
🌵Bukan cinta yang salah, tapi kecenderungan hasrat yang tak terbendung bisa jadi justru mengacaukan semua rencana yang tertata rapi.🌵
Langit di atas rumah joglo berhalaman luas tampak bersih. Semburat kekuningan perlahan hilang, menandakan sang surya telah terbenam di balik peraduan. Suasana cukup tenang, setenang embusan angin yang tidak mengusik dedaunan. Binatang malam pun hanya bersuara lirih, seolah semua makhluk sedang menghayati waktu pergantian hari.
Hara turun dari mobil seraya membuang puntung rokok ke tanah. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan. Berkali-kali ia melakukan relaksisasi guna menetralkan degup jantung yang tidak beraturan.
Perlahan ia merogoh saku jaket, mengambil botol kecil berisi cairan warna kecoklatan. Ia menenggak isi botol itu sedikit, mengernyit, merasakan sensasi pengar saat minuman itu masuk ke tenggorokan. Hara diam sejenak, menunggu reaksi ketenangan semu dari minuman itu pada otaknya. Setelah itu, ia memasukkan kembali botol kecil ke saku, lalu berjalan menuju rumah joglo yang terang karena semua lampunya telah menyala.
Ia berhenti sejenak di depan pintu berwarna coklat-khas kayu-yang tertutup rapat. Tangan Hara sudah terangkat, hendak mengetuk. Namun, ketika mendengar lamat-lamat suara setengah serak sedang melantunkan ayat suci dari ruangan sebelah kanan, ia mengurungkan niat. Ia lalu mengubah arah langkah, menghampiri ruangan yang merupakan bangunan baru hasil renovasi beberapa waktu yang lalu.
Hara berhenti tepat di depan jendela kayu yang terbuka, ia mencondongkan badan melongok ke dalam ruangan. Nampak seorang pria sedang membaca kitab suci dengan khusyuk, walau terbata bahkan sesekali berhenti, tapi suara itu cukup menenangkan hati.
Hara membalikkan badan, bergeser sedikit dari bingkai jendela, kemudian menyandarkan punggung pada dinding kayu. Ia mengeluarkan rokok dari saku jaket, segera menyulutnya. Sambil memejamkan mata, ia menikmati setiap hisapan sambil mendengarkan suara lirih dan terbata Irkham yang sedang mengaji. Suasana yang tenang, tak ayal menghadirkan kedamaian perasaan yang tadi sempat kalut.
Tak lama kemudian, pintu yang terletak tak jauh dari tempat Hara berdiri terbuka dari dalam. Pintu kayu yang merupakan akses masuk dari belakang rumah itu, berderit. Setelah itu muncul seorang perempuan yang memakai jaket hoodie warna abu dipadukan dengan jilbab kaos warna hitam. Sambil menghirup aroma minuman dalam cangkir yang dibawa, gadis itu berjalan melewati pintu. Saking asyiknya menikmati aroma minuman yang menguar dari kepulan uap panas, Jenar tidak menyadari kehadiran Hara. Dengan santai ia menuju ke gazebo di sebelah kiri, paling dekat dengan rumah utama.
Jenar meletakkan cangkir berisi kopi panas, lalu naik ke gazebo. Sambil bersandar di tiang bambu, gadis itu meluruskan kaki, lalu menggumamkan asmaul husna secara lirih. Ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru dan terhenti di depan ruangan yang semua dindingnya terbuat dari kayu. Embusan napas panjang terdengar dari hidungnya, saat ia melihat sosok Hara berdiri di sana. Terlintas dalam benak tentang peristiwa semalam, ungkapan cinta yang membuatnya menangis semalaman hingga hampir pagi.
Senyum tipis tersungging di bibir Hara, kala tak sengaja tatapan matanya bertemu dengan manik kecoklatan tajam milik Jenar. Hanya sesaat, tapi mampu menggetarkan hati yang dengan susah payah ia kuatkan. Dengan menarik napas panjang, pria itu beranjak, meninggalkan suara merdu menenangkan hati yang hampir membuatnya terlena. Ia berjalan mendekati gadis yang berhasil membuatnya tidak bisa tidur semalaman, bahkan telah menyita akal sehatnya. Seharian hanya wajah gadis ini yang ada di pikiran, sampai tidak sabar rasanya ingin segera bertemu. Ia ingin tahu apa reaksi Jenar akan ungkapan cintanya, setelah semalam gadis itu meninggalkannya begitu saja masuk ke rumah.
“Hai!” baru kali ini Hara menyapa seseorang secara basa-basi, sebab belum menemukan kata-kata yang tepat untuk memulai obrolan.
Jenar tidak menjawab, hanya menarik kaki, lalu menyilangkannya. Melihat itu Hara mengusap tengkuk, sungguh merasa canggung. Pria itu duduk di tepi gazebo, sengaja membentuk jarak dengan Jenar. Ia menengadah, memandang langit yang masih menyisakan sedikit semburat sinar matahari, belum sepenuhnya kelam.
Selama beberapa menit, tidak ada satu pun di antara keduanya yang bersuara. Mereka saling diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Banyak hal yang ingin disampaikan oleh Hara, tapi bingung dari mana harua memulainya. Sementara Jenar tidak punya niat membuka obrolan, sebab masih terlalu terkejut dengan pernyataan cinta Hara semalam. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap pria itu sekarang.
Hara mengambil sebungkus rokok dan korek api dari saku celana, mengambil sebatang, lalu menyelipkannya di antara telunjuk dan jari tengah. Ia melihat ke arah Jenar sebelum menyalakan rokok. Gadis itu terlihat tenang dengan bibir terus bergerak, layaknya seorang yang sedang bergumam tanpa suara. Sejenak Hara diam, memerhatikan Jenar sambil memainkan rokok dengan jemari. Saat itulah sebuah ide untuk memulai obrolan terlintas dalam benak.
Hara berdehem sebelum membuka suara, bermaksud untuk menarik perhatian Jenar. “Saya tidak apa-apa merokok di sini?” tanya Hara basa-basi setelah melihat Jenar menoleh ke arahnya.
Jenar mengangguk tanpa jawaban. Membuat Hara menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan.
“Kamu tidak keberatan saya merokok di sini?” Hara mengulang pertanyaan, “Barangkali kamu tidak nyaman dengan asap rokok.”
Jenar mengernyit, berkata ketus tanpa menatap Hara, “Merokok saja, tidak perlu tanya apakah saya keberatan atau tidak. Bukankah biasanya juga begitu?”
Hara tersenyum simpul, sikap Jenar sangat berbeda dari biasanya. Gadis yang biasanya kalem itu, kini ketus. Sudah pasti akibat ungkapan cintanya semalam.
“Kamu marah sama saya?” Hara urung menyalakan rokok, memilih mulai membuka pembicaraan meski sikap Jenar tidak menyenangkan.
Jenar mengambil cangkir, menghirup aroma kopi yang menguar sejenak, lalu menyesapnya.
“Soal semalam saya--” Hara menatap intens Jenar sebelum melanjutkan kalimatnya.
Jenar membuang napas, memainkan jari pada bibir cangkir berisi kopi. Gadis itu menatap Hara sejenak hanya untuk menebak lanjutan kalimat pria itu, “Bapak mau minta maaf soal semalam?”
Hara mengangguk, tidak menampik tebakan Jenar. Hal itu membuat Jenar tersenyum simpul, apa yang ia perkirakan ternyata benar.
“Sudah saya duga, pasti semalam Pak Hara sedang mabuk. Jadi tidak bisa mengontrol apa yang bapak katakan. Iya, kan? Sama seperti sekarang, Pak Hara juga-” Jenar sengaja menggantung ucapannya.
“Mabuk? Siapa yang mabuk?” Hara mengernyitkan dahi.
Jenar tidak menjawab, justru menangkup cangkir dengan kedua tangan, lalu menyesap kopi dengan tenang. Sementara itu, Hara menatap gadis di sampingnya sambil berpikir.
“Kamu mengira saya sedang dalam pengaruh alkohol semalam, saat saya menyatakan cinta padamu?” tanya Hara begitu pikirannya mengerucut.
Jenar mengangguk, masih dengan menangkup cangkir berisi kopi yang terasa hangat di telapak tangannya.
“Makanya tadi Pak Hara minta maaf, karena khawatir saya salah paham, kan?” Jenar melirik Hara sekilas sebelum memberi pernyataan, “Tenang saja, Pak. Saya tidak akan salah paham, kok. Anggap saja semalam tidak terjadi apa-apa.”
Hara mengernyit lebih dalam, lalu membuang napas kasar.
“Segampang itu kamu bisa melupakan ungkapan cinta dari seorang pria, Jen? Padahal bagi saya, semalam adalah peristiwa pertama kali dalam hidup yang tidak akan pernah terlupakan.” ungkap Hara diakhiri dengan senyum miris.
Jenar bergeming, seolah ucapan Hara hanya dianggap sebagai angin lalu saja.
“Asal kamu tahu, sekarang ataupun semalam, saya tidak sedang mabuk. Saat menyatakan cinta padamu, justru saya dalam keadaan sadar seratus persen.” lanjut Hara dengan penuh penekanan.
Jenar mengecimus, “Napas bau alkohol begini, masih tidak mau mengaku kalau sedang mabuk.”
“Sekarang memang saya habis minum, tapi semalam tidak. Perlu kamu tahu lagi, tidak semuanya orang yang minum alkohol bisa sampai mabuk. Sebotol kecil wine tidak akan membuat saya kehilangan akal sehat.” sahut Hara yang mendengar ucapan lirih Jenar.
Jenar menghela napas, lalu membuang pandangan jauh ke depan melewati rimbunan pohon bambu. Hamparan sawah terlihat samar di bawah terang sinar bulan purnama. Kelap-kelip lampu dari kejauhan nampak laksana taburan bintang bertebaran menghiasi gunung merapi dan merbabu. Malam dengan suasana yang tenang, tak serasi dengan gemuruh yang bersuara dari hati gadis berlesung pipit di kedua sisi pipinya itu.
Hara mengambil botol kecil dari saku jaketnya, menegak minuman keras untuk meredam segala emosi yang berputar di pikiran. Meskipun dia bukan pemabuk yang selalu menyelesaikan masalah dengan alkohol, tapi tidak dapat dimungkiri jika minuman itu selalu bisa membuatnya lebih tenang.
“Sebenarnya saya datang untuk meminta jawaban,” ucap Hara setelah menutup botol yang telah kosong karena isinya habis diminum.
“Jawaban?” Jenar mengulang pertanyaan Hara tanpa menatap ke arah pria itu.
“Walau saya sudah bisa menebak, tapi tetap saja ingin mendengar jawaban langsung darimu,” Hara melirik gadis yang sedang khusyuk menatap pemandangan malam.
“Maksudnya?” Jenar menoleh ke samping kanan dengan dahi berkerut.
“Kamu juga punya perasaan yang sama dengan saya, kan?” tebak Hara langsung.
__ADS_1
Jenar berdecak, kembali mengubah pandangan ke arah depan. Hal itu justru membuat Hara tersenyum penuh kemenangan.
“Tidak perlu mengelak, mengakulah!” perintah Hara.
“Sok tahu,” Jenar mengecimus, lalu mengangkat cangkir dengan satu tangan. Gadis itu perlu menyesap kopi untuk meredakan detak jantung yang mulai menghentak kencang karena tebakan Hara yang tepat sasaran.
“Ayolah, Jen! Tidak mungkin Tuhan mengatur pertemuan dan kebersamaan kita seperti ini, jika Dia tidak punya rencana.” ucap Hara sarkas.
“Tidak ada seorang manusia pun yang tahu tentang rencana Tuhan, Pak.” jawab Jenar ketus.
Hara menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. Aroma alkohol menguar, membuat Jenar sontan mengangkat cangkir lebih dekat ke hidungnya.
“Apapun yang kamu katakan untuk mengelak, yang pasti saya sudah tahu jika perasaan kita sama. Terserah kamu saja, mau menyikapi seperti apa hubungan kita ini,” Hara ikut melayangkan pandang ke depan, pemandangan yang sama dengan yang dilihat oleh Jenar.
“Memangnya saya harus bersikap seperti apa? Pak Hara pikir setelah ini, hubungan kita akan berbeda begitu?” tanya Jenar.
“Sudah pastilah. Bagaimana mungkin hubungan kita tetap biasa saja, sedangkan sama-sama tahu tentang perasaan yang tersimpan dalam hati?"
Jenar tersenyum kecil, “Jangan berharap banyak, Pak. Tidak akan ada yang berubah antara kita.”
Hara menoleh cepat, ingin mencari keraguan yang tersirat di wajah Jenar. Namun, gadis itu tetap bergeming tanpa mengubah arah pandang. Seperti terlalu yakin dengan ucapannya.
“Saya tidak ingin terjebak dalam perasaan sesaat yang justru akan menyesatkan,” Jenar membuang napas, menoleh ke samping sejenak, lalu menunduk.
“Jadi kamu menganggap saya main-main, Jen? Kamu pikir perasaan saya terhadap kamu tidak sungguh-sungguh? Ungkapan cinta itu hanya basa-basi?” Hara memiringkan kepala, menunggu jawaban Jenar.
Jenar mengangguk lemah. Sebagai seorang anak kedua yang sangat disayangi oleh keluarga, tentu saja dia tidak mudah percaya pada mulut manis seorang pria. Apalagi setelah gagal menikah, dia sudah menata hati untuk tidak mudah jatuh cinta kepada sembarang pria.
“Bagaimana cara membuktikan kesungguhanku?” tanya Hara benar-benar ingin tahu.
Jenar mengangkat bahu, ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan seorang pria untuk meyakinkan hatinya.
Hara menengadah. Baru kali ini ia merasakan sulitnya berkomunikasi serius dengan seorang gadis. Ternyata setelah bersusah payah mengungkapkan cinta, ia tidak segera mendapat jawaban seperti yang diharapkan. Semua diluar dugaan, urusan cinta ternyata lebih rumit dari urusan pekerjaan yang paling rumit sekalipun.
“Sudah malam, sebaiknya Pak Hara pulang.” kata Jenar tiba-tiba, setelah ia dan Hara hanya saling diam.
“Wah! Sudah berani ngusir, nih.” gerutu Hara, memutus pandangan dari langit malam yang cerah.
“Bukan bermaksud ngusir, tapi Pak Hara yang harus tahu diri.” ketus Jenar.
“Saya ini tamu, loh. Nggak ditawarin minum, dibikinin kopi atau teh gitu, malah diusir.” Hara kembali menggerutu.
Jenar mendengkus, “Sejak kapan saya harus menawarkan minum pada orang yang setiap saat bisa datang tanpa diundang?”
Hara segera menghentikan tawa. Dilihatnya Jenar yang sedang menikmati kopi. Dalam hati ia membatin, baru pertama kali ini ia bertemu dengan seorang gadis yang berhasil membuat hatinya berdesir. Ingin rasanya berlama-lama duduk di sampingnya lalu menelusuri setiap inci wajah manis gadis itu.
“Disuruh pulang malah lihatin saya,” cetus Jenar.
“Kopi itu sepertinya enak banget,” ungkap Hara spontan.
"Mau? Tinggal ampasnya, nih!" Jenar menyodorkan cangkir kepada Hara.
Hara tersenyum penuh arti, "Nggak punya niat bikinin yang baru gitu? Biar saya bisa lebih lama lihat wajah cantikmu," ujar Hara tanpa melepas pandangan dari Jenar.
Jenar membelalakkan mata, lalu menunduk menyembunyikan wajahnya yang reflek merona mendengar ungkapan Hara.
“Perasaan dulu waktu kamu pakai seragam SMA nggak secantik ini, deh. Sekarang kelihatan beda, apa karena-” Hara belum sempat melanjutkan kalimat, ketika Jenar menutup mulut tanda sedang menahan tawa.
“Nggak usah dilanjutin gombalnya, mending buat ngelap kaca jendela saja.” ucap Jenar setelah bisa mengendalikan perasaan yang campur aduk.
“Maksudnya ngelap kaca jendela kamar kamu, sambil lihatin kamu gitu, ya?” jawab Hara sambil menggerakkan alisnya.
“Alloh! Ini orang mabuk beneran kayaknya. Besok lagi kalau mau ke sini jangan sambil minum alkohol, biar nggak jadi aneh gini." Jenar menggeleng.
“Tahu aja kalau saya lagi mabuk cintamu,” Hara makin tidak terkendali, entah dari mana ia mendapat kosa kata yang selama ini belum pernah ia ucapkan.
Jenar menarik jaket Hara bagian lengan sambil berdiri, “Pulang saja, deh. Sebelum Pak Hara makin ngelantur. Saya nggak mau, ya, Pak Hara pingsan di sini karena mabuk.”
“Kenapa, sih, pengen banget saya pulang? Takut ketahuan kalau kamu juga sedang jatuh cinta sama saya, ya?” Hara mendekatkan kepalanya pada Jenar.
Spontan Jenar menggeser duduk sambil menarik jilbab untuk menutup hidungnya, sebab tidak suka dengan bau alkohol yang keluar dari mulut pria itu. Hara segera menarik diri, menyadari sikap Jenar. Ia sejenak lupa, jika gadis di sampingnya tidak suka dengan bau alkohol.
“Saya akan pulang, tapi kamu harus jawab dulu satu pertanyaan.” Hara mengacungkan telunjuknya.
“Oke, pertanyaan apa?” Jenar harap-harap cemas dengan pertanyaan yang akan diajukan oleh Hara, tapi ia berusaha tenang.
“Just one! Apa hubungan kita sekarang, pacar, kekasih, atau pasangan? Saya mau jawaban selain teman.”
Hening sejenak. Hara berusaha keras mengendalikan detak jantung yang terlalu kencang, sedangkan Jenar sedang memikirkan jawaban masuk akal tentang pertanyaan Hara.
“Pak Hara tidak mau berteman dengan saya?” tanya Jenar basa-basi, padahal dia sudah tahu jawabannya dari sikap Hara.
Hara menggeleng, “Jika saya hanya ingin berteman denganmu, malam ini saya tidak akan datang kemari. Jawablah! Agar saya bisa menentukan sikap selanjutnya.”
“Baik. Saya akan jawab, tapi Pak Hara harus menerima apapun jawaban saya.” kata Jenar.
__ADS_1
“Oke.” Hara menegakkan badan, menunggu dengan tidak sabar.
“Hubungan kita sekarang, besok dan selanjutnya adalah … habluminannass!” jawab Jenar dengan menekankan kata terakhir.
Hara mengernyit, tidak tahu apa yang dimaksud oleh Jenar. Ia baru akan mengeluarkan pertanyaan, tapi Jenar sudah beranjak. Gadis itu turun dari gazebo, lalu memakai sandal dengan tergesa.
“Karena sudah saya jawab, jadi Pak Hara harus pulang sekarang!” cetus Jenar.
Hara berdiri, menarik tangan Jenar sebelum gadis itu melangkah pergi.
“Tunggu! Saya tidak puas dengan jawabanmu, apa itu artinya?” tanya Hara serius.
“Coba Pak Hara cari sendiri, atau bisa tanya pada Gus Hafidz.” jawab Jenar seraya menghempaskan tangan Hara yang memegang pergelangannya.
Hara melepas tangan Jenar, tapi menggeser badan menghalangi agar gadis itu tidak bisa pergi.
“Beneran pengin saya pulang?” tantang Hara.
“Memangnya saya kelihatan sedang bercanda?” Jenar balas menantang.
“Nanti kalau kangen gimana?” Hara menaik-turunkan alisnya.
Jenar tertawa kecil, “Jangan kepedean, saya tidak akan kangen.”
“Kalau saya yang kangen?” Hara ganti bertanya.
“Itu urusan bapak, bukan urusan saya.” jawab Jenar tegas.
“Bagaimana kalau kamu bikinin saya kopi dulu, biar bisa pulang dengan tenang. Paling tidak ada rasa kopi yang tertinggal, selain wajah kamu yang hanya bisa saya bayangkan.” Hara mendesak.
Jenar kembali tertawa kecil, “Ini kenapa jadi pintar gombal gini, sih? Sudah sana pulang!”
Jenar sudah hendak melangkah, tapi Hara mencegah lagi.
“Ada cara lain agar saya bisa menikmati kopi bikinanmu.”
Jenar mengernyit, yang Hara katakan semakin aneh. Pria itu tiba-tiba mendekatkan wajah, mengulum bibir Jenar tanpa aba-aba. Hanya sekitar dua detik, tapi berhasil membuat hatinya membuncah. Ia merasa memiliki dunia seisinya, dengan padang rumput hijau yang luas dan bunga-bunga bermekaran. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahagia tak terkira setelah mencium seorang gadis.
Jika Hara merasa sangat bahagia, tidak sama halnya dengan Jenar. Gadis itu sangat terkejut mendapat kecupan spontan dari Hara. Jantungnya bergedup kencang, aliran darah terasa cepat, seluruh tubuhnya menghangat lama kelamaan menjadi panas. Ia pun kesulitan mengatur napas yang menderu, membuat tangannya yang sedang memegang cangkir menjadi tremor.
“Kopimu enak, padahal aku hanya mencicipinya sedikit.” ujar Hara seraya menjilat bibirnya sendiri.
Jenar meradang, amarah pun memuncak di dalam dadanya. Ia mengangkat tangan yang terus bergetar, melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Hara. Tak cukup itu saja, ia pun menyiram sisa ampas kopi ke wajah pria yang telah berlaku kurang ajar padanya itu.
Hara tidak menyangka akan mendapat siraman ampas kopi dan tamparan dari Jenar. Ia mengusap wajah, hendak marah. Dilihatnya Jenar yang sedang berjalan mundur sambil mengatur napas. Cangkir kosong yang semula dipegang Jenar telah jatuh ke tanah. Saat itu, ia menyadari sesuatu.
“Jenar?” panggil Hara kepada gadis yang kini sedang memegang kepalanya sendiri.
Jenar tidak menjawab, hanya terus berjalan mundur. Gadis itu mulai tidak bisa mengendalikan diri, ia terus menggeleng, matanya pun telah berair. Baru saja Hara maju dua langkah, Jenar telah lari tunggang langgang masuk ke rumah.
“Jenar!” teriak Hara, kemudian mengejar Jenar.
Suara pintu ditutup dengan kasar, terdengar keras ketika Hara memasuki rumah dari pintu belakang. Pria itu mengikuti arah sumber suara, mendekati sebuah kamar. Hara berdiri di depan pintu kamar, menunggu sejenak, lalu mengetuk pintu.
“Jenar? Kamu di dalam? Jawab saya!” seru Hara.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar, sampai Hara mengulangi mengetuk pintu lagi. Namun, sampai beberapa kali ketukan tetap tidak ada jawaban. Hara berhenti mengetuk, lalu mendekatkan telinga ke daun pintu yang tertutup rapat. Samar-samar terdengar isak tangis dari dalam. Suara yang membuatnya makin sadar, bahwa telah melakukan kesalahan yang teramat fatal.
Hara membuang napas seraya membalikkan badan, lalu menyandarkan punggung pada daun pintu. Suasana tiba-tiba terasa sangat hening, hingga isak yang tadinya hanya terdengar samar-samar kini menjadi makin jelas.
“Maafkan saya …,” ucap Hara lirih, hampir terdengar hanya untuk dirinya sendiri.
Selama beberapa saat Hara tidak bisa berkata apa-apa, ia sangat sadar atas apa yang dilakukannya telah melukai Jenar. Isak tangis yang terdengar dari balik pintu kamar, terasa seperti sembilu menyayat hati. Perasaan yang tadi sempat dipenuhi bunga warna-warni bermekaran, kini layu seketika.
“Saya tahu kamu sangat marah, tapi bisakah kita bicara sebentar?” ucap Hara memecah keheningan suasana.
“Saya hanya ingin tahu keadaanmu saja. Saya perlu memastikan kamu baik-baik saja,” lanjut Hara.
Namun, tetap tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar. Sunyi makin merajai, perih pun kian terasa di dalam hati, seolah sembilu semakin dalam menusuk kalbu. Tak ada lagi yang bisa Hara lakukan, selain menunggu Jenar membuka pintu yang sepertinya tidak mungkin terjadi. Gadis itu sudah pasti sangat kecewa karena perlakuan Hara. Kekhilafan yang merusak segalanya, tindakan tanpa pikir panjang yang membuyarkan semua rencana. Kini yang tersisa hanya rasa kecewa, entah apakah dia masih bisa memperbaiki keadaan, atau justru menambah runyam hubungan.
Suara derap langkah kaki terdengar, membuat Hara mengangkat kepala. Nampak sosok pria berdiri di hadapannya dengan ekspresi wajah tak terbaca. Pria itu berkata pelan kepada Hara, “Bali wae sak durunge Mas Faiz karo Mbak Nanda rene."*
...***...
*Pulang saja, sebelum Mas Faiz dan Mbak nanda datang.
Assalamu'alaikum temen-temen, lama sekali tidak berjumpa, ya? Semoga temen-temen semua selalu diberi kesehatan, keselamatan, dan kelancaran rejeki barokah aamiin.
Masih suasana lebaran, ya? Ijinkan saya meminta maaf lahir batin atas segala kesalahan, kekhilafan, chat yang tidak dibalas, komentar yang terabaikan dan semuanya baik saya sengaja atau tidak.
Terima kasih untuk yang masih setia menunggu chapter lanjutan cerita ini, padahal saya sering menghilang tanpa kata😁. Semua tidak disengaja, hanya situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, mohon dimaafkan. 🙏
Selamat hari raya idul fitri 1444H, taqoballohu minna wa minkum, taqobal ya karim.
Yang masih di kampung halaman, selamat menikmati liburan. Nanti kalau balik hati2 di jalan. Yang sudah beraktifitas, semoga diberi kelancaran. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Alloh, Aamiin.
__ADS_1