
🍁Ada yang bertalu, tapi tak terdengar oleh rungu. Apakah ini yang dinamakan bahasa kalbu?🍁
Hara.
Langit sore berhias gumpalan awan kelabu, bergerak berarak-arak. Seperti kumpulan serdadu yang hendak menyerbu. Angin bertiup cukup kencang, menggoyangkan rumpun pohon bambu, sehingga daun-daun kering berjatuhan. Terhempas, terbang, lalu berserakan ke segala arah.
Aku bersandar pada bingkai pintu dengan kedua tangan di dalam saku, terpaku menatap orang-orang yang sedang bercengkerama di gazebo. Naufal terlihat senang sekali memberi makan ikan di dalam kolam. Mbak Sayumi duduk di sebelahnya, dalam posisi siap menghalau jika anak itu mendekat ke pinggir kolam. Irkham duduk di tepi gazebo sedang sibuk melipat kertas, sedangkan Jenar telaten sekali menyuapi Naufal makan.
Definisi makan dengan ikan yang sebenarnya.
Beberapa menit yang lalu, Naufal menangis mencari ibu dan bapaknya. Meski sudah terbiasa mandiri, ternyata bocah itu bisa merajuk juga. Mas Akmal menitipkan Naufal padaku dalam keadaan tidur, repot jika menyetir motor sambil memegang bocah, katanya. mungkin anak itu ketakukan ketika bangun berada di rumah yang asing tanpa bapak atau ibunya. Padahal biasanya ditinggal sendirian di rumah juga tidak masalah.
Saat aku bingung bagaimana harus menenangkannya, sedangkan ponsel Mas Akmal dan Mbak Nabila tidak bisa dihubungi. Mbak Sayumi dan Jenar ikut membantu, bahkan Irkham yang biasanya hanya diam saja, juga turut mencari cara agar Naufal berhenti menangis.
Cukup lama, akhirnya bocah itu bisa dibujuk dengan mainan kapal kertas yang dibuat oleh Irkham. Selanjutnya Naufal mau diajak bermain, sambil memberi makan ikan. Mbak Sayumi menyiapkan makanan, jadilah anak itu seperti raja yang dilayani dan dimanjakan.
“Itu adiknya, Mas?” Lamunanku terputus oleh suara dari samping kanan.
Aku menegakkan badan, menoleh sekilas. Seorang pekerja renovasi sudah berdiri di sampingku, menatap ke arah gazebo kolam ikan.
“Iya,” jawabku singkat seraya mengeluarkan tangan dari saku celana.
“Sudah selesai, Pak?” Aku bertanya, sebab melihat pria paruh baya tersebut telah berganti pakaian bersih.
“Sudah, Mas. Besok lanjut lagi.” jawabnya ramah.
Aku mengangguk, lalu kami membicarakan perkembangan renovasi. Juga tentang pemasangan pondasi di dekat kolam ikan yang sempat terhenti karena ada sengketa garis batas dengan tanah milik tetangga.
“Padahal tempo hari sudah diukur, ya, Mas? Kok, pihak sana bilang melewati batas baru setelah pondasi terpasang?”
Aku harus menjelaskan agar para pekerja tidak berburuk sangka, “Salah kita, Pak. Waktu pengukuran tanah yang datang hanya satu orang, ternyata tanah itu masih hak milik bersama beberapa ahli waris.”
“Semoga cepat selesai masalahnya, Mas. Jadi pembangunan bisa segera dilanjutkan.” ucap pekerja itu.
Aku mengangguk, mengaminkan dalam hati. Reyfan sempat marah kemarin, ketika mengetahui pemasangan pondasi bakal paviliun bermasalah. Sebab, paviliun yang akan dibangun di samping rumah utama- dekat dengan kolam ikan-adalah keinginan Aneesha. Pembangunan harus selesai sebelum mendekati hari kelahiran anak mereka.
“Kami butuh ruang pribadi, paviliun yang tidak terlalu besar, tapi fasilitasnya lengkap. Kamar tidur, ruang santai, dapur dan kamar mandi.” begitu katanya.
Tampaknya, aku akan semakin sibuk lagi. Masalah batas tanah itu harus segera dibereskan, sesuai prosedur yang berlaku. Jangan sampai ada yang merasa dirugikan dan menyebabkan hubungan antar tetangga menjadi tidak baik. Padahal hanya karena masalah tanah yang tidak seberapa luasnya.
Hari sudah sore, semua pekerja pun telah bersiap untuk pulang. Suara berisik daun-daun bambu tertiup angin, berhasil memecah keheningan. Beberapa kali aku mengangguk, membalas sapaan para pekerja yang lewat. Terdengar deru motor sahut-menyahut, mengiringi kepergian mereka.
Aku baru hendak beranjak, ketika Jenar mendekat dengan membawa piring yang telah kosong. Dia melewatiku, menuju dapur untuk mencuci piring bekas Naufal makan.
“Om!” Aku merasakan sebuah tarikan pada celana, sontan perhatianku teralihkan.
__ADS_1
“Sudah selesai makannya?” tanyaku sambil mengacak rambut Naufal
Anak itu mengangguk, lalu mendongak dengan terus melihat ke arahku. “Mimik, Om!” pintanya. (Minum)
“Ayo!” aku menuntunnya ke dapur, guna mengambil segelas air putih.
“Naufal lapar sekali sepertinya. Tadi Mbak Sayumi ambil nasinya banyak, habis tak bersisa.” tutur Jenar yang baru saja selesai mencuci piring, padahal aku tidak bertanya.
“Memangnya Naufal belum makan tadi waktu pergi sama bapak?” Aku memilih bertanya kepada Naufal, dari pada menanggapi ucapan Jenar.
Naufal menggeleng. Anak itu kembali meneguk air putih yang kutuangkan dalam gelas kecil sampai habis. Sepertinya benar kata Jenar, Naufal sedang kelaparan dan kehausan.
“Tadi Naufal dari mana sama bapak?” Aku meminta gelas dari tangan Naufal, mengisinya lagi dengan air putih. Sebab bocah itu terlihat masih ingin minum.
“Ning pasar, bapak adol salak.” jawab Naufal. (Ke pasar, bapak menjual salak.)
Mas Akmal lupa kalau Naufal belum makan, pasti karena sibuk panen salak lalu menjualnya ke pasar. Biasanya aku membantu, kalau sedang di rumah. Baru sadar, kalau beberapa hari ini, aku tidak pulang ke rumah Pak Wawan.
“Om, nyusul ibuk!” Aku baru saja hendak bersantai, karena Naufal sudah tenang. Sekarang ekspectasi yang tersusun di kepala terancam tidak terealisasi, karena anak itu sudah ingat jika sedang tidak bersama orang tuanya lagi.
“Nanti bapak sama ibuk jemput Naufal di sini, jadi nggak usah nyusul.” Aku berusaha membujuk. Bukan tidak mau mengantar, tapi aku tidak tahu ke mana tepatnya Mas Akmal pergi menjemput Mbak Nabila.
“Kapan le rene, Om? Suwi tenan, ora teko-teko.” Naufal bersungut-sungut, menggerutu karena orang tuanya tidak kunjung datang.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku, tapi Naufal malah menyentak, “Rasah (tidak usah) telepon, aku pengin ninggon ibuk!”
Anak laki-laki itu mulai merengek. Kalau sudah begini, aku tidak tahu harus melakukan apa. Seumur hidup baru kali ini aku berhadapan langsung secara nyata dengan anak kecil yang sedang merajuk dan susah dibujuk.
“Ayo, Om!” Naufal terus merengek, bahkan sampai berteriak. Sikap anak itu benar-benar tidak seperti biasanya yang lucu dan menggemaskan. Sore ini dia sangat menyebalkan dan membuat tekanan darah naik.
“Eh! Naufal, kita main kapal-kapalan lagi, yuk!” ajak Jenar seraya mendekat. Sepertinya dia tahu aku sedang kebingungan mencari cara agar Naufal tenang.
Naufal menggeleng keras, tapi Jenar tidak menyerah. Gadis itu terus merayunya hingga berhasil. Naufal menurut, saat Jenar menuntunnya kembali ke gazebo. Sejenak kemudian, mereka sudah tertawa-tawa sambil memberi makan ikan. Terlihat asyik sekali, dasar anak kecil! Sebentar marah, sebentar tertawa, sebentar nangis, emosinya cepat sekali berubah.
Mbak Nabila dan Mas Akmal datang saat petang tiba. Namun, mereka tidak hanya berdua. Melainkan bersama Mas Faiz dan Mbak Nanda serta anak-anaknya juga. Katanya, mereka bertemu di pangajian, lalu memutuskan untuk melanjutkan reuni di rumah ini.
"Kapan lagi bisa ngobrol sama pak ustadz yang sangat sibuk?" seloroh Mas Akmal yang tak sengaja kudengar.
"Kapan meneh isoh ketemu juragan janganan?" (Kapan lagi bisa bertemu juragan sayuran) Mas Faiz menimpali.
Keadaan rumah yang berantakan dan penuh bahan bangunan tersimpan, tidak terlalu mengganggu pertemuan. Bincang-bincang, gelak tawa renyah, teriakan anak-anak, berkolaborasi dengan suara alam dan mendung yang membayang. Semua nampak gembira, tapi aku cukup tahu diri untuk tidak mendekat. Memilih duduk di dapur sambil merokok.
“Pak Hara tidak ikut gabung di sana?” Jenar sedang membuatkan minuman dan menyiapkan makanan ringan bersama Mbak Sayumi. Aku menggeleng tanpa menjawab.
“Mas Pak Hara mau minum teh, kopi atau air putih saja?” Mbak Sayumi sering berlebihan jika memberi tawaran.
__ADS_1
“Nggak usah, Mbak. Nanti kalau mau minum, saya ambil sendiri saja.” jawabku menolak dengan sopan.
Setelah Jenar menghidangkan minuman, mereka berdua kembali sibuk. Aku tidak memerhatikan apa saja yang mereka lakukan di dapur. Hanya dari suara yang terdengar, sepertinya sibuk sekali. Bau masakan tak berselang lama menguar tajam, menggoda lidah dan perut yang minta diisi.
“Mbak Say yang cicipi, ya? Jenar puasa.” ucapan Jenar membuatku mengangkat kepala, menatap dua punggung perempuan beda usia, tepat di depanku.
“Oh iyo dino kemis,” sepertinya Mbak Sayumi baru ingat kalau majikannya itu selalu puasa sunah setiap hari senin dan kamis.
“Bilang kurang apa, ya, Mbak?”
“Tambah gula dikit,”
“Kurang manis, ya?”
“Iya, dikit saja nggak usah banyak-banyak.”
“Takut diabetes, ya, Mbak?”
“Iya, demi kesehatan.”
Tanpa sadar dua sudut bibirku terangkat ke atas, demi mendengar obrolan ringan Jenar dan Mbak Sayumi. Sore ini gadis itu terlihat sedikit lebih dewasa. Bisa menenangkan Naufal yang merajuk, menyambut kedatangan Mbak Nabila dan Mas Akmal dengan baik. Sekarang malah sedang memasak untuk mereka, padahal sedang puasa. Jadi ingat tempo hari Jenar pernah bilang, tidak masalah masak saat sedang puasa. Ternyata dia membuktikannya hari ini.
“Sekarang sudah pas belum, Mbak?” Suara Jenar kembali terdengar. Mbak Sayumi nampak mengambil sedikit kuah sayur untuk mencicipinya.
“Sudah pas.” ucap Mbak Sayumi.
“Kalau kurang manis, nanti makannya sambil liatin Jenar saja, Mbak. Dijamin manis, tapi nggak bikin diabetes.” seloroh Jenar.
Aku menahan senyum, sungguh banyolan yang terlalu percaya diri. Entah mengapa tanganku bergerak mengambil ponsel, lalu membuka galeri foto. Beberapa gambar yang berderet, terletak di bagian paling atas reflek membuatku tersenyum.
Jenar memang manis, batinku.
Tunggu! Apa-apaan ini? Sepertinya ada yang salah denganku. Tiba-tiba jantungku terasa memompa darah lebih cepat dari biasanya. Hanya karena mendengar obrolan Jenar dan melihat fotonya, apakah aku jadi kagum pada Jenar? Yang benar saja! Namun, suara apa ini? Seperti ada yang bertalu tapi tidak terdengar oleh rungu. Apakah ini yang dinamakan bahasa kalbu?
.
.
.
Bersambung...
Cie ... ada yang deg-deg an tapi nggak sadar. Pernah nggak, sih, seperti itu? Kadang-kadang hanya mendengar atau melihat seseorang, bisa membuat jantung berdebar tanpa sadar. Hal ini tidak bisa dicegah dan bahasa kalbu tidak pernah salah.
Selamat membaca, jangan lupa tinggalkan komentar yang banyak.😉
__ADS_1