
🌵Hati perempuan akan luluh, akan sebuah pemberian yang tulus.🌵
Jenar menatap Hara yang dengan santainya merokok sambil sesekali menyeruput es teh. Ia tidak habis pikir, bagaimana pria seperti Hara bisa punya ide memberikan kado di luar perkiraan. Ekspektasinya tadi, isi di dalam kotak adalah baju, jilbab, jam tangan, tas, atau barang-barang lain yang umum diberikan oleh seorang pria. Bukan benda sepele yang ia sudah punya banyak di rumah.
“Kenapa Pak Hara kasih ini ke saya?” tanya Jenar seraya menutup kembali kotak hadiah pemberian Hara.
“Saya pikir itu adalah barang yang sangat kamu butuhkan,” jawab Hara setelah mendesis menghembuskan asap rokok secara perlahan.
Pria itu lalu menjentikkan rokok di atas asbak, agar abu di ujung baranya jatuh. Baru ia melanjutkan kalimat, “Kyai Ali pernah mengatakan bahwa sebaiknya jika memberikan hadiah, adalah barang yang sedang dibutuhkan atau minimal bisa bermanfaat jangka panjang. Jadi, bukan hanya sekedar cindera mata, tapi juga bisa digunakan sepanjang waktu. Dengan demikian kita bisa terus mendapat pahala.”
“Kyai Ali berkata seperti itu kepada bapak?” Jenar merasa ragu, karena tidak mungkin ulama seperti Kyai Ali tiba-tiba memberi saran kepada seorang Hara.
Hara menggeleng, “Nggak, sih. Saya dengar waktu beliau mengisi pengajian beberapa waktu yang lalu.”
Jenar manggut-manggut, “Dari mana bapak tahu saya butuh barang-barang ini?”
Hara menghisap rokok, lalu memalingkan wajah saat menghembuskan asapnya agar tidak mengenai Jenar.
“Karena setahu saya, kamu sering pulang kuliah hujan-hujanan, tidak pernah bawa payung dan keesokan harinya Mbak Sayumi menjemur sepatumu. Mungkin kamu tidak punya payung dan sandal.” jawab Hara.
Jenar menunduk, menyembunyikan senyum. Ada rasa haru menjalari hati, baru kali ini ada orang yang sangat memerhatikannya. Bahkan sampai hal kecil yang malah luput dari perhatiannya sendiri. Tak pelak, ia pun tersentuh oleh kepedulian Hara.
“Kamu ini calon tenaga kesehatan, akan menjadi penolong keselamatan orang kelak, tapi kesehatan sendiri tidak dipedulikan.” gerutu Hara.
“Bukan tidak peduli kesehatan, Pak. Saya hanya tidak ingin repot bawa payung, karena tas saya sudah cukup berat untuk membawa buku dan perlengkapan kuliah lainnya. Tidak muat lagi kalau harus bawa payung, apalagi sandal.” Jenar berkelit.
“Kalau hanya tambah payung dan sandal, saya rasa tidak akan terlalu berat. Lagi pula dua benda itu beratnya tidak mencapai satu kilogram,” ujar Hara remeh.
“Coba pikir! Lebih baik yang mana? Kamu repot membawa tas yang berat karena bertambah payung dan sandal atau setiap hari kamu kehujanan dan akhirnya sakit. Iya kalau hanya masuk angin biasa yang tiga hari sembuh, bagaimana kalau ada virus jahat yang mampir bersama dengan air hujan? Influenza, diare, atau thypus, misalnya. Kalau tasmu berat paling yang repot dan susah membawanya hanya kamu saja, tapi kalau sakit banyak orang yang repot.” Hara seperti seorang ayah yang menceramahi anaknya.
Jenar menghembuskan napas, lalu menyesap minuman dengan sedotan. Telinganya tiba-tiba terasa panas, karena harus mendengarkan penuturan Hara. Ia jadi merasa seperti seorang anak kecil yang sedang dinasehati oleh ayahnya sampai tidak sanggup menjawab setiap kata yang dilontarkan.
“Jenar?” panggil Hara.
__ADS_1
Jenar yang sedang memainkan sedotan dalam gelas, mendongak. Melihat wajah Hara yang serius, bahkan sampai mematikan rokok, ia segera meletakkan gelas di atas meja. Menunggu barang kali pria itu ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya.
“Apa kamu akan membawa dua barang itu jika sedang pergi? Seperti kamu selalu membawa mukena dan kitab ke mana-mana?” tanya Hara serius.
Jenar berpikir sejenak sebelum menjawab, “Ehm … insyaalloh. Kalau tidak lupa.”
“Saya ingatkan setiap hari, biar kamu tidak lupa.” potong Hara cepat.
Jenar tersenyum kecil, “Memangnya Pak Hara tidak punya kerjaan, mau ngingetin saya setiap hari. Hanya untuk membawa payung dan sandal.”
Bukan Hara kalau tidak punya jawaban dari setiap pertanyaan memojokkan, “Itu akan jadi tambahan pekerjaan saya sekarang, ngingetin kamu biar tidak lupa bawa payung dan sandal setiap mau pergi. Kalau perlu, saya kasih tulisan di pintu keluar kamar kamu, biar selalu ingat.”
“Terserah bapak saja,” ucap Jenar pasrah dengan Hara yang selalu tidak bisa didebat. Ia mengambil gelas, menyeruput minuman yang tinggal sedikit.
Hening. Jenar dan Hara saling diam. Mereka berpindah duduk di luar tenda, sebab pengunjung bertambah banyak dan tempat di dalam warung tidak mencukupi. Penjual menawarkan tempat di luar tenda, sehingga mereka bisa menikmati hidangan sambil melihat lalu-lalang kendaraan di jalan raya. Bukan hanya itu, suara orang bercakap-cakap, asap yang mengepul dari wajan penggorengan, aroma makanan menggugah selera, berpadu menjadi harmoni menarik di dalam warung tenda sederhana itu.
Hara melongok ke dalam warung, nampak beberapa orang sedang menikmati hidangan sederhana. Ada yang datang sendiri, dengan teman, pasangan, bahkan sekeluarga. Di tempat yang tidak terlalu luas ini, ia bisa merasakan aura bahagia dan kebersamaan.
Begitu juga halnya dengan Jenar. Ia tidak pernah mengira, bahwa Hara-orang yang selalu berpenampilan rapi dan mempunyai circle serba mewah-ternyata bisa makan di tempat sempit dengan hidangan ala rakyat jelata pada umumnya. Apalagi hadiah yang pria itu berikan, sepele tapi menurutnya sangat istimewa. Baru kali ini ada orang yang memberikan hadiah, dengan memikirkan kebutuhannya. Tak pelak hal itu pun menyentuh relung hati terdalamnya, hingga hampir saja lupa akan peristiwa yang sempat membuatnya kecewa.
“Pak Hara?” Jenar memanggil setelah beberapa jenak hanya diam.
“Heem,” jawab Hara.
“Apakah bapak tidak marah sama saya?” tanya Jenar ragu-ragu.
“Apakah ada alasan saya marah sama kamu?” Hara mengembalikan pertanyaan, belum sepenuhnya mengerti arah pembicaraan Jenar.
“Mungkin Pak Hara marah karena tadi harus mengejar saya. Maaf karena saya mengganggu pertemuan bapak dengan perempuan itu,” lirih Jenar sambil menunduk. Ia berusaha keras mengumpulkan kekuatan untuk mengakui kesalahannya, “Maafkan saya ….”
“Maksud kamu apa?” Hara mengernyit, benar-benar tidak paham apa yang Jenar ucapkan.
“Ehm …,” ragu-ragu Jenar mengulangi kalimatnya, “Perempuan yang bersama Pak Hara di mall tadi, harusnya bapak makan siang sama dia, kan? Lalu mengantarnya pulang, bukan malah bersama saya seperti sekarang ini.”
__ADS_1
“Oh! Soal itu,” Hara mulai paham arah pembicaraan Jenar, “Dia bawa mobil sendiri, sudah sangat hafal daerah Yogya dibanding saya. Lagi pula, ada asisten pribadi yang menemaninya, jadi untuk apa saya mengantarnya pulang? Tadi kami hanya tidak sengaja bertemu.”
Jenar mengangguk, penjelasan Hara tidak cukup membuatnya rasa bersalah sekaligus irinya hilang. Walau bagaimanapun ia tetap merasa menjadi perusak waktu kebersamaan Hara dan perempuan itu. Di satu sisi sesak karena melihat keakraban mereka berdua masih terasa di dalam hati.
“Dia datang untuk menunggu klien sambil makan siang. Karena saya belum makan dan menunggu kamu selesai salat pasti lama, jadi saya setuju diajak ke food court. Saya pikir, kamu juga bisa sekalian makan selesai salat.” Hara menambahkan penjelasan.
“Bapak tidak perlu menjelaskan kepada saya untuk apa dia datang dan siapa dia,” Jenar menyanggah penjelasan Hara begitu saja, bahkan sebelum sampai di ujung kalimat.
Hara tersenyum, ketika melihat air muka Jenar terlihat gusar. Kalau boleh ia berharap Jenar cemburu terhadap Cecilia, tapi sepertinya terlalu dini untuk menyimpulkan.
“Padahal saya sudah siapkan penjelasan, loh. Mungkin kamu sedang salah paham terhadap saya dan dia.” Hara berkata ringan.
Jenar menggeleng keras, ia tidak ingin Hara menjelaskan apa pun, sebab khawatir justru tidak seperti keinginannya. Namun, tentu saja Hara tidak diam begitu saja, ia merasa harus menjelaskan tentang siapa gadis yang dimaksud Jenar. Agar tidak ada salah paham antara mereka.
“Namanya Cecilia, dia sepupu saya. Kami akrab karena sejak kecil bersama, bahkan sekarang dia tinggal di rumah saya kalau sedang di Jakarta.” jelas Hara.
Jenar mendongak cepat, terkejut karena Hara menjelaskan hubungan dengan perempuan itu. Selama beberapa jenak ia hanya diam, mendengarkan seluruh ucapan Hara dengan teliti. Selanjutnya ia jadi salah tingkah karena telah salah sangka terhadap pria itu.
Hara memerhatikan Jenar sambil tersenyum penuh arti. Dalam hati muncul seberkas cahaya harapan, kesempatan untuk berjuang. Hadiah yang ia berikan kepada Jenar memang bukan barang mewah, tapi bisa jadi istimewa karena diberikan dengan tulus dan di saat yang tepat. Menghilangkan salah prasangka yang sempat menghampiri.
.
.
.
.
Bersambung ....
Sudah tahu, kan, kado dari Hara apa? Karena kemarin tidak ada yang menjawab tepat, jadi ... part selanjutnya 3 hari lagi, insyaalloh ...😁
Selamat menunggu dalam cinta ❤❤❤
__ADS_1