
🌵Ketika bertemu dengan seseorang, kadang ada rasa dalam hati yang menilai tentang sifat, sikap dan gelagat orang tersebut. Itulah yang disebut dengan firasat.🌵
Author.
Sepanjang perjalanan, Hara merasa ada yang ganjil. Ia mengira hanya Jenar yang tahu jalan menuju ke pabrik tegel motif yang dimaksud oleh Faiz. Pada kenyataannya, Faiz justru sudah sampai di tempat itu lebih dulu.
Mereka memang berangkat bersama, tapi Faiz tidak ikut naik mobil. Dia mengendarai vespanya sendiri, sedangkan Jenar, Nanda dan dua anaknya ikut dalam mobil yang dikendarai oleh Hara.
Saat Hara menghentikan mobil di sebuah halaman yang ditumbuhi pohon rambutan, Faiz terlihat tengah berbincang dengan seorang pria paruh baya yang sebagian rambutnya telah memutih. Mereka tampak akrab sekali, seperti dua orang teman yang sudah sering bertemu.
“Nah! Ini dia rombongan baru tiba,” ujar Faiz begitu semua orang keluar dari mobil.
Nanda dan Jenar kompak mengucapkan salam dan mencium punggung tangan pria paruh baya bertubuh gempal dengan penuh hormat.
“Apa kabar Pak Haji? Sehat, to?” sapa Nanda setelah saling salam menyalami selesai.
“Alhamdulillah sehat. Kalian juga sehat, kan?” sahut Pak Haji dengan senyum ramah menghias wajah keriputnya.
“Alhamdulillah,” jawab Nanda dan Faiz hampir bersamaan.
“Pantes, iki mau ono manuk prenjak ngoceh wae ning uwit rambutan. Jebul arep ono tamu agung,” ujar Pak Haji seraya menepuk bahu Faiz. (Pantas tadi ada burung prenjak bersiul terus di pohon rambutan. Ternyata mau ada tamu besar.)
“Sanes Agung, Pak Haji. Kulo Faiz,” gurau Faiz yang disambut tawa oleh Pak Haji. (Bukan Agung, Pak Haji. Saya Faiz.)
“Kamu ini, masih saja suka bercanda. Tidak berubah sejak jaman aliyah sampai sekarang.” tutur Pak Haji menimpali candaan Faiz.
“Mau berubah jadi ultraman tidak bisa, Pak Haji.” Faiz kembali berkelakar, sampai perut Pak Haji berguncang karena tertawa.
Pak Haji menggelengkan kepala lalu berkata, “Mari masuk! Kelamaan ngobrol di luar nanti jadi kering karena kepanasan.”
"Tinggal diangkat, dong, kalau sudah kering." seloroh Faiz.
"Itu jemuran, Mas." Nanda ikut menimpali. Sontan kembali mengundang tawa.
Pak Haji merangkul Faiz, mengajaknya berjalan masuk ke rumah sambil terus berbincang hal-hal sepele yang mengundang tawa. Sementara yang lain mengikuti dari belakang. Diantara semua orang, hanya Hara yang masih merasa keheranan. Kalau Faiz sudah tahu tempat ini dan kenal akrab dengan pemiliknya, mengapa tadi ia meminta Jenar untuk mengantar? Bukankah akan lebih praktis jika hanya Faiz dan Hara yang pergi, tidak perlu membawa rombongan seperti saat ini?
Hara lebih banyak diam, hanya menjadi pendengar saat Faiz dan Nanda berbincang dengan Pak Haji dan istrinya. Sementara Jenar juga hanya sesekali menanggapi saat ditanya, sudah jelas Faiz lah yang mendominasi obrolan.
“Jenar ini sepupunya Nanda, adiknya Aneesha yang dulu pesan tegel motif di sini, Pak Haji.” jelas Faiz saat memperkenalkan Jenar kepada sepasang suami istri paruh baya dihadapannya.
“Oh! Yang dulu membangun rumah joglo di jalan Talun itu, ya?” tanya Pak Haji.
“Iya, betul. Dia pernah mengantar kakaknya ke sini dulu,” Faiz kembali menerangkan. Jenar terlihat mengangguk sambil tersenyum ramah.
“Bapak ini sudah tua, harap maklum kalau lupa,” seloroh Pak Haji diakhiri dengan tawa kecil.
“Kalau ini, namanya Hara,” Faiz menunjuk Hara yang duduk di sebelahnya, “Bisa dibilang dia ini tangan kanan Aneesha dan suaminya, bahasa kerennya asisten pribadi.”
Pak Haji mengangguk tanda paham. Faiz melanjutkan kalimat saat Pak Haji sedang menyalakan rokok, “Kebetulan rumah joglo milik Aneesha sedang direnovasi, dia ingin lantai rumah yang semula kayu diganti tegel motif. Jadi, kedatangan kami kemari ingin melihat-lihat corak tegel motif yang Pak Haji buat.”
Sampai di sini, Hara baru bergabung ke dalam obrolan. Dia banyak bertanya tentang harga, cara menghitung perkiraan tegel yang dibutuhkan, macam-macam motif tegel dan lain sebagainya.
Saking asyiknya berbincang, sampai tidak terasa hari telah beranjak makin siang. Suara azan dzuhur terdengar jelas dari pengeras suara masjid, menginterupsi perbincangan. Membuat semua orang diam, mendengarkan lantunan azan yang menggema ke segala penjuru, menyerukan panggilan salat.
Saat yang lain bergumam menjawab seruan azan, Hara mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya. Merokok bisa mengusir rasa tidak nyaman, karena mendengar suara berteriak dari pengeras suara masjid itu. Meski sudah terbiasa mendengar, tapi entah mengapa selalu ada yang menggelitik perasaan ketika mendengar suara azan. Apalagi jika terdengar jelas karena jaraknya yang dekat, seperti sekarang ini.
Bu Haji mengajak Jenar dan Nanda ke belakang untuk mengambil wudlu, sedangkan Pak Haji pamit ingin mengganti pakaian. Tinggalah Faiz dan Hara duduk di ruang tamu, bersama putri kecil Faiz yang sedang tidur tenang di sofa.
“Jadi Mas Faiz sudah kenal dengan Pak Haji dan tahu tempat ini?” tanya Hara. Ia menggunakan kesempatan untuk mengungkapkan rasa ingin tahunya.
Faiz mengangguk. Ia tahu kemana maksud pertanyaan Hara, pasti ingin menanyakan kenapa harus mengajak Jenar sebagai penunjuk jalan kalau dia sudah tahu alamat yang dituju.
“Pak Haji Baihaqi itu bapaknya teman saya di pondok pesantren dulu. Saya sering main ke sini kalau libur, pernah menginap juga.” jawab Faiz menjelaskan.
Hara menghisap rokok, menahannya di tenggorokan lalu menghembuskan asap putih ke udara. Ia harus menoleh ke samping kiri agar asap rokok tidak mengenai bayi mungil yang sedang tidur pulas di sofa bersebelahan dengan tempat duduk Faiz.
“Maaf, kamu pasti heran mengapa kita tidak pergi berdua saja kalau saya sudah tahu alamat ini.” tebakan Faiz tepat sasaran, karena itulah yang ingin Hara tanyakan sejak tadi.
“Bisa saja tadi kita pergi hanya berdua, atau kita juga bisa pergi besok. Tidak harus hari ini juga sebenarnya, tapi ada hal yang harus saya lakukan dan saya belum menemukan alasan yang tepat sampai tadi kita membicarakan soal memesan tegel motif.” Faiz mengambil cangkir berisi teh, menyesapnya sedikit kemudian meletakkannya kembali ke atas meja.
__ADS_1
“Sebenarnya saya ada acara nanti habis dzuhur. Tadi saya bingung, bagaimana kalau sampai saatnya saya harus pergi, tapi Lion masih di sana. Tidak mungkin saya meninggalkan dia hanya berdua dengan Jenar, tapi untuk mengusirnya juga tidak sopan,” Faiz menjelaskan secara detail alasan kenapa dia mengajak Jenar pergi bersama kami.
“Begini, Hara ... Om Fares sudah titip pesan kepada saya dan bapak untuk menjaga Jenar. Agar jangan sampai sembarang pria bisa dekat dengan dia, terutama Lion. Kata Om Fares, walaupun keluarganya berhubungan baik dengan keluarga Lion, tapi beliau sangat tidak menginginkan putrinya punya hubungan khusus dengan Lion. Saya tidak tahu alasannya karena apa, tapi saya dan bapak hanya berusaha menjaga amanah yang diberikan oleh Om Fares.”
Faiz menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan sebelum melanjutkan kalimat, “Sama seperti waktu Aneesha pulang dari Amerika, lalu dia memutuskan untuk tinggal dan membangun rumah di sini. Kami menjaganya dengan sepenuh hati, karena bapak tidak ingin gagal untuk yang kedua kali. Apa yang terjadi pada Tante Riani dulu adalah kegagalan terbesar dalam hidup bapak. Sebagai menantu laki-laki tertua di keluarga ini, saya harus membantu bapak menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.”
Hara mendengarkan dengan baik penjelasan Faiz. Meskipun dalam hati ia merasa tidak sepenuhnya setuju. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Faiz dan Pak Teguh terlalu kolot di jaman modern seperti sekarang ini. Sudah bukan jamannya lagi menerapkan aturan yang mengekang seperti itu.
***
Terik matahari dari luar terasa sampai ke dalam rumah. Dinding dan atap memantulkan udara panas, membuat pori-pori kulit membuka untuk mengeluarkan keringat. Hara menyugar rambut dengan jemari, lalu menyeka tetesan peluh di dahi. Ia menekan puntung rokok yang masih menyala pada asbak, lalu mengambil cangkir. Ia menenggak teh yang telah dingin dalam sekali teguk, lalu mengembalikan cangkir pada tempat semula.
Sudah beberapa saat ia menunggu orang-orang yang sedang salat, sambil menjaga bayi kecil yang tidur di sofa. Karena bosan, ia pun berdiri, melihat-lihat sekeliling ruang tamu yang cukup luas itu. Ada sebuah buffet di tengah ruangan berisi buku-buku, piala, piagam dan beberapa foto berbingkai.
Hara mengambil sebuah foto dalam bingkai berukuran 10R yang menunjukkan wajah seorang pria muda mengenakan toga. Ia seperti sedang melihat Pak Haji di usia muda, mungkin itu adalah foto putranya. Ia mengembalikan foto pada tempat semula, setelah puas memandangi.
Dengan memasukkan tangan ke saku celana, ia melihat seluruh isi buffet. Dari semua yang terpajang, hanya satu nama yang ia baca berulang-ulang karena tertera pada semua piagam penghargaan dan piala. Amri Hasan Baihaqi. Dari namanya saja sudah jelas kalau dia adalah putra Pak Haji Baihaqi.
Namun, yang menggelitik pikiran Hara adalah nama instansi pada beberapa piagam penghargaan tersebut. Tertera dengan huruf yang dicetak tebal nama pesantren yang kini menjadi rumah kedua bagi Hara. Ia sampai mencondongkan badan agar bisa melihat dengan jelas nama pesantren itu. Juga tanda tangan dan nama kepala pondok pesantren adalah nama yang sangat ia kenal, semakin membuatnya yakin bahwa putra Pak Haji Baihaqi pernah belajar di pondok pesantren milik KH. Mustafa Ali Hidayatullah.
Hara segera mengakhiri aktivitas melihat-lihat isi buffet, karena mendengar suara orang-orang berbincang dan langkah kaki dari luar. Ia berbalik badan, saat semua orang masuk ke rumah dengan saling mengucapkan salam dan menjawab sendiri.
Nanda bergegas menghampiri bayi mungil yang tidur di sofa, sama sekali tidak terusik padahal ditinggal cukup lama.
“Terima kasih sudah menjaga anak saya, maaf merepotkan.” ucap Nanda kepada Hara yang masih berdiri membelakangi buffet.
Hara mengangguk menjawab ucapan Nanda. Faiz mendekat dengan menggendong Arkaan, putra sulungnya.. Ia bertanya kepada istrinya, “Bagaimana? Aman, kan, Nduk?”
“Aman, Mas. Tidak bangun sama sekali.” jawab Nanda menunjuk putri kecilnya di sofa.
“Wah! Ternyata selain kompeten sebagai asisten pribadi, Hara juga berbakat menjaga bayi,” seloroh Faiz yang membuat Hara tersenyum tipis.
“Maaf, ya, harus menunggu kami salat agak lama.” ucap Faiz.
Hara kembali mengangguk. Seumur hidup ia belum pernah berurusan dengan bayi. Kalau saja tadi putri Faiz bangun dan menangis, pasti dia bingung dan tidak tahu bagaimana cara membuatnya diam. Keberuntungan sedang berpihak padanya, sebab bayi lucu itu masih tetap tidur sampai orang tuanya kembali.
“Oh! Iya, itu putra semata wayang saya.” jawab Pak Haji dengan raut wajah sendu, seperti menyiratkan sebuah kesedihan.
“Putranya Pak Haji pernah belajar di pondok pesantren Al-Hidayah?” tanya Hara, ingin memastikan perkiraannya.
Pak Haji mengangguk, “Betul. Sebelum kuliah, putra saya belajar di sana.”
“Tadi saya sudah cerita, kan? Putranya Pak Haji ini teman saya saat mondok dulu,” sela Faiz.
“Mas Faiz pernah belajar di Al-Hidayah juga?” Hara melempar pertanyaan kepada Faiz.
“Iya. Saya lebih lama belajar di sana dari pada Amri, putranya Pak Haji.” jawab Faiz.
Perkiraan Hara mulai mengerucut. Tentang stiker yang tertempel di belakang vespa milik Faiz, Akmal yang mengatakan pernah punya teman bernama Faizul dan piagam penghargaan yang ia lihat di buffet. Sepertinya semua itu ada hubungannya.
“Mas Faiz kenal dengan Mas Akmal? Dia santri Al-Hidayah juga,” sebuah pertanyaan yang lebih mirip dengan tebakan.
“Akmal?” Faiz menatap Hara dengan kening berkerut seperti sedang berusaha mengingat. Hara mengangguk dan Pak Haji menunjukkan raut wajah ingin tahu.
“Saya, kok, agak lupa, ya? Apa ada fotonya?” tanya Faiz, karena ia tidak berhasil mengingat nama yang disebutkan oleh Hara.
Hara mengambil ponsel dari saku celana, dengan cepat ia membuka galeri foto. Beruntung ia sering mengambil foto aktivitas keluarga Pak Wawan secara diam-diam, sehingga ia mempunyai foto Akmal di dalam ponselnya.
“Ini,” Hara menyerahkan ponsel kepada Faiz.
Dahi Faiz makin berkerut dalam ketika melihat foto di dalam ponsel. Tampak seorang pria sedang memangku anak kecil. Ia berusaha dengan keras mengingat wajah dalam foto itu. Ia pun berseru ketika berhasil memanggil ingatan, “Masyaalloh, kalau ini saya kenal. Saya pernah sekamar dengan dia dan Amri dulu di pondok.” seru Faiz dengan nada senang.
“Kamu ingat dia, Nduk? Ini teman Mas yang datang waktu kita menikah dulu.” Faiz menyodorkan ponsel yang menunjukkan sebuah foto kepada istrinya. Sontan Jenar dan Bu Haji yang duduk di dekat Nanda ikut melihat.
“Lho, ini Akmal yang rumahnya daerah Gunung kidul, kan?” ucap Bu Haji.
“Nah! Bu Haji ingat! Yang dulu ibunya sering bawa thiwul ke pondok, terus kami rame-rame makan.” seru Faiz.
“Ya, Alloh! Dunia sempit banget, ya? Kamu kenal sama dia, Hara?” tanya Faiz.
__ADS_1
“Bukan hanya kenal, Mas. Saya tinggal bersama dia sekarang.” Faiz mengerutkan dahi mendengar jawaban Hara. Tidak ingin membuat Faiz penasaran, Hara pun melanjutkan kalimat, “Saya adik iparnya Mas Akmal.”
Namun, kalimat terakhir yang diucapkan Hara justru membuat Faiz dan Nanda sontan menatap Hara, kemudian saling tatap dengan pandangan penuh tanya.
Hara mengangkat sedikit satu sudut bibirnya. Ia tahu apa arti tatapan Nanda dan Faiz, tapi tidak ada waktu untuk menjelaskan tentang bagaimana hubungannya dengan Akmal.
Faiz dan Nanda harus segera pergi ke tempat acara, padahal pembahasan mengenai tegel motif belum selesai. Faiz menitipkan Jenar kepada Hara, sebab tidak mungkin ia yang hanya mengendarai vespa membawa Jenar ikut serta. Jika tadi ia tidak mengijinkan Jenar hanya berdua dengan Lion, kini justru Faiz membiarkan adik ipar sepupunya itu diantar pulang oleh Hara.ia dan Nanda sama-sama mempunyai firasat baik tentang Hara.
Tinggallah Hara dan Jenar di tempat Pak Haji, melakukan video call dengan Aneesha dan Reyfan agar mereka bisa memilih secara langsung motif tegel yang diinginkan. Juga membicarakan tentang pengiriman dan pemasangan tegel.
“Besok biar karyawan saya datang ke sana untuk menghitung berapa kira-kira tegel yang dibutuhkan, sekalian membuat sketsa pemasangan tegel.” kata Pak Haji setelah memperoleh persetujuan motif yang diminta Aneesha.
“Baik, Pak Haji. Untuk semua biaya saya transfer setelahnya, atau sekarang perlu dp?” tanya Hara dengan nada serius.
“Nanti saja kalau sudah ketahuan berapa yang dibutuhkan, biar saya kalkulasikan dulu dengan biaya pemasangan dan polesnya.” jawab Pak Haji.
Dua orang ini sudah terbiasa membicarakan bisnis, jadi obrolan yang semula santai, kini menjadi serius. Sama-sama bisa menempatkan diri dan posisi.
“Kalau begitu saya pamit pulang, Pak.” ujar Hara sambil memasukkan ponsel ke saku celana.
“Lha, kok, buru-buru? Tidak makan siang dulu, to?” Pak Haji bermaksud menahan tamunya.
Namun, Hara menolak dengan sopan. Sebab, beberapa saat yang lalu ia mendapat pesan singkat dari seorang teman yang ingin bertemu. Kebetulan temannya ini sedang berada di Magelang selama beberapa hari, kesempatan langka bisa bertemu teman yang sama-sama sibuk.
“Baiklah kalau begitu. Jadi dianggurin, nih.” ujar Pak Haji sungkan.
“Dianggurin bagaimana, Pak? Suguhannya banyak begini, kok.” jawab Hara menunjuk makanan ringan yang tersedia di atas meja.
“Jangan kapok datang ke sini, ya.” kata Pak Haji.
“Tidak kapok, Pak Haji. Asal tegel motifnya dapat diskon.” seloroh Hara yang disambut tawa oleh Pak Haji.
Jenar lebih banyak diam. Ia hanya berbicara saat video call dengan Aneesha, membantu memberi komentar tentang motif tegel yang akan dipilih oleh kakaknya. Selanjutnya ia membiarkan Hara dan Pak Haji yang berbincang. Kalau bisa memilih, dia akan ikut Nanda dan Faiz tadi. Sayangnya, Faiz tidak membawa mobil jadi terpaksa Jenar mau ditinggal bersama Hara.
Kini dia harus berada dalam situasi yang tidak nyaman, yaitu duduk berdua dengan Hara di dalam mobil. Sementara Hara terlihat menyetir dengan tenang, tanpa memedulikan Jenar yang dilanda gelisah.
“Nanti saya turun di jalan saja, kalau Pak Hara buru-buru ada acara lain.” Jenar tadi mendengar saat Hara pamit dengan Pak Haji. Ia tahu jika Hara punya janji dengan temannya, tentu dia tidak ingin menjadi pengganggu.
“Tidak bisa!” jawab Hara singkat.
“Pak Hara mau ketemu teman, kan? Saya bisa pulang sendiri, kok, tidak perlu diantar. Dari pada nanti teman Pak Hara nunggu lama gara-gara bapak harus antar saya pulang dulu.” Dengan hati-hati Jenar memilih kalimat agar tidak menyinggung Hara. Sikap dingin dan ketus pria itu berhasil membuat Jenar selalu berpikir panjang sebelum berkata.
“Mas Faiz nitipin kamu ke saya, kalau saya turunin kamu di jalan dan pulang sendiri, saya jadi orang yang tidak bertanggungjawab.” ucap Hara tanpa mengalihkan fokus dari menatap jalan di depannya.
Jenar sudah membuka mulut hendak menjawab, tapi Hara lebih dulu berkata ketus dengan nada yang tidak ingin disanggah, “Saya menemui teman dulu, baru setelah itu kamu saya antar pulang.”
Jenar tidak berani menjawab, karena Hara memang tidak memberi kesempatan kepada gadis itu untuk menolak. Ia hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Hara, padahal sebenarnya ia ingin pulang, mandi lalu bersantai dengan menonton drama korea yang sudah ia simpan di playlist laptopnya. Harapan bisa menikmati libur ditemani oppa ganteng dan imut buyar sudah. Berganti dengan hari minggu kelabu karena tanpa rencana ia pergi dengan manusia paling kaku yang pernah ia kenal. Si papan tulis yang tidak bisa bersikap sedikit ramah.
.
.
.
Hai! Apa kabar teman-teman?
Bagaimana part panjang ini? Sudah cukup menjawab pertanyaan yang kemarin tersirat, kan? Oh,ya. Ada yang notice sama anaknya Pak Haji Baihaqi? Siapakah dia, kenapa muncul namanya saja tidak dengan sosoknya? Sedikit spill, ya. Dia tidak akan muncul di sini, karena sudah nyaman di WP. Ih, Mbak Desi kok gitu? Hehehe ...
.
Pasti ada yang merasa aneh, kan? Itu Faiz kok bisa dengan santai nitipin Jenar ke Hara, sedangkan tadi sama Lion nggak boleh dekat-dekat, malah diajak pergi. Kadang kita kalau ketemu orang sudah sreg sejak pertama kali, tapi ada juga yang sudah ilfill di awal temu. Nah! Faiz ini sudah klik sama Hara sejak awal ketemu, kalau masih ada yang ingat di HSP mereka berdua yang mengurus pernikahan Aneesha dan Reyfan. Terus di malam acara kumpul keluarga Faiz mengajak Hara ikut bergabung ketika menjelaskan tentang nasab kepada Nanda, Sari dan Mbah Uti.
Nah! Setelah tahu Hara ini adik iparnya Akmal, kira-kira Faiz bakal tambah akrab tidak sama dia? Eh, itu Jenar nggak langsung dibawa pulang sama Hara, mau ke mana mereka. Tunggu next part ya.
Selamat berakhir pekan teman-teman,
Salam sayang dari saya yang penuh dengan kasih sayang.😊
Desi Desma/La Lu Na
__ADS_1