
🌵Berikhtiarlah setiap pagi, karena ada kesempatan baru yang datang. Bisa jadi inilah saatnya harapan dan do’a yang tersemat dikabulkan.🌵
Udara dingin dini hari menelusup masuk melalui lubang ventilasi. Menembus suasana rumah yang sedang penuh dengan kehangatan. Semua orang duduk berkumpul mengelilingi meja makan. Sajian khas ulang tahun berupa tumpeng nasi kuning dihias berbagai macam lauk-pauk dan garnish yang terbuat dari sayuran, tersaji cantik di atas meja makan.
“Kalau 17 tahun, kan, sweet seventeenth. Karena hari ini Jenar 20 tahun, jadi apa namanya, ya?” Riani memegang dagunya sendiri, pura-pura berpikir.
“Apa pun namanya yang penting do’anya, Nda.” jawab Aneesha.
“Betul sekali! Ayo potong tumpeng, Nak!” perintah Riani sambil memberikan sebuah piring dan sendok kepada putrinya.
“Berdo’a dulu, Nda!” Lingga mengingatkan bahwa mereka perlu mendo’akan anggota keluarga yang sedang bertambah usia.
“Oh, iya. Hampir lupa! Ayah yang pimpin do’a!” Riani menunjuk suaminya.
“Kok ayah? Ada Mas Teguh di sini yang lebih tua, ada pak ustadz Faiz juga, lebih pantas mimpin do’a dari pada ayah.” tolak Fares.
“Lho, Jenar anakmu, Res! Bapaknya lebih afdhol mimpin do’a!” lempar Pakdhe Teguh.
“Iya benar, Om. Lebih baik ayahnya yang mimpin do’a di hari ulang tahun anaknya.” Faiz menambahkan.
Fares mengelak. Terjadi sedikit perdebatan dan saling lempar, karena tidak mau memimpin do’a. Beginilah kalau keluarga besar berkumpul selalu ada saja yang diperdebatkan.
“Sudah, sudah! Berdebat terus kelamaan ini potong tumpengnya!” seru Riani tahu jika suaminya hanya ingin mengeles saja, “ayo, Ay! Pimpin do’a, alfatehah saja biar cepat!”
Jenar, Aneesha dan Lingga saling berpandangan dan melempar senyum. Hafal jika ayah mereka selalu tidak percaya diri memimpin do’a, tapi di sisi lain, juga tidak berani menentang perintah Riani.
“Oke.” Fares berdehem dua kali, bergumam sangat pelan sebelum berucap, “mari sama-sama berdo’a agar anak ayah yang pintar tapi tidak terlalu cantik ini--”
Kalimat Fares terjeda oleh teriakan anak-anak dan istrinya, “Ayah!”
Fares tertawa kecil sebelum melanjutkan do’a seraya menengadahkan tangan, “Agar anak ayah yang manis dan pintar … Rinjani Jenar Adhitama selalu diberi kesehatan, keselamatan, kemurahan rejeki, panjang usia yang berkah, dan segera dipertemukan dengan jodohnya ….”
“Kalimat terakhir bisa diskip saja, nggak, Yah?” protes Jenar.
Fares menggeleng, “Aamiin ….” semua orang mengamini secara serempak dengan menangkupkan telapak tangan pada wajah.
Jenar tidak punya pilihan selain ikut menggumamkan kata ‘aamiin’. Ia lalu bergegas memotong ujung tumpeng. Membagi potongan tumpeng kepada semua orang yang hadir.
“Kita makan bareng-bareng.” ucap Riani.
“Jam segini makan, Ri?” Sari menoleh jam dinding, “sahur kali makan jam 03.00 pagi.”
“Sahur juga nggak pa-pa, Budhe. Nanti jam 07.00 baru sarapan.” seloroh Aneesha.
“Ibu hamil mah bebas makan berapa kali, kapan saja.” Jenar menimpali, “Nggak akan jadi gendut karena jatahnya dibagi sama bayi dalam perut.”
“Eh, iya. Aneesha hamilnya seperti kamu, ya, Ri. Cuma perutnya saja yang besar, badan nggak berubah. Dulu budhe hamil semua badan bengkak, nggak ada bentuknya sama sekali.” ungkap Sari.
Jenar mengusap perut kakaknya, “Berat badan naik berapa kilo, Kak?”
“Dari sebelum hamil sampai kontrol terakhir baru naik tujuh kilo.” jawab Aneesha.
“Wah, beneran bikin iri. Saya hamil naiknya sampai 20kg lho, Sha.” Ucap Nanda.
“Kalian mending berat badan naik karena hamil, lha Jenar baru cium bau masakan bunda saja, timbangan sudah otomatis geser ke kanan.” seloroh Jenar yang mengundang tawa semua orang.
Suasana ruang makan rumah joglo yang biasanya sepi, kini ramai dan penuh kehangatan keluarga. Mereka makan bersama, menikmati sajian khas nasi kuning, telur dadar, abon sapi, kering kentang-kacang, perkedel, sambal goreng ati, tak lupa sambal tomat yang aromanya menggugah selera.
Ulang tahun, memang tidak harus dirayakan secara meriah. Namun, tidak ada salahnya berkumpul bersama seluruh keluarga untuk memperingati hari bertambahnya usia. Sebagai ungkapan rasa syukur telah diberi kesempatan hidup dan merasakan bertambahnya usia.
“Yang masak nasi kuning siapa, Nda?” tanya Jenar yang telah menyelesaikan makan.
“Bunda, dong. Dibantu Nanda dan Mbak Sari.” jawab Riani.
__ADS_1
“Pantesan enak, kering kentangnya buatan bunda juga pasti.” Jenar menebak.
Riani mengangguk. Hidangan di atas meja makan telah tandas, orang-orang pun satu per satu beringsut pergi. Hanya tinggal keluarga Adhitama yang masih mengobrol ringan, sambil menikmati kue ulang tahun.
“Kuenya juga enak, bunda yang buat?” Jenar mengambil pisau, memotong kue berbentuk kotak dengan hiasan penuh warna pink dan ungu.
“Bukan, kue itu buatan Hara.” jawab Riani, “Tadinya mau beli saja, tapi Hara bersedia buat."
Jenar tertawa kecil, tidak percaya jika Hara-lah yang membuat kue secantik itu. Ia mengambil sebagian kue dengan sendok, lalu memakannya. Kue coklat bertekstur lembut menyentuh lidah. Ia menikmati rasa kue sambil memejamkan mata. Memberi kesempatan kepada lidah untuk mengirikan sinyal pemberitahuan ke syarat otak.
"Masa Pak Hara bisa bikin kue seenak ini?" tanya Jenar sangsi.
"Nyatanya dia yang buat, kok. Kalau yang hias itu Nanda dibantu sama Budhe Sari." jelas Riani.
Meski masih belum percaya, tapi Jenar tidak melanjutkan asumsinya. Ia memilih mengganti topik pembicaraan.
“Memangnya bunda sama ayah datang jam berapa, kok, bisa masak banyak gini?” Jenar ingin tahu bagaimana keluarganya menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya.
“Bunda dan ayah sampai Magelang siang, habis dzuhur. Budhe Sari dan Nanda sudah belanja keperluan masak nasi kuning, karena bunda berencana langsung masak begitu sampai rumahnya Mbah uti.” jelas Riani.
“Kak Neesha sama Lingga dari siang juga di rumah Mbah uti?” tanya Jenar.
Aneesha menggeleng, “Kakak sampai sudah malam, kalau Lingga dijemput dari pagi.”
“Siapa yang jemput Lingga? Pakdhe Teguh? Kok boleh keluar, katanya selama enam bulan dia tidak boleh dijenguk apalagi keluar asrama.” Jenar penasaran bagaimana adiknya bisa keluar dari asrama yang aturannya sangat ketat.
Lingga tertawa, “Saya juga nggak nyangka bisa berhasil keluar. Kalau yang jemput ayah atau Pakdhe Teguh, mungkin nggak bakal diijinin.”
“Memangnya siapa yang jemput kamu?” Jenar makin penasaran.
“Pak Hara,” Lingga menjawab dengan memajukan badan, “mau tahu alasan yang diberikan Pak Hara sehingga saya diijinkan keluar asrama?”
Semua orang menatap Lingga serius, menunggu pria itu melanjutkan kalimat.
Aneesha dan Jenar kompak mencibir, sedangkan yang lain merespons dengan bermacam-macam reaksi. Ada yang menggeleng, membuang napas, tersenyum remeh, bahkan ada yang biasa saja.
“Ngawur sekali Hara pakai alasan Kakek meninggal, kalau beneran kejadian bagaimana? Kata-kata adalah do’a!” Aneesha tidak setuju dengan tindakan Hara demi bisa mendapatkan ijin adiknya keluar dari asrama.
“Pak Hara nggak mengada-ada kali, Kak. Benar, kan, kalau kakek kita sudah meninggal dan semua keluarga hari ini harus berkumpul untuk berdo’a? Tapi do'a ulang tahun, bukan untuk jenazah.” Lingga menganalisa.
Aneesha diam, mencerna kata-kata Lingga.
“Kalau Pak Hara bilangnya gini ‘Lingga harus pulang, karena kakeknya sedang meninggal.’ Itu baru bohong, karena kakek meninggalnya sudah lama sekali, kan? Bahkan sebelum kita lahir.” penjelasan Lingga membuat semua orang manggut-manggut.
“Pak Hara keren, loh. Bisa mengatasi masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Nggak salah memang jadi orang kepercayaan Kak Reyfan.” puji Lingga.
Reyfan tersenyum, dalam hati setuju dengan pujian adik iparnya terhadap Hara. Walaupun dalam beberapa hal, Hara sering membuatnya kesal.
“Kamu benar, Dek. Hara memang selalu bisa diandalkan untuk urusan apa saja, totalitas kerjanya. Sampai-sampai dia mau antar-jemput Jenar ke kampus.” Aneesha berkata dengan nada menyindir sambil melirik ke kanan.
Riani mengernyit, Fares menghentikan gerakan tangan hendak mengambil cangkir teh, Lingga tersenyum penuh arti, sedangkan Jenar tiba-tiba tersedak.
“Tahu dari mana kamu Hara antar-jemput Jenar ke kampus? Kok nggak ada yang kasih tahu ayah?” tanya Fares dengan pandangan mata menyelidik dan nada bicara tidak suka.
“Hara sendiri yang bilang ke kami, ya, Pi?” Aneesha menyikut lengan Reyfan yang duduk di samping kirinya. Yang disikut menjawab dengan mengangguk.
“Kamu nggak cerita sama ayah, Dek?” Fares mengalihkan pertanyaan kepada Jenar. Gadis itu menjadi panik, sebab belum mempersiapkan jawaban.
“Hanya masalah sepele begini tidak perlu diceritakan juga, Yah. Kantor kami dan kampusnya Jenar satu arah, jadi wajar kalau mereka berangkat bareng, kan?” Aneesha berusaha memberi penjelasan masuk akal, karena melihat ayahnya hampir tersulut amarah. Namun, jawaban yang diberikannya salah, justru makin membuat Fares merasa dicurangi.
“Sepele menurut kamu, tapi tidak bagi ayah. Ayah tidak mengajarkan anak-anak ayah untuk berbohong dan menyimpan rahasia dari orang tua.” Fares menggertak, mengubah suasana yang semula penuh kehangatan menjadi mencekam.
Jenar menunduk, meremas jemari di bawah meja seraya menggoyangkan kaki, tanda panik. Ia tidak menyangka akan dihakimi secepat ini atas masalah yang belum ingin diceritakan. Isi dalam kepalanya berputar-putar, seperti benang yang lambat-laun semakin kusut.
__ADS_1
Ia belum menemukan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan ayahnya, sampai Faiz datang dan menarik kursi lalu duduk di dekat Fares. Rupanya ia mendengar pembicaraan di meja makan yang hampir memanas. Beruntung ia sudah mendengar cerita mengenai Jenar dan Aina yang tidak bisa pulang karena motor mogok di jalan.
“Saya yang minta Hara mengantar Jenar, Om. Karena waktu itu motornya Aina mogok dan harus masuk bengkel. Kasihan kalau Jenar terlambat masuk kelas, karena Aina tidak bisa menjemput di terminal Jombor. Juga kalau pulang malam, kasihan bisa tidak kebagian bus dia. Angkot dari kampus ke terminal, kan, lama sekali.” Faiz dengan sabar menjelaskan secara panjang lebar kepada Fares.
Meskipun tidak ada yang meminta, ia hanya merasa perlu meluruskan masalah sebelum timbul prasangka negatif. Ia pun tidak ingin dianggap lalai menjaga amanah yang dititipkan padanya. Sebab ia sangat yakin antara Jenar dan Hara tidak mungkin mencederai kepercayaan yang diberikan.
“Ayah jangan salah paham dulu, dong. Belum juga dijelasin, sudah emosi.” gerutu Aneesha.
“Tahu, nih, Ayah!” Lingga menimpali.
“Ya, maaf. Habis Jenar diam saja, nggak jawab. Ayah jadi menduga yang tidak-tidak.” Fares tetap dengan sikap tidak mau disalahkan.
“Ayah kayak baru kenal Kak Jenar saja, dia mana bisa segera jawab kalau ditanya dengan nada mengancam begitu?” Lingga bersungut-sungut, Aneesha mencebik dan Jenar pelan-pelan berani mengangkat kepala.
“Sudah, tidak usah diperpanjang. Nggak masalah Jenar diantar Hara, asal jelas arah dan tujuannya. Lagi pula Hara tidak diam-diam, kan, jemput kamu? Dia datang ke rumah ini, terus antar kamu pulang juga ke rumah ini, kan?” Riani berusaha menengahi.
Jenar mengangguk, embusan napas lega pun terdengar dari hidungnya. Kekhawatiran dan ketakutan yang baru saja menyeruak perlahan memudar, melukiskan senyum manis di bibir. Sambil menatap Faiz, ia menggerakkan mulut, berterima kasih tanpa suara.
“Eh, Hara ke mana, sih? Dari tadi tidak kelihatan, kenapa dia tidak ikut kasih kejutan ke Jenar?” Riani tiba-tiba sadar akan ketidak hadiran orang paling berjasa atas keberhasilan surprise dini hari ini.
“Mungkin tidur, Bun. Tadi dia bilang ngantuk dan capek.” jawab Reyfan.
Sayup-sayup terdengar suara qiro’ah dari masjid terdekat. Jenar segera menghabiskan kue yang tersisa sedikit dan air minum. Lalu bersama dengan ayah, bunda dan adiknya ia menengadahkan tangan membaca do’a dan niat puasa. Sudah menjadi kebiasaan keluarga ini menjalankan puasa di hari peringatan kelahiran. Sebagai ungkapan rasa syukur atas bertambahnya usia, sekaligus pengingat diri, bahwa jatah usia di bumi makin berkurang.
“Om mau salat subuh di masjid?” tanya Faiz seraya berdiri.
“Di rumah saja,” jawab Fares, lalu berseru kepada putranya, “Lingga sama Reyfan kalau mau jama’ah di masjid bareng Faiz sana!”
“Saya di rumah saja, Yah.” jawab Reyfan malas, ia merasa lelah dan mengantuk. Kalau tidak demi menghormati keluarga istrinya, pasti ia lebih memilih tidur dari pada makan bersama dini hari.
“Lingga juga di rumah saja, Yah. Habis itu mau tidur seharian.” sahut Lingga.
“Jadi semuanya mau salat di rumah, nih? Ya, sudah kalau begitu saya berangkat sendiri. Jadwal mengisi kajian pagi di masjid, jadi harus ikut jama’ah.” Faiz menjulurkan tangan di hadapan Fares untuk berpamitan.
Fares kagum dengan menantu Teguh itu, masih muda tapi semangat berdakwahnya besar sekali. Tidak salah jika Faiz selalu menjadi andalan keluarga besar untuk urusan keagamaan. Dalam hati ia merasa iri, ingin juga mempunyai menantu yang soleh dan mendalami ilmu agama seperti Faiz.
“Lingga azan sana!” perintah Fares.
Seperti dikomando, semua orang bergegas membubarkan diri. Lingga mengikuti Fares dan Reyfan menuju pintu belakang. Sementara para perempuan ada yang menunaikan hajat di toilet, ada juga yang langsung mengambil wudlu.
Setengah berlari Jenar keluar dari pintu belakang, menyusul Aneesha dan bundanya yang sudah lebih dulu berjalan menuju musala. Saat melewati jalan setapak di depan gazebo kecil dekat taman, ia berhenti. Sesosok tubuh yang sedang berbaring terlentang dengan melipat tangan di dada, menarik perhatiannya. Ia memanjangkan leher, melongok wajah siapa yang tidur di tengah udara dingin menusuk tulang begini, tanpa alas, bantal maupun selimut. Semenatara penghuni rumah lain sudah berada di musala hendak menunaikan kewajiban.
Begitu tahu ternyata sosok pria itu adalah Hara, Jenar bergegas masuk kembali ke rumah. Tak sampai satu menit, gadis itu telah kembali dengan membawa selimut gambar princes warna pink kesayangannya. Dengan hati-hati, ia membentangkan selimut itu untuk menutupi tubuh Hara agar sedikit terlindungi dari udara dingin yang menusuk tulang. Setelah itu ia pun pergi, melanjutkan langkah menuju musala karena sudah ditunggu untuk salat berjama’ah. Ini adalah subuh pertama di usinya yang ke-20 tahun. Pagi yang tepat untuk menggantungkan do’a dan harapan tentang masa depan.
Tidur Hara yang tidak terlalu lelap terusik. Ia merasakan benda halus menyentuh kulit tangan yang tidak tertutup jaket. Dengan malas ia membuka sedikit mata, mendapati Jenar sedang berlari menjauh. Senyum tipis menghiasi bibir, ia pun kembali memejamkan mata sambil merapatkan selimut. Aroma wangi bunga-bunga tercium dari selimut yang tidak terlalu tebal tapi sangat halus itu. Ia menarik napas dalam-dalam, membaui aroma yang cukup familiar di indera penciumannya; aroma Jenar.
Ini adalah pagi yang tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidup. Di mana untuk pertama kali, ada seorang gadis yang memberikan perhatian untuknya. Perhatian sederhana yang cukup mengena di hati. Menjadi pagi yang indah sebagai awal hari penuh harapan tentang masa depan.
Tanpa sadar mereka sama-sama menggantungkan harapan, melangitkan do’a dari hati kepada pemilik alam semesta. Namun dengan cara dan yang berbeda ….
.
.
.
Bersambung ....
Ada yang ulang tahun bulan ini? Semoga sehat selalu dan terkabul apa yang menjadi cita-cita kalian. Mohon maaf, karena keterbatasan gerak saya beberapa hari ini tidak bisa rutin up. hehe. (Ah, biasa alasan!)
Jadi begini ... ya, begitu. Harusnya cerita ini tamat satu bab lagi, tapi karena saya masih sayang mereka, jadi diperpanjang saja, ya. Tetap ditunggu, kan, walaupun upnya nggak rutin. Nggak ditunggu juga nggak papa, deh. haha.
Sampai ketemu di bab selanjutnya, kira-kira apa yang akan terjadi ya?
__ADS_1