
🍁Sejatinya setiap manusia pasti mempunyai rasa tidak nyaman ketika melakukan penyimpangan. Hanya saja kadang hati nurani tertutup rayuan setan yang lebih nyaring.🍁
Hara
Tengaran, kabupaten Semarang.
Ponsel kyai Ali berdering, ketika kami sudah hampir sampai kota Salatiga. Beliau mendapat kabar bahwa pengajian diundur beberapa jam ke depan dikarenakan ada orang meninggal. Panitia merasa tidak elok jika pengajian tetap berlanjut sedangkan jenazah belum dimakamkan.
“Lebih baik kita ke sana kalau jenazah sudah siap dikuburkan saja. Sekalian takziah dan ikut menyolatkan.”
Padahal kyai Ali tidak kenal dengan orang yang meninggal itu, kenapa juga mau repot-repot takziah? Apa memang seperti itu sikap seorang muslim terhadap sesamanya, meski tidak saling mengenal?
“Kita singgah di suatu tempat dulu, ya, Hara. Saya sudah bilang ke panitia, nanti mau dikabari kalau jenazah sudah selesai disucikan dan dikafani.”
Aku menurut saja apa kata pak kyai. Beliau yang menunjukkan arah, harus ke mana aku memutar kemudi. Hingga sampai di tempat yang membuatku tercengang dengan pemandangan yang sangat indah. Reyfan pasti tidak tahu ada tempat seperti ini di Semarang. Tempat tersembunyi dan tidak banyak orang yang tahu.
“Ini adalah satu-satunya pacuan kuda di jawa tengah. Dulu, waktu Hafidz masih kecil, saya sering ajak dia ke sini. Beranjak remaja, dia jadi suka olahraga berkuda. Saya sampai rela menyewa kandang lengkap dengan orang yang merawat kudanya.”
Kyai Ali bercerita, sambil mengelus seekor kuda yang baru saja diberikan oleh pemiliknya. Ada ratusan kuda yang sedang digembalakan, salah satunya yang akan dinaiki oleh kyai Ali. Pantas saja orang-orang di sini kenal dengan beliau, ternyata pak kyai pernah memelihara kuda di sini.
“Hafidz sempat punya cita-cita ingin menjadi atlet berkuda.”
“Kenapa tidak berlanjut, Pak kyai? Kalau serius berlatih, gus Hafidz pasti bisa jadi atlet.”
Kyai Ali tersenyum masam, “dia berhenti berkuda, bahkan sekarang dia tidak bisa dekat-dekat dengan kuda. Padahal dulu dia sangat mahir sekali menunggang kuda. Orang-orang sini memberi julukan coboy cilik pada Hafidz, karena selalu menang dalam pacuan.”
“Apa yang membuat gus Hafidz berhenti, Pak Kyai?”
“Dia mengalami trauma,” pak kyai menghembuskan napas kasar sebelum melanjutkan cerita, “sehari sebelum dia ikut kejuaraan tingkat propinsi, kuda kesayangannya ditemukan mati di kandang. Dia sangat sedih, karena baginya kuda itu sudah seperti teman dekat. Sejak saat itu dia tidak mau lagi menunggang kuda. Bahkan hanya melihat kuda saja dia tidak mau. Terlalu sedih jika ia mengingat kematian kuda kesayangannya."
“Apa kuda itu mati karena sakit?”
“Hafidz mengira kuda itu mati kelelahan, sebab setiap hari diajak berlatih untuk kejuaraan. Orang yang mengurus kuda itu bilang, kuda itu keracunan. Kemungkinan kuda itu makan rumput yang tidak sengaja terkena pestisida.”
“Hafidz terlanjur menyalahkan diri sendiri, hingga sampai sekarang ia tidak bisa melupakan peristiwa itu. Pernah suatu ketika, kami diundang untuk menghadiri acara peresmian masjid. Ada banyak rombongan kereta kuda, waktu itu. Hafidz tiba-tiba pingsan karena melihat banyak kuda.”
“Rasa bersalahnya berubah menjadi trauma. Sampai sekarang dia belum bisa berdekatan dengan kuda.”
Aku memberanikan diri bertanya, ketika kyai Ali sudah selesai cerita, “apa gus Hafidz tidak berobat ke psikiater?”
“Sudah. Kami membawanya ke psikiater, tapi tidak bisa sembuh sempurna. Kata dokter, hanya Hafidz sendiri yang bisa menyembuhkan trauma itu. Dia harus bisa memaafkan dirinya sendiri, baru bisa bebas dari trauma.”
Cerita kyai Ali membuatku ingat tentang Jenar. Dia juga mengalami trauma yang hampir sama dengan gus Hafidz. Trauma karena rasa bersalah yang terlalu dalam.
Apa dia sudah pernah konsultasi ke psikiater? Apa dia sudah pernah berobat, tapi belum sembuh? Keluarganya tahu tidak tentang trauma itu? Kenapa sepertinya tidak ada yang tahu, Aneesha dan Reyfan juga tidak pernah cerita. Padahal keadaan Jenar menurutku cukup parah. Sudah sampai ke tahap mengganggu kehidupan normal. Harusnya segera diatasi, atau dia tidak akan bisa beraktivitas seperti orang lain.
Lagi-lagi aku memikirkan tentang dia. Kenapa juga sepagi ini sudah berkali-kali memikirkan tentang Jenar? Ayolah! Jangan kurang kerjaan, Hara! Ngapain meski mikirin dia? Sudah ada orang tua dan saudara yang memikirkannya, kan?
“Kamu kenapa jadi diam, Hara?” suara kyai Ali membuatku tersadar, “mikirin apa?”
Aku menggeleng cepat, “tidak, Pak kyai. Saya hanya sedang teringat sesuatu.”
__ADS_1
“Sesuatu atau seseorang? Kuharap kamu diam karena sadar akan kesalahan yang telah kamu lakukan selama ini, Hara.” kyai Ali menepuk bahuku, sebelum ia naik ke punggung kuda. Beliau menebak dengan tepat apa yang ada dalam pikiranku, “sepertinya baru pertama kali kamu memikirkan orang lain, di luar konteks pekerjaan. Selamat, Hara! Akhirnya kamu bisa punya sisi manusiawi.”
Aku tersenyum masam, melihat kuda yang ditunggani pak kyai berlari kencang. Menyisakan debu beterbangan yang dihasilkan oleh hentakan telapak kaki kuda.
Matahari bersinar sepenggalah. Langit biru cerah, bersih tanpa awan putih membercak. Udara dingin menusuk kulit, bergerak meniup dedaunan. Aku merogoh saku celana, guna mengambil sebatang rokok dan korek api. Menikmati suasana pagi dengan pemandangan alam gunung merapi dan merbabu yang gagah. Pesona pemandangan alam yang indah, surga tersembunyi di jawa tengah.
Ya, aku memang sedang memikirkan seseorang dan aku juga ingat tentang penyimpangan yang telah kulakukan. Peristiwa yang dialami Jenar, membuatku berpikir … apakah diantara mereka ada yang mengalami trauma? Apakah diantara gadis-gadis itu ada yang bunuh diri setelah bermain denganku? Pikiran-pikiran itu berkelebat, membuat kepalaku berdenyut, memikirkan hal yang telah lalu. Kesalahan yang pasti telah menimbulkan dampak tidak baik bagi orang lain. Apa aku harus menebus semua kesalahanku itu? Pada siapa aku harus menebusnya? wanita-wanita itu tentu saja aku sudah melupakan mereka semua.
***
Seharian ini aku sama sekali belum beristirahat. Setelah mengantar kyai Ali sampai sore, aku pergi untuk menemui Cecilia. Adik sepupuku itu mengikuti acara fashion show di sebuah mall di Jogja. Seperti biasa, jika ia sedang ada acara, pasti ingin aku datang untuk menonton.
“Nggak semangat kalau tidak ada kakak. Please, ya, Kak?”
Setiap orang memerlukan dukungan dari keluarga dan teman untuk meraih cita-cita. Sementara Cecilia, tidak memiliki siapapun kecuali aku yang mendukungnya.
Kedua orang tuanya telah bercerai dan mempunyai keluarga baru masing-masing. Cecilia adalah anak terbuang yang hidup sendiri karena keegoisan orang tua. Kalau tidak ada aku, mungkin saat ini Cecilia sudah terjerumus ke dalam dunia hitam. Cecilia adalah salah satu alasan bagaimana aku tetap berhubungan dengan Alex sampai saat ini.
Malam itu aku memaksakan diri hadir di acara fashion show adik sepupu kesayangan. Padahal aku sudah merasa sangat capek, ingin segera berisitirahat. Pulang dari acara, masih harus mengantar Cecilia pulang ke apartemen. Demi menjaga senyum dan ceria di wajahnya aku menerima ajakannya untuk merayakan keberhasilan acara fashion shownya.
Saking sibuknya, aku sampai lupa, jika punya janji dengan pakde Teguh akan membawa arsitek ke rumah Aneesha. Beruntung arsitek yang dipercaya oleh Reuyfan untuk menggambar denah renovasi rumah bisa diajak kompromi. Jadi aku bisa mengajaknya ke Magelang esok hari.
Namun, malang tak dapat ditolak. Keesokan harinya, aku merasa pusing dan seluruh badan pegal linu. Pasti karena kecapekan dan sering kehujanan beberapa hari ini. Virus mudah masuk ke dalam tubuh, menyebabkan aku mengalami demam karena gejala flu dan batuk.
Kupikir dengan minum obat akan segera sembuh, ternyata malah makin parah. Tiga hari aku tidak bangun dari tempat tidur. Terpaksa periksa ke rumah sakit, agar pengobatan lebih tepat sasaran.
Mengenai rencana renovasi rumah Aneesha sudah kuserahkan kepada Noura. Agar dia yang menghandle sementara waktu, sampai aku sembuh. Sebab Aneesha dan Reyfan tidak akan percaya orang lain selain aku dan Noura.
Hanya ada aku dan Naufal di rumah, terdengar suara mengucapkan salam beberapa kali. Ingin segera keluar untuk melihat siapa yang datang, tapi tubuh terasa lemah sekali. Jadi kusuruh Naufal yang keluar.
Sedikit terkejut, saat aku keluar kamar karena Naufal tak kunjung kembali. Ada Jenar yang sedang membungkuk, berbicara akrab dengan Naufal. Untuk menyembunyikan rasa kaget, aku bertanya kepadanya dengan nada ketus, “ada apa?”
Entah hanya perasaanku saja, atau bagaimana, aku merasa Jenar menjawab setiap pertanyaanku dengan gugup. Terlihat dari ucapannya yang terbata. Mungkin karena aku memotong setiap kalimatnya, atau karena dia masih takut padaku? Padahal aku tidak memakai deodorant hari ini, juga tidak habis minum alkohol.
Apalagi saat ia kembali meminta maaf, entah untuk yang keberapa kali. Sepertinya gadis itu gampang merasa bersalah, hingga harus berkali-kali minta maaf. Bahkan saat orang lain masa bodoh dengan apa yang terjadi, Jenar tetap merasa bersalah. Mungkin itu yang membuat traumanya makin parah, tidak kunjung sembuh karena ia belum bisa memaafkan diri sendiri.
Jenar tidak lama berkunjung. Ia hanya memberikan buah tangan kepada mbak Nabila, tanda terima kasih dan permintaan maaf. Entah mengapa saat ia akan pergi, aku ingin berkata agar dia hati-hati di jalan. Namun, yang keluar dari bibir adalah ucapan ketus dan dingin, “langsung pulang! Jangan mampir ke makam! Lain kali saja, ajak teman kalau mau ke makam.”
Sungguh kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku, bukan untuk dijawab. Aku hanya ingin Jenar mengiyakan, tapi dia malah menjawab dengan nada bercanda. Membuatku hampir malu karena terlihat khawatir padanya.
“Kasihan Jenar, panas-panas gini bolak-balik hanya untuk mengantar makanan. Harusnya kamu suruh dia masuk dulu, tadi.”
Mbak Nabila mengalihkan perhatianku dari memandang motor Jenar yang menjauh, lalu hilang karena ia berbelok di pertigaan. Aku melepas tangan yang semula bersedekap, masuk ke dalam rumah tanpa menjawab.
“Hara!” panggil mbak Nabila, “Jenar rumahnya di Magelang sebelah mana, sih? Jauh nggak dari sini?”
Aku menarik kursi, lalu duduk seraya menjawab dengan singkat, “nggak.”
“Magelang kota atau kabupaten? Selatan, utara, barat atau timur?”
“Kabupaten. Nggak tahu, barat mungkin. ”
__ADS_1
“Kecamatan mana? Salam, Srumbung, Dukun, Muntilan, Mungkid, Sawangan …,” ujar mbak Nabila antusias menyebutkan nama kecamatan yang ia tahu.
Kalau tidak dipotong, ia pasti terus bicara tanpa henti. Aku mengambil gelas kosong, mengisinya dengan air putih. “Saya lapar, Mbak.” ucapku seraya mengambil piring kosong. Bermaksud agar mbak Nabila berhenti bicara.
Namun, ia justeru mengalihkan perhatian dengan membahas hal lain, “Jenar anak orang kaya, ya, Hara?”
“Tidak juga, Mbak. Orang tuanya biasa saja.”
“Tapi tadi motor yang dia pakai, bukan motor biasa, kan? Mbak tahu, kemarin ada orang tua temannya Naufal ngomongin motor seperti yang Jenar pakai harganya 40 juta paling murah. Itu artinya, kan, hanya orang kaya yang bisa beli.”
“Siapa saja juga bisa beli, Mbak. Mbak lupa, jaman sekarang ada leasing yang siap membiayai pembelian motor secara kredit?”
“Iya, juga, sih.”
“Eh, tapi mbak kagum sama Jenar. Udah cantik, baik, soleha pula. Idaman setiap orang tua, pengin jadiin menantu.” aku menarik napas, melihat mbak Nabila menepuk punggung Naufal pelan, “Hei, Fal! Cobo kowe wes gede, tak jodoke ro mbak Jenar.” (Coba kalau kamu sudah besar, tak jodohkan dengan mbak Jenar.)
Naufal menoleh sekilas dari memainkan hp, “jodoke ki opo, Buk?” (Jodohkan itu , apa, Bu?)
“Telo diparut kei gulo digoreng.” (Ketela diparut, kasih gula jawa terus digoreng.)
“Kuwi cemplon, Buk.” (Itu cemplon, Bu.)
“Lha, iyo. Cemplon enak.”
Aku yang semula jengah menjadi tertawa melihat dua ibu dan anak ini. Mbak Nabila dan Naufal memang selalu bisa membuat suasana menjadi berwarna. Setelah tiga hari semua makanan terasa hambar, akhirnya siang ini aku bisa merasakan perpaduan rasa asin, manis, gurih dan pedas. Sepertinya badanku berangsur sembuh dari serangan virus penyakit.
“Wah! Ternyata Jenar pintar masak juga. Ini sotonya enak banget, ya, Hara? Rasanya lebih enak dari soto yang biasa mbak beli, sepertinya mbak harus tanya resepnya, nih. Kapan-kapan kalau kamu ke rumahnya Jenar, mbak ikut, ya?”
“Aku melu, yo, Buk?” (Saya ikut, ya, Bu?)
Ada-ada saja mbak Nabila sama Naufal ini. Baru kenal Jenar sebentar, tapi sudah ingin mengakrabkan diri. Belum tentu juga Jenar mau berteman dekat dengan mereka. Jenar, kan, tidak suka bergaul dengan sembarang orang.
Kalau dipikir-pikir, Jenar itu tidak punya banyak teman. Sejak aku kenal dia selama ini, tidak pernah sekali pun kulihat dia berkumpul atau nongkrong dengan teman. Dia memang berbeda dengan kakaknya yang bisa berteman dengan siapapun. Jenar lebih tertutup, terkesan introvert. Atau mungkin karena traumanya itu, dia jadi menghindar dekat dengan orang lain.
Sepertinya tidak, karena dia bisa menjalin hubungan dengan Ghufron, kan? Bahkan hampir menikah. Mungkin dia memang tipe orang yang tidak suka berteman dengan banyak orang.
Aduh, mengapa lagi-lagi aku memikirkannya, sih? Hanya perkara makan soto pemberiannya, kenapa aku jadi memusingkan tentang dia? Sungguh aneh sekali. Apa ada sesuatu di dalam soto ini yang membuatku condong berpikir tentang Jenar, ya?
Hei! Apalagi ini? Apa aku sedang berprasangka. Ya, Tuhan! Sepertinya ada yang salah dengan diriku.
.
.
.
Assalamu'alaikum teman-teman ....
Mohon maaf, untuk bab selanjutnya akan slow up ya. Dikarenakan kelas menulis yang saya ikuti sudah dimulai. Insyaalloh akan tetap up jika ada waktu. Terima kasih atas semuanya.
Wasalamu'alaikum wr.wb.
__ADS_1