Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
85. Akibat Salah Kirim


__ADS_3

“Kadang-kadang engkau mendapatkan faedah di kala kelamnya malam, apa yang tidak engkau peroleh faedah di waktu hari terang benderang. Kalian sendiri tidak dapat mengetahui mana yang paling berfaedah bagimu.” (Ibnu Athaillah dalam kitab Mutiara Al-Hikam)


Jenar melirik kesal pria yang sedang mengemudi di sampingnya. Ia sudah menyiapkan pertanyaan, tapi belum punya kesempatan untuk mengemukakan. Sebab, sejak keluar dari tempat parkir minimarket hingga kini mobil telah melaju di jalan ringroad utara, Hara sibuk berbicara dengan seseorang di telepon. Pria itu seolah tidak memedulikan keberadaan Jenar di dalam mobil, juga tidak memberikan penjelasan apa pun tentang bagaimana bisa tiba-tiba datang menjemput.


Jenar merasa tidak enak hati dengan Aina. Terpaksa pulang lebih dulu dan meninggalkan sahabatnya itu bersama orang yang sedang dihindari. Chat dan telepon dari Gus Hafidz saja tidak ditanggapi oleh Aina, sekarang malah harus bertemu dalam situasi yang tidak diharapkan. Entah bagaimana nasib Aina sekarang.


Jenar menghela napas panjang, membuang keinginan untuk bertanya. Sepertinya Hara belum akan mengakhiri panggilan telepon. Pria itu nampak asyik sekali berbicara entah dengan siapa dan membicarakan apa. Hanya beberapa kalimat yang tidak sengaja ia dengar.


“Aku sedang tidak di Jakarta sekarang, tawarkan ke yang lain sajalah.”


“I’m on vacation, now. Aku sedang cuti panjang, ada pekerjaan lain di sini.”


“It’s not your bussiness, kau tidak perlu tahu di mana aku.”


Jenar menghela napas lagi, kali ini lebih kasar sambil membuang pandangan ke arah jendela samping. Hal itu berhasil mengusik Hara dari menanggapi penelpon. Ia menoleh ke samping kiri sejenak, tepat saat harus menginjak pedal rem karena berada pada antrian kendaraan yang sedang berhenti.


“Too young, Lex! You know I don’t play with a girl.”


Hara tertawa kecil, “Oke, send pict! I’ll call you latter.”


Setelah itu, ia melepas earphone karena panggilan telah berakhir. Ia baru sadar jika ada orang lain di dalam mobil yang sejak tadi diabaikan karena terlalu sibuk menanggapi tawaran Alex. Mobil di depannya mulai bergerak, tanda bahwa lampu rambu lalu-lintas telah berubah warna menjadi hijau.


Hara melirik Jenar. Ia sedikit terganggu karena gadis itu khusyuk melihat ke luar, tapi tidak punya ide untuk memulai obrolan. Hingga ia melihat gambar iklan di sebuah papan reklame.


“Kita mampir makan dulu, saya lapar.” ucapnya seraya menekan klakson agar pengendara di depannya segera bergerak. Padahal sebenarnya ia belum lapar, karena baru saja makan di tempat pengajian.


“Saya ingin langsung pulang, sudah malam.” ketus Jenar tanpa mengalihkan pandangan.


“Di depan ada restoran, kamu bisa sekalian salat di sana.” Hara menebak Jenar belum salat, karena terjebak motor mogok dari tadi.


“Baju saya kotor, harus mandi dan bersih-bersih dulu kalau mau salat. Lagi pula isya’ waktunya masih panjang.” jawab Jenar, tetap tanpa mengubah posisi melihat jendela samping. Sepertinya pemandangan di luar lebih menarik dari pada menatap orang yang mengajaknya bicara.


“Memangnya kamu nggak lapar?” Hara ingat waktu ia datang tadi, Jenar dan Aina sama-sama menampilkan wajah lelah. Dua gadis itu pasti telah mengalami kesulitan karena motor mogok.


Jenar membuang napas kasar, menoleh cepat ke arah Hara sambil berkata ketus, “Bisa kita langsung pulang saja? Saya sudah ditunggu di rumah.”


Hara menoleh sejenak, hendak memastikan kesungguhan ucapan Jenar dengan menatapnya. Namun, dua detik kemudian ia sangat menyesali tindakan itu. Sebab, tidak sengaja ia menatap sorot tajam yang sedang mengarah padanya. Bening yang sama dengan yang membuatnya tersedak kopi tadi pagi. Manik kecoklatan itu yang membuatnya salah tingkah selama perjalanan ke dari rumah Aneesha sampai klinik. Juga membuatnya tidak tenang selama mengurus balik nama surat tanah dan segera menyusul ke klinik begitu urusannya selesai.


‘Itu mata atau kristal, sih? Bening banget.’ batin Hara dalam hati. Baru pertama kali ini ia melihat bola mata coklat begitu bening yang memiliki sorot tajam, nyaris membuat jantung lepas dari tempatnya.


Hara berdehem sambil mengerjapkan mata berkali-kali. Berusaha mengembalikan fokus menyetir, meski jantung sedang bertalu tidak beraturan. Ia mencoba mengalihkan perasaan dengan mengambil dan memakai earphone, lalu melakukan panggilan dengan ponsel. Sebab, tidak ingin terlihat salah tingkah hanya karena melihat mata sebening kristal milik Jenar.


“Mbak Sayumi? Jenar pulang telat malam ini, sedang saya jemput karena kehabisan bus dari Yogya.”


“Ya, nanti kalau sudah dekat saya kabari.”

__ADS_1


Mendengar itu, Jenar yang sudah mengalihkan pandangan ke jalan raya, jadi menoleh lagi ke samping kanan. Ia menatap tak percaya pada Hara yang repot-repot menelpon Mbak Sayumi tanpa persetujuannya. Tak berselang lama, Hara telah membelokkan kemudi ke sebuah rumah makan, juga tanpa meminta pendapat darinya. Sungguh, membuat Jenar tidak tahan lagi dengan sikap Hara yang seenaknya sendiri.


“Pak Hara ngajak makan agar saya tidak protes, karena bapak sudah sekongkol dengan Gus Hafidz tadi?” tuduh Jenar, setelah Hara memarkirkan mobil di halaman rumah makan


“Jangan asal tuduh!” sanggah Hara. Tanpa memedulikan Jenar yang sedang menggerutu, ia keluar dari mobil


“Dari mana Pak Hara tahu motor Aina mogok?” tanya Jenar. Ia telah keluar dari mobil, menunggu Hara mengitari mobil.


“Kamu yang kasih tahu,” jawab Hara singkat.


Jenar menggeleng, ingat betul ia tidak memberitahu siapa pun tentang motor Aina yang mogok. Ia hanya mengirimkan chat kepada Pakdhe Teguh.


“Pakdhe Teguh yang suruh bapak jemput saya, kenapa kasih tahu Gus Hafidz juga?” Jenar menyusul Hara yang berjalan memasuki rumah makan, meninggalkannya begitu saja.


“Jangan asal tuduh!” Hara mengulang jawabannya.


“Dari mana Pak Hara tahu motor Aina mogok dan saya sedang menunggu di minimarket?” Jenar bertanya tapi tetap dengan nada menuduh.


“Kamu minta saya jemput karena motor Aina mogok, juga kasih tahu saya sedang di mana.” Hara berhenti ketika baru saja masuk rumah makan, mengamati sekitar untuk mencari tempat duduk yang kosong.


“Selamat malam, Pak? Dine-in untuk berapa orang?” sapa seorang pria berperawakan kurus.


“Dua,” jawab Hara singkat.


“Mari saya antar,” Hara mengangguk, mengikuti langkah pria yang merupakan karyawan rumah makan itu. Sementara Jenar hanya bisa pasrah mengekor langkah panjang Hara.


“Mau makan apa?” tanya Hara.


“Terserah.” jawab Jenar singkat dengan menghempaskan punggung pada sandaran kursi.


Hara memesan dua porsi ayam goreng, lengkap dengan sambal dan lalapan. Ia juga memesan sayur asem, tempe goreng, kopi hitam untuknya dan teh manis hangat untuk Jenar. Hingga makanan tersaji, Jenar betah dalam diam. Gadis itu bahkan belum menyentuh makanan dan minuman sama sekali, padahal Hara sudah mulai makan.


“Agama saya mengajarkan, tidak boleh mendiamkan makanan yang sudah tersaji. Saya pikir islam juga begitu, bahkan lebih baik mendahulukan makan dari pada salat.” sindir Hara dengan mengatakan isi ceramah Kyai Ali yang pernah ia dengar sepintas.


Jenar membuang wajah, meremehkan kalimat Hara yang tidak sesuai dengan maksud hadist sesungguhnya. Sebab ia sangat hafal dengan hadist riwayat imam Bukhari yang mengatakan. ‘Bilamana makan malam telah disediakan, maka mulailah dengannya sebelum kamu sekalian salat maghrib’.


Maksud dari hadist tersebut adalah, jika makanan malam telah tersedia saat terdengar kumandang azan magrib, maka sebaiknya dahulukan makan. Karena dikhawatirkan jika mendahulukan salat, maka akan mengurangi khusyuk akibat perut lapar dan memikirkan makanan. Namun, Hara juga tidak sepenuhnya salah, apalagi dia hanya mendengar sekilas dan tidak mempelajari isi hadist secara keseluruhan.


“Masih mengira saya bersekongkol dengan Gus Hafidz?” tanya Hara di sela makan. Ia sengaja mengangkat ayam goreng, bermaksud menunjukkan kepada Jenar betapa lezat dan lembutnya ayam itu dengan cara menggigitnya dengan penuh penghayatan.


“Sebelum menuduh, coba lihat hp kamu dulu! Saya bayarin semua orang yang makan di sini, kalau terbukti kamu tidak minta saya jemput dan tidak kasih tahu sedang di mana.” tutur Hara dengan tetap menatap pada makanan di hadapannya.


Jenar tergerak untuk menuruti ucapan Hara. Ia membuka tas, guna mengambil ponsel. Meski yakin sama sekali tidak meminta Hara untuk menjemput, tapi ia juga sangat ingin tahu bagaimana laki-laki itu bisa tiba-tiba datang.


Jenar membuang napas penuh frustasi ketika menyadari ponselnya mati dan sama sekali tidak bisa dinyalakan. Pasti karena kehabisan daya setelah dipakai seharian, sedangkan ia tidak pernah membawa cadangan pengisi baterai.

__ADS_1


Hara mengangkat kepala sambil bertanya, “Ada buktinya?”


“Hp saya mati, baterai habis.” ketus Jenar.


Hara menggeleng, menahan senyum demi melihat wajah kesal Jenar yang menurutnya lucu. Ini untuk kedua kali ia mendapati Jenar merajuk, dan itu adalah hal yang menyenangkan baginya.


Ia merogoh saku dengan tangan kiri, guna mengambil ponsel. Setelah membuka aplikasi berkirim pesan, ia kemudian mengulurkan ponsel kepada Jenar. Hara sengaja menunjuk pesan terakhir pada roomchatnya dengan Jenar beberapa waktu yang lalu.


“Coba dicek, ini yang kirim chat benar-benar nomor kamu bukan?” tanya Hara setelah memastikan Jenar membaca kalimat yang dikirim sendiri.


Jenar membelalakkan mata seraya mendekatkan kepala agar bisa membaca tulisan dalam layar dengan lebih jelas. Ia sampai mengambil ponsel, tanpa peduli dengan tangan Hara yang masih berada di atas layar.


Berkali-kali Jenar membaca chat itu, juga membuka informasi kontak. Ingin memastikan bahwa yang mengirimkan pesan memang benar-benar dirinya. Ia lalu mengingat-ingat saat sedang panik karena motor Aina mogok dan mesin tidak bisa dihidupkan. Waktu itu, ia berpikir untuk meminta bantuan seseorang dan yang terlintas dalam benak adalah nama pakdhenya. Sebab, ia tahu pasti bahwa Pakdhe Teguh pasti mau membantu. Jangankan hanya menjemput ke Yogya, dulu bahkan Pakdhe Teguh pernah menjemputnya ke Surabaya hanya karena ingin berlibur di rumah Mbah Uti. Pakdhenya itu memang seperti super hero yang tidak tegaan dengan keponakan.


‘Bagaimana bisa salah kirim ke nomor Pak Hara?’


Jenar berpikir lagi. Ia sedang berjalan menemani Aina mendorong motor sambil mengirimkan pesan. Saat mencari nomor kontak Pakdhe Teguh, ia hanya mengetikkan tiga huruf yaitu P, A dan K. Karena sedang panik, ia sampai tidak sadar jika yang ia pencet adalah nomornya Pak Hara.


‘Ya, Alloh!’ jenar mengutuk diri sendiri dalam hati, sambil memejamkan mata. Merasa malu karena sudah menuduh yang tidak-tidak padahal dirinya sendiri yang salah kirim chat.


“Waktu baca chat itu, saya sedang bersama Gus Hafidz, habis mengisi pengajian di nikahan orang. Karena itu, saya tadi telepon kamu, tanya di mana, terus langsung datang dari tempat pengajian. Nggak mungkin, kan, saya ninggalin Gus Hafidz demi jemput kamu?” jelas Hara yang justru membuat Jenar makin merasa kesal. Bagaimana bisa pria itu tidak tahu kalau chat itu salah kirim?


“Oya, sejak kapan kamu ubah panggilan ke saya dari ‘pak’ menjadi ‘pakdhe’? Tadi pagi bukannya masih panggil pak, kan?” Hara mengerutkan dahi, seolah benar-benar tidak tahu dengan kesalahan Jenar.


Jenar meletakkan ponsel ke atas meja, kedua telapak tangannya terkepal demi menahan kesal. Setahunya Hara ini sangat pintar dan bisa diandalkan untuk mengerjakan apa saja, tapi mengapa dalam hal ini menjadi lugu sekali.


“Kenapa Pak Hara nggak bilang kalau saya salah kirim chat?” ucap Jenar, menahan geram dengan mengeratkan giginya.


Hara memasang wajah polos yang dibuat-buat sambil menjawab santai, “Mana saya tahu kamu salah kirim? Saya bukan cenayang.”


Jenar mengepalkan dua tangan ke udara sambil mengeratkan gigi, geram campur malu dengan sikap santai Hara. Dalam benak ia ingin menguleni pria di hadapannya ini hingga kalis, lalu membagi menjadi bulatan kecil-kecil. Wajah tanpa dosa Hara membuatnya ingin mengubah pria itu menjadi seperti adonan donat mini.


“Ini mau dimakan tidak? Ayam goreng seenak ini dibiarkan saja, kalau sampai rumah kelaparan dan nggak ada makanan bukan salah saya, lho.” ucap Hara santai sambil mencomot ayam goreng yang masih utuh milik Jenar.


Jenar merebut ayam goreng berwarna coklat sempurna yang sedang dipegang Hara. Membaca do’a dengan cepat, lalu mulai makan. Ia sengaja mencolek sambal banyak-banyak, bermaksud menghalau panas hati dengan makan yang terasa pedas di lidah. Sementara Hara menyembunyikan tawa dengan makan sayur asem, merasa senang melihat Jenar makan dengan lahap bercampur kekesalan karena ulahnya.


Mereka berdua sama-sama tidak tahu, bahwa kadang kebaikan datang justru pada hal buruk yang tidak diinginkan. Begitulah cara Tuhan menjalankan takdir, sesuai dengan yang terbaik menurutNya.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Hai, teman-teman. Sudah ada sedikit kemajuan, nih pada hubungan jenar dan Hara. Kira-kira selanjutnya akan seperti apa? Jangan lupa like, tinggalkan komentar dan vote untuk hari senin yang indah ini. Terima kasih.


Oya, yang ingin baca Mas Tara dan cerita anaknya Hara, eh, bukan. 😂 ceritanya Naufal, maksud saya. Intip pengumumannya di ig/fb desi desma


__ADS_2