Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
64. Goyah dalam pengembaraan.


__ADS_3

🍁Jika kamu mulai merasa ragu, maka mendekatlah kepada Tuhan. Carilah jawaban ke dalam hatimu tentang kedamaian yang kamu inginkan.🍁


Hara.


Dulu, akhir pekan adalah hari dimana aku bisa bersantai dan melakukan hobi. Datang ke tempat hiburan pada sabtu malam, berkumpul bersama teman, menghabiskan berbotol-botol minuman sampai mabuk, diakhiri dengan bermain hal menyenangkan di hotel. Pagi harinya, aku bangun dengan rasa pusing yang amat sangat di kepala dan perut terasa mual. Namun, aku tidak pernah ingat kejadian kemarin. Aku tidak peduli, wajar memang otak tidak bisa menyimpan memori peristiwa yang dialami saat sedang mabuk. Karena alkohol mengacak sistem kerja otak, hingga tidak bisa bekerja dengan optimal.


Kini semuanya berbanding terbalik. Akhir pekan bukan lagi waktu yang tepat untuk bersantai, apalagi melakukan kesenangan pribadi seperi dulu. Hari minggu bukan lagi waktu untuk bermalas-malasan, karena banyak pekerjaan menanti untuk diselesaikan. Aku nyaris lupa, bagaimana rasanya nongkrong di tempat hiburan malam, meski masih sangat terngiang suasana penuh uforia di sana.


“Cepat, Hara! Nanti kamu terlambat ke gereja!” teriak Mbak Nabila yang terdengar ke seluruh penjuru rumah.


Sejak pagi buta tadi, dia sudah membangunkanku. Seperti biasa, Mbak Nabila adalah orang yang paling memerhatikan masalah ibadah, meskipun kami beda keyakinan. Menurutnya, ibadah adalah hal terpenting dalam hidup. Percuma bekerja sepanjang waktu, tapi meninggalkan ibadah. Hanya akan mendapatkan kepuasan di dunia, tapi lupa akan bekal hidup kekal di kemudian hari.


“Sarapan dulu, sudah mbak buatkan kopi,” ucap Mbak Nabila saat aku keluar dari kamar.


“Makasih, Mbak.” jawabku segera menarik kursi dan bergabung dengan Mas Akmal dan Naufal yang sudah lebih dulu duduk menghadap meja makan. Sementara Pak Wawan sejak habis subuh sudah berangkat ke ladang.


“Mau pakai mobil atau motor, Mas?” tanya Mbak Nabila kepada Mas Akmal yang sedang menyantap sarapan.


“Motor saja,” jawab Mas Akmal singkat.


“Nggak repot pulangnya, Mas? Kalau Naufal ngantuk bagaimana?” aku memastikan jawaban Mas Akmal, sebab perjalanan kami lumayan jauh dan mereka akan pulang berdua nanti tanpa aku.


“Nggaklah. Kalau ngantuk nanti Naufal ditinggal saja, kan, beres.” Mas Akmal mengakhiri kalimat dengan tawa sambil melihat wajah putranya yang mendadak cemberut.


“Ampun, to, Pak! Mangkih Naufal wangsule pripun?” sungut Naufal dengan pandangan mata memohon. (Jangan, ya, Pak! Nanti Naufal pulangnya bagaimana?)


“Yo rasah bali, ben ibu ro bapak isoh berduaan,” jawab Mas Akmal dengan nada bercanda. (Tidak usah pulang, biar ibu sama bapak bisa berduaan.)


Naufal makin mengerucutkan bibir, sampai wajahnya terlihat lucu. Aku tidak bisa menahan untuk tidak tertawa. Keluarga ini memang paling bisa menciptakan kehangatan dengan obrolan sederhana yang mengandung humor.


“Sudah, cepat selesaikan makannya! Biar Hara tidak terlambat sampai gereja.” seru Mbak Nabila, menghentikan suaminya yang masih hendak menggoda Naufal.


“Kenapa harus jauh-jauh, sih? Biasanya kamu ke gereja dekat sini, kan?” Mas Akmal melihat ke arahku, meminta penjelasan.


Tadi malam aku meminta Mas Akmal mengantar ke gereja hari ini. Namun, belum menjelaskan kenapa harus ke tempat yang jauh, bukan gereja yang biasa kudatangi setiap minggu pagi. Belum ada yang tahu tentang pergolakan batin yang akhir-akhir ini makin mengganggu.


“Mau ketemu sama pastor yang dulu ngurus saya di asrama, Mas. Ada yang ingin saya tanyakan dengan beliau. Sekalian mau ambil mobil di rumah bos, jaraknya tidak jauh dari gereja.” Mas Akmal mengangguk, paham akan penjelasanku.


Kami segera menyelesaikan sarapan, lalu berangkat menembus udara pagi yang dingin. Meski menempuh jarak lintas provinsi, tapi tidak memerlukan waktu lama untuk sampai di gereja yang terletak di dekat sekolah asramaku dulu. Lalu lintas sangat lancar karena jalanan lengang, belum banyak kendaraan yang melaju.


Aku mengikuti misa minggu pagi dari awal sampai akhir. Masih diam di tempat, hingga semua jama’at keluar dari gereja. Sebab, aku telah membuat janji dengan pastor kemarin, kami baru bisa bertemu setelah rangkaian ibadat selesai.

__ADS_1


Sudah beberapa kali aku dan pastor berdiskusi lewat chat whatsapp dan telepon. Merasa belum cukup untuk mengambil kesimpulan, kami pun merencanakan pertemuan ini. Hingga kami bisa duduk bersebelahan dan bicara berdua saat ini.


“Apa penyebabnya, Hara? Apa ini ada hubungannya dengan perempuan?” Pertanyaan pertama pastor yang sudah akrab denganku sejak sekolah asrama dulu. Perkiraan yang awam, jika seorang pria mengalami gejolak batin tentang keyakinan, penyebabnya adalah perempuan.


Aku menggeleng, tanpa memberi jawaban. Pastor menarik napas dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan seraya berkata, “Tidak ada asap jika tidak ada api. Pasti ada yang menyebabkan hatimu menjadi resah dan keyakinanmu hampir goyah.”


“Saya masih datang ke gereja setiap minggu, tetap berdo'a seperti cara kita. Namun, saya baru sadar jika selama ini tidak menemukan ketenangan seperti yang saya rasakan jika sedang bersama mereka.” jawabku, mengulangi cerita yang sebelumnya telah kukatakan lewat pesan singkat.


“Mereka siapa?” tanya Pastor dengan tanpa menatap ke arahku, pandangannya lurus ke depan altar.


“Sebelum menikah dengan papa, mama punya keluarga dengan dua putri kembar. Sekarang saya tinggal bersama mantan suami mama dan salah seorang putrinya.” jelasku.


“Mereka memengaruhimu agar mengikuti keyakinan yang sama?” pastor bertanya dengan nada menyelidik.


Aku menggeleng keras, “Tadi, bahkan Mbak Nabila cerewet sekali karena saya tidak segera berangkat ke gereja. Suaminya yang mengantar saya sampai sini dan menunggu di depan. Tidak ada yang memengaruhi saya sama sekali.”


“Kalau begitu, saya tidak bisa membantu kamu. Karena masalah keyakinan tergantung pada pribadi masing-masing orang.” Pastor berdiri menepuk pundakku sebelum berlalu, “Tanyakan dalam hatimu, apa yang bisa membuatnya tenang. Jangan sekali-kali menjauh dari Tuhan! Jika kamu sedang dalam pengembaraan, semoga lekas menemukan jalan pulang.”


Aku diam, menautkan jemari di depan dada. Suara gema ketukan sepatu pastor terdengar memilukan. Kutundukkan kepala, meraba rasa damai dalam kesunyian, tapi yang terasa justru kehampaan.


“Tuhan Yesus maha baik, Dia yang telah memberi berkat kehidupan padaku. Segala yang kuraih saat ini, adalah karena kasih-Nya.” aku bergumam dengan suara sangat pelan, nyaris hanya terdengar olehku sendiri.


“Dari dulu hingga sekarang, aku tidak pernah meragukan kuasa-Mu. Meski aku selalu merasa Engkau tidak adil, karena telah merenggut milikku yang paling berharga dan membiarkanku hidup seoran diri di dunia yang kejam ini. Apa karena itu aku tidak pernah menemukan ketenangan, meski sedang berada di rumah-Mu?”


“Atas nama bapa, putra dan roh kudus … amin.”


Aku keluar dari gereja, bersamaan dengan orang-orang berpakaian muslim keluar dari gedung yang terletak berhadapan dengan gereja. Suasana di depan gereja ramai, ternyata tidak berubah dari jaman aku sekolah asrama. Lapangan depan gereja penuh orang yang sedang berolahraga atau sekedar family time dengan menikmati beragam kuliner yang dijajakan di pinggir lapangan.


Aku meneliti tempat parkir, motor matic warna hitam masih ada di sana; artinya mas Akmal dan Naufal belum pulang. Padahal tadi aku sudah bilang, kalau kelamaan menunggu mereka boleh pulang duluan. Mengambil mobil ke rumah Aneesha bisa jalan kaki, karena jaraknya tidak terlalu jauh.


Kuedarkan pandangan ke sekeliling lapangan, sampai kutemukan dua ayah dan anak yang sedang duduk di tepi lapangan, tepat di belakang gawang. Dua pria berbeda generasi yang wajahnya mirip itu sedang berkonsentrasi melihat club sepak bola anak-anak yang sedang berlatih di tengah lapangan.


Aku harus berputar setengah lapangan untuk menghampiri mereka. Karena terlalu serius menonton, Naufal sampai tidak menyadari kedatanganku. Bahkan sampai aku duduk di sampingnya.


“Sudah selesai, Hara?” tanya Mas Akmal.


“Sudah, Mas. Saya pikir kalian sudah pulang.” jawabku.


“Dia nggak mau diajak pulang, pengen nonton sepak bola. Padahal dari tadi dia nonton sebentar, jajannya yang banyak.” Mas Akmal mengambil botol air mineral, memberikan padaku, “Mau minum? Saya beli dua tadi.”


“Terima kasih,” aku menerima pemberian Mas Akmal. Membuka segel dan tutup botol, lalu segera menenggak air mineral untuk membasahi tenggorokanku yang terasa kering.

__ADS_1


“Ramai, ya, di sini?” tanya Mas Akmal. Dengan pandangan takjup ia melanjutkan kalimat, “Salut sama pengelolanya. Satu tempat bisa digunakan untuk macam-macam kegiatan, juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar.”


Aku setuju dengan ucapan Mas Akmal. Lapangan milik pemerintah daerah yang terletak persis di depan gereja ini setiap minggu digunakan untuk kegiatan senam dan latihan club sepak bola. Di bagian tepi ada jogging track yang bisa dipakai untuk jogging, jalan santai, main sepatu roda atau skeatboard. Di sini juga ada beberapa pedagang yang berjualan, baik yang menetap atau hanya datang setiap hari minggu.


“Bali, Fal! Om Hara wes rampung, lho.” ajak Mas Akmal. (Pulang, Fal. Om Hara sudah selesai, lho.)


Naufal bergeming. Dia masih serius melihat anak-anak berlatih sepak bola, sambil mulutnya tidak berhenti mengunyah makanan. Entah berapa rupiah yang Mas Akmal habiskan untuk menuruti keinginan jajan bocah itu. Kulihat ada siomay, sosis bakar dan bakso tusuk tersimpan di sebelah tempat duduk Naufal. Sementara dia sedang makan telur gulung dan ada sebuah tempat makan kosong, entah tadi berisi apa.


“Kosek, Pak. Nek wes bubar (Sebentar, Pak. Kalau sudah selesai),” jawab Naufal.


Dia mengambil satu telur gulung, lalu memakannya. Baru satu gigitan, dia sudah mengambil air mineral dan menenggaknya sampai habis. Mungkin karena kebanyakan memberi saos pada telur gulung itu, jadi Naufal kepedasan.


“Tumbas mimik, Pak! (Beli minum, Pak!)” pintanya setelah menghabiskan satu botol air mineral.


“Lah, kok, dienteke?” (kenapa dihabiskan?) Mas Akmal mengangkat botol air mineral yang telah kosong.


“Pedes, Pak!” seru Naufal seraya mengipas mulutnya dengan tangan, membuatku geli melihatnya kepedasan.


“Om belikan minum,” ucapku sambil berdiri.


“Sing kae, yo, Om! (Yang itu, ya, Om!)” Naufal menunjuk booth stand thaitea berwarna hijau terang. Tampak beberapa remaja sedang mengantri di depan booth tersebut.


“Ah! Tambah suwe iki le bali,” gerutu Mas Akmal. (Tambah lama ini pulangnya.)


Aku bergegas membelikan minuman yang diminta Naufal. Anak itu pasti tidak bisa menahan pedas, tapi malah minta dibelikan minuman yang harus antri. Pantas saja kalau dia betah berlama-lama di lapangan ini. Banyak jajanan tersedia, dia bisa memilih apa saja yang diinginkan.


Apalagi tempat duduk Naufal dan Mas Akmal adalah tempat paling strategis, bisa melihat semua aktivitas yang berlangsung di lapangan dari sana. Menurut cerita, Reyfan melamar Aneesha di tempat itu. Waktu dia terpaksa menginap di rumah Aneesha, karena aku tidak bisa dihubungi dan tak kunjung datang. Itu adalah hari yang tidak akan pernah kulupakan, di mana aku menemukan keluarga Pak Wawan setelan sekian tahun tidak saling berhubungan.


Selain Reyfan dan Aneesha, mungkin lapangan ini akan menjadi tempat favorite Naufal. Atau justru akan menjadi tempat yang nyaman untukku dalam mencari kedamaian hati. Tempat netral yang bisa mengumpulkan orang-orang berbeda keyakinan, duduk dan berbincang bersama. Simbol toleransi dalam praktek yang sebenarnya. Hidup berdampingan, tanpa saling mengganggu kepercayaan pribadi.


Selama beberapa bulan ini, aku bisa tinggal bersama keluarga Pak Wawan dengan nyaman. Bisa bekerja dengan Kyai Ali tanpa beban, karena aku menyukai pekerjaan itu. Meski berbeda agama dengan mereka, tapi aku tidak pernah merasa tersisih. Perlakuan mereka sangat baik, terutama Mbak Nabila, dia membuatku merasakan kasih sayang seorang kakak sekaligus ibu. Selama mengantri, aku memikirkan ucapan pastor tadi. Diskusi panjang kami belum sampai pada titik temu. Mungkin benar aku harus meraba sendiri ke dalam hati, tentang apa yang membuatku goyah.


.


.


.


Hai teman-teman! Readers yang baik budi dan murah senyum, rajin beribadah dan suka menolong 😊. Maaf, liburnya ngaret, hehe. Saking asyiknya mendua sampai lupa hari, tahu-tahu sudah hari senin dan sama sekali belum selesai ngetik, belum konfirmasi ke narasumber juga. Sebenarnya hanya pengen nyari nama yang pas buat Pastor, sih. Namun, pada akhirnya saya putuskan untuk tidak memberi nama, biar tidak kebanyakan tokoh. (Alasan saja, sih, mohon dimaklumi)😊


Jadi untuk bab selanjutnya, jangan ditunggu, ya! Sedang mau cari tempat yang asyik buat traktir Mas Pak Hara. Sampai ketemu minggu depan. 😊

__ADS_1


Salam sayang, dari saya yang penyayang, 


Desi Desma/ La Lu Na.


__ADS_2