
🌹Begitu sensitifnya indera penciumanku, hanya karena menghirup wangi aroma parfum saja, bisa membangkitkan kenangan.🌹
Jenar.
Suara deras air yang turun dari langit, menghujam keras atap restoran. Angin kencang dan gemuruh guntur datang dengan intensitas yang semakin berkurang. Udara dingin masuk melalui pintu dan jendela yang terbuka lebar.
Aku tidak berani mengangkat kepala, memilih terus menunduk sambil menghirup bau kopi bubuk dalam piring kecil yang sejak tadi kugenggam. Walau Kak Varen sudah meminta kepada semua pengunjung restoran agar tidak berkerumun di dekatku, tapi perasaanku mengatakan mereka semua masih menatapku. Mereka pasti sedang berbisik-bisik, saling bergunjing tentang apa yang baru saja terjadi padaku.
“Minumlah!” Aku melirik tangan Kak Varen mengulurkan air mineral dalam kemasan botol ke hadapanku.
Tenggorokanku terasa kering karena menangis, dadaku sesak karena jantung terlalu cepat memompa darah. Air mineral itu terlihat menyegarkan, tapi aku masih enggan melepas piring berisi kopi bubuk. Menghirup wangi khas kopi berhasil membuatku sedikit merasa tenang.
“Minum dulu! Biar kopinya saya yang pegang,” aku menoleh ke samping kanan, ketika seseorang meraih piring kecil dari tanganku dengan hati-hati. Persis seperti meminta mainan kepada anak kecil agar tidak menangis.
Pak Hara mengambil piring, lalu meletakkannya di atas meja. Aku melihat semua gerakan tangannya, membuka segel botol, lalu memberikan air mineral itu padaku. Anehnya aku menurut, seperti orang yang sedang dalam pengaruh hipnotis. Menerima dan segera menenggak air mineral sampai hampir habis.
“Kamu kenapa?” Suara dari samping kiri disertai usapan lembut di kepala, membuatku terkejut.
Sontan aku menoleh, melihat Kak Varen yang sedang menatapku dengan pandangan iba. Aku kembali didera rasa tidak nyaman, karena tangan besar seorang pria menyentuh kepala. Membuatku menunduk lagi demi menghindar dari sentuhan itu.
Kak Varen menarik tangannya, mungkin dia tahu aku tidak suka sembarangan disentuh oleh lawan jenis. Memang hanya sebuah sentuhan sederhana yang biasanya didamba oleh para wanita. Namun, bagiku disentuh seorang laki-laki bukan mahrom tanpa ijin, membuatku merasa dilecehkan.
Seperti tadi, saat Pak Hara memelukku secara tiba-tiba. Memang hanya sebentar dan dalam keadaan aku sedang menyembunyikan kepala di antara kedua lutut. Aku tahu dia hanya ingin menenangkanku yang terus histeris. Namun, tindakan itu justru membuatku merasa direndahkan. Sontan aku mendorongnya hingga terjatuh.
“Kak Hara tahu Jenar kenapa?” Kak Varen mengalihkan pertanyaan kepada Pak Hara, pasti karena aku tidak segera menjawab.
“Tadi dia seperti orang kesurupan, bikin saya khawatir.” Aku mendengar nada ketulusan dari ucapan Kak Varen. Namun, aku tidak bisa menjawab. Rasanya suaraku tercekat di kerongkongan.
“Ren!” Suara pak Hara mencegah Kak Varen yang hendak bertanya lagi, “Jelasinnya bisa lain kali saja, nggak? Biar Jenar tenang dulu.”
“It’s ok.” ucap Kak Varen membuang napas sambil menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
__ADS_1
Dari dulu Kak Varen sangat perhatian padaku. Sikapnya tulus, meski dilakukan untuk menarik perhatianku. Tadi dia hanya ingin membicarakan tentang kenangan kami saat sekolah dulu. Namun, apa yang dia ceritakan justru membawa kenangan pahit tentang masa lalu yang menyakitkan. Dia tidak tahu kalau aku kenangan-kenangan itu bisa menghadirkan trauma dalam diriku.
Napas bau alkohol setiap kali Kak Varen bicara, suasana alam yang mencekam dan gelap karena lampu-lampu restoran mati. Membuatku tidak bisa menahan gejolak. Satu demi satu bayangan masa lalu hadir, menghujam ingatan. Menyeretku ke dalam pusaran memori ketakutan, kesedihan dan rasa bersalah yang terpatri dalam hati. Phobiaku kambuh di depan orang banyak dan aku merasa sangat malu. Entah apa yang orang-orang pikirkan tentang diriku sekarang ini.
“Sebaiknya kami pulang.” Aku melnoleh cepat ke arah Pak Hara. Dia sedang menyambar ponsel, rokok dan korek api di atas meja, kemudian menyimpannya di saku celana.
“Anginnya masih kencang dan hujan juga belum reda, bahaya berkendara dalam cuaca seperti ini,” Kak Danish mencegah Pak Hara yang sudah akan beranjak.
“Jenar nggak nyaman di sini, dia bisa kambuh lagi sewaktu-waktu.” jawab Pak Hara.
Aku menunduk lebih dalam, menghindar dari tatapan menyelidik Kak Danish dan Kak Varen. Mereka berdua pasti ingin tahu tentang maksud dari ucapan Pak Hara. Aku belum siap menjawab dan menceritakan tentang sakitku kepada mereka.
“Jenar sa-kit?” tanya Kak Varen. Benar, kan, dugaanku? Sekarang aku harus menjawab apa? Tidak mungkin berkata jujur, sebab sakitku ada hubungannya dengan mereka berdua.
“Jelasinnya jangan sekarang, ya. Kami harus pulang, mumpung hujan tidak begitu deras.” Jawabanku sudah diwakili oleh Pak Hara. Sungguh aku berterima kasih karena dia cukup tahu kondisiku. Mungkin karena bukan pertama kali aku mengalami phobia saat bersamanya.
Air hujan belum juga berhenti turun dari langit, meski derasnya berkurang. Gelap sedikit terurai karena mendung sudah menumpahkan sebagian isinya ke bumi. Udara masih sangat dingin, sebab angin bertiup dengan kencang. Gemuruh petir tidak lagi sekeras tadi, meski sesekali masih terlihat kilatan-kilatan terang membelah angkasa.
“Nggak pa-pa kalau kamu belum bisa jawab sekarang. Asal kamu tahu, aku akan selalu siap mendengar ceritamu,” ujar Kak Varen saat mengantarku sampai masuk ke mobil.
Dia mengangguk, membalas senyum lalu menarik diri sembari menutup pintu mobil. Lagi-lagi aku melihat ketulusan dari ucapan dan sikapnya.
Selama beberapa saat aku duduk sendirian di dalam mobil, menunggu Pak Hara yang sedang berbicara dengan Kak Danish dan Kak Varen. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, nampak serius sekali. Aku tidak bisa mendengar, pun menebak melalui gerakan bibir mereka.
Pak Hara mengulurkan plastik bening berisi kopi bubuk padaku, begitu dia masuk. Aku menerima dengan dahi berkerut, menebak maksud pemberiannya ini.
“Tadi saya minta sama waiters, barang kali kamu butuh,” jelas Pak Hara sebelum aku bertanya.
Aku mengangguk, menggumamkan ucapan terima kasih dengan sangat lirih. Dia benar, aku memang membutuhkan bubuk kopi saat ini, meski parfum mobil beraroma lemon sudah bisa membuatku sedikit rileks. Namun, bau wangi kopi yang khas, mampu mengubah jiwa yang bergejolak menjadi tenang.
“Harusnya kamu bisa antisipasi sebelum kambuh. Kamu sangat tahu apa penyebab kamu mengalami phobia, seharusnya kamu bisa mengatasinya. Tidak harus ada kejadian seperti tadi.” Pak hara berucap panjang lebar, membuat nyaliku menciut. Seolah aku baru saja melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal.
__ADS_1
“Mau sampai kapan? Heem? Kamu nggak bisa hidup seperti ini terus, Jen. Phobia kamu bisa kambuh sewaktu-waktu, seperti yang baru saja terjadi. Ini masih mending, karena ada saya. Bagaimana kalau kamu sendiri? Siapa yang akan menolong?” cerocos Pak Hara hampir tanpa jeda.
Aku tidak tahu kenapa dia terlihat sangat marah. Apa kejadian di restoran tadi membuatnya malu, sehingga dia marah seperti ini? Atau karena pertemuannya dengan Kak Danish jadi kacau gara-gara aku? Atau karena tadi aku sempat mendorongnya ketika dia memelukku?
Baru saja aku hendak membuka mulut untuk menjawab, tapi Pak Hara kembali berkata ketus, “Kamu nggak pengen semuh, gitu? Bisa hidup normal seperti orang-orang?”
Aku punya semua jawaban dari setiap pertanyaan Pak Hara, tapi untuk menjawab rasanya lidah menjadi kelu. Semua kalimat yang ingin kusampaikan hanya berkumpul di kepala, tidak bisa keluar.
Pak Hara menerocos dengan nada tinggi dan ketus, seperti seorang ayah yang sedang memarahi anaknya. Aku benar-benar tidak punya tenaga untuk menjawab, apalagi berdebat dengannya. Jadi kubiarkan saja dia yang kali ini menjadi banyak bicara.
“Boleh saya tidur?” tanyaku setelah kurasa dia selesai bicara panjang lebar.
Pak Hara mengembuskan napas kasar seraya membuang wajah dariku. Dia tidak menjawab, justru diam sambil menyalakan mesin mobil. Kenapa jadi dia yang marah? Bukankah seharusnya aku yang marah karena tadi dia tiba-tiba memelukku?
Aku memilih menyandarkan kepala, memejamkan mata sambil menghirup kopi bubuk dalam plastik. Berharap bisa merilekskan otot dan otak yang tadi tegang. Aroma kopi dan empuknya sandaran kursi mobil, berhasil membuatku merasa nyaman. Perlahan aku bisa mengatur napas satu-satu dan detak jantung pun telah menemukan iramanya kembali.
Kopi bubuk di dalam plastik masih kugenggam erat, meski tidak lagi kuhirup. Dadaku tidak lagi sesak, seperti saat jantung tidak lagi berdetak kencang.
Setengah sadar, aku merasa seperti ada yang bergerak menarik seatbealth dari samping kiri. Indera penciumanku menghirup aroma kayu-kayuan yang cukup menyengat karena tercium dari jarak yang sangat dekat. Wangi ini, sangat familiar bagiku, wangi ini juga yang tidak sengaja tercium saat Pak Hara memelukku tadi. Bau parfum yang sering kucium ketika bertemu dengan Mas Ghufron usai dia melaksanakan salat jum’at.
Ini mimpikah? Apakah dia datang di mimpiku? Tiba-tiba aku ingat sesosok laki-laki berwajah teduh, dengan jenggot tipis dan rambut sebahu. Dia yang hanya dengan mendengar suaranya saja, hatiku bergetar.
Perlahan aku membuka mata, berharap bayangan itu nyata. Namun, yang kulihat adalah gerakan wipper naik-turun menghapus titik-titik air pada permukaan kaca mobil. Aku menengok ke samping kanan, wajah dingin berahang tegas yang terpampang di hadapan. Pak Hara membuka sedikit kaca samping, lalu menyalakan rokok. Selanjutnya dia fokus memutar kemudi tanpa melirik sedikit pun padaku.
Dalam hati, aku menertawakan diri sendiri. Sebab, terlalu tinggi berhalusinasi. Menginginkan kehadiran orang yang sudah bahagia di sisi Alloh adalah sebuah hal yang sangat mustahil. Apa yang kuharapkan? Melihat Mas Ghufron duduk di hadapan dengan mengenakan jas almamater sambil melipat tangan di atas meja? Harapan itu tidak akan menjadi nyata, sebab kini keberadaannya hanya bisa bertahta sebagai kenangan. Ada apa sebenarnya dengan hidungku? Terlalu sensitif. Hanya karena mencium wangi parfum yang sama saja, imajinasi menjadi berkelana….
.
.
.
__ADS_1
Hai Teman-teman, kemarin nunggui, ya? 😁 Pokoknya Pak Hara sedang dalam mode datang tanpa bisa diprediksi. Seperti sikapnya yang kadang sok manis, tapi berubah lagi ketus dan nyebelin.😊
Selamat siang, teman-teman. Selamat menunggu azan magrib. 😍