
🌵Alloh selalu punya cara terbaik dalam menjalankan takdirNya🌵
Hara menggerus rokok pada asbak, lalu mengangkat cangkir. Ia menyesap kopi yang masih mengepulkan asap panas. Ada berbagai macam makanan tersedia di hadapan, tapi tak satu pun menarik perhatian. Sebab,kepalanya nyaris penuh memikirkan kabar dari seseorang yang tak kunjung datang.
“Jenengan (anda) khodamnya* Kyai Ali?”
“Sopirnya,” jawab Hara singkat.
Pria paruh baya yang duduk di sampingnya mengangguk. Lalu kembali bertanya sambil melihat penampilan Hara dari atas hingga bawah, “Nyantri di Al-Hidayah juga?”
Hara mengernyit sebentar, lalu mengangguk lemah. Sudah lama mengantar Kyai Ali dan Gus Hafidz ke mana-mana dan dia selalu malas menjelaskan tentang siapa dirinya. Ia mengulurkan korek api, ketika pria yang menemaninya itu hendak menyalakan rokok.
“Anak-anak saya nyantri di sana, alhamdulillah semua dapat jodoh sesama santri Al-hidayah. Yang ragil (bungsu), bahkan Bu Nyai Aisyah sendiri yang menjodohkan.” Hara manggut-manggut, meski tidak sepenuhnya mendengarkan cerita. Lagi-lagi benaknya masih dipenuhi prasangka yang belum menemukan jawaban.
Hara melongok ke depan, nampak Gus Hafidz sedang berceramah di panggung pelaminan, dekat dengan mempelai. Sekali lagi ia menyesap kopi, lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir satu jam, tandanya sebentar lagi Gus Hafidz akan menyelesaikan tausiah.
“Jenengan sopir khususnya Gus Hafidz atau Kyai Ali?” pria paruh baya di samping Hara kembali bertanya.
Walau enggan, Hara tetap menjawab singkat, “Dua-duanya.”
Perkiraan Hara tepat. Setelah beberapa saat, terdengar gumaman orang mengucap aamiin secara bersamaan. Lalu Gus Hafidz turun panggung sebagai tanda telah selesai memberikan mauidhoh hasanah dalam acara walimatul ursy sebuah pernikahan. Sebenarnya yang diundang adalah Kyai Ali, tapi karena beliau tiba-tiba tidak enak badan, jadi mengutus Gus Hafidz untuk menggantikan.
“Nyuwun ngapunten estu menawi kathah kekirangan, kulo namung diutus badali abah.” tutur Gus Hafidz ketika telah duduk bersama dengan Hara dan lelaki paruh baya, sang pemilik hajat. (Mohon maaf sekali jika banyak kekurangan, saya hanya disuruh untuk menggantikan abah)
“Kulo remen sanget, Gus. Ampun kapok rawuh mriki nggih.” (Saya senang sekali, Gus. Jangan kapok hadir di sini, ya.)
Gus Hafidz dan Hara beramah tamah sambil menikmati jamuan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Sesekali Hara terpaksa menanggapi kelakar bapak-bapak yang menemani mereka walau menurutnya tidak lucu.
“Biasanya khodam Pak Kyai pakai sarung dan peci, baru kali ini penampilannya metropolis begini.” seloroh seorang pria yang mengenakan sarung kotak-kotak dan kemeja biru, mengomentari penampilan Hara yang sama sekali tidak mirip seorang abdi pondok pesantren. Malah lebih mirip orang kantoran, karena memakai kemeja dan celana bahan warna hitam.
“Yang ini beda, Pak. Abah dapat impor, edisi terbatas.” jawab Gus Hafidz.
“Kalau edisi terbatas biasanya mahal, Gus.” ucap pria lain.
“Saya bukan hanya edisi terbatas, tapi produk premium. Jadi sudah pasti super mahal.” sahut Hara berusaha menanggapi kelakar. Seketika tawa renyah membahana, memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Suasana ramai, penuh canda tawa, nyatanya tidak bisa mengalihkan kekusutan di kepala Hara. Ia masih saja kepikiran tentang tadi siang. Ia tidak perlu mengantri lama untuk mendapat pelayanan di kantor bpn, karena Mas Faiz sudah mengambilkan nomor antrian. Setelah selesai mengurus sertifikat tanah yang kebetulan juga tidak terlalu ribet karena semua persyaratan telah terpenuhi, ia bergegas kembali menuju klinik tempat Jenar berobat. Namun sampai di sana ternyata jam praktek pagi sudah selesai dan Jenar pun tidak kelihatan batang hidungnya.
Ia hampir frustasi memikirkan bagaimana Jenar pergi ke Yogya sendirian. Sempat terpikir untuk menyusul. Oleh karena itu, ia bertanya kepada reseptionist klinik berapa lama kira-kira Jenar pergi hendak memperkirakan sekarang gadis itu sampai di mana.
“Kalau mbak-mbak yang pakai jilbab sudah selesai konseling dari tadi, Mas.” jawaban reseptionist.
“Mbak tahu bagaimana dia pergi?” tanya Hara benar-benar ingin tahu, sebelum menghubungi ponsel Jenar secara langsung.
“Sepertinya tadi ada yang jemput, Mas.”
Hara tidak tahu jika pasien berjilbab di klinik tersebut pagi itu, bukan hanya Jenar. Sementara resepsionits juga tidak tahu pasti yang dijemput itu Jenar atau bukan. Namun, setelah mengetahui kabar yang belum jelas itu, ia memutuskan untuk pergi tanpa mengkonfirmasi kepada Jenar. Hal yang kemudian ia sesali sepanjang hari, karena membuat otaknya bekerja keras; menerka-nerka.
Hingga sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya, seolah membukakan jalan agar tanya dalam benak bisa terjawab.
“Gus!” Hara mendekatkan kepala kepada Gus Hafidz yang duduk di sebelahnya. Ia membisikkan sesuatu sambil menunjukkan layar ponsel yang menampilkan sebaris kalimat sebuah chat.
‘Pakdhe, bisa jemput tidak? Motornya Aina mogok di jalan, nggak bisa nyala.’
Meski Hara dan Gus Hafidz tahu, chat itu tidak ditujukan kepada salah satu di antara mereka. Namun, keduanya sama-sama merasa takdir sedang membukakan jalan. Sebuah ide muncul di kepala, membuat mereka saling berpandangan lalu mengangguk. Seolah yakin jika apa yang ada di pikiran mereka adalah sama.
Gus Hafidz segera menyudahi basa-basi dengan pemangku hajat, lalu berpamitan. Tanpa sepengetahuannya, Hara telah mereka rencana. Ia memang selalu tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi suatu masalah.
“Kita mau jemput mereka di mana?” tanya Gus Hafidz begitu Hara melajukan mobil keluar dari tempat hajatan. Sebab dalam chat yang dikirimkan Jenar, tidak disebutkan gadis itu sedang berada di mana.
Hara mengeluarkan ponsel, melakukan panggilan, lalu memasang earphone. Dalam beberapa detik, ia telah terhubung dengan seseorang melalui telepon.
“Kamu di mana?”
__ADS_1
“Ok!”
Hara langsung bertanya tanpa mengucapkan salam terlebih dulu, setelah mendapat jawaban pun ia segera menutup telepon tanpa basa-basi. Begitulah Hara, selalu straigh to the point, tidak ingin membuang waktu barang sedikit pun.
Gus hafidz menggeleng, menyadari orang pilihan abahnya memang sangat bisa diandalkan. Pikiran negatif tentang pria yang sering membawa alkohol kemana-mana ini, perlahan berkurang. Ia yakin abahnya pasti punya maksud tersembunyi menerima Hara sebagai salah satu orang kepercayaan di pesantren.
“Perlu telepon orang bengkel sekarang?” tanya Gus Hafidz.
Hara menggeleng, tanpa mengalihkan konsentrasi menyetir, “Nanti saya lihat dulu seberapa parah rusaknya, lagi pula aneh kalau tiba-tiba ada orang bengkel datang lebih dulu sebelum kita.”
Gus Hafidz mengangguk, kagum dengan ketelitian Hara. Ia mengikuti rencana yang telah disusun oleh Hara, dengan sedikit penyesuaian. Benang kusut yang memenuhi kepala selama beberapa hari, akhirnya sebentar lagi menemui cara untuk terurai.
***
Dua orang gadis nampak sedang duduk di lantai teras sebuah mini market sambil merenung. Masing-masing memegang sebotol air minum berbeda merk yang isinya sudah berkurang banyak. Nampaknya mereka letih sekali.
“Capek sumpah dorong motor, jauh lagi.” gerutu Jenar.
“Laper juga, kali, Jen. Seperti ini mungkin yang orang dulu rasakan waktu dijajah Belanda. Lapar, capek, tapi disuruh kerja terus. Tersiksa banget, nggak, sih?” Aina mendramatisir keadaan lelah mendorong motor, membandingkan dengan perjuangan penduduk indonesia saat dijajah kolonial.
“Seharusnya kita bersyukur, Na. Atas berkat kerja keras para pendahulu, sekarang kita bisa merasakan capeknya dorong motor di atas jalan aspal yang mulus. Coba kalau bangsa kita nggak dijajah kolonial, mungkin nggak akan ada jalan lebar semulus ini.” tutur Jenar dengan wajah yang dibuat seserius mungkin.
“Sial, kamu!”
Mereka berdua lantas tertawa, lebih seperti menertawakan diri sendiri atas kekonyolan obrolan yang tidak berarti. Menikmati keadaan yang sedang dirundung sial dengan melucu agar tidak terlalu terasa pilu.
“Kira-kira Pakdhe Teguh sampai sini lama nggak, ya? Aku gampang, sih tinggal naik ojek online dari sini ke kost. Rumah kamu masih jauh, pasti sudah nggak ada bus jam segini. Tapi motorku gimana, ya?” gumam Aina sambil memandangi motor matic warna merah yang terparkir di hadapan.
Jenar mengangkat bahu, tidak punya ide untuk menjawab. Dalam hati ia merasa khawatir kalau Pakdhe Teguh tidak bisa menjemput. Ia sudah mengirimkan pesan kepada Pakdhenya sejak beberapa menit yang lalu, tapi belum juga dibalas. Mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing selama beberapa saat. Sampai terdengar dering ponsel dari tas Jenar, memupuk sebuah harapan mengenai datangnya pertolongan.
Jenar segera mengambil ponsel, ia mengernyit ketika melihat sebuah nama kontak tertera pada layar. Harapan yang baru hendak melambung, terpupus. Sebab, bukan nama tersebut yang ia harapkan untuk menelpon. Selanjutnya ia justru merasa kesal, karena penelpon mengajukan pertanyaan tanpa basa-basi dan segera menutup sambungan setelah ia menjawab.
‘Orang aneh,’ batinnya dalam hati.
Jenar menggeleng seraya menjawab singkat, “Bukan Pakdhe yang telepon.”
“Siapa?” Aina ingin tahu.
“Pak Hara. Cuma tanya aku di mana, terus ditutup. Aneh, kan?”
Aina manggut-manggut. Sejenak kemudian mereka kembali terdiam, sambil sesekali meneguk minuman dalam botol. Mengusir khawatir dengan membasahi kerongkongan yang nyaris kering. Masing-masing sibuk memikirkan tentang nasib mereka jika pertolongan tidak segera datang.
Aina memikirkan bagaimana membawa motornya yang tidak mau menyala, sedangkan hari beranjak makin malam. Belum lagi kostnya yang memberlakukan jam malam hanya sampai pukul 21.00 saja. Kalau terlambat, ia mau tidur di mana? Bersyukur dalam keadaan seperti ini, ia tidak sendirian. Tidak bisa dibayangkan jika bukan karena mengantar Jenar, bisa-bisa ia mendorong motor dan terjebak tidak bisa pulang sendiri di tempat ini.
Sementara Jenar memikirkan bagaimana jika Pakdhe Teguh tidak segera membuka chat watshappnya? Bisa saja ia pulang naik taksi online, tapi tidak mungkin meninggalkan Aina sendirian. Seandainya ia tidak minta diantar, mungkin motor Aina tidak akan rusak dan sahabatnya itu sudah sampai di kost sejak tadi.
Mereka berdua kompak menggeleng, seperti sedang memikirkan hal yang sama. Keduanya sama-sama sadar, bahwa tidak ada gunanya berandai-andai atas sesuatu yang telah terjadi. Sebab, segala peristiwa pasti sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Maha Kuasa.
Jenar beranjak dari duduk, hendak membuang botol kosong ke tempat sampah. Sementara Aina sedang menghabiskan isi botol dalam beberapa tegukan. Ketika mereka hampir menyerah akan datangnya pertolongan, sebuah mobil masuk ke halaman mini market. Sorot lampunya yang silau, berhasil menarik perhatian dua gadis itu.
Lampu mobil padam, bersamaan dengan suara mesin yang dimatikan. Jenar terpaku di tempat, sedangkan Aina hampir saja tersedak, saat melihat dua pria keluar dari mobil. Seorang pria yang mengenakan sarung dan peci warna putih, dan seorang lagi pria berkemeja hijau mint menutup pintu mobil bagian depan secara hampir bersamaan.
Mereka berdua lantas berjalan mendekati dua gadis yang terbengong di teras mini market. Gus Hafidz mengamati motor matic warna merah, ia hafal betul dengan kendaraan milik Aina itu. Tanpa meminta ijin, ia segera mengganti kick stand samping menjadi tengah agar motor bisa tegak berdiri. Sehingga lebih mudah mengecek masalah pada mesin motor.
“Kunci kontaknya mana?” Hara mengulurkan tangan di depan Aina.
Aina tergeragap karena Jenar menyikut lengannya. Mengembalikan kesadaran yang sedang dalam mode tidak percaya seraya memerhatikan Gus Hafidz. Ia segera mengambil kunci kontak dari saku gamis, menyerahkannya kepada Hara.
Jenar dan Aina saling pandang, berbicara menggunakan bahasa isyarat mengangkat alis dan menggeleng. Mereka hanya bisa diam sambil menggenggam botol kosong, membiarkan dua pria mengecek motor.
“Akinya mungkin,” ucap Gus Hafidz ketika tidak berhasil menstarter motor.
“Bukan, Gus. Mungkin businya,” jawab Hara karena motor tidak juga mau menyala saat digenjot.
__ADS_1
Gus Hafidz meminta Hara bergeser, hendak mencoba menggenjot motor. Mesin berhasil menyala setelah beberapa kali genjotan, tapi suara knalpotnya sangat berisik, apalagi jika gas diputar makin dalam. Ia sudah bisa menebak masalah apa yang terjadi pada motor itu.
“Kena mesinnya ini,” gumam Gus Hafidz.
Hara segera membuka tempat oli, begitu mesin motor dimatikan. Ia merogoh saku, mengambil ponsel lalu menyalakan fitur lampu guna mengecek isi oli. Sesuai dugaannya, ternyata tempat penampungan oli kering, tanpa isi.
“Olinya habis, nggak ada sisa.” ucap Hara, seraya menutup kembali tempat penampungan oli.
“Kamu lupa ganti oli pasti?” Gus Hafidz bertanya kepada Aina.
Yang ditanya mengangguk sambil menunduk. Menyadari kelalaian merawat satu-satunya kendaraan yang selalu dipakai mobilitas itu. Rasanya ia ingin berubah menjadi kecil, agar bisa masuk ke lubang semut saja. Orang yang mati-matian dihindari justru datang untuk menolong saat ia benar-benar berada dalam keadaan yang sulit.
“Nggak bisa dipaksa jalan ini, harus segera masuk bengkel,” ucap Hara, memutuskan.
“Saya telepon Yanto saja biar diambil,” Gus Hafidz bergegas melakukan panggilan telepon tanpa meminta persetujuan yang punya motor.
Sementara itu, Jenar yang menyadari tangan Hara dan Gus Hafidz kotor, segera berlari masuk ke minimarket. Tidak sampai dua menit, gadis itu sudah kembali dengan membawa tissue basah. Ia segera mengambil beberapa lembar tissue, kemudian memberikan kepada Hara.
“Terima kasih,” Hara menerima tissue, memberikan sebagian kepada Gus Hafidz, lalu mengelap tangannya sendiri.
Jenar dan Aina kembali saling pandang, bicara dengan isyarat anggukan dan gelengan. Seperti sedang bertanya, ‘Bagaimana ini?’ tapi tidak ada yang mampu mengucapkannya.
“Kamu antar Jenar pulang duluan saja, biar saya nunggu yang mau ambil motor.” perintah Gus Hafidz setelah selesai menelpon.
“Nanti Gus pulangnya bagaimana?” Hara tidak mungkin meninggalkan majikannya tanpa kejelasan.
“Saya sudah minta Kang Mardi jemput, nanti sekalian antar Aina pulang.” jawab Gus Hafidz.
Hara mengangguk paham. Sementara Jenar dan Aina nampak saling berbisik, memperdebatkan sesuatu. Sepertinya mereka tidak setuju dengan keputusan kedua pria yang hendak membantu, tapi tidak punya pilihan lain selain menerimanya.
“Saya bisa pulang naik ojek online,” Aina memberanikan diri berkata, setelah beberapa saat beradu argumen dengan Jenar.
“Udah malam, Na. Kamu nggak takut naik ojek online?” Jenar tampak keberatan.
Aina menggeleng, lalu menjawab lemah, “Tidak terlalu jauh, kok.”
“Memangnya kamu punya aplikasinya? Belum pernah naik ojek online juga, kan?” Gus Hafidz hafal betul jika Aina hampir tidak pernah naik angkutan umum, apalagi ojek online.
“Jenar diantar Hara, kamu di sini sama saya, tunggu Yanto dan Kang Mardi datang.” tegas Gus Hafidz.
“Saya bisa dimarahi ibu kost kalau pulang diantar laki-laki,” Aina masih berusaha menolak.
“Tidak akan dimarahi kalau yang antar saya,” ucap Gus Hafidz sangat yakin.
“Iya, Na. Kamu lebih aman diantar Gus Hafidz, jangan naik ojek online.” Jenar berusaha membujuk sahabatnya, meski mendapat tatapan mengancam dari Aina.
“Kamu pulang duluan saja, Jen. Biar nggak kemalaman sampai rumah, jangan sampai keluarga kamu khawatir!” tutur Gus Hafidz.
Jenar membisikkan sesuatu kepada Aina. Dengan masih menyimpan sebuah tanda tanya dalam benak, ia terpaksa meninggalkan gadis itu bersama Gus Hafidz. Sebab, ia harus segera pulang sebelum hari terlalu malam. Bisa-bisa Mbak Sayumi menelpon semua orang hanya karena ia belum sampai rumah.
.
.
.
.
Bersambung....
Di bab ini, saya sedikit ingin membahas kenapa jika kita menghindari seseorang malah sering banget diketemukan. Sepertinya takdir nggak ikhlas banget kalau kita menghindar. Kalau sudah seperti ini, kita harus ingat, teman-teman. Bahwa, apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Alloh. Jadi jika kita tidak menyukai sesuatu, cenderung menghindarinya, tapi malah datang dan makin mendekat. Bisa jadi Alloh sedang menjalankan takdirnya. Sebab, takdir Alloh tidak akan pernah salah dan keliru. Semua tepat, sesuai porsi masing-masing.
Apa yang akan terjadi pada Jenar dan Hara, tunggu next bab ya😉
__ADS_1
salam sayang,