
Jenar.
Toilet adalah tujuan paling tepat untuk menghindar, menepi sejenak untuk sekedar membuang rasa yang tidak menyenangkan. Kuhela napas berulang kali, mengurai sesak dan menetralkan tenggorokan yang tersedak. Cegukanku sudah hilang, tapi tenggorokan rasanya masih tidak enak. Kulepas kait jilbab, berharap bisa sedikit melegakkan pernapasan. Kuambil air untuk membasuh wajah, menghilangkan sisa airmata dan peluh. Berharap bisa merasakan kesegaran dan wajahku tidak terlihat kusut.
Puas menenangkan diri di toilet, aku pun beranjak keluar setelah membetulkan jilbab dan pakaian agar tampak rapi. Kuhela napas sekali lagi sebelum melangkah kembali ke tempat aku meninggalkan Aina dan yang lain. Sadar jika wajah masih basah, aku pun mencari tissue, tapi tidak kutemukan barang itu setelah mengobrak-abrik isi tas. Kuseka wajah yang basah dengan telapak tangan, berharap bisa sedikit mengeringkannya.
Aku hendak melangkah, tapi urung ketika mendapati satu tangan terulur tepat di hadapan. Sebuah sapu tangan menggantung di antara jemari tangan itu, membuatku memiringkan kepala mencari tahu siapa pemiliknya. Betapa terkejutnya aku, ketika Pak hara muncul dari balik dinding.
“Masih bersih, pakai untuk mengelap wajahmu yang basah itu!” perintahnya.
Aku menurut, mengambil sapu tangan seraya mengucapkan terima kasih. Pria itu menyandarkan tubuh di dinding lorong toilet. Ada partisi pembatas antara toilet dan ruang utama cafe, meminimalisasi pandangan dari ruang utama ke area toilet.
“Acara sudah selesai, kamu mau langsung pulang?” tanya Pak Hara. Tak terbaca ekspresi wajahnya, sebab dia mengatakan kalimat itu dengan nada datar.
Aku mengangguk. Mengembalikan sapu tangan kepadanya, yang diterima dan langsung dimasukkan ke saku kemeja.
“Pulang sama saya!” menurutku bukan sebuah pertanyaan atau pernyataan, tapi perintah yang tidak boleh dibantah. Memangnya siapa dia, beraninya memberi perintah ketus seperti itu.
“Maaf, tapi saya datang dengan Kak Lion dan Aina. Jadi saya juga harus pulang dengan mereka.” jawabku seraya berlalu. Enggan menanggapinya, setelah melihat sikapnya selama acara tasyakuran ini. Menyebalkan.
Aku mendengar hembusan napas kasar keluar dari hidung Pak Hara. Lalu kalimat bernada sindiran yang terucap dari mulutnya, “Oh! Jadi karena sudah ada orang lain, nggak butuh saya lagi?”
Aku mengernyit, apa maksud ucapan itu? Ingin mengonfirmasi, tapi urung karena aku sedang tidak ingin berdebat. Kuputuskan untuk pergi saja, dari pada semakin sakit hati karena tidak tahu maksud ucapan Pak Hara.
“Kamu tidak merasa bersalah, Jen? Setidaknya apa kamu tidak ingin meminta maaf pada saya?” pertanyaan bernada sindiran itu membuatku berhenti lalu menoleh ke arah Pak Hara.
“Kenapa saya harus minta maaf sama bapak?” aku tidak merasa bersalah padanya.
Pak Hara terdengar menghela napas panjang, lalu berjalan beberapa langkah mendekatiku.
“Seharian saya nunggu kabar dari kamu, sengaja pulang sore sekali karena nunggu kamu, barang kali kamu butuh tumpangan untuk datang ke sini. Ternyata kamu sudah nyaman dengan yang lain.” cetus Pak Hara.
Belum juga aku bisa mencerna kalimat yang Pak Hara katakan, pria dingin itu sudah melanjutkannya, “Apa dia lebih perhatian sama kamu, Jen? Dia tahu apa yang kamu suka, tidak suka, bahkan yang membuatmu tidak nyaman? Mungkin dia lebih memahami dan bisa melindungimu dari pada saya. Jadi kamu lebih memilih minta diantar dia, dari pada saya. Padahal saya sudah menawarkan sejak beberapa hari yang lalu.”
__ADS_1
“Pak Hara bicara apa, sih? Saya nggak ngerti.” tanyaku serius bingung dengan ucapannya.
“Lain kali jangan coba kasih harapan ke saya, kalau akhirnya kamu minta dijemput sama dia.” Pak Hara menunjuk arah ruang utama dengan dagunya, dari celah partisi tampak Kak Lion datang menghampiri kami.
Aku bahkan tidak sempat membuka mulut, karena Pak Hara buru-buru beranjak pergi. Dia berhenti tepat di depan Kak Lion yang hanya berjarak sekitar dua meter denganku.
“Ayo, kita pulang, Jen!” ajak Kak Lion.
Aku membetulkan tali tas, lalu beranjak menghampiri Kak Lion. Sebenarnya aku tidak ingin pulang bareng dia, tapi hari sudah malam tidak mungkin aku pulang sendirian. Minta Pak Hara mengantar juga sungkan, karena sepertinya dia sedang marah. Aina pun tidak membawa motor, jadi aku tidak punya pilihan selain pulang dengan Kak Lion.
“Langsung pulang, tidak usah mampir-mampir!” cetus Pak Hara tanpa menoleh.
“Pak Hara tenang saja, saya akan mengantar Jenar dengan selamat sampai di rumahnya.” tutur Kak Lion penuh percaya diri.
“Justru karena dia sama kamu, saya jadi tidak tenang.” cetus Pak Hara dengan nada tegas seraya berlalu begitu saja.
Kepergian Pak Hara membuat memori dalam otakku bekerja mengingat sesuatu. Isi pembicaraan kami dalam telepon tadi pagi, dan janjiku untuk mengabarinya jika ingin dijemput. Jika sampai sore aku tidak memberi kabar artinya tidak jadi datang. Sungguh keteledoran yang menyesalkan, dasar aku pelupa!
Aku berjalan cepat menyusul Pak Hara. Sampai harus menarik ujung kemeja yang dia pakai, karena dia tidak juga menghentikan langkah.
“Saya minta maaf, bapak pasti sangat marah sama saya.” ujarku ketika akhirnya Pak Hara berhenti dan menoleh.
Aku pikir dia hendak menjawab permintaan maafku, ternyata tidak. Karena justru kalimat lain yang dikatakan, “Jaga diri baik-baik! Karena saya tidak bisa menjagamu.” setelah itu dia berlalu tanpa menoleh lagi.
Aina mendekatiku yang masih bengong dengan sikap Hara. Sahabatku itu berbisik, “Kamu bertengkar dengan Pak Hara?”
Aku menggeleng, “Dia salah paham, karena aku tidak memberi kabar mau datang ke sini.”
“Pak Hara pasti kecewa sekali. Kamu nggak kasih kabar ke dia, malah datang dengan Kak Lion. Dia pasti mengira kamu janjian dengan Kak Lion," Aina memberi ceramah singkat, sedangkan aku hanya bisa diam merutuki kasalahan.
“Kita pulang saja, Na.” suasana hatiku sudah sangat buruk, tak mungkin terus berada di tempat ini lebih lama lagi.
“Eh, tunggu! Mas Akbar ngajak kita salat bareng sebelum pulang, aku cari kamu buat kasih tahu itu.” tutur Aina.
__ADS_1
Walau sebenarnya ingin segera pulang, tapi menolak ajakan baik dari orang baik sungguh tidak bijaksana. Aku ikut salat berjama’ah dengan seluruh tamu yang datang, kecuali Pak Hara tentunya. Masih berputar dalam benak, bagaimana caranya agar pria itu berhenti marah padaku. Tersiksa rasanya mendapat sikap menyebalkan dari Pak Hara, karena kesalahanku.
“Kayaknya Pak Hara suka sama kamu, deh, Jen.” gumam Aina pelan, tapi terdengar sangat jelas di telingaku ketika kami hendak meninggalkan cafe.
Pikiranku mengulang ingatan semenjak dekat dengan Pak Hara, apa mungkin ucapan Aina benar? Lalu kalau memang demikian, bagaimana? Aku harus bersikap seperti apa, karena tidak dimungkiri jika aku pun menaruh kagum padanya. Meski aku tahu, tidak sepantasnya perasaan ini tumbuh dalam hati. Sebab, kami adalah dua makhluk berbeda, yang tidak layak bersatu.
Ah! Itu, kan, hanya perkiraan Aina. Kenapa aku jadi memikirkan yang tidak-tidak.
Tidak ada pembicaraan apa pun setelah itu. Aku bahkan tidak berani mendekati Pak Hara hanya untuk berpamitan. Sorot mata penuh kekecewaan, ekspresi wajah datar, menambah aura angker padanya. Aku tidak takut, justru sesak rasanya mendapat sikap seperti itu dari orang yang telah banyak kurepotkan akhir-akhir ini.
“Jen, Gus Hafidz kirim pesan. Katanya kamu diminta memberi kabar pada Pak Hara kalau sudah sampai rumah.” ungkap Aina saat kami dalam perjalanan pulang dengan mobil yang dikendarai oleh Kak Lion.
Kenapa harus memakai Gus Hafidz sebagai alat, tidak bisakah dia bicara sendiri padaku? Mungkinkah karena terlalu kecewa hingga menyebabkan dia enggan menghubungiku langsung? Sesak di dada makin terasa, menjalar ke setiap sendi. Rasanya sakit sekali, tapi tidak ada luka yang terlihat.
Ah, Pak Hara ... Mengapa dia bersikap dingin lagi setelah memberi banyak perhatian akhir-akhir ini.
Na, aku kok sakit hati cuma karena dicuekin Pak Hara, ya?
Kukirimkan pesan singkat kepada Aina, tidak mungkin aku bicara langsung karena ada Kak Lion diantara kami. Rasanya sudah tidak bisa lagi memendam kecewa, mendapati sikap Pak Hara tidak menyenangkan padaku, tapi akrab dengan orang lain.
Saat seperti ini, aku ingin sekali dia menyusul, atau paling tidak mengirim pesan agar aku bisa menjelaskan semuanya.
.
.
.
Bersambung ....
Nah, salah paham lagi, kan? Memang dua manusia ini nggak bisa berhenti salah paham😁. Selanjutnya, kira2 mereka bisa baikan nggak ya?
Tunggu, ya. Seminggu lagi😁
__ADS_1