
...💐Tugas manusia adalah ikhtiar. Seberat apapun ujian, yakinlah! Semua itu sudah sesuai takaranNya.💐...
Prov. Author.
Aneesha mengakhiri percakapan lewat sambungan telepon dengan adiknya, tepat ketika suaminya masuk ke dalam kamar. Ia menatap Reyfan yang sedang berjalan mendekat dengan tatapan lesu. Membuat suaminya mengulurkan tangan untuk mengusap sulur hitam nan lembut miliknya penuh sayang.
“Ada apa? Wajahmu kelihatan sedih, seperti baru saja mendapat kabar buruk.”
Aneesha mengangguk seraya mengambil tangan suaminya. Mencium telapak tangan besar itu seolah ingin mencari ketenangan.
“Jenar baru saja telepon. Dia sedang bingung, tadi Jenar cerita kalau Ghufron sakit dan butuh pengobatan segera ….”
“Ghufron sakit? Sakit apa?” Reyfan menyela kalimat panjang yang diucapkan istrinya dengan cepat seolah tanpa jeda. Ia sedikit terkejut sebab kali terakhir bertemu, Ghufron tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.
“Leukimia ….”
Jawaban Aneesha sukses menimbulkan kerutan di dahi Reyfan. Ia membeo ucapan istrinya yang mengejutkan, “leukimia? Kok, bisa?”
Kepada suaminya, Aneesha menuturkan cerita yang ia dengar dari Jenar tadi. Semua ia ceritakan, tentang gejala, hasil pemeriksaan laboratorium hingga pengobatan yang harus dijalani oleh Ghufron.
“Jenar bilang Ghufron harus segera mendapat penanganan khusus, karena penyakit itu-” Aneesha tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Sudah menjadi rahasia umum yang banyak orang ketahui, leukimia atau kanker darah adalah sebuah penyakit sillent killer yang mengerikan.
Harus segera ditangani, karena tidak ada yang tahu kapan jumlah sel darah merah menurun drastis dan kapan jumlah sel darah putih meningkat pesat. Sebagaimana diketahui secara umum, penyakit ini belum ada obatnya. Transfusi trombosit dan donor sum-sum tulang belakang pun hanya bisa mencegah kerusakan sel bertambah parah, tapi belum bisa mengobati secara keseluruhan.
“Kasihan Ghufron, dia baru saja lulus. Baru juga jadi dokter muda, pasti masih banyak yang ingin dia capai.” Aneesha menengadahkan kepala dengan wajah sedih, “kita harus bantu dia, Kak! Neesha nggak mau Jenar ….”
Reyfan menarik istrinya yang hampir histeris ke dalam pelukan, “Ssstt! Kamu tenang, ya! Kita pasti bantu mereka. Akan kupastikan Ghufron segera mendapat pengobatan terbaik.”
“Tercepat juga, Kak!” Aneesha mulai merengek.
“Iya. Terbaik dan tercepat.”
“Lakukan apa saja yang penting Ghufron bisa sembuh!”
Muncullah sifat kekanak-kanakan Aneesha. Kalau sudah begini, Reyfan tidak akan bisa menolak apapun kemauan istrinya. Istilah kata yang paling tepat, ‘kemauan istri, adalah perintah bagi suami’.
“Nanti aku tanyakan sama Hamzah bagaimana caranya biar Ghufron segera ditangani.”
“Jangan nanti, Kak. Sekarang!”
“Nggak bisa, Sayang. Hara sedang cuti, Soleh belum bisa diandalkan jadi ak-”
Aneesha melepaskan diri, memberi tatapan tidak setuju kepada suaminya. Rupanya ia sedang tidak ingin Reyfan menyanggah keinginannya, “sekarang, Kak!”
“Sha ….”
“Sekarang!”
“Iya, oke!” Reyfan mengambil ponsel dari atas nakas. Mengusap layar, sejenak kemudian melakukan panggilan, “Zah! Kamu di mana? Aku perlu bantuan ….” Melihat hal itu, Aneesha tersenyum puas.
“Gitu, dong. Jadi suami harus cepet actionnya! Jangan bikin istri kecewa, apalagi kalau istrinya lagi hamil,” puji Aneesha setelah Reyfan menutup sambungan telepon dengan Hamzah.
Reyfan membuang napas kasar, “untung lagi hamil, kalau nggak-”
Aneesha memangkas ucapan ketus suaminya, “Apa? Kakak mau apa?”
“Mau mandi, mau ikut?” Ucap Reyfan kesal karena istrinya makin hari, makin tidak bisa ditunda kalau sudah punya keinginan.
“Ih! Kakak, kok, ngomongnya gitu?” Aneesha memperlihatkan mimik sedih yang dibuat-buat seraya mengelus perutnya yang membuncit, “papi kamu nggak sayang sama kita, Nak.”
“Apaan, sih?”
“Tuh, kan, Nak? Kamu dengar, kan? Papi galak, ya, sekarang?”
“Karena mami kamu nyebelin. Kalau udah ada maunya nggak bisa ditunda.” Reyfan mendekat, mengusap lalu mencium perut istrinya gemas.
“Jenar itu adikku, lho, Kak! Wajar, kan, aku nggak mau dia kesulitan.”
“Iya. Aku tahu, Sayang.” Reyfan mengulurkan tangan, mengusap pipi tembem istrinya dengan ibu jari, “Udah, ya! Jangan terlalu dipikirkan! Ingat, kamu lagi hamil. Nggak boleh terlalu banyak pikiran! Masalah Jenar sama Ghufron biar aku yang urus.”
“Makasih, suamiku.”
“Sama-sama istriku. Adik kamu, adikku juga. Jadi aku nggak mungkin biarin Jenar kebingungan sendiri. Dia masih terlalu muda untuk menanggung masalah berat.”
“Ah! Jadi makin cinta sama kakak.”
“Harus, dong! Kamu punya suami kaya, pintar, baik lagi. Kurang apa, coba?”
“Ya Alloh!” Aneesha menepuk keningnya sendiri. Sebenarnya tadi ia merasa terharu karena Reyfan begitu baik mau membantu adiknya. Tapi bukan Reyfan kalau ujung-ujungnya tidak menyombongkan diri sendiri. Sombong sepertinya sudah menjadi nama tengah seorang Ismail Reyfansyah.
Namun, Aneesha sangat bersyukur sebab Reyfan segera bertindak membantu Jenar. Ia melihat sendiri sore itu suaminya berbincang serius dengan Hamzah lewat sambungan telepon. Reyfan juga sibuk menghubungi siapa saja yang bisa membantu Jenar di Jogja. Aneesha pun melihat dengan mata kepalanya sendiri, suaminya yang begitu sibuk mengurus ini itu demi memastikan adinya tidak kesulitan.
...***...
Langit kota Yogyakarta tidak secerah biasanya. Sore itu awan hitam pekat menyelimuti kota pelajar. Angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun kering yang gugur dari pepohonan di kanan kiri jalan. Seorang gadis dengan tergesa turun dari motor, menyerahkan helm kepada rekan yang memboncengkannya.
“Beneran nggak ingin ditemenin?” Tanya Aina setelah menggantungkan helm yang baru saja dipakai temannya.
“Nggak pa-pa. Dari pada kamu kemalaman, nggak bisa masuk kost nanti.” Jawab Jenar.
“Ya, sudah. Kabari kalau ada apa-apa, ya!”
Tak berselang lama, Aina melajukan motor meninggalkan Jenar sendiri di depan rumah sakit. Setelah Aina tidak terlihat lagi, Jenar pun berjalan memasuki pintu gerbang besar rumah sakit akademik.
Gerimis mulai turun. Rupanya awan sudah tak mampu menampung uap air, jatuh setetes demi setetes menghujam bumi. Perlahan tapi pasti gerimis berubah menjadi hujan deras.
Jenar mempercepat langkah sembari memayungi kepalanya dengan satu tangan. Ia tahu hal itu tidak akan efektif untuk menghalau air hujan, pakaiannya pasti akan tetap basah. Namun, ia tetap melakukan hal itu sampai masuk ke lobi rumah sakit.
Seraya mengusap baju dan jilbab yang basah, Jenar melanjutkan langkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai yang dituju. Lantai di mana terdapat kamar tempat Ghufron dirawat.
__ADS_1
Ia sempat merapikan penampilan sebelum mengetuk pintu kamar VVIP itu. Pintu terbuka dari dalam, seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan senyum hangat, “Nduk Jenar.”
“Assalamu’alaikum, Bu ….,” Jenar mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan Bu Nuning dengan takdzim.
“Wa’alaikum salam, Nduk. Sama siapa?” Bu Nuning menjawab salam sekaligus bertanya seraya menoleh kanan dan kiri seperti sedang mencari seseorang.
“Sendiri, Bu. Tadi diantar teman sampai depan.”
Bu Nuning meraih bahu calon menantunya. Membimbing Jenar masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu di belakang.
“Assalamu’alaikum, Mas.”
“Wa’alaikum salam …”
Melihat tunangannya datang, Ghufron berusaha bangun dari tidur setelah meletakkan ponsel yang tadi sedang dimainkannya. Ia menarik kedua sudut bibir bersamaan dengan langkah Jenar mendekati tempatnya duduk.
“Sendirian?” Jenar mengangguk menjawab pertanyaan Ghufron.
“Jilbab kamu basah? Hujan di luar?”
“Iya. Pas sampai di depan, pas hujan turun.”
“Nggak bawa payung?” Nada pertanyaan Ghufron meninggi, tapi tersirat kekhawatiran.
Jenar menggeleng. Berusaha mengalihkan perhatian Ghufron dengan menunjukkan kantong plastik putih yang ia bawa, “saya bawain pesenan mas.”
Ia membuka plastik dan mengeluarkan isinya, “bubur kacang ijo spesial ….”
“Wah!” Mata Ghufron berbinar saat melihat bubur kacang hijau favoritnya, “beli di tempat biasa?”
“Iya, dong. Bubur kacang hijau spesial cak Ahmad. Mas mau makan sekarang? Mumpung masih anget.”
“Iya, boleh.”
“Saya siapin dulu, ya. Ada mangkok, Bu?”
Jenar tersenyum karena perhatian Ghufron yang hendak marah padanya berhasil teralihkan. Dengan senang hati ia menuang isi plastik bening itu ke dalam mangkok yang diberikan oleh bu Nuning.
Saat sedang menuangkan santan panas ke atas bubur kacang hijau bercampur ketan hitam dan roti tawar, tak sengaja ia mengenai jarinya sendiri. Sampai harus mengibaskan tangan karena ada sensasi sedikit rasa terbakar. Hal itu tak luput dari pengamatan Ghufron.
“Hati-hati, Nduk.”
Jenar hanya membalas dengan tersenyum dan mengelap tangan dengan tissu. Ia justru menawarkan kepada bu Nuning, “ibu mau bubur kacang hijau? Saya beli 3 tadi.”
“Ibu baru saja makan, Nduk. Kalian makan saja dulu.”
Tidak menjawab ucapan bu Nuning lagi, Jenar membawa mangkok berisi bubur kacang hijau kepada Ghufron. Ia duduk di kursi sebelah brankar, memosisikan diri hendak menyuapi tunangannya itu. Namun, belum juga Jenar menyendokkan bubur, Ghufron sudah menolak, “mas bisa makan sendiri, Nduk.”
“Makan sendiri?” Jenar menunjuk infus yang terpasang di punggung tangan kanan Ghufron. Lalu pandangannya mengarah pada selang transfusi darah yang terpasang di siku kanan dalamnya, “dengan tangan kiri? Apa mas lupa, siapa yang makan dan minum dengan tangan kiri?”
Ghufron menipiskan bibir, dalam hati ia gemas dengan Jenar yang saklek soal aqidah. Sejauh ia mengenal Jenar, gadis itu memang terlalu ribet kalau soal aturan agama. Sebisa mungkin melakukan apapun sesuai syari’at yang ada di dalam al-qur’an dan sunnah.
“Saya suapi, ya?”
“Kenapa malu? Nggak malu-maluin, ya, Bu?” Jenar pun ikut menatap bu Nuning. Sedangkan bu Nuning hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.
Jenar mulai menyuapkan satu sendok bubur kacang hijau kepada Ghufron. Walau menahan malu, tapi ghufron menikmati suapan demi suapan bubur kacang hijau yang terasa lebih enak dari biasanya itu. Kalau boleh jujur ia merasa bahagia dari lubuk hati terdalam bisa merasakan disuapi oleh gadis pujaan hatinya.
“Enak, Mas?”
“Lebih enak dari biasanya, Nduk. Apa karena disuapin kamu, ya?”
Jenar hampir tidak bisa menahan senyum malunya. Ia harus menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memanas. Dalam keadaan sakit saja, Ghufron masih bisa menggodanya. Tapi Ghufron memang tidak terlihat seperti orang sakit. Bicaranya tetap lantang, gerakannya tetap bugar.
“Sakit nggak, sih, Mas?” Jenar menunjuk selang untuk memasukkan darah yang terpasang di siku bagian dalam Ghufron, “sepertinya bengkak, ya, Mas?”
“Sakitnya pas kemarin dipasang aja, sih, Nduk. Kalau sekarang nggak sakit.”
“Hari ini sudah diperiksa belum darahnya?”
“Sudah dua kali malah, sampai mati rasa aku sama jarum. Sejak kemarin ditusuk-tusuk terus diambil darahnya,” gerutu Ghufron setelah menelan makanan.
“Jangan gitu, dong, Mas. Biar cepet sembuh, kan?”
Bubur kacang hijau di dalam mangkok telah tandas, berpindah ke perut Ghufron. Baru saja Jenar selesai mencuci mangkok dan tangan, pintu kamar diketuk lalu dibuka dari luar. Beberapa orang berpakaian serba putih masuk ke dalam kamar seraya menyunggingkan senyum.
“Assalamu’alaikum, wah! Ada yang baru saja makan, nih?” Ucap dr. Chandra seiring langkahnya mendekat ke tempat Ghufron yang kini telah berbaring.
“Wa’alaikum salam ….” Jawab semua orang hampir bersamaan.
“Bagaimana? Apa yang dirasakan sekarang?” dr. Chandra mengambil catatan rekam medis yang disodorkan oleh seorang perawat, membuka lembar demi lembar dengan teliti. Jadwal visit dokter seperti ini biasanya digunakan untuk memeriksa pasien secara keseluruhan.
“Rasanya pengen pulang, dok. Dulu saya pengin banget tiap hari datang ke rumah sakit, tapi sekarang sudah berubah pikiran, dok.”
dr. Chandra tertawa kecil, “kamu tidak lantas menyerah jadi dokter, kan? Jangan-jangan karena sakit, kamu jadi berubah pikiran tidak mau jadi dokter lagi.”
“Kalau itu tentu tidak, dok. Insyaalloh saya masih ingin jadi dokter yang istiqomah.” Jawab Ghufron penuh percaya diri.
“Bagus.” dr. Chandra memberikan rekam medis kepada perawat lalu memeriksa infus dan selang transfusi, “bengkak, ya? Tapi nggak pa-pa, jangan banyak gerak tangannya, ya!”
Dr. Chandra mengambil senter kecil dari saku jasnya, meminta Ghufron untuk membuka mulut. Ia melakukan beberapa pemeriksaan menyeluruh, termasuk menyisir rambut Ghufron dengan jari dan meneliti warna kuku jari tangan dan kaki pasiennya. Kemudian memberi catatan pada rekam medis untuk dilakukan observasi lanjutan.
"Usahakan jangan sampai ada luka dulu, ya. Kalau sikat gigi ganti pake sikat yang bulunya lembut. Jangan sampai gusinya luka."
Bukan tanpa alasan dr. Chandra mengatakan hal itu, sebab untuk penderita leukimia, luka akan sulit sembuh. Ia pun melihat sudah ada pembengkakan pembuluh darah pada gusi Ghufron.
“Ini kantong ketiga, kan? Hasilnya bagus, kok. Jumlah trombosit hampir mendekati normal. Semangat, ya?”
“Ini bisa dicepetin nggak, sih, dok?” Ghufron menunjuk kantong darah yang menggantung pada tiang. Tetes-tetes cairan warna merah itu memang keluar dengan sangat lambat, “biar cepet masuk semua, gitu.”
__ADS_1
“Sabar, dong. Alloh tidak menyukai sesuatu yang dilakukan dengan tergesa-gesa, kan? Nikmati aja, istirahat yang tenang dulu di sini. Jangan mikir yang lain dulu, fokus sama kesehatan kamu, oke?”
“Dengerin kata dokter, Mas. Nggak usah ngeyel, deh.” Jenar menyela perbincangan Ghufron dan dr. Chandra.
“Eh! Saya sebenarnya penasaran, kalian ini pacaran atau-” dr. Chandra menggantungkan kalimatnya sambil menatap Ghufron dan Jenar bergantian.
Bu Nuning yang sejak tadi tidak beranjak dari sofa, melihat semua yang terjadi di dalam kamar itu tapi diam saja. Kini ia unjuk suara, “insyaalloh Jenar ini calon menantu saya, dok.”
“Oh! Begitu rupanya. Kalau dengan dr. Hamzah, kamu ada hubungan apa?”
Ghufron mengernyit, sebab tidak paham dengan nama yang disebutkan oleh dr. Chandra, “dr. Hamzah?”
Jenar menunduk untuk menghindari pandangan menyelidik ghufron. Iya belum sempat menceritakan tentang bantuan Reyfan demi lancarnya proses pengobatan calon suaminya itu. Tapi harus ada yang menjawab pertanyaan dr. Chandra, “ehm … istrinya dr. Hamzah sepupuan sama saya.”
“Oh! Kalau sama pak Reyfan, siapa yang saudaraan?”
Jenar menunduk makin dalam, “kak Reyfan kakak ipar saya.”
“Oh! Ya ya ya.” dr. Chandra menganggukkan kepala dua kali. Ia mengambil alat suntik yang diulurkan oleh perawat, “Ghufron, maaf, ya. Saya ambil sampel darah kamu sedikit.”
“Ambil darah lagi, dok?” Ghufron menunjukkan mimik wajah tidak suka.
Tapi dr. Chandra menjawab dengan tersenyum, mengoleskan cairan alkohol ke lengan kiri Ghufron, lalu menyuntikkan jarum suntik untuk mengambil sampel darah.
Selama proses pengambilan sampel darah, dr. Chandra bercerita tentang pertemanannya dengan dr. Hamzah. Tentang serunya masa kuliah dan co-asst.
“Saya, Hamzah dan Hadyan itu satu almamater dengan kalian. Jadi kalian harus hormat sama kakak tingkat.” Seloroh dr. Chandra, “ada seorang lagi teman seangkatan saya yang sudah sukses di Jakarta, namanya Birendra. Kamu kalau mau ambil spesialis anak bisa tukar pendapat sama dia.”
Namun mendengarkan cerita dr. Chandra, nyatanya tidak bisa mengalihkan rasa sakit yang dirasakan Ghufron akibat terlalu sering diambil darahnya, “berapa kali lagi harus diambil darah saya seperti ini, dok?”
“Harus dipantau sesering mungkin, karena kita belum bisa menyimpulkan jenis kerusakan sel darah kamu. Makasih, ya.” Ucap dr. Chandra setelah mendapat sampel darah dan menyerahkannya kepada perawat.
“Sakit, ya, Mas?” Tanya Jenar yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Ghufron, “nggak sakit lagi, Nduk. Kebas rasanya tangan mas dari kemarin ditusuk terus.”
“Sabar, Ghuf!” bu Nuning beranjak mendekat ke tempat putranya yang baru saja selesai diperiksa.
Alih-alih menanggapi ucapan ibunya, Ghufron justru menatap Jenar yang terlihat sedih, “kalau saja syari’at kita mengijinkan, rasanya mas ingin peluk kamu, Nduk.”
Jenar mengangkat kepala, membalas tatapan Ghufron. Ia tahu Ghufron mengatakan hal itu pasti karena apa yang dilakukan sejak kemarin. Ghufron pasti ingin berterima kasih karena Jenar selalu asa untuknya sejak divonis sakit sampai saat ini menjalani pengobatan.
“Kalau saja syari’at kita mengijinkan, saat ini saya ingin genggam tangan mas, biar bisa merasakan sakit yang mas rasakan juga. Lalu saya akan membisikkan shalawat tibbilqulub di telinga mas, tanpa melepas genggaman tangan kita.”
Sekuat tenaga Jenar menahan agar matanya tidak mengeluarkan cairan bening. Ia tidak ingin Ghufron melihatnya menangis, ia tidak ingin menurunkan rasa percaya diri Ghufron hanya karena airmatanya yang mentes. Sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa sesak di dalam dada, karena terlalu khawatir dengan keadaan Ghufron.
Ghufron dan Jenar sama-sama tersenyum, tapi siapapun yang melihat mereka tidak akan kuasa untuk tidak berkaca-kaca. Termasuk bu Nuning dan beberapa perawat yang sedang membereskan alat-alat medis. Mereka harus menyusut sudut mata karena terharu. Dr. Chandra pun mengusap bahu Ghufron, bermaksud menguatkan.
“MasyaAlloh … saya seperti sedang menonton film romantis tapi agamis di kamar ini.” Ucap dr. Chandra.
Ia telah menyelesaikan semua rangkaian pemeriksaan terhadap Ghufron. Namun, rasanya enggan keluar dari kamar. Karena baru saja mendapat pertunjukkan menarik tentang dua insan yang saling mencintai, tapi saling bisa menjaga diri dan kehormatan mereka.
“Kalau begitu sekarang bacakan shalawat tibbil qulub untuk mas, Nduk!” Ghufron mengambil ponsel, menyapukan jemari di atas layar sejenak kemudian memberikannya kepada Jenar, “sebelum kamu pulang, biar mas bisa dengarkan setiap saat.”
Jenar mengambil hp yang diulurkan oleh Ghufron, mendekatkan pada bibirnya. Ia menarik napas sejenak sebelum merekam bacaan shalawat tibbil qulub.
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin
Thibbil qulûbi wa dawâ-ihâ
Wa ‘âfiyatil abdâni wa syifâ-ihâ
Wa nûril abshâri wa dliyâ-ihaa
Wa’ala alihi washahbihî wa sallim
“Ya Allah limpahkan rahmat kepada junjungan kami nabi Muhammad Saw. Sebagai obat hati dan penyembuhnya. Penyehat badan dan kesembuhannya. Sebagai penyinar penglihatan mata beserta cahayanya dan semoga rahmat tercurah, limpahkan kepada para sahabat beserta keluarganya.”
Semua yang ada di kamar itu memejamkan mata, termasuk Ghufron. Merasakan suara merdu Jenar masuk ke telinga, mengalir di setiap sel-sel darah, menyebar ke seluruh tubuh sampai ke otak dan jantung. Menyelipkan do’a pada setiap hembusan napas dan detak nadi, dipanjatkan dengan penuh ketulusan hati.
Ya Alloh …
Engkaulah maha menyembuhkan atas segala penyakit, Engkaulah obat dari segala obat. Kami berserah kepadaMu ya Alloh … dari prasangka buruk dan sikap mudah menyerah. Aamiin.
Karena sejatinya tugas manusia di bumi ini adalah berikhtiar dengan sabar dan taqwa. Menerima apapun hasil yang diberikan Alloh dengan ikhlas ....
.
.
.
...Bersambung.......
Assalamu'alaikum ....
Teman-teman readers yang saya cintai dan saya sayangi. Maaf sekali lagi, karena up masih random dan tidak terjadwalkan.😁
Tidak seperti karya saya yang sebelumnya, memang MAMH ini setiap upnya adalah fresh ketikan hari itu juga. Sedangkan saya harus membagi waktu dengan pekerjaan di RL😁.
Kadang sudah selesai diketik, eh! Nggak ada waktu untuk editing😁. Dan saya gak bisa up tanpa edit maksimal. Apalagi kalau prov tetang Ghufron saya harus mengetikkannya dengan sangat hati2.
Part ini saja sudah menguras emosi, makanya saya selipkan cerita manis Aneesha dan Reyfan biar sedikit lumer😁 maaf,ya. Karena menceritakan pengalaman pribadi ternyata menguras tenaga.
Bukan berarti cerita ini nyata, lho, ya. Tetap halu, termasuk tokohnya.😁 Begitulah ....
Oya, untuk teman-teman para pejuang kanker, semangat, ya! Seperti kata dr. Chandra, nikmati setiap prosesnya. Semoga menjadi jalan gugurnya dosa melalui sakit yang dirasakan. Terus berjuang, insyaalloh Alloh telah menyiapkan hadiah terbaik😍🤗🤗.
Bab selanjutnya, jangan ditunggu. Kejutan aja, ya😁. Saya mau edit sinopsis sama cover dulu. Kemarin dikritik sama mas editor, katanya nggak sesuai isi cerita. okelah, Mas. kita ganti cover sama sinopsis dulu ya😁
Sekian, wassalamu'alaikum....
__ADS_1
Salam hangat,
Desi Desma/La Lu Na.