
...🌵Jika belum bisa mengungkapkan perasaan melalui lisan, sebuah hadiah adalah cara yang tepat mengawali pendekatan.🌵...
Hara keluar dari mobil setelah beberapa saat. Cahaya matahari telah meredup, angin pun bertiup kencang menyatu dengan lalu lalang kendaraan di jalan raya.
Ia menarik dua sudut bibir, melihat punggung gadis yang berdiri tak jauh dari mobil. Dalam keremangan senja, sosok gadis itu tampak seperti siluet yang indah dipandang mata. Suara tarikan napas terdengar, sebelum ia menghampiri gadis yang gamis dan jilbab panjangnya melambai karena dihempas angin itu.
“Terima kasih untuk teh dan minyak kayu putihnya,” ujar Hara membuka suara setelah berdehem beberapa kali.
Jenar hanya memberi jawaban dengan mengangguk, lalu menunduk. Dalam benak ia sedang memikirkan tentang peristiwa hari ini. Gadis yang bertemu dengan Hara di mall, perlakuan pria itu yang membuat tangannya sakit, sampai yang baru saja terjadi di dalam mobil. Kenapa ia sangat lemah sekali sebagai perempuan, hingga membiarkan seorang laki-laki memegang tangannya berkali-kali tanpa ijin. Hara telah berhasil memporak-porandakan prinsipnya.
Hara melirik ke samping, nampak Jenar sedang memainkan kaki dengan kedua telapak tangan saling meremas dan kepala bergerak tidak beraturan. Kebiasaan jika gadis ini sedang dilanda gelisah. Ia berpikir mungkin kejadian di mobil tadi telah membuat Jenar tidak nyaman.
Hening sejenak. Hara dan Jenar sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hanya terdengar suara bising kendaraan dan desau angin kencang. Senja yang kian meredup, menambah sunyi suasana di antara keduanya.
“Ka-lau Pak Hara sudah baikan, kita bisa pulang sekarang,” lirih Jenar dengan nada sedikit terbata.
Gadis itu kemudian berbalik mengambil langkah kembali ke mobil. Namun, Hara segera mencegahnya.
“Jenar, tunggu!” seru Hara.
Jenar menghentikan langkah, mengambil napas panjang tanpa berbalik badan. Ada apa lagi kali ini yang hendak dilakukan oleh Hara.
“Saya memang sudah baikan, tapi belum bisa konsentrasi nyetir. Sebaiknya kita istirahat dulu.” ujar Hara.
Jenar membalikkan badan, menatap Hara dengan dahi berkerut dalam. Ia tidak paham dengan yang dimaksud Hara. Dalam benak sempat berpikir bahwa Hara sedang mengulur waktu agar tidak segera pulang.
“Kita istirahat dulu sebentar, hampir maghrib juga. Mbak Nabila sering bilang, tidak baik berada di jalan waktu menjelang malam seperti ini. Apa, ya, namanya? Sarap, sirip, serep? Apa, sih, lupa …,” Hara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menautkan alis, layaknya orang yang sedang berpikir keras.
Jenar harus menutup mulut karena hampir tertawa mendengar kata-kata yang disebutkan oleh Hara. Ia tahu apa yang dimaksud waktu menjelang maghrib, pergantian dari sore menjadi malam dan mitos yang dipercayai kebanyakan orang jawa.
Ojo metu-metu yen wayah surub, mundak keno candik olo. (jangan keluar rumah waktu menjelang maghrib, nanti kena keburukan).
Wejangan seperti itu yang sering ia dapatkan waktu kecil. Memang tidak baik keluar menjelang maghrib, apalagi seorang anak gadis. Selain khawatir bertemu orang jahat, waktu menjelang maghrib adalah saat berkeliaran jin pengganggu.
“Mbak Nabila sering ngomong ke saya kalau sedang dalam perjalanan waktu seperti ini sebaiknya istirahat dulu. Nggak tahu apa alasannya, tapi saya merasa perlu menurutinya. Katanya banyak hal buruk yang bisa terjadi di waktu seperti ini. Sarap, ya, namanya?” Hara menjelaskan apa yang dia ketahui selama tinggal di rumah Nabila. Hal yang membuat Jenar benar-benar tidak bisa menahan tawa.
“Kenapa kamu tertawa? Saya salah?” tanya Hara polos, karena tidak tahu apa yang membuat Jenar tertawa sampai menutup mulut dengan telapak tangan.?
“Nggak salah Pak Hara, hanya kurang tepat saja. Waktu menjelang maghrib seperti ini, saat pergantian sore menjadi malam … namanya surup, bukan sarap, sirip, serep apalagi surip.” jelas Jenar setelah bisa mengendalikan tawanya.
“Nah, itu dia namanya. Saya lupa.” Hara tersenyum, mendengar jawaban Jenar.
“Memang tidak baik keluar waktu surup, tapi kita bukannya sudah berada di luar sejak tadi? Jadi tidak apa-apa melanjutkan perjalanan, yang penting hati-hati dan waspada. Lagi pula, itu hanya mitos orang jawa, kok. Walau mitosnya bisa dikaitkan dengan logika ilmiah, sih.” Jenar menambahkan penjelasan.
“Walaupun mitos, tetap saja saya tidak berani menyangkal nasehat Mbak Nabila. Naufal bilang, bisa kuwalat nanti. Jadi kita istirahat dulu saja.” Hara kukuh dengan pendiriannya.
Bukan hanya karena menuruti ucapan Nabila, tapi sebenarnya dia ingin memancing Jenar agar mau bercerita tentang kejadian tadi yang membuatnya menangis.
__ADS_1
“Lalu kita mau istirahat di mana? Di dalam mobil? Percuma, makhluk halus tetap bisa mendatangi kita.” ujar Jenar.
Hara membelalakkan matanya, “Makhluk halus? Maksud kamu apa?”
“Mitos keluar surup, kan, berkaitan dengan makhluk halus. Bapak pasti belum tahu cerita sebenarnya, kan?” Jenar menggantungkan penjelasan.
Hara menggeleng, sebuah ide untuk memperpanjang waktu terlintas di benaknya, “Wah! Sepertinya menarik. Bagaimana kalau kita istirahat sambil kamu cerita mitos tentang sarap itu. Biar saya tahu jelasnya seperti apa.”
“Hampir maghrib, Pak. Kalau tidak segera pulang nanti saya terlambat salat.” tolak Jenar setengah menggerutu.
“Cari tempat yang bisa salat terus kamu juga bisa cerita.” usul Hara.
“Di mana?” tanya Jenar.
Hara berpikir sejenak sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sebuah senyum terukir di bibirnya, tepat saat pandangannya berhenti pada warung tenda tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sepertinya keberuntungan sedang ada di pihaknya.
“Kita makan di sana, nanti saya tanyakan sama yang jual. Siapa tahu di dekat sini ada musola atau masjid.” Hara menunjuk warung tenda dengan spanduk warna kuning bergambar beberapa macam unggas dan ikan.
Jenar mengikuti arah telunjuk Hara, lalu bergantian menatap warung tenda dan pria di depannya. Ada sedikit rasa ragu, tidak percaya jika Hara mengajaknya makan di tempat yang sangat sederhana seperti itu.
“Kelamaan mikir, keburu tertangkap makhluk halus!” tiba-tiba Hara menarik tangan Jenar tanpa permisi, membuat si empunya tersentak.
Jenar menghentakkan tangan, melepas paksa dari genggaman Hara sambil berkata ketus, “Saya bisa jalan sendiri tidak usah digandeng.”
“Seneng banget pegang tangan saya, kebiasaan nggak pernah minta ijin pegang tangan orang.” gerutu Jenar selanjutnya.
“Hanya pegang tangan saja harus pakai minta ijin, memangnya tanganmu barang berharga? Walaupun tangan kamu sehalus sutra, tapi itu berlebihan.” jawab Hara enteng.
“Berlebihan?” Jenar menatap tajam Hara, berhenti sejenak, lalu berkata ketus, “Bagi bapak mungkin berlebihan, untuk saya ini adalah prinsip. Lain kali jangan pegang tangan saya sembarangan! Saya tidak suka!”
Hara kembali tertawa kecil, “Jangan harap! Saya bisa pegang apa pun, milik siapa pun sesuka hati saya tanpa minta ijin pemiliknya. Jadi jangan terlalu kolot jadi orang!”
Jenar membuang napas kasar, merasa percuma bicara tentang prinsip dengan pria menyebalkan dan tidak tahu aturan ini.
“Jangan berdiri saja di situ! Walau pun tidak ada makhluk halus yang mau bawa kamu, tapi kalau ada apa-apa, saya juga yang repot.” ucap Hara kepada Jenar yang sedang mematung dengan tatapan kesal. Mimik wajah seperti itu yang justru membuat Hara gemas.
Dengan langkah berat, Jenar mengikuti Hara. Warung tenda sangat sepi saat mereka masuk, hanya ada penjual yang merupakan sepasang suami-istri menyambut mereka dengan ramah. Seperti yang dikatakan tadi, Hara menanyakan keberadaan masjid atau musola terdekat sebelum memesan makanan.
Wajah Hara yang segar, nada bicaranya lugas seperti biasa, sama sekali tak terlihat seperti orang yang sedang sakit. Jenar jadi berpikir, jangan-jangan dia telah dikerjai oleh pria itu. Namun, pikiran itu harus ia halau untuk sementara, sebab pemilik warung mengajaknya berangkat ke masjid bersama.
Sekembalinya dari masjid, Jenar melihat Hara sedang berbincang akrab dengan pria bertubuh tambun yang tidak lain adalah pemilik warung. Mereka nampak terbahak bersama, entah sedang membicarakan apa. Kecurigaan Jenar yang sempat terhalau, kini hadir kembali, melihat piring berisi sisa tulang ayam dan lalapan tergeletak di depan Hara.
“Saya belum pesankan kamu makan, takutnya seperti tadi. Sudah dipesankan ditinggal pergi, percuma saya bayar tapi nggak dimakan.” gerutu Hara ketika Jenar duduk di hadapannya.
“Sepertinya ada yang habis makan banyak, nih.” sindir Jenar, “Doyan atau lapar, Pak? Jangan-jangan Pak Hara tadi cuma pura-pura sakit, ya?”
“Siapa bilang? Tadi saya memang beneran sakit, kok.” jawab Hara enteng sambil menghisap rokoknya.
__ADS_1
“Logikanya kalau orang sakit perut, jadi nggak nafsu makan. Tapi ini Pak Hara habisin makanan banyak sekali.” Jenar menunjuk sisa makanan di depan Hara.
“Saya sakit karena lapar. Apa kamu tahu saya harus makan tiga kali sehari secara teratur di jam yang sama setiap hari? Tadi saya melewatkan makan siang dan ini sudah hampir malam, jelas saja perut saya sakit.” ujar Hara menjelaskan dengan nada menyalahkan.
Jenar melihat air muka Hara, tidak ada jejak kebohongan di sana. Rasa bersalah datang dari dalam hati, menjalar, berkelindan. Ia terduduk lemah dengan bahu luruh, kepala menunduk dan jemari saling tertaut.
“Pak Hara tidak harus mencari saya tadi, karena saya sudah mengirim pesan pada bapak.” lirih Jenar.
"Bagaimana saya bisa tidak mencarimu? Kalau kita sedang pergi bersama, kamu adalah tanggung jawab saya. Saya bisa disalahkan kalau sampai kamu pulang sendiri dan terjadi apa-apa di jalan." jawab Hara tegas.
Jenar menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Ia tak mengira Hara akan menjawab dengan sarkas.
"Mau pesan apa?" tanya Hara setelah melihat air muka Jenar berubah sendu.
Jenar memesan burung puyuh goreng, lengkap dengan nasi, sambal dan lalapan juga segelas jeruk manis panas. Selama Jenar makan, Hara terus memerhatikannya.
"Kenapa Pak Hara liatin saya terus? Pengin?" tanya Jenar, menyadari sorot mata milik Hara terus mengarah padanya.
Hara menggeleng sambil tersenyum kecil. Bukan makanan yang ia perhatikan, tapi cara Jenar makan. Mimik wajah yang serius, cara mengunyah yang tidak buru-buru, bahkan suapan demi suapan terlihat menggemaskan.
"Pak Hara mau coba?" Jenar menyodorkan sepotong daging puyuh kepada Hara.
Hara tertegun sejenak, berpikir. Ini adalah kesempatan langka, yang mungkin tidak akan ada lagi. Lain waktu mungkin tidak akan bisa mencicipi makanan langsung dari tangan Jenar. Namun, setelah menimbang, Hara memutuskan untuk tidak menerina tawaran. Mempersilakan Jenar menikmati makanan tanpa dibagi.
Dengan sabar Hara menunggu Jenar menghabiskan makanannya. Setelah itu, Hara mengambil sebuah kotak warna merah muda yang telah ia siapkan sejak tadi. Tanpa mengatakan apa pun, ia menyodorkannya kepada Jenar.
"Apa ini, Pak?" Jenar terkejut, tiba-tiba Hara memberikannya hadiah.
"Tempo hari kamu minta kado, kan? Ini kado ulang tahunmu dari saya." jawab Hara setelah mematikan rokok yang tinggal puntungnya saja.
Jenar tersenyum, ternyata obrolan basa-basi tempo hari ditanggapi serius oleh Hara. Padahal ia tak sungguh-sungguh berharao Hara memberikan hadiah ulang tahun.
"Boleh saya buka, Pak?" tanya Jenar dengan jemari telah berada di atas kotak.
Hara mengangguk, mempersilakan. Dengan hati-hati, Jenar membuka pita yang mengikat kotak. Dahinya berkerut dalam ketika kotak terbuka dan isinya kelihatan. Selama beberapa detik, ia terpaku menatap isi kado yang menurutnya tak biasa.
Sementara Hara terlihat santai saja, seolah hadiah pemberiannya biasa saja. Ia sudah berpikir panjang sebelum memutuskan barang yang akan diberikan kepada Jenar sebagai hadiah. Jadi, ia sangat percaya diri, bahwa ini adalah hadiah paling istimewa.
.
.
Bersambung....
Kalau kemarin ada yanv betul menebak pertanyaan saya. Sekarang boleh, deh tebak lagi. Kira2 isi kadonya apa ya? 😁
Selamat menebak😁
__ADS_1