
🌹Alloh menghadirkan cinta di dalam hati manusia dengan caraNya, maka ketika Alloh mengambil seseorag dari sisi kita pun atas kehendakNya pula. Kadang takdir memang tidak seperti yang kita harapkan, tapi yang pasti takdir Alloh tidak pernah salah, selalu datang di saat yang tepat. Tidak bisa dihindari, tidak bisa mengingkari.🌹
Jenar.
Rabu.
Hari ke sembilan setelah mas Ghufron divonis mengidap penyakit mengerikan yang sampai sekarang belum ditemukan dengan pasti apa obatnya. Leukimia, disebut juga kanker darah. Penyakit yang merupakan kerusakan sel darah, menyebabkan produksi sel darah putih dalam darah meningkat pesat
Sel darah putih (leukosit) berperan sebagai antibodi, penangkal virus, bakteri dan penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Sedangkan sel darah merah (eritrosit) berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh dan membawa karbondioksida ke paru-paru.
Keduanya adalah komponen dalam sel darah, disamping trombosit (keping darah) dan plasma darah. Dalam kondisi normal, jumlah leukosit akan meningkat ketika ada virus, bakteri, atau penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Leukosit akan membentuk antibodi untuk melawan bakteri jahat. namun, pada penderita leukimia jumlah sel darah putih meningkat tidak bisa dikendalikan. Kalau keadaan ini berlanjut, maka sel darah putih bisa memakan sel lain dalam tubuh.
Hari ini adalah jadwal mas Ghufron melakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit umum pusat, rumah sakit terbesar dan terlengkap yang merupakan rumah sakit rujukan nasional di Yogyakarta. Berdasarkan surat rujukan yang dibuat oleh dr. Chandra, mas Ghufron harus melalui beberapa pemeriksaan lanjutan, termasuk pemeriksaan sum-sum tulang belakang untuk mengetahui jenis kerusakan sel darah dari tempat produksinya.
Aku tidak bisa menemani mas Ghufron periksa hari ini, karena sudah terlalu sering bolos kuliah. Aku tidak mau sampai dapat nilai rendah hanya karena terlalu sering meninggalkan kelas. Bisa-bisa harapan bunda agar aku menjadi bidan teladan hancur dan aku tidak ingin itu terjadi.
Baru saja aku sampai di rumah om Dito, sore itu ketika ponsel di dalam tasku berdering. Aku membuka tas untuk mengambil ponsel.
Mas Ghufron calling….
Kusapukan jari untuk mengangkat panggilan dari calon suamiku, sambil tersenyum lega. Akhirnya yang kutunggu sejak pagi memberi kabar juga.
“Assalamu’alaikum, Mas…”
“Wa’alaikum salam, Nduk. Lagi di mana?”
“Baru saja sampai rumah, Mas. Ini masih di teras, sedang lepas sepatu.” jawabku jujur, sebab aku memang sedang duduk di kursi teras sambil melepas sepatu, "mas lagi dimana?"
“Mas masih di rumah sakit sama pak Hara.”
Aku mengangguk, meski aku tahu mas Ghufron tidak mungkin bisa melihatku. Aku mencepit ponsel diantara bahu dan telinga, sebab tali sepatuku sulit terlepas hanya menggunakan satu tangan.
“Sekarang mas lagi apa? Sudah makan belum?”
“Mas lagi duduk di kantin menemani pak Hara minum kopi.”
Hening sejenak....
Aku menunggu mas ghufron melanjutkan kalimat, sebab dari nada bicaranya mas Ghufron seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan. Namun, setelah beberapa jenak dia tidak mengatakan apapun. Hanya hembusan napas beratnya yang kudengar samar-samar.
“Mas? Kok diem?”
Mas Ghufron tidak juga bicara, sampai aku memanggilnya untuk ke tiga kali.
“Mas nggak apa?”
“Nduk?”
“Dalem, Mas.”
“Tadi mas harus transfusi darah lagi 2 kantong. Harusnya mas rawat inap, tapi mas minta pulang. Besok masih harus ke rumah sakit lagi untuk periksa sum-sum tulang belakang.”
“Lho, kenapa minta pulang, Mas? Harusnya nggak masalah rawat inap dulu.”
“Mas sudah capek, Nduk. Kaki sama tangan rasanya kaku, nggak bisa lagi rasain berkali-kali ditusuk jarum. Rasanya sudah nggak karuan, sampai bingung mas rasain badan mas sendiri.”
“Jangan gitu, dong, Mas. Mas harus semangat, biar cepat sembuh.”
“Mas udah pasrah, Nduk. Udah capek bolak-balik rumah sakit, capek periksa ini-itu, capek minum obat. Kasihan pak Hara juga, tadi saja dia harus susah payah cari donor trombosit untuk mas. Sepertinya sudah cukup mas bikin repot banyak orang.”
“Mas?”
“Mas minta maaf, ya, Nduk. Kalau mas nggak bisa tepati janji mas untuk bawa kamu ke psikiatri, maaf karena mas nggak bisa dampingi kamu mewujudkan cita-cita-”
__ADS_1
Kupotong kalimat panjang mas Ghufron yang belum usai dikatakan, “Mas! Jangan ngomong yang nggak-nggak, deh.”
“Mas pasrah sama kehendak Alloh, Nduk.”
Tidak ada yang bisa kukatakan untuk menanggapi ucapan calon suamiku itu, sebab tanpa bisa kucegah airmata jatuh menetes satu per satu mengaliri pipi. Kupejamkan mata, menahan isak saat masih kudengar lamat-lamat suara mas Ghufron bernapas.
Hingga sambungan telepon berakhir, kami hanya saling diam. Aku sampai lupa kalau sepatuku belum terlepas sempurna, satu sepatu masih menutup kaki kananku. Kusandarkan punggung pada sandaran kursi rotan dengan pandangan menerawang. Dalam hati aku berkata, ‘haruskah aku juga menyerah, Mas?’
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan apa-apa antara aku dengan mas Ghufron. Chat yang kukirimkan hanya centang dua warna kelabu, tidak berubah menjadi biru. Panggilanku pun ia abaikan.
Aku menghubungi Nalini dan pak Hara, mereka kompak mengatakan bahwa mas Ghufron sedang butuh istirahat. Mereka memintaku untuk tenang, tapi perasaanku mengatakan ada sesuatu yang akan terjadi.
Ingin aku mendatangi rumah mas Ghufron sore itu juga, kalau saja om Dito tidak melarangku. sebab hujan turun terlalu deras dan petir menyambar-nyambar, angin pun bertiup terlalu kencang. Berbahaya jika nekat berkendara dalam kondisi cuaca ekstrim seperti ini.
Aku menunggu hujan reda, tapi sampai waktu isya’ tiba hujan malah makin deras. Seolah alam tidak ridho aku bertemu dengan mas Ghufron. Sehingga aku hanya bisa ikut meratap bersama jatuhnya tetesan air dari langit. Setelah kukirimkan amalan do’a yang pernah diberikan kyai Ali saat ayah sakit beberapa waktu yang lalu.
Sedikit merasa tenang karena mas ghufron membalas pesan terakhir yang kukirimkan. Meskipun hanya dengan kalimat singkat.
[Terima kasih, Nduk. Insyaalloh akan mas amalkan.]
Kukirimkan pesan untuk memberi semangat kepada tunanganku itu. Kalimat-kalimat sederhana yang kuharap bisa membuat mas Ghufron tidak menyerah. Kukirimkan kata-kata manis dan menghibur dengan harapan mas Ghufron kembali optimis. Walaupun tak lagi kudapatkan balasan pesan darinya malam itu.
Aku mengambil air wudlu, kupakai mukena terusan warna putih lalu kubentangkan sajadah. Melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, yaitu sholat isya’. Kukirimkan sholawat atas nabi Muhammad SAW, kupanjatkan do’a untuk kedua orang tuaku, baru kuberikan hadiah al-fatehah untuk mas Ghufron.
Hujan deras tak kunjung reda, bahkan sampai malam beranjak larut. Kuisi malam dengan membaca surat Al-mulk, agar risau dalam hatiku sedikit terurai. Kuserahkan semua kepada sang Maha pemilik kehidupan, kusebut nama Alloh dalam dzikir panjang. Hingga kurebahkan badan di atas tempat tidur, melepas lelah dan penat setelah seharian beraktivitas.
***
“Nduk! Jenar … bangun, Sayang!”
Sebuah suara berat memanggil jiwaku kembali dari alam bawah sadar. Aku membuka mata seraya mengakat kepala, tapi cahaya yang sangat terang menerpa wajahku. Kuangkat telapak tangan untuk menghalau silau seraya menyipitkan mata. Cahaya apa ini? Sungguh menyilaukan.
Kutegakkan badan, meluruskan kaki yang semula menekuk sambil menoleh kanan-kiri. Aku duduk di atas padang rumput hijau yang masih basah terkena embun. Aku mendengar suara gemericik air yang ternyata berasal dari sungai yang mengalir tak jauh dari tempatku duduk. Seingatku, aku berada di dalam kamar sedang memutar tasbih untuk menghitung dzikir, tapi kenapa aku bangun di sini? Di mana ini?
“Nduk ….”
Suara memanggil itu membuatku menoleh ke samping, tepat saat seorang pria mendudukkan diri di sampingku. Kuturunkan tangan, sebab cahaya yang sangat terang itu tak lagi menyilaukan pandangan, tertutup oleh bayangan pria di sebelahku.
“Indah, ya, Nduk?”
Aku menatap mas Ghufron dari atas ke bawah. Ia memakai sarung dan baju koko putih, rambutnya yang sedikit basah tersibak oleh angin yang bertiup. Wajahnya terlihat bersih sekali, auranya pun bercahaya.
“Kalau ada tempat yang lebih indah dan dari pada tempat ini, mas ingin hidup di sana selamanya, Nduk.”
“Tempat ini sudah cukup indah, Mas.”
“Ada yang lebih indah, Nduk. Tempat di mana sungai-sungai susu mengalir dan pohon-pohon buah tumbuh di tanah yang sangat subur. Tempat yang hanya bisa dijangkau oleh orang-orang soleh yang berkaqwa kepada Alloh.”
Aku masih menatap mas Ghufron yang sekali pun tidak melihat ke arahku, pandangannya lurus ke depan, ke arah padang rumput hijau yang luas.
“Maksud mas tempat itu adalah surga?”
“Iya, Nduk. Kamu lihat di depan sana, Nduk?”
Aku mengikuti arah yang ditunjuk oleh mas Ghufron dengan jarinya. Aku harus memicingkan mata demi melihat jauh melewati padang rumput yang sangat luas. Ada sebuah jalan yang membentang, jalan menuju ke arah cahaya yang sangat terang menyilaukan.
“Kamu tahu jalan itu menuju ke mana, Nduk?”
Aku menggeleng, tidak punya ide untuk menjawab, “memangnya jalan itu menuju ke mana, Mas?”
“Perempatan surga. Mas tunggu kamu di sana.”
Setelah mengatakan hal itu mas Ghufron beranjak dari duduk. Aku harus menengadah untuk melihat wajahnya yang kini terlihat ceria. Ia tersenyum sekilas padaku, kemudian menatap lurus ke depan, “maafkan mas, ya, Nduk! Mas tidak bisa mengajakmu ke sana.”
__ADS_1
“Memangnya mas mau ke mana?”
“Mas sayang kamu, tapi mas lebih mencintai takdir yang diberikan oleh Alloh. Mas pergi, ya?”
Tanpa menunggu jawaban dariku, mas Ghufron melangkah pergi meninggalkanku sendiri di padang rumput yang sangat luas ini. Ia tak memedulikan teriakanku memanggil namanya, terus melangkah tanpa menoleh. Tangisku meledak sambil terus memanggil nama mas Ghufron.
“Mas! Mas Ghufron, mau ke mana?”
“Jangan pergi, Mas!”
“Saya tidak mau ditinggal sendiri!”
Terseok-seok sembari menyipitkan mata, aku mengikuti langkah panjang mas Ghufron tapi tetap saja tidak bisa menyusulnya. Dia semakin jauh melangkah menuju cahaya yang sangat terang. Jauh sekali hingga bayangannya perlahan mengecil makin kecil sampai tak terlihat lagi olehku.
Aku jatuh terduduk, meratapi kepergiannya. Kurasakan cahaya terang mulai meredup seiring padang rumput yang juga mengecil. Redup berubah menjadi gelap, padang rumput yang hijau pun menghilang, tidak ada lagi suara gemericik air kudengar. Aku sendiri dalam kegelapan, meraung dan meratap tapi tak seorang pun yang datang, tidak ada yang mendengar jerit tangisku.
Badanku terasa dingin, menggigil, basah oleh peluh dan air mata. Namun, seketika aku tersentak seperti ada yang menarik tubuhku memasuki dimensi lain. Aku terbangun dengan napas memburu, “astaghfirullhaladzim….” ucapku sembari mengusap wajah untuk menghapus keringat.
Kuangkat kepala yang terasa berat, menyipitkan mata untuk menyesuaikan penglihatanku dengan sinar putih di atas kepalaku. Kusapukan pandangan menatap sekeliling, dinding berwarna hijau muda dan lantai keramik putih. Aku berada di kamar, ternyata tadi aku bermimpi. Mimpi yang membuat perasaanku tidak enak, mimpi yang tidak kuharapkan menjadi nyata.
Aku melirik jam yang tergantung pada dinding kamar, jarum pendek berada di dekat angka 4 sedangkan jarum panjang menunjuk angka 10. Pukul 03.50 WIB, masih terlalu pagi, azan subuh pun belum berkumandang. Namun, sudah terlambat bagiku yang biasanya bangun di sepertiga malam.
Kurentangkan kedua tangan, menggeliat untuk menghalau kantuk yang masih ingin menyerang. Kusibak selimut, lalu kuturunkan kedua kakiku dari atas tempat tidur. Sempoyongan aku berjalan menuju meja belajar, duduk di kursi kayu seraya mengambil ponsel. Kulepas kabel charge dari soket, sudah semalaman kuhubungkan dengan pengisi daya, pasti kini baterai ponselku sudah penuh.
Kuusap layar untuk membuka kunci, ikon pertama yang kusentuh adalah aplikasi berkirim pesan paling populer berwarna hijau. Kuabaikan beberapa chat dari teman-temanku, fokus pada satu nama yang saat kusebut hatiku selalu berdebar. Mas Ghufron.
[Nduk, pak Hara sudah jemput mas. Habis salat subuh nanti, kami berangkat ke rumah sakit. Do’akan mas, ya, Nduk! Semoga hasil cek darah dan pemeriksaan sum-sum tulang belakang nanti baik semuanya dan mas cepat sehat lagi. Suwun atas do’a-do’amu, Nduk.]
Tanpa pikir panjang kuketikkan pesan balasan, yang tidak lagi dibalas oleh mas Ghufron. Mungkin dia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, jadi tidak sempat memegang hp. Lagi pula hanya chat singkat dariku, tidak perlu balasan.
[Insyaalloh, semoga Alloh segera mengangkat penyakit mas. Semangat, ya, Mas. Maaf saya tidak bisa menemani, hari ini ada ujian. Nanti kabari kalau sudah selesai, ya, Mas.]
Hanya satu kalimat singkat yang kudapat sebagai balasan beberapa jam kemudian.
[Suwun. (Makasih) Nduk.]
Tapi cukup bisa membuatku merasa sedikit tenang, sebab itu artinya mas Ghufron masih ingin berjuang. Memang tugas kita sebagai manusia adalah berikhtiar, selama jantung masih berdetak dan masih bisa bebas menghirup oksigen langsung dari alam.
Aku tidak punya firasat apapun pagi itu. Mimpi semalam juga tidak kuhiraukan apa artinya. Aku beraktivitas seperti biasa, berangkat kuliah, menjalani kegiatan di kampus seharian, tanpa merasa akan terjadi sesuatu.
Hingga pukul 13.20 WIB siang, saat aku baru saja masuk ke dalam ruangan untuk mengikuti kelas selanjutnya. Aku mendapat kabar tak terduga dari nomor kontak mas Ghufron. Kabar yang dikirimkan melalui pesan siaran ke beberapa grup chat dan kontak pribadi oleh Nalini.
[Teman-teman mohon hadiah surat al-fatihah untuk kakak saya. Sekarang mas Ghufron sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit, mohon do’a terbaik dari teman-teman sekalian. Do’a baik akan kembali baik pula, terima kasih.]
Saat itu juga tubuhku terasa lemas, seolah ada yang melepas tulang-tulangku. Bahuku luruh sampai tali tas slempang yang menggantung jatuh begitu saja. Beruntung aku sudah berdiri di depan bangku kelas, hingga aku bisa terduduk begitu saja dengan pandangan kosong.
Ya Alloh … aku harus bagaimana? Takdir seperti apa yang Alloh kehendaki? Saat itu juga aku berlari keluar kelas, dengan membawa ponsel dalam genggaman. Tergesa aku menyusuri koridor gedung, tidak kupedulikan orang-orang yang berpapasan denganku. Aku juga tidak peduli suara berteriak memanggil namaku di belakang, entah siapa.
Dengan perasaan campur aduk tidak karuan kuhubungi nomor om Dito dengan tangan gemetaran. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan getar suara tertahan saat om Dito mengangkat teleponku.
“Om! Bisa jemput sekarang tidak? Kalau tidak, ijinkan saya naik taksi ke rumah sakit, ya? Mas ghufron kritis.”
Kutarik napas sembari menengadah, menghalau cairan bening yang mendesak keluar dari pelupuk mataku. Berdiri dengan gelisah aku di halte depan gedung sekolah kebidanan tempatku belajar, menunggu om Dito datang. Dalam hati aku terus berdo’a semoga Alloh mengijinkanku bertemu dengan mas Ghufron, meski untuk yang terakhir kali ….
.
.
.
Bersambung ....
Bab selanjutnya mau up jam berapa besok? Kejutan saja, ya? hehe.
__ADS_1