
✳Otak manusia itu punya kapasitas untuk menampung memori, jika sudah penuh, maka harus ada memori yang terbuang, mungkin kenangan kecil yang tidak terlalu penting.✴
Hara
Aku mungkin ditakdirkan untuk menyelesaikan masalah orang lain. Sebab aku sendiri jarang punya masalah. Hidup sendiri, punya tempat tinggal sendiri, punya pekerjaan mapan dan aku tidak pernah kekurangan masalah materi. Hidupku yang datar saja membuatku jarang mempunyai masalah. Tapi aku justeru sering mencari jalan keluar untuk permasalahan orang lain. Menyelesaikan masalah orang lain tepatnya.
Sejak diminta oleh pak Reza menyelesaikan masalah di kantor cabang Surabaya bertahun yang lalu, tidak terhitung masalah kantor dan keluarga yang kucarikan jalan keluarnya. Dari pengobatan untuk istri pak Reza, mengungkap penggelapan dana di kantor, menyatukan pak Reza dengan putri kandungnya, sampai masalah percintaan Reyfan. Semua tidak akan terselesaikan dengan baik, tanpa campur tanganku.
Bukan bermaksud untuk sombong, karena pada kenyataannya, selain pak Adnan, akulah yang turun tangan setiap pak Reza dan keluarganya mendapat masalah. Termasuk saat pak Reza kehabisan akal untuk membujuk Aneesha, agar mau memaafkannya.
Saat itu adalah ulang tahun Aneesha, pak Reza mengirimkan sebuah mobil sebagai hadiah. Mobil yang kupilih bersama Reyfan, sebab Reyfanlah yang tahu tipe dan warna kesukaan Aneesha. Namun seperti yang sudah kuprediksi sebelumnya, hadiah itu dikembalikan oleh Aneesha. Menjadi hadiah kesekian yang tidak diterima dan akan berakhir di panti sosial seperti hadiah yang dikirim tahun-tahun sebelumnya oleh pak Reza.
Saat itu pak Reza memintaku mengantar Aneesha pulang ke rumahnya. Kali pertama aku tahu kemelut yang terjadi antara bapak dan anak itu. Ternyata begitu rumit dan pelik.
Seorang anak yang merasa diabaikan dan dibohongi, serta seorang bapak yang hanya ingin memperbaiki kesalahan di masa lalu. Terlalu rumit untuk aku yang belum pernah merasakan bertengkar dengan orang tua, sebab mereka sudah lebih dulu pergi untuk selamanya. Sebelum aku bisa merasakan sekedar berdebat dengan mereka.
Saat itu pula aku tahu, bahwa Tuhan tidak pernah main-main saat menulis takdir untuk umat manusia. Termasuk saat mempertemukan kembali aku dengan seorang gadis yang pernah kutolong beberapa waktu yang lalu. Pertemuan yang tidak pernah kubayangkan atau kupikirkan sebelumnya. Dan takdir membawaku lebih sering bertemu dengannya, sebab dia ternyata berhubungan dengan keluarga pak Reza.
“Kakak? Kakak dari mana?” Kalimat itu kudengar setelah membukakan pintu mobil untuk Aneesha. Kami berdiri tepat di depan pintu pagar rumahnya. Aku menoleh kearah sumber suara, ternyata seorang gadis berseragam putih-abu baru saja turun dari ojek online.
Kuperhatikan wajah dan penampilan gadis itu. Seperti pernah kulihat sebelumnya, tapi dimana?
Saat itu kulihat Aneesha hanya tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan sang gadis. Malah menganggukkan kepala kepadaku, lalu mengucapkan terima kasih. Dia berlalu tanpa menunggu jawabanku, menggandeng tangan gadis berkerudung khas anak sekolah, lalu berjalan menuju teras rumah. Tanpa memedulikanku yang masih berdiri di samping mobil. Termangu, berusaha mengingat sesuatu, tepatnya wajah seseorang.
Jika Tuhan akan mempertemukan sepasang pria dan wanita sebagai jodoh dengan cara yang sudah tertulis dalam suratan takdir. Maka sepertinya suratan takdirku tidak jauh dari keluarga pak Reza. Sebab aku harus selalu terlibat dengan masalah-masalah yang terjadi pada keluarga pak Reza. Termasuk pertemuanku dengan gadis itu, gadis yang kukenal dengan nama Rinjani. Ternyata gadis itu adalah adik Aneesha.
Rinjani adalah gadis yang pernah kutolong, saat pertama kali aku datang ke kota Surabaya. Gadis aneh yang tidak mau bersentuhan bahkan berdekatan dengan laki-laki. Gadis yang polos tapi penuh kehati-hatian dalam menjaga diri.
Gadis yang kutemui siang itu di rumah Aneesha dan ternyata dia sama sekali tidak mengingatku. sampai sekarang pun dia tidak ingat bahwa aku pernah menyelamatkannya dari terlambat masuk sekolah. Ah! Miris, bukan? Kenangan yang terlupakan tapi sialnya masih kuingat dengan jelas.
Gadis yang kini telah beranjak dewasa dan manis. Ya, aku lebih suka menyebutnya manis dari pada cantik. Sebab cantik menurut definisiku adalah berkulit putih dan berwajah tirus. Rinjani tidak ada dalam definisi cantik menurutku. Dia manis, karena kulitnya berwarna kecoklatan seperti gula jawa. Tapi setiap yang memandang wajahnya pasti ingin tersenyum, sebab terlihat menyenangkan.
Gadis polos itu kini membuat kepalaku pusing. Bukan karena ulahnya secara langsung, tapi akibat yang ditimbulkan karena dia tumbuh menjadi gadis yang disukai banyak pria.
Karena dia, seharian ini aku harus menghadapi mood Reyfan yang sangat buruk. Sejak pagi aku harus menerima umpatan dan gerutuan Reyfan. Semua menjadi salah, saat Reyfan sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik.
Pagi tadi kulihat Reyfan menerima panggilan telepon dari ayah mertuanya. Mereka berbicara tentang Rinjani yang sedang didekati oleh banyak pria. Salah satunya adalah pria yang kemarin bertemu dengan gadis itu di toko buku. Aku yang mengantarnya, menunggunya dan menemani Rinjani bertemu dengan pria itu.
Pria yang secara terang-terangan mengatakan suka dan ingin melamar Rinjani. Aku mendengarnya sendiri, saat pria bernama Ghufron itu berbicara dengan Reyfan dan Aneesha. Aku juga menangkap raut suka dari wajah Rinjani. Aku yakin mereka mempunyai rasa yang sama, mungkin juga asa yang sama.
Aneesha pasti sudah menceritakan tentang peristiwa kemarin kepada kedua orang tuanya. Sehingga pak Fares menelpon Reyfan pagi ini, untuk mencari tahu tentang Ghufron dan keluarganya. Keseriusan dan kesungguhan tentang ucapannya. Pastinya keluarga Rinjani tidak ingin sejarah masa lalu terulang kembali.
Dulu pak Fares pernah kecolongan saat membiarkan Aneesha jatuh cinta pada seorang pria yang ternyata sudah dijodohkan dengan wanita lain. Cinta yang melukai hati dan kehormatan keluarga pak Fares.
__ADS_1
Sekarang pasti pak Fares ingin memastikan bahwa kejadian yang sama tidak akan terjadi untuk kedua kalinya. Pasti beliau ingin mencari tahu tentang Ghufron juga keluarganya. Memastikan bahwa keluarga pria ini adalah keluarga yang baik dan berpikiran modern. Jangan sampai menyesal setelah memutuskan untuk menerima.
Oleh karena itulah, Pak Fares meminta Reyfan mencari tahu. Sejak menikah dengan Aneesha, Reyfan sudah menjadi menantu yang bisa diandalkan oleh pak Fares. Reyfan layaknya orang kepercayaan bagi pak Fares. Dalam mengambil keputusan, pak Fares pasti meminta pertimbangan Reyfan dulu. Terutama untuk urusan penting, seperti masalah jodoh Rinjani ini.
“Mana bisa aku menyelidiki kehidupan mereka, ayah pikir aku ini detektif apa?” Gerutu Reyfan pagi tadi setelah menutup sambungan telepon dengan ayah mertuanya.
Padahal tadi di telepon dia bilang sanggup. Ah! Ternyata Reyfan menjadi pecundang yang tidak berani membantah jika di hadapan ayah mertuanya. Bisa garang dengan bawahan, tapi dengan ayah mertua seperti kambing congek.
“Kerjaan di kantor saja sudah menyita waktuku, ini ditambah harus mengurus urusan orang lain. Kalau saja aku punya jurus seribu bayangan, pasti sudah kugunakan sekarang.” Padahal Jenar bukan orang lain, melainkan adik iparnya sendiri. Dia masih menggerutu sampai telingaku sakit mendengarnya.
“Kalau saja tubuh dan otakku bisa bekerja di beberapa tempat dalam satu waktu ...,” sepanjang siang yang kudengar hanya gerutuan dan umpatan dari bibir Reyfan.
Bahkan saat rapat dengan kolega baru saja selesai, Reyfan kembali mendapat panggilan telepon dari ayah mertuanya. Sampai-sampai aku harus mengikutinya pulang ke rumah, sebab ada yang ingin dia bicarakan. Aku sudah menebak, pasti ini tentang adik iparnya.
Dugaanku benar, saat Reyfan mengajakku bicara di ruang kerjanya. Ruangan paling privasi jika kami ingin membicarakan hal penting. Tentang masalah pekerjaan atau masalah yang lain.
“Bantu aku, Hara!” Kalimat itu yang kudengar pertama kali, setelah aku menutup pintu. Membuatku mengernyit, sebab tidak biasanya Reyfan meminta bantuanku untuk menyelesaikan masalah keluarga.
“Bantuan macam apa?” Aku harus mengajukan pertanyaan ini untuk memperjelas permintaan Reyfan.
Kudengar helaan napas sembari Reyfan menghempaskan pan-tatnya pada sofa. Aku berjalan mengitari sofa, menuju ke arah sebuah rak kecil yang terletak disamping rak buku. Mengambil sebungkus rokok dari kotak penyimpanan, lalu kembali. Aku mengambil tempat duduk di seberang Reyfan, menyulut rokok dengan korek yang kusimpan dibalik saku jasku.
Sudah biasa aku melakukan hal ini jika sedang berbincang dengan Reyfan di ruangan ini. Merokok, kadang kami bisa berbincang sambil minum wine. Tapi setelah menikah, wine dan sejenisnya menjadi terlarang bagi Reyfan.
Aku belum menjawab, menunggu Reyfan menyelesaikan penjelasan, tentang apa yang harus kulakukan untuk membantunya.
“Aneesha sedang hamil muda, tidak mungkin kutinggal ke luar kota. Belum lagi kalau dia mengidam, pasti akan repot. Mengajak Aneesha ke Jogja juga tidak mungkin, aku khawatir kandungannya bermasalah jika kuajak naik pesawat.”
“Kamu bisa bantu aku, kan?”
Kuhisap rokok dalam, membiarkan asapnya mengendap sebentar, baru kuhembuskan melalui mulut dan hidung. Mengeluarkan suara mendesis, lalu kujentikkan jari untuk menjatuhkan abu di ujung rokok pada asbak batu di atas meja.
“Kamu ingin aku melakukan apa?”
“Pergilah ke Jogja, temui Ghufron dan keluarganya. Pastikan mereka adalah orang-orang yang tidak akan menyakiti Jenar atau memanfaatkan Jenar. Cari tahu semua tentang kehidupan mereka, sebelum Jenar percaya terlalu jauh dengan Ghufron.”
“Sebelum mereka datang melamar … sebelum ayah menerima ….”
“Kau yakin memintaku? Bagaimana dengan urusan kita disini? Kantor sedang banyak proyek yang menuju deadline. Kiriman ke Belanda ma-” kalimatku terpotong begitu saja, sebab Reyfan segera memangkasnya.
“Aku bisa handle. Ada carrisa dan Aneesha disini, kantor aman. Tapi untuk urusan Jenar, aku tidak mungkin turun tangan sendiri. Aku tidak punya pengalaman.”
Hei! Dia pikir aku punya pengalaman mencarikan jodoh untuk seorang gadis? Yang benar saja. Tapi aku tak kuasa menyanggah ucapan Reyfan. Tepatnya, aku sedang tidak ingin berdebat dengannya.
__ADS_1
“Itu tidak akan instant, akan memerlukan waktu, mungkin bisa lama ….”
“Tidak masalah. Berikan informasi yang jelas dan benar, hanya kamu yang kupercaya bisa melakukannya. Jangan sampai Jenar dan Aneesha tahu tentang rencana kita. Jika waktunya tepat, aku sendiri yang akan cerita.”
Kuanggukkan kepala, menyetujui permintaan Reyfan, walau sebenarnya aku keberatan melakukannya. Tapi permintaan Reyfan adalah perintah bagiku, tidak bisa kutolak. Sebab aku ini hanya asistennya, hanya seorang pelayan yang harus siap melakukan titah tuannya.
Aku tidak pernah mengira jika kesanggupanku akan berbuntut panjang dan rumit dikemudian hari. Mungkin akan serumit rasa kopi yang baru saja kusesap. Warna dan aromanya sama seperti yang biasa kuminum tapi rasanya ….
“Kopi apa ini? Siapa yang buat?”
Gadis yang masih berdiri dihadapanku menjawab tanpa ragu, “robusta. Saya yang buat. Tiga biji kopi robusta ditambah gula rendah kalori, dihidangkan dalam cangkir berbahan keramik dan harus diaduk berlawanan dengan arah jarum jam selama 43 detik. Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih."
“Itu yang diajarkan mbak Lia waktu bikin kopi dengan mesin tadi.”
“Kata mbak Lia, pak Hara hanya mau minum kopi racikan. Tidak suka minum kopi instant. Karena mbak Lia sedang ngulek bumbu, sedangkan bibi Sri sedang angkat jemuran, jadi aku buatkan.”
“Ini pertama kalinya aku buat kopi menggunakan mesin, mungkin rasanya beda dengan yang biasa dibuat mbak Lia. Maaf ….”
Gadis itu menundukkan kepala, menekuri lantai, mungkin merasa menyesal. Mengira aku tidak suka kopi buatannya. Sejujurnya, memang rasa kopi itu beda, tidak seperti biasanya. Bukan karena aku tidak suka, hanya saja ….
“Lupakan! Aku harus ke perpustakaan pribadi Reyfan, ada yang harus kuambil.”
Aku mengangkat cangkir berisi kopi. Berlalu begitu saja, melewati gadis itu yang termangu. Tak kupedulikan ia menggerutu. Samar-samar terdengar di telinga, dan membuat simpul di bibirku sedikit terangkat.
“Harusnya bilang terima kasih, kan? Apanya yang harus kulupakan, coba? Sepertinya selain tidak punya ekspresi wajah, dia juga tidak punya banyak kosakata. Sampai tidak bisa memilih kata yang tepat."
“Sudah susah-susah dibikinkan kopi. Tidak ada ucapan terima kasih atau basa-basi sama sekali.”
Kulanjutkan langkah, menjauh. Aku yakin gadis itu masih berdiri disana. Mungkin sedang menggaruk kepala yang tak gatal. Atau sedang memajukan bibir tanda kesal. Tapi aku bergeming, tetap melanjutkan langkah menjauh.
Jangan harap aku akan berbalik dan mengucapkan terima kasih. Kalau saja bisa, ingin aku berkata kalau dia merepotkan. Hubunganku dengan Reyfan bisa kacau, hanya karena kecerobohanku. Hanya karena aku keceplosan, padahal aku sangat ingat bahwa apa yang kami lakukan adalah sebuah rahasia.
Kuakui gadis itu berbeda dengan kakaknya. Gadis itu terlihat lebih dewasa dari pada Aneesha yang kadang masih kekanak-kanakan. Dia lebih mandiri, padahal usianya selisih 6 tahun dengan Aneesha. Itu artinya selisih hampir sembilan tahun denganku. Tapi pemikirannya sudah seperti perempuan usia matang. Pantas kalau banyak pria yang ingin memperistrinya.
Bukan senang karena anak perempuannya menjadi incaran banyak pria. Pak Fares justeru sangat khawatir, apalagi anak keduanya ini tidak tinggal bersama beliau, sejak kuliah. Ayah mana yang tidak khawatir kalau punya anak gadis semanis Rinjani. Seperti mempunyai bunga yang baru saja mekar, menjadi incaran kumbang-kumbang.
Gadis itu mungkin tidak sadar, jika dirinya membuat pusing kepala pak Fares. Juga sebentar lagi akan membuat kepalaku pusing. Semoga yang kukhawatirkan tidak terjadi, semoga sejarah masa lalu tidak harus terulang lagi. Kuhembuskan napas panjang, menyadarkan diri. Aku harus menyelesaikan masalah orang lain lagi, entah kapan aku menyelesaikan masalahku sendiri.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....