Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
37. Malaikat Tak Bersayap


__ADS_3

...🌵Akan selalu ada malaikat tak bersayap yang membantu kita saat berada dalam kesulitan. Sadar atau tidak mereka adalah perpanjangan tangan Tuhan agar kita bisa melewati ujian dengan baik.🌵...


Prov. Author


Ruang rawat inap VVIP rumah sakit akademik Yogyakarta. Dua orang dokter dan beberapa perawat sedang melakukan visit terhadap seorang pasien yang sedang dirawat. Karena termasuk pasien istimewa, pelayanan terhadapnya pun spesial pula.


Minggu.


Hari ini adalah hari kelima Ghufron dirawat di rumah sakit akademik. Enam kantung trombosit hampir selesai ditransfusikan. Observasi telah dilakukan dan tim dokter pun sudah bisa membuat rujukan.


“Ini kantong terakhir,” dr. Chandra menuliskan sesuatu pada catatan rekam medis Ghufron seraya menunjuk kantong darah yang tinggal sedikit, “setelah ini habis, insyaalloh sudah boleh pulang. Alhamdulillah pemeriksaan terakhir, jumlah trombosit sudah normal.”


“Alhamdulillah …,” ucap semua orang di dalam ruangan secara hampir bersamaan.


“Tapi tetap harus periksa ulang, ya. Jadwal periksa lanjutan serta surat rujukan untuk pemeriksaan sum-sum tulang belakang sudah saya buatkan. Administrasi, pembayaran dan semuanya sudah ada yang mengurus. Jadi nanti tinggal pulang saja.”


“Sudah dibookingkan untuk periksa lanjutan ke rumah sakit pusat belum dr. Chandra?” dr. Hadyan mengingatkan.


“Sudah, dok. Lengkap semuanya sudah saya serahkan ke bagian administrasi.” Jawab dr. Chandra.


“Maaf …,” pak Haryo menyela obrolan dua dokter tersebut dengan sopan, “kalau boleh tahu, soal administrasi dan pembayaran, siapa yang mengurus?”


Dr. Hadyan mengangguk, “sebenarnya ini bukan prioritas kami untuk menjelaskan. Kami hanya bisa memberitahu kalau untuk jaminan perawatan Ghufron di sini semua atas nama Pak Reyfan. Anda bisa bertanya sendiri kepada beliau nanti.”


“MasyaAlloh! Reyfan itu kakaknya Jenar, kan, Le?” Pak Haryo tercengang, “baik sekali calon kakak ipar kamu itu, Le.”


Ghufron mengangguk mengiyakan ucapan bapaknya. Lima hari empat malam ia dirawat di rumah sakit dengan pelayanan yang serba bagus dan cepat. Transfusi trombosit yang setahunya sulit pun bisa ia dapatkan dengan mudah. Kamar perawatan high class dengan semua fasilitas yang terbaik, ia tahu tidak mungkin bisa didapat dengan kartu asuransi jaminan kesehatan yang ia miliki.


Jenar memang sudah menceritakan kepadanya tentang bantuan yang diberikan oleh Reyfan dan Aneesha sehingga ia bisa mendapat perawatan terbaik di rumah sakit ini. Namun, ia masih belum tahu dengan perpanjangan tangan siapa semua hal itu bisa terjadi. Tidak mungkin jika hanya dilakukan lewat sambungan telepon, sebab melobi pejabat rumah sakit tidak semudah bernegoisasi dengan pelaku bisnis.


Tenaga kesehatan tidak bisa hanya diiming-imingi dengan uang atau hadiah, mereka tidak akan memprioritaskan pasien jika memang tidak darurat. Tidak mungkin tenaga kesehatan bergerak cepat, kalau tidak ada orang yang datang dan bisa melobi sendiri pejabat rumah sakit.


“Setahu bapak kakaknya Jenar tinggal di Jakarta, kan, Le? Lalu siapa yang mengurus semua ini, ya? Bapak kok ora tekan le mikir, yo, Le?” (Bapak tidak sampai mikirnya, Nak?)


Pak Haryo mengerutkan dahi. Sebagai orang awam tentu ia tidak bisa memikirkan bagaimana Reyfan bisa mengatur semua hal tentang perawatan Ghufron, padahal berada di lain kota.


“Mboten usah dipenggalih, Pak. Mangkih cobi kulo tanglet kalian Jenar.” (Tidak usah dipikirkan, Pak. Nanti coba saya tanyakan sama Jeanar.)


Sementara itu di luar ruangan, seorang pria berkacamata sedang berdiri terpaku di depan pintu. Ia seperti hendak masuk tapi ragu. Sebab ia bisa melihat suasana di dalam dari pintu ruang rawat VVIP yang sedikit terbuka. Ia tidak ingin mengganggu para dokter dan perawat yang sedang melakukan kunjungan rutin terhadap pasien.


Sudah beberapa saat Hara hanya berdiri di depan pintu, menahan rasa ingin segera masuk atau hanya sebatas mengetuk. Dengan sabar ia menunggu dokter selesai memeriksa, agar kehadirannya tidak menjadi pengganggu.


Namun, belum juga para tenaga kesehatan keluar dari dalam kamar, ia sudah dikejutkan dengan kedatangan seorang gadis. Gadis dengan penampilan muslimah yang menatapnya dari atas sampai bawah dengan pandangan menyelidik. Ia pernah beberapa kali melihat gadis ini bersama dengan Ghufron dan Jenar.


“Bapak ini siapa? Kenapa berdiri di depan kamar kakak saya?” Tanya Nalini dengan dahi berkerut dalam dan pandangan penuh curiga.


“Mau jenguk kakak saya atau mau apa? Kalau mau jenguk kenapa tidak masuk? Jangan-jangan bapak mata-mata, ya? Kakak saya orang baik-baik, lho. Nggak mungkin berurusan dengan orang seperti anda.”


Hara membuang napas, telinga mendadak panas mendengar pertanyaan gadis di depannya yang tanpa jeda. Tidak memberinya kesempatan untuk menjawab, justeru mencercanya dengan banyak pertanyaan menuduh.


“Bapak pegawai rumah sakit atau bukan? Kalau pegawai rumah sakit kenapa tidak pakai seragam? Kenapa bapak diam saja tidak menjawab pertanyaan saya? Saya jadi curiga … jangan-jangan bapak punya maksud jahat sama kakak saya?”


Hara menggaruk alisnya yang tentu saja tidak gatal, perasaan sebelum datang ke rumah sakit tadi pagi ia sudah mandi. Semalam ia juga tidak mimpi apa-apa sampai bisa bertemu dengan gadis cerewet yang menuduhnya tidak jelas.


“Masih nggak bisa jawab juga?”


“Hei!” akhirnya pertahanan kesabaran Hara runtuh juga, “kamu ini manusia atau burung? Ngoceh tanpa jeda, bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan kamu kalau pertanyaan kamu seperti gerbong kereta api?”


“Apa?” Nalini membelalakan mata, tidak terima dikatai oleh pria didepannya, “bapak ngatain saya burung? Kacamata bapak kurang tebal,ya? Nggak bisa bedakan wujud manusia sama burung? Atau mata bapak katarak, kali?”


“Mata saya hanya minus, bukan katarak. Saya masih bisa melihat dengan jelas secara dekat, walau tanpa kacamata sekalipun.” Hara menunjuk gadis berwajah tidak bersahabat dihadapannya, “bentuk kamu persis seperti manusia, tapi bicaramu seperti burung dan kamu tidak sopan terhadap orang yang lebih tua.”


“Apa?” Nalini makin terpancing amarah, “sikap saya tergantung sikap anda terhadap saya. Jangan salahkan kalau saya tidak sopan, karena bapak mencurigakan.”

__ADS_1


“Coba katakan bagian mana dari diri saya yang membuatmu curiga?”


“Bapak berdiri diam di depan kamar kakak saya, seperti sedang mengintip. Bikin orang curiga saja.”


“Saya tidak sedang mengintip, saya di sini karena tidak mau mengganggu Ghufron sedang diperiksa. Saya mau bicara sama dia secara pribadi.”


“Bicara apa? Kenapa bapak harus bicara sama kakak saya?”


“Saya hanya menjalankan perintah dan saya tidak diperintahkan untuk menjelaskan sama kamu.”


“Ya Alloh! Sumpah, deh. Mimpi apa saya tadi malam bisa ketemu orang kaku menyebalkan seperti anda ini.”


“Justeru saya yang kena sial karena bertemu manusia burung seperti kamu.”


Nalini tentu saja tidak terima dengan apa yang Hara ucapkan. Terjadilah perang mulut antara dirinya dengan Hara di depan kamar rawat. Tentu saja suara gaduh itu menarik perhatian orang-orang di dalam kamar. Pak Haryo dan bu Nuning menghambur keluar karena mendengar suara putrinya ribut.


“Ono opo to, Lin? Suaramu kuwi ribut nganti krungu seko njero.” (Ada apa, to, Lin? Suaramu itu ribut sekali sampai terdengar dari dalam.)


“Niki pak! Enten tiyang mboten nggenah.” Nalini menjawab peranyaan bapaknya sambil melirik kesal pada Hara. (Ini pak! Ada orang tidak jelas.)


“Sopo to, Nduk?” (Siapa ya, Nduk?)"


“Mboten ngertos, Buk.” (Nggak tahu, Bu.)


Hara diam saja karena ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh orang tua dan anak gadis mereka itu. Kalau mereka bicara dalam bahasa jawa biasa mungkin Hara sedikit paham, tapi dalam bahasa jawa formal seperti itu tentu saja Hara tidak tahu artinya.


Beruntung dr. Hadyan ikut keluar demi mendengar keributan yang belum juga usai. Ia mengangguk sopan kepada Hara sebelum menyapa, “Pak Hara?”


Sontan Nalini, pak Haryo dan bu Nuning memfokuskan perhatian pada dr. Hadyan yang bicara sopan dengan Hara, “sudah dari tadi, Pak?”


“Pak dokter kenal sama orang ini?” Tanya Nalini menunjuk wajah Hara dengan jarinya. Membuat bu Nuning menggertaknya, “Lin! Tidak sopan menunjuk seperti itu sama orang yang lebih tua!”


“Sepertinya ada kesalah pahaman di sini,” ucap dr. Hadyan melihat wajah Hara dan Nalini yang sama-sama sinis, “pak Hara ini yang mengurus semua keperluan Ghufron di sini. Administrasi, pembayaran, ruang rawat, donor trombosit dan semuanya. Beliau orang kepercayaan pak Reyfan dan bu Aneesha.”


“Maaf, dengan Nak siapa tadi?” Pak Haryo bertanya sopan.


Hara pun menjawab dengan sopan pula, “panggil saya Hara, Pak.”


“Nak Hara mau ketemu sama Ghufron?”


“Iya. Kalau diijinkan.”


Pak Haryo tersenyum dengan gerakan tangan mempersilakan Hara masuk ke dalam kamar rawat, “ya tentu saja boleh, Nak. Memangnya anak saya siapa sampai tidak boleh ditemui?”


Pak Haryo merangkul Hara masuk ke dalam kamar diikuti oleh bu Nuning dan dr. Hadyan dari belakang. Sedangkan Nalini termenung penuh tanya sejenak sebelum ikut menyusul masuk juga.


Ghufron menyambut kedatangan Hara dengan senyum mengembang, “saya sudah mengira kalau pak Hara yang membantu saya. Terima kasih, Pak.”


Hara hanya mengangguk dengan ekspresi wajah datar seraya memberikan sebuah amplop, “administrasi sudah beres, surat rujukan dari dr. Chandra sudah saya bawa, sudah saya daftarkan online untuk pemeriksaan lanjutan ke rumah sakit pusat. Saya juga sudah siapkan mobil di bawah.”


“Lihat! Tidak ada yang segesit pak Hara untuk urusan seperti ini. Pak Hara memang selalu bisa diandalkan.” Puji dr. Hadyan.


“Biasa saja dokter, memang sudah menjadi tugas saya.” Jawab Hara datar tanpa senyum sedikitpun, “sudah terlatih dan berpengalaman.”


Dr. Hadyan mengangguk membenarkan, “betul juga, sih. Jadi ingat waktu pak Hara mencari saya beberapa tahun yang lalu.”


“Jangan dibahas dokter! Saya tidak mengharapkan akhir yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. Saya berharap akan sering berurusan dengan anda dan dr. Chandra.” Jawab Hara ketus.


Keluarga Ghufron tentu tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Hara dan Hadyan, meski mereka mendengar dengan jelas. Sedangkan Nalini sejak tadi sedang berusaha mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu dengan Hara.


“Sudah selesai dokter?” Tanya dr. Hadyan kepada dr. Chandra yang baru saja selesai melepas infus dari punggung tangan Ghufron.


“Sudah, dok.” Jawab dr. Chandra singkat.

__ADS_1


“Kalau begitu kita pamit, ya! Biar Ghufron bisa siap-siap pulang.”


“Oke, dok.” dr. Chandra menepuk bahu Ghufron pelan, “selamat, ya, sudah boleh pulang. Semoga terus membaik dan makin baik, jangan lupa jadwal periksa ke rumah sakit pusat. Biar cepat sehat, insyaalloh kita bertemu lagi kamu sudah sehat, ya?”


“Aamiin. Insyaalloh, dok.” Jawab Ghufron.


“Kalau begitu kita pamit, ya.” semua tenaga medis keluar dari ruangan setelah membereskan peralatan.


Sedangkan Hara, merasa sudah tidak punya kepentingan di sana, ia pun ikut pamit, “silakan bersiap-siap, saya tunggu di luar.”


Tapi belum juga ia mencapai pintu, Nalini sudah menghentikan langkahnya, “tunggu, Pak! Apa kita pernah bertemu, ya?”


“Di mana? Kapan? Apa bapak ingat kita pernah bertemu?” Hara baru membuka mulut akan menjawab tapi Nalini sudah mencercanya duluan, “jangan katakan bapak tidak punya kewajiban untuk memberi tahu saya di mana kita pernah ketemu!”


“Lin?” ada nada memperingatkan dari panggilan Ghufron kepada adiknya, “sopan sama orang yang lebih tua, dong!”


“Dia saja tidak sopan sama saya, Mas. Masa saya dikatai burung sama bapak ini.” Gerutu Nalini.


“Lin! Pak Hara punya nama, jangan seenaknya saja kamu! Lagian masa kamu lupa kalau kita pernah ketemu beberapa kali sama pak Hara.” Ghufron juga memperingatkan adiknya yang sepertinya tidak suka dengan kehadiran Hara.


“Oya? Di mana Mas?”


“Waktu di Jakarta, waktu di rumah makan dulu sama Jenar terus waktu mas tunangan ….”


“Oh ya ya, Lini ingat.” Nalini manggut-manggut setelah berhasil mengingat di mana ia dan Hara bertemu. Kini ia membantu bapak dan ibunya membereskan barang-barang Ghufron untuk dibawa pulang.


“Maaf, ya, pak Hara. Lini lupa karena penampilan bapak ganti-ganti, sih. Waktu di Jakarta pak Hara pakai jas, kan, ya? Terus pas di rumah makan waktu itu pak Hara nggak pakai kacamata, betul tidak, Mas?”


“Iya, betul, Lin.” Jawab Ghufron, “maafkan sikap adik saya yang kurang ajar, ya, Pak Hara.”


“Tidak apa-apa,” Hara melihat pak haryo dan bu Nuning telah selesai membereskan barang-barang, “maaf, kalau tidak ada yang perlu saya bantu, sebaiknya saya tunggu di luar.”


“Sekali lagi terima kasih, pak Hara. Maafkan kelancangan saya merepotkan bapak.”


“Jangan sungkan, di sini saya hanya menjalankan perintah.”


Hara meninggalkan ruangan, sempat ia mendengar Nalini bergumam tentang dirinya, “heran, ya? Orang sebaik mas Reyfan dan mbak Aneesha bisa punya tangan kanan seperti itu.”


“Lini!” Sergah Ghufron agar Nalini tidak melanjutkan gumaman. Namun, adiknya itu justeru makin menjadi, “Mas Reyfan itu ganteng, baik lagi. Mbak Aneesha juga cantik, sederhana, ramah dan dermawan, sedangkan pak Hara kaku seperti papan kayu.”


“Ssstt! Lini!”


Hara tidak menggubris ejekan Nalini untuk dirinya. Ia keluar dari ruang rawat dan menutup pintu di belakang. Menunggu Ghufron dan keluarganya siap untuk pulang. Ini merupakan tugas yang diberikan oleh Reyfan dan Aneesha, ia harus memastikan selama Ghufron menjalani pengobatan, keluarganya tidak terbebani.


“Tidak ada yang ketinggalan, kan, Lin?” Tanya bu Nuning ketika keluar dari kamar rawat menuntun putranya.


“Insyaalloh tidak ada, Bu.” Jawab Nalini.


“Sebentar, Bu. Saya telepon Jenar dulu. Tadi pagi dia bilang mau ke sini sepulang dari kampus. Kasihan kalau dia ke sini, kita sudah pulang.” Ujar Ghufron sebelum mereka meninggalkan rumah sakit seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Hara sempat menawarkan kursi roda kepada Ghufron, tapi Gufron menolak. Dia bilang masih kuat jalan sendiri. Memang badan Ghufron terlihat masih bugar, aura wajahnya pun ceria tidak pucat seperti orang sakit. Cara berjalannya pun masih tegap, sama sekali tidak terlihat kalau ia sedang mengidap penyakit parah.


Hara tidak hanya mempersiapkan mobil, tapi ia sendiri yang menyetir, mengantar Ghufron dan keluarganya sampai di rumah dengan selamat. Ia ikut menurunkan barang-barang, memastikan Ghufron baik-baik saja sampai di rumah hingga ia bisa pulang dengan tenang.


Sebelum pulang Hara berpesan, kalau ia sendiri yang akan menjemput dan mengantar Ghufron untuk pemeriksaan lanjutan ke rumah sakit pusat. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh keluarga Ghufron kecuali mengucapkan terima kasih dan berdo’a untuk kebaikan Hara. Ia seperti malaikat tak bersayap yang dikirimkan Alloh untuk membantu Ghufron dan keluarganya.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2