Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
71.2. Tentang Arah Pandang


__ADS_3

🍁Mie instant dengan aroma khas menggugah selera, tersaji saat hujan dan perut lapar ... adalah makanan terenak sedunia.🍁


Hara.


Aku membawa kopi ke meja makan, meletakkan kopi sekaligus sendok kecilnya di sana. Lebih baik duduk bersama Irkham yang tidak banyak bicara, dari pada harus mendengar ocehan berisik Jenar. Menikmati secangkir kopi sambil menatap sekeliling rumah, mungkin bisa menghalau dingin yang masih setia menemani.


Rumah Aneesha ini memang kecil, sebab dulu dia membangun hanya untuk dirinya sendiri, bukan untuk tempat tinggal keluarga. Terlihat dari betapa minimalisnya perabotan dan desain interior di dalamnya.


Hanya terdiri dari ruang tamu, ruang tengah sekaligus ruang makan, dan dua kamar tidur. Bagian ujung terdapat dapur minimalis, di sampingnya ada kamar mandi jadi satu dengan toilet, lalu perpustakaan dan tempat salat yang juga kecil. Keempatnya membentuk huruf L menghadap taman kecil tanpa atap, tempat aneka tanaman hias dalam pot dan kolam teratai yang terbuat dari batu cetak.


Kalau tidak direnovasi, rumah ini tentu sangat sempit. Jika Aneesha melahirkan nanti, tentu seluruh keluarga ingin berkumpul di sini guna menyambut kedatangan anggota baru. Perlu tempat yang luas agar tidak terasa sumpek.


“Mas! Kei lombok ora? (Mas dikasih cabe tidak?)” teriak Jenar dari dapur yang tepat berada di sebelah ruang makan, tempat aku dan Irkham sedang duduk.


Irkham menggeleng sebagai jawaban. Yakin Jenar bisa melihat karena antara ruang makan dan dapur hanya tersekat bingkai tanpa daun pintu. Kalau sudah direnovasi ruang makan akan dipindah ke samping yang lebih luas. Rumah ini sedang dalam perbaikan besar-besaran, padahal baru satu tahun di bangun.


“Minum kopi, Kham?” tawarku karena sejak tadi Irkham memerhatikan.


Irkham menggeleng. Aku merogoh saku celana guna mengeluarkan rokok dan korek api. Mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, kemudian menyalakan dengan korek api. Namun, udara dingin dan ujung celana yang basah, ternyata membuat rokokku jadi ikut lembab. Berkali-kali kusulut, tapi bara di ujung batang hanya bertahan beberapa detik saja, lalu padam.


Sekali lagi aku mendengkus kesal, hari ini banyak kesialan menimpa. Sepertinya keadaan sedang tidak berpihak padaku.


Aku harus segera mengeringkan rokok yang lembab ini, jika ingin menikmatinya. Kubawa rokok beserta bungkusnya ke dapur. Berdiri sejenak di belakang Jenar yang sedang sibuk di depan kompor. Dia tampak mengangkat salah satu dari dua panci di atas kompor.


Aku bergegas mendekat, ketika Jenar menggeser tubuh sedikit ke sebelah kiri, dia kini sedang menuang hasil masakannya ke dalam mangkuk. Sementara di atas kompor masih ada panci berisi mie yang juga hampir matang.


Tanpa meminta ijin, aku meletakkan rokok pada badan kompor. Panas yang merambat dari bara tungku, pasti bisa mengeringkan rokok yang lembab agar bisa segera kunikmati lagi.


“Pak Hara mau minum apa?” Aku tak menyangka gadis itu masih mau menawarkan minuman padaku. Padahal tadi sikapnya ketus sekali.


Tentu saja aku menolak dengan hati-hati, khawatir dia tersinggung lagi. “Saya sudah bikin kopi sendiri,” jawabku seraya menoleh sedikit ke arahnya.


Jenar tidak bicara, hanya kulihat dia mengangguk sekilas. Dia lalu memanjangkan tangan guna mengangkat panci, pasti karena tidak ingin bersenggolan denganku. Gadis ini memang sangat menjaga interaksi dengan lawan jenis. Sejak pertama kali bertemu, hal itu membuatku penasaran. Sebab, Aneesha tidak sefanatik dia soal bersentuhan dengan lawan jenis.


“Ini dimatikan atau dibiarkan menyala?” tanya Jenar menunjuk tungku yang masih menyala setelah panci ia angkat. dia tahu kalau aku sedang mengeringkan rokok, rupanya.


“Matikan saja tidak apa-apa, hanya lembab sedikit, kok. Kena panas sebentar juga kering,” jawabku seraya membalikkan bungkus rokok yang sudah terasa hangat.


Dia nampak mengambil cangkir. Aku memindai geraknya yang berjalan di belakangku, lalu mengambil toples berisi kopi hitam dari rak penyimpanan yang terletak di sebelah kananku. Entah mengapa hal itu mengusik pikiran, membuatku ingin mencegahnya.


“Jangan minum kopi!” larangku, saat Jenar baru saja akan membuka tutup toples.


“Memangnya kenapa?” tanyanya melihat ke arahku.


“Kamu perlu mengembalikan gula darah yang tadi terkuras saat traumamu kambuh. Teh manis hangat cenderung panas, lebih baik dari pada kopi pahit,” jawabku seperti bisa menduga apa yang akan dibuat oleh Jenar.


“Tapi saya lebih suka minum kopi dari pada teh. Sama-sama mengandung cafein, kan?” ucap Jenar menyanggah.


“Teh manis hangat, agar badanmu tidak lemes,” aku berkata sembari merebut toples dari tangannya.


Entah dorongan dari mana, aku mengambil cangkir kosong yang telah disiapkan oleh Jenar, mengisinya dengan teh celup, gula dan air panas. Aku juga mengambil nampan, meletakkan tiga mangkok dan satu cangkir di atasnya. Aku tahu Jenar pasti akan membawa mangkok-mangkok itu ke meja makan.


“Saya bawakan,” ucapku melihat Jenar terpaku diam menatap semua yang kulakukan.


Tanpa menunggu jawaban aku membawa nampan ke meja makan, membagi ketiga mangkok itu untuk aku, Irkham dan Jenar. Secangkir teh yang warna merahnya belum menyatu sempurna kuletakkan di meja depan kursi kosong sebelah Irkham. Karena meja makan ini hanya ada empat kursi dan tidak mungkin Jenar mau duduk bersebelahan denganku. Dia pasti memilih duduk di sebelah Irkham.

__ADS_1


Sejenak kemudian Jenar datang, dari ekor mata aku tahu gadis itu terus menatapku. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menarik mangkok di hadapannya, lalu menukar dengan milik Irkham.


“Mas Irkham yang ini, nggak pakai cabai,” ucapnya pelan.


“Ini untuk saya, bukan?” tanyaku khawatir jika mangkok yang ada di hadapanku bukan untukku.


Jenar mengangguk. Aku melirik Irkham yang mulai menengadahkan tangan untuk berdo’a. beberapa detik kemudian, Jenar melakukan hal yang sama. Sontan aku menautkan jemari lalu menunduk untuk berdo’a, meminta agar Tuhan memberi berkah pada makanan yang sudah tersaji ini.


Baru saja aku memegang sendok, ingin mencicipi kuah mie instant yang aromanya berhasil membangunkan cacing-cacing di dalam perut. Namun, perhatianku justru teralihkan oleh gerakan tangan Jenar mengangkat dan mencelupkan teh ke dalam cangkir. Dia melakukan gerakan itu berulang-ulang sampai air panas dalam cangkir berubah warna menjadi merah kecoklatan sempurna. Kemudian dia mengangkat cangkir itu tinggi-tinggi, meneliti seluruh permukaan cangkir. Hal itu mengusikku, seolah ada sesuatu yang salah dengan teh buatanku itu.


“Ada masalah dengan tehnya?” tanyaku seraya meletakkan lagi sendok yang sudah di tangan.


“Ini kenapa gulanya di dasar terus, ya? Tidak mau campur sama air tehnya,” gumamnya pelan, lebih terdengar seperti orang yang sedang menggerutu.


Ya, Tuhan! Sebenarnya Jenar punya masalah apa denganku? Dari tadi ada saja yang dia lakukan untuk mengonfrontasi. Tadi masalah mir instant, sekarang gula yang lupa tidak kuaduk. Untung aku masih bisa mengontrol emosi, kalau tidak tempat ini bisa berantakan tersapu amarah.


Kuambil sendok kecil dari cangkir kopi, hendak mengaduk teh milik Jenar. Namun, gadis itu segera menarik cangkirnya. Lengkap dengan tatapan tajam ke arahku, “Pak Hara mau apa?”


“Mengaduk tehmu, agar gulanya tercampur. Jadi tidak mengendap di dasar cangkir,” jawabku menjelaskan.


“Nggak usah! Itu sendok sudah kena kopi, kopinya sudah diminum sama Pak Hara, kan? Enak saja mau ngaduk teh saya pakai sendok bekas.” gerutu Jenar dengan nada kesal lengkap dengan mimik wajah memberengut yang menurutku lucu.


Aku mengalah, meletakkan kembali sendok ke tempat semula. Lalu pergi mengambil sendok bersih di dapur. Aku tidak tahu kekuatan apa yang mendorong untuk menuruti mau Jenar. Gadis itu seperti telah memengaruhi alam bawah sadarku saja.


Cangkir sudah diletakkan di atas meja kembali oleh Jenar, gadis itu sedang mengaduk mie instant yang masih panas. Aku berjalan pelan kembali ke tempat duduk, memanjangkan tangan guna mengaduk tehnya.


“Sekarang sudah campur rata, nggak ada gula yang mengendap di dasar cangkir lagi,” jelasku setelah selesai mengaduk.


Jenar melihat cangkir sekilas, lalu kembali mengaduk mienya. Sama sekali tidak berniat mengucapkan terima kasih, atau sekedar mengangguk. Aku hanya bisa membuang napas dengan satu sudut bibir hampir terangkat ke atas melihat sikapnya yang sok cuek itu.


“Ora, yo! (Tidak, ya!)” sanggah Jenar seraya menggeleng keras, “Podo, Mas. Wes tak kiro-kiro mau. (Sama, Mas. Sudah saya perkirakan tadi)”


“Okeh gonmu!” Irkham berseru lagi sambil menggeleng keras.


“Ora, Mas. Tenan! (Tidak, Mas. Beneran!)” sanggah Jenar lagi.


“Ijolan, ah! (Tukeran, ah!)” Irkham mengangsurkan mangkoknya kepada Jenar.


“Emoh! (Tidak mau!)” Jenar menolak dengan menarik mangkoknya.


“Ijolan, Jen!”


“Nggak mau, Mas! Punyaku pedes, lho. Pakai cabai lima!”


Irkham ngotot minta tukar mangkok dengan milik Jenar yang dia pikir isinya lebih banyak, sedangkan Jenar keukeh mempertahankan miliknya. Aku melipat tangan sambil menipiskan bibir, menahan tawa. Dua remaja beranjak dewasa di depanku ini lucu sekali. Irkham yang biasanya diam tanpa ekspresi, ternyata bisa bercanda, Jenar juga bisa mengimbangi kakak sepupunya. Mereka berdua terlihat persis seperti dua anak kecil yang saling berebut makanan.


“Tak kandake ibu, kowe!” (Kuadukan kepada ibu, Kamu!) Irkham bersungut-sungut karena tidak berhasil menukar mangkoknya dengan milik Jenar.


“Kono! (Sana!)” Jenar menantang, “Ora wedi! (Tidak takut!)


“Tak kandake (adukan) Om Fares!” sungut Irkham lagi.


“Ayah ora ning kene, we!” (Ayah tidak di sini, we!) Jenar jelas yang menang. Mungkin ini kenyataan bahwa tidak ada laki-laki yang akan menang jika berdebat dengan perempuan. Apalagi laki-laki seperti Irkham yang tidak punya banyak kosa kata berhadapan dengan Jenar yang hari ini sedang banyak bicara.


“Tukar dengan punya saya, Kham?” aku menawarkan karena melihat Irkham kecewa.

__ADS_1


Namun, pria itu menggeleng tanda menolak. Mungkin dia hanya ingin bercanda dengan Jenar saja, tidak serius ingin menukar mangkok. Buktinya, dia lantas melahap mie instant yang masih mengepulkan asap panas itu.


“Enak, to, Mas?” pertanyaan Jenar membuatku sontan menoleh ke arahnya. Dia sedang memiringkan kepala, seperti seorang kakak yang bertanya kepada adiknya.


“Mie instant memang makanan paling cocok dinikmati saat hujan begini. Apalagi kalau tinggal makan, sudah ada yang membuatkan. Praktis akan menjadi makanan paling enak sedunia.” seloroh Jenar setelah Irkham mengangguk.


Kalimat Jenar membuatku tersindir sekaligus penasaran dengan rasa mie instant yang sejak tadi menggoda untuk dimakan. Namun, rasa bersalah menyeruak, mengingat kembali kejadian sehari tadi. Gadis itu melewatkan makan siang, karena sikap egoisku yang mengajaknya pergi tanpa pertimbangan.


Aku berdehem, untuk menetralkan nada suara sekaligus memilih kalimat yang tepat. Nampaknya aku harus segera menyelesaikan permasalahan abu-abu diantara kami berdua ini.


“Kamu marah sama saya, Jen?” tanyaku dengan hati-hati.


Jenar bergeming, khusyuk menunduk sambil menikmati mie instant yang sepertinya enak sekali.


“Atas dasar apa saya marah sama Anda?” Gadis itu justru mengembalikan pertanyaan.


“Hanya menebak, karena dari tadi sikap kamu ketus dan bicara tanpa mau melihat saya,” jawabku menganalisa.


Jenar berhenti makan, sendoknya dibiarkan mengambang di depan mulut. Baru dia menjawab dengan kalimat sarkas, “Agama saya tidak menganjurkan menatap lawan jenis lebih dari tiga detik, karena pada detik keempat dan seterusnya bisa jadi ada setan yang memengaruhi.”


Baiklah! Sudah jelas dia sedang marah padaku, tanpa bertanya pun harusnya aku sudah bisa menebak dari tadi.  Aku berpikir sejenak dan menguatkan tekad. Untuk pertama kalinya dalam hidup aku akan mengatakan sebuah kalimat keramat kepada seorang gadis.


Kutarik napas dalam-dalam, lalu berdehem dua kali. Baru aku berkata dengan cepat, “Saya minta maaf.”


Jenar mendongak sebentar, “Untuk?” lalu kembali menunduk sambil menyantap makanan.


“Untuk semua yang terjadi hari ini, maaf … telah mengajakmu pergi dan kamu harus mengalami hal buruk seperti tadi.” Dengan susah payah, akhirnya aku bisa menuntaskan kalimat panjang ini.


Ruang makan mendadak hening, menyisakan suara hujan di luar dan denting pelan sendok beradu dengan mangkok. Aku menatap Jenar yang terpaku diam, nyaris tidak bergerak selama beberapa detik. Gadis itu meletakkan sendok, lalu berdehem pelan. Aku menunggu jawaban, tanpa mengalihkan pandangan darinya. Namun, yang keluar dari mulut mungil gadis itu justru kata-kata yang tidak kuperkirakan.


“Lain kali tolong jangan sembarangan peluk saya! Anda sama saja sedang melecehkan saya, walau pun dalam keadaan genting. Juga tidak usah sok tahu apa yang baik dan tidak untuk saya, ” ujar Jenar dengan tetap menunduk.


Sekarang aku tahu apa yang membuat Jenar marah. Benar seperti yang kuduga sebelumnya, dia marah karena aku memeluknya. Lalu apa yang dia bilang tadi? Sok tahu? Bagian ini yang aku tidak habis pikir. Padahal aku tidak punya maksud melecehkannya, hanya sikap impulsif untuk menenangkan dan melindungi saja. Kalau tindakanku membuatnya tersinggung, baiklah! Memang gadis ini harus diberi pelajaran, biar sadar!


Kuhempaskan punggung pada sandaran kursi sembari meletakkan sendok dengan kasar. Dua tangan terkepal, kuletakkan di atas meja, masing-masing di sisi kiri dan kanan mangkok. Aku tidak lagi harus berhati-hati dalam menjawab ucapan Jenar. Toh, gadis itu tidak akan mengerti maksud dari perhatian yang kuberikan.


“Oke! Kalau begitu berusahalah jangan kambuh saat sedang bersama saya, bisa?” tanyaku masih menatapnya lurus tanpa berkedip.


Jenar mendongak dengan cepat, memberi tatapan tajam padaku. Aku menantangnya dengan tidak mengalihkan perhatian sedikit pun. Mata kami saling bertemu, entah selama berapa detik. Manik kecoklatan itu mendorongku untuk menyelam lebih dalam, mencari sesuatu yang terpancar dari sinar tak kasat mata itu.


Dari sini aku setuju dengan ucapan Jenar tentang menatap lawan jenis lebih dari tiga detik, meski tidak sepenuhnya benar. Karena yang terjadi pada sekian detik berikutnya saat aku menatap gadis itu adalah hadirnya rasa ingin tahu, iba, kekaguman, dan entah apa yang menggelitik di dalam sana. Rasanya aku ingin masuk ke dalam sorot tajam yang indah itu, menyelam lebih dalam, makin dalam, hingga terjebak di sana. Maka, saat Jenar memutus pandangan ... aku merasa tidak rela dan aku yakin ini bukan karena pengaruh setan.


.


.


.


Ha ha ha ... boleh ketawa, tidak? Teman-teman pasti ada yang merasa di-php in sama aku, ya?😂


Ini semua terjadi karena kesalahan teknis. Saya kira sudah klik publish setting waktu jam 5 pagi, eh. Ternyata hanya terjadi di dalam mimpi saya saja.😂😂 Maaf, ya, Teman-teman. Oya, ini kenapa partnya jadi pendek dan sedikit? Karena saya hanya berusaha mengikuti keinginan kalian yang minta up tiap hari. Sedangkan saya baru bisa ngetik sedikit-sedikit. Nggak, apa, ya? (mode maksa)😊


Oh, ya. Jenar dan Irkham masih remaja? Iya, karena mereka belum genap 20 tahun. Masih tergolong remaja, nggak, sih? Mungkin remaja beranjak dewasa kali, ya?


Eh, itu sudah ada sparking di hati Pak Hara, jadi siapin senyum kalian, ya. Karena selanjutnya dia akan dibikin kebat-kebit sama Jenar.

__ADS_1


Selamat membaca, ya, Teman-teman. 😍😍


__ADS_2