Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
55. Sengaja Tapi Bukan Rencana


__ADS_3

...🍁Pernah tiba-tiba ingin melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan sama sekali sebelumnya? Mungkin itulah yang disebut dorongan dari alam bawah sadar.🍁...


Hara


Sikap impulsif memberi tawaran tumpangan pada Jenar, berdampak pada konsentrasi menyetir yang terbagi. Satu sisi harus fokus pada jalanan yang ramai, tapi dari sudut mata aku menangkap gestur tubuh gadis yang duduk di sebelah.


Dia membuang pandangan ke jendela samping, sejenak ke depan lalu kembali lagi ke posisi semula. Jemarinya terus bergerak seperti sedang menghitung ruas jari. Sesekali kudengar helaan napas, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.


Dari rumah Aneesha sampai ke jalan raya tidak terlalu jauh, tapi berkendara dalam keheningan membuatku jengah. Entah sejak kapan aku tidak suka berada dalam situasi semacam ini, padahal sejak dulu sudah terbiasa tidak banyak bicara. Apalagi kalau sedang menyetir.


Mungkin karena selalu diajak mengobrol jika sedang mengantar kyai Ali? Atau terbiasa dengan Naufal yang tidak pernah berhenti bicara jika sedang bersamaku. Aku menjadi tidak betah dalam sepi tanpa bicara.


Kuinjak pedal rem, laju kendaraan tersendat, sebab ada antrian kendaraan panjang yang berhenti di depan. Pasti karena lampu rambu lalu lintas yang berada di perempatan menuju jalan raya ini sedang menunjukkan warna merah. Sialnya, lampu merah di tempat ini terlalu lama sedangkan lampu hijaunya hanya beberapa detik. Sehingga mobil yang kukendarai tidak bisa segera melaju.


“Ehem! Ehem!” kuputuskan untuk mengusir sepi dengan berdehem. Mampu menarik perhatian Jenar dari menatap ke luar melalui jendela samping.


Hanya sepersekian detik ia menoleh. Tidak menyurutkan keinginanku untuk membuka obrolan diantara kami. Meski tanpa melihat ke arahnya, sebab tulisan di badan truk muatan pasir tepat di depan mata, menyita perhatian.


Jodoh itu seperti tempe, tidak ada yang tahu.


Apa maksud tulisan itu? Lucu, tapi memang benar.


“Kenapa nangis?” Entah kenapa pertanyaan itu yang muncul tiba-tiba dari bibirku.


Aku menoleh, tepat saat Jenar juga menoleh ke arahku sambil mengerutkan dahi. Mimik wajahnya seperti ingin mengatakan ‘apa urusanku?’


Kuperjelas pertanyaan, “kamu! Tadi kenapa nangis?” Jenar masih menatapku dengan pandangan menuduh. Seperti ingin bertanya ‘kok, tahu?’ tapi tidak terucap sebab sudah keburu kujawab dengan penjelasan bernada tanya, “tadi nggak sengaja lihat kamu sama mbak Nanda. Kamu seperti lagi nangis, ada masalah?”


“Oh …,” itu saja yang keluar dari bibirnya. Memutus pandangan, sedangkan jemari kanan gadis itu masih sibuk bergerak-gerak.


“Masalah apa?” aku kembali bertanya sebab Jenar tidak terlihat ingin menjawab.


“Nggak ada masalah apa-apa,” jawabnya singkat, justeru mematik rasa ingin tahu yang lebih besar.


Kukejar dia agar mau bercerita, “nggak mungkin nangis kalau tidak ada masalah apa-apa. Pasti ada penyebabnya. Menurut logika, air mata tidak mungkin keluar tanpa alasan. Bisa karena sedih, haru, terlalu gembira, marah, atau bahkan sekedar kelilipan.”


Jenar menoleh cepat, kali ini pandangannya mengisyaratkan rasa tidak percaya. Jangankan dia, aku sendiri saja tidak percaya bisa berkata panjang lebar seperti yang baru saja terucap. Apa yang membuatku banyak bicara?


“Lupakan kalau tidak mau cerita!”


Mobil di depan sudah bergerak. Segera kualihkan fokus kembali ke jalanan, melajukan mobil dengan sangat pelan, sebab tumpukan kendaraan belum sepenuhnya terurai.


Dari ekor mata lagi, aku melihat Jenar menutup mulut dengan tangan, khas kalau dia sedang tertawa. Meski tidak kudengar suara tawanya, tapi aku tahu gadis itu pasti menertawakanku. Jawaban bernada terkekeh meyakinkan argumenku.


“Ternyata pak Hara punya jiwa kepo juga, ya?”


“Kepo?”


Jenar mengangguk, masih menutup mulut demi tawanya tidak lepas. “Saya kira pak Hara tidak pernah punya rasa ingin tahu seperti orang-orang pada umumnya.”


“Ck.” aku mendecak sebal, merasa Jenar sedang meremehkanku, “kamu pikir saya bukan orang normal, gitu?”


Jenar mengangguk cepat, “pak Hara beda dengan yang lain.”


Aku menggeleng, tidak setuju dengan pendapat Jenar. Aku memang tidak banyak bicara, kurang bisa bergaul dengan banyak orang. Tentu saja bukan berarti aku tidak memiliki perasaan seperti layaknya manusia normal. Kadang aku juga mempunyai rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang mengusik pikiran.


Kubiarkan Jenar menghabiskan tawa tanpa suara. Tidak lagi aku bertanya kepadanya dan tidak lagi kutunggu jawaban yang sepertinya tidak akan dia berikan.


Namun, ia menjawab tanpa menatapku, “tadi saya nangis karena sedang video call sama bunda.”


Jawabannya malah memancing rasa ingin tahuku yang lain. Hara … Hara! Dasar tidak pernah puas setelah memperoleh satu hal, ingin mendapatkan yang lain lagi.


“Kangen sama orang tua, sampai kamu nangis?”


“Kangen sudah pasti, tapi bukan itu yang bikin saya nangis. Sudah biasa tinggal jauh dari ayah bunda. Dulu waktu di pesantren malah nggak bisa sering-sering telpon seperti sekarang.”


“Terus apa yang bikin kamu nangis?”

__ADS_1


“Bunda minta foto mas Ghufron buat bikin cover buku yaasin. Bunda bilang, mau di kirim ke keluarga mas Ghufron untuk peringatan 40 hari nanti.”


“Memangnya sudah mau 40 hari, ya?” pertanyaanku terdengar tidak meyakinkan.


“Masih sebulan lagi, sih. Bunda bilang, biar tidak mendadak, mau dicetak sekarang.


Rasanya baru kemarin aku menemani Ghufron mengambil hasil laboratorium. Masih jelas dalam ingatan aku duduk bersamanya di bangku tunggu rumah sakit, berbicara layaknya dua orang teman. Masih tergambar jelas wajah penuh kesedihan orang-orang yang ditinggalkan.


“Saya masih suka tiba-tiba sedih kalau ingat mas Ghufron. Nggak percaya dia sudah nggak ada, kadang rasanya dia masih ada, hanya kami sedang tidak bisa bertemu.”


Oh! Pertanyaan yang salah, Hara! Harusnya aku tidak menanyakan perihal sentimentil seperti ini. Lihat sekarang! Jenar harus menengadah sembari menyusut sudut mata. Dia pasti ingin menyembunyikan kesedihan yang kembali menyeruak.


‘I’m so sorry!’ ingin aku mengatakannya, tapi tentu tidak sampai terucap. Hanya tertahan di dalam hati, rasa bersalah itu megah bersemayam di sana. Andai aku tidak terlambat mencari donor trombosit, mungkin bisa menyelamatkan pemuda baik itu. Sehingga tidak akan ada tangis di wajah gadis ini.


Aku menambah kecepatan mobil, saat memasuki jalan Magelang-Jogja yang lancar. Berpacu dengan bus dan kendaraan lain yang saling berkejaran. Siang yang sangat terik dengan pantulan sinar matahari yang membentuk fatamorgana di atas jalanan hitam aspal. Jika tadi aku terlambat menyusul, Jenar tidak akan duduk di sampingku sekarang.


Tiba-tiba aku membayangkan dia berdesak-desakan di dalam bus umum yang penuh penumpang. Panas, sesak, berbaur dengan banyak orang pria dan wanita. Berbagai macam sifat manusia, dengan aroma tubuh yang beraneka ragam pula.


Selama ini Jenar mengalami hal tersebut, sejak tinggal di Magelang. Dia sendirian pulang pergi Magelang-Jogja naik angkutan umum. Kemungkinan dia menghirup aroma yang mengingatkan pada masa lalu sangat besar. Sebab deodorant yang kupakai dijual bebas di minimarket atau swalayan. Bagaimana dia mengatasi jika traumanya datang saat sedang berada dalam kumpulan banyak orang?


Ya, Tuhan! Kenapa aku jadi memikirkannya? Selama ini dia baik-baik saja, kok. Berarti dia bisa mengatasi masalahnya sendiri, kan? Tunggu! Bukankah sebelumnya Jenar diantar dan dijemput oleh pak Dito? Baru beberapa hari dia berangkat ke kampus sendiri, kan?


Berbagai pertanyaan yang berputar dalam benak, mendorong bibirku untuk bertanya. Entah sejak kapan, aku tidak bisa menyimpan rasa ingin tahu yang begitu saja hadir.


“Kenapa nggak bawa mobil sendiri?” Aku tahu di rumah Aneesha banyak mobil. Meskipun bukan keluaran terbaru, semua mobil tua yang antik, tapi terawat baik mesin maupun bodinya.


Jenar menggeleng, “saya nggak bisa nyetir, pengin pake motornya kak Neesha, tapi nggak boleh sama ayah. Kata Ayah, lebih aman naik kendaraan umum.”


“Nggak praktis naik kendaraan umum, kamu harus ganti beberapa kali, kan?”


Walau pandangan tetap fokus ke jalan raya, tapi aku tahu Jenar sedang mengangguk, “dua kali. Dari rumah sampai jalan raya naik bis Magelang-Jogja sampai terminal Jombor, baru naik bis sampai kampus. Kadang saya turun di halte kalau lagi pengin naik trans Jogja.”


“Nggak efektif, banyak waktu terbuang.”


“Mau bagaimana lagi, memang harus begitu.”


“Udah. Ayah khawatir kalau saya kenapa-napa di jalan. Resikonya besar juga kalau tiap hari naik motor jarak jauh, apalagi pas dapat jadwal siang sampai sore begini, dijamin sampai rumah malam.”


“Memangnya masih ada bus dari Jogja ke Magelang sampai malam?”


“Ada. Terakhir menjelang maghrib dari terminal Jombor, kalau nggak salah.”


“Kayak nggak yakin gitu?”


“Ini pertama kali saya berangkat siang dari Magelang, pak Hara.”


Tidak tahu pasti siapa yang mulai lebih dulu dan enggan mengakhiri lebih dulu pula. Kami mengisi sepanjang waktu perjalanan dengan mengobrol tentang aktivitas pulang-pergi Jenar juga jadwal kuliahnya yang termasuk padat tapi santai. Mungkin karena baru masuk tahun kedua, atau karena jurusan yang ia ambil.


Meski topik yang kami bicarakan terkesan tidak menarik, tapi aku sama sekali enggan menyudahi. Mendengar celoteh riangnya menceritakan tentang bagaimana ia menghadapi trauma saat harus berbaur dengan berbagai aroma di dalam bus umum. Seperti ia tidak sedang bercerita tentang hal buruk yang menimpa. Ringan sekali.


“Pernah ada bapak-bapak yang bertanya sama saya, kenapa menghirup aroma serbuk kopi? Saya jawab asal, bau keringet bapak.” Jenar tertawa kecil, berhasil menular padaku yang juga ikut tertawa.


“Bapak-bapak itu marah?”


“Nggak. Malah beliau terbahak, sampai batuk-batuk.”


“Nggak kebayang kalau bapak-bapak itu marah-marah sama kamu di bus.”


“Tadinya saya takut, ucapan saya menyinggung beliau. Tapi melihat pembawaannya yang tenang dan ramah, jawaban itu reflek keluar begitu saja.”


“Kalau dapat jadwal siang begini, biasanya kamu pulang jam berapa?”


Sungguh aku tidak menyimpan maksud lain dari pertanyaan itu, tapi rupanya Jenar salah paham.


“Pak Hara ingin jemput saya?”


Aku menoleh ke samping sebentar, hanya untuk menatap tak percaya padanya, “siapa yang mau jemput kamu? Saya cuma tanya biasanya kamu pulang jam berapa?”

__ADS_1


“Tapi pertanyaan Bapak terdengar seperti ingin jemput saya.”


“Sepertinya kamu harus belajar memahami ucapan orang lain, biar tidak salah paham.”


Beberapa detik kemudian aku dibuat terkejut karena Jenar memekik keras, “astaghfirulloh! Pak Hara!”


Hampir saja aku reflek menginjak rem. Beruntung aku sudah terlatih untuk tidak mudah hilang fokus saat menyetir, bisa bahaya kalau tiba-tiba mengerem mendadak sedang kondisi lalu lintas sedang padat.


“Ada apa, sih?” tanyaku memastikan alasan kepanikan Jenar.


“Di depan, sudah sampai simpang Jombor, Pak Hara.”


“Memangnya kenapa?” tanyaku lagi, belum paham kenapa Jenar harus sepanik ini padahal letak kampusnya masih jauh.


“Tadi pak Hara bilang, saya boleh bareng cuma sampai Tempel. Ini kejauhan Pak Hara.”


“Oh, saya kira ada apa.” jawabku datar.


“Pak Hara kejauhan nanti muternya.” dia masih panik dengan sesekali melihat depan dan samping bergantian. Melongok jalanan yang ramai arus lalu lintas.


“Kamu banyak ngomong, sih. Jadi terlewat, kan?”


Jenar menoleh cepat, aku tidak tahu pasti karena masih tetap fokus menyetir. Mungkin dia sedang tidak setuju dengan ucapanku.


Benarkah karena sejak tadi dia bicara tanpa henti, jadi aku terlewat menurunkan dia? Atau aku yang memang sengaja menikmati perjalanan sambil mengobrol, hingga tidak sadar telah melewatkan tempat seharusnya aku menurunkan Jenar karena arah kami tidak sama.


Namun, setelah kami sama-sama sadar pun aku tidak juga ingin berhenti. Jenar juga tidak keberatan, terdengar dari ucapan yang bernada percaya diri yang berujung pada perdebatan ringan.


“Terima kasih, ya, Pak Hara. Tidak keberatan mengantar saya sampai kampus.”


“Siapa yang mau antar kamu sampai kampus? Jangan pe de!”


“Tanggung sudah sampai sini, Pak Hara. Sekalian sampai kampus lah.”


“Nggak! Saya mau pulang.”


“Lebih dekat jarak dari sini sampai kampus saya dari pada dari sini sampai rumah pak Hara.”


“Nggak masalah buat saya.”


“Pak Hara nggak kasihan sama saya? Kalau bus trans Jogjanya lama bagaimana? Nanti saya telat masuk kelas, lho.”


“Itu urusan kamu.”


“Kalau Kak Reyfan tahu pak Hara nurunin saya di jalan, terus saya jadi telat ke kampus, bagaimana, ya?”


“Kamu mau ngadu? Silakan! Reyfan bakal lebih percaya sama saya dari pada kamu.”


“Memang, sih. Tapi Kak Neesha pasti lebih percaya sama saya. Kalau saya bilang ke kak Neesha, pak Hara nurunin saya di jalan terus tinggalin saya begitu saja, dia akan marah nggak? Kira-kira kak Neesha akan marah ke kak Reyfan nggak, ya? Terus kak Reyfan akan marah karena kak Neesha merajuk, tidak?”


Sial! Anak ini berhasil menggoyahkan sikap acuhku dengan kemungkinan yang dia sebutkan. Sebenarnya tidak tega juga menurunkannya di jalan, sedang aku tidak tahu ada bus tidak sampai kampusnya dari sini. Jadi ketika ia menunjukkan arah, aku menurut. Memutar kemudi sesuai petunjuknya.


“Lewat ring road utara, ya, Pak Hara.”


Bukan hanya itu, aku bahkan mengantar Jenar sampai masuk ke halaman parkir gedung universitasnya. Dengan senyum terkembang tanpa rasa bersalah dia berkata, “Pukul 6 petang. Di terminal Jombor, peron bus arah borobudur.”


Belum sempat aku mengeluarkan kata-kata, gadis itu sudah keluar dari mobil. Menutup pintu seraya berkata, “kalau pak Hara mau jemput saya, tapi saya nggak ngarep, sih.”


Kalimat apa itu? Percaya diri sekali dia dan kenapa dia selalu salah paham? Memangnya aku ini sopirnya apa?


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2