Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
115. Ungkapan Rasa Terpendam


__ADS_3

🌵Jika kamu memilih mengungkapkan perasaan terpendam, maka harus siap dengan konsekwensi dan resiko yang harus dihadapi setelahnya.🌵


Malam beranjak larut, silir angin bertiup tenang, menghadirkan dingin membelai tubuh. Hara duduk di bangku yang terletak di bawah pohon rambutan, tempat favorite jika sedang berada di pesantren. Dari tempat ini, ia bisa melihat hampir seluruh bangunan pesantren. Masjid besar yang terletak persis di depan pintu gerbang, menjadi bangunan penyambut setiap orang yang datang. Rumah utama keluarga Kyai Ali yang terletak di bagian tengah, lalu aula pertemuan di sebelahnya. Gedung berlantai tiga yang merupakan asrama santri putra, terlihat memanjang di bagian utara. Bangunan rumah kecil yang menjadi pembatas antara gedung asrama santri putra dan putri. Bangunan itu biasanya digunakan untuk belajar mengaji anak-anak kecil yang tinggal di sekitar pesantren. Benar-benar komplek pesantren sederhana, tapi menghadirkan nuansa agamis yang menenangkan jiwa.


Entah sudah berapa lama Hara duduk di sana, tapi belum juga ada keinginan untuk beranjak. Ia menengadah sambil membuka mulut, menggerakkan bibir dan lidah pelan untuk mengeluarkan asap putih yang tertahan di laring membentuk huruf O mengudara. Berkali-kali ia melakukan hal yang sama, menikmati rokok untuk membunuh gelisah.


Pria yang mengenakan kemeja putih itu mengambil ponsel, membuka layar lalu melakukan panggilan telepon. Beberapa saat ia menunggu, tapi panggilannya tak juga terhubung. Ia ulangi mendial nomer kontak yang sama, sekali lagi tidak tersambung. Bukannya menyerah, ia mengulanginya lagi, tapi suara dari mesin penjawab otomatis justru yang terdengar.


[Maaf, nomor telepon yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.]


Ia mendengkus kesal, meletakkan ponsel pada bangku begitu saja, membiarkan teleponnya mati sendiri. Rasa khawatir hadir, menyelinap dalam hati, berkelindan. Menyebabkan hati tidak tenang, digelayuti oleh gelisah.


‘Sudah hampir pukul 11 malam, ke mana anak itu?’ batin Hara dalam hati. Ia memandangi ponsel yang tergeletak di bangku, lalu menyandarkan punggung sambil menghisap rokok lagi.


“Belum kasih kabar juga?” Hara menoleh, ketika mendengar suara laki-laki di belakangnya. Ia lalu berdiri, menyambut Gus Hafidz dan Kyai Ali yang sedang berjalan ke arahnya. Nampaknya mereka baru saja selesai beraktivitas bersama para santri di masjid.


“Siapa yang belum kasih kabar?” Kyai Ali bertanya kepada putranya.


“Siapa lagi kalau bukan gadis yang sedang setiap saat dipikirkan oleh Hara, Bah.” jawab Gus Hafidz, memberikan kode kepada bapaknya.


“Lho, tadi sore bilang kalau hari ini kalian akan bertemu, Kenapa kamu harus menunggu kabar darinya, Hara?” tanya Kyai Ali ingin tahu.


Gus Hafidz mempersilakan bapaknya duduk di bangku yang semula diduduki Hara, lalu ia ikut duduk di sebelahnya.


“Ketemu, Bah. Tapi mereka bertengkar, makanya dia bingung nunggu kabar dari pujaan hati.” bukan Hara yang menjawab, melainkan Gus Hafidz.


“Belum apa-apa sudah bertengkar, bagaimana mau melangkah ke jenjang yang lebih serius kalau begitu,” gerutu Kyai Ali. Ia menepuk tempat duduk di sebelah kirinya, meminta Hara duduk di sana.


Hara hanya tersenyum masam menanggapi ucapan Kyai yang menjadi majikannya itu.


“Susul saja, dari pada kamu tidak bisa tidur malam ini karena kepikiran dia.” usul Gus Hafidz.


Hara menggeleng, “Tidak enak bertamu malam-malam, mungkin dia sudah tidur.”


“Kamu yakin? Bagaimana kalau ternyata dia belum sampai rumah? Kalau alasannya tidak memberi kabar adalah karena terjadi sesuatu sama dia bagaimana?” Gus Hafidz sengaja memancing rasa khawatir Hara.


Usaha Gus Hafidz berhasil, sebab Hara menoleh cepat dengan dahi berkerut. Senyum tipis menghias wajah rupawan putra tunggal Kyai Ali itu.


“Kalau saya jadi kamu, sudah saya susul dari tadi dia. Karena saya harus memastikan, gadis itu sampai di rumah dengan selamat. Bukan hanya raganya, tapi jiwa dan juga hatinya. Tentu saja saya tidak mau, hanya karena perselisihan kecil dan dia memutuskan untuk pulang bersama orang lain, akhirnya malah hatinya tertambat pada laki-laki itu. Saya pasti akan sangat menyesal jika itu sampai terjadi.” ujar Gus Hafidz melancarkan sindiran panjang lebar dengan maksud memicu emosional Hara.


“Kamu bicara apa, to, Fidz? Abah nggak ngerti.” sela Kyai Ali.


“Bah, Hafidz mau tanya. Kalau kita suka sama seseorang, apakah boleh berjuang mendapatkannya? Seperti yang Hafidz lakukan terhadap Aina, apakah berdosa jika Hafidz meminta perjodohan karena sudah jatuh hati padanya?” sebenarnya pertanyaan itu hanya untuk menyindir Hara yang tidak juga bergerak memperjuangkan cintanya.


“Ya boleh saja, memperjuangkan cinta itu tidak berdosa, asal dengan cara yang baik, tidak menyalahi norma agama dan susila. Memangnya siapa yang sedang jatuh cinta?” Kyai Ali bertanya serius.


Gus Hafidz menunjuk Hara dengan dagu sebelum berkata, “Sudah sangat terlihat jika dia sedang menyukai seorang gadis, tapi tidak berani mengatakan, apalagi mengejar. Hanya diberi perhatian terus, nggak akan tahu kan gadis itu kalau sedang ada yang jatuh hati padanya? Nanti keduluan orang lain baru tahu rasa.”


Kyai Ali menoleh samping kiri, nampak Hara hanya diam memerhatikan semua ucapan putranya. Pria yang minim ekspresi itu tidak mengatakan sepatah kata pun, tapi dari sorot mata dan dahinya yang berkerut dalam menggambarkan jika dia sedang berpikir.


“Kalau memang layak diperjuangkan, kamu harus maju. Tapi kalau masih ragu-ragu, sebaiknya tidak usah. Karena cinta itu butuh keyakinan yang sama antara kamu dan dia, bukan berbeda.” Kyai Ali menjeda kalimat sejenak, Hara makin mengerutkan dahi. Sebuah kesimpulan hampir saja hadir dalam benak, kalau saja Kyai Ali tidak dengan cepat melanjutkan kalimat.


“Untuk mewujudkan cinta, harus mempunyai keyakinan yang sama antara dua orang. Percuma kalau dia yakin sama kamu, eh, kamunya yang nggak yakin sama dia. Nggak sinkron namanya.”


Mata Hara membelalak, ternyata ia salah menerka maksud dari ucapan Kyai Ali tentang keyakinan.


“Tunggu apalagi? Saya pikir dia sudah yakin sama kamu, deh. Nah! Tinggal kamu sebenarnya yakin sama cinta kamu ke dia, atau tidak?” Gus Hafidz bertanya terus terang.


“Kelamaan ragu-ragu keburu ditembak sama orang lain beneran dia, gigit jari kamu!” sindir Gus Hafidz.


Hara mencerna ucapan Kyai Ali dan Gus Hafidz, sejenak kemudian ia beranjak dari duduk.


“Sepertinya saya harus pergi,” ucapnya seraya menyambar ponsel. Lalu meminta ijin kepada Kyai Ali, “Saya pinjam motor boleh, Kyai?”


“Pakai mana saja yang kamu mau.” sahut Gus Hafidz sebelum ayahnya menjawab.


Hara mengangguk, segera melangkah menuju tempat penyimpanan kendaraan pesantren. Tidak banyak yang ia pikirkan kecuali ingin memastikan keadaan Jenar baik-baik saja. Ini kali pertama ia bertindak tanpa pertimbangan matang, tapi justru sesuai keinginan hati nuraninya.

__ADS_1


...***...


Tak perlu waktu lama untuk Hara sampai di tempat tujuan. Keadaan malam dengan langit mendung membuat jalanan tidak terlalu ramai. Pintu gerbang rumah besar yang terletak di pinggir jalan berdampingan dengan area persawahan tertutup rapat. Hara menghampiri pintu pagar, tanpa mematikan mesin motor. Suara deru motor dan lampu yang menyorot menyebabkan dua penjaga mendekat ke arah pintu, sebelum Hara sempat memanggil mereka.


“Oalah Mas Hara, to?” seru salah satu penjaga yang mengintip dari celah kecil yang terdapat pada pintu pagar.


“Ya, Pak. Ini saya, bisa buka pintunya?” pinta Hara.


“Nggih, Mas.” Penjaga itu lantas mengambil kunci untuk membuka pagar. Tanpa menunggu lama, pintu pun terbuka.


“Malam-malam begini dari mana, Mas? Saya pikir Mbak Jenar yang datang, ternyata sampeyan.” ucap penjaga ketika mempersilakan Hara membawa masuk motornya.


Ucapan penjaga membuat Hara mengurungkan niat masuk ke halaman rumah. Ia bertanya kepada penjaga untuk memastikan pendengarannya, “Memangnya Jenar belum pulang?”


Penjaga yang membukakan pintu pagar menggeleng, “Kata Sayumi Mbak Jenar pulang malam karena ada acara, makanya saya standby membukakan pintu kalau dia pulang.”


Hara melihat arlojinya. Beberapa menit lagi tengah malam dan Jenar belum sampai rumah. Menurut perkiraan, harusnya gadis itu sudah sampai rumah paling lambat satu jam yang lalu. Ke mana Lion membawanya pergi?


“Mbak Sayumi di mana?” tanya Hara mulai merasa ada yang tidak beres.


“Di dalam, Mas.” jawab penjaga.


Tanpa basa-basi, Hara segera memarkirkan motor. Ia lalu masuk ke rumah untuk menemui asisten rumah tangga yang seharusnya tahu keberadaan Jenar.


“Tadi saya sudah bilang sama Mbak Jenar, tidak boleh sampai rumah lebih dari jam sepuluh malam. Malah sampai sekarang belum kelihatan, mana ditelpon nggak bisa lagi. Bocah siji kok marai ngelu ndase!” gerutu Mbak Sayumi, mengatakan Jenar membuatnya sakit kepala.


“Dari tadi nggak ngasih kabar dia mau pulang jam berapa, atau mau ke mana gitu?” cecar Hara.


“Tadi sore bilang pulang malam, mau ke pembukaan cafe sama Mbak Aina. Katanya sudah ijin sama Pak Fares dan Bu Riani, tapi kok sampai jam segini belum pulang. Terus nanti pulangnya bagaimana, sama siapa? Jam segini anak perawan masih di luar rumah, saya jadi khawatir." Mbak Sayumi menampilkan raut wajah cemas.


“Sudah coba tanya Aina belum? Barang kali menginap di kostnya?” Hara masih mencoba untuk tidak ikut panik.


Mbak Sayumi menggeleng, “Saya tidak punya nomornya Mbak Aina.”


Jawaban Mbak Sayumi membuat Hara menghela napas berat. Ia segera mengambil ponsel dari saku celana, menghubungi Gus Hafidz untuk meminta nomor Aina. Perasaannya mulai kacau, benaknya pun mulai menduga-duga. Apalagi setelah menghubungi Aina dan ternyata dia sudah berada di kost tanpa Jenar.


“Jam berapa mereka pergi dari kostmu?” Hara mencecar Aina dengan pertanyaan memburu, memperkirakan seharusnya jam berapa Jenar sampai rumah.


“Sekitar jam sepuluh, karena mereka tadi sempat ngobrol dengan ibu kost.” jawab Aina.


Hara kembali menghela napas panjang, setelah menutup sambungan telepon. Berbagai macam pikiran beputar dalam benak, tentang apa yang sedang dilakukan Jenar, ke mana gadis itu dan semuanya membuat urat nadinya memanas.


Baru saja ia berpikir untuk mencari tahu nomor ponsel milik Lion, suara mesin mobil menderu dan berhenti terdengar samar dari arah depan rumah. Hara dan Mbak Sayumi saling tatap sejenak, lalu kompak bergegas mengitari rumah utama, melewati taman agar cepat sampai ke halaman depan.


Degup jantungnya berdetak cepat dengan napas memburu, darah pun telah mendidih, naik sampai ke ubun-ubun. Ia mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya terlihat memutih karena menahan marah. Ketika Hara melihat Jenar keluar dari mobil jeep warna hijau yang berhenti di depan rumah dengan mesin masih menyala. Sekuat tenaga ia mengatur napas, saat Jenar melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah mobil yang sedang berjalan mundur. Gadis itu berdiri mematung, mengangguk kecil ketika Lion membunyikan klakson, sebelum membawa mobilnya meninggalkan halaman.


Hara menarik napas panjang sebelum berjalan mendekati Jenar yang masih mematung menatap ke arah mobil jeep menjauh. Gadis itu seperti tidak rela melepas kepergian Lion.


“Nggak disuruh nginep sekalian dia?” sindir Hara sarkas, begitu sampai di dekat Jenar.


Jenar menoleh, tersenyum tanpa beban kepada Hara.


“Pak Hara ngapain di sini malam-malam?” tanya Jenar ringan, tak biasanya Hara terlihat di rumah itu larut malam begini.


“Saya punya banyak alasan berada di sini kapan pun. Justru yang harus ditanyakan adalah kenapa kamu baru sampai rumah sekarang, padahal pergi dari cafe lebih awal dariku? Gus Hafidz saja sudah selesai memimpin do’a malam para santri, loh.” cetus Hara.


“Iya, Mbak Jenar bikin saya khawatir saja. Saya sampai belum makan malam karena menunggu sampeyan, lho. Mana ditelepon tidak bisa, kebiasaan!” Mbak Sayumi ikut menyela.


“Maaf Mbak, saya kehabisan paket data, belum sempat beli.” jawab Jenar seraya tersenyum, seperti tidak melakukan kesalahan.


“Yo wes, arep digodoke banyu ora?” Mbak Sayumi bertanya apakah Jenar ingin dimasakkan air atau tidak, barang kali gadis itu ingin membersihkan diri dengan air hangat.


“Boleh, kalau tidak merepotkan,” jawab Jenar.


“Repot yo tetep dilakoni, wong wes gaweanku, kok. Semang basa-basi.” Mbak Sayumi menggerutu lagi. Walaupun repot, ia akan tetap melaksanakan perintah majikannya, jadi Jenar tidak perlu basa-basi.


Jenar tertawa kecil, melihat tingkah Mbak sayumi yang menggerutu sambil berlalu masuk ke rumah. Asisten rumah tangga andalannya itu, paling tidak bisa marah padanya. Walau kesal, pasti tetap melayaninya dengan baik.

__ADS_1


Jenar melangkah sambil membetulkan tali tasnya, melewati Hara begitu saja. Ia benar-benar tidak merasa harus menjawab pertanyaan pria itu.


“Dari mana saja?” tanya Hara singkat sambil berusaha menahan emosi agar tidak meluap.


“Tadi, kan, kita ketemu. Bapak lupa kalau saya datang ke peresmian cafe?” Jenar malah mengembalikan pertanyaan kepada Hara.


“Acara peresmian cafe sudah selesai sejak beberapa jam yang lalu, saya yakin betul kamu pulang duluan dari pada saya. Jadi kenapa baru sampai rumah? Nggak kasih kabar siapa-siapa, kamu nggak sadar kalau sudah bikin orang-orang khawatir?” cecar Hara.


Jenar menoleh, “Saya sudah pamit sama Mbak Sayumi, tadi juga sudah jelasin kalau paket data saya habis. Siapa lagi yang khawatir selain Mbak Sayumi? Pak Hara khawatir karena saya belum pulang? Nggak mungkin, kan?”


Hara mendengkus. Gadis di hadapannya ini bukan hanya polos, lugu dan naif, tapi juga tidak peka perasaannya.


“Memangnya salah kalau saya khawatir sama kamu?” Hara menatap tajam ke arah gadis di depannya.


“Jenar?” panggil Hara agar Jenar membalikkan badan.


“Apa yang saya lakukan selama ini ke kamu, tidak cukup membuatmu tahu tentang bagaimana perasaan saya?” tanya Hara dengan nada yang merendah.


“Perhatian, perlindungan, saya berikan apa yang kamu butuhkan. Apa belum cukup untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan terhadap kamu?” Hara maju dua langkah, tepat saat Jenar berbalik.


Gadis itu menatap Hara sambil mengernyit, “Pak Hara bicara apa?”


Hara maju lagi selangkah, hingga hanya berjarak satu meter dengan Jenar.


“Apakah kamu tidak bisa membaca perasaanku selama ini, setelah semua yang saya lakukan untukmu? Kamu pikir, mengapa saya mau susah payah bawa kamu psikiatri? Mengapa saya tidak suka kamu dekat dengan laki-laki lain, terutama Lion! Apa kamu tetap tidak paham, Jen?” Hara terus mencecar gadis di hadapannya dengan menyebutkan fakta-fakta sikap dan perhatiannya selama ini.


“Apa kamu tidak bisa membaca ketulusanku, Jen? Kamu tidak merasa aku punya maksud di balik itu semua?” Hara memiringkan kepala, menatap tepat di bola mata bulat kecoklatan itu.


Jenar mencerna dengan baik semua ucapan Hara, ia menutup mulut dengan telapak tangan ketika bisa menyimpulkan maksud pria itu. Mata bening gadis itu memanas, dengan bulir air mata mengumpul di pelupuknya. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap sorot tajam yang mengarah padanya.


“Kenapa kamu tidak bisa meraba perasaanku, Jenar? Kamu tidak tahu aku su-” Hara tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Jenar menggeleng cepat.


“Jangan lanjutkan!” sentak Jenar parau, setetes air mata telah jatuh di pipinya yang mulus, “Saya mohon jangan lanjutkan, Pak. Cukup sampai ini saja, saya tidak mau tahu lebih banyak.”


Selangkah lagi Hara maju, tapi Jenar menarik diri menjauh. Mereka makin berjarak, jauh dari jangkauan satu sama lain.


“Kenapa, Jen? Apa saya salah jika jatuh hati padamu?” pertanyaan Hara membuat Jenar menggeleng keras. Namun, Hara tetap melanjutkan ungkapan perasaannya, “Saya suka sama kamu. Saya jatuh cinta sama kamu, Rinjani!”


Jenar mendongak, menatap sorot tajam di hadapannya dengan air mata yang telah berlinang. Kilat menyala, membelah langit malam yang makin pekat diselimuti mendung. Gemuruh guntur terdengar keras, seiring angin yang bertiup kencang. Tetes demi tetes air hujan turun, susul-menyusul kian menit bertambah deras.


Jenar menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Jantungnya berdegup kencang, tangis tak lagi bisa dibendung. Jatuh luruh membasahi wajah, bersamaan dengan air hujan menyiram tubuhnya. Dingin terasa seperti air hujan masuk ke dalam pori-pori, membuat Jenar tidak kuat menopang tubuhnya sendiri. Ia jatuh, berjongkok tanpa bisa menghentikan tangis.


Hara pun ikut berjongkok, memandangi gadis yang menangis di hadapannya. Segala rasa berkecamuk dalam hati, tapi ada satu kelegaan karena telah berhasil mengungkapkan perasaannya.


“Saya benar-benar cinta sama kamu, Jen. Katakan bahwa saya tidak perlu minta maaf, karena mempunyai perasaan ini.” suara Hara bergetar.


“Harusnya Pak Hara tidak mengatakannya, saya sudah bilang tidak mau dengar, kan?” ujar Jenar lirih, hampir tak terdengar karena beradu dengan suara gemuruh hujan yang sangat deras.


“Kenapa? Karena kamu sudah memiliki orang lain?” tanya Hara menunduk mencari wajah Jenar yang tenggelam di antara lututnya.


Jenar menggeleng, “Kita tidak boleh punya perasaan ini, bapak tahu sendiri siapa kita.”


“Saya tidak merasa bersalah, karena perasaan ini tulus hanya untuk kamu.” Hara meyakinkan Jenar.


“Tidak bisa, Pak. Tetap tidak boleh.” suara Jenar makin parau di antara isak. Tangisnya kian kencang, tubuhnya menggigil karena hujan makin deras mengguyur tubuhnya.


"Apa karena aku tidak pantas untukmu, Jen?"


SelanjutnyaHara hanya bisa diam menatap gadis yang terisak di hadapannya. Keduanya sama-sama tak peduli dengan tubuh berbalut pakaian basah oleh derasnya air hujan. Perasaan mereka sedang berkecamuk, antara asa, cinta dan harapan. Bagaimana mungkin rasa yang tidak boleh hadir, justru telah tumbuh subur di sanubari masing-masing tanpa disadari.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Wah, akhirnya kalimat itu tercetus juga😁. Diterima nggak ya, perasaan Hara ke Jenar?


__ADS_2