
🌹Aku tidak tahu lagi bagaimana cara melupakan peristiwa masa lalu yang terlanjur membelukar. Berulang kali mencoba, tapi rekaman kejadian itu terus terngiang. Tidak bisa lepas dari ingatan.🌹
Jenar.
“Aarrgh!”
Aku menjerit dengan tangan serampangan mencari pegangan, saat kaki terpeleset. Gagal menggapai pegangan, tubuh terhuyung lalu jatuh berguling ke jurang. Beruntung tidak terlalu dalam, jadi aku masih bisa selamat.
Hanya seragam warna coklat yang kukenakan menjadi kotor dan basah, ada beberapa bagian yang robek karena terkena ranting pohon dan bebatuan.
Aku masih sepenuhnya sadar dan bisa mendengar suara teriakan teman-teman memanggil dari atas tebing. Namun, saat ingin bangkit, tubuhku tidak bisa digerakkan. Kakiku terjepit diantara akar pohon dan batu besar. Aku harus berteriak agar teman-teman tahu kalau aku masih hidup.
“Tolong!”
“Jenar! Kamu bisa dengar kami? Kamu tidak apa-apa?”
Sungguh pertanyaan yang konyol menurutku. Bagaimana bisa tidak apa-apa setelah jatuh dari tebing ke jurang? Memangnya aku memiliki tubuh sekuat batu yang tidak akan mudah tergores? Tentu saja seluruh tubuhku terasa perih dan sakit, pasti sudah penuh dengan luka.
Teman-teman dan para pembina cukup tanggap, segera melakukan penyelamatan. Kak Varen adalah orang pertama yang sampai ke dasar jurang, tempat tubuhku terbaring tak berdaya. Wajahnya terlihat sangat khawatir dengan mata memindai keadaanku.
Dengan cepat kak Varen melepas hasduk yang terikat di lehernya, membentangkannya untuk menutup perutku yang terekspos karena bajuku robek di bagian itu.
“Bisa bangun tidak?” tanyanya seraya melepas baju seragam lalu menutupkannya di bagian pahaku, karena rokku juga robek. Walau pun aku selalu memakai celana leging dibalik rok, tapi robekan sepanjang paha tidak pantas terlihat.
“kakiku tidak bisa digerakkan, Kak. Kayaknya terhimpit batu.” jawabku sembari berusaha menarik kaki dengan tangan, tapi gagal.
Ketika kak Varen memeriksa kakiku, beberapa orang datang membantu. Dasar jurang yang penuh batu dan semak belukar itu menjadi riuh oleh gumam suara saling bersahutan.
“Jangan ditarik! Kakinya bisa terluka tambah parah!”
“Batunya diangkat dulu!”
“Hati-hati kakinya!”
Aku menjerit kencang, saat batu diangkat dan akar pohon yang menjepit kakiku ditarik. Rasanya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena tidak sekedar sakit dan perih.
“Hei! Hati-hati bo-doh!” teriak kak Varen, menggertak teman-temannya yang membantu membebaskan kakiku.
“Ini terjepit, kalau tidak ditarik tidak akan bisa lepas.” kilah salah seorang diantara orang-orang yang menolongku.
“Minggir!” seru kak Varen sembari menyingkirkan tangan orang-orang dari kakiku.
Semua orang otomatis mundur, memberi akses kepada kak Varen untuk mendekatiku. Dia memeriksa kedua kakiku, melepas sepatu yang sudah tidak berwujud, kotor dan rusak.
“Ya, Tuhan berdarah!”
Kak Varen mengulurkan tangan kepada teman di belakangnya, “berikan hasdukmu!”
Tanpa menjawab, yang diminta langsung melaksanakan perintah kak Varen. Sudah menjadi rahasia umum, kalau semua ucapan kak varen tidak boleh dibantah. Seluruh penghuni sekolah harus menuruti setiap perintahnya, kalau tidak ingin bermasalah dengannya. Begitulah perilaku seorang putra bungsu pemilik yayasan yang menaungi sekolahku.
“Harus pakai tali biar bisa naik!” seru seorang teman.
“Aku gendong kamu, kita naik bareng,” ucap kak Varen.
Kak Varen membebat kakiku dengan hasduk yang diberikan oleh temannya. Lalu ia mengangkat tubuhku dengan perlahan. Aku tidak bisa melakukan apa pun kecuali pasrah dengan semua yang dilakukan untuk menyelamatkanku. Membiarkan kak Varen menggendongku keluar dari jurang.
Aku dibawa kembali ke tenda oleh kak Varen dan dua orang kakak kelas, sementara teman-teman yang lain melanjutkan kegiatan hiking. Sekolahku mengadakan kegiatan kemah pengembangan dalam rangka acara pelantikan anggota baru sangga penegak. Inti dari rangkaian kegiatan itu adalah hiking menyusuri jalan setapak pada sebuah bukit.
Cuaca mendung saat kami mulai kegiatan hiking, perlahan rintik gerimis turun selama perjalanan. Menyebabkan jalan setapak berlumpur dan licin. Meski sudah berhati-hati, ternyata aku terpeleset dan tidak bisa menemukan pegangan, sehingga jatuh ke jurang.
Kak Varen adalah ketua panitia acara tersebut, sudah jelas dia orang yang paling bertanggung jawab atas semua yang terjadi.
Namun bukan hanya karena itu dia menolongku, aku tahu karena dia menaruh hati padaku. Sejak awal pertemuan kami, saat masa orientasi siswa, aku sudah merasakan dia memberi perhatian lebih padaku.
Hujan turun belum terlalu lebat, ketika kami sampai di area kemah. Namun, tetap saja membuat pakaian kami semua basah kuyup. Kak Varen dengan hati-hati menurunkanku di dalam tenda. Kain yang membebat kaki sudah berubah warna menjadi merah, terkena noda darah yang terus keluar.
“Ini harus segera diobati!” ucap seorang kakak kelas perempuan yang ikut menolongku.
__ADS_1
“Tolong urus dia! Aku mau menelpon ambulan, dia harus segera dibawa ke rumah sakit.” kak Varen keluar dari tenda, pergi menjauh. Mungkin dia menuju ke tendanya untuk menngambil ponsel.
Dua orang kakak kelas yang semuanya perempuan mulai melakukan pertolongan pertama pada lukaku.
“Kita butuh perban! Nggak ada persediaan di P3K, hanya obat luka.” seru salah seorang diantara mereka.
“Lalu bagaimana? Pakai apa saja yang bisa dipakai!” ucap yang lain.
“Nggak bisa, nanti malah infeksi.”
“Handuk! Ada handuk atau selimut nggak? Bajunya basah semua harus diganti.”
“Aku cari perban di tenda panitia dulu.”
Aku tidak bisa memikirkan hal lain lagi. Bingung merasakan seluruh tubuhku yang dingin, ngilu sekaligus perih. Tangan dan kakiku terasa sakit jika digerakkan.
“Saya bantu ganti baju kamu, ya?”
Aku mengangguk, membiarkan seorang kakak kelas melepas jilbab dan pakaianku. Tubuhku yang kotor dan penuh sayatan luka ringan dibersihkan, luka yang sedikit parah diobati sebisanya.
“Baju ganti kamu mana?”
“Di tenda saya sendiri, Mbak.”
“Ini bukan tenda kamu?”
Aku menggeleng lalu menjawab pelan, “tenda saya nomor tiga di deretan tenda perempuan, Mbak.”
Tadi kak Varen pasti kalut, sehingga membawaku masuk ke dalam tenda secara acak. Mana sempat aku meminta dibawa ke tendaku sendiri, memikirkan keadaan yang memprihatinkan saja, aku masih terlalu bingung.
“Aku ambilkan baju ganti kamu dulu.”
Kakak kelas itu tergesa keluar dari tenda, aku sempat berteriak sebelum ia menghilang bersamaan dengan penutup tenda yang ditutup, “tas hitam yang ada gantungan boneka hello kitty, Mbak.”
Ditinggal sendirian di dalam tenda, aku berusaha mengembalikan pikiran jernih sepenuhnya. Kubuka handuk yang menutup tubuh, bergidik ngeri ketika melihat tubuh polos yang penuh sayatan. Luka yang paling parah tentu saja pada kaki yang tadi terjepit batu dan tertusuk ujung kayu yang runcing.
Badanku yang tadinya basah sudah mengering, tapi justeru rasa perih dan sakit makin terasa. Beberapa kali aku melihat ke arah penutup tenda yang tidak juga terbuka, tanda bahwa dua kakak kelas yang tadi menolongku belum kembali. Termasuk kak Varen yang entah pergi kemana.
Sebenarnya mereka semua kemana? Ini sudah terlalu lama, untuk sekedar menelpon ambulan, mencari perban dan mengambil baju ganti. Kenapa mereka belum juga kembali?
Padahal jarak antar tenda tidak jauh, mungkin dia kesulitan mencari tas milikku? Atau tidak menemukan perban? Kak Varen mungkin tidak mendapat sinyal yang bagus hingga harus mencari tempat untuk menemukan sinyal. Lebih baik aku memeriksanya saja.
Aku berusaha menggerakkan tangan yang masih sedikit sakit, meraih sebuah kaos yang tergeletak tak jauh dari tempatku duduk. Entah seragam kaos olah raga dengan logo sekolahku ini milik siapa, kupakai saja tanpa minta ijin kepada yang punya.
Beruntung celana legging yang kupakai hanya sobek sedikit di bagian betis, tidak terlalu mengekspos kulitku. Jilbabku walau kotor dan basah, tapi masih bisa dipakai untuk sementara
Susah payah aku berusaha berdiri, dengan kaki yang terasa sangat sakit. Aku menyibak penutup tenda, melongok keluar. Hujan lebat, tapi tenda masih aman berdiri tegak semua. Tidak ada satu orang pun yang terlihat melintas, membuatku penasaran.
Dengan menahan sakit, aku berusaha keluar dari tenda. Handuk yang tadi digunakan untuk menutup tubuh, kini kusampirkan pada kepala untuk menghalau air hujan. Terseok-seok berusaha melangkahkan kaki hendak menuju ke tenda tempat aku menaruh barang-barang.
Namun, aku merasa janggal saat melintas di tenda paling besar. Tenda tempat beristirahat para guru pembinda dan bantara tamu.
Seingatku semua pembina dan bantara tamu sedang ikut kegiatan hiking, tapi tenda itu bergerak, seolah di dalamnya sedang ada orang.
Rasa keingin tahuan yang terlalu tinggi muncul, tergerak aku ingin memeriksa apa yang ada di dalam tenda. Kupaksa kakiku yang sakit melangkah makin cepat, saat mendengar rintihan seseorang dari dalam tenda
“Ja … ng … an ….”
Kusibak penutup tenda, harus menyipitkan mata untuk melihat ke dalam tenda yang sedikit gelap. Masih bisa melihat keadaan di dalam tenda walau harus menajamkan penglihatan dan terkejut dengan apa yang terjadi di dalam sana.
Seorang pria yang mengenakan celana coklat dan kaos lengen pendek putih tergeletak tak sadarkan diri dengan kedua tangan dan kaki terikat, aku tahu dia adalah kak Varen. Sedangkan di ujung tenda, kakak kelas yang tadi hendak mengambil baju ganti untukku sama keadaannya dengan kak Varen.
Namun, bukan itu yang membuatku terkejut. Di samping dua orang yang tergeletak tak berdaya itu, kakak kelas yang tadi hendak mencari perban sedang berontak, berusaha melepaskan diri dari kungkungan tiga orang pria bertubuh besar. Dua orang pria memegang kaki dan tangannya, sementara seorang lagi sedang berusaha menggagahinya.
“To … long!”
Aku menutup mulut dengan kedua telapak tangan, saking kagetnya tanpa sadar menjerit. Mundur sembarangan sampai lupa rasa sakit di kakiku. Suara jeritan dan gerak serampangan yang kulakukan mengalihkan perhatian tiga pria itu.
__ADS_1
“Dan-***!” (Semacam kata umpatan.)
Aku hendak berbalik dan lari, tapi seorang pria lebih cepat menangkapku, menyeret masuk ke dalam tenda. Ia menghempaskanku begitu saja dengan kasar. Aku berteriak minta tolong, seketika ia memukul wajahku sampai jatuh tersungkur. Reflek aku memekik karena kesakitan, juga karena melihat kakak kelasku terus merintih penuh permohonan.
“Meneng!” (Diam!)
Pria itu menarik lenganku, membentak tepat di depan wajahku sambil mengacungkan kepalan tangan, “Isoh meneng ora, Koen?” (Bisa diam tidak kamu!)
Aroma parfum khas pria berpadu dengan bau alkohol yang menyengat dari napas pria itu memenuhi indera penciumanku. Tubuhku bergetar karena ketakutan juga nyeri yang menjalar saat ia kembali melemparkanku dengan kasar sampai aku tak berdaya karena seluruh badanku kembali merasakan sakit yang teramat sangat.
Rasa sakit dan takut membelukar, menyergap, memenuhi pikiran. Bukannya iba melihatku meringis kesakitan, tapi tiga pria itu malah tertawa terbahak-bahak.
“Taleni wae!” (ikat saja!)
“Rasah! Delok! Bocah kuwi sikile loro, ora bakal isoh mlayu.” ( Tidak usah! Lihat! Anak itu kakinya sakit, tidak akan bisa lari.)
Pria yang tadi menyeretku, kini sudah bergabung kembali dengan dua pria yang lain. Sementara aku melihat kakak kelas yang berada di kungkungan masih berusaha memberontak, merintih sambil menatapku. Seolah memberi isyarat meminta tolong
Aku berusaha meraih benda apa saja yang terdekat, melemparkannya ke arah tiga pria yang tanpa ampun melakukan tindakan asusila secara keroyokan. Sekuat tenaga aku mencoba berdiri, tapi gagal. Luka di kakiku makin parah dan darah kembali mengucur. Lengan kiri yang tadi ditarik kasar pun kini tidak bisa digerakkan, mungkin ada tulang yang patah atau bergeser.
“Tolong hentikan! Jangan ganggu dia!”
“Meneng! Dan-***!” (Diam!)
Aku hanya bisa menangis sambil memohon, tapi mereka sama sekali tidak menghiraukan. Seolah suaraku hilang diantara derasnya hujan dan tawa berderai-derai tiga pria itu. Tangisku makin kencang, meraung-raung pilu penuh frustasi dan kekecewaan.
Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat seorang gadis tak berdosa digilir oleh tiga pria berbadan besar secara bergantian. Bengis, biadap, tidak punya belas kasih dan hati nurani. Manusia yang berperilaku seperti binatang.
Kalau saja waktu itu tidak terdengar suara mobil ambulan yang datang, mungkin nasibku juga sama seperti kakak kelas yang terkapar dengan kondisi memprihatinkan. Tiga pria itu berlalu begitu saja dengan membawa tas entah berisi apa saja.
Langit hitam pekat, hujan deras dan bayangan pria yang menarik paksa wajahku sembari berkata, “wani ngandake, nasibmu podo ro kancamu!” (Berani mengadu, nasibmu akan sama dengan temanmu.)
...***...
Aku berusaha mengatur napas yang tersengal. Mataku terbuka dengan cepat, bola mata bergerak tidak beraturan. Harus memejamkan mata, sambil menarik napas untuk mengembalikan kesadaran sepenuhnya. Aroma minyak kayu putih tercium, membuatku merasa nyaman.
Tanganku bergerak memegang kening yang terasa sedikit pusing. Mengerjapkan mata berkali-kali demi menetralkan pandangan yang semula mengabur.
Mimpi itu datang lagi, mimpi menyeramkan yang ingin kulupakan tapi sulit. Selalu begitu jika ada satu hal yang membuatku mengingat peristiwa kelam itu. Peristiwa surup penuh luka.
Masih tertanam dalam ingatan napas bau alkohol dan parfum menyengat khas pria waktu itu. Seperti sebuah rekaman kaset yang berputar di kepala, setiap kali aku membaui aroma yang hampir sama, pasti ingatan akan peristiwa itu datang. Seolah pria berbadan besar itu datang lagi.
Reflek ketakutan menyeruak, membelukar di seluruh aliran darah. Sekujur tubuhku akan bergetar, dan serangan panik pun datang. Seolah aku sedang berada pada peristiwa itu kembali dengan ketakutan dan rasa tak berdaya penuh kekecewaan yang sama.
Kuusap wajah dengan telapak tangan, melihat sekeliling yang asing. Ruangan tanpa langit-langit, hingga aku bisa melihat genting yang sudah usang dimakan usia. Dinding bercat warna kuning muda, sebuah lemari berdampingan dengan meja kecil terletak di ujung ruangan. Ini bukan kamarku, dimana aku?
Dengan masih setengah sadar, aku mencoba meraba keadaan. Tubuhku berbalut selimut tebal, masih memakai pakaian utuh bahkan jilbab juga, tapi aku tidak mengenal pakaian yang kupakai. Karena yakin pakaian ini bukan milikku sendiri.
“Mbak le bobok suwi tenan, nganti kesel aku le ngenteni karo mijeti tangane mbak.” (Mbak tidurnya lama sekali, sampai capek aku menunggu sambil memijit tangan mbak.)
Kesadaran belum sepenuhnya kembali, sudah dikejutkan oleh keberadaan seorang anak laki-laki yang duduk bersila disampingku. Dia menopang dagu dengan kedua tangannya, memanyunkan bibir khas anak kecil yang merajuk. Siapa anak ini? Apa aku sudah berada di alam lain? Kenapa semuanya asing sekali?
.
.
.
Bersambung....
Hai teman-teman.
Maaf baru bisa up lagi😁, dan harus minta maaf lagi karena selanjutnya mungkin akan slow up sekali. Karena insya Alloh project novel yang ikut challenge akan naik cetak. Do'akan lancar ya😁
Maaf belum bisa balas komen, DM ig dan inbox satu per satu😁. Tapi aku baca, kok. Terima kasih sekali sudah bersedia menunggu dengan sabar😁
Salam sayang,
__ADS_1
Desi Desma/La lu na