Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
91. Merapah Rasa dalam Hati 2


__ADS_3

🍁Kala cinta menyapa, sikap dan otak sering tak bisa diajak kompromi. Demi dia yang bertahta dalam hati, pikiran rasional pun diabaikan.🍁


Hara.


Aku menyandarkan punggung, sambil melipat tangan. Mengeratkan jaket, untuk menghalau hawa dingin yang menyeruak. Sengaja aku mengeraskan volume radio, agar suara renyah penyiar bisa mengurangi sepi.


Dimas-diajeng! Saya masih setia menemani pagi berkabut ini dengan lagu-lagu nostalgia era 80an.


Aku mengganti saluran radio, mencari yang lebih enak didengar. Terlalu pagi untuk mendengar lagu sendu mendayu jaman dulu. Lagu dangdut terdengar, ketika aku menemukan sebuah saluran. Segera aku menggantinya lagi. Ternyata beberapa saluran radio tidak ada yang cocok dengan keinginanku. Kebanyakan memutar musik yang bukan seleraku.


Pendengar! Tau nggak, sih? Pagi-pagi dingin begini enaknya ngopi, atau malah ada yang masih selimutan? Ayo, semangat, dong! Indonesia tidak butuh orang-orang yang malas!


Nah! Seperti ini seharusnya penyiar radio di pagi hari, membakar semangat para pendengarnya.


Yang mau kirim-kirim salam atau request lagu, boleh, ya! Masih saya tunggu di nomer 0821-7979-2121. Ada yang sudah masuk, nih! Saya bacakan dulu, ya!


Dari Kak Galih salamnya buat Dek Rima, semangat pagi calon bidadari surgaku. Wuih! Manis sekali sapaannya, Kak Rima pasti klepek-klepek pagi-pagi dapat salam seperti ini.


Selanjutnya ada Mbak Iza, kirim salam buat suami tercinta yang sudah berangkat kerja. Semangat pejuang nafkahku, do’aku menyertaimu. Wah! Ini contoh istri soleha, ya. Suaminya kerja disemangatin, dido’ain pula.


Ada lagi Kak Ade, mau kirim salam buat Ismi … pagi ini aku sudah sarapan empat sehat lima sempurna, karena aku tahu merindukanmju butuh banyak nutrisi. Wah! Pagi ini banyak yang manis-manis, ya? Efek cuaca berkabut atau bagaimana ini? Sepagi ini sudah banyak yang keluarin gombalan, takut nggak kering kali, ya?


Penyiar radio tertawa, membuatku ikut geli mendengarnya. Ternyata masih ada acara berkirim salam lewat radio di jaman serba canggih ini. Seperti jaman dulu saja, waktu belum ada gadget. Mendengarkan radio sambil mengharapkan ada yang menitipkan salam dan request lagu cinta dari seseorang.


Kita dengarkan lagu dulu, ya! Ini request dari Kak Galih, buat Dek Rima. Lagunya Lewis Capaldi Someone You Loved. Selamat mendengarkan, dan staytune terus bareng saya di sini.


I'm going under and this time I fear there's no one to save me


This all or nothing really got a way of driving me crazy


I need somebody to heal


Somebody to know


Somebody to have


Somebody to hold


It's easy to say


But it's never the same


I guess I kinda liked the way you numbed all the pain 


Setengah jam lebih, aku duduk diam di dalam mobil yang sengaja kuparkirkan di ujung jalan Kartini, arah menuju jl. F.X Suhaji. Dari sini, aku bisa leluasa mengamati lalu-lintas jalan menuju ke arah Yogya. Juga suasana depan kantor Polisi Sektor, yang ramai para penunggu angkutan umum. 30 menit yang membosankan sebab yang kutunggu belum juga kelihatan.


Ya, aku sedang menunggu seseorang yang berhasil membuat tidurku tidak nyenyak semalam. Sehingga aku rela menembus dinginnya pagi berkabut demi mendapatkan sebuah informasi. Mungkin aku sudah gila, sampai bisa melakukan hal di luar akal sehat. Dia berhasil membuat pikiranku kacau beberapa hari ini.


Jenar memang tidak melakukan apa-apa padaku. Interaksi kami juga biasa saja, hanya lebih sering dari pada biasanya. Sikapnya yang sok kuat, padahal terlalu rapuh karena memiliki trauma. Dia yang selalu nampak mandiri, padahal sebenarnya tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri. Keceriaan yang diperlihatkan untuk menutup kekurangan, berhasil membuatku selalu ingin menjadi orang pertama yang membantunya. Jenar membuat hidupku terasa bermanfaat karena telah mengijinkanku melakukan apa saja untuknya.


Perlahan kabut tebal mulai mengurai, seiring terbitnya mentari dari ufuk timur. Orang-orang yang menunggu bus, makin ramai. Silih berganti ada yang pergi, ada yang datang. Dari kaca spion, kulihat seorang gadis yang mengenakan gamis warna biru tua, berjalan tergesa. Ia lalu berdiri di trotoar sambil menoleh ke kanan, seperti sedang menunggu seseorang. Aku penasaran, seperti apa teman-temannya yang setiap hari memberi tumpangan?


Aku awas mengamati geraknya, agar jangan sampai kecolongan. Percuma susah-payah menunggu lama sejak pagi buta, kalau terlewat tidak bisa mengetahui dia berangkat dengan siapa. Aku memang sudah gila, sampai menguntitnya begini. Jangan-jangan benar yang dikatakan Mas Akmal, kalau aku sedang jatuh cinta? Astaga! Menggelikan sekali.


Beberapa menit berlalu, Jenar masih berdiri di tempat yang sama. Sepertinya dia mulai gelisah, nampak sesekali melihat ponsel. Lalu kembali menatap lama ke arah datangnya kendaraan. Banyak bus yang berhenti di depannya, tapi Jenar tidak juga naik. Sepertinya memang benar dia sedang menunggu tumpangan mas-mas yang disebutkan oleh Mbak Sayumi. Aku jadi makin ingin tahu, seperti apa wajah mereka, hingga Jenar rela menunggu lama. Bahkan sampai tidak mau lagi kuantar.


Sebuah bus besar berhenti tepat di depan Jenar. Orang-orang berebut naik, tapi Jenar tetap diam di tempat. Gadis itu justru menggeleng ketika kondektur melambaikan tangan, lalu menoleh ke kiri. Dia seperti sedang mengamati sesuatu, jangan-jangan sadar akan keberadaanku? Hingga bus berlalu, dia tetap masih menatap arah yang sama, membuatku panik saja. Bisa gagal semua rencana kalau sampai dia tahu, aku sedang mengamatinya.


Kulihat Jenar memainkan ponsel, seperti sedang mengetikkan sesuatu. Dua detik kemudian, ponsel dalam saku kemejaku bergetar. Secara spontan aku mengambilnya dengan masih memerhatikan Jenar dari kaca spion. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan jejak untuk membuka rahasia siapa yang setiap hari mengantarnya ke kampus.

__ADS_1


Sekilas aku melihat layar ponsel, terkejut karena nama Jenar yang tertera. Spontan aku menatap kaca spion, hendak memeriksa keberadaan gadis itu. Namun, ternyata tempat Jenar berdiri sudah digantikan oleh seorang pria yang memakai peci hitam. Ke mana dia? Apakah tumpangannya sudah datang? Mengapa cepat sekali perginya.


Aku berpikir sebentar, hendak mengangkat telepon atau tidak. Walau sedikit ragu, kuputuskan untuk menggeser tombol hijau. Ingin tahu juga, untuk apa Jenar menelpon.


“Halo!” sapaku mengawali terhubungnya sambungan telepon.


[Halo! Pak Hara di mana?] tanya Jenar dengan nada yang terdengar ketus.


“Sa-ya, a-ku … sa-ya … di rumah.” ini kenapa lidahku jadi sulit untuk bicara, ya? Hanya menjawab pertanyaan seperti itu saja harus terbata.


[Bohong!] sentak Jenar. Aku baru saja hendak bicara, tapi dia sudah lebih dulu menuduh.


[Pak Hara disuruh ngikutin saya sama Kak Neesha atau Kak Reyfan? Atau malah ayah yang suruh?]


Aku tidak tahu kenapa Jenar bicara seperti itu, tapi ingin menjawab lidah rasanya kelu. Sehingga aku memilih diam, memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaannya.


[Tanggung kalau cuma lihat dari jauh, Pak. Kenapa nggak nyamperin sekalian?]


“Saya nggak ngikutin kamu.” aku berusaha bicara baik-baik.


[Masih mau ngelak, padahal sudah jelas terlihat. Pak Hara nggak pinter bohong!] sarkas juga ucapan Jenar, pasti dia sudah tahu aku ada di sini.


Tak puas mengamati dari spion, aku melongok dari kaca jendela yang terbuka. Agar bisa melihat lebih jelas tempat semula Jenar berdiri, kalau-kalau dia ada di sana. Namun, yang terlihat hanya orang-orang asing yang jumlahnya semakin berkurang. Sedikit merasa aman, karena sangkaku tidak terbukti.


Spontan aku menarik kepala, ketika mendengar ketukan pada kaca jendela samping kiri. Rasa aman yang sempat bersarang, musnah seketika. Reflek aku memejamkan mata sambil membuang napas. Kemudian kuusap wajah kasar, melihat gadis yang tiba-tiba sudah berdiri di samping mobil.


Kuturunkan kaca jendela, agar dia berhenti mengetuk. Bagaimana aku tidak tahu sejak kapan Jenar berada di situ? Pantas saja dia mengatakan aku berbohong, rupanya karena sudah tahu keberadaanku.


“Pak Hara tinggal di mobil sekarang?” Jenar bertanya setelah mematikan sambungan telepon.


“Maksud kamu?” aku mengerutkan dahi, karena tidak paham apa yang dia tanyakan.


Aku mendengkus, Jenar pintar sekali menunjukkan kesalahan. Dia sedikit membungkuk, mendekatkan kepala pada jendela.


“Siapa yang suruh Pak Hara?”


Aku menggeleng, menjawab pertanyaan bernada menuduh itu, “Nggak ada.”


“Jadi Pak Hara sengaja berinisiatif mengintai saya karena apa?”


“Saya tidak sedang mengintai kamu, jangan kepedean! Saya sedang menunggu teman yang mau datang, takut kesasar.”


Jenar menegakkan badan, melipat tangan seraya menggerutu, “Alasan! Gengsi banget buat ngaku, Pak?"


“Apa kamu bilang?” aku tidak terima dituduh, walau pun benar. Sebab, kalimat yang Jenar ucapkan terdengar meremehkan.


“Aduh!” Jenar terlihat menutup mulut, lalu membuang napas kasar. Dia menggerutu lagi, kali ini dengan nada tinggi, “Kelewatan bus, nih! Gara-gara Pak Hara, saya jadi ketinggalan Mas San.”


Aku menoleh ke jalan, ada beberapa kendaraan yang melintas. Namun, yang paling kentara adalah sebuah bus antar kota yang melintas dengan cepat. Baru saja aku hendak bertanya, tapi Jenar sudah berbalik badan, hendak berlalu. Segera aku turun dari mobil, berjalan memutar demi menghadangnya.


“Tunggu, Jen!” sergahku saat sampai di hadapannya.


“Pak Hara mau apa? Saya sudah melewatkan satu bus. Kalau ketinggalan lagi, saya bisa terlambat sampai kampus.” ucap Jenar ketus.


“Kamu sedang nunggu bus, atau teman yang kasih tebengan?” akhirnya aku bertanya tanpa basa-basi. Sudah terlanjur basah, biar jelas sekalian.


“Pak Hara ngomong apa, sih? Sejak kapan saya nebeng teman? Lagi pula, nggak ada teman saya yang berangkat dari sini, Pak!” jawab Jenar, tapi tidak lantas memuaskan rasa ingin tahuku.


“Jangan bohong! Siapa yang nganter kamu tiap hari ke kampus?”

__ADS_1


Jenar menggeleng, lalu menunjuk dadaku, “Siapa yang bohong, Pak? Nggak ada yang pernah mengantar saya dari sini ke kampus kecuali Pak Hara sendiri.”


Aku terpaku mendengar kalimatnya, hingga membiarkan Jenar berlalu begitu saja. Apa mungkin aku sudah salah sangka padanya? Lalu siapa mas-mas yang namanya kemarin dia sebut, juga oleh Mbak Sayumi. Untuk memuaskan rasa penasaran, aku segera menarik kesadaran. Setengah berlari aku menghampiri Jenar yang sedang menunggu giliran naik ke bus bersama orang-orang. Aku bergegas menarik tangannya, sebelum sampai gilirannya naik bus.


“Apa lagi, sih, Pak? Saya mau naik bus ini.” Aku mengeratkan cengkeraman pada tangannya, karena dia berusaha melepaskan diri.


“Kemarin kamu bilang ada mas-mas yang tiap hari kasih tebengan.” Aku melihat Jenar mengernyit, “Siapa namanya? San, Han atau siapalah itu.”


Susah payah aku meredam rasa gengsi untuk menanyakan langsung tentang hal yang membuatku susah tidur semalam. Bukan jawaban yang kudapatkan, Jenar justru tertawa terbahak sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


“Maksud Pak Hara Mas Han, San, Rama sama Mas Ragil?” Jenar menebak setelah menghentikan tawa, “Ah! Ada lagi, Pak. Mas Tunggal, Mas Gading.”


“Banyak banget, sih? Perasaan kemarin tidak sebanyak itu yang kamu sebutkan.” aku jadi meradang karena nama mas-mas yang disebutkan Jenar bertambah.


“Belum lengkap itu, Pak. Masih ada lagi, tapi saya tidak hafal namanya. Hanya yang sering saya tumpangi saja yang hafal.”


“Tadi bilang nggak pernah ada yang kasih tumpangan, sekarang kok beda lagi? Itu semua nama-nama orang yang kasih tumpangan ke kamu?”


Jenar tertawa lagi, “Saya tidak bilang seperti itu, Pak. Saya bilang tidak pernah ada tebengan, tapi kalau tumpangan alhamdulillah selalu ada.”


“Bedanya apa?” makin bingung saja dengan kalimat Jenar yang berputar-putar, rumit sekali.


“Ya bedalah, Pak. Kalau nebeng itu gratis, kalau menumpang kita harus bayar. Sebab, telah memakai jasa angkutan umum, artinya harus membayar.” jelas Jenar.


“Jadi tiap hari kamu bayar orang yang kasih kamu tumpangan?” aku harus mengorek jawaban dengan tuntas.


“Ya, iyalah. Masa nggak bayar? Bisa dimarahin sopir sama kernetnya kalau tiap hari saya nggak bayar.” Aku mengerutkan dahi dalam, makin pusing saja dengan penjelasannya.


“Tuh, kan! Saya ketinggalan Mas Rama lagi. Pak Hara, sih, pakai ngomong yang tidak-tidak. Habis ini lama pasti Mas Ragil.” Jenar menggerutu sambil menarik paksa agar tangannya lepas dari genggamanku.


“Itu, kan, bus?” aku bertanya seolah hanya untuk diri sendiri.


“Memang bus, Pak Hara pikir … kalau bukan bus, siapa lagi yang kasih saya tumpangan?” Jenar menunjuk arah bus yang kini hanya terlihat bagian belakangnya saja, “Mas Ramayana. Yang tadi sudah lewat ada Mas Handoyo dan Mas Ragil. Barusan ada Mas Cemara Tunggal. Kalau sudah jam segini, saya harus pasrah menunggu Mas Santoso atau Mas Gading Indah lewat.”


Aduh! Ternyata aku benar sudah salah sangka, malu sekali rasanya. Kalau bisa mungkin aku ingin berubah menjadi kecil lalu menguburkan diri di dalam tanah. Ternyata semua yang disebutkan Jenar adalah nama bus, bukan nama mas-mas. Astaga! Jadi aku sudah curiga dengan bus?


Pelan aku menarik tangannya sambil berkata, “Saya antar saja biar tidak telat. Dari pada nunggu bus yang namanya mirip mas-mas itu lama."


"Ih! Pak Hara apaan, sih, pegang-pegang!" Jenar menghentakkan tangan, membuatku terkejut karena dia menggertak, "Wudlu saya jadi batal, kan?"


"Udah dipegang dari tadi, marahnya baru sekarang." Aku berusaha mengambil tangannya lagi, tapi Jenar menyembunyikan dua tangannya di balik punggung.


"Pak Hara!" serunya, membuatku mendengkus. Sok jual mahal sekali! Belum tahu saja kalau aku bisa membuat gadis mana pun menyerahkan diri.


"Ayo ikut!" aku mendekatkan wajah, berbisik di telinganya, "Nggak malu dilihatin banyak orang?"


Jenar melihat sekitar, lalu memberi tatapan tajam padaku. Sorot mata sebening kristal yang mampu menyudutkan siapa saja. Tatapan itu pula yang membuatku selalu ingin memandangnya. Perlahan aku menarik tangannya, menggenggam erat agar dia tidak bisa berontak. Mudah sekali menurunkan mental Jenar yang selalu overthinking. Tinggal membuatnya insecure dengan pandangan orang sekitar, maka dia pasti mencari perlindungan. Aku suka itu.


Jenar tidak menolak saat aku menuntunnya menuju mobil. Ada kelegaan dalam hati, karena rasa penasaran yang telah terobati. Walau berganti jantung yang bernyanyi, merasakan hangatnya aliran darah dari telapak tangan Jenar. Seumur hidup, ini adalah tangan terlembut yang pernah kusentuh dan tak akan kubiarkan tangan ini lepas begitu saja dari genggamanku.


.


.


.


Bersambung ....


Hayo! Ada yang bisa nebak, nggak Hara beneran bawa Jenar ke kampus atau malah belok ke hotel? Atau mau dibawa pulang ke Jakarta? Kejauhan, ya? 😉 Kemarin yang nebak Hara nguntit Jenar ... 100 buat kakak. Kayaknya ngintip outline nih. 😂 Ditunggu selanjutnya, ya. Kemajuan apa yang akan terjadi. 

__ADS_1


__ADS_2