
🌵Seseorang yang hatinya pernah patah, akan sulit terbuka lagi. Kecuali jika telah menemukan orang yang tepat dan merasa nyaman untuk mengungkap perasaan.🌵
Setengah berlari Hara keluar dari apotek, tergesa-gesa masuk ke mobil. Ia segera membuka obat mag berbentuk tablet yang baru saja dibeli, lalu menyerahkannya kepada Jenar. Bukan hanya itu, ia juga memberikan minyak kayu putih yang mungkin diperlukan oleh gadis itu untuk mengurangi rasa sakit pada perutnya. Dalam hati ia bersyukur, masih ada apotek terdekat yang buka malam-malam begini.
“Bagaimana?” tanya Hara setelah Jenar selesai minum obat.
Jenar hanya mengangguk. Sebab, perutnya masih terasa melilit, tapi sungkan untuk berterus terang. Membuat Hara tidak paham dengan jawaban ambigu itu.
“Perutnya diolesin minyak kayu putih, biar anget!” perintah Hara.
Jenar melirik, lalu mendengkus. Saat ini ia mengenakan gamis syar’i dengan kancing di belakang punggung dan selalu memakai kaos tanpa lengan sebagai inner. Kalau mau mengoleskan minyak kayu putih di perut, artinya ia harus membuka pakaiannya. Tidak mungkin hal itu ia lakukan di depan laki-laki yang bukan mahromnya.
“Kenapa? Mau saya bantu olesin minyak kayu putihnya?” tanya Hara karena melihat Jenar tidak segera melakukan perintah.
Jenar berdecak, lalu membuang napas kasar, “Pak Hara mau cari kesempatan dalam kesempitan, ya?”
Hara tersenyum, paham akan maksud kalimat Jenar.
“Ya, kali tangan kamu lemes, jadi nggak bisa ngolesin minyak kayu putih ke perut. Terus kamu mau minta bantuan saya. Siapa tahu, kan?” tutur Hara yang dihadiahi tatapan tajam oleh Jenar.
“Itu, sih, maunya Pak Hara sendiri!” cetus Jenar, mengabaikan Hara yang tersenyum masam.
Ia membuka tutup botol minyak kayu putih, menuangkan sedikit di telapak tangan, lalu mengoleskannya pada tengkuk dan leher. Dengan cara itu, ia berharap bisa mengurangi rasa sakit.
“Cari makan sekarang?” Hara mendadak seperti orang paling bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa, sedikit-sedikit bertanya kepada Jenar.
Jenar mengangguk, setelah selesai mengoleskan minyak kayu putih. Ia lalu menyandarkan punggung seraya memejamkan mata. Tangannya merogoh tas, guna mengambil tissue. Dengan mata masih terpejam sambil menahan perih, ia mengusap keringat dingin di wajahnya.
“ACnya dimatiin aja, ya?” Hara tidak ingin Jenar kedinginan.
Tanpa menunggu jawaban, ia mematikan AC mobil lalu membuka sedikit kaca jendela. Beberapa saat kemudian, ia menjalankan mobil keluar dari halaman parkir apotek yang terletak di depan gedung perusahaan karoseri, kerajaan bisnis terbesar di Magelang. Jalan Mayjen Bambang Soegeng ramai lancar malam ini, dengan beraneka macam kendaraan yang melintas.
“Mau makan apa?” Hara menoleh kanan-kiri, mencari restorant terdekat.
“Terserah,” jawab Jenar malas. Dari tadi ia sibuk menahan sakit, tapi Hara terus saja mengajaknya bicara.
“Sudah banyak yang tutup,” ucap Hara.
“Kalau jam segini paling adanya warung tenda, Pak. Pecel lele, lamongan, sate, nasi goreng, seperti itu.” jawab Jenar. Meski malas, tapi ia tidak tega juga membiarkan Hara bingung mencari warung makan yang masih buka.
“Kamu mau makan apa? Nggak masalah makan di warung tenda?” Hara ragu Jenar bisa makan di warung tenda yang sempit dan terbuka.
“Saya biasa makan di warung tenda, mungkin Pak Hara yang tidak biasa.” jawab Jenar sambil membuka mata dan melirik ke samping, guna melihat ekspresi wajah Hara. Namun, yang dilirik tetap fokus pada jalan raya.
“Saya bisa makan di mana saja, yang penting perut kamu segera diisi.” jawab Hara kesal. Ia sangat khawatir dengan keadaan Jenar, tapi yang dikhawatirkan justru punya pikiran lain.
“Ya, sudah terserah bapak saja.”
Hara menoleh sekilas, lalu menggeleng. Perempuan, memang sulit sekali berterus terang, membuat laki-laki kadang bingung mengambil keputusan.
“Kayaknya ada warung tenda di depan!” Hara memelankan laju mobil, menepi sambil melirik tulisan yang tertera pada kain penutup warung.
“Nasi goreng, mie goreng, nasi godog, mie godog, capcay … ada yang kamu suka,  tidak?” tanya Hara, ketika mobil berhenti tepat di depan warung tenda yang terletak di pinggir jalan.
Jenar menegakkan badan, melihat ke luar jendela, mengamati situasi warung tenda yang tidak begitu ramai. Melihat asap mengepul dan tak sengaja mencium aroma wangi masakan, cacing di perutnya segera protes.
“Mau?” Hara memastikan jawaban Jenar.
Jenar menoleh, lalu mengangguk. Hara segera mengikuti arahan seorang juru parkir, mencari tempat yang aman untuk memarkirkan mobil.
“Pak Hara keluar dulu,” pinta Jenar, setelah Hara mematikan mesin.
“Ada apa?” Hara tak mengerti mengapa Jenar memintanya keluar lebih dulu.
Jenar tidak menjawab, hanya menunjukkan minyak kayu putih. Hara paham maksud kode yang diberikan Jenar, tapi tergoda untuk pura-pura bo doh.
“Apa, sih? Minyak kayu putihnya kenapa?”
Jenar mendengkus, lalu menjawab dengan nada kesal, “Mau diolesin ke perut.”
“Oh!” Hara berlagak tidak mengerti bahwa Jenar butuh privasi.
“Ya, udah. Kenapa masih di sini?” Jenar bersungut-sungut, karena Hara malah bergeming.
“Memangnya nggak boleh? Kamu cuma mau ngolesin minyak kayu putih ke perut, kan? Saya tunggu di sini.” ucap Hara santai.
Sekali lagi Jenar mendengkus, susah juga bicara dengan papan tulis kaku yang tidak memahami perempuan. Malas menjelaskan, ia memilih keluar, berpindah tempat ke kursi belakang.
“Jangan menoleh ke belakang, sekali Pak Hara melakukannya, saya teriak!” seru Jenar ketus.
Hara tersenyum, sekilas melirik kaca spion dalam. Dalam keremangan cahaya dari luar, samar-samar nampak Jenar menunduk. Ia bisa menebak, kalau gadis itu hendak menarik ujung kain gamisnya ke atas. Kalau dilanjutkan, dia pasti akan gila melihat yang tidak seharusnya tertangkap mata.
Pria itu mendengkus, memencet panel untuk menutup semua kaca jendela. Ia memutuskan keluar dari mobil, sebelum kegilaannya berlanjut menguasai akal sehat.
“Ada jaket di belakang, pakailah! Di luar dingin.” ucap Hara sebelum menutup pintu.
Jenar mendongak, lalu mengembuskan napas lega. Sempat ia mengira Hara benar-benar tidak akan keluar dari mobil, sampai ia selesai mengoleskan minyak kayu putih. Dalam hati bersyukur, masih ada laki-laki baik yang menghormati privasi perempuan.
Hara tersenyum, ketika Jenar keluar dari mobil memakai jaket miliknya. Gadis itu justru terlihat makin manis berbalut jaket yang kebesaran. Bau sedap aroma masakan menyambut, saat ia dan Jenar masuk ke warung tenda. Seorang pria berambut cepak dengan perawakan gagah tersenyum ramah, menyambut mereka.
“Monggo, ngersake nunopo?” (Silakan, mau pesan apa?)
Hara yang tidak begitu paham, hanya menggerakkan alis, menatap Jenar.
“Pak Hara mau pesan apa?” Jenar tahu jika Hara tidak mengerti ucapan dalam bahasa jawa kromo. (Bahasa jawa yang digunakan dalam percakapan semi formal.)
“Kamu mau makan apa?” Hara justru mengembalikan pertanyaan kepada Jenar.
Jenar berpikir sebentar, “Ehm … Saya nasi goreng saja.”
“Ya udah sama,” rupaya Hara tidak mau ribet memilih menu.
“Nasi goreng dua, ya, Mas.” ucap Jenar kepada pria berambut cepak yang sedang memasak.
“Nggih, Mbak. Lombok e pinten?” penjual bertanya nasi gorengnya mau dikasih cabe berapa.
“Pak Hara mau pedes atau tidak?” Jenar bertanya kepada Hara.
Hara menggeleng, “Nggak usah.”
“Pedes dikit atau nggak pedes sama sekali?” Jenar memastikan jawaban Hara.
“Dikit saja,” jawab Hara.
Jenar harus mengeraskan suara agar tidak kalah dengan deru kendaraan dan spatula yang beradu di atas wajan, “Yang satu cabe satu kecil, satunya campur bihun cabe lima, ya, Mas.”
Penjual mengangguk paham. Belum sempat Jenar dan Hara berlalu, pria lain menghampiri mereka, “Unjukane nunopo, Mbak?” (Mau minum apa, Mbak?)
__ADS_1
“Ehm … saya jeruk manis anget setengah panas, ya, Mas.” jawab Jenar, lalu ia mengarahkan pandangan pada Hara, “Pak Hara mau minum apa?”
“Es kopi,” jawab Hara singkat sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru warung yang tidak seberapa besar itu, mencari tempat duduk yang masih kosong.
“Kopi tubruk, kopi susu, atau mixcofee, Mas?” tanya pria bertubuh tak terlalu tinggi dengan lengan berotot, seperti terbiasa melakukan olah raga berat.
“Kopi susu tanpa tambahan gula,” jawab Hara lagi.
Pria yang bertanya sudah hendak berbalik badan, tapi Jenar mencegah dengan berseru, “Mas! Jeruknya buat saya dipilihkan yang sudah benar-benar matang, ya! Biar nggak masam. Oya, gulanya sedikit saja.”
“Wah! Kalian pasangan kompak, rupanya! Minta tidak pakai banyak gula, pasti karena kalian sudah manis, to? Memang kalau sedang berdua gini, jangankan jeruk manis, kopi pahit pun akan tetap terasa manis.” seloroh pria yang mengundang senyum dan tawa semua orang.
Jenar dan Hara saling pandang, lalu menggeleng mendengar kelakar pegawai warung yang mengira mereka adalah sepasang kekasih. Sikap protektif Hara mempersilakan Jenar berjalan lebih dulu ke arah bangku kosong dan Jenar yang menunduk malu, siapa saja yang melihat pasti menyangka mereka adalah pasangan.
Pembeli tidak terlalu ramai malam ini. Mereka bebas memilih bangku kosong yang tersedia. Jenar memilih duduk di bangku paling ujung, berjarak dari pembeli lain. Hara paham, jika Jenar tidak suka bersisian dengan keramaian.
“Perutnya masih sakit?” tanya Hara setelah beberapa jenak mereka hanya saling diam.
Jenar menggeleng, “Sudah agak baikan. Terima kasih, ya, Pak. Sudah berinisiatif membelikan minyak kayu putih, padahal saya hanya minta obat mag.”
“Kamu tahu punya sakit mag?” tanya Hara lagi.
Jenar mengangguk. Belum sempat ia bersuara, Hara sudah melayangkan pertanyaan susulan, “Lalu sengaja telat makan? Biar kutebak! Kamu pasti belum makan sejak siang?”
“Ehm … nggak sengaja telat makan, sih, Pak. Kalau belum makan dari siang benar.” jawab Jenar seraya menerawang. Mengingat kapan terakhir ia makan berat hari ini.
Hara mendengkus. Jenar memang selalu lalai, abai pada hal-hal penting yang dianggap sepele.
“Kalau tahu punya sakit mag, harusnya kamu tahu jadwal makan. Jangan sampai telat! Tidak makan sejak siang, kok, bilang tidak sengaja telat makan.” gerutu Hara.
“Memang biasanya saya tidak pernah makan siang, Pak. Paling makan camilan saja, baru makan berat habis magrib.” jelas Jenar.
“Lalu kenapa tadi tidak makan?” Hara masih mengejar penjelasan.
“Karena Pak Hara tadi, kan, sudah menunggu. Waktu Mbak Sayumi nawarin makan, Pak Hara bilang nggak lapar. Saya nggak enak, dong, makan sendiri. Lagi pula bisa telat sampai klinik tadi kalau saya makan dulu.” Jenar melanjutkan penjelasan.
Hara mendengkus, teringat beberapa waktu yang lalu saat di rumah Aneesha. Ia menjemput gadis itu di kampus, sore tadi. Lalu mengantar pulang dulu, sambil mengecek pekerjaan renovasi. Ia berkata kepada Jenar akan pergi habis magrib ke klinik. Tak menyangka jika ternyata Jenar jadi telat makan, gara-gara ia sudah menunggu. Tahu begitu, ia menerima tawaran makan dari Mbak Sayumi saja tadi, agar sakit mag jenar tidak kambuh.
“Saya jadi merasa bersalah, nih!” ucap Hara menyesal.
Jenar menggeleng, “Pak Hara nggak salah, kok. Baik sekali malah. bersedia antar-jemput, mengantar terapi, masih repot beliin obat mag dan menemani saya makan malam sekarang. Kurang baik apa, coba?”
“Jangan begitu, kamu juga berhak bicara seandainya apa yang saya lakukan tidak sesuai dengan kehendakmu.” tutur Hara dengan nada bijaksana.
Jenar hanya mengendikkan bahu, mendengar penuturan Hara. Pria itu pasti lupa sering bersikap otoriter terhadapnya belakangan ini.
Hara jadi ingat pembicaraan dengan dr. Halimah di klinik tadi. Menurut psikolog itu, Jenar membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita. Sebab, efek traumatis yang membekas tidak bisa sembuh begitu saja, tanpa dukungan dari orang-orang terdekat untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.
“Lain kali ngomong saja, kalau kamu ingin makan dulu sebelum pergi, atau apapun. Tidak masalah saya menunggu lebih lama, tentang jadwal konseling … bisa diatur ulang, kok.” jelas Hara, mengoreksi sikap Jenar.
Jenar memutar bola mata. Jika biasanya ia hanya diam dan mendengarkan semua ucapan Hara, kali ini, tidak. Ia memberanikan diri untuk melayangkan protes, “Bagaimana mau ngomong kalau Pak Hara nggak pernah kasih kesempatan pada saya. Bapak juga tidak pernah bertanya sebelum memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan saya, kan?”
Hara mengernyit, “Maksudnya?” ia tidak paham akan maksud ucapan Jenar.
“Ehm …,” Jenar menjeda kalimat sebentar untuk menarik napas. Mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan.
“Pak Hara tidak pernah bertanya apakah saya setuju atau keberatan. Bapak mau jemput, mengantar, mampir beli buku, berhenti di restorant, sampai membelikan saya makanan. Pendapat saya tidak penting, karena bapak tidak menerima penolakan, kan?” Jenar mendongak sejenak, melirik ke arah Hara sambil tersenyum, “Terima kasih, ya, Pak. Sudah sangat peduli dengan saya.”
Hara terkesiap dengan ucapan panjang lebar yang menohok perasaan. Hatinya seperti dihujam pisau tajam, mendengar penuturan Jenar. Selama hidup 28 tahun, baru kali ini ada gadis yang berani menguliti kesalahan dan menyindir dengan ungkapan terima kasih. Ia tak percaya Jenar berani melakukan hal yang menyinggung perasaan itu.
“Jadi tetap saya yang salah, ya?” Hara tersenyum miris. Kemampuannya yang tanggap mengatasi setiap masalah, kali ini justru salah menurut Jenar.
“Saya nggak bilang bapak salah, loh.” jawab Jenar pelan, ada kelegaan di dalam hati karena berhasil berucap panjang lebar tentang sikap Hara yang sering membuatnya merasa tertekan.
“Es kopi susu tanpa gula dan jeruk manis hangat setengah panas dengan gula sedikit. Jeruknya sudah saya pilihkan yang benar-benar matang.” Jenar dan Hara kompak tersenyum sambil menatap pria ramah itu.
“Terima kasih …,” ucap mereka berdua hampir bersamaan.
Pria ramah itu mengangguk sambil tersenyum, "Menikmati minumannya boleh sambil saling pandang, ya, Mas, Mbak. Biar makin terasa manisnya." Pria itu segera undur diri setelah dua gelas berpindah dari nampan ke atas meja. Sementara Jenar dan Hara kompak mengambil gelas masing-masing guna mencicipi minuman pesanan mereka.
“Jen!” “Pak!” Jenar dan Hara saling memanggil bersamaan, setelah meletakkan gelas kembali ke meja.
Hara memalingkan wajah, sedangkan Jenar menunduk. Keduanya tersenyum malu, menyadari kekompakan yang tidak direncana.
“Kamu dulu!” pinta Hara tanpa menatap ke samping.
“Pak Hara saja dulu!” Jenar keberatan dipersilakan bicara lebih dulu.
“Jadi siapa yang mau ngomong duluan, atau kita suit saja?” Hara mengemukakan sebuah ide konyol.
Jenar hampir tertawa, membuat Hara berkata, “Ladies first?”
“Older first!” ucap Jenar yakin.
Hara tertawa kecil, “Kalah saya kalau sudah bicara umur.”
Jenar tersenyum sambil menunduk, menduga kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Hara. Sementara Hara yang sudah menyusun pertanyaan sejak dari klinik tadi, merasa senang mendapat kesempatan.
“Boleh saya bertanya?” Hara memiringkan kepala mencari wajah Jenar yang menunduk.
“Tentang apa?” tanya Jenar tanpa mengangkat wajah.
Hara diam beberapa saat, mengambil napas, lalu melanjutkan pertanyaan, “How do you feel?”
Jenar menoleh, mengerutkan dahi sambil mengulang pertanyaan Hara, “Perasaan saya?”
“Saya ingin tahu, bagaimana perasaanmu setelah tiga kali menjalani terapi konseling ini. Ada perubahan atau tidak?” Hara menjelaskan maksud dari pertanyaannya.
“Oh!” Jenar mengalihkan pandangan ke depan, “Tentu saja ada, Pak. Sekarang saya jadi jarang kambuh. Entah karena sudah sembuh, atau karena tidak pernah bertemu laki-laki berbau alkohol dan parfum yang menyengat.”
Hara tersenyum masam, lagi-lagi Jenar menyindir dirinya yang tidak mengijinkan pulang-pergi sendiri ke kampus. Selama proses pengobatan, memang Jenar jarang pergi sendiri. Apalagi akhir-akhir ini, Hara selalu mengantarnya pergi ke mana pun.
“Jadi saya lagi yang salah?” tanya Hara serius.
“Apa ada kata-kata saya yang menyalahkan bapak?” Jenar justru mengembalikan pertanyaan.
“Memang tidak ada, tapi kalimatmu seperti menyindir saya.” jawab Hara.
“Bapak baperan ternyata.” seloroh Jenar.
Hara tertawa, “Oke, setelah disalahkan sekarang kamu mengatakan saya baperan. Lalu apalagi?”
Jenar menggeleng, meraih gelas, lalu menyesap sedikit minumannya.
“Selama ini apa kamu tidak nyaman, saya antar-jemput ke kampus?” Hara tertarik ingin mengetahui bagaimana sebenarnya yang dirasakan oleh Jenar. Menurut dr. Halimah, orang yang mempunyai trauma lebih sering menyembunyikan perasaan. Ia jadi berpikir kemungkinan Jenar terpaksa bersedia diantar-jemput.
“Nyaman sekali, Pak. Saking nyamannya malah, sampai saya khawatir akan lupa diri. Dengan semua kondisi serba mudah dan baik-baik saja yang bapak berikan, saya takut tidak bisa kembali menjalani hidup seperti semula. Saya takut lupa rasanya naik bus umum, membawa kopi sachet di tas setiap mau pergi, buru-buru pulang karena takut ketinggalan bus terakhir, dan jujur ke Mbak Sayumi kenapa pulang telat. Karena terlalu nyaman, saya takut tidak ingin kembali pada kondisi sebenarnya, Pak.” Jenar tersenyum setelah berhasil mengungkap perasaannya.
Hara menatap gadis di sebelahnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Ada rasa bersalah, iba, sekaligus sayang yang menyeruak beriringan setelah mendengar ungkapan gadis itu.
__ADS_1
“Kalau kamu mau, saya bisa terus mengantar kamu ke mana-mana setiap hari. Kamu tidak perlu kembali hidup seperti dulu yang selalu was-was jika ingin pergi,” ucap Hara tulus.
Namun, Jenar menggeleng. Ia sepenuhnya sadar, bahwa semua yang ia dapatkan dari Hara hanya sementara. Ia tidak ingin pria ini berkorban terlalu banyak, yang akan menambah besar hutang budinya.
“Sampai kapan, Pak? Renovasi rumah Kak Neesha sedikit lagi selesai, setelah itu Pak Hara pasti akan kembali ke Jakarta. Tadi Mbak Tiara bilang, kalau saya merasa lebih baik, boleh berhenti konseling.” Jenar sadar, bagaimana pun kenyamanan yang diberikan Hara tetap ada waktunya harus berakhir.
Ada rasa nyeri dalam hati Hara mendengar kalimat yang diucapkan oleh Jenar. Ungkapan kebenaran yang membuatnya sadar, bahwa kebersamaan manis dengan gadis itu hanya bersifat sementara. Walau sebenarnya ia tidak ingin cepat berakhir.
“Saya sudah pernah bilang akan mengurus pengobatan kamu sampai sembuh, kan? Kamu bisa terus mengikuti sesi konseling sampai sembuh.” ucap Hara setelah bisa mengontrol perasaannya. Ia mengeluarkan sebatang rokok, bermaksud mengalihkan perhatian agar tidak terlalu terbawa suasana.
“Pak Hara pasti sudah berdiskusi dengan dr. Halimah tentang kondisi saya.” Jenar menebak dengan tepat, “Saya tidak ingin Pak Hara keluar uang dan tenaga lebih banyak lagi, hanya untuk mengobati trauma saya yang tidak akan bisa hilang sempurna.”
“Tapi, Jen-” Hara tidak bisa melanjutkan kalimat, karena Jenar segera memotongnya.
“Pak Hara tidak menceritakan tentang keadaan saya kepada orang lain saja, saya sudah sangat berterima kasih. Saya sadar, bapak punya kehidupan sendiri. Waktu yang bapak miliki, tidak harus terbuang hanya untuk mengurus saya.” Jenar tersenyum mengakhiri kalimatnya.
Hara diam, paham tidak mungkin memaksakan kehendak. Penjelasan dr. Halimah kembali terngiang dalam benak. Bahwa Jenar membutuhkan orang yang nyaman diajak bicara. Justru bisa membuat gadis itu kehilangan rasa percaya, jika ia tetap memaksa.
“Oke. Sebenarnya saya tidak masalah jika kamu ingin melanjutkan konseling sampai kapan pun. Uang tidak jadi masalah buat saya, asal kamu tahu. Tapi semua terserah padamu, saya tidak akan memaksa.” Hara menghisap rokok, menahan asap di kerongkongan sebelum menghembuskannya pelan.
“Terima kasih atas pengertiannya, Pak. Saya tidak akan pernah lupa semua kebaikan yang bapak berikan kepada saya.” ucap Jenar tulus.
Hara tersenyum, “Kalau butuh sesuatu, kamu boleh minta ke saya. Anggap saja, saya ini perpanjangan tangan kakak kamu. Kalau dulu kamu sering minta sesuatu sama Aneesha, sekarang ganti ke saya.”
Jenar menggeleng, “Terima kasih, tapi saya sudah banyak merepotkan bapak. Tidak tahu malu sekali kalau saya masih terus minta sesuatu sama bapak.”
“Ya, mungkin kamu ingin cerita tentang sesuatu atau seseorang, gitu. Saya akan dengarkan.” Hara sedikit tercekat saat mengatakan kalimat itu. Ia harus menarik napas sebelum melanjutkan kalimat, “Kalau kita tidak bertemu kamu boleh chat atau telepon saya kapan pun.”
“Sungguh? Jujur, ya, Pak. Sejak Kak Neesha tinggal di Jakarta, saya jadi kehilangan tempat curhat. Dulu cuma Kak Neesha yang sering dengerin cerita saya, karena ayah dan bunda sibuk semua.” gerutu Jenar.
Hara menemukan celah agar mereka berdua bisa berhubungan, meski tanpa alasan terapi atau pekerjaan. Ia berkata sambil terus menatap Jenar, “Kalau begitu sekarang kamu bisa cerita sama saya.”
“Sungguh? Saya boleh telepon atau kirim chat kapan saja ke nomor bapak?” Jenar memastikan.
Hara mengangguk, “Asal jangan tengah malam, saya sudah tidur.”
Jenar tertawa. Selalu ada saja jawaban aneh saat bicara serius dengan Hara. Tak bisa dipungkiri justru seperti inilah yang membuatnya merasa nyaman bersama dengan pria itu. Hara yang semula nampak seperti papan tulis, kaku, datar dan selalu serius. Ternyata setelah mengenal lama, ada sisi lain yang membuatnya nyaman bersama.
“Terima kasih, ya, Pak.” ucap Jenar tulus.
Hara mencebik, “Dari tadi terima kasih terus, padahal saya nggak ngasih apa-apa sama kamu, loh.”
“Pak Hara sudah ngasih banyak ke saya malam ini-” Hara mengangkat tangan, mencegah Jenar bicara lebih banyak.
“Jangan ungkit apa pun yang saya lakukan, nanti terkesan tidak ikhlas.” cetus Hara.
Jenar tersenyum, enggan melanjutkan kalimat karena Hara sudah kembali pada mode ketus lagi. Sejujurnya ia lebih suka Hara yang panik saat tahu ia sakit, yang bijak saat ia melakukan kesalahan, dan bingung karena ia merajuk. Namun, ia tidak berani mengatakannya. Cukup menyimpan dalam hati saja, rasa kagum pada sosok laki-laki minim ekspresi yang telah menjadi penolongnya.
“Jadi kamu mau ngomong apa?” Hara mengingatkan.
Jenar menggeleng, “Apa, ya? Lupa, nggak jadi sajalah.”
“Kok, nggak jadi? Curang!” gerutu Hara.
Jenar tertawa kecil, geli juga melihat Hara menggerutu tidak jelas. Nampak lebih manusiawi, seperti orang pada umumnya.
“Sudah cukup saya bicara banyak tadi.” Jenar menatap Hara tanpa melepas genggaman tangan pada gelas, “Terima kasih sudi mendengar curahan hati saya, tanpa menyela. Pak Hara tidak marah, kan?”
Hara menggeleng, “Kamu satu-satunya orang yang berani mengungkit semua kesalahan saya. Padahal hanya hal sepele, tapi terima kasih banyak. Saya jadi tahu dan bisa mengoreksi diri.”
“Saya nggak sopan, ya, Pak? Berani menyalahkan orang tua,” Jenar meringis sambil menunduk.
“Nggak pa-pa. Saya suka perempuan yang terus terang, dari pada hanya memberi kode, tau-tau merajuk tidak jelas.” secara tidak sadar, Hara telah mengungkapkan perasaannya.
Jenar pun tidak menangkap maksud ungkapan hati Hara. Ia justru merasa pria itu sedang menyindir, “Itu saya banget, Pak. Sering merajuk tidak jelas, bahkan tanpa alasan pasti.”
“Tapi saya suka,” Hara menatap Jenar, “Kalau merajuk, artinya kamu menganggap saya bisa memenuhi keinginanmu. Saya jadi merasa berguna.”
Jenar tergerak untuk menatap Hara. Selama beberapa jenak mereka saling pandang, seperti ingin menyelami kedalaman hati masing-masing.
“Permisi …,” seorang pegawai warung datang dengan membawa sebuah nampan berisi dua piring, “Nasi goreng dua, ya? Yang satu pake bihun, satunya biasa.”
Spontan Hara dan Jenar memutus pandangan. Jenar mengangguk, seraya mengucapkan terima kasih kepada pegawai warung yang mengantar pesanan, sedangkan Hara menghisap rokok sambil membuang pandangan ke segala arah. Mereka saling menetralkan perasaan masing-masing yang sempat mekar. Berusaha menyadarkan diri, bahwa yang baru saja terjadi adalah sebuah kesalahan. Tidak pantas dibiarkan berlanjut tumbuh subur di dalam sana.
"Punya kamu pakai bihun, punya saya tidak?" Hara melirik isi piring Jenar yang berbeda dengan miliknya.
"Tadi Pak Hara nggak bilang ingin dikasih bihun. Ini namanya nasi goreng magelangan, Pak. Biasanya pakai campuran mie basah, tapi saya lebih suka bihun. Saya suka pusing kalau makan mie basah, seperti ada bau-bau nggak enak gitu." jelas Jenar sambil mengaduk isi piring, lalu mencicipi sedikit.
"Heemm ... pas rasanya." gumam Jenar dengan mata berbinar.
Melihat itu, Hara jadi tergoda ingin ikut mencicipi makanan milik Jenar. Pria itu meraih sendok, lalu mengambil sedikit nasi goreng campur bihun tanpa meminta ijin pemiliknya. Reflek Jenar bersungut-sungut.
"Pak Hara, kan, sudah punya sendiri. Curang!"
"Punya kamu kelihatan lebih enak," ucap Hara seraya menyuapkan sendok ke mulut. Ia mengunyah dengan perlahan, menikmati rasa nasi goreng bihun yang gurih, manis dan terlalu pedas.
Hara segera meraih minuman, setelah menelan kunyahan. Sebab, ia merasakan lidahnya seperti terbakar akibat rasa makanan yang terlalu pedas.
"Kenapa, Pak? Enak, kan?" Jenar menahan tawa, melihat wajah Hara yang merah. Ia tahu kalau pria itu tidak bisa makan pedas, sedangkan nasi goreng yang ia pesan terlalu pedas.
"Pedes banget, sih?" gerutu Hara.
"Saya nggak kepedesan, tuh!" Jenar meremehkan Hara yang tidak kuat makan pedas.
"Kamu itu sakit perut, kok, pesan makanan pedas. Nggak takut tambah sakit?" Hara menggeleng, melihat Jenar makan dengan lahap tanpa merasa kepedasan seperti dirinya.
Jenar menggeleng, "Sakit perut itu bukan karena makan pedas, Pak. Tapi karena sudah takdir."
Hara menggeleng sambil tertawa, Jenar selalu bisa menghidupkan suasana. Sungguh gadis sederhana, tapi bisa membuat hidup yang semula abu-abu menjadi penuh warna. Jika boleh ia meminta pada Tuhan, agar gadis ini bisa terus berada di sisinya. Namun, ia bingung harus meminta kepada Tuhan yang mana. Jika ia meminta pada Tuhannya, apakah akan sampai pada Tuhan yang Jenar sembah?
"Punya Pak Hara juga enak, cuma kurang pedes, sih."
Lamunan Hara terputus, oleh ucapan Jenar. Ia tidak sadar, bahwa Jenar baru saja mencicipi nasi goreng miliknya.
"Makan kalau mau," Hara mengambil beberapa sendok nasi goreng, mengalihkannya ke piring Jenar yang sudah berkurang banyak, "Makan yang banyak biar sehat."
"Pak Hara!" seru Jenar, "Saya bisa tambah gendut kalau makan sebanyak ini."
Hara tertawa, puas mengerjai gadis lugu itu. Dalam hati ia membatin, biarlah keadaan mereka seperti ini saja. Jenar tidak perlu tahu jika rasa sayang telah tumbuh dalam hatinya. Cukup membiarkan gadis itu tetap nyaman bersamanya, tidak perlu ada ungkapan rasa, kalau hanya akan membuatnya menjauh.
.
.
.
Bersambung....
***Eh\, ternyata yang mengungkapkan perasaan malah Jenar\, bukan Hara. Tapi bukan rasa cinta ternyata\, hehe. Teman-teman\, sulit memang menghilangkan trauma yang menyakitkan. Butuh dukungan dari orang-orang terdekat. Maka dari itu\, kita dukung saudara atau teman yang ingin bangkit dari trauma\, ya. Sebisa kita saja\, misalnya dengan tidak mengungkit masalah yang membuatnya teringat kejadian menyakitkan itu. Setuju? ***
__ADS_1
.
Bab selanjutnya kita mau ke Jakarta dulu, menengok kira-kira Aneesha sama Reyfan sedang apa, sudah siap menerima kejutan dari adeknya atau belum? Ditunggu, ya. hehe. Gambar di atas mewakili perasaan Hara, ya.