Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
102. Mencari jalan-Mu


__ADS_3

🍁Kelembutan hatimu, telah meluluhkanku. Cara bicaramu menentramkan jiwa yang sedang dahaga.🍁


Hara


Aku membaca blurb yang terdapat di bagian belakang sampul sebuah buku berwarna dominan hijau. Judul dan gambar cover yang tertera, cukup menggelitik rasa ingin tahuku. Buku ini sepertinya berisi nasihat dari seorang ulama.


“Pak!” suara panggilan dari belakang punggung, membuyarkan pikiran yang sedang menyelami kata demi kata.


Aku menoleh, mendapati Jenar berdiri dengan wajah panik. Kedua tangannya saling meremas dan kepala celingukan ke kanan-kiri seperti sedang mencari seseorang.


“Saya cari Kak Noura di mana-mana, tapi nggak ketemu. Ditelepon juga nggak nyambung. Bagaimana ini?” ungkapnya panik.


kuamati sepanjang lorong, tak terlihat batang hidung Noura. Kemudian aku berjalan ke ujung, mencari mungkin gadis itu berada di sisi lain yang tak terjangkau penglihatan. Sejauh mata memandang, tidak nampak keberadaan Noura.


“Bukannya tadi dia sama kamu?”


Jenar menggeleng keras, “Saya dari tadi sama bapak, Kak Noura milih buku sendiri. Sekarang tiba-tiba ngilang, kenapa Kak Noura pergi nggak pamit, ya?”


Aku mengernyitkan dahi, pura-pura berpikir. Padahal dalam hati, geli melihat wajah penuh kecemasan Jenar. Gadis itu sangat mudah dikerjai, aku yang tidak punya selera humor pun jadi tergerak selalu ingin iseng.


“Kenapa Noura tiba-tiba pergi? Padahal tadi dia ngotot ingin menemanimu belanja buku.” ujarku dengan menampilkan wajah serius.


“Apa mungkin Kak Noura marah, karena dari tadi saya biarin dia cari buku sendiri? Biasanya saya minta pendapatnya kalau pas belaja buku.” jelas Jenar dengan dahi berkerut dan alis hampir menyatu, nampak seperti orang yang sedang berpikir keras.


“Bisa jadi seperti itu. Kenapa kamu tidak minta pendapatnya tadi? Padahal sudah banyak buku yang kamu ambil.” aku sengaja memancing pernyataannya.


“Ehm …,” Jenar masih menampilkan ekspresi yang sama saat melanjutkan jawaban, “Karena tadi saya sudah minta pendapat bapak, lagi pula Kak Noura sedang asyik mencari buku sendiri.”


“Yakin Noura sibuk cari buku? Setahuku dia tidak suka membaca, tidak suka mengoleksi buku juga. Mungkin dia justru bosan berada di tempat ini lama-lama, sedangkan kamu tidak mengajaknya bicara.” aku memberikan analisa sesuai pemikiranku.


Jenar menutup mulut dengan telapak tangan, matanya melotot. Aku bisa menebak, pasti mulutnya sedang terbuka lebar.


“Astagfirulloh! Bapak benar, saya mengabaikan Kak Noura dari tadi. Dia pasti marah, bagaimana ini?” Wajah Jenar makin terlihat pucat pasi, cemas pasti telah melanda pikirannya.


“Sudah! Tidak apa-apa, paling juga dia sudah pulang.” aku pura-pura berusaha menghibur padahal senang setelah berhasil mengerjainya.


“Kalau Kak Noura pulang duluan, ini siapa yang bayar?” Jenar menunjuk keranjang berisi banyak buku dengan lesu. Ekspresi kecewa yang membuatku iba.


“Aneesha belum transfer uang ke kamu?”


Aneesha selalu mentransfer uang setiap bulan kepada adiknya untuk keperluan membeli buku. Khusus bulan ini dia memang tidak langsung memberikan kepada Jenar, karena sebuah alasan. Aku tahu apa yang membuat Aneesha mengalihkan uang jatah bulanan adiknya itu padaku.


Jenar menggeleng lemah, “Kemarin Kak Neesha bilang bulan ini uang buat beli buku tidak langsung diberikan ke saya. Mungkin Kak Neesha sudah tidak percaya lagi sama saya, sehingga dia khawatir uangnya diselewengkan.”


“Aneesha bilang begitu?” aku bertanya untuk memancing Jenar yang selalu merasa over thinking. Dia menggeleng, lalu aku melanjutkan opini, “Artinya itu hanya asumsi kamu saja. Kecuali ada tindakan yang mencederai kepercayaan kakakmu, baru boleh berasumsi seperti itu. Bisa jadi Aneesha punya alasan lain bulan ini tidak memberikan langsung uang untuk belanja buku padamu.”


“Entahlah, Pak. Saya jadi nggak enak sama Kak Neesha dan Kak Noura.” jawab Jenar setelah mengembuskan napas berat.


“Yang bikin kamu nggak enak soal jatah uang bulanan kamu atau karena Noura pergi tanpa pamit?” tanyaku.


“Keduanya. Saya tidak enak karena mungkin Kak Neesha tidak percaya lagi sama saya, Kak Noura mungkin juga marah karena merasa saya cuekin tadi.” jawab Jenar lemah.


Jawaban yang membuatku tak bisa untuk menahan senyum. Gadis ini sungguh mudah terbawa perasaan, selalu insecure, dan cenderung over thinking. Dr. Halimah bilang, harus ada yang bisa membuat rasa percaya dirinya tumbuh.


“Itu baru pemikiranmu, kan? Coba sekarang kamu tanya Aneesha, apakah dia tidak memberikan jatah bulanan langsung padamu karena tidak percaya. Tanya juga sama Noura, apakah dia pergi karena kamu tidak memerhatikannya?” aku meminta Jenar mengkonfirmasi tentang prasangkanya.


“Tidak berani, Pak. Nanti Kak Neesha tersinggung dan Kak Noura bisa jadi tambah marah.” Selama berbicara denganku, Jenar terus menunduk.


“Kalau saya yang tanya bagaimana?”


Jenar mendongak, kemudian menggeleng cepat, “Jangan nanti saya dikira mengadu ke bapak.”


“Kamu ini aneh! Tidak ingin cari tahu, tapi sibuk menerka-nerka, nggak lelah itu pikiran dan hati?” aku bersungut-sungut. Jenar memang perlu dinasehati.


“Ya, sudah! Sekarang kamu maunya bagaimana?” aku menunggu, karena Jenar tampak sedang berpikir.


“Beli buku secukupnya uang yang saya bawa saja, besok kalau Kak Neesha sudah kasih uang, baru beli lagi.” jawab Jenar setelah beberapa saat terdiam, lalu kembali pada tundukan.


“Saya bayarin dulu bagaimana? Dari pada buku-bukunya dikembalikan ke rak, lagi pula menghemat waktu biar besok tidak belanja lagi.” usulku.


Jenar menggeleng, “Saya tidak mau merepotkan bapak lagi. Sudah cukup sering saya menyusahkan Pak Hara.”


Dasar gadis jawa tulen yang lugu, selalu mengedepankan rasa tidak enak hati. Tak tega juga membiarkannya berkubang dalam praduga dan rasa bersalah. Kuputuskan untuk berhenti mengerjainya.


“Kalau ternyata Aneesha sudah menitipkan uang jatah bulanan kamu padaku, bagaimana?” aku harus menunggu beberapa saat, sampai Jenar bisa mencerna kalimat.


Gadis itu mendongak, dengan mata terbelalak. Ekspresi terkejut setelah berhasil menelaah kalimat, yang membuatku geli.


“Sungguh?” tanya Jenar yang kubalas dengan anggukan.

__ADS_1


“Jadi saya tidak perlu mengembalikan semua buku ini ke rak, dong? Saya juga tidak perlu nunggu Kak Neesha transfer uang ke saya?” dia masih tidak percaya rupanya.


Aku mengangguk, “Bahkan kamu masih bisa menambahkan beberapa buku lagi.”


“Alhamdulillah!” Jenar berseru sembari menangkupkan kedua telapak tangan di wajah. Wajah yang semula sendu, berubah berseri seketika.


“Hampir saja saya-” aku mengernyit, menunggunya menyelesaikan kalimat yang menggantung. Jenar tampak berpikir, sebelum bertanya, “Terus Kak Noura bagaimana? Apakah saya perlu minta maaf sama dia?”


Aku menggeleng, “Noura tidak marah, kamu saja yang over thinking!”


“Pak Hara, kok, bisa bilang begitu?” binar keceriaan hilang dari wajah Jenar, berganti dengan sorot mata menyelidik.


“Karena tadi dia sudah bilang sama saya, terpaksa harus pulang duluan, karena ada urusan mendadak.” jawabku menjelaskan.


Embusan napas penuh kelegaan terdengar dari hidung Jenar, “Alhamdulillah!” dia lalu menatapku, “Jadi saya tidak perlu minta maaf sama Kak Noura, ya, Pak?”


Aku mengangguk, “Iya, tidak perlu menduga bahwa kakakmu tidak percaya padamu juga. Karena semua itu tidak benar! Lain kali kalau ada masalah seperti ini, cobalah untuk tidak insecure, meskipun ada yang memancingmu. Kamu bisa bertanya langsung pada orangnya, dari pada berprasangka yang tidak jelas juntrungannya.”


Aku melihat lengkung lebar di bibir Jenar yang membentuk lekukan samar di kedua pipinya. Seketika aku terpaku, senyum itu sungguh meneduhkan. Namun, hanya sejenak senyum itu pudar. berganti dengan sorot mata tajam yang menatapku dalam.


"Jadi Pak Hara sudah tahu dari tadi bahwa uang untuk belanja buku tidak ditransfer langsung ke saya sama Kak Neesha?"


Aku mengangguk menjawab pertanyaan Jenar, Sejak tiga hari yang lalu Aneesha menitipkan jatah bulanan kamu ke saya."


"Pak Hara juga tahu, jika Kak Noura pulang duluan tapi tidak memberi tahu saya? Lalu membiarkan saya bingung dan mencarinya ke mana-mana?" selidik Jenar.


Aku mengangguk, paham akan arah tuduhannya. Wajah Jenar yang memerah, dengan pandangan mata tajam, membuatku gemas.


"Pak Hara ngerjain saya, ya?" sungutnya sembari mengerucutkan bibir.


Aku tidak bisa menahan tawa. Apalagi ketika mendengar gadis itu menggerutu dengan suara pelan.


“Untung hpnya Kak Noura tidak aktif, kalau tadi dia angkat telepon, saya pasti malu karena sudah menaruh prasangka yang tidak-tidak.” ucap Jenar.


“Makanya dikurangin, tuh, suka berprasangka pada orang lain. Apa sebutannya?” tanyaku.


“Su’udzon, Pak.” jawab Jenar.


“Nah! Jangan suka su’udzon sama orang.” aku menasehati.


Jenar makin cemberut, antara kesal karena berhasil dikerjai dan keberatan dinasehati. Desiran halus pun terasa di dalam sana, seperti mengantarkan arus hangat tak kentara. Aku pun tersenyum menatap wajahnya yang lucu ketika sedang kesal.


“Tapi tidak harus berlebihan juga, kan?” sanggahku, lalu berkata spontan, "Kamu kalau sedang cemberut tambah manis."


jenar yang sedang membungkuk membungkuk, hendak mengambil keranjang berisi penuh buku, bergeming. Aku segera mengambil alih keranjang itu, karena ia tampak kewalahan mengangkat. Bagiku tidak sulit membawa dua keranjang, walau isinya berat sekali pun. Dari ekor mata kulihat Jenar makin menunduk, sehingga aku tidak tahu air mukanya yang tersembunyi.


“Berat, kan, Pak?” tanyanya lirih.


Aku menggeleng, menjawab pertanyaan Jenar, “Masih berat gendong kamu.”


Jenar mendongak, beberapa saat terpaku menatapku lalu membuang wajah. Aku membaca kecanggungannya, mungkin tidak suka keteledoran tertidur pulas diungkit. Segera kualihkan topik, agar suasana tidak semakin membeku. Tak pelak, rasa canggung pun menjalar perasaanku.


“Masih ada buku yang mau dibeli?” tanyaku setelah berdehem untuk menetralkan suara.


Jenar mengangguk cepat. Kemudian kami berjalan santai menyusuri lorong di antara rak. Beberapa kali Jenar berhenti jika melihat buku yang menarik. Aku melanjutkan membaca blurb buku berjudul ‘Pesan Cinta Mbah Moen’. Ingatanku terbang pada sosok penuh kharisma yang fotonya terpajang di dinding ruang tamu pesantren Al-Hidayah.


“Pak Hara mau beli itu?” pertanyaan dari samping kanan membuatku menoleh, lalu mengangguk.


“Sepertinya menarik,” jawabku singkat.


“Apa yang membuat Pak Hara tertarik? Padahal belum baca isinya.” Jenar melongok ke arah buku yang sedang kupegang.


“Saya pernah melihat Kyai ini berpose bersama Kyai Ali, fotonya terpajang di ruang tamu pesantren. Apakah beliau ulama terkenal?”


Jenar mengangguk, “K.H Maimoen Zubair, atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Moen adalah seorang ulama besar. Namanya terkenal, bukan hanya di Indonesia, tapi juga sampai ke luar negeri. Beliau banyak memotivasi umat melalui nasehat bijak yang sederhana tapi mengena.”


Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Jenar, makin penasaran pada isi buku yang masih bersegel ini.


“Ehm …,” Jenar bergumam pelan. Aku segera meletakkan buku di keranjang, lalu fokus memerhatikannya. Sebab, tampaknya gadis itu ingin bicara.


“Apakah Pak Hara sedang belajar islam?” tanya Jenar sambil melirik isi keranjangku.


Aku tersenyum, menjawab pertanyaan yang sudah berkali-kali menghampiri dari beberapa orang. “Iya. Kenapa? Aneh, ya?” Aku bisa melihat raut sungkan pada wajah Jenar. Gadis itu pasti merasa tidak enak, telah menanyakan ranah personal padaku.


“Sejak tinggal di rumah Pak Wawan, ada banyak hal yang membuatku tertarik mempelajari agama kalian.” jelasku.


“Pak Hara tertarik pada agama kami? Bagian mana yang membuat bapak tertarik? Padahal banyak umat beragama lain yang menyebut kami *******, menganggap islam adalah agama yang anarkis hanya karena ulah segelintir orang. Belum lagi ada yang bilang, ibadah kami tidak bisa dilogika.” Jenar menyangsikan perkataanku.


Aku tertawa kecil, “Teroris dan anarkis, saya tahu kenapa ada yang menyebut islam seperti itu. Kalau ibadah tanpa logika itu bagaimana? Coba jelaskan!” Ternyata Jenar adalah partner yang asyik diajak diskusi. Membicarakan hal sensitif seperti ini pun jadi tidak terasa berat dan terbawa perasaan.

__ADS_1


“Itu soal wudlu. Pak Hara tahu apa saja yang membatalkan wudlu?” Jenar bertanya sebelum mulai penjelasan.


Aku berpikir sejenak, ingat saat menggenggam tangan Jenar dan dia mengatakan wudlunya batal. “Pegangan tangan dengan lawan jenis.” jawabku.


Jenar mengangguk, “Salah satunya itu, tapi ada yang lain. Yaitu buang air besar, kecil dan angin. Nah! Ada yang bilang aneh, karena kami berwudlu setelah buang air atau angin. Memang tidak bisa dipikir secara logika … ketika buang angin lewat *****, lalu yang dibasuh wajah, tangan dan kaki.”


Aku mengernyit, mencerna kalimat yang Jenar ucapkan, berusaha memasukkan ke dalam nalar. Namun sulit, aku tidak bisa menemukan pemahaman tentang hal itu.


“Memang aneh, sih. Kamu tahu mengapa perlu berwudlu setelah buang angin?” Dari pada memikirkan sesuatu di luar jangkauan nalar, lebih baik aku bertanya, Jenar pasti lebih tahu alasannya.


“Pak Hara juga mikirnya pasti kenapa tidak bagian pantat yang dibersihkan, iya, kan?” Aku mengangguk. Kemudian Jenar melanjutkan penjelasan, “Karena esensinya, wudlu itu untuk menyucikan hati dan jiwa bukan badan. Mulut disuruh kumur-kumur, agar kita mampu bicara yang baik-baik, telinga dibasuh agar mendengar perkataan baik, mata juga agar tidak melihat yang jorok, begitu terus sampai ke kaki. Karena membersihkan kotoran dari kain atau tubuh itu mudah, tinggal dicuci hilang sudah. Namun, membersihkan hati dan jiwa dari kesombongan, keangkuhan dan kecongkakan itu yang susah.”*


Aku mengangguk paham, penjelasan Jenar mudah dicerna. Tanpa menggurui dan sok menceramahi.


“Jadi dengan wudlu, diharapkan semua sifat jelek itu melebur, bagitu?” aku mencoba menarik kesimpulan dari penjelasan Jenar.


Gadis itu mengangguk, “Biasanya kami wudlu ketika akan melaksanakan salat atau mengaji, jadi harus dalam keadaan yang benar-benar suci, tidak ada kesombongan saat menghadap ilahi.”


“Apa saja yang membatalkan wudlu, selain yang kamu sebutkan tadi?” aku jadi ingin tahu banyak tentang bersuci dalam ajaran islam.


“Muntah, hilang kesadaran, keluarnya darah dan nanah, menyentuh ********, tertawa keras, makan daging unta, memandikan mayat, ragu saat berwudlu dan hal lain yang mengharuskan untuk mandi. Selain tadi yang sudah saya sebutkan, keluarnya hadas dari ******** dan bersentuhan dengan yang bukan mahrom.”


Penjelasan Jenar justru membuatku harus akan ilmu baru ini, “Jadi makan juga bisa membatalkan puasa? Lalu hal yang mengharuskan untuk mandi itu maksudnya bagaimana?”


Aku melihat lengkung tipis di bibir Jenar, senyum manis yang menenangkan jiwa.


“Saya jawab yang pertama dulu, ya, Pak. Sebetulkan makan ketika sudah berwudlu akan meninggalkan kotoran di mulut, hal ini bisa dihilangkan dengan minum air putih. Namun, jika yang dimakan adalah daging unta maka wajib mengulang wudlu. Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadist riwayat Imam Ahmad, ‘Berwudlu karena makan daging unta dan kamu tidak diminta berwudlu karena makan daging kambing’. Seperti itu, Pak.”


Aku manggut-manggut. Jenar lalu melanjutkan pembahasan yang sepertinya akan panjang ini, “Untuk pertanyaan kedua, hal yang membatalkan wudlu karena kewajiban untuk melakukan mandi. Misalnya setelah berjima’, keluar air mani secara tidak sengaja atau sengaja, dan orang kafir yang masuk islam.” Jenar menunduk setelah menyelesaikan kalimat. Hanya satu kata yang belum kupahami dari penjelasannya.


“Kamu bilang berjima’ bisa membatalkan wudlu karena harus mandi. Jima’ itu apa?” tanyaku serius, karena baru kali ini mendengar kosa kata seperti dalam bahasa arab itu.


“Ehm …,” Jenar tidak segera menjawab, justru khusyuk dalam tundukan. Setelah beberapa saat, baru ia menjawab lirih, “Jima’ itu berhubungan suami-istri, Pak.”


Mulutku otomatis membentuk huruf ‘O’ tanpa suara. Sepertinya Jenar malu menjelaskan kata-kata yang mungkin tabu di kalangan gadis lugu seperti dia ini. Namun, aku belum puas mengorek informasi.


“Jadi setelah berhubungan suami-istri wajib melakukan wudlu?”


Jenar mengangguk, lalu menjawab lirih, “Wajib mandi juga, Pak.”


“Oya, tadi kamu bilang bersentuhan dengan yang bukan mahrom juga membatalkan wudlu. Mahrom itu apa?” mumpung ada yang diajak diskusi, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan menanyakan kata-kata asing yang baru kuketahui.


“Mahrom itu orang yang haram dinikah, jadi bukan mahrom artinya orang yang halal dinikah.”


Sekali lagi mulutku membentuk huruf O tanpa suara, dahaga akan ilmu baruku makin terasa. Jenar bukan hanya gadis berhati lembut, tapi pandai menjelaskan tanpa membuat orang lain tersudut.


“Jadi mahrom itu artinya orang yang tidak boleh dinikahi, Pak.” Jenar mengulang penjelasan dengan kalimat sederhana.


“Misalnya siapa saja yang tidak boleh dinikahi?”


Jenar mengangkat telunjuk, lalu menunjuk hidungnya sendiri, “Misalnya yang jadi contoh saya, nih. Saudara kandung, satu ibu-satu ayah, satu ibu saja atau satu ayah saja, saudara sepersusuan, keponakan baik berasal dari saudara laki-laki atau perempuan. Saudara laki-laki ayah maupun ibu, ayah tiri, anak tiri, ayah mertua, menantu laki-laki. Sepupu bisa juga menjadi mahrom kalau ada hubungan nasab atau sepersusuan. Seperti saya dan Mas Irkham, mahrom karena dulu budhe Sari menyusui Kak Nessha.”


“Jadi kalau misalnya kamu bersentuhan dengan mereka, maka tidak membatalkan wudlu?” kesimpulan yang bisa kuambil dari penjelasan Jenar.


“Betul sekali, Pak. Saya bisa berjabat tangan dengan mereka tanpa khawatir membatalkan wudlu. Sebab, mereka adalah mahrom saya.”


Aku manggut-manggut. Sambil mengobrol ringan, kami lanjut menyusuri lorong lain, koleksi buku bertema dongeng anak-anak berjejer rapi di rak, membuat lapar mata yang melihat.


“Pantas waktu saya pegang tangan kamu tempo hari, kamu langsung marah. Karena harus wudlu lagi, ya?” aku mengingatkan pada peristiwa beberapa hari yang lalu.


“Nah! Gara-gara Pak Hara waktu itu saya jadi ketinggalan membaca satu juz selama perjalanan ke kampus.” gerutu Jenar. Walau begitu, ia pun menambah penjelasan, “Kalau kita bersentuhan, wudlu saya batal. Karena kita bukan mahrom.”


“Oh, jadi kita boleh nikah, dong?” Jenar menghentikan langkah, berbalik badan menatapku dengan sorot tajamnya. Aku merasa tidak salah ucap, kenapa dia tampak tersinggung?


“Katanya kita bukan mahrom, jadi boleh meni-” Aku menggantungkan kalimat setelah menyadari sesuatu. Aku segera meralat ucapan, “Maaf, maksud saya hanya ingin menekankan bahwa bukan mahrom artinya boleh dinikah.”


Jenar mengulas senyum tipis, lalu membuang wajah. Kecanggungan merajai suasana di antara kami lagi, diam pun menjadi pilihan terbaik untuk meredam segala rasa dalam hati. Deretan rak yang memajang buku dengan berbagai judul menjadi latar belakang keheningan, kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Misiku kali ini bukan hanya untuk mencari buku, tapi juga mencari ketenangan hati pada sebuah keyakinan yang masih gamang.


.


.


.


Bersambung....


Bab ini reviewnya lama nggak tahu kenapa, mungkin karena ada pembahasan agama. Sudah saya edit berkali-kali tetap saja lama. Semoga tidak ditunggu,ya. hehe. Selamat membaca.


*Diambil dari kutipan yang disampaikan oleh MH Ainun Najib.

__ADS_1


__ADS_2