
🍁Aku butuh alasan untuk menentukan sikap. Akan lanjut berjuang meski sulit, atau berhenti hanya sampai di sini.🍁
Hara
Aku menoleh ke samping kanan, menyadari kendaraan di sebelah bergerak mundur. Entah untuk keberapa kali, kendaraan di tempat parkir ini datang dan pergi bergantian. Kulirik arloji di pergelangan tangan, ternyata sudah lebih dari satu jam aku menunggu di halaman parkir sebuah kampus fakultas kesehatan ternama di Yogyakarta ini.
Kupejamkan mata, membiarkan otak memutar kejadian beberapa hari yang lalu. Satu hal yang menguatkan alasan mengapa aku mau menunggu lama di sini. Intimidasi dan peringatan Reyfan supaya aku menjauhi adik iparnya, justru membuatku makin penasaran untuk mengejarnya. Ingin tahu bagaimana reaksi sahabatku itu, jika aku berhasil memiliki Jenar.
Ponselku berdering, panggilan dari seorang yang kutunggu akhirnya tiba. Segera kuangkat telepon, agar penantian yang lama ini segera berakhir.
[Halo? Pak Hara di mana?] suara dari seberang telepon.
Belum kujawab dia sudah bicara lagi, [Nggak jadi, saya sudah lihat mobil bapak.]
Sambungan telepon diputus secara sepihak, membuatku reflek tertawa kecil sambil menggeleng. Tentang dia, ada saja yang selalu lucu.
“Sudah lama, Pak?” Jenar bertanya setelah masuk mobil.
Kuangkat punggung, mengubah posisi sandaran kursi menjadi tegak. Setelah menghidupkan mesin mobil, baru kujawab pertanyaannya, “Lumayan, sudah bolak-balik LA-Yogya.”
“Dalam mimpi maksudnya, Pak?” Dari ekor mata, aku tahu Jenar sedang menahan senyum.
“Tadi malam Kak Neesha hanya minta tolong kepada saya untuk belanja perlengkapan kamar bayi. Kakak nggak bilang kalau maksudnya belanja sama Pak Hara. Waktu bapak kirim pesan tadi, saya sedang di kelas dan hp dalam mode sillent. Jadi saya baru tahu setelah selesai kelas … maaf.”
Aku memberi anggukan atas penjelasan Jenar. Satu hal yang membuatku respect dengan gadis ini karena dia selalu minta maaf. Entah memang salah, atau hanya merasa bersalah. Sebuah kata yang sangat jarang kudengar, tapi sering kuucapkan. Bahkan jika orang lain yang salah pun, aku yang selalu minta maaf lebih dulu.
“Sebenarnya Pak Hara tidak perlu repot ikut belanja, sih. Saya bisa per-”
Aku segera memotong kalimat yang belum selesai Jenar ucapkan, “Aneesha tidak bilang saya yang akan mengantarmu?”
Sempat aku menatap Jenar sejenak setelah mengaitkan seatbealt. Tampak dia menggeleng sambil tersenyum tipis, senyum yang mampu membuatku ingin menghentikan waktu.
“Baguslah, jadi ada yang bantu bawa belanjaannya nanti.” jawab Jenar.
Aku memberikan selembar kertas kepada Jenar, sebelum menjalankan mobil.
“Apa ini?” tanya Jenar ketika menerima kertas yang kuberikan.
“Saya menyalin daftar barang yang harus dibeli nanti. Sesuai dengan permintaan Aneesha. Disitu ada nama barang, merk, jumlah dan perkiraan harganya.” jelasku.
“Wah! Lengkap sekali, seperti proposal saja.” Jenar berdecak, sambil menggeleng, “Jadi nanti kita belanja sesuai daftar yang ditulis bapak ini?”
Aku melirik ke samping kiri, lalu mengangguk, “Tentu saja, sesuai yang diminta kakakmu."
“Kalau misalnya nanti ada barang yang tidak ada, apakah bisa diganti dengan merk lain?” tanya Jenar serius.
“Harus tanya Aneesha dulu, boleh diganti atau tidak.” jawabku singkat.
“Ya, Alloh! Ribet amat, sih, Pak?”
“Memang harus begitu. Kalau kita diminta membelikan, ya, harus sesuai keinginan yang kasih uang. Tidak boleh seenaknya sendiri. Kalau kamu keberatan, turun saja sekarang. Saya bisa belanja sendiri.” malas rasanya berdebat dengan gadis yang ngeyel seperti Jenar ini.
“Gitu aja, ngambek, Pak. Saya hanya bercanda, loh.” seloroh Jenar.
Aku membuang napas, menahan agar tidak tersulut amarah. Jenar tersenyum, saat aku menoleh. Seperti biasa, hanya sesaat karena dia segera menunduk. Entah apa yang membuat wajah sederhana gadis ini selalu ingin kulihat setiap saat, mimik yang mampu meredakan segala gejolak emosi.
“Baiklah bapak perfectionist! Kulo sendiko dawuh mawon (taat pada perintah)… dari pada diambekin, masih dimarahin sama Kak Neesha gara-gara nggak mau ikut belanja.” nada suara Jenar terdengar menggerutu.
“Ada apa, Pak?” tanya Jenar, sadar dari tadi aku sedang memerhatikan.
Segera kuputus pandangan, memusatkan fokus pada jalan raya.
“Pakai sabuk pengamannya, saya akan sedikit ngebut biar tidak kesorean.” kataku tanpa melihatnya.
Jalan raya ramai lancar dengan matahari bersinar cerah. Langit nampak kebiruan, bersih tanpa awan. Angin berhembus menghempas pohon-pohon di pinggir jalan. Aku memacu mobil dengan tenang, setenang perasaan yang kurasakan saat ini.
***
Sekuat tenaga aku menahan agar tidak terbahak, sampai otot perut terasa mengeras. Melihat wajah Jenar yang memerah dengan bibir mengerucut, mirip bebek. Mimik lucu yang terlihat beberapa kali selama kami berbelanja, penyebabnya hanya karena masalah sepele.
“Pasti anak pertama, ya? Pantas antusias sekali memilih kebutuhan kamar bayi, sampai warna dan merknya harus detail.” tebak seorang pramuniaga toko perlengkapan bayi saat kami memilih kasur bayi.
“Mbaknya nggak kelihatan kalau lagi hamil,” ucap seorang sales promotion girl produk baby care.
__ADS_1
Setiap memilih barang, pasti dikira kami membeli perlengkapan bayi sendiri. Berulang kali Jenar harus menjelaskan bahwa dia membelikan untuk kakaknya, tapi masih saja ada yang tidak percaya.
“Memangnya badan saya gendut banget, ya? Sampai dikira hamil,” gerutu Jenar sambil memerhatikan badannya sendiri.
“Kayaknya biasa saja, deh. Berat badan juga masih ideal kalau dibanding dengan tinggi badan saya. Jadi mereka mengira saya hamil dari mana?” Dahi Jenar tampak berkerut, tanda sedang berpikir.
Aku berdehem, untuk menetralkan tawa tertahan. Mendengar dia menggerutu terus, justru membuatku semakin ingin tertawa.
“Mungkin bukan karena badan kamu, tapi karena kita membeli barang-barang ini. Mereka tidak tahu kalau kita hanya membelikan,” jawabku mencoba menganalisa.
“Harusnya mereka bertanya dulu, sebelum berasumsi. Apakah tidak ada pelatihan pelayanan prima untuk semua pegawai di sini?” Jenar kembali menggerutu, “Tidak sopan menebak langsung kepada pembeli seperti itu.”
“Karakter orang beda-beda. Meskipun semua karyawan di sini mendapat pelatihan pelayanan prima, pasti beberapa dari mereka ada yang tidak mempraktekkan, seperti karyawan tadi contohnya.” jelasku.
“Saya jadi malas melanjutkan belanja.” ucap Jenar lesu. Tangan kanannya yang memegang kertas luruh, hanya karena ucapan sepele bisa mengubah moodnya menjadi buruk.
“Masih apa saja yang belum dibeli,” tanyaku.
Dengan malas, Jenar mengangkat kertas bertuliskan daftar barang yang harus kami beli, “Stroler, matras bayi, tirai kelambu, sofa bayi, home dress untuk Kak Neesha ….”
“Banyak juga, ya? Kita istirahat dulu sambil makan bagaimana? Nanti baru lanjut lagi,” usulku. Tidak ingin memaksanya yang sedang dalam kondisi bad mood, tapi belum rela acara belanja ini berakhir.
“Pak Hara saja yang beli sisanya sendiri, saya sudah malas.” Jenar makin mengerucutkan bibir, terdengar embusan napas berat dari hidungnya.
“Mana bisa begitu, saya nggak tahu bentuknya seperti apa barang-barang itu.” aku beralasan. Tentu saja ingin memperpanjang waktu dengan dia.
Jenar kembali mengembuskan napas berat, lalu menoleh ke belakang sejenak. Mungkin dia sedang berpikir, ingin melanjutkan belanja yang artinya harus masuk lagi ke toko perlengkapan bayi dan mungkin akan mendapat tebakan menyebalkan seperti tadi, atau menerima tawaranku untuk beristirahat dulu.
“Kalau kamu tidak nyaman belanja di situ, kita bisa pindah tempat.” usulku, menebak isi pikirannya. Walau bagaimanapun aku tidak mungkin memaksa Jenar yang sudah merasa tidak nyaman dengan omongan pramuniaga tadi.
“Toko perlengkapan bayi tidak hanya ada di mall ini, kan?” aku ingin memberitahu Jenar, bahwa masih banyak toko lain yang bisa kami kunjungi.
“Memangnya Pak Hara tidak repot kalau harus pindah toko?” sepertinya Jenar mulai tertarik dengan tawaranku.
Aku menggeleng, “Nggak harus di mall juga, kita bisa cari toko khusus perlengkapan bayi yang lebih lengkap dan yang penting kamu nyaman.”
“Maksudnya kita cari tokonya nggak yang harus ada di dalam mall gitu?” Jenar mengerutkan dahi.
Aku mengangguk, lalu mengambil ponsel dari saku celana. Alasan utama kami memilih membeli barang-barang di mall adalah karena paling dekat dengan kampus Jenar dan perkiraanku semua barang bisa dibeli di sini, tidak perlu pindah tempat. Namun, ternyata insiden pertanyaan tidak penting mengubah mood Jenar dan mengacaukan suasana.
Aku yakin Jenar mengikuti dari belakang, menunggunya selesai berpikir akan memakan waktu lama. Gadis itu tipe yang tidak bisa membuat keputusan secara cepat, terlalu banyak berpikir dan mempertimbangkan.
“Tunggu, Pak!” aku berhenti, ketika mendengar suara Jenar.
“Sudah sore, saya mau salat asar dulu, khawatir terlambat.” ujar Jenar ketika berhasil menyusulku.
“Mau salat di sini?” tanyaku.
Jenar mengangguk, “Musalanya di sana,” Jenar menunjuk arah jam tiga, “Pak Hara mau nunggu di sini atau di mana?”
Aku menengok kanan-kiri, ada sebuah bangku kosong yang disediakan untuk pengunjung. Dari pada mengikuti Jenar ke musala, lebih baik duduk di bangku itu.
“Saya tunggu di sini saja.” kuambil semua paper bag dan kantong plastik yang dibawa Jenar, membiarkan dia pergi melaksanakan kewajiban kepada Tuhan.
Selama beberapa saat aku menunggu dengan tenang, membunuh waktu dengan membaca kabar dunia terkini di kanal berita online. Sesekali aku melirik arah Jenar pergi, barang kali gadis itu sudah selesai salat. Namun, hingga detik berganti menit, dia belum tampak juga.
Bangku sebelahku telah beberapa kali berganti orang yang duduk. Kini seorang pria berpakaian rapi duduk dengan menyilangkan kaki. Ia tampak melihat arloji sejenak, lalu menoleh ke arahku, menyapa dengan senyuman. Aku membalas dengan mengangguk.
“Sendiri, Mas?” tanya pria itu. Rupanya ia tipe orang yang ramah, karena mudah menyapa.
Aku menggeleng sebelum menjawab, “Sama teman.”
“Oh. Sedang belanja? Pasti perempuan.” tanyanya lagi seraya menebak, “Memang perempuan kalau sudah belanja, sering tidak ingat waktu. Tidak peduli yang mengantarnya sudah bosan.”
Aku menggeleng lagi sebelum memberi jawaban cepat, “Teman saya sedang salat.”
“Oya?” pria itu nampak mengernyit, memerhatikanku dengan serius.
“Kalau saya sedang menunggu istri saya belanja, bosan dan merepotkan sekali. Beli satu barang saja, milihnya bisa lebih dari satu jam. Belum lagi mempertimbangkan harganya, bisa sampai dua jam.” ujar pria di sampingku sambil menggeleng.
Selanjutnya ia menerocos panjang lebar, sedangkan aku hanya menanggapi dengan datar.
“Mas kenapa tidak ikut salat sekalian?” tanya pria itu setelah bicara panjang lebar tentang perempuan dan belanja.
__ADS_1
Belum kujawab, pria itu sudah berkata lagi, “Sebenarnya kalau sedang bepergian, kan, kita tidak dijawibkan untuk salat. Jadi bisa dijamak waktu pulang nanti di rumah.”
Aku baru tahu ibadah bisa ditinggalkan kalau sedang belanja, seperti yang dikatakan oleh pria ini. Selama menjadi sopirnya Kyai Ali, aku belum pernah melihatnya menggabung salat. Setiap kali waktu salat datang dan kami masih di jalan, beliau selalu minta berhenti di masjid untuk melaksanakan salat. Sama halnya dengan Jenar, dia juga selalu mencari tempat ibadah jika waktu salat tiba, di mana pun berada.
“Saya kalau sedang pergi seperti ini, selalu menjamak salat. Jadi tidak perlu ribet mencari masjid atau musala. Kan, ada keringanannya.” jelasnya.
“Memangnya boleh menggabung salat?” tanyaku serius, karena memang tidak tahu.
Pria yang tidak kutahu namanya itu mengangguk, “Memangnya Mas tidak tahu kalau sedang dalam keadaan tertentu kita boleh menggabung salat.”
“Saya tidak pernah salat, jadi tidak tahu.” jawabku asal.
“Ah! Walau demikian waktu di sekolah dapat pelajaran agama, kan?” pria itu mulai sok tahu.
“Ya, tentu saja. Waktu sekolah saya mendapat pelajaran agama kristen.” aku menjelaskan.
Pria di sebelahku mengerutkan dahi, mungkin sedang melakukan penilaian terhadapku. Bisa kutebak pasti hasilnya negatif, terlihat dari perubahan air mukanya yang membuatku tidak ingin melanjutkan obrolan.
Kukemasi barang-barang, hendak pergi sebelum pria itu membuka suara lagi. Dalam hati aku membatin, semoga Jenar segera datang jadi aku bisa memberi alasan untuk menjauh dari pria cerewet di sebelahku ini.
“Kak Hara?” sebuah suara membuatku menghentikan gerakan tangan merapikan paperbag.
Aku mendongak, mendapati seorang gadis berdiri di hadapanku dengan senyum manisnya.
“Kak Hara ngapain di sini? Belanja?” ia bertanya sambil melirik barang-barang di dekatku.
Belum sempat kujawab, ia sudah bicara lagi, “Kebetulan kita ketemu di sini, aku bisa dapat traktiran makan, nih?”
Aku segera beranjak. Sebuah anggukan cukup untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
“Saya bantu bawa, ya, Kak?” kubiarkan ia mengambil beberapa kantong plastik.
Setelah berpamitan basa-basi dengan pria cerewet yang terus menatap tanpa berkedip, aku bergegas pergi. Kedatangan Cecilia menyelamatkanku dari obrolan tidak penting yang membosankan. Sambil berjalan, kukirim pesan kepada Jenar bahwa aku pindah tempat menunggu. Agar saat dia kembali nanti, tidak bingung mencari.
Tak berselang lama, saat menunggu di foodcourt, sebuah pesan singkat masuk ke ponselku.
“Maaf, Pak Hara. Mbak Sayumi barusan telepon dan saya harus pulang sekarang juga.”
Dahiku berkerut membaca pesan dari Jenar. Aneh! Ada kepentingan apa sehingga Mbak Sayumi repot-repot menelpon? Padahal aku tadi sudah pamitan pada asisten rumah tangga itu, kalau akan mengajak Jenar belanja dan kemungkinan pulang malam.
Merasa ada kejanggalan, aku bergegas mendial nomor Jenar. Dalam dering kedua panggilan diangkat, tapi gadis itu tidak bersuara.
“Kamu sudah selesai salat? Menyusul ke food court, ya? Saya sudah pesan makanan buat kamu.”
Aku harus menunggu beberapa detik untuk mendapat jawaban dari seberang telepon.
[Saya mau pulang, Pak.]
Mendengar jawaban lirih Jenar, aku makin merasa janggal.
“Jangan ditutup!”
Tanpa memikirkan barang belanjaan dan pesanan makanan yang belum diantar, aku gegas berlari. Yang kupikirkan hanya satu, telah terjadi sesuatu pada Jenar dan aku harus segera menemukan gadis itu. Jangan-jangan traumanya kambuh saat salat tadi. Ah! Aku tidak berani berasumsi.
Aku tahu tidak akan mudah menemukan Jenar. Apalagi gadis itu tidak mematuhi perintah untuk tidak menutup telepon. Aku harus mencari ke segala penjuru, sambil berusaha menelponnya.
Tepat saat hampir frustasi dan keringat menetes di sekujur tubuh, aku melihat Jenar sedang berjalan cepat melewati pintu keluar. Tanpa pikir panjang, segera aku menghampiri, menarik tangannya agar berhenti. Dia berontak, hendak melepas genggaman tanganku. Jenar nampak sedang sangat marah, sebab raut wajahnya menggelap dan matanya memerah.
Aku kian erat menggenggam tangannya, tak mengijinkan ia berontak sedikit pun. Kali ini, kumohon! Biarkan aku merasakan telapak tangan yang halus ini dalam genggamanku lebih lama. Agar aku bisa menetapkan keputusan, akan terus berjuang atau berhenti sampai di sini.
Kutarik dia untuk berbalik arah. Akan kupastikan dia pulang dalam keadaan baik-baik saja. Meski aku tidak tahu apa yang membuat Jenar semarah ini. Apakah masih alasan yang sama dengan yang terjadi sebelum ia salat tadi, atau ada persoalan lain?
.
.
.
Bersambung ....
Ternyata Hara tidak mengindahkan intimidasi bosnya, nih. Dia malah makin gencar melakukan pendekatan, kira-kira berhasil tidak, ya? Itu kenapa juga Jenar tiba-tiba marah? Ketemu siapa dia saat salat tadi? Nggak mungkin, dong, ketemu saya, hehe.
Di atas sedikit dibahas tentang menjamak salat, ya. Memang diperbolehkan, dengan adanya masyaqoh (adanya kesulitan). Misalnya seorang musafir dalam perjalanan jauh yang tidak mungkin melaksanakan salat tepat waktu. Namun, tidak termasuk saat belanja, ya, teman-teman. belanja atau tawaf di mall, itu bukan sebuah hal yang merupakan kesulitan untuk melaksanakan salat pada waktunya. Apalagi sekarang di mall dan pusat perbelanjaan pasti ada tempat ibadah, jadi jangan sampai meninggalkan salat hanya karena sedang asyik belanja atau sedang nonton film di bioskop. Sungguh merugikan. Ini peringatan juga buat saya yang sering lalai atas hal-hal kecil seperti ini.
__ADS_1
Ah, saya ingkar janji lagi, ya? Maaf, belum bisa update rutin. Kondisi saya dan waktu luang masih berantakan, jadi belum bisa memenuhi keinginan teman-teman semua untuk berjumpa Jen-Har lebih sering. Semoga dimaafkan, hehe.
Selamat membaca... dan tetap ditunggu, ya bab selanjutnya kira-kira kenapa Jenar marah. Hara bisa tidak, ya, meredakan marahnya Jenar?