Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
99. Bukan Saingan


__ADS_3

...🌵Tidak setiap perasaan harus diungkapkan melalui kata-kata, melainkan bisa berdasarkan tindakan nyata.🌵...


Hara duduk di tepi pendopo sambil merokok. Pandangannya mengarah ke musola kecil di sisi kirinya. Nampak orang-orang sedang melaksanakan salat berjama’ah. Tak pelak, ada rasa yang hadir dalam hati, menjalar, berkelindan. Kedamaian yang merasuk bersama dengan embusan angin pelan menerpa tubuhnya. Manakala melihat gerakan salat yang dilakukan secara bersamaan dalam aba-aba seorang imam.


Ia membuang napas, asap putih pun mengepul di udara. Berusaha menghalau sesak dalam dada yang masih setia hadir, setiap kali melihat jama’ah saling bersalaman setelah salat. Sesuatu yang hampir tidak pernah ia lakukan saat beribadah. Bahkan ia kadang tidak bertegur sapa dengan orang yang berdiri di sampingnya ketika berdo’a di depan altar.


“Copotke, Om!” seru Naufal yang telah berada di hadapannya. Hara segera menyelipkan ujung rokok di mulut, lalu memenuhi permintaan Naufal.


Beberapa saat kemudian, tampak orang-orang keluar dari musola. Mereka saling bercakap-cakap dengan wajah berseri, aura bercahaya yang terpancar setelah mengecharge iman. Hara hanya melirik sekilas, enggan menatap pemandangan yang terlalu indah di hadapannya itu. Sekuat tenaga menghalau rasa iri yang justru makin membelukar.


“Arep dijak bapak e Arkaan mancing,” ucap Naufal ketika Hara sedang melipat sarung. Dengan senyum merekah anak kecil itu mengatakan hendak diajak memancing oleh Faiz.


Hara menggeleng seraya mengambil rokok dari mulut dengan cara menjepitnya menggunakan telunjuk dan jari tengah.


“Kita mau pulang.” Hara menyisir rambut Naufal menggunakan jemari, lalu beranjak seraya memberikan sarung, “Kembalikan ke Arkaan!”


Seketika binar ceria di wajah Naufal pudar, senyum yang baru saja merekah pun layu sudah. Angan tentang keseruan memancing ikan yang baru saja terbayang, sirna. Anak laki-laki itu hanya bisa menunduk lesu, tanpa berani menyanggah.


Hara bisa membaca raut kecewa di wajah keponakannya. Namun, ia pun tak ingin membiarkan cemburu makin menjadi jika terus berada di sana. Cukup sudah hatinya terbakar dengan melihat Jenar beribadah bersama Lion, sesuatu yang tidak mungkin bisa ia lakukan.


Ia mengarahkan dagu ke arah orang-orang yang sedang mendekat ke pendopo. Tanda bahwa Naufal harus segera mematuhi perintahnya. Ia beranjak, bersamaan dengan Naufal menyerahkan sarung kepada Arkaan.


“Maturnuwun,” Naufal mengucapkan terima kasih telah dipinjami sarung untuk salat.


Hara merangkul Naufal, “Salim sama semuanya, pamitan!” perintahnya.


Naufal menurut, mengambil satu per satu tangan orang dewasa kemudian menciumnya. Menimbulkan tanda tanya pada Faiz dan Nanda, mengapa tiba-tiba Hara mengajak Naufal pulang.


“Kok, pulang? Nggak jadi mancing, nih?” tanya Faiz. Ia melihat wajah Naufal yang berubah murung, tersirat kekecewaan.


“Maaf, kami harus pulang.” jawab Hara singkat.


“Kenapa buru-buru? Naufal bahkan belum jadi main sama Arkaan, karena tadi salat dulu.” Faiz menerka telah terjadi sesuatu, melihat air muka Hara tampak keruh, meski tetap berekspresi datar seperti biasanya.


“Sudah siang, Mas. Naufal juga sudah capek main dari tadi.”


Setelah memanfaatkan Naufal sebagai alasan berkunjung, kini Hara juga menggunakan anak itu agar bisa cepat pamit. Menyingkir dari keakraban Lion dengan semua orang lebih baik, agar ia bisa meredam emosi.


“Saya sudah masak, apa tidak sebaiknya kalian makan siang dulu sebelum pulang?” Nanda menahan kepergian Hara, sebab tadi belum sempat menjamu sebagai tamu.


Jenar yang sejak tadi hanya diam, tergerak untuk ikut menahan kepergian Hara. Ia cukup peka untuk bisa membaca tujuan pria itu datang adalah untuk menemuinya. Tak ingin membiarkan Hara pergi, saat mereka belum sempat bertegur sapa.


Jenar menahan Naufal yang hendak mencium tangannya, “Naufal nggak pengin mancing ikan?”


Naufal menoleh ke arah Hara sejenak, mengangguk lalu menggeleng. Sontan membuat Jenar tersenyum melihat respons anak itu. Ia lalu merangkul bahu Naufal.


“Kenapa buru-buru pulang? Apa Pak Hara ada urusan lain?” tanya Jenar, ia bisa merasakan sikap Hara yang berbeda.


Seminggu ini Hara selalu bersikap ramah saat berkirim pesan atau menelpon. Hanya ada dua kemungkinan atas sikap ketus Hara yang ditampilkan saat ini. Ada perilaku Jenar yang membuatnya marah, atau pria itu memang ingin menunjukkan sikap ketus di depan orang banyak.


“Padahal saya sudah beli makanan istimewa, lho.” ucap Jenar bernada kecewa, karena Hara tidak menjawab pertanyaannya.


Pernyataan yang berhasil membuat Hara penasaraan dan bertanya, “Makanan istimewa? Apa itu?”


“Pak Hara pasti belum pernah mencobanya, mari kita lihat! Apakah Pak Hara dan Naufal bisa memakannya atau tidak.” Jenar membimbing Naufal berjalan naik ke pendopo.


Meninggalkan Hara yang hanya bisa mendengkus karena gagal menghindar. Sekarang ia harus mencari cara agar emosinya tidak memuncak, jika nanti harus melihat Lion mencari perhatian Jenar.


Faiz merangkul Hara, “Tidak baik menolak tawaran tuan rumah.”


lima menit kemudian, semua orang telah duduk berkeliling di atas tikar yang terbentang menutup lantai pendopo. Para pelatih sangar seni, berkelompok di bagian kanan bersama Faiz. Sementara Lion dan Hara duduk berseberangan dengan mereka di sebelah kiri. Arkaan dan Naufal berada di ujung tikar, sedang memasang kail pada tali pancing bersama Irkham. Mereka tampak girang hendak memancing.


Jenar dan Nanda membagikan makanan yang dibungkus dengan kertas warna coklat. Diletakkan di atas piring, agar isinya tidak tumpah waktu dibuka. Mereka juga membagikan jus yang dikemas dalam cup plastik, lalu mempersilakan semuanya menikmati jamuan.


Nanda menghampiri anak-anak yang sedang memasang kail sambil berseru, "Makan dulu, biar kuat tarik pancingnya kalau dapat ikan besar!"


Perempuan berusia awal 30an itu menepuk bahu Irkham pelan. Tanda agar adiknya menghentikan aktivitas karena makanan sudah tersedia. Ia lalu membantu Naufal dan Arkaan membuka bungkus makanan, agar jangan sampai ada isi stapler yang masuk ke dalam makanan.


Sementara itu, Jenar memilih tempat di hadapan Hara dan Lion yang duduk bersisian tapi tidak saling bicara. Ia memberikan piring berisi nasi, sayur dan lauk kepada Lion. Tindakan yang membuat Hara melirik kesal, karena merasa Jenar memperlakukan Lion secara spesial.


"Kenapa makanan punya dia berbeda?" Hara tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


"Kak Lion tidak bisa makan ini," jawab Jenar seraya menunjuk bungkusan di depannya.


Hara kian tak mengerti. Makanan seperti apa yang terdapat dalam bungkusan sehingga Lion tidak bisa memakannya.


"Maklum, Pak. Lidah saya terbiasa merasakan makanan mewah, jadi nggak bisa sembarang makan." ujar Lion bernada mengejek.


"Kak Lion tahu, makanan seperti ini, yang menurut kakak sembarangan. Justru bisa jadi makanan mewah untuk orang yang suka tapi tidak bisa sering mencicipi." geram Jenar mendengar penuuran Lion yang seperti mengejek makanan.

__ADS_1


Hara menimpali ucapan Lion, "Dalam agama saya diajarkan untuk tidak mencela makanan. Apa pun yang terhidang, adalah berkat dari Tuhan."


"Pak Hara benar. Di agama kami juga ada ajaran untuk mensyukuri setiap makanan yang tersaji. Kalau tidak suka tinggalkan, tidak usah dimakan, tapi jangan mencela." Imbuh Jenar.


Hara menarik sedikit sudut bibirnya ke atas. Ada rasa menelusup kalbu, manakala melihat Jenar bicara sambil menunduk, tapi dengan nada suara sedikit meninggi. Ekspresi saat gadis itu sedang kesal, tapi tidak ingin melampiaskan.


"Jadi makanan istimewa apa yang kamu maksud?" Hara bertanya pelan dengan sedikit memajukan badan.


“Coba Pak Hara buka saja bungkusannnya, nanti juga tahu.” jawab Jenar disertai senyum usil, yang terlihat walau ia tidak menatap lawan bicaranya.


Hara menurut, membuka bungkusan makanan sambil melirik Jenar yang juga melakukan hal sama.


“Apa ini?” dahi Hara berkerut dalam, saat melihat isi bungkusan.



Credit foto by Detik foood.com


“Pak Hara ada alergi makan daging kambing, tidak?” Jenar bertanya sebelum melanjutkan penjelasan.


Hara menggeleng. Ia mengaduk makanan yang berbentuk seperti sup krim dicampur tulang kambing dengan bau rempah yang kuat. Ada potongan cabe berwarna merah membaur dengan warna sup yang pucat.


“Ini namanya blendrang, Pak. Dibuat dari tepung beras dan tepung terigu, umumnya dicampur dengan tulang kambing. Tapi ada juga yang menggunakan tulang ayam, sebagai variasi jika ada yang alergi makan kambing." jelas Jenar.


“Ini bisa dimakan?” Hara menyendok sebuah tulang, mengangkat, lalu mengamatinya dengan seksama.


Jenar mendongak, seketika tertawa melihat ekspresi Hara, pria itu seperti baru saja menemukan sesuatu yang aneh.


“Tentu saja bisa. Begini cara makannya,” Jenar menunjukkan cara makan blendrang kepada Hara. Yaitu dengan menyendok kuah, lalu menyeruputnya. Setelah itu ia mengambil sebuah tulang, menggigiti sisa daging yang masih menempel. Mengulum tulang demi mendapatkan rasa gurih yang khas.


“Bagaimana rasanya?” tanya Hara ingin tahu.


“Pak Hara coba saja sendiri!” Jenar kembali menyendok kuah. Memejamkan mata, menikmati rasa kuah blendrang yang menurutnya unik.


“Ini seperti zuppa soup, tapi dengan kearifan lokal. Pak Hara tidak akan bisa menemukan makanan ini di tempat lain. Makanan ini hanya bisa ditemukan di daerah Gunung Pring.” tutur Jenar.


"Oya? Apa kamu ke sana untuk membelinya tadi?" tanya Hara yang sebenarnya ingin tahu pergi ke mana saja Jenar dan Lion, selain yang sudah diungkapkan oleh Faiz.


Jenar mengangguk, "Sudah lama pengin, mumpung tadi lewat, jadi sekalian mampir."


Hara mengerti. Melihat Jenar begitu menikmati makanan yang baru sekali ini ditemui, Hara jadi penasaran ingin mencoba. Ia menyendok sedikit kuah, mengecapnya dengan ujung lidah. Kerutan di dahi makin terlihat, sepertinya ia sedang mendefinisikan rasa yang dikirim oleh indera pengecap ke otak.


“Nggak ada rasanya kalau hanya sedikit, Pak.” ujar Jenar.


“Bagaimana?” tanya Jenar ingin tahu respons Hara setelah mencicipi blendrang.


“Gurih, pedas, rasa bawangnya kuat sekali.” jawab Hara menjabarkan definisi rasa blendrang menurutnya, “Not bad!" jawabnya meski tidak tahu apakah bisa memakan makanan itu sampai habis.


Jenar mengangguk, menimpali penuturan Hara, “Memang bumbu dapur yang dipakai beraneka macam. Harus kuat untuk menyamarkan bau kambingnya.”


Hara manggut-manggut, sambil jeli menyingkirkan potongan cabe agar tidak ikut termakan. Sedikit demi sedikit ia menyuapkan kuah blendrang, agar lidahnya bisa beradaptadi dengan rasa aneh itu.


“Nah! Saatnya mengambil harta karun!” seru Jenar seraya mencomot tulang berbentuk panjang, sepertinya itu adalah tulang kaki kambing.


Hara memerhatikan Jenar. Gadis itu sedang mengambil sumsum tulang, dengan cara menyedotnya. Tak pelak lengkung tipis terbentuk di bibirnya, melihat Jenar begitu ekspresif menikmati makanan.


"Enak?" ia bertanya serius.


Jenar mengangguk. Ia mengambil sebungkus makanan ringan, membuka, lalu menuangkan isinya yang berupa mie kering di atas makanan. Tak cukup sampai di situ, ia juga mengambil tempe goreng tepung menaruhnya dengan posisi setengah tercelup kuah. Gadis itu punya cara aneh dalam menikmati makanan.


"Apa enaknya makanan dicampur-campur begitu?" Lion bersuara, tak habis pikir dengan cara Jenar makan.


"Kak Lion nggak akan bisa makan seperti ini, nanti lidah kakak tersedak." ucap Jenar sarkas.


Lion tertawa, tak menyangka Jenar akan menyindirnya. Sementara Hara justru makin penasaran karena Jenar makan dengan lahap.


"Apa tambah enak jika dimakan seperti itu?" Hara benar-benar ingin tahu.


Jenar mengangguk. Ia menyodorkan makanan ke depan Hara sambil menawarkan, "Pak Hara mau mencobanya?"


Hara menggerakkan alis, meminta persetujuan. Jenar mengangguk sambil tersenyum, mempersilakan Hara mencicipi makanannya.


"Rasanya beda dengan yang hanya dimakan begitu saja," respons Hara setelah mencicipi makanan milik Jenar.


"Lebih enak, atau lebih aneh?" goda Jenar.


Ia bisa menebak jika Hara terpaksa makan, walau tidak suka. Karena itu juga yang ia rasakan saat pertama kali mencicipi blendrang dulu. Rasa aneh, tapi setelah terbiasa jadi candu ingin terus mencobanya.


Hara tergelak, tak menyangka Jenar paham yang ia rasakan. Jenar terpaku menatap Hara yang terpingkal, ekspresi yang sangat jarang ia lihat dari pria itu.

__ADS_1


"Saya dulu pertama kali makan blendrang juga pesimistis bisa makan sampai habis. Sudah merasa aneh ketika mencicipi sedikit.


Tapi makin dimakan, makin terasa lezatnya." tutur Jenar menceritakan pengalaman pertamanya makan blendrang.


"Oya? Jadi saya harus makan sampai habis dulu, agar bisa ketemu rasa lezatnya, begitu?" Jenar mengangguk, menjawab pertanyaan Hara.


"Bisa coba pakai cara ini," Jenar meletakkan tempe tepung pada makanan Hara, "Pak Hara juga harus mencari harta karunnya."


Hara kembali tergelak, mengapresiasi usaha Jenar agar ia bisa menikmati makanan spesial. Ia lalu mengikuti cara makan Jenar, menyuapkan kuah, lalu mengulum tulang. Rasa gurih mengecapi lidah, senyum pun mengembang di bibirnya.


"Kalau nanti saya jadi suka dengan makanan ini, terus ingin makan tiap hari bagaimana?" tanya Hara.


"Ya, tinggal beli saja. Warungnya buka tiap hari, kok. Bisa makan di sana juga, beda sensasinya kalau langsung makan di tempat." jelas Jenar.


"Kamu bersedia mengantar, kalau saya ingin membelinya?" pancing Hara.


"Tentu!" jawab Jenar yakin, "Saya tidak keberatan kalau Pak Hara ajak saya makan di sana sekalian."


Seketika ia menyesal atas ucapan yang baru saja terlontar. Dalam hati merutuki diri, karena tanpa sadar terlalu berterus terang.


"Oke, kapan-kapan kamu harus temani saya." Hara cepat berucap sebelum Jenar berubah pikiran.


Jenar menunduk, menyembunyikan malu. Ia lalu mengangguk lemah seraya berkata lirih, "Pak Hara harus siap antri dan duduk berimpitan dengan pembeli lain. Karena yang jual ini hanya warung sederhana, bukan seperti rumah makan mewah."


Hara memiringkan kepala demi mencari wajah Jenar, "Sejauh ini, apa kamu masih meragukan kefleksibelanku?"


Jenar mendongak, menggeleng sambil tersenyum. Selama bersama Hara ia tidak pernah melihat pria itu kesulitan beradaptasi. Di mana pun berada, dengan siapa pun, selalu bisa menyesuaikan diri. Benar-benar sosok yang fleksible, hanya ekspresi datar dan sikap ketusnya saja yang sulit hilang.


"Naufal sepertinya menyukai makanan ini, padahal pedas." Hara mengarahkan pandangan ke arah ponakannya yang sedang khusyuk menikmati makanan.


"Punya Naufal, Arkaan dan Mbak Nanda blendrang ayam, nggak pedas sama sekali." ungkap Jenar.


Hara membelalakkan mata mendengar ucapan Jenar. Tiba-tiba lidahnya terasa seperti terbakar, "Kenapa punyaku sangat pedas?"


Jenar menutup mulut, tak tahan lagi tergelak hingga bahunya berguncang. Hara mendengkus, sadar Jenar telah berhasil mengerjainya. Ia hendak meraih cup berisi jus buah, tapi dengan cepat Jenar menahannya.


"Jangan langsung minum, apalagi dingin. Pedasnya tidak akan hilang, pakai ini saja!" Jenar memberikan krupuk berbungkus plastik yang telah ia buka agar Hara mudah mengambilnya.


Ia kembali tergelak, melihat wajah Hara memerah dan keringat yang menetes karena kepedasan. Reflek ia mengambil beberapa lembar tissue, memberikannya kepada Hara.


Hara menatap makanan yang hampir habis, sambil menyeka keringat dan ingusnya. Sejenak kemudian ia terpaku, menatap Jenar yang sedang terpingkal sampai mengeluarkan air mata. Ekspresi yang selalu membuatnya merindu dan ingin bertemu.


"Kamu tahu saya tidak biasa makan pedas." gerutu Hara ketika Jenar menghentikan tawa. Ia mengambil tissue, menyerahkannya kepada Jenar untuk mengusap air mata yang keluar akibat tertawa.


"Sejauh ini saya tidak pernah ragu dengan kefleksibelan Pak Hara," Jenar membalikkan ucapan Hara.


Keduanya lantas tergelak. Seminggu intens saling sapa secara daring, membuat mereka tak sungkan lagi mengekspresikan perasaan secara nyata.


Interaksi keduanya tak luput dari pengamatan orang-orang. Lion mencium gelagat aneh pada dua orang yang biasanya minim ekspresi itu. Ada sebuah dugaan tentang alasan Jenar bersikap abai setiap kali ia datang.


Faiz beberapa kali tersenyum, melihat Jenar bisa tertawa lepas dan Hara yang akhirnya menampilkan ekspresi selain datar. Nanda pun memerhatikan, membuatnya tergerak untuk mengabadikan.


Ibu jari Nanda hampir menyentuh ikon lingkaran merah pada layar ponsel, untuk merekam adegan yang berlangsung di hadapan. Namun, ia terkejut ketika tiba-tiba layar menggelap. Lalu ponsel terampas dari tangannya.


Nanda mendongak, mendapati suaminya yang menggeleng sambil menunjuk ponsel di tangan.


"Tidak seharusnya kamu mengadukan sesuatu yang belum jelas!" Faiz berkata tenang, tapi sarat penekanan. Tahu apa yang akan dilakukan oleh istrinya.


"Tapi, Mas?" Nanda hendak menyanggah, tapi segera diurungkan karena Faiz memberi tatapan tajam.


"Hanya akan memperkeruh keadaan, jika kamu mengungkap sesuatu tanpa menganalisa terlebih dulu." tegas Faiz.


Nanda mengangguk, paham akan maksud suaminya. Perlahan disingkirkannya kekhawatiran akan prasangka. Memupuk rasa percaya bahwa Faiz pasti tahu jalan keluar terbaik.


.


.


.


.


Bersambung ....


Ye ... ternyata tidak ada perang, Teman-teman.😁 si Lion malah dikacangin, tuh. Memang kalau kita sudah nyaman dengan seseorang, kadang nggak sadar dengan sekitar. Ucapan terpendam pun bisa muncul, ya?😁


Gimana, nih? Sudah cukup uwu belum JenHar? Jenar sudah berani mengerjai Hara, nih. Semoga nggak sakit perut, ya, Hara makan blendrang pedas.


Mas Faiz cukup bijaksana, ya. Memamg sebaiknya kita jangan menyebarkan sesuatu yang belum jelas. Di era digital sekarang ini, mudah sekali menyebarkan fitnah, lho. Jadi harus berhati-hati. Jangan hanya karena melihat dua orang lawan jenis saling berbincang akrab, lantas menuduh mereka pacaran, selingkuh, punya hubungan gelap. Don't!

__ADS_1


Kalau benar, bisa dibuktikan dengan saksi sih oke. Tapi kalau hanya sekedar dugaan, jatuhnya fitnah, kan? Na'udzubillah ... semoga kita semua terlindung dari fitnah dan berita bohong ... aamiin.


Selamat membaca, teman-teman😁😍🙏


__ADS_2