
🍁 Tuhan itu satu, hanya cara menyembah kita yang berbeda.🍁
Hara
Seandainya dulu Reyfan tidak memintaku menemaninya mencari Aneesha ke Magelang, mungkin sampai sekarang aku tidak akan pernah tahu dimana makam mama. Kalau saja rumah neneknya Aneesha tidak terletak di dataran tinggi yang susah mendapatkan sinyal, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan mbak Nabila.
Jika semua itu tidak terjadi, mungkin sampai sekarang aku tidak akan pernah merasakan ada anak kecil bergelayut manja padaku. Mungkin aku tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya diperhatikan dan disayangi oleh seorang kakak perempuan.
Mbak Nabila yang cerewet, dengan banyak aturan khas perempuan kebanyakan.
“Hara! Jangan tidur terlalu malam!”
“Hara! Kalau sudah ngantuk, jangan mainan hp! Nanti Naufal ikut-ikutan.”
“Hara! Jangan pergi sebelum makan.”
Mas Akmal yang tidak banyak bicara, tapi tidak pernah lupa menawariku rokok ketika duduk bersama. Juga bapak yang kadang bercerita tentang banyak hal tanpa kuminta. Aku tidak akan mengalami hal menyenangkan itu, kalau bukan karena kehendak Tuhan.
Aku bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain. Tapi bersama keluarga pak Wawan, aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi akrab. Mungkin karena hubungan darahku dengan mbak Nabila, atau karena mereka telah menganggapku keluarga sejak pertama kali bertemu.
Kehidupan keluarga pak Wawan jauh berbeda dengan lingkungan tempat tinggalku di Jakarta. Aku sejak kecil sudah terbiasa hidup mewah dan serba mudah, sedangkan keluarga pak Wawan penuh kesederhanaan. Namun, aku merasa lebih nyaman tinggal di rumah pak Wawan, dari pada di rumahku sendiri.
Padahal di rumah pak Wawan, tidak ada asisten rumah tangga yang melayaniku seperti di Jakarta. Aku harus mencuci pakaianku sendiri, membuat kopi sendiri sampai hal sepele seperti melipat selimut yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Sebab semua kebutuhanku sudah disediakan oleh mbok Jum, dari bangun tidur sampai tidur lagi.
Rumah pak Wawan juga tidak sebanding dengan rumahku di Jakarta. Kecil, sehingga aku harus rela berbagi ranjang dengan pak Wawan. Kadang-kadang malah bersama Naufal juga, kalau anak kecil itu sedang tidak ingin tidur di kamar orang tuanya.
Melalui kesederhanaan keluarga ini, perlahan aku mulai bisa meraba tentang arti kehidupan. Tentang apa tujuan hidupku, juga tentang kenapa aku harus hidup dengan baik. Karena ada orang-orang yang ingin kubahagiakan.
Malam itu, untuk pertama kalinya aku memperlihatkan sisi rapuhku di depan mbak Nabila. Aku menghabiskan tangis di bahunya yang kecil. Aku tidak peduli pak Wawan dan mas Akmal melihat airmataku. Padahal aku sangat tahu, bahwa seorang pria tidak pernah bersahabat dengan airmata.
Pada kenyataannya, keluarga pak Wawan mampu mematik sisi tersembunyi dalam diriku. Walau aku belum bisa mencurahkan seluruh isi hati terdalamku kepada mereka, tapi setidaknya aku bisa berterus terang tentang perasaanku selama ini kepada mereka. Perasaan seorang anak yang merindukan kedua orang tuanya. Orang tua yang tidak akan pernah kutemui lagi, karena kami telah terpisah dunia.
Kulalui malam itu tanpa memejamkan mata barang sekejap pun, merasakan panjangnya malam berganti pagi. Aku bisa memperhatikan aktivitas keluarga ini yang sudah sibuk sejak dini hari.
Pak Wawan yang selalu bangun setiap jam tiga dini hari, lalu mandi di tengah udara dingin menusuk pori-pori. Aku selalu merasa tenang saat mendengar suara merdu mbak Nabila membaca kitabnya. Lalu mas Akmal membangunkan si kecil Naufal, ketika mendengar suara azan. Dengan terkantuk-kantuk dalam gendongan, Naufal ikut berangkat ke masjid bersama pak Wawan dan mas Akmal.
Aku meninggalkan tempat tidur begitu tidak kudengar lagi suara mbak Nabila mengaji dan teriakan dari pengeras suara masjid pun sudah berhenti. Aku keluar bersamaan dengan mbak Nabila yang juga baru keluar dari kamarnya. Senyum wanita yang tak pernah sekalipun kulihat tanpa kerudung itu menyambutku.
“Sudah bangun? Atau malah tidak tidur semalaman?” Sapanya setelah menutup pintu kamar.
Aku hanya tersenyum, mengekori langkah mbak Nabila. Aku hendak ke kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur. Hanya ingin membasuh wajahku yang pasti sudah terlihat kusut seperti kain yang tidak pernah disetrika. Sekaligus memenuhi panggilan alam, rutinitasku setiap pagi.
“Jadi kita ke makam mama nanti, Mbak?” Tanyaku setelah keluar dari kamar mandi.
“Insyaalloh jadi,” jawab mbak Nabila seraya mengambil gelas kosong, “mau teh atau kopi?”
“Kopi boleh, Mbak?”
Aku duduk di satu-satunya kursi yang ada di dapur, memperhatikan tangan lentik mbak Nabila menyeduh kopi instant dengan air yang baru saja mendidih. Aroma kopi menyeruak, menggelitik indra penciumanku. Seketika pikiranku merasa tenang hanya karena menghirup aroma kopi itu.
“Nanti setelah sarapan, kita ke makam ibu. Mbak sudah bilang sama mas Akmal dan bapak.” Ucap mbak Nabila setelah memberikan cangkir berisi kopi padaku.
Kuangkat cangkir yang mengepulkan uap panas, menghirup dalam-dalam aroma kopi itu. Merasakan sensasi menenangkan dari setiap aroma yang masuk ke dalam hidung.
Kulihat punggung mbak Nabila dan semua aktivitas yang dia lakukan. Mencuci beras, lalu memasukkannya ke dalam rice cooker, menyiangi dan mencuci sayuran, memilih bumbu dapur sampai memasak sayur dan lauk. Mbak Nabila melakukan semua itu dengan cekatan, menyiapkan makanan untuk semua orang di rumah.
Aku tidak bisa diam berpangku tangan sedangkan semua penghuni rumah melakukan pekerjaannya masing-masing. Bapak berangkat ke kebun setelah pulang dari masjid tadi. Sedangkan mas Akmal menyapu dan membersihkan lantai.
Aku memilih merawat tanaman dalam pot-pot kecil di depan rumah. Menyiangi daun dan batang yang kering, lalu menyirami tanaman itu agar terlihat segar dan asri.
__ADS_1
Kami berangkat ke makam mama setelah sarapan, tanpa pak Wawan, karena beliau masih di kebun. Aku membantu mbak Nabila dan mas Akmal membersihkan makam mama. Mencabuti rumput liar yang tumbuh di atas pusara, menyapu daun randu alas kering yang berguguran. Memastikan makam mama terlihat bersih dan cantik.
Walau ragu, tapi aku tetap berdo’a dengan caraku untuk mama. Mas Akmal dan mbak Nabila terlihat khusyuk sekali dalam tundukan. Sedangkan Naufal sibuk memainkan bunga kamboja yang ia pungut di sekitar makam.
Mas Akmal menengadahkan kedua tangan, bergumam pelan tapi terdengar olehku karena suasana sangat sepi. Entah do’a apa yang mas Akmal panjatkan dalam bahasa arab itu. Mbak Nabila berkali-kali mengucapkan kata amin, selama mas Akmal berdo’a.
Kami keluar dari makam, saat matahari bersinar sepenggalah. Berjalan beriringan menyusuri jalanan kampung, bermandikan sinar matahari yang menghangatkan badan.
Kuberanikan diri bertanya kepada mbak Nabila perihal rasa yang selama ini tidak kuketahui jawabannya.
“Mbak? Boleh saya tanya sesuatu?”
“Tentang apa?”
“Mbak tahu, kan, kalau saya dan mama berbeda agama. Kalau saya mendo’akan mama dengan cara saya berdo’a kepada Tuhan, apa mungkin akan sampai kepada Tuhannya mama?”
Mbak Nabila menghentikan langkah. Tersenyum sembari membuang napas, lalu menatap tepat ke dalam mataku.
“Hara, maaf. Mbak nggak bisa jawab pertanyaan kamu.”
“Bukankah Tuhan itu cuma satu, Mbak? Hanya cara kita menyembahnya yang berbeda.”
Mas Akmal yang sudah beberapa langkah di depan kami, tiba-tiba berbalik. Melepaskan tangan dari menggandeng Naufal, kemudian dia mendekati kami. Kurasakan tangan mas Akmal merangkulku, mengusap bahuku pelan.
“Boleh mas tanya?” Aku mengangguk.
“Kamu sering ke makam papa kamu nggak?” Aku mengangguk lagi.
“Kalau ke gereja?” Aku mengangguk tapi kali ini lebih pelan karena ragu dengan jawabanku.
“Kapan terakhir kali kamu ke makam papa kamu?”
Aku berusaha mengingat-ingat sebelum menjawab pertanyaan mas Akmal, “minggu lalu.”
Aku mengerutkan dahi, memutar ingatanku sendiri. Lalu menggeleng untuk menjawab pertanyaan mas Akmal. Sudah lama sekali aku tidak ke gereja, karena terlalu sibuk bekerja dan mengurus ini itu sampai aku lupa rutinitas tiap pekan itu.
“Sudah lama sekali, ya?” Aku mengangguk. Mas Akmal makin erat merangkulku, membawaku melangkah bersama selangkah demi selangkah.
Mbak Nabila mengambil tangan Naufal, mengikuti langkah kami dari belakang.
“Dalam Al-qur’an terdapat surat yang menjelaskan tentang toleransi umat beragama. Yaitu surat Al-kafirun,” aku mendengarkan mas Akmal membaca sebuah ayat dalam bahasa arab, yang tidak aku tahu artinya. Naufal menyahut ketika mas Akmal menjeda bacaan ayat karena ingin mengambil napas.
“Untukmu agamamu, untukku agamaku,” terang mas Akmal setelah Naufal selesai membaca ayat, “jadi agama yang kamu anut, tidak akan mengganggu agama yang kami percaya. Begitu juga sebaliknya.”
“Apa itu artinya, saya tidak bisa mendo’akan mama dengan cara saya, Mas?”
Mas Akmal memelankan langkah, sebab kami hampir sampai di rumah. Ia berdehem sebelum bicara, “bagaimana Tuhan kami bisa menerima do’amu, sedangkan kamu tidak mengimaniNya?”
Aku diam. Sampai langkah kami berhenti di depan rumah dan mbak Nabila memutar anak kunci untuk membuka pintu. Ucapan mas Akmal terngiang dalam benak, berputar-putar seperti rekaman kaset di otakku.
‘Seberat inikah merindukan mama tapi tak bisa bertemu walau hanya lewat do’a?’
Aku kembali ke Magelang dengan menyimpan rasa yang tidak bisa kuungkapkan kepada siapapun. Perasaan rindu yang sekaligus membuatku takut. Aku takut kehilangan memiliki rasa yang sama kurasakan terhadap mama.
Aku takut kehilangan rasa tenang saat bersama keluarga pak Wawan, juga rasa nyaman saat berbincang dengan mbak Nabila dan mas Akmal. Aku takut, jika suatu saat merindukan mereka tapi aku tidak bisa mendo’akan mereka dengan caraku.
***
Sejak kembali ke Jakarta dan menekuni semua rutinitas yang kadang menjemukan, aku tetap tidak bisa menghilangkan pikiran tentang keluarga pak Wawan. Berkali-kali bayangan Naufal berkelebat dalam benak, meski sudah kuhalau rindu dengan melakukan panggilan video.
__ADS_1
Hariku terasa hampa karena tidak mendengar mbak Nabila yang cerewet. Waktu terasa berjalan lambat karena aku tidak ada anak kecil yang bergelayut manja. Tidurlku tidak nyenyak padahal kasurku besar dan empuk.
Belum berselang lama, tapi aku sudah sangat merindukan mereka ….
Aku sudah mencoba berbagai macam cara untuk menyembuhkan hati. Menghalau debaran setiap kali mengingat suara mbak Nabila dan mas Akmal yang sedang mengaji. Tapi bukan sembuh yang kudapat, justru hatiku terasa makin kosong.
Setelah sekian lama absen, aku kembali mengikuti misa minggu pagi di gereja. Mendengarkan pastor membacakan firman Tuhan, tenggelam dalam alunan pujian terhadapNya.
Tuhan adalah gembalaku
Takkan kekurangan aku
Dia membaringkan aku
Di padang yang berumput hijau
(Mazmur 23)
Kukaitkan jemari, kutundukkan kepala dalam-dalam. Berusaha menenggelamkan diri dalam seruan puji Tuhan, tapi tetap sunyi yang kurasakan. Seolah firman Tuhan yang diserukan oleh pastor hanya masuk ke telinga tapi tidak bisa diterima oleh hati dan pikiranku.
Aku masih tenggelam dalam tundukkan sampai orang-orang keluar dari gereja. Jemariku juga masih tertaut, belum ingin kulepaskan.
“Aku tunggu kakak di luar, ya?” Cecilia berbisik di telingaku, tapi aku sama sekali tidak ingin menjawabnya. Kubiarkan dia pergi meninggalkanku seorang diri dalam ruangan besar ini.
Aku masih ingin sendiri, menyepi, mencari ketenangan yang rasanya sulit kutemukan. Hanya sunyi tanpa suara apapun, sepi seperti hati yang kurasakan saat ini. Sampai akhirnya kuputuskan untuk beranjak dari tempat.
“Sedang ada masalah?” Sebuah suara menghampiri telinga, bersamaan dengan napas yang kubuang begitu saja.
Aku menoleh ke arah sumber suara, kutemukan seorang pria berpakaian jas lengkap berdiri di belakangku. Dia memasukkan kedua tangan di saku celana, menatap lurus ke depan, ke arah altar.
“Saya hanya datang ke gereja, setiap kali saya sedang ada masalah. Tapi kalau saya sedang baik-baik saja, saya lupa datang kemari.” Tanpa kuminta pria itu bercerita padaku.
“Saya rasa anda juga sama seperti saya, hanya datang kemari saat punya masalah saja.”
“Maaf, tapi saya tidak sedang dalam masalah. Hidup saya baik-baik saja.”
Pria itu membuang napas tapi tak melepas pandangan dari altar, “Putri saya akan menikah minggu depan.”
Aku mengernyit, tanpa ingin memangkas cerita pria itu. Kuurungkan niat untuk berlalu, justru ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh pria itu.
“Harusnya saya bahagia, karena putri saya akan menikah. Bukan karena saya tidak setuju dengan pria pilihan putri saya, sungguh dia pria yang baik. Saya yakin pria itu bisa membahagiakan putri saya. Namun saya tidak bisa menerima kalau putri saya harus pindah agama agar bisa menikah dengan pria itu.”
Wajah pria itu terlihat sendu, “calon suami putri saya adalah seorang muslim yang taat. Putri saya rela berpindah keyakinan demi dia. Saya merasa dikhianati oleh putri saya.”
“Mereka bisa menikah beda agama, bukan? Tidak harus menyatukan keyakianan?” Aku menjawab, tapi terdengar lebih seperti pertanyaan.
Pria itu menggeleng, “dalam islam tidak ada pernikahan beda agama. Calon menantu saya tidak mau menikah beda agama, karena tidak sesuai tuntunan agamanya.”
“Saya datang ke rumah Tuhan, karena tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan.”
Pria itu menarik napas dalam, lalu menghembuskannya kasar. Aku bisa merasakan betapa berat masalah yang sedang dihadapi, lebih berat dari yang sedang kurasakan. Aku hanya sedang merindukan mama dan keluarga pak Wawan, sedangkan pria ini sedang dalam dilema karena akan melepas seorang putri. Bukan melepas untuk pergi, hanya menerima akan berseberangan keyakinan yang pasti sangat berat. Sebuah penghianatan seorang anak terhadap orang tua yang mendidiknya sejak kecil.
Sampai aku pulang ke rumah, aku masih memikirkan banyak hal. Kejadian demi kejadian yang aku alami akhir-akhir ini, apakah karena aku jauh dari Tuhan? Atau justru Tuhan sedang ingin merangkulku? Tuhan mana yang kumaksud? Tuhamku atau Tuhan yang disembah oleh mama dan keluarga pak Wawan?
Kurasa aku harus mencari jawaban dari semua ini. Aku harus tahu apa yang kurasakan ini. Aku tidak ingin menyesal karena terlambat menemukan jawaban atas pencarianku. Aku tidak ingin rinduku berujung tanpa temu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....