
🌹Memang sulit bagiku untuk melupakan masa lalu, rasa bersalah itu terlanjur bersarang dalam hati.🌹
Jenar.
“Pak Hara! Saya boleh pinjam hp?” aku bertanya dengan berbisik, setengah takut sekaligus sungkan, “saya harus kasih kabar ke mbak Sayumi, dia pasti khawatir karena saya belum pulang. Pak Hara tahu, kan, hp saya ilang.”
Bukannya menjawab, pak Hara malah berdiri meninggalkan meja makan. Merasa tidak dihiraukan, aku menunduk malu. Sejenak kemudian, menumpuk piring kotor hendak membawanya ke belakang untuk dicuci. Tapi mbak Nabila melarang.
“Biar mbak saja yang beresin.” ucap mbak Nabila mengambil alih piring dari tanganku.
Tentu saja aku merasa tidak enak, sudah numpang makan tidak mau mencuci piring kotornya. “Saya saja yang cuci piringnya, Mbak.” pintaku.
“Air di sini dingin sekali, nanti kamu kedinginan, loh.”
“Sedingin apa, sih, Mbak? Sepertinya tidak jauh beda dengan air di Magelang, deh.”
“Lebih dingin di sini, sudah! Biar mbak saja. Kamu itu tamu di sini, masa disuruh cuci piring.”
“Kata bunda kalau bertamu harus sopan dan bantuin yang punya rumah.”
“Kalau kata saya, tamu itu harus dihormati tidak boleh diminta beres-beres, apalagi cuci piring.”
Aku tertawa kecil, mbak Nabila ini bisa saja mencari alasan agar aku tidak membantunya. Pantas saja Naufal sekecil itu sudah pintar, ternyata dia dilahirkan oleh ibu yang juga pintar dan ramah.
“Jenar duduk saja. Mau dibuatkan teh lagi tidak?”
“Nggak usah, Mbak. Saya harus segera pulang, takutnya mbak yang biasa menemani saya, nyariin. Bisa repot saya kalau dia lapor ke pakde atau telephon ayah. Mana hp saya ilang lagi, nggak bisa kabarin orang rumah.”
“Padahal ini sudah malam sekali, loh. Mbak pikir kamu mau nginep di sini.”
“Maaf, Mbak. Saya harus pulang. Ehm ... mbak punya aplikasi buat order taksi online tidak? Saya mau pinjam.”
“Eh! Jangan naik taksi online! Anak perawan malam-malam begini bisa bahaya naik taksi online sendirian. Biar Hara yang antar, ya? Pake mobilnya mas Akmal, tidak mungkin kalau pakai motor. Kamu baru saja sadar dari pingsan, pasti belum pulih benar. Nggak apa, kan, diantar pake mobil pick up? Bersih, kok. Tadi sore sudah dicuci sama mas Akmal.”
Sebenarnya aku merasa tidak enak sudah membuat mbak Nabila dan keluarganya repot, terutama pak Hara. Pingsan lama, setelah sadar menghabiskan makanan, sekarang masih minta diantar pulang. Tapi benar kata mbak Nabila, tidak mungkin aku pulang naik taksi sendiri sebab hari sudah menjelang larut.
“Hara!” mbak Nabila berseru memanggil pak Hara.
Tidak berselang lama pak Hara muncul dari salah satu kamar, sudah siap memakai jaket seperti hendak bepergian.
“Kamu mau antar pulang Jenar, kan?”
Pak Hara mengangguk sambil mengambil sesuatu dari atas bufet yang ternyata sebuah kunci mobil. Dia berjalan mendekat, lalu mengulurkan ponsel kepadaku, “baterainya sudah terisi penuh. Maaf, tadi saya angkat telephon dari mbak Sayumi dan bilang kalau kamu sedang di sini.”
Aku melihat sebuah ponsel yang sangat familiar, seketika mataku berbinar. “Alhamdulillah,” mengucap syukur karena benda pipih yang semula kukira hilang, kini sudah ada dihadapan.
“Pak Hara menemukan hp saya di mana?” tanyaku penuh rasa penasaran.
“Di pesantren. Untung ada santri yang nemuin, lain kali hati-hati kalau sedang di tempat umum. Jangan taruh hp sembarangan!”
Aku baru ingat, pasti setelah dipakai untuk foto bersama, lupa tidak kumasukkan ke dalam tas. Ditambah karena terburu ke makam, sampai tidak memerhatikan kalau hp tertinggal begitu saja. Beruntung ada orang jujur yang menemukan.
“Alhamdulillah hp saya nggak jadi ilang, Mbak,” aku berseru senang.
“Alhamdulillah … itu namanya masih rezeki.” ucap mbak Nabila yang kuiyakan dengan anggukan.
“Makasih, ya, Pak Hara.”
“Makasihnya bukan sama saya, tapi sama santrinya kyai Ali,” jawab pak Hara ketus. Tuh, kan. Dia memang tidak bisa basa-basi, sikapnya kaku dan datar sekali. Memangnya tidak boleh aku berterima kasih padanya? Kalau bukan karena dia, mana santri itu tahu kalau hp tersebut punyaku. Dasar papan tulis!
“Ayo kuantar pulang sekarang!”
Setelah mengatakan itu, pak Hara segera berjalan keluar rumah tanpa menunggu jawaban. Sementara itu, aku pun dengan cepat membereskan barang-barangku ke dalam tas. Satu-satunya orang yang kukenal dengan baik di sini hanya pak Hara, tentu saja hanya dia yang bisa mengantarku pulang. Tidak mungkin aku minta antar sama mbak Nabila atau suaminya, kan?
“Ini baju kamu,” mbak Nabila memberikan sebuah kantong kresek berwarna hitam padaku.
Aku menerimanya, “baju mbak saya pinjam dulu, ya. Besok kalau sudah dicuci, saya kembalikan.”
“Tidak usah dikembalikan, buat Jenar saja. Sepertinya baju itu lebih pantes dipakai sama kamu dari pada saya.”
Aku melirik gamis warna merah bata yang kupakai, terdapat logo brand baju muslim ternama di bagian bawah. Sekilas saja aku tahu kalau ini gamis yang tidak dijual secara bebas di pasaran, hanya bisa dibeli di outlet khusus yang harganya tentu saja mahal. Tidak enak rasanya kalau baju ini diberikan secara cuma-cuma.
“Tapi, Mbak?”
__ADS_1
“Sudah! Tidak apa-apa. Anggap saja hadiah perkenalan kita.”
Aku tersenyum seraya mengucapkan terima kasih, dalam hati aku berjanji akan membalas kebaikan mbak Nabila dan keluarganya lain waktu. Sekarang aku hanya ingin cepat pulang, jangan sampai mbak Sayumi lapor ke ayah. Atau pakdhe Teguh tiba-tiba datang dan tau aku belum pulang, bisa kena marah aku nanti.
“Sekali lagi saya minta maaf, sudah bikin repot di sini. Terima kasih banyak atas semuanya. Hanya Alloh yang bisa membalas kebaikan keluarga ini.” ucapku saat berpamitan dengan mbak Nabila dan keluarganya.
“Aamiin. Kami senang, kok, kamu di sini. Jangan sungkan, ya! Kapan-kapan kalau kamu ada waktu, main ke sini.”
“Insya Alloh, Mbak. Sebenarnya masih pengin di sini lebih lama, karena sepertinya ada yang punya hobi sama dengan saya,” aku menunjuk hiasan dinding berbentuk tokoh wayang yang tertata rapi dan terawat.
“Memangnya kamu suka wayang, juga?” Aku mengangguk.
Mbak Nabila melanjutkan kalimat seraya mengusap kepala Naufal, “cocok sama bapak dan Naufal, nih. Mereka kalau sudah nonton wayang seharian juga betah.”
“Sama, dong. Saya juga betah nonton pagelaran wayang kulit.”
“Oya?” pak Wawan menyela, “jarang ada anak muda jaman sekarang yang suka nonton wayang. Biasanya mereka lebih suka nonton sinetron di televisi.”
“Itu kegemaran Nabila, Pak. Biasanya kalau anak muda jaman sekarang, lebih suka nonton drama seri yang aktor dan aktrisnya sama-sama cantik. Apa namanya, Dek?” mas Akmal bertanya kepada mbak Nabila.
“Drama korea, Mas.” jawab mbak Nabila.
“Kalau itu saya juga suka, Mas. Aktornya bening dan manis.”
"Lha rupane podo kabeh lanang wadon ngunu, kok, seneng." seloroh mas Akmal. (Wajahnya sama semua laki-laki sama perempuan gitu, kok, suka.)
"Penyegaran, Mas. Di sini jarang ada cowok yang bening dan putih." jawabku dengan nada bercanda.
Sebenarnya aku merasa betah sekali berada di tengah keluarga harmonis ini. Pak Wawan yang santai, tapi tetap terlihat bijaksana. Mas Akmal yang tidak banyak bicara tapi sekilas saja terlihat ramah. Mbak Nabila dengan gaya bicara yang cerewet tapi anggun. Apalagi Naufal, anak kecil yang tidak banyak ekspresi, tapi kosa kata yang keluar dari mulutnya tidak bisa ditebak. Lucu menggemaskan.
Namun, melihat pak Hara menampilkan wajah tidak suka, aku jadi merasa sungkan. Mungkin dia keberatan aku berlama-lama di sini, sebab sudah banyak merepotkannya. Sebaiknya memang aku segera pulang saja.
“Saya pamit, ya, semuanya.” aku membungkuk agar bisa sejajar dengan Naufal, "kapan-kapan kita ketemu lagi, ya?"
"Mbak bobok kene wae sing suwi." (Mbak nginep di sini saja yang lama.)
Semua orang tertawa mendengar ucapan lugu Naufal. Mungkin karena merasa aku bisa menjadi teman, jadi dia senang aku berada di sini.
Baru saja aku melangkah hendak turun dari teras, tapi terhenti karena teringat sesuatu. Berdiri terpaku di tepi lantai teras rumah pak Wawan, aku baru ingat kalau akan pulang diantar oleh pak Hara. Itu artinya aku akan berada hanya berdua, berdekatan bersama dia dalam satu mobil pickup milik suaminya mbak Nabila. Apa aku bisa?
Aku memutar otak, berpikir dengan cepat tentang harus melakukan apa, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Masa iya, aku harus pingsan lagi dan merepotkan pak Hara lagi?
“Jenar! Tunggu apa lagi? Ada yang ketinggalan?”
Belum juga aku menemukan cara agar bisa pulang dengan selamat tanpa phobiaku kambuh, pak Hara sudah memanggil dengan nada tidak sabar. Aku melihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa kujadikan alasan.
Mataku berbinar senang, saat melihat serumpun tanaman yang menejalar di pagar kayu depan rumah pak Wawan. Kuncup-kuncup bunga kecil berwarna putih tumbuh diantara daun dan rantingnya. Pantas sejak keluar dari rumah tadi, bau harus semerbak memenuhi indera penciuman, ternyata berasal dari kuncup bunga ini.
“Tunggu sebentar, pak Hara!”
Aku membalikkan badan melihat mbak Nabila yang berdiri tak jauh dariku. Dengan hati-hati aku bertanya, “maaf, Mbak. Boleh saya petik beberapa bunga melati itu?”
Yang sedang terpikirkan dalam benak adalah wangi bunga melati itu bisa menghalau aroma lain yang mungkin akan tercium nanti. Tidak masalah jika semua orang akan menganggapku aneh karena minta bunga melati untuk dibawa pulang.
“Jenar suka bunga melati?” tanya mbak Nabila.
Aku mengangguk lemah, berusaha menebalkan muka demi menyembunyikan keadaan sebenarnya.
“Sebentar, ya!” mbak Nabila tergesa masuk ke dalam rumah. Sesaat kemudian keluar dengan membawa kantong plastik berukuran kecil.
Ia menyerahkan kantong plastik bekas dengan logo sebuah minimarket padaku, “segini cukup tidak? Kebetulan tadi pagi saya habis petik melati yang sudah mekar, biar nggak cuma jatuh berserakan. Biasanya cuma mbak simpan buat wangi-wangi kamar. Sekarang buat Jenar saja.”
Aku menerima kantong plastik berisi bunga melati, “Alhamdulillah … terima kasih, ya, Mbak. Sekarang saya beneran pamit.”
“Iya. Semoga kita diberi kesempatan bertemu lagi lain waktu, ya.”
“Insya Alloh”
Aku berjalan mundur dua langkah, lalu berbalik badan. Masuk ke dalam mobil tepat saat pak Hara menyalakan mesin. Membalas lambaian tangan mereka dan seruan mengiringi kendaraan yang mulai melaju.
“Alon-alon wae, Le.” (Pelan-pelan saja, Nak.)
“Hati-hati di jalan, ya!”
__ADS_1
“Jangan ngebut, Hara!”
Aku melihat dari kaca spion Naufal berlari keluar halaman, bayangannya makin lama mengecil, kemudian hilang karena mobil berbelok di pertigaan jalan. Menyandarkan punggung pada sandaran kursi mobil, rasanya berat meninggalkan Naufal. Aneh memang, padahal kami baru bertemu sebentar, tapi seperti sudah memiliki ikatan kuat. Mungkin karena keluarga pak Wawan memberi sambutan yang sangat baik padaku. Jadi kami sudah seperti saudara.
Mobil berjalan dengan pelan, sebab melewati jalan gang yang tidak terlalu lebar. Dari kejauhan aku melihat menara sebuah masjid yang familiar. Lalu aku mengenali jalan yang sedang dilalui, tidak lain adalah jalan menuju ke pesantren Al-Hidayah. Aku baru tahu ternyata rumah pak Wawan dan pesantren milik kyai Ali itu berada dalam satu komplek perkampungan.
Aku melempar pandangan ke samping kanan, melewati pak Hara. Saat kami melewati pintu gerbang dengan gapura bertuliskan nama pesantren. Suasana sepi, masjid besar yang terletak di bagian depan pesantren pun dalam keadaan remang-remang karena lampu utama sudah dimatikan.
Sesaat ingatanku kembali pada saat di mana aku rutin mengunjungi pesantren ini bersama ayah dan bunda. Lalu setelah aku kuliah, mas Ghufron yang menemaniku sowan kyai Ali dan bu Nyai. Sayangnya, mulai sekarang mungkin aku harus terbiasa berkunjung sendirian.
Kalau ingat mas Ghufron, dada ini kembali terasa sesak. Untuk menghalaunya, aku memalingkan wajah dari melihat bangunan pesantren. Membuang pandangan ke jendela samping kiri, sambil menarik napas panjang.
Namun, aku salah. Sebab yang kulakukan justeru hampir menghadirkan ingatan buruk tentang masa lalu. Segera kubuang napas kasar saat aroma itu kembali tercium. Menyengat, membuat kepalaku pusing. Aku harus segera mengatasi, sebelum tubuhku bereaksi dan ketakutan itu muncul.
“Pak Hara!” ragu-ragu aku memanggil sambil memegang handel untuk mengatur kaca mobil, “pak Hara keberatan tidak kalau kacanya saya buka?”
Pak Hara menoleh sekilas lalu menggeleng. Merasa lega, aku hendak membuka kaca lebar-lebar. Tapi suara pak Hara menghentikan gerakan tangan, ketika kaca baru terbuka setengah, “jangan terlalu lebar! Di luar masih gerimis, air bisa masuk.”
Aku menurut, berhenti memutar handle dan memilih kembali bersandar. Berusaha meredam gejolak yang hampir datang dengan memejamkan mata sambil berdzikir. Biasanya cara ini bisa mengatasi keadaan di luar kendali yang hadir tanpa permisi. Beruntung ada bunga melati, wangi aromanya bisa kuhirup untuk menggantikan bubuk kopi yang biasa kugunakan untuk menghalau bau tidak enak yang sangat kubenci.
Mobil melaju lebih cepat, sebab kini telah berada di jalan raya. Semilir angin yang dingin terasa menerpa wajah, lengkap dengan titik-titik kecil air gerimis bercampur embun. Tak mengapa aku kedinginan, asal ingatan itu tidak datang.
“Saya tidur tidak apa-apa, ya, Pak Hara. Maaf, kepala saya pusing.” ucapku memberi alasan, agar pak Hara tidak tersinggung karena aku tiba-tiba memejamkan mata, seolah tidak mengacuhkannya.
“Kenapa? Tidak biasa naik mobil jelek yang tidak ada ACnya?”
Aku tersenyum kecil mendengar pertanyaan pak Hara dengan nada sinis. Kujawab dengan mencoba bicara santai, padahal rasa tidak nyaman sudah menyeruak hadir, “tidak juga, Pak Hara. Saya pusing bukan karena mobilnya tidak ber-AC, mungkin karena tadi baru siuman dari pingsan jadi kondisi badan saya belum stabil.”
Aku mengangkat kantong kresek berisi bunga melati, membaui bunga yang sangat wangi itu. Berusaha mengirim sinyal yang menenangkan ke otak, karena bau tidak enak itu kembali tercium saat pak Hara bicara.
Ya, Alloh berilah kekuatan padaku untuk bertahan dengan keadaan tidak nyaman ini. Setidaknya, semoga aku bisa menahan gejolak, sampai kami tiba di rumah nanti.
Baru saja aku merasa bisa mengatasi keadaan, tapi sepertinya kondisi tubuh memang sedang tidak ingin bersahabat. Perutku terasa tidak enak, seperti ada sesuatu yang bergerak, berputar, mengaduk-aduk isi perut, lalu mencengkeram kuat. Menghasilkan perih sekaligus mual. Sudah berusaha kutahan, tapi sepertinya isi dalam perut ingin dikeluarkan.
“Bisa kita berhenti sebentar, Pak? Sepertinya saya ingin muntah.” susah payah aku berkata sambil meringis dan meremas perut.
Pak Hara tidak menjawab, tapi aku merasakan laju mobil memelan. Belum juga mobil berhenti sempurna, aku sudah tidak bisa menahan isi dalam perut yang akan melesak keluar. Kutarik lengan pak Hara sambil menutup mulut dengan tangan kiri, “cepat berhenti, Pak!”
“I-iya, se-bentar. Saya harus menepi.”
Begitu mobil berhenti, aku segera keluar. Tanpa melihat kanan-kiri, aku berlari menjauh dari mobil. Memuntahkan semua isi perut di bahu jalan, memijit tengkuk sendiri untuk meredakan mual dan pusing.
Ada apa dengan tubuhku ini, selalu tidak bersahabat dengan keadaan. Hanya karena mencium bau parfum laki-laki bercampur alkohol saja badanku bergejolak. Bagaimana aku bisa bergaul dengan banyak orang dalam keadaan seperti ini?
Aku menegakkan punggung, ketika merasa isi perutku sudah habis keluar semua. Mata basah, hidung berair, keringat dingin muncul di sepanjang dahi dan tengkuk. Kuambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan sambil menengadahkan kepala dan memejamkan mata.
Saat mata terbuka, aku melihat sebuah sapu tangan terulur di depanku. Aku menerima sapu tangan yang diberikan oleh pak Hara, “terima kasih.”
Namun, baru saja mengelap mulut dan hidung, aroma menyengat itu kembali hadir. Kali ini lebih kuat, sebab berasal dari benda yang sangat dekat dengan hidung.
“Ya, Alloh!” reflek aku membuang sapu tangan yang berbau tajam dan sangat kubenci itu.
Aku harus memegang kepala dengan kedua tangan, sebab serangan panik muncul. Berusaha mengendalikan diri dengan menggelengkan kepala sambil menyebut nama Alloh. Sebab ingatan itu kembali terlintas.
“Astaghfirullohal’adzim ….”
“Ya Alloh, tidak! Bukan! Bukan saya, saya tidak salah!”
Panik. Aku berjalan mundur sambil terus mengucap istighfar. Langkahku terhenti sebab punggungku menabrak badan mobil. Kedua tangan meremas kepala, aku seperti melihat tatapan mata itu, tatapan meminta tolong sekaligus menyalahkan.
“Maafkan saya, maaf!”
“Ya Alloh! Astaghfirullohal’adzim!”
“Maafkan saya, maafkan saya.”
Aku harus bisa menghalau gejolak ini, aku harus bisa menghilangkan bayangan itu. Aku harus bisa melupakan tatapan mata penuh luka itu. Sebab aku tidak salah atas kejadian itu. Iya, aku tidak salah.
“Kamu kenapa, Jen?”
Aku mendongak, mendengar pak Hara memanggil. Kutatap wajahnya lama, memastikan bahwa aku tidak sedang berada di masa lalu. Tapi yang terjadi justeru aku makin merasa takut karena aroma itu kembali tercium. Saat pak Hara berbicara, “kamu tidak apa-apa?”
Tubuhku lemas, sampai kakiku hampir tidak bisa menopangnya. Luruh berjongkok, kututup wajah dengan kedua telapak tangan, berusaha menghalau bayangan yang seolah hadir di depan mata.
__ADS_1
“Maafkan saya, maafkan saya!”
Rasa bersalah yang terlalu dalam kembali datang. Tatapan mata itu? Bayangan itu? Tubuh lemah tak bernyawa itu sepertinya tidak bisa lepas dari hidupku. Ya, Alloh! Ampuni semua kesalahan saya di masa lalu dan hilangkan ketakutan ini, agar saya bisa hidup dengan tenang.