Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
52. Gundah


__ADS_3

🍁Banyak manusia tidak sadar telah melakukan kesalahan besar, ketika ada yang mengingatkan, justeru mencari pembenaran.🍁


“Hara! Nanti kalau kamu berangkat, pintunya dikunci, ya! Kuncinya taruh tempat biasa.”


“Ya, Mbak.”


“Mbak sudah buatkan kopi.”


“Makasih, ya, Mbak.”


Aku membuka gorden, tepat saat mbak Nabila meletakkan secangkir kopi di meja makan. Ia mengambil mukena yang tersampir di sandaran kursi makan seraya berkata, “jangan lupa sarapan dulu.”


“Ya, Mbak.”


“Hati-hati nyetirnya nanti, kalau kamu capek istirahat. Bilang sama pak kyai, jangan dipaksakan.”


“Iya, Mbak.”


Mbak Nabila sudah akan melangkah, tapi seperti teringat sesuatu. Ia berbalik, mendekat padaku sambil mengacungkan telunjuk. Berbicara dengan tegas, “ingat Hara! Tidak ada wiski, bir, anggur, atau minuman haram lainnya. Kamu sedang jadi ajudan pak kyai, secara tidak langsung kamu membawa nama baik seluruh pondok pesantren.”


“Iya, Mbak. Hara tahu.”


“Sekali lagi mbak nemu botol wiski, mbak minta kamu nggak usah tinggal di sini lagI!" Mbak nggak mau ada barang haram di rumah ini.”


“Iya, Mbak. Hara minta maaf, tadi lupa buang botol itu.”


“Kamu ini!” mbak Nabila memukul lenganku sekuat tenaga, sampai terasa perih. Ia menatapku tajam sambil berucap, “harus berapa kali mbak bilang? Heem? Jangan beli barang haram semacam itu! Minuman halal saja banyak yang enak, ini malah minum barang haram. Dasar!”


Aku mengusap lengan yang terasa perih, sedangkan mbak Nabila masih terus bicara sambil memukuli lenganku. Walau tangannya kecil, tapi pukulannya perih dan panas sekali. Lenganku terasa seperti terbakar karena dipukul oleh mbak Nabila. Anehnya, aku tidak ingin menghindar, juga tidak ingin membalas. Kalau saja orang lain yang melakukan, mungkin sudah habis kuhajar.


Meski baru beberapa bulan tinggal dengan mbak Nabila, tapi semua ucapannya sudah seperti titah raja bagiku. Seperti mempunyai kekuatan yang tidak bisa dibantah, harus dilaksanakan. Padahal mbak Nabila tidak terlihat seperti orang yang harus ditakuti, hanya dia memang punya wibawa sekaligus sifat keibuan.


Mungkin karena itu, aku jadi tidak berani membantahnya. Aku yang telah lama merindukan mama, seperti dapat merasakan kembali kasih sayang seorang ibu dari mbak Nabila. Meskipun ia selalu cerewet dan banyak aturan, tapi aku tidak pernah ingin membangkang, seperti aku selalu patuh pada mama.


Tadi mbak Nabila marah besar, karena menemukan botol wiski di saku jaketku. Jaket basah yang tertinggal di mobil mas Akmal sepulang dari mengantar Jenar semalam. Belum sempat aku singkirkan, sudah lebih dulu ditemukan oleh mbak Nabila.


Sontan dia marah-marah padaku, sampai mengancam akan mengusirku. Anehnya, aku takut sekali melihat dia marah, padahal seharusnya tidak masalah aku diusir. Toh, aku punya rumah yang lebih bagus dan besar di Jakarta. Entah mengapa rasanya tidak rela kalau aku harus pergi dari rumah ini. Aku sudah terlanjur nyaman tinggal bersama keluarga ini.


“Kamu dengar apa yang mbak bilang, Hara?”


Aku menggaruk kepala yang tentu saja tidak gatal. Bukannya tidak mendengar yang diucapkan mbak Nabila, tapi aku bingung harus menjawab apa? Sebab terlalu banyak dan cepat yang ia katakan. Seperti masuk secara bersamaan ke telinga, kemudian saling berebut agar diteruskan oleh syarat menuju ke otak untuk dicerna.


“Hara! Kamu-”


Mbak Nabila belum menyelesaikan kalimat, mas Akmal sudah memegang kedua bahunya agar tenang, “sudah! Cukup kamu marah-marahnya. Sudah dari tadi kamu ceramahin Hara, kasihan ... dia nanti nggak jadi sarapan karena sudah kenyang sama ucapanmu.”


“Tapi, Mas! Dia harus dikasih tahu, kalau minuman seperti itu tidak baik, bisa merusak tubuhnya.”


“Hara sudah dewasa, dia pasti sudah tahu,” ujar mas Akmal dengan terus mengusap lengan mbak Nabila.


“Sudah tahu, kok, masih diminum.” gerutu mbak Nabila, menatap sinis padaku. Aku hanya bisa meringis dengan malu, seperti seorang bocah yang sedang dimarahi ibunya karena melakukan kesalahan besar.


“Sudah, ya! Kita bisa terlambat salat subuh kalau kamu terus marah-marah. Bapak sama Naufal sudah berangkat, lho.”

__ADS_1


Kalau saja mas Akmal tidak mengingatkan, mungkin mbak Nabila masih lanjut menceramahiku. Ia yang begitu anggun dan lembut, seketika bisa menjadi singa betina kalau sudah marah. Nggak habis pikir sama mas Akmal, bisa sabar banget hadapi mbak Nabila. Dia kalau sudah marah seperti punya kosa kata yang tidak akan pernah habis. Ngomong terus seperti rel kereta yang tidak ada ujung pangkalnya.


Aku menarik kursi, lalu mendudukinya. Lamat-lamat masih kudengar mbak Nabila menggerutu, sambil keluar rumah. Satu sudut bibirku sedikit terangkat, melihat menu lengkap yang tersaji di meja makan. Jam berapa mbak Nabila bangun dan menyiapkan semua ini? Padahal semalam, saat aku pulang dari mengantar Jenar, dia juga masih terjaga. Apa tidak capek?


Lihat, kan? Sedang sangat marah sekalipun, mbak Nabila tetap menyiapkan makanan sehat dan lengkap untukku. Menjadi bukti bahwa di rumah ini, aku diterima dengan tulus. Mbak Nabila menyayangiku tanpa syarat dan tanpa membedakan, walaupun pada kenyataannya kami berbeda.


Kuambil cangkir berisi kopi yang masih panas, menyesap sedikit lalu menghirup dalam-dalam. Aroma kopi hitam instant yang sudah akrab, tercium jelas. Kupejamkan mata, merasai aroma itu masuk ke otak, mengirimkan sinyal menenangkan. Sejenak anganku melayang, mengingatkanku pada peristiwa semalam.


“Sepertinya saya butuh kopi.” ucapan Jenar terngiang.


Mungkin seperti ini yang dirasakan oleh Jenar, saat menghirup aroma kopi. Tenang, kepala terasa ringan. Sayangnya semalam aku hanya membelikannya kopi susu instant dalam botol yang sudah didinginkan. Sudah pasti aromanya kurang menyengat, tidak seperti kopi hitam ini.


Pantas Jenar sampai minta bunga melati pada mbak Nabila. Dia pasti butuh sesuatu yang baunya wangi agar bisa melawan aroma deodorantku. Pasti harus berusaha dengan keras, menahan agar phobianya tidak kambuh. Harusnya dia bilang terus terang padaku sejak awal saja, tentang phobianya itu. Agar aku tidak usah memakai deodorant saat mengantarnya pulang. Jadi tidak perlu tersiksa sendiri.


Ternyata sedahsyat itu akibat dari melihat peristiwa memilukan di masa lalu. Menyisakan trauma berkepanjangan yang sulit hilang. Kalau Jenar yang hanya melihat saja bisa memiliki trauma seperti itu, bagaimana dengan yang mengalami langsung? Pantas kalau sampai bunuh diri.


Oh, ****! Mengapa aku jadi memikirkan dia? Ingat Hara! Dia hanya adiknya Aneesha, bukan siapa-siapaku.


Kuusap wajah kasar, agar sadar dari lamunan. Aku harus segera sarapan, agar perutku tidak kosong. Sebab sebentar lagi, harus mengantar kyai Ali mengisi pengajian ke Salatiga. Perjalanan cukup jauh, aku harus terjaga dan bertenaga. Seperti kata mbak Nabila, aku tidak boleh minum wiski. Biasanya kalau aku harus terjaga seharian, wiski adalah solusinya.


Kali ini tidak, karena mbak Nabila sudah memperingatkan. Bisa benar-benar diusir dari rumah ini kalau aku melanggarnya. Lebih baik aku sarapan dan menghabiskan kopi bikinan mbak Nabila saja, berharap bisa menjaga stamina selama perjalanan nanti.


***


Matahari mengintip dari balik bukit. Sinarnya menyebar ke segala arah, hangat menerpa bumi yang basah karena hujan semalam. Sisa air hujan bercampur embun memanas terkena sinar mentari, menguap ke udara, lalu hilang terbawa angin.


Jalanan masih sangat lengang, membuatku bisa memacu kendaraan dengan cepat, nyaris tanpa hambatan. Suara penyiar radio yang terdengar dari audio mobil menemani perjalanan.


Sesekali kulirik kaca spion dalam, melihat kyai Ali yang sejak berangkat tadi tenggelam dalam kitabnya. Mungkin sedang mempelajari apa yang akan beliau sampaikan di pengajian nanti.


Suara renyah penyiar radio membuatku menoleh sekilas ke arah audio mobil. Lampu rambu-rambu lalu lintas berwarna merah, tanganku terulur untuk menambah sedikit volume suara radio.


“Yang pertama bunga melati … apa, sih, filosofi hidup yang bisa kita ambil dari bunga yang memiliki aroma menggoda ini? Eh? Kalau bicara tentang menggoda, bunga melati identik dengan perempuan, ya? Memiliki budi pekerti luhur dan kesucian, seperti warnanya yang putih dan aromanya yang wangi lembut, tapi tidak menusuk hidung.”


Entah mengapa aku ingin mendengarkan dengan seksama ulasan dari penyiar radio tentang bunga melati. Tanpa kuminta, ingatanku terpanggil, saat Jenar meminta bunga melati pada mbak Nabila. Lalu ia membaui bunga dalam kantong kresek itu dalam-dalam sepanjang perjalanan. Sempat aku berpikir aneh tentangnya, sebelum aku tahu alasan Jenar butuh bau wangi bunga melati. Untuk menghalau aroma yang timbul dari tubuhku.


Setakut itukah dia dengan bau parfum bercampur alkohol? Lalu bagaimana kalau dia mencium bau serupa saat sedang berada di tengah orang banyak? Apakah dia juga akan pingsan seperti saat bersamaku kemarin? Atau muntah-muntah seperti semalam? Siapa yang akan menolongnya nanti kalau tiba-tiba dia pingsan di tempat umum?


Ini kenapa aku jadi memikirkan tentang dia lagi, sih? Kurang kerjaan banget mikirin anak orang.


“No! Nggak masuk akal!” aku bergumam sambil menggelengkan kepala. Memanggil kembali kesadaran yang sesaat tadi berkelana.


“Ada apa, Hara! Apanya yang tidak masuk akal?”


Sial! Pak kyai pasti mendengar gumamanku. Aku harus menjawab apa? Tidak mungkin aku mengatakan sedang memikirkan traumanya Jenar, kan? Tapi kalau tidak dijawab, beliau pasti bertanya terus.


“Eh? Tidak ada pak kyai, tadi saya melihat ada bapak-bapak boncengin anaknya di depan. Padahal masih sangat kecil dan udara dingin, bahaya. Tidak masuk akal, kan, Pak kyai?” Untung saja aku sudah terbiasa berpikir cepat dan menjawab dengan segera pertanyaan pak kyai.


Aku melihat dari kaca spion dalam, kyai Ali menganggukkan kepala sebanyak dua kali. Lalu menutup kitab seraya berkata, “kadang yang tidak masuk akal bagi kita, sudah menjadi hal lumrah bagi orang lain. Mungkin karena akal kita belum sampai seperti pemikiran mereka saja.”


“Begitu, ya, Pak kyai?” Aku menanggapi ucapan pak kyai, agar tidak terlihat kalau sedang berbohong.


“Oya, Hara! Tadi Nabila bilang sama saya, katanya dia habis marah sama kamu karena tahu kamu masih suka minum-minum, ya?”

__ADS_1


Aduh! Ini kenapa mbak Nabila cerita ke kyai Ali segala, sih? Bikin ribet saja perkara sebotol wiski ini.


Aku menjawab dengan hati-hati, “iya, Pak kyai.”


“Tujuanmu apa, Hara? Minum karena memang suka atau ada alasan lain?”


“Kadang saya butuh untuk menghangatkan badan, atau kalau saya sudah merasa lelah sekali tapi masih harus bekerja. Saya membutuhkan minuman itu agar tetap terjaga.”


“Memangnya tidak bisa dengan minum kopi atau minuman penambah stamina yang tidak mengandung alkohol? Memangnya kamu tidak tahu kalau minum alkohol yang memabukkan itu dilarang?”


“Pengaruh kopi hanya sebentar buat saya, tidak bisa melawan kantuk. Saya tidak terbiasa mengkonsumsi minuman penambah stamina. Dalam agama saya tidak dilarang minum alkohol, Pak kyai.” aku mengemukakan pendapat sekaligus alasan membenarkan apa yang kulakukan.


“Benarkah dalam agamamu tidak dilarang?”


Aku mengernyit, melirik sebentar ke kaca spion dalam. Pak kyai Ali juga sedang melihat ke arah yang sama, menunggu jawabanku. Namun, ucapan pak kyai membuatku ragu untuk menjawab.


“Yakin tidak dilarang? Apa kamu tidak pernah membaca al-kitab yang mengatakan seperti ini: celakalah mereka yang menjadi jago minum dan juara dalam mencampur minuman keras.” (Yesaya 5:22)


“Ada juga Amsal 20:1 berbunyi seperti ini : anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya.”


“Masih banyak lagi ayat yang melarang meminum minuman keras yang memabukkan. Memang, masih banyak perbedaan pendapat tentang kandungan al-kitab itu, tapi secara garis besar bisa ditarik kesimpulan bahwa agamamu melarang umatnya mengkonsumsi minuman yang memabukkan.”


Bagaimana pak kyai tahu firman Allah itu? Apa dia mempelajari injil juga? Mana mungkin dia sampai hafal isi dari ayat al-kitab itu?


“Kalau kamu masih ragu dan ingin penjelasan yang lebih detail, pergilah ke gereja! Tanyakan pada pastor tentang larangan dan hukuman bagi para pemabuk.”


“Minum alkohol sedikit atau banyak, sama-sama merugikan, Hara! Kamu tentu bisa belajar dari apa yang selama ini kamu lakukan di kota besar sana. Apa akibat yang kamu perbuat saat kamu mabuk, sudah banyak orang yang kamu rugikan ketika kamu mabuk.”


“Karena mabuk, kamu kehilangan akal sehat, lalu melakukan tindakan diluar kendali. Karena pikiranmu sudah dirasuki setan, hingga kamu tidak sadar telah melakukan tindakan yang tidak baik.”


Kyai Ali menghela napas berat sebelum melanjutkan, “sampai sekarang saya tidak bisa menerima perlakuanmu di kota sana, Hara. Apa kamu tidak memikirkan masa depan perempuan-perempuan itu?”


“Meskipun mereka menyerahkan diri dengan suka rela, meskipun kamu sudah membayar mereka, tapi saya tidak bisa membenarkan kelakuanmu. Kamu pernah mikir tidak, bagaimana kalau salah satu dari mereka itu saudara kamu. Apa kamu rela saudaramu itu menjual diri?”


“Pak Kyai, soal itu saya-”


Aku tidak bisa melanjutkan kalimat, sebab kyai Ali mengangkat tangan. Tanda bahwa ia tidak ingin mendengar alasanku.


Beliau berkata dengan tegas, “saya tahu kalau kamu tidak memakai semua barang yang sudah kamu beli. Justeru itu yang saya khawatirkan, Hara.”


“Mau tidak mau, suka atau tidak suka, saya minta kamu berhenti. Tujuan saya minta kamu menjadi sopir saya adalah ini. Saya tahu kalau soal uang, kamu memang tidak butuh, saya tahu pekerjaan kamu di Jakarta lebih baik berkali lipat dari pada ini. Tapi-”


“Karena saya tahu dan saya melihat, jadi saya tidak bisa membiarkan kamu terus berbuat salah. Apalagi kamu adalah anak Widuri, teman baik istri saya. Sekarang malah kamu tinggal bersama Wawan, orang kepercayaan saya sejak dulu.”


“Saya tahu kamu orang baik, Hara. Sayang kalau kelakuan kamu seperti itu. Jangan salah paham! Saya tidak ingin menggurui, karena saya bukan guru kamu. Saya tidak punya maksud lain, selain ingin kamu menjadi manusia yang benar-benar baik secara keseluruhan. Meski tidak ada manusia yang sempurna, setidaknya tidak melanggar aturan agama dan norma kesusilaan.”


Aku mendengarkan semua yang dikatakan pak kyai. Tidak ada yang kulewatkan sepatah kata pun, sampai aku rela mengecilkan volume audio mobil. memasukkannya ke dalam otak untuk dicerna, kemudian menghayati dengan sepenuh hati.


Hari masih terlalu pagi, tapi sudah banyak yang kudapatkan. Bukan uang atau barang, melainkan ceramah dari dua orang berbeda yang menohok perasaan. Sukses membuatku gundah.


.


.

__ADS_1


.


Note : Cuplikan ayat firman Tuhan saya dapat dari nara sumber. Tidak mewakili pendapat semua jema'at ya. Mohon koreksi jika saya salah. 😁😍


__ADS_2