
🌹Tidak ada yang tahu pasti kapan cinta itu datang, sebab rasa itu hadir dari hati sering kali tanpa disadari.🌹
Jenar.
Kata-kata yang Aina ucapkan sebelum pulang dari kampus tadi, berhasil mengganggu pikiran. Muncul praduga dalam hati, tentang sikap Pak Hara akhir-akhir ini.
Dia yang tiba-tiba datang untuk mengantarku terapi, padahal sudah bilang sebelumnya, jika ada urusan lain. Lalu dia selalu mengingatkan jika jadwal konseling telah dekat. Seperti super hero yang datang menolong padahal dia tahu aku salah kirim chat. Juga rela antar-jemput tiap hari meski tanpa alasan tepat. Baru sadar jika dia berubah tiba-tiba dari yang super sibuk jadi se-kurang kerjaan itu.
Dengan langkah perlahan kuturuni anak tangga satu per satu. Sesekali berhenti, untuk mengambil napas atau ketika bersisian jalan dengan rombongan yang terburu-buru hendak naik. Silir angin membelai, menembus kain baju, masuk ke pori-pori lalu menelusup kalbu; dingin.
Seraya memegang ujung jilbab bagian depan agar tidak tersibak, aku mempercepat langkah. Diiringi suara gemerisik daun rumpun bambu yang ditiup angin, aku harus menahan rasa pegal pada betis, karena masih panjang anak tangga yang harus kulalui.
Hembusan angin kian kencang, ketika aku melangkahkan kaki di tanah lapang yang merupakan halaman parkir makam. Tempat yang sangat luas ini telah diisi oleh beberapa mobil dan bis-bis berukuran sedang. Di bagian ujung selatan, nampak beberapa motor juga tertata rapi bersaf-saf.
Aku melangkah, melewati deretan mobil di bagian kiri sambil mengedarkan pandangan. Namun, seluas mata memandang, tidak terlihat sosok yang sedang kucari. Pergi ke mana dia, apakah sudh pergi? Padahal tadi dia bilang akan menunggu sampai aku selesai berziarah.
Kurogoh tas slempang kecil, yang hanya bisa untuk menyimpan hp dan dompet saja. Aku membuka kunci layar ponsel dengan menggunakan sidik jari. Seketika kusadari kecerobohan, ketika ponsel tak juga menyala, pasti karena baterainya habis. Bagaimana cara mencari keberadaannya tanpa bantuan ponsel?
Aku berhenti tepat di depan mobil MPV hitam bertuliskan ‘Mahardika Group’ di belakangnya. Jika kendaraan ini masih berada di tempat, artinya pengemudinya pun masih di sini. Aku melongok ke dalam mobil, tapi hanya bayanganku sendiri yang terlihat. Sebab, jenis kaca mobil yang tidak memungkinkan orang luar bisa melihat ke dalam.
Sejenak kemudian, aku berbalik, lalu menoleh ke kiri. Ada banyak orang lalu-lalang, ada juga yang sedang duduk-duduk di pendopo. Mereka pasti sedang beristirahat setelah selesai berziarah. Namun sama sekali tak terlihat batang hidung pria yang sedang kucari. Ke mana, sih, dia?
Aku mengalihkan pandang ke depan. Detik itu juga asap putih menerpa wajah, membuatku terbatuk-batuk karena menghirup asap pekat beraroma vanila yang sangat kukenal. Kukibaskan telapak tangan untuk menghalau asap yang sengaja ditiupkan ke wajahku itu.
“Pak Hara iseng, ih!” gerutuku, masih sambil mengipas depan wajah.
“Makanya jangan bengong di parkiran, ketabrak mobil mundur nanti!” jawab Pak Hara santai, sambil lalu melangkah melewatiku. Pria ini tidak merasa kalau aku bingung mencarinya dari tadi.
“Dari mana, sih, Pak?” aku menyusul langkah panjangnya dengan berjalan cepat.
“Kenapa nyariin? Takut ditinggal, ya?” Pak Hara malah balik bertanya. Kami berjalan menuju pendopo, tepat saat beberapa orang beranjak dari tempat beristirahat para pengunjung itu.
“Ih! Nggak, ya! Ditinggal Pak Hara juga saya bisa pulang sama Pakdhe Teguh.” jawabku seraya mencibir. Karena kami datang bersama rombongan keluarga besar Pakdhe Teguh dan mbah uti.
Aku mengikuti Pak Hara duduk di tepi pendopo, bersama dengan orang-orang yang sedang berisitirahat. Seperti biasa dia tampak tenang sambil merokok, bahkan sengaja mengembuskan asapnya ke arahku. Entah apa tujuannya dia melakukan tindakan konyol itu. Walau tidak biasa berdekatan dengan perokok, tapi aroma rokok Pak Hara tidak membuatku terganggu. Sebab tidak berbau sangit seperti rokok pada umumnya. Aku tidak tahu jenis rokok merk apa, hanya baunya kadang seperti vanila, greentea, grape, atau kopi; aroma kesukaanku.
“Belum buka puasa, kan?” tanya Pak Hara.
Dia menyodorkan sebuah kantong plastik warna putih padaku. Ketika kulongok isinya, ternyata sebungkus makanan dan minuman. Tahu juga dia aku baru membatalkan puasa dengan makan roti dan minum air putih saja magrib tadi.
“Pak Hara beli di mana?” aku harus mengatur jarak. dengan Pak Hara agar tidak terlalu dekat.
“Depan.”
Aku melihat Pak Hara, pria yang akhir-akhir ini cukup akrab denganku. Kami setiap hari bertemu, bahkan hari minggu sekali pun. Pagi dia datang menjemput dan selalu sudah menunggu di luar kampus sebelum mata kuliah terakhir selesai. Dia juga selalu bisa menjelaskan kepada Mbak Sayumi kenapa kami bisa pulang-pergi bersama, dengan dalih atas perintah Kak Nessha. Padahal Mbak Sayumi tidak pernah bosan bertanya, cenderung tak percaya kepadanya.
“Pak Hara jalan kaki beli ini?” tanyaku sambil mengeluarkan isi kantong kresek. Sebuah cup berisi minuman warna pink, sepertinya jus jambu kesukaanku. Satu lagi strayfoam berstiker logo sebuah tempat makan, entah apa isinya.
Pak Hara mengangguk, padahal pertanyaanku sudah jelas terjawab dengan mobilnya yang masih rapi terparkir sejak tadi.
“Dari pada bosan menunggu, tadi saya jalan-jalan. Ternyata di depan ramai banget, banyak yang jualan, ada cafe juga.” jelas Pak Hara. Aroma vanila kembali tercium, karena asap rokoknya terbawa angin ke arahku.
“Ada cafe? Sebelah mana?” aku mengingat-ingat sepanjang jalan menuju tempat ziarah ini. Beberapa kali berkunjung, sepertinya belum pernah kulihat ada bangunan cafe. Masa iya, ada yang membuka usaha yang sasaran pasarnya anak nongkrong di dekat tempat wisata religi?
“Utara perempatan yang sebelah sana!” Pak Hara menunjuk arah dengan rokok yang terselip di antara telunjuk dan jari tengahnya.
“Saya, kok, nggak tahu ada cafe di sekitar sini?” aku masih berusaha berpikir, mengingat rute jalan yang sering kulewati untuk sampai tempat ini.
“Makan dulu, baru mikir!” Pak Hara membuang puntung rokok, menginjaknya, lalu dia melepas sepatu. Aku mulai terbiasa dengan sikap ketusnya, yang benar-benar tanpa basa-basi.
Aku membuka strayfoam, aroma wangi makanan menguar, menggelitik indera penciuman. Ternyata isinya adalah nasi, ayam saus teriyaki lengkap dengan selada dan taburan biji wijen di atasnya. Nampak menggugah selera.
“Pak Hara nggak makan?” aku bertanya basa-basi seraya mengambil sendok plastik yang tertinggal di kantong kresek.
“Sudah tadi,” jawab Pak Hara. Dari ujung mata, kulihat Pak Hara naik ke pendopo, berjalan melewatiku.
Tak enak rasanya membelakanginya, kuputuskan untuk mengangkat kaki, duduk bersila menghadap ke timur. Sementara Pak Hara sudah duduk menyelonjorkan kaki, sambil bersandar pada umpak. Mungkin dia lelah, menjemput ke kampus, lalu mengantarku berziarah. Dari makam mbah kakung, berpindah ke masjid Kyai Krapyak salat magrib sekaligus ziarah dan terakhir sekarang di makam Kyai Raden Santri.
“Kamu turun sendiri? Yang lain mana?” Aku menoleh ke samping kanan, lalu mengangguk.
“Mbah uti sama Budhe Sari belum selesai. Saya sudah capek, kedinginan juga karena lupa nggak pakai jaket. Kalau Pakdhe Teguh dan Mas Irkham memang biasanya lama berziarah, bisa sampai malam.” terangku, setelah menelan makanan.
Pak Hara tidak bertanya lagi, nampak sudah sibuk memainkan hp. Aku melanjutkan makan, dengan sesekali menatap sekeliling. Bus kian banyak berdatangan, pengunjung pun kian ramai. Kalau parkiran timur saja seramai ini, sebelah barat pasti lebih penuh kendaraan yang membawa rombongan peziarah.
“Mereka masih lama?”
Makanan telah tandas dalam waktu tidak lebih dari sepuluh menit. Selain karena porsinya yang sedikit, rasa lapar membuatku bisa makan dengan cepat. Pak Hara berangsur dari tengah pendopo ke pinggir, karena makin banyak orang yang memanfaatkan tempat tak begitu luas ini untuk beristirahat, atau sekedar menunggu rekan sesama rombongan yang masih berziarah.
“Biasanya sampai malam. Pak Hara kalau capek pulang dulu, nggak pa-apa. Saya bisa pulang sama pakdhe, kok.” usulku demi melihat wajah lelahnya. Bahkan Pak Hara masih memakai baju sama dengan yang dipakai untuk mengantarku ke kampus tadi pagi, artinya dia belum pulang seharian.
“Kamu sering ke sini?” Pak Hara justru menanyakan hal lain, tanpa menanggapi usulku.
__ADS_1
“Tempat apa di atas sana?” tanya Pak Hara seraya melihat ke arah jalan naik ke bukit yang dikelilingi rumpun bambu.
“Makam para wali, kyai sesepuh daerah sini.” jawabku mengikui arah pandangnya.
“Apa istimewanya sampai didatangi orang sebanyak ini? Hanya makam, kan?”
Aku tersenyum mendengar Pak Hara menganggap sepele kegiatan yang juga kulakukan beberapa saat yang lalu. Memang persoalan ziarah kubur-termasuk ke makam wali-masih menjadi perbedaan pendapat oleh sebagian ulama.
Namun, aku mengikuti ajaran di pesantren dulu. Bahwa dengan berziarah adalah bukti cinta kita kepada para ulama pendahulu, para wali yang merupakan keturunan nabi, menghormati perjuangan mereka menyebarkan islam hingga bisa sampai ke segala penjuru nusantara. Berziarah sekaligus bisa membuat kita mengingat kematian, sehingga bisa berinstrospeksi demi mencari bekal ke akhirat kelak.
“Pak Hara suka cerita sejarah, tidak? Kalau suka saya mau cerita siapa yang dimakamkan di atas sana, sehingga banyak orang dari luar daerah yang berziarah ke sini.”
Pak Hara menatapku sambil mengernyit. Dengan jarak kami yang tidak terlalu jauh, tapi juga tidak bisa dikatakan dekat, aku bisa melihat jelas kerutan di dahi dan sekitar matanya. Nampak seperti guratan kisah kehidupan, pasti telah banyak yang dia hadapi selama ini. Rasanya aku jadi ingin berbagi banyak cerita dengannya. Entah apa yang membuatku nyaman bercerita padanya.
“Cerita saja, saya dengarkan,” jawabnya sambil mengambil rokok, lalu menyalakannya. Entah berapa batang yang sudah dihabiskan seharian ini, dia seperti pria lain yang tidak bisa diam tanpa merokok.
Aku menceritakan kisah Pangeran Singosari, adik dari Panembahan senopati-raja pertama Mataram-yang memilih mengasingkan diri dari pusat kekuasaan demi mendalami ilmu agama yang diajarkan oleh wali songo (sembilan). Ia pergi mengembara dalam rangka menyebarkan agama ke pedalaman wilayah Kedu.
Adik Panembahan Senopati ini menetap di perbukitan yang terletak di sisi barat gunung Merapi. Bukit yang tak seberapa tinggi itu, ditumbuhi rumpun-rumpun bambu yang sangat lebat. Sehingga dari kejauhan tampak bukit yang diselubungi rumpun bambu. Hal itu menjadi asal muasal nama daerah tempat tinggal Pangeran Singosari ini.
Pangeran Singosari ingin benar-benar menyatu dengan rakyat, jadi beliau menyembunyikan identitas kepangerannya. Beliau dikenal alim dan pernah nyantri di pesantren, maka masyarakat sekitar memberi julukan dengan sebutan Kyai Raden Santri.
Beliau tergolong ulama awal yang menyebarkan islam di wilayah sekawan keblat gangsar pancer-nya Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing dan perbukitan Menoreh di sepanjang Sungai Progo.
Keturunan Kyai Raden Santri berurutan yaitu, Kyai Krapyak I, II, III, Kyai Harun, Kyai Abdullah Sajad, Kyai Gus Jogorekso, Raden Moch Anwar AS, Raden Quwait Abdul Sajak, hingga Kyai Dalhar, termasuk Kyai Ahmad Abdulhaq. Mereka ini yang kemudian menjadi ulama sekaligus tokoh islam di daerah sini, dilanjutkan melalui pondok pesantren Darrussalam di Watucongol.
Jika ditarik garis ke atas, maka akan berhubungan dengan Kyai Ageng Pemanahan, Kyai Ageng Anis, Kyai Ageng Selo, Kyai Ageng Getas Pendowo, Raden Bondan Kejawan. Akan bermuara pada raja Majapahit Prabu Brawijaya V yang keturunannya berpencar setelah runtuhnya kerajaan.
“Semua dimakamkan di atas?” aku tak menyangka Pak Hara nampak tertarik mendengar ceritaku.
“Kyai Ahmad Abdulhaq dimakamkan di dekat masjid kyai krapyak, tadi yang kami pakai salat magrib.” jelasku, mengingatkan tempat pertama yang kami kunjungi sore tadi.
Aku tidak bisa menahan senyum, ketika melihat Pak Hara manggut-manggut. Agama kami berbeda, pun dengan circle kehidupan kami. Dia yang terbiasa bergaul dengan para pebisnis di kota metropolitan dengan segala kehidupan serba mudah, cenderung mewahnya. Sementara aku hidup dengan lingkungan seperti orang-orang kebanyakan. Perbedaan kami sangat jauh, tapi beberapa hal membuat kami akhir-akhir ini cukup akrab. Seolah tabir perbedaan di antara kami, pelan-pelan terkikis.
“Pak Hara capek?” pertanyaan bo doh, yang tentu saja sudah bisa kutebak jawabannya. Orang yang belum pulang sejak pagi sampai malam begini, bolak-balik Magelang-Yogya, harusnya tanpa bertanya pun aku sudah tahu kalau dia sangat capek.
“Nggak mau pulang dulu, dari pada nunggu mereka lama?” usul Pak Hara. Dia pasti sudah ingin segera pulang, tapi tidak tega meninggalkanku sendirian.
“Takut Budhe Sari nyariin, kalau saya pulang dulu. Nggak bisa ngabarin, soalnya hp saya mati.”
Pak Hara merogoh saku, bisa kutebak kalau dia hendak mengambil ponsel. Seperti dugaan, dia menyerahkan sebuah benda pipih padaku.
“Dari pada nunggu lama, bisa kemalaman kamu sampai rumah. Besok kuliah, kan?”
“Kuncinya, Pak?” aku menyodorkan kembali ponsel, karena layarnya dikunci.
“2512, cari nama Pak Teguh, sudah kusimpan.” jawab Pak Hara. Ternyata dia ceroboh juga, masa kasih tahu password layar ponsel padaku? Kalau rahasia dalam ponselnya bocor, karena rasa ingin tahuku bagaimana?
“Tanggal ulang tahun bapak, ya?” aku menebak susunan angka password yang disebutkan Pak Hara.
Pak Hara mencebik, lalu menjawab ketus, “Hari natal.”
Baru sadar, kalau susunan itu berarti 25 desember. Ternyata natal sangat spesial buat dia, sampai dipakai sebagai password.
“Telepon saja biar cepat,” perintah Pak Hara.
“Percuma, Pak. Nggak akan diangkat kalau pakde sedang khusyuk berdo’a, kirim chat saja biar bisa dibaca nanti.” jelasku.
Aku mengembalikan ponsel kepada Pak Hara setelah mengirim pesan. Sekilas kulihat layar utama yang tanpa gambar sama sekali. Sungguh, pria terkaku yang pernah kutemui, sampai hp pun tak bergambar.
“Saya antar pulang sekarang?” nampaknya Pak Hara sudah sangat lelah, hingga buru-buru ingin mengantarku pulang.
Aku mengangguk, membereskan sampah bekas makan, lalu membuangnya. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, aku menyusul Pak Hara yang sudah berjalan lebih dulu menuju mobil. Tempat parkir makin penuh, ramai orang-orang yang sedang turun dari bus.
Butuh keahlian menyetir di atas rata-rata untuk bisa keluar dari tempat parkir. Sebab, harus melewati kerumunan rombongan dan berbagi jalan dengan kendaraan yang akan masuk. Pak Hara nampak lihai sekali mengendalikan mobil di tengah keriuhan.
Aku memberanikan diri menatapnya yang sedang berkonsentrasi menyetir. Nampak kerutan halus di dahi dan ujung mata. Hidung mancung, rambut selalu rapi walau agak panjang, dan kulit wajahnya sangat mulus. Mungkin lebih mulus dibanding punyaku. Kalau dilihat dari samping, dia seperti pemain kendangnya Pakdhe Didi kempot. Jangan-jangan Pak Hara punya side job jadi pemain kendang? Dasar, aku! Sukanya membayangkan yang tidak-tidak.
“Ngapain lihatin?” pertanyaan Pak Hara sontan membuatku tersadar dari lamunan sesaat.
Segera kupalingkan wajah, menunduk sambil memainkan jemari; salah tingkah. Aku merutuki diri yang begitu bo doh, hingga ketahuan sedang memandangi wajahnya.
Kuangkat kepala, ketika merasakan mobil berhenti. Dari ujung mata terlihat Pak Hara melepas tangan dari kemudi, melongok ke depan, mungkin memperkirakan seberapa parah kemacetan jalan.
Pak mendengkus, “Nggak bisa lewat jalan lain, ya?” Dia pasti kesal karena arus lalu-lintas yang tersendat.
Aku hafal dengan keadaan jalan. Jika dalam keadaan ramai, memang macet di beberapa bagian. Apalagi sebelum lampu merah, pasti antrian kendaraan menumpuk di sana.
“Nanti setelah lampu merah, belok kanan saja, Pak! Biasanya macetnya hanya sampai di situ, kok. Selajutnya lancar.”
Aku menoleh sekilas, tampak Pak Hara menyandarkan punggung sambil membetulkan letak kacamatanya. Aku jadi merasa bersalah karena telah membuat dia selelah ini. Lagu
__ADS_1
“Mau ngomong apa?”
Aku mengernyit, mendengar pertanyaan Pak Hara. Dia bertanya seperti itu, pasti karena dua kali menangkap basah aku yang sedang menatapnya. Kemudian menggeleng seraya menunduk, merasa tidak ada yang ingin kukatakan. Kami diam selama beberapa jenak, menikmati jalan pedesaan dengan situasi metropolitan; macet. Tepat saat mobil melewati lampu rambu-rambu lalu lintas, aku baru teringat sesuatu.
“Pak?” panggilku seraya menoleh ke kanan.
“Heemm,” jawab Pak Hara, menoleh kanan-kiri demi memastikan kondisi aman untuk memotong jalan.
“Motor Aina sudah jadi … maksud saya, Aina dibelikan motor baru sama Gus Hafidz.” Tidak tahu kenapa kadang aku bingung merangkai kalimat untuk memulai pembicaraan dengan Pak Hara.
“Saya tahu,” jawab Pak Hara singkat.
Oke! Wajar memang kalau dia sudah tahu, tapi bisakah sedikit menghargai informasi yang kuberikan? Padahal aku masih ingin melanjutkan kalimat.
“Besok Pak Hara tidak perlu jemput, saya bisa bareng Aina sampai jombor.”
Pak Hara mengangguk, lalu bertanya tanpa menolehku, “Berangkatnya juga nggak perlu diantar?”
“Iya. Saya bisa berangkat sendiri, biasanya juga begitu.” jawabku.
“Oya? Yakin biasa berangkat sendiri, nggak ada yang kasih tumpangan?” aku tidak mengerti mengapa sepertinya Pak Hara tidak percaya setiap hari aku berangkat sendiri ke kampus menumpang bus umum.
Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaannya, “Mulai besok, Pak Hara tidak perlu repot-repot antar-jemput saya.”
“Kenapa? Kamu nggak suka saya antar, atau takut ada yang marah?”
Aku menggeleng cepat, tak mengira jika ucapanku membuat Pak Hara salah paham. Perlu hati-hati memilih kata dan merangkai kalimat, agar dia tidak salah tangkap.
“Saya tidak mau mengganggu kesibukan bapak, jadi biar saya naik bus saja. Biasanya juga begitu, kok. Lagi pula ada Mas San, Han, Rama dan Ragil,” ungkapku, bermaksud bercanda.
“Oh! Jadi sekarang saya sudah tidak dibutuhkan?”
“Bukan begitu, Pak. Sa-”
Belum juga mulai menjelaskan, Pak Hara sudah memotong kalimatku dengan bicara ketus, “Kenapa waktu motor Aina mogok, kamu tidak telepon semua temanmu itu? Malah salah kirim ke ponselku.”
“Maaf kalau saya banyak merepotkan bapak akhir-akhir ini.” akhirnya hanya kalimat ini yang bisa kuucapkan. Sebab, aku tidak suka berdebat dan enggan menjelaskan kesalah pahamannya.
Mobil melaju di jalan Bima, artinya sebentar lagi sampai rumah. Aku memilih diam. Dari pada bicara, justru membuat Pak Hara salah paham. Lagu slowrock dalam bahasa inggris terdengar dari audio mobil. Selera musik Pak Hara sama seperti Mbak Sayumi ternyata.
“Saya langsung pulang,” ucap Pak Hara, begitu mobil sampai di depan rumah.
Dia memilih mengantarku lewat depan rumah, bukan gerbang belakang seperti biasanya. Dia pasti sudah hafal jika malam, lebih mudah masuk lewat depan rumah yang tidak berpagar.
“Terima kasih, ya, Pak.” ucapku sambil mencangklong tas dan bersiap turun.
“Terima kasih hari ini sudah antar-jemput saya, mengantar ziarah ke makam mbah kakung, mampir ke rumah mbah uti, mengantar ziarah bersama keluarga, dan mengantar saya pulang sampai rumah dalam keadaan tidak kurang satu apa pun.” ungkapku tulus dari dalam lubuk hati. Hanya itu yang bisa kulakukan atas semua kebaikannya padaku.
“Terima kasih Pak Hara sudah baik sama saya, maaf kalau saya menyusahkan.” sebuah kalimat penutup atas terlewatinya hari yang panjang ini. Semoga Pak Hara tidak salah paham lagi.
Aku membuka pintu, hendak keluar, tapi Pak Hara mencegah, “Jen!”
Aku menoleh, mendapati wajah seriusnya yang sedang menatapku. Kalau sedang dalam mode seperti ini, Pak Hara terlihat lebih tua dari usianya. Eh! Memangnya usia Pak Hara berapa? Sok tahu aku ini!
Aku mengangkat alis, sebagai kode bertanya. Sebab, Pak Hara tidak juga mengucapkan barang sepatah kata. Untuk apa dia memanggilku?
“Sekali lagi, terima kasih, Pak.” akhirnya aku yang lebih dulu berkata, karena yang ditunggu lama.
“Sleep tight!” aku menoleh, lalu tersenyum. Hanya ingin mengucapkan dua kata itu saja, Pak Hara harus berpikir lama.
Hampir saja aku mengucapkan salam, kalau tidak melihat tanda salip di pergelangan tangannya. Aku hampir lupa kalau kami beda agama, beruntung segera sadar, jadi tidak salah ucap.
“Selamat malam Pak Hara, hati-hati di jalan!” ucapku sebelum turun.
Sekilas kulihat Pak Hara tersenyum, sesuatu yang langka kulihat darinya. Bisa melihat dia tersenyum, apalagi jika sampai tertawa, adalah hal yang sangat istimewa.
Aku berdiri di teras. Menunggu sampai mobil yang dikendarai Pak Hara berbalik arah, melaju, lalu tak terlihat karena tertutup pohon-pohon dan rumah tetangga.
Sepi menghampiri, bersamaan dengan embusan dinginnya angin malam. Hari ini sungguh melelahkan, tapi berhasil menorehkan cerita. Meski masih ada yang mengganjal tentang sikap Pak Hara. Belum sempat terurai, bahkan makin rumit saja rasanya.
.
.
.
Bersambung ....
saya kasih part panjang, karena kemarin nggak up😁
Sejarah Makam Kyai Raden Santri diambil dari sumber Kompasiana dan NU online.
__ADS_1
Umpak : Batu yang dijadikan tumpuan tiang penyangga atap (soko).