Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
82. Heart Beat


__ADS_3

🌵Saat engkau merasakan debaran tak biasa, khawatir berlebihan, atau terlalu memikirkan seseorang … hati-hati! Bisa jadi benih cinta sedang disemai dalam hati.🌵


Hara


Kupandangi langit malam Yogyakarta yang kelam tanpa bintang. Hawa dingin menembus kulit meski telah memakai jaket tebal. Kuhisap rokok dalam-dalam, menahan asap di laring, membuka mulut, kemudian mendorongnya dengan lidah, hingga membentuk beberapa huruf O mengudara. Kuperhatikan kepulan asap itu hingga memudar disapu angin, lalu hilang.


Masjid besar di depan pondok ini telah sepi sejak beberapa waktu yang lalu. Sebagian besar santri telah beristirahat di kamar masing-masing. Kyai Ali dan Gus Hafidz yang tadi kujemput di tempat pengajian pun telah masuk ke rumah. Malam sudah sangat larut, tapi aku belum ingin menyudahi sesi melamun sambil memandang langit. Ada yang mengusik pikiran, sejak pulang dari Magelang tadi sore.


Potongan-potongan kejadian di rumah Aneesha kembali berputar dalam benak. Suara tawa riang Jenar saat menertawakan Lion karena takut kaki seribu, jemari lincahnya memasang umpan di kail, dan wajah berbinarnya ketika Naufal berhasil memancing ikan nila berukuran besar. Gadis itu bahkan tidak takut terpapar terik matahari demi menunggu Naufal memancing.


Tanpa sepengetahuanku, Jenar memesan makan siang melalui aplikasi pesan antar. Padahal Lion berkali-kali mengajak kami semua makan di luar, tapi Jenar menolak. Nggak mau ganggu Naufal yang sedang asyik mancing, katanya. Dia menyiapkan jamuan sendiri untuk kami semua, sebagai tuan rumah yang menyambut tamu dengan baik.


Jenar sabar sekali menghadapi Naufal. Mereka berdua terlihat kompak dan akrab, padahal belum lama kenal. Naufal betah seharian main di sana, bahkan sampai susah diajak pulang. Jenar pun seperti sudah biasa merawat anak kecil. Ia telaten mengambil duri-duri ikan saat menyediakan makanan untuk Naufal. Sebab bocah itu ingin makan sendiri.


Bukan hanya itu yang membuatku terus merenung hingga hari telah berganti. Celoteh Naufal saat mendengar suara azan, ‘Om, masjid ngendi? Aku arep salat.’ (Masjid mana? Aku mau salat). Menyadarkanku bahwa tidak seharusnya aku mengajak Naufal pergi terlalu lama, bisa jadi anak itu melewatkan waktu beribadah.


Aku baru hendak berpikir, tapi Jenar sudah menjawab, “Salat di sana saja, bareng-bareng,” Dia menunjuk arah musala kecil di ujung halaman.


Gadis itu membantu Naufal mencuci kaki dan tangan, juga memakaikan sarung. Aku tidak tahu bagaimana caranya Jenar bisa membuat sarung ukuran orang dewasa menjadi pas dipakai anak kecil. Mereka bertiga-dengan Lion-salat bersama. Sebelum kami pulang, mereka juga sempat melaksanakan salat sore bersama.


Naufal memang masih kecil, tapi dia selalu beribadah di masjid tepat waktu. Jika tidak dengan Mas Akmal, bocah itu akan pergi dengan Pak Wawan. Kulihat anak-anak tetangga di lingkungan tempat tinggal Pak Wawan juga seperti itu. Suka sekali pergi ke masjid, begitu mendengar teriakan azan.


Apakah dulu waktu kecil papa juga mengajakku ke gereja? Seingatku hanya beberapakali pergi beribadah bersama papa, itu pun karena mama yang memaksa. Saat natal dan paskah justru mama yang mengantar ke gereja, walau dia hanya menunggu di mobil. Pulang dari gereja kami akan bersenang-senang dengan berkeliling pusat perbelanjaan. Mungkin dulu papa terlalu sibuk bekerja, hingga tidak punya waktu mengajariku agama.


Inikah penyebabnya, sekarang aku menjadi gamang? Ragu dengan keyakinan yang kuanut. Melihat Lion, Jenar dan Naufal salat dengan tenang, saling tertawa setelah keluar dari musala, seperti menyenangkan sekali melakukan ibadah. Perih terasa, tapi aku tidak bisa meraba penyebabnya. Iri, tidak senang melihat orang lain bahagia, cemburu karena Naufal bisa akrab dengan orang lain, atau aku juga ingin seperti mereka?


Hari menjelang pagi, tapi lamunanku belum mengerucut. Seorang pengurus pondok nampak masuk masjid, membungkukkan badan ketika melewatiku. Sebentar lagi seruan untuk membangunkan para santri akan terdengar, tapi aku sama sekali belum ingin beranjak. Samar-samar sudah terdengar gumaman orang mengaji, merdu dan selalu membuatku ingin berlama-lama menikmati suara itu.


Aku mengambil ponsel yang tergeletak di bangku, beriniatif mengirim pesan kepada dia. Bagaimana pun, aku harus segera mengatasi kebimbangan ini satu per satu. Dengan cara segera memulainya, dari hal yang membuat jantungku berdetak tanpa irama.


***


Jenar.


Malas sekali aku bangun pagi ini, badan rasanya pegal dan tulang linu. Setelah melalui hari minggu yang cukup melelahkan kemarin. Biasanya hari mingguku hanya seputar rebahan sambil menonton drama, atau menghabiskan masakan bude Sari setelah mengajar tahfidz.


Namun, kedatangan Naufal membuat hari mingguku menjadi sangat sibuk, tapi menyenangkan. Aku tidak menyangka Pak Hara akan mengajak Naufal datang kemarin, saat aku sedang bingung mencari alasan agar Kak Lion segera pergi. Ide mengajak Naufal memancing, ternyata bisa menahan anak itu agar berlama-lama tinggal. Sebab, aku tidak ingin hanya berdua dengan Kak Lion di rumah, setelah Mas Faiz dan semua pengajar anak berkebutuhan khusus pulang.


Naufal adalah anak yang asyik, pintar dan mudah bergaul. Baru beberapa kali bertemu, kami langsung akrab. Dengan Kak Lion yang baru sekali bertemu pun, Naufal juga bisa mengakrabkan diri. Anak itu memang luar biasa.


Seberat apa pun, kewajiban sebagai umat muslim harus ditunaikan. Meski malas, aku tetap bangun untuk salat subuh. Mandi pagi nyatanya bisa mengusir kantuk dan malas. Seperti biasa aku menggunakan waktu untuk membaca al-qur’an, sambil menunggu saatnya salat dluha. Rutinitas keseharianku, tidak akan keluar kamar sebelum salat dluha.


Sebenarnya yang lebih bersemangat ingin aku sembuh dari trauma ini adalah Pak Hara. Pria itu kemarin sampai bicara dengan nada tinggi ketika aku meminta untuk menunda konseling. Mungkin karena dia yang mencarikan tempat berobat, bersusah payah mendaftarkan namaku, dan membayar juga. Jadi tidak rela jika aku menyia-nyiakan kesempatan. Padahal aku masih sedikit ragu dengan keputusan untuk berobat ini. Takut tidak sesuai harapan, hanya akan menghamburkan biaya saja.


Pukul 08.00 pagi, aku siap berangkat. Sudah kuperkirakan jarak tempuh pas dengan waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke klinik. Namun, ketika aku mengecek ponsel ada sebuah pesan darinya. Aku melihat jam pesan itu sampai, dini hari, tapi baru sempat membukanya sekarang.


‘Saya jemput jam 07.30 WIB, harus sudah siap.’


Pak Hara ini bagaimana, kemarin bilang nggak bisa antar, ini kirim chat katanya mau jemput? Mana telat lagi aku membacanya, dia sudah datang belum, ya?


Aku melongok ke luar melalui jendela, tanpa membalas chat. Nampak mobil Pak Hara terparkir rapi di depan pendopo, entah sejak kapan. Aku mendengkus, seraya menyambar tas, gegas ke luar dari kamar.


Pak Hara nampak duduk di kursi kayu menghadap meja makan, membuat aku berdiri terpaku di depan kamar. Apakah dia sudah lama menungguku? Kenapa Mbak Sayumi tidak memanggilku dari tadi? Ah! Aku lupa, Pak Hara pasti tidak bilang pada Mbak Sayumi jika dia akan menjemputku.


Aduh, sekarang aku harus ngomong apa? Bagaimana kalau Pak Hara marah karena telah menunggu lama, padahal aku benar-benar tidak tahu dia akan menjemput. Saat seperti ini kemampuan otak yang tidak seberapa, harus kupaksa untuk berpikir cepat.


Sambil menggaruk kepala-yang tentu saja tidak gatal-, aku menarik paksa kaki walau terasa berat untuk melangkah. Dengan menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya kasar, aku menghampiri Pak Hara yang sedang mengangkat cangkir. Aku tersenyum, ketika dia melirikku sambil minum kopi.


“Selamat pagi, Pak Hara? Sudah lama?” aku menyapa dengan nada seramah mungkin, tentu agar dia tidak marah karena sudah menunggu lama.


Di luar dugaan, Pak Hara malah tersedak. Dia batuk-batuk, lalu meletakkan cangkir dengan asal menyebabkan sebagian kopinya tumpah. Aku jadi panik, segera kuambil lap, hendak membersihkan meja dari tumpahan kopi. Namun, aku malah menyenggol cangkir hingga isinya tumpah semua mengenai kemeja dan celana Pak Hara.


“Maaf,” ucapku demi melihat Pak Hara mendengkus dan wajahnya nampak sangat kesal.


Aku mengambilkan satu stel celana dan kemeja milik Kak Reyfan, ukurannya hampir sama dengan Pak Hara. Bisa dipakai untuk ganti, dari pada dia memakai pakaian kotor sepanjang hari. Dia sedang membersihkan noda kopi pada kemeja, saat aku kembali dari kamar.


“Ganti saja, Pak. Nanti saya cucikan bajunya yang kotor.” ucapku sambil memberikan baju kepada Pak Hara.

__ADS_1


Dia tidak menjawab, hanya mengambil baju lalu bergegas menuju kamar mandi. Wajah kesalnya masih sangat kentara, juga gerakan tangannya yang kasar saat mengambil baju dari tanganku. Aku hanya bisa menghela napas, sambil membereskan cangkir dan sisa tumpahan kopi di meja makan.


“Saya tunggu di mobil,” ucap Pak Hara sambil berlalu melewatiku yang sedang mencuci tangan di westafle.


Cepat sekali dia selesai ganti baju, padahal aku belum juga mencuci cangkirnya. Aku segera mengelap tangan, menyambar tas, lalu menyusulnya keluar dari pintu belakang. Cukup sudah kesalahan pagi ini, tidak ingin ada yang lain lagi. Tak bisa membayangkan jika Pak Hara terus-terusan kesal, bisa-bisa wajah tanpa ekspresinya itu makin kaku.


Demi membayangkan bentuk papan tulis menjadi wajah Pak Hara, aku sampai menahan tawa sambil melirik punggung tegap yang berjalan di depan. Terlebih saat dia membukakan pintu mobil untukku dengan eskpresi wajah datar sekali, hampir saja aku kelepasan tertawa.


“Mbak Jenar, Hei!” suara Mbak Sayumi berteriak, mengurungkan niatku untuk masuk ke mobil.


Perempuan itu sangat berbeda dengan Pak Hara. Jika Pak Hara nyaris tidak punya ekspresi wajah, maka Mbak Sayumi adalah orang paling ekspresif yang pernah kukenal. Bersama dua orang itu, seperti sedang berada di dua dimensi yang berbeda.


“Arep nandi? Lungo tanpo poyan, ra pamit ra barang!” (Mau kemana? Pergi nggak bilang-bilang, tanpa pamit juga.) Mbak Sayumi bersungut-sungut.


“Mau kuliah, Mbak.” jawabku, tentu saja tidak sepenuhnya berbohong. Sebab, aku memang hendak kuliah setelah selesai konseling nanti.


“Ngapusi (bohong)!” Aku bingung, bisa-bisanya Mbak Sayumi tidak percaya dengan jawabanku. Padahal penampilanku sama seperti biasanya jika hendak pergi ke kampus.


“Kawit kapan Mbak Jenar lungo kampus diterke Mas Pak Hara?” Rupanya Mbak Sayumi curiga karena melihat aku akan pergi dengan Pak Hara. Memang biasanya aku berangkat ke kampus sendiri, maka tidak heran jika dia mengiraku berbohong.


“Tak takon aku, hem?” sentak Mbak Sayumi, meminta penjelasan.


Aku baru hendak mencari alasan, tapi Pak Hara sudah lebih dulu menjawab, “Dia cuma mau bareng sampai kantor pos, Mbak. Nggak mungkin saya antar dia ke kampus, memangnya saya kurang kerjaan?”


Aku meringis, mendengar jawaban Pak Hara yang sangat logis. Mbak Sayumi pun manggut-manggut, semoga dia puas dengan jawaban itu.


“Saya berangkat, ya, Mbak Say. Bisa telat sampai kampus kalau terlewat bus Ramayana.” aku mencium tangan Mbak Sayumi, berusaha membuatnya makin yakin.


“Awas, yo, nek do ngapusi aku!” Mbak Sayumi mengancam jika sampai kami ketahuan berbohong.


Perempuan itu mengangkat telunjuk dan jari tengahnya, lalu mengarahkan pada kedua mataku, mata Pak Hara dan matanya sendiri. Sebuah ancaman, seolah ia sedang mengatakan bahwa ‘kalian dalam pengawasanku!’


Aku masuk ke mobil, Pak Hara teliti sekali memintaku mengangkat kain gamis yang menjuntai. Jika ia membiarkannya, maka ketika pintu ditutup sudah pasti gamisku terjepit dan akan menyebabkan kesulitan begerak, kemungkinan bisa sampai robek.


Jalanan cukup lancar pagi ini, karena jam kantor dan masuk sekolah sudah berlalu. Tidak tahu harus melakukan apa, aku memilih mengambil mushaf dan membacanya. Jika sedang dalam perjalanan, aku sering mengisinya dengan mengaji. Surat At-Thaha hampir sampai di ujung ayat, ketika aku menyadari suasana mobil sangat sunyi. Pak Hara tidak menyalakan audio mobil rupanya.


“Kedinginan?” Pak Hara bertanya sambil mengecilkan AC.


Aku reflek menoleh, hampir terkejut menyadari dia sedang memerhatikanku. Segera kuurai jemari yang semula saling tertaut. Bukan hanya karena dingin, tapi juga sedang berpikir bagaimana cara mengawali obrolan dengan papan tulis kaku ini.


“Karena saya nggak biasa naik mobil pakai AC, Pak.” Beruntung aku segera menemukan jawaban.


“Mau dimatikan?” Pak Hara menatapku.


Aku menggeleng, lalu menoleh ke samping kanan sambil tersenyum. Bermaksud memberi tanda kepada Pak Hara bahwa aku tidak keberatan AC mobil menyala. Namun, dia justru langsung berpaling. Apa dia masih kesal dengan kejadian tadi pagi, hingga tidak sudi melihatku?


Kendaraan di depan mulai bergerak, sebab rambu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau. Setelah memindah perseneleng, Pak Hara memanjangkan tangan kiri, mengambil sebuah kotak yang tergeletak di atas dashboard. Lalu memberikannya padaku, tanpa mengubah fokus penglihatan dari jalan raya.


“Ini apa, Pak? Buat saya?”


Aku melihat Pak Hara mengangguk sebelum menjawab, “Dari Mbak Nabila, sebagai ganti karena kemarin kamu kasih ikan ke Naufal.”


“Wah! Mbak Nabila pakai repot-repot, sih? Ikannya, kan, hasil Naufal mancing sendiri.” aku membuka kotak berwarna hijau muda itu, ternyata isinya adalah … makanan yang selalu kupesan jika Mbak Sayumi beli bubur di warung.


“Mbak Nabila ngerti banget saya belum sarapan,” ucapku demi melihat butir-butir singkong goreng berwarna kecoklatan yang tertata rapi di dalam kotak, “Buatan Mbak Nabila sendiri ini, Pak?”


Pak Hara mengangguk, masih dengan pandangan lurus ke jalan raya, “Tadi masih hangat, karena kamu di kamar terus, sekarang jadi sudah dingin.”


Seketika aku ingat telah membuat Pak Hara menunggu lama pagi ini. Sudah begitu, malah tambah membuat kesal dengan mengotori pakaiannya. Gadis macam apa aku ini? Tidak tahu diri sekali.


Aku menutup kembali kotak berisi cemplon, sepertinya harus mengajak bicara Pak Hara sebagai ungkapan maaf dan terima kasih atas kebaikannya padaku. Membicarakan topik apa, ya? Pekerjaan aku nggak ngerti apa yang dia kerjakan, drama korea yang sedang kuikuti tidak mungkin, gosip artis apalagi, tidak menarik. Ah! Mungkin pemandangan di depan, bisa jadi pembahasan.


“Pak Hara pernah pergi ke Jepang?” Aku menunggu sampai dia mengangguk, baru melanjutkan kalimat, “Apa pemandangannya seperti di sini, Pak?”


Dia menoleh sekilas, sambil mengernyit. Aku segera menjelaskan maksud dari pertanyaanku, “Itu!” aku mengarahkan telunjuk ke depan, “Bunga sakura sedang bermekaran. Saya lihat di instagram, banyak yang bilang Magelang jadi seperti Jepang.”


__ADS_1


Sumber : Suara Magelang


Kami sama-sama diam sejenak, sebelum akhirnya Pak Hara merespons, “Memangnya kamu belum pernah ke sana?”


“Ke Jepang?” aku mengembalikan pertanyaan, lalu melanjutkan kalimat dengan nada menggerutu, “Lihat foto-foto sering, kalau ke sana beneran belum. Jangankan ke luar negeri, Pak. Ke luar pulau saja, saya belum pernah. Pergi paling jauh juga baru ke Jakarta, pun tidak sempat berkunjung ke Monas.”


Aku tahu Pak Hara tersenyum, walau kami tidak saling tatap. Kalau sedang serius menyetir, Pak Hara benar-benar seperti papan tulis; lempeng. Padahal aku sudah berusaha mengajak bicara, tapi dia menanggapi hanya seperlunya saja. Perjalanan masih lumayan lagi, masa iya mau diem-dieman terus?


“Pak Hara sering ke luar negeri pasti, ya? Pernah ke Jepang waktu bunga sakura sedang mekar?” tanyaku benar-benar ingin tahu. Sebab pemandangan yang tersaji di hadapan sungguh indah memanjakan mata.


“Sejak lulus sekolah asrama saya melanjutkan ke Amerika, sama Reyfan. Tiap musim panas, kami ada jadwal liburan keliling asia dan eropa.” Tak kusangka Pak Hara memulai cerita.


“Wah! Senengnya …,” Aku mengembungkan pipi, iri dengan cerita Pak Hara yang pernah tinggal di luar negeri.


“Bunga sakura di Jepang mirip seperti yang ada di kanan kiri jalan ini,” Pak Hara melanjutkan sambil menunjuk pohon yang ditanam di kanan-kiri jalan Magelang.


Aku jadi antusias ingin tahu, “Memangnya ini bukan sakura, Pak?”


“Bukan. Namanya bunga Tabebuya, warna bunganya putih dan merah muda. Tanaman ini diimpor dari Brazil bukan dari Jepang. Di Surabaya juga ada, kan?”


Aku manggut-manggut, baru tahu ternyata selama ini aku salah mengira. Kupikir tanaman ini sama dengan bunga sakura di jepang, ternyata bukan.


“Tanaman ini berbunga dua kali dalam setahun, biasanya bulan maret dan oktober, saat pergantian musim. Mekarnya bunga Tabebuya tidak lama, hanya sekitar dua minggu lalu akan berguguran sendiri. Nah, kalau pas rontok gitu, terus kena angin, bunganya tersebar ke mana-mana, jadi pemandangan yang indah.” jelas Pak Hara.


“Jadi lebih indah pas gugur dari pada waktu bunganya mekar, Pak?” tanyaku penasaran.


“Sama-sama indah. Kalau pas mekar, pemandangan kota jadi seperti di Jepang. Saat sedang berguguran, jalanan tampak seperti karpet bertabur bunga.”


Aku berpikir sejenak sambil menatap ke depan. Jalanan yang kami lalui kiri-kanan berhias pohon dengan bunga berwarna merah muda dan sebagin putih sedang bermekaran. Beberapa bunga jatuh, karena tertiup angin kencang, reflek aku membayangkan betapa indahnya jalanan bertabur bunga Tabebuya.


“Malah bengong?” Aku terperanjat, ketika mendengar pertanyaan dari Pak Hara.


Segera aku memutus lamunan dengan membuka tutup kotak di pangkuan. Aku mengambil satu cemplon, lalu menggigitnya. Gula merah nan manis meleleh di lidah, perpaduan rasa antara gurih dan manis, sempurna menggoyang lidah.


“Kamu nggak puasa?”


Aku menggeleng. Tidak segera menjawab, sebab mulutku sedang penuh. Setelah menelan makanan, baru aku memberi jawaban, “Tadi pagi bangun sudah lewat azan subuh, nggak sempat baca niat.”


Aku menoleh, ingin melihat respons Pak Hara. Tepat saat itu Pak Hara juga sedang menoleh ke arahku, tapi hanya sekilas. Lagi-lagi dia dengan cepat mengubah arah pandang. Aku jadi penasaran, sampai bercermin pada kaca spion. Kenapa Pak Hara sepertinya enggan sekali melihat wajahku? Apakah celak yang kupakai terlalu tebal, atau lipbalm di bibirku terlalu glossy?


Memikirkan hal itu, aku sampai tersedak isi cemplon. Saat kesusahan hendak mengelap tangan yang kotor, Pak Hara menyodorkan sekotak tissu padaku. Belum selesai membersihkan tangan, ia memberikan botol air minum.


“Mbak Nabila yang siapin, belum saya minum sama sekali.” ucapnya, menghilangkan keraguan yang terbersit.


“Terima kasih,” Aku menerima botol, lalu segera meminumnya untuk menghilangkan efek perih di tenggorokan karena tersedak.


Pak Hara mengangguk. Sejak dari rumah sampai jalan Blondo ini, apakah boleh aku mengatakan jika Pak Hara-si papan tulis kaku-menjadi lebih perhatian?


Dia yang tidak menyalakan audio mobil karena aku sedang membaca al-qur’an, mengecilkan AC, agar aku tidak kedinginan. Mau menjawab pertanyaan penuh penasaranku dengan cerita panjang lebar. Bertanya apakah aku tidak puasa karena dengan santai makan cemplon pemberiannya, mengambilkan tissue tanpa kuminta, memberikan air minum padaku yang sedang tersedak. Terlalu percaya dirikah jika aku pikir dia perhatian?


Kadang orang yang tidak seagama dengan kita, justru lebih detail memerhatikan. Sementara, orang yang agamanya sama malah saling menjatuhkan.


Pagi ini Pak Hara beda dengan yang biasanya, lebih manusiawi. Aku tidak sedang bermimpi, kan? Jangan-jangan ini hanya halusinasi saja, karena terlarut melihat pemandangan indah di hadapan. Pohon-pohon Tabebuya sedang berbunga, sepanjang perjalanan di sambut dengan warna pink dan putih yang mempercantik pemandangan.


Tidak, ini kenyataan. Bukan mimpi, apalagi halusinasi. Sebab saat kupegang dada, masih terasa detak. Hanya saja dengan irama yang tak biasa.


.


.


.


Bersambung....


Sebenarnya mau fotoin gambar terbaru pohon tabebuya yang sedang bermekaran di sepanjang jalan Magelang dari perempatan Palbapang sampai Jalan Sarwo Edie Wibowo, juga di daerah shopping. Ternyata prediksi saya salah, tahun ini bunganya mekar terlalu awal. Akhir agustus sudah mulai kuncup, awal september sudah berguguran. Karena saya mager, dan alhamdulillah sedang bergantian sakit serumah,  pas jalan ke kota Magelang, ternyata bunganya sudah rontok, nggak jadi ambil foto, deh. Untung nyari foto terbaru ada di internet. 😉


Ih, ternyata ada yang sama-sama berdebar tapi tidak sadar, euy! Pak Hara beneran nganter Jenar, nih teman-teman. Kira-kira bakal ditungguin konseling sampai selesai terus diantar ke kampus sekalian nggak, ya? Nantikan next chapter ya

__ADS_1


😉


__ADS_2