
🌹 Perempuan baik adalah yang bisa menjaga sikap, ketika sedang sendiri maupun jika sedang bersama dengan orang lain🌹
Jenar.
Sejak kecil ayah dan bunda selalu mengajarkan bagaimana adab seorang perempuan jawa dalam bersikap. Ayah berasal dari keluarga ningrat, meski sudah keturunan kesekian; akan tetapi masih melekatkan budaya jawa dalam kehidupan sehari-hari. Bunda yang dibesarkan di lingkungan pedesaan pun ingin anak-anaknya tumbuh sebagai mana anak orang jawa. Wong jowo ojo nganti ilang jawane (orang jawa jangan sampai hilang jawanya), begitu yang sering bunda katakan.
Aku sudah terbiasa menjaga sikap di depan orang lain, terutama laki-laki. Seperti yang bunda dan ayah ajarkan, juga seperti yang kupelajari dulu di pesantren. Namun, tanpa sadar aku telah membuat sebuah kesalahan besar yang menjadikanku tampak seperti perempuan tidak beretika.
Seharusnya aku menolak dengan keras saat Pak Hara memberi tawaran tumpangan, tapi rasa tidak enak hati membuatku menyanggupi. Terlebih saat Pak Hara rela menunggu berjam-jam sampai aku selesai salat. Lagi-lagi membuatku merasa tidak enak hati. Maksud hati ingin membayar niat baiknya dengan mentraktir makan siang, tetap saja Pak Hara yang membayarnya. Katanya dia anti makan dibayari oleh perempuan, sok banget, ya? Timbang bayar makan tidak lebih dari 30 ribu saja, pake ribet. Lagi dan lagi, aku merasa tidak enak hati untuk menolak.
Setelah makan lotek, Pak Hara mengantarku pulang. Aku tidak ingat pastinya kapan kantuk mulai menyerang hingga terlelap sepanjang perjalanan. Padahal sudah mengantisipasi dengan minum kopi pahit, tapi rasa kantuk masih saja tak tertahankan. Biasanya memang seperti itu kalau phobiaku datang. Karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk mengatasi rasa takut dan panik, badanku menjadi sangat lemas. Ditambah perut kenyang setelah makan lotek, mendukung rasa nyaman untuk tidur.
Aku bangun karena mendengar suara bising dari luar. Hari sudah siang, nampak dari terang dan panasnya sinar matahari yang masuk dari jendela. Mataku menyipit, melihat jam dinding yang memantulkan silau cahaya matahari. Pukul 10.04 pantas suara bising sekali dari luar, pasti berasal dari orang-orang yang melakukan pekerjaan renovasi.
Kupindai diri sendiri, masih mengenakan baju yang sama dengan kemarin. Pantas badan terasa lengket dan gerah. Kuangkat kedua tangan, menggeliat hingga otot-otot terasa meregang.
“Sugeng siang, Ndoro putri! (Selamat siang, Tuan putri!)” Mbak Sayumi masuk ke kamar dengan membawa segelas air putih hangat. Nada suara pada ucapan selanjutnya, berhasil membuatku malu, “cah prawan yahmene lagi tangi, ora isin karo babon sing wis sobo kebon?” (Anak gadis jam segini baru bangun, apa tidak malu sama induk ayam yang sudah mencari makan di kebun?)
“Mbak Sayumi nggak bangunin saya, sih. Jadi terlewat salat subuh, kan?” gerutuku sambil melepas jilbab dan handsock.
“Welha! Cang-kemku nganti garing le gugah, ora tangi-tangi, kok. Ora ming telat salat subuh, Mbak. Maghrib ro isya’ Mbak Jenar iseh anteng ae bobok, (Mulut saya sampai kering bangunin, nggak bangun-bangun. Bukan cuma terlambat salat subuh, Mbak. Magrib dan isya’ juga Mbak Jenar masih tidur nyenyak.)” jawab Mbak Sayumi dengan nada lebih menggerutu.
Aku diam seraya memutar ingatan tentang kejadian kemarin. Namun, ingatanku hanya sampai masuk ke mobil Pak Hara, setelah itu tidak tahu bagaimana aku bisa sampai di kamar ini. Aku tidur, mungkin setengah pingsan sampai tidak sadar apa yang sudah kualami kemarin.
“Yang antar saya pulang siapa, Mbak?” tanyaku setelah meneguk segelas air putih hangat pemberian Mbak Sayumi.
“Siapa lagi kalau bukan juragane sarkem.” jawab Mbak Sayumi.
Aku melihat Mbak Sayumi. Dia menutup mulut sambil bergumam tak jelas, padahal baru saja aku hendak bertanya apa maksud jawabannya. Namun, Mbak Sayumi sudah menjelaskan seolah tahu apa yang sedang kupikirkan.
“Lupa kalau mbak Jenar masih lugu, nggak tahu apa itu sarkem. Yang antar sampeyan (anda) pulang, ya, Mas Pak Hara.”
“Pak Hara nganter saya pulang jam berapa, Mbak?” tanyaku sebab benar-benar lupa kapan aku sampai rumah dan masuk kamar.
__ADS_1
“Menjelang maghrib. Saya dan Irkham bangunin Mbak Jenar susah banget, akhirnya mas Pak Hara harus gendong sampeyan sampai sini,” ucap Mbak Sayumi seraya menunjuk tempat tidur dengan jari telunjuknya.
Reflek mataku membulat setelah mendengar penjelasan Mbak Sayumi. Tidur nyenyak sampai susah dibangunkan saat bersama seorang laki-laki asing, sungguh satu hal yang sangat memalukan. Harus digendong dari mobil sampai ke kamar pula, tidak elok sekali. Kalau ayah dan bunda tahu, bisa dapat ceramah tujuh hari tujuh malam, nih.
“Jane sampeyan ki bobok po semaput, to?” tanya Mbak Sayumi dengan pandangan menyelidik. (Sebenarnya anda tidur atau pingsan, sih?)
Aku tidak menjawab, justru menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Malu rasanya memikirkan kejadian kemarin. Sudah diantar pulang, ditraktir makan, tidur selama perjalanan, masih harus digendong sampai kamar oleh Pak Hara. Aku tiba-tiba merasa menjadi gadis paling tidak tahu malu sedunia.
Bagaimana nanti kalau aku bertemu dengan Pak Hara? Rasanya aku tidak akan sanggup memperlihatkan wajahku padanya. Semoga kami tidak bertemu dalam waktu dekat, agar aku bisa mengatasi rasa malu ini dulu.
Namun, takdir berkata lain. Sore saat pulang dari kampus, aku melihat mobil Pak Hara terparkir di halaman belakang rumah. Akses paling mudah masuk ke rumah ini memang dari belakang yang terletak di pinggir jalan. Sementara kalau lewat pintu utama harus memutar jalan melewati perkampungan. Maka dari itu, aku pun lebih suka masuk lewat pintu belakang dari pada pintu depan. Satu hal yang kusesali kali ini, harusnya tadi aku lewat pintu depan saja, agar tidak perlu bertemu dengan Pak Hara.
Sudah terlanjur, lagi pula hujan sangat deras, tidak mungkin mengambil jalan memutar yang lebih jauh. Bajuku sudah basah kuyup, harus segera membersihkan diri.
Aku memang sengaja tidak menyapa saat lewat di depan Pak Hara dan para pekerja. Waktu ashar sudah hampir habis, aku harus segera salat. Pikirku nanti setelah salat baru menemui Pak Hara untuk mengucapkan terima kasih. Namun, Pak Hara dan yang lain sudah pergi ketika aku selesai salat. Hujan berangsur mereda, mereka pasti ingin cepat pulang. Niat berterima kasih pun harus tertunda.
***
Hari ini adalah akhir pekan. Aku tidak mempunyai jadwal kuliah, jadi bisa santai di rumah. Kulihat Pak Hara sudah datang sejak pagi sekali, kata Mbak Sayumi sudah biasa setiap akhir pekan. Waktu yang tepat untuk mengucapkan terima kasih padanya. Aku harus mencari celah agar tidak mengganggu, sebab dia terlihat sedang sangat sibuk.
“Orangnya lagi sibuk, Mbak. Malah ganggu nanti kalau tiba-tiba saya ajak ngobrol.” jawabku dengan sesekali masih melirik Pak Hara yang sedang duduk di gazebo dengan setumpuk kertas dan laptop menyala di depannya.
“Kalau nunggu nggak sibuk, nanti keburu pulang lagi orangnya, Mbak.” ucap Mbak Sayumi.
“Memang biasanya dia pulang jam berapa kalau akhir pekan seperti ini, Mbak?” tanyaku memastikan agar aku tidak kehilangan kesempatan lagi.
“Nggak pasti, sih. Biasanya kalau sudah selesai sama kertas-kertas itu, mas Pak Hara langsung pulang.” jawab Mbak Sayumi.
Aku baru saja akan bertanya lagi kepada Mbak Sayumi, tapi suara deru mobil masuk ke halaman berhasil mengalihkan perhatian. Mobil jeep warna hijau yang sangat kukenal. Pesan singkat Kak Lion tempo hari tidak main-main rupanya. Dia benar-benar datang, padahal aku tidak membalas chat darinya.
Kak Lion menurunkan banyak barang dari mobil. Aku meminta Mbak Sayumi membantunya. Walau sebenarnya enggan, tapi tamu yang datang harus tetap disambut dengan baik. Apalagi dia sudah jauh-jauh datang dari Wonosobo.
Aku menghampiri setelah memperkirakan Kak Lion selesai menurunkan barang dari mobil. Dia memang selalu seperti ini, datang dengan membawa banyak barang sebagai buah tangan.
__ADS_1
“Hai, Jen!” seru Kak Lion begitu melihatku.
“Assalamu’alaikum, Kak? Apa kabar?” sapaku dengan nada sindiran sebab Kak Lion tidak mengucapkan salam duluan.
“Wa’alaikum salam. Kabar baik, kamu bagaimana?” Jawab Kak Lion, sekaligus melempar kembali pertanyaan.
“Alhamdulillah saya sehat. Kakak sendirian?” tanyaku basa-basi. Padahal aku sudah tahu dia selalu sendirian kemana-mana.
Kak Lion mengangguk. Aku tidak mempersilakan Kak Lion masuk ke rumah, sebab tidak ada mahrom. Tidak layak seorang gadis membawa masuk laki-laki yang bukan mahromnya ke dalam rumah yang sepi. Lagi pula banyak barang berantakan karena sedang direnovasi.
“Kakak mau duduk di mana? Saya buatkan minuman, ya?” tanyaku, sambil mengedarkan pandangan ke segala arah.
“Di sana saja, Jen!” Kak Lion menunjuk gazebo tempat Pak Hara duduk.
Aku mengangguk, dalam hati mengucap syukur karena dia memilih tempat itu. Artinya aku dan Kak Lion tidak perlu duduk hanya berdua. Paling tidak ada orang lain diantara kami, jadi tidak menimbulkan fitnah.
Kak Lion berjalan mendahuluiku. Dia menghampiri Pak Hara dan langsung mengajak berbincang. Kak Lion memang mudah akrab dengan siapa pun, pembawaannya pun santai. Pantas kalau dia punya banyak teman dan kolega di mana-mana.
Aku bergegas masuk ke rumah, meminta Mbak Sayumi untuk membuatkan minuman. Sebenarnya aku hanya ingin mengulur waktu saja, sebab aku tidak siap bertemu dengan Kak Lion yang beberapa hari ini sering menelpon dan mengirim chat. Katanya dia ingin menghiburku, setelah Mas Ghufron meninggal. Namun, sikapnya terlihat seperti seorang pria yang ingin mendekati wanita yang disukainya. Jujur hal itu justru membuatku takut, sebab aku belum siap menjalin hubungan lagi dengan laki-laki. Terutama jika itu adalah Kak Lion.
"Mbak Say! buatkan minum untuk tamu!" aku berseru saat sampai di depan dapur. Membuat Mbak Sayumi yang sedang menuang air panas terkejut, untung tidak sampai tumpah. Bisa malu lagi aku kalau sampai membuat Mbak Sayumi ketumpahan air panas, malu campur rasa bersalah.
.
.
.
.
Bersambung ....
Hai teman-teman!
__ADS_1
*Maaf, baru menyapa lagi, hehe. Qodarulloh saya ikut merayakan hari demam se-indonesia kemarin dan nggak tahu masa pemulihannya lama sekali. Sampai kemarin masih lemes aja persis seperti orang susah. Susah makan, tidur, bawaannya pengen rebahan 😂 (Padahal cuma males aja, sih.) Alhamdulillah berangsur pulih, semoga temen-temen semua sehat selalu, ya. Part selanjutnya kapan? Kejutan aja, deh 😊*