jadi aku berdiri di depan anak tangga, sedangkan mbak Nabila dan Naufal menghampiri bapak.


Mungkin mereka tahu, aku tidak bisa masuk ke serambi masjid. Sehingga mereka yang menghampiriku, mengajakku bersalaman. Bapak mengenalkanku kepada dua pria yang bersamanya. Yang satu bapak memanggilnya dengan sebutan Gus, sedangkan yang satu bapak menyebutnya dengan panggilan pak kyai.


“Iki sopo, to, Wan?” (Ini siapa, ya, Wan?) Tanya pria paruh baya yang usianya terlihat lebih tua dari pada bapak. Gurat keriput dan rambut yang memutih menjadi pertanda pria itu telah melewati banyak kisah hidup.


“Niki Hara!” (Ini Hara) Bapak meraih bahuku, “putranipun Widuri.” (Anaknya Widuri.)


Pak kyai manggut-manggut, mungkin paham tentang kisah hidup pak Wawan dan mama. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, pak kyai menepuk pundakku sebanyak dua kali. Ia berucap pelan tapi terdengar jelas olehku, “Alloh selalu punya cara untuk memberi kebahagiaan kepada umat manusia. Sehat, kan, Le?”


Aku mengangguk, tak urung senyum tipis menghias bibirku. Entah mengapa ucapan pak kyai yang sederhana itu begitu terdengar indah di telinga. Seperti seorang kakek yang sedang bertanya kepada cucunya. Oh ya? Seumur hidup aku tidak perneh merasakan ditanya oleh kakek atau nenek. Aku tidak tahu entah masih punya kakek dan nenek atau tidak.


Aku menunggu bapak dan mas Akmal selesai mengobrol dengan pak kyai. Sambil duduk di anak tangga terakhir, sesekali gus Hafidz mengajakku berbincang walau terkesan kaku karena sepertinya kami sama-sama tidak suka bicara basa-basi.


Dari masjid kami tidak langsung pulang, sebab Naufal minta berkeliling. Anak kecil itu kegirangan naik mobil, sampai tidak mau turun. Mas Akmal juga tidak keberatan, jadi kuturuti saja kemauan Naufal.

__ADS_1


“Muter-muter, Om! Kota-kota ….” Seloroh Naufal sambil mengerjapkan mata penuh harap.


“Sekalian … mumpung Hara bawa mobil. Kita keliling kota Jogja. Hara pasti belum pernah menikmati suasana malam kota Jogja.” Mas Akmal berkelakar, meskipun mendapat tatapan tak setuju dari mbak Nabila.


“Hara baru datang sudah kalian todong jalan-jalan. Hara, kan, pasti capek.” Ucap mbak Nabila.


“Nggak capek, Mbak. Lagian yang nyetir mas Akmal,” jawabku.


Karena aku belum hafal jalanan kota Jogja, jadi kuminta mas Akmal yang menyetir, sedangkan aku duduk di sebelahnya bersama Naufal yang tidak berhenti bicara. Sepanjang jalan ada saja yang ia tanyakan. Dari nama-nama toko, gambar di papan reklame sampai tulisan bergerak di lampu rambu lalu lintas.


Aku hampir terbahak karena Naufal ternganga ketika melihat truk dan bus berukuran sangat besar. Matanya terbelalak kagum seperti baru pertama kali meliahat jalanan yang ramai bermacam-macam kendaraan.


“Wooaahh! Truk transformer!”


“Bus gambar wayang, Buk!”


“Pak! Kae mosok ono truk gowo mobil.” ( Pak ! masa itu ada truk angkut mobil?)


Dan sederet seruan kagum lainnya yang membuat kami para orang dewasa tertawa. Naufal memang seolah punya stock perbendaharaan kalimat yang tidak akan pernah habis. Bersama anak itu, tidak akan pernah ada kata bosan atau sepi, tidak perlu memutar audio mobil juga.


Sebab Naufal tidak akan berhenti bicara kalau tidak sedang makan atau tidur. Lelah bicara dia akan bernyanyi, atau menghitung kendaraan sampai jarinya tidak cukup.


"Om! Rukun islam ono piro?" (Om! Rukun islam ada berapa?)


"Nggak tau."


"Ih! Mosok ora ngerti? Limo." (Masa tidak tahu? Lima.) Naufal menunjuk kelima jarinya, lalu menghitung satu per satu.


"Syahadat, salat, zakat-" bocah itu menjeda kalimat, seperti sedang berpikir, "terus opo, Buk?" (Lalu apa, Buk?)


Bukannya menjawab, tapi mas Akmal dan mbak Nabila malah tertawa. Mas Akmal mengusap kepala Naufal yang tidak tertutup peci.


"Rung apal, we!" (Belum hafal, tuh!) Seloroh mas Akmal.


Seketika semua orang dalam mobil tertawa, termasuk aku. Tapi bukan Naufal kalau lantas berhenti bergumam. Anak itu berpikir dengan keras dua dari lima rukun islam yang belum dia sebutkan. Membuatku ingin mendekap tubuh mungil menggemaskan itu.


Awalnya tidak ada yang menyadari luka di lenganku, sebab aku memakai kaos lengan panjang. Ketika mas Akmal mengajak kami berhenti di lapangan Dengung. Mbak Nabila curiga karena aku sejak tadi menggendong Naufal hanya memakai satu tangan.


“Lengan kirimu kenapa, Hara?” Tanya mbak Nabila. Kami duduk bersama sambil menikmati suasana malam di lapangan Denggung, kabupaten Sleman. Menunggu Naufal yang sedang naik odong-odong.


“Nggak pa-pa, Mbak.” Jawabku singkat. Tanpa sadar sejak tadi aku mengelus lengan kiriku, sebab angin dingin yang berhembus menembus kaosku, menyebabkan nyeri di sekitar lukaku.


“Sejak tadi mbak perhatikan kamu seperti hati-hati banget sama lengan kirimu. Beneran nggak pa-pa?”


Aku mencoba tersenyum, tapi senyumku justru membuat mbak Nabila makin curiga. Tanpa meminta persetujuanku, ia menarik lengan kiriku dan menyibak kaosku.


“Begini kamu bilang nggak pa-pa? Luka kena apa ini, Hara?”


“Nggak pa-pa, kok, Mbak. Hanya luka ringan.” Aku menarik pelan lenganku, secepat kilat kututup kaos sebelum bapak dan mas Akmal mendekat karena ingin tahu.


“Hara?” Mbak Nabila memberi tatapan meminta penjelasan. Seperti biasa aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya, tapi aku tidak ingin membuatnya khawatir.


“Tenang, Mbak. Sudah diobati, kok. Tadi bantu beresin bambu di rumah bos, nggak sengaja kena rantingnya.”


“Pegel nggak? Bengkak nggak?” Mas Akmal tiba-tiba menarik lenganku, memeriksa luka di sepanjang lengan. Ia bahkan sampai harus menyalakan flash pada ponsel karena suasana di sekitar gelap, hanya diterangi cahaya lampu taman yang temaram.


“Sepertinya harus diperiksa dokter ini, bengkak.” Mbak Nabila dan pak Wawan ikut memerhatikan lukaku.


Memang dari tadi terasa linu, nyeri dan gatal. Kukira karena terkena angin dingin, tapi badanku juga merasa seperti orang masuk angin. Kedinginan tapi rasanya panas. Aku tidak tahu kalau itu efek dari luka di lenganku.


“Ayo, kita ke dokter sekarang!”

__ADS_1


Mbak Nabila segera berdiri, mas Akmal membantu bapak untuk berdiri juga. Aku sempat menggeleng tidak setuju, karena menurutku luka itu sudah diobati dan tidak terlalu parah.


“Naufal sedang asyik main, Mbak. Kasihan dia-”


Tapi mas Akmal tidak setuju denganku, “kita tidak tahu lukamu sedalam apa, Hara. Harus segera ke dokter, biar tahu. Perlu dijahit atau tidak, ada sayatan bambu yang tertinggal atau tidak. Bisa infeksi kalau dibiarkan.”


“Akmal benar, kita ke dokter.” Ucapan pak Wawan yang membuat kami semua beranjak.


Aku menggaruk kepalaku yang tentu saja tidak gatal. Menurutku mereka berlebihan, membuat hatiku mencelos dan ingin memeluk mereka tapi kutahan. Padahal aku tidak tega dengan Naufal yang sedang asyik naik odong-odong, terpaksa harus berhenti karena luka di lenganku tidak boleh disepelekan.


Walaupun Naufal sempat ngambek karena dipaksa berhenti naik odong-odong, tapi pelan-pelan dia bisa mengerti. Sebab mbak Nabila memberi penjelasan kepada Naufal sehingga anak kecil itu tidak sampai merengek.


Karena kami tidak punya kenalan dokter yang praktek di sekitar daerah sini, mas Akmal membawaku ke UGD rumah sakit terdekat. Di rumah sakit umum daerah sleman ini aku mendapatkan pertolongan untuk lukaku.


“Ini harus dibersihkan lukanya, karena sudah bengkak, “ ucap tenaga medis yang menanganiku. “Mungkin ada sisa sayatan bambu, jadi harus dibuka. Tanpa dibius bisa tahan tidak? Atau mau dibius lokal?”


“Lakukan saja! Saya bisa tahan.” Jawabku.


Sepanjang lukaku dibuka, dibersihkan sampai darah segar mengalir lagi, untuk memastikan tidak ada bekas sayatan bambu. Aku merasakan sakit luar biasa, tapi masih bisa kutahan. Jangankan hanya sakit karena luka yang sedang dibersihkan. Luka batin karena ditinggal pergi kedua orang tua saja bisa kutanggung seumur hidup. Apa yang kurasakan ini belum ada apa-apanya, maka dari itu masih bisa kutahan walau tanpa suntik bius.


“Sakit, Om? Perih?” Naufal tidak berhenti bertanya padaku, “aku emoh gendong om Hara, mesake tangane iyung.” (Saya tidak mau digendong om Hara, kasihan tangannya sakit.)


Sampai rumah mbak Nabila memaksaku makan padahal aku tidak lapar, lalu memintaku segera minum obat. Semua memberi perhatian kepadaku tidak terkecuali Naufal.


“Om, iseh sakit?” (Om, masih sakit?)


“Tak pijeti yo, Om?” (Kupijit, ya, Om?)


“Om pengen maem opo?” (Om pengin makan apa?)


“Om, bobok wae. Kan, iseh sakit.” (Om, tidur saja. Kan, masih sakit.)


Yang membuatku ingin tertawa sekaligus terharu adalah ketika aku bilang kepada Naufal, bahwa aku tidak mengantuk dan belum ingin tidur. Anak kecil itu sibuk mencari buku cerita. Kemudian dengan lantang membacakan satu cerita kepadaku, dengan terbata karena memang Naufal belum lancar membaca.


“Nabi Isa dilahirkan oleh ibunya yang bernama Siti Maryam ….” Naufal membaca cerita sambil menunjuk gambar.


Tapi belum selesai dia membaca cerita, naufal sudah tertidur. Bukankah aku yang harusnya tidur setelah dibacakan cerita? Kenapa jadi Naufal yang tidur duluan?


Kuraih tubuh kecil Naufal yang tertidur dalam keadaan duduk. Kubawa ia ke dalam kamar, kubaringkan dan kuselimuti dia. Naufal sempat menggeliat tapi tak sampai bangun.


Setelah yakin Naufal benar-benar sudah tidur, aku keluar dari kamar. Kudengar samar-samar suara mbak Nabila dan mas Akmal bersahutan sedang saling membaca kitab sucinya. Entah apa namanya aku tidak tahu, ketika mbak Nabila selesai membaca, mas Akmal melanjutkan.


Pak Wawan sudah tidur sejak tadi sepulang kami dari rumah sakit. Mungkin terlalu lelah setelah beraktivitas sepanjang siang.


Entah mengapa aku tidak merasa mengantuk sama sekali, padahal aku minum obat pereda nyeri tadi. Harusnya obat itu menyebabkan kantuk, tapi mataku justru nyalang belum ingin terpejam.


Kuambil sebatang rokok, menyulutnya untuk menemani sepi. Kupandangi lengan kiriku yang tertutup perban rapi. Nyeri masih terasa walau sudah tidak separah tadi. Hanya karena sayatan ranting bambu, keluarga pak Wawan begitu khawatir dengan keadaanku.


Inikah yang dinamakan ketulusan cinta? Saat memperlakukan seseorang dengan baik tanpa mengharap balasan atau apapun. Pantaskah aku menerima cinta tulus dari mereka? Padahal mama dan papaku telah merusak kebahagiaan mereka di waktu yang lalu.


Tuhan … apakah aku pantas menerima semua kebaikan ini?


Aku menghembuskan asap rokok ke atas, kepulan asap putih itu menguar ke udara, perlahan hilang menyebar ke seluruh sudut ruangan. Kupandangi sebuah buku di atas meja, buku bersampul warna merah dengan gambar menarik itu menggodaku untuk mengambilnya. Buku cerita bergambar milik Naufal. Kubuka secara random, buku berjudul ‘kisah 25 nabi’.


Aku tidak tahu apa yang mendorongku untuk membaca buku itu dari halaman awal hingga halaman akhir. Sedikit aku ingat tentang isi dari alkitabku, tentang perjanjian lama dan perjanjian baru. Ah! Sepertinya apa yang kulakukan ini telah salah ....


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2