
...🌵Tidak ada yang bisa menolak rasa, jika cinta sudah tumbuh dalam hati atas ijin-Nya.🌵...
Hara
Aku melihat Jenar menghentakkan kaki, mengembungkan pipi seraya melipat tangan di dada. Sorot matanya yang tajam, seolah hendak menghujam, menembus kaca mobil.
“Pak Hara ngeselin, ya? Saya, kan, sudah bilang nggak usah jemput!” seru Jenar dengan nada kesal, begitu aku menghentikan mobil dan membuka kaca jendela di hadapannya.
“Cepat masuk, mau hujan!” Tanpa memedulikan protes Jenar, aku menunjuk langit yang berwarna hitam.
Jenar melepas lipatan tangan seraya membuang napas kesal. Tak urung ia pun menuruti perintahku untuk segera masuk ke mobil. Lalu lintas jalan di depan kampus-tempat Jenar menimba ilmu-sangat padat, sehingga aku harus sangat berhati-hati melajukan kendaraan.
“Aina sudah pulang?” aku berinisiatif memulai obrolan, ketika terbebas dari keruwetan jalan. Kini aku bisa berkendara dengan santai karena jalan yang dilalui cukup lancar walau tetap ramai. Jenar tidak menjawab, pasti sedang menahan marah karena menunggu lama.
Aku sedang membicarakan masalah perusahaan dengan Naura di kantor cabang, beberapa waktu yang lalu. Cuaca buruk, membuatku tiba-tiba teringat akan gadis yang takut gelap, hujan dan petir.
Secara impulsif, aku menelpon Jenar. Sekedar ingin tahu keberadaannya di mana dan sedang apa. Ia mengatakan baru saja selesai kuliah, hendak pulang. Rasa khawatir hinggap dalam benak, membayangkan dia sendiri dalam perjalanan jauh di tengah cuaca buruk. Bagaimana kalau traumanya kambuh di dalam bus, siapa yang akan menolong?
Walau dia menolak, tapi aku tetap memaksa menjemputnya. Jarak dari kantor cabang ke kampus Jenar tidak terlalu jauh, tapi kondisi lalu-lintas, tidak memungkinkan untuk cepat sampai. Sehingga ia terpaksa harus menunggu lama.
“Kita mau ke mana dulu, nih?” aku bertanya, karena tadi Jenar sempat beralasan ingin mampir ke suatu tempat agar aku memperbolehkannya pulang sendiri.
Jenar menjawab ketus, “Pulang.”
“Lho! Katanya tadi mau mampir dulu,” aku mengingatkannya akan alasan yang diberikan waktu menelpon tadi.
“Nggak jadi.” jawab Jenar singkat.
“Kenapa nggak jadi? Karena mendung, ya? Naik mobil ini, nggak bakal kehujanan kalau mau mampir.” aku berusaha membujuk, agar dia berhenti merajuk.
Jenar membuang napas kasar sambil memalingkan wajah, sepertinya enggan menanggapi pertanyaanku. Mungkin sudah lelah mengikuti kelas, ditambah harus menungguku lama, mengubah moodnya menjadi seburuk cuaca hari ini.
Aku pun tidak memaksa, membiarkan Jenar tenggelam dalam pikirannya sendiri. Memilih untuk fokus ke jalan raya, karena menyetir dalam cuaca mendung, membutuhkan konsentrasi tinggi. Banyak pengendara yang ugal-ugalan berebut jalan demi cepat sampai tujuan sebelum diguyur hujan.
Langit kota Yogyakarta makin pekat. Hanya menunggu waktu sampai awan hitam tak mampu lagi menampung uap air dan menumpahkan isinya ke bumi. Angin bertiup kencang, menghempas daun-daun kering yang beterbangan ke mana-mana. Suara klakson bersahutan, riuh lalu-lintas mewarnai jalanan.
Aku melirik ke samping kiri, tampak kepala Jenar lemas menghadap ke jendela. Gadis ini memang aneh, bisa tidur kapan saja dan di mana saja. Apalagi kalau sedang marah, pelampiasannya adalah dengan tidur.
Aku harus menepikan mobil, berhenti di bahu jalan yang tidak terlalu ramai demi melihat posisi duduk Jenar yang tampak tidak nyaman dan tanpa memakai sabuk keselamatan.
Tanpa mematikan mesin, aku melepas sabuk pengamanku. Lalu mencondongkan badan ke kiri, seraya menjulurkan tangan untuk menarik seatbealt di dekat kepala Jenar. Dengan hati-hati aku memasangkan sabuk keselamatan untuknya.
Gerakan tanganku terhenti, ketika hendak mengatur tuas sandaran tempat duduk. Indera penciumanku menangkap bau harum seperti aroma bunga-bunga. Aku memejamkan mata, sejenak ingin menikmati wangi yang lembut dan menenangkan itu.
Terdengar helaan napas dari hidung Jenar, membuatku membuka mata. Rupanya gadis itu mengubah posisi dengan masih terlelap di alam mimpi. Dari jarak sedekat ini, aku bisa leluasa menatap wajahnya. Kulit sawo matang, bentuk wajah oval dengan bulu mata yang lentik. Alisnya tebal, membentuk indah sempurna, asli tanpa dilukis. Bibir plumnya terlihat se xy walau tanpa polesan lipstik.
Aku terpaku, mengamati setiap inci wajah gadis itu. Jenar tidak cantik, tapi aku tidak bisa memungkiri jika dia punya sesuatu yang menarik. Aku melepas tangan dari tuas pengatur sandaran, tergoda untuk menyentuh wajah polos itu. Namun, suara nyaring klakson truk berhasil menggagalkan niatku.
Aku segera mengembalikan kesadaran, dengan cepat menjauhkan diri dari Jenar. Aku harus menarik dan membuang napas berkali-kali, untuk menetralkan degup jantung yang tidak terkendali. Tak cukup sampai di situ, aku juga harus mengusap wajah kasar demi meredam rasa ingin yang muncul tanpa ijin.
‘Astaga! Apa yang baru saja terjadi? Seperti bukan aku saja.’
kuambil botol berisi air minum yang selalu tersedia, segera menenggak isinya sampai tandas. Aku baru melajukan kembali mobil, setelah bisa menguasai diri dan emosi. Aku merutuki diri, yang hampir terpancing hasrat hanya karena mencium bau harum yang bahkan sama sekali tidak menyengat.
Titik-titik gerimis mulai turun satu per satu menghujam kaca mobil. Jalanan tambah gaduh, sejenak kemudian hujan pun mulai deras. Sekuat tenaga aku harus mengalihkan perhatian dari aroma wangi lembut yang hampir membuatku gila. Sengaja kutambah volume audio mobil, agar tidak terpengaruh dengan Jenar yang sedang tidur pulas. Beruntung aku masih bisa menjaga kewarasan, sehingga tidak sampai membelokkan mobil masuk ke hotel terdekat.
Sepanjang perjalanan dari Yogya menuju Magelang yang sangat berat kulalui saat ini. Bukan hanya karena hujan lebat dan jalanan licin, tapi otak yang selalu ingin berkelana tanpa ijin, memicu hasrat yang sudah lama tak timbul ingin.
***
Jenar
Aku menutup telinga, seraya melakukan pernapasan seperti yang pernah diajarkan dr. Tiara. Mengambil udara dalam-dalam hingga perut mengempis, merasakan aliran oksigen masuk ke paru-paru. Lalu mengembuskannya perlahan hingga perut mengembung kembali. Berulang kali aku mengembang kempiskan perut, untuk melonggarkan sesak dalam dada. Sekuat tenaga aku berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang muncul tentang masa lalu, sambil tak henti menggumamkan dzikir.
Hujan berhenti, setelah mengguyur bumi sepanjang siang tadi, tapi kilat petir dan gemuruh masih sesekali terdengar. Aku sampai minta ditemani oleh Mbak Sayumi di dalam kamar, karena takut. Suara azan berkumandang, saling menyahut terdengar dari pengeras suara masjid dan musola di seluruh penjuru. Aku memejamkan mata, menjawab panggilan ibadah dengan sepenuh hati.
“Nduk, Mbak Jen!” Mbak Sayumi memanggil.
Aku melepas tangan dari telinga, lalu menoleh. Mbak Sayumi tampak berdiri “Aku wudlu dhisek, yo! Wes magrib.” (Saya ambil wudlu dulu, ya! Sudah waktunya salat magrib.)
Aku mengangguk lemah, “Jangan lama-lama, ya, Mbak. Salatnya di sini saja, jama’ah sama saya.”
“Iyo! Mbak Jen urung (belum) batal?” Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan Mbak Sayumi.
Sepeninggal Mbak Sayumi, aku kembali berusaha menenangkan diri dengan melakukan teknik pernapasan yang diajarkan dr. Tiara. Aku harus bisa mengendalikan pikiranku sendiri, untuk meminimalkan efek kambuh dari trauma. Dr. Tiara bilang, penderita trauma sepertiku tidak akan bisa sembuh, jika pikiran masih berkutat pada masa lalu.
“First, you must forgive your self! Cintai dirimu sendiri, berhenti memikirkan tentang masa lalu dan orang yang bahkan sudah tidak ada di dunia ini. Hargai kesempatan hidup yang Tuhan berikan, jangan sia-siakan waktu hanya untuk meratapi masa lalu. Sebab masa lalu tidak akan pernah kembali lagi. Tinggalkan semua kejadian yang telah berlalu, ubah masa depan dengan memanfaatkan hari ini.” Itu yang dikatakan oleh dr. Tiara pada pertemuan kami minggu lalu.
Ia benar. Seburuk apa pun yang terjadi di masa lalu, tidak mungkin bisa diubah. Sudah terlalu lama aku menyalahkan diri sendiri karena sebuah peristiwa yang terjadi bukan atas kehendakku. Sekarang aku harus bisa menerima masa lalu, sebagai cambuk untuk memperbaiki diri demi meraih masa depan.
Seperti biasa aku mengisi waktu setelah salat magrib dengan mengaji. Mbak Sayumi pun melakukan hal yang sama, perempuan itu setia sekali menemaniku. Tampaknya ia sudah hafal jika aku takut petir. Selepas menunaikan ibadah salat isya’ baru aku dan Mbak Sayumi keluar kamar.
“Mbak Jen mau makan apa?” seperti biasa Mbak Sayumi selalu bertanya menu makan padaku.
__ADS_1
“Mbak Say masak apa?” bukannya menjawab, aku justru balik bertanya seraya menutup pintu kamar.
“Masak sambel terong ro tempe goreng.” Mbak Sayumi menyebut menu yang sama seperti waktu sarapan dan makan siang tadi.
“Ehm …,” aku berpikir sejenak. Tidak selera makan tanpa berganti menu.
“Maem njobo wae po?” Mbak Sayumi menebak aku ingin makan di luar. Andalan kalau aku tidak suka masakan Mbak Sayumi.
Aku menggeleng, malas keluar malam-malam. Lagi pula jalanan pasti becek setelah diguyur hujan seharian. Aku tersenyum, ketika menemukan sebuah ide menu makanan yang pas untuk makan malam.
“Bihun godog kayaknya enak, Mbak.” usulku.
Mbak Sayumi mengacungkan ibu jari tanda setuju, “Bihun mentahnya harus beli dulu, nggak punya persediaan soalnya.”
“Tolong belikan, ya, Mbak. Nanti Jenar yang masak sendiri, deh.” Aku menggamit lengan Mbak Sayumi untuk merayu.
Mbak Sayumi tidak menjawab, tapi aku tahu ia tidak mungkin menolak. Kami lalu berjalan menuju ke dapur. Aku terkejut, ketika hendak melewati ruang makan. Ada pemandangan tak biasa yang terlihat di sana.
Pak Hara sedang sibuk di depan laptop dengan layar terbuka. Di atas meja nampak kertas-kertas berserakan, juga ada tumpukan buku dan map. Sejak kapan pria itu di sana dan sedang mengerjakan apa? Tumben sekali. Menyesal aku telah mengeraskan suara mengaji tadi, kuharap dia tidak memerhatikan.
“Mbak Say!” aku menarik lengan Mbak Sayumi agar berhenti lalu berbisik, “Pak Hara belum pulang dari tadi?”
Mbak Sayumi mengangguk menjawab pertanyaanku dengan berbisik pula, “Tadi sudah mau pulang, tapi ada telepon. Sepertinya dari Mas Reyfan, terus dia jadi sibuk begitu.”
Kami melanjutkan langkah, melewati Pak Hara. Aku memeriksa isi kulkas, mencari bahan-bahan untuk memasak. Kalau ada yang kurang, biar sekalian minta tolong Mbak Sayumi membelinya.
“Sama beli daun bawang, ya, Mbak!”
“Oke!”
Setelah Mbak Sayumi pergi, aku segera menyiapkan bahan baku untuk memasak. Dari dapur yang tidak bersekat dengan ruang makan, aku bisa melihat dengan Jelas aktivitas Pak Hara. Pria itu tenggelam dalam kesibukan, sampai tidak peduli keadaan sekitar.
Terdengar suara mesin printer, lalu Pak Hara beranjak dari duduk. Ia berjalan beberapa langkah, mendekati mesin yang terletak di dekat televisi, menunggu di sana beberapa saat. Aku melihatnya mengambil kertas hasil print out, menatapnya sekilas, lalu membawa ke meja makan. Ia nampak seperti sedang mencocokkan tulisan pada kertas dengan yang tertera di layar laptop.
Pak Hara sering sekali membuatku kesal, bertindak tanpa persetujuan. Namun, melihatnya sibuk seperti itu, aku jadi merasa kasihan. Dia pasti capek sekali bekerja dari pagi buta hingga malam, masih sempat mengantar dan menjemputku kuliah. Kalau orang lain bekerja sesuai dengan aturan jam kerja yang berlaku, tapi Pak Hara tidak. Dia kerja overtime, anytime, anywhere, sesuai perintah majikan.
Aku berinisiatif untuk membuatkan minuman untuknya. Walau bagaimanapun Pak Hara sudah banyak membantuku, secangkir kopi untuk menemani sibuknya, mungkin bisa sebagai balas budi. Ada beberapa potong brownis kukus juga, bisa menjadi pasangan hidangan ringan.
“Kopi, Pak Hara?” Aku meletakkan secangkir kopi dan sepiring brownis kukus di dekat Pak Hara.
“Ya, terima kasih.” ucap Pak Hara tanpa mengalihkan perhatian dari kesibukan.
Aku menarik kursi untuk duduk berseberangan dengan Pak Hara. Tampak jelas wajah kusut dengan dahi berkerut dalam, menggambarkan kepenatan. Siang tadi, aku marah padanya karena harus menunggu lama sepulang kuliah. Padahal seharusnya aku sudah pulang sendiri, naik bus seperti biasa. Namun, dia memaksa menjemput, tidak mengindahkan protesku.
Aku mendiamkannya tadi, memilih tidur sepanjang perjalanan. Lelah dan kesal, membuatku enggan bicara. Bahkan ketika sampai rumah pun aku tidak memedulikannya. Maka, aku sangat terkejut melihatnya masih bekerja malam ini.
“Laporan,” jawab Pak Hara sangat singkat, sebuah isyarat kalau dia sedang tidak ingin diganggu.
Aku mengambil nampan bekas membawa kopi tadi, hendak beranjak. Lebih baik mulai masak, dari pada mengganggu Pak Hara.
“Jenar?” Pak Hara memanggil, saat aku sudah berbalik badan.
“Are you ok?” aku mengerutkan dahi, tidak paham dengan pertanyaan itu. Pak Hara melepas kaca mata sebelum melanjutkan pertanyaan, “Dari tadi kamu tidak keluar kamar, saya pikir kamu kenapa-napa.”
Aku kembali duduk seraya menjawab, “Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya. Alhamdulillah … saya baik-baik saja.”
Pak Hara tersenyum, “Syukurlah kalau begitu.”
Melihat lengkungan di bibir Pak Hara, aku jadi ikut tersenyum. Ternyata kalau sedang tersenyum dan tanpa kaca mata, Pak Hara tidak terlihat tua.
“Pak Hara tidak pulang, karena khawatir sama saya?” tebakku. Entah dari mana rasa percaya diri ini muncul begitu saja.
“Ge er kamu! Saya masih di sini karena kerja. Nggak ada laptop dan printer di rumahnya Mbak Nabila, jadi saya harus kerjakan di sini.” jelas Pak Hara seraya mengambil kaca matanya. Tiba-tiba aku tidak rela kalau dia memakai alat bantu melihat itu lagi, tak ingin wajahnya nampak tua.
“Pak Hara!” aku memanggilnya, sebelum ia kembali sibuk dengan kertas dan laptop.
“Heem,” Pak Hara menatapku.
“Pak Hara nggak bisa, ya, kalau tidak pakai kaca mata?” aku memberanikan diri bertanya.
“Bisa, kalau sedang tidur.”
Aku tertawa mendengar jawaban itu. Selalu ada jawaban aneh jika mengobrol dengan Pak Hara. Memang pantas aku menyebutnya papan tulis, datar dan kaku sekali.
“Kenapa tertawa?” rupanya Pak Hara tidak sadar kalau jawabannya aneh.
Aku menggerakkan tangan, sambil berusaha menghentikan tawa. Pak Hara menggeleng, sejenak kemudian mengambil pulpen dan kertas. Sudah bisa ditebak kalau dia tidak punya selera humor sama sekali.
“Kamu nggak belajar? Memangnya tidak ada tugas kuliah?” tanya Pak Hara, mungkin karena tidak mau aku mengganggunya.
“Ini malam minggu, Pak. Waktunya santai dari semua tugas kuliah, karena besok libur.” jawabku, “Pak Hara sendiri ngapain malam minggu begini masih kerja? Katanya Pak Hara sedang cuti panjang dari perusahaannya Kak Neesha, kok, sibuk?”
“Saya jelasin juga kamu nggak akan ngerti,” ketus Pak Hara.
__ADS_1
Aku menggaruk kepala yang tertutup jilbab. Tentu saja aku tidak mengerti apa yang Pak Hara kerjakan, karena dunia kami berbeda. Bahkan mungkin Kak Neesha juga tidak terlalu paham pekerjaan kantor seperti yang sedang dikerjakan Pak Hara.
“Eh, Pak Hara sudah makan belum?” aku bertanya basa-basi lagi, seperti enggan membiarkan Pak Hara sibuk sendiri.
Pak Hara menggeleng, padahal aku sudah bisa menebak jawabannya.
“Saya mau masak bihun godog, Pak Hara mau tidak?”
“Memangnya kamu bisa masak?” Pak Hara sangsi akan kemampuanku.
“Bisa, dong. Selama di sini, saya yang lebih sering masak dari pada Mbak Sayumi. Nanti Pak Hara rasakan saja hasil masakan saya, pasti enak.” Kalau soal memasak, aku memang sangat percaya diri. Memasak adalah salah satu kemampuan utamaku.
“Heem.” Pak Hara hanya menjawab dengan gumaman.
Ia menghentikan aktivitas, sebelum aku sempat beranjak. Kerutan di dahinya memberi isyarat jika ada yang hendak ia bicarakan.
“Jen!”
“Ya.”
“Mulai awal pekan besok, saya akan sangat sibuk, karena kantor cabang sedang bermasalah dengan vendor. Saya akan mengantarmu lebih pagi dari biasanya, dan jemput di kampus mungkin lebih sore. Jangan pulang sebelum saya datang.”
Aku mengerucutkan bibir mendengar penjelasannya. Ini kenapa Pak Hara jadi repot-repot sekali? Kalau dia sibuk, tidak perlu mengantar dan menjemputku juga kali.
“Jadwal konselingmu tetap di hari senin, tapi malam. Saya sudah buat janji dengan terapismu.”
“Ehm …,” ragu-ragu aku memilih kata-kata untuk melayangkan protes.
“Kalau Pak Hara sibuk, saya bisa berangkat sendiri ke kampus, juga ke klinik. Bapak tidak perlu repot bolak-balik untuk antar-jemput saya.” dengan hati-hati aku mengemukakan pendapat.
“Saya tidak menerima penolakan, Jenar! Ikuti schedule yang sudah saya buat, atau-” Pak Hara menggantung kalimat, membuatku penasaran.
“Atau apa, Pak?”
“Atau saya ceritakan tentang trauma kamu ke Aneesha, kalau kamu tidak mau nurut apa kata saya.”
Aku menggeleng mendengar ancaman Pak Hara. Pria ini arogan juga ternyata, tukang memaksakan kehendak kepada orang lain.
“Pak Hara sedang mengancam saya?” tanyaku menantangnya.
“Ya. Karena saya tidak bisa melihat kamu pergi sendiri, apalagi naik bus. Kalau ada orang jahat bagaimana? Dicopet misalnya, atau ada yang kurang ajar sama kamu? Terus kalau sampai kamu kambuh di jalan, bagaimana? Siapa yang akan menolong?”
Ucapan panjang lebar yang dikatakan oleh Pak Hara, tak urung membuatku menahan senyum. Aku merasa diperhatikan, dilindungi sekaligus disayangi. Hal itu membuat wajahku terasa panas, dan jantung berdetak kencang.
“Kenapa senyum-senyum? Menurutmu kata-kata saya lucu?” ketus Pak Hara.
Aku menggeleng, lalu menunduk. Ingi menyembunyikan wajah yang mungkin sudah berubah warna menjadi merah. Sekuat tenaga aku berusaha menetralkan perasaan. Memberanikan diri mendongak untuk menatap matanya. Hal yang selanjutnya kusesali, karena aku justru merasa sesak napas melihat pandangan sayu itu.
“Pak Hara yang kenapa? Sampai segitunya perhatian sama saya, jangan-jangan Pak Hara suka sama saya.” aku berucap lirih, sambil menahan malu.
“Apa? Terlalu percaya diri kamu! Siapa yang suka sama kamu? Saya hanya tidak ingin terjadi sesuatu, kalau kamu pergi sendiri.” tegas Pak Hara, tapi aku membaca kalimatnya seperti seseorang yang sedang cemburu.
“Gengsi mengaku, ya, Pak? Padahal kata-kata bapak seperti orang yang sedang cemburu.”
“Apa? Cemburu? Kamu ngarep saya cemburu sama kamu? Jangan-jangan kamu yang suka sama saya?"
“Ih! Siapa yang ngarep, Pak? Orang udah kelihatan dari sikap bapak, kok.” aku meliriknya, “Bapak suka sama saya, ya?”
“Nggak!” Pak Hara menolak keras, “Saya tidak mungkin suka sama anak kecil seperti kamu.”
“Tuh, kan, gengsi.” aku menunduk lagi, malu karena terlalu percaya diri.
“Jangan salah paham, saya hanya … care saja sama kamu. Karena kamu ceroboh, lemah dan bo doh.”
Harusnya aku marah mendengar kalimat bernada umpatan itu, tapi hati justru ingin menggoda Pak Hara. Aku meliriknya sekali lagi, “Care karena suka, kan?”
“Nggak!” sentak Pak Hara tegas.
Tanpa memedulikan gumaman tak jelas, aku beranjak. Melangkah pergi meninggalkan meja makan dan Pak Hara di belakang. Besamaan dengan itu, pintu rumah dibuka dari luar. Mbak Sayumi masuk dengan membawa kantong kresek berukuran sedang. Sempat aku menoleh, membaca gestur tubuh Pak Hara yang seperti sedang salah tingkah. Pak Hara … Pak Hara, gengsi banget ngaku kalau sedang cemburu.
Ah! Kenapa aku bisa sepercaya diri ini, ya? Mungkin Pak Hara bukan sedang cemburu, bisa jadi memang hanya sekedar perhatian, kan? Namun, bukankah selalu ada alasan untuk memberi perhatian kepada seseorang? Kalau tidak karena suka, mengapa harus care? Bukankah care, tandanya sayang?
Jadi malu sendiri membayangkan semua sangkaku itu ....
.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1
Kebayanga nggak wajah Hara diskakmat sama anak kecil like Jenar? eh, anak kecil dari mana, orang udah mahasiswi juga😁. Kira2 ada yang curiga nggak, sih sama mereka berdua? Mbak Say, Irkham, atau pakdhe Teguh gitu?
Aneesha bagaimana kalau tau adiknya ditaksir sama Hara, ya? 😁 tunggu lanjutannya ya😍