Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
74. Malaikat Penolong


__ADS_3

🌵Alloh tidak akan membiarkan manusia sendirian berjalan sendiri, selalu ada yang sengaja dikirim untuk menjadi malaikat penolong.🌵


Jenar.


Setelah menjelajah beberapa artikel di internet tentang cara menyembuhkan phobia, aku mulai mencobanya. Dari sekian banyak cara, aku memilih satu yang paling mudah, self treatment (terapi mandiri). Cara pertama adalah dengan memotivasi diri untuk menghadapi phobia, kedua aku harus sengaja berdekatan dengan objek yang membuat takut, lalu diimbangi dengan olahraga serta mengatur pola makan.


Aku harus membeli barang-barang menyebalkan itu, lalu sengaja menyimpannya di daerah yang mudah dijangkau. Berusaha meyakinkan diri sendiri, memotivasi dengan pikiran-pikiran positif dan mengatur emosi. Setelah terbiasa dengan keberadaan bir dan parfum laki-laki, baru aku mulai terapi paling ekstrim. Yaitu sengaja mencium bau menakutkan yang bisa memunculkan efek traumatis.


Bagian yang paling sulit, karena aku harus memaksakan diri menyentuh benda yang membuat takut. Padahal baru membuka tutup kaleng bir saja, dada ini rasanya sudah sesak, seperti terhimpit batu besar. Bahkan saat hanya menghirup sedikit saja parfum beraroma maskulin yang sengaja disemprotkan, efek takut luar biasa muncul dengan tiba-tiba.


Kuembuskan napas panjang, menatap kaleng-kaleng bir dan beberapa parfum dengan aroma berbeda yang berjajar di atas meja. Sulit. Sepertinya menyembuhkan phobia melalui cara terapi mandiri ini gagal. Bukannya sembuh, aku justru makin merasa risih dan takut dengan barang-barang yang berderet di atas meja.


Lengang. Sampai terdengar gemericik air kolam ikan yang mengelilingi tempatku duduk. Bangunan saung yang terdapat di tengah kolam ini memang paling cocok untuk menyendiri, karena terpisah dari saung-saung yang lain.


“Apa yang sedang kamu lakukan di situ?” sebuah suara membuatku menoleh. Setengah terkejut melihat Pak Hara tiba-tiba sudah berdiri di bibir gazebo dengan tatapan menyelidik.


Entah sejak kapan laki-laki itu di sana, seingatku tadi dia belum datang, saat aku pulang dari kampus. Sial! Sudah menyendiri di tempat paling sepi, juga memanfaatkan kesempatan saat Mbak Sayumi sibuk masak, masih saja ada yang memergoki. Padahal, aku sudah memilih saung paling jauh dari rumah utama yang sedang direnovasi


Laki-laki yang aku tidak tahu kapan datang itu berjalan masuk, lalu berhenti tepat di depan meja, dengan tangan terlipat di depan dada.


“Pengen mabuk?” tanya Pak Hara dengan menunjuk tiga kaleng bir beda merk di depanku.


“Bir seperti ini rasanya tidak enak, kepala kamu cuma akan pusing kalau minum ini,” ucap Pak Hara sambil mengangkat kaleng bir warna putih dengan simbol merk gambar jangkar.


“Sejak kapan suka minum alkohol? Atau baru mau coba-coba? ini juga--” Pak Hara menunjuk parfum yang berjejer di atas meja, lalu bertanya dengan nada remeh, “Mau coba jualan parfum atau bagaimana?”


Aku mengembuskan napas panjang sebelum menjawab, “Saya tidak ingin minum, juga tidak mau jualan parfum.”


Belum juga aku selesai bicara, Pak Hara sudah bertanya lagi, “Terus, ini semua untuk apa?”


“Percobaan,” jawabku singkat.


Pak Hara diam, pasti karena tidak paham dengan ucapanku. Aku mendongak, seraya menjelaskan, “Saya sedang mencoba membiasakan diri dengan barang-barang ini. Kalau dipaksa sering mencium bau alkohol dan parfum laki-laki, mungkin phobia saya bisa sembuh.”


Aku menunduk setelah selesai bicara. Pak Hara mungkin sedang menahan tawa, hanya perkiraanku saja karena dia tak bersuara. Dia mengambil tempat duduk di sebelahku, sambil merogoh saku. Bisa dipastikan sebentar lagi tempat ini akan penuh dengan asap putih dan bau rokok.


“Cara menyembuhkan phobia yang kamu coba terlalu ekstrim. Tahu dari mana?” tanyanya sebelum menyalakan rokok.


“Internet,” jawabku jujur.


“Oh! Di internet pasti banyak caranya, kan? Sudah coba berapa macam?” Pak Hara bertanya lagi, persis seperti detektive yang sedang melakukan wawancara.


“Ehm … saya pikir cara ini paling mudah, jadi saya langsung mencobanya.” aku tidak tahu kenapa merasa perlu untuk menjawab semua pertanyaan yang bukan urusannya.


“Jaman sekarang, internet memang sumber dari berbagai informasi. Semuanya bisa diketahui hanya dengan mencari di internet, tapi kamu harus tahu tidak semua yang kamu peroleh di sana bisa ditelan mentah-mentah.” asap putih pekat keluar dari mulutnya, saat Pak Hara berbicara panjang lebar.


“Harusnya kamu juga sudah tahu, bahwa tidak semua phobia bisa disembuhkan dengan cara yang sama seperti yang kamu dapat di internet.” jelas Pak Hara seraya mendesis, menghisap rokok.


Kenapa laki-laki ini jadi sok tahu dan sok pintar, sih? Eh! Dia memang pintar, kali. Kan, lulusan sarjana luar negeri. Walaupun demikian, aku tidak suka dia mencampuri urusanku. Memangnya siapa dia? Datang-datang langsung memberi ceramah, kalau mau ceramah harusnya di mimbar sana! Menyebalkan.


“Saya yakin setiap cara yang kamu temukan di internet, pasti ada desclamernya. Mungkin kamu terlewat, coba baca lagi!” perintah Pak Hara.


Tanpa menjawab, aku segera mengemasi semua barang-barang di meja. Namun, Pak Hara mencegahnya. Dia menarik tanganku yang hendak memasukkan bir ke dalam kantong plasik.


“Mau dibawa kemana?” tanya Pak Hara seraya melihat kantong plastik di tanganku.


“Bukan urusan bapak!” jawabku ketus.


Aku menghempaskan tangannya. Jengah, karena Pak Hara yang sok tahu dan suka ikut campur urusanku.


"Kalau Mbak Sayumi lihat barang-barang ini, dia bisa salah paham." ucapan Pak Hara berhasil membuatku berhenti berkemas. Kubiarkan dia mengambil kantong plastik dari tanganku, "Memangnya kamu nggak takut dia tahu, terus ngadu ke Pak Fares?"


"Pak Hara jangan sok tahu! Mbak Sayumi bukan tukang ngadu. Lagi pula dia sedang sibuk masak, nggak akan tahu saya bawa barang-barang ini." jelasku.


"Oke! Kalau begitu." Pak Hara melepas kantong kresek, meletakkan kembali ke atas meja, "Silakan bawa dan lakukan sesukamu dengan barang-barang itu."


Tepat setelah Pak Hara selesai bicara, aku mendengar Mbak Sayumi berteriak, "Mbak Jenar! Dicari Pakde Teguh!"


Aku melongok, tidak ada siapa-siapa di halaman belakang, pintu pagar juga masih tertutup rapat. Pakde Teguh pasti datang lewat pintu depan. Akan menjadi pertanyaan jika aku menemuinya dengan membawa kantong kresek berisi barang-barang asing.


Ragu-ragu aku melirik Pak Hara. Dia menggerakkan alis, seperti sedang mempersilakan sekaligus meremehkan. Belum juga aku bisa menemukan cara untuk menyembunyikan barang-barang ini, dari arah pendopo terlihat Pakde Teguh dan Mas Irkham berjalan pelan. Mbak Sayumi pasti sudah memberi tahu mereka kalau aku ada di sini, aduh! Bagaimana ini?


"Ngapain kalian di sini?" pertanyaan pakde menelisik, lengkap dengan dahi berkerut menambah gurat keriput di wajahnya.


Aku menggaruk kepala berbalut kerudung yang tentu saja tidak gatal, memikirkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan pakde. Belum juga menemukan kalimat yang tepat, justru Pak Hara sudah memberi jawaban tanpa kupinta.


"Lagi itung-itungan, Pak." ucap Pak Hara.

__ADS_1


"Itung-itungan?" Pakde Teguh mengulang ucapan Pak Hara.


"Ini," Pak Hara menunjuk kantong plastik di atas meja, "Tadi Jenar ke minimarket, saya nitip beli beberapa barang, jadi ini tadi lagi itung-itungan berapa habisnya."


"Habis belanja, Jen? Kok, nggak minta Sayumi saja yang pergi?" Pakde Teguh mulai menginterograsi. Seperti itulah, apa pun yang kulakukan harus jelas diketahui olehnya. Aku bingung harus menjawab apa, sebab tidak terbiasa berbohong.


"Tadi Jenar beli parfum, Pak. Iya, kan, Jen?" Pak Hara menaik-turunkan alis, memaksaku untuk mengangguk. Tidak sepenuhnya salah juga, karena yang ada di kantong plastik memang parfum, meski bukan hari ini aku membelinya.


"Ini titipan saya, kan, Jen? Saya bawa, ya?" Sebenarnya bukan merupakan pertanyaan, tapi pernyataan. Sebab, Pak Hara mengatakan sambil mengangkat kantong plastik.


Aku mengangguk. Pak Hara mengeluarkan dompet dari saku, mengambil dua lembar uang seratus ribuan, lalu menyerahkannya padaku, "Kembaliannya buat kamu, anggap aja upah jalan."


"Wah! Lumayan juga Jenar, dititipin dapat upah." gurau Pakde Teguh.


Aku tersenyum masam, menerima pemberian Pak Hara sambil menghela napas. Seandainya aku punya pilihan untuk menolak, kenapa juga Pak Hara harus bersusah payah menolongku yang sedang dalam posisi sulit.


"Sudah selesai itung-itungannya, ini?" Pakde Teguh bertanya, kujawab melalui anggukan.


"Ikut pakde sekarang, ya?" perintah Pakde Teguh.


"Kemana?" tanyaku sambil melihat Mas Irkham yang sejak tadi hanya diam.


"Nanti malam ada yasinan, Mbah Uti minta kamu datang." ucap pakde menjelaskan.


"Jenar siap-siap dulu, ya, Pakde." jawabku, tanpa sedikit pun membantah perintah.


"Bawa baju ganti sekalian, malam ini kamu nginep. Besok pakde antar ke kampus." Aku mengiyakan perintah pakde. Dalam hati bersyukur dia tidak curiga dan banyak bertanya.


Aku bergegas masuk kamar untuk bersiap, membawa baju dan perlengkapan kuliah secukupnya. Saat hampir selesai, handphone yang terletak di atas meja belajar menggelepar tanda ada panggilan masuk. Aku harus menarik napas panjang sebelum menerima panggilan dari nama kontak yang pemiliknya berada tak jauh dariku.


Pak Hara Calling....


[Minuman dan parfum sudah jadi milikku, ya?]


Pertanyaan tanpa basa-basi yang kudengar begitu sambungan telepon terhubung.


Aku tidak menjawab, justru ingin mengatakan hal paling mengganjal, "Uang yang bapak kasih saya titipkan Mbak Sayumi, ya!"


[Kenapa harus titip ke Mbak Sayumi? Uang itu untuk membayar bir dan parfum yang saya bawa.]


"Pak Hara tidak perlu membayarnya, karena saya yang beli."


Kembali aku menghela napas panjang. Pak Hara membuatku tidak enak hati untuk menolak, sungkan untuk menerima.


[Jenar?] Pak Hara memanggil karena aku hanya diam.


[Pergilah ke psikiater dan konsultasi tentang keadaanmu dengan ahli yang kompeten! Jangan ambil kesimpulan sendiri tentang cara mengobati phobia itu!]


Aku memejamkan mata sejenak, dengan tangan terkepal. Pak Hara memang benar, tapi aku belum siap. Selain waktu dan biaya, aku tidak tahu harus mencari psikolog di mana. Seorang yang nyaman untuk berkonsultasi dan tidak menghakimi.


Sekali lagi kuembuskan napas panjang sambil menatap nanar pantulan wajahku di cermin. Suara gemerisik daun bambu ditiup angin mampu membuatku terpaku. Ya, Alloh! Apakah sebaiknya aku menyerah saja dengan derita phobia selamanya?


Sejenak suasana sunyi karena kami saling diam. Bahkan aku sampai bisa mendengar hembusan napas berat Pak Hara. Lalu suara bariton yang khas menyadarkan lamunan.


[Kalau kamu izinkan, saya bisa membantu]


***


Hara


Aku bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain, tapi melihat Jenar tersiksa karena phobianya naluriku tergelitik. Gadis yang dulu biasa berkumpul dengan banyak orang, berubah menjadi pribadi tertutup dan sering menyendiri. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa perlu membantu orang lain.


Dia memang tidak meminta bantuan. Namun, besarnya keinginan Jenar untuk sembuh, membuatku tak tega membiarkannya berjuang sendiri. Gadis itu tidak mau menceritakan tentang keadaannya kepada siapa pun, kecuali padaku. Itu pun dalam keadaan terpaksa, karena dia kambuh saat sedang bersamaku.


Aku hanya mengikuti kata hati, bahwa tidak ada orang lain yang bisa membantunya. Meski Jenar mempunyai keluarga, tapi dia memilih menghadapi traumanya sendiri.


Tidak mudah menemukan psikiater yang cocok untuk Jenar, karena di sini aku tidak memiliki banyak kenalan. Namun, bukan Hara jika tidak bisa mengusahakannya. Beruntungnya, bisa minta bantuan Kyai Ali dan Gus Hafidz, yang punya banyak santri, kolega dan teman. Sehingga dalam waktu sekejap aku bisa memperoleh seorang psikiatri, muslimah dan tempat praktek dekat dengan rumah Jenar.


Tanpa membuang waktu segera aku membuat janji dengan psikiatri, serta memberi kabar kepada Jenar jadwal pertemuannya.


Saya sudah buat janji dengan psikolog di klinik, hari kamis pukul 12.00 WIB. Kamu mau dijemput atau kita langsung ketemu di sana?


Isi pesan yang kukirimkan padanya. Jenar tidak segera membalas, sampai aku harus menunggu lama. Pesan balasan darinya pun bukan merupakan jawaban langsung dari pertanyaanku.


Pak Hara salah kirim chat, ya?


Malas berdebat lewat pesan singkat, aku langsung menelpon. Gadis itu bukan cuma lugu, ternyata juga memiliki daya paham yang rendah.

__ADS_1


[Saya tidak sakit, kenapa harus periksa ke dokter?]


Begitu kalimat yang Jenar katakan, saat sambungan telepon baru saja terhubung. Bahkan aku belum sempat menjelaskan maksud dari chat yang kukirimkan sebelumnya.


“Kamu bilang pengen sembuh dari phobia, kan? Saya carikan psikiatri dan urus pendaftarannya, kamu tinggal datang untuk konsultasi saja.”


[Psikiatri? Saya, kan, tidak bilang minta dicarikan psikiatri.]


“Jangan banyak protes, tinggal datang saja, kok. Kamu dapat akses khusus, lho. Jangan sampai terlambat!”


Tanpa menunggu jawabannya, aku segera memutus sambungan telepon. Jenar ini tipe gadis yang suka berbelit-belit dan terlalu lama berpikir. Berurusan dengannya perlu sikap tegas dan tanpa sanggahan.


Karena menggunakan nama Kyai Ali, aku bisa mendaftar lewat jalur khusus. Nomor antrian dari tempat pendaftaran pasien, hanya sebagai formalitas saja. Beruntung Jenar datang tepat waktu, jadi kami tidak perlu mengantre lama di ruang tunggu.


“Pak Hara ikut masuk?” tanya Jenar, saat namanya dipanggil.


“Buat apa saya ikut masuk? Yang mau konsultasi kamu, tentu butuh waktu privat dengan psikiatrinya.” jawabku menjelaskan.


Cukup lama aku menunggu, sampai Jenar keluar dengan raut wajah berbinar. Aku mengira dia sudah merasa lega setelah berkonsultasi. Senyum yang nampak di bibirnya cukup menjelaskan.


“Sudah selesai? Ada obat yang perlu ditebus, tidak?” tanyaku basa-basi, padahal tadi sudah mendengar suster menjelaskan kalau Jenar hanya perlu membayar biaya konsultasi saja.


Jenar menggeleng sebelum menjawab, “Kata Mbak Tiara saya tidak butuh obat kimia.”


"Tiara? Saya bikin janji dengan dr. Halimah, kenapa kamu bilang namanya Tiara?" Aku sampai melihat kembali lembar pendaftaran untuk memastikan tidak salah mendaftar.


Jenar tersenyum, "Iya. Tadi di dalam saya konsultasi dengan dr. Halimah, tapi ada dokter praktek juga. Namanya Mbak Tiara, dia tidak mau dipanggil dokter, karena belum lulus master of degree katanya. Dia praktek di sini sebagai co-asst. Orangnya asyik, lho. Nih! Saya dikasih kartu namanya."


Jenar memberikan kertas kecil, sekilas terlihat deretan nama di sana.



"Kartu namanya lucu, ya? Selain di sini, Mbak Tiara juga membantu dr. Halimah di kliniknya. " Aku tidak menanggapi ucapan Jenar, tak peduli soal kartu nama.


“Terus? Selanjutnya bagaimana?” aku ingin mengetahui hasil dari konsultasinya dengan dokter.


“Saya hanya perlu terapi bercerita,” jawaban Jenar terdengar membingungkan bagiku. Untung dia segera menjelaskan maksudnya, “Saya konsultasi seminggu sekali, nanti dokter akan menganalisa perkembangan kondisi saya. Tidak harus di sini, bisa ke klinik Magelang atau bikin janji langsung sama Mbak Tiara.”


Aku mengangguk. Seperti yang sudah kuduga sejak awal, Jenar hanya butuh berbagi cerita agar sembuh dari phobianya. Semoga ini menjadi perantara yang tepat untuk mengobati phobia akibt trauma yang diderita Jenar.


“Kita makan dulu sebelum pulang, ya? Sudah lewat jam makan siang, kamu pasti lapar, kan?” Jenar tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan.


“Saya juga lapar,” tegasku, agar Jenar tidak menolak ajakan.


“Ehm … kalau cari tempat makan yang ada musolanya Pak Hara keberatan, tidak? Soalnya saya belum salat dzuhur.” jawab Jenar ragu-ragu.


Aku mengangguk. Makan di tempat yang ada musholanya, bukan suatu hal yang berat bagiku. Lagi pula aku sudah terbiasa melihat atau menunggu orang salat, sama sekali tidak membuatku keberatan.


Jarak dari rumah sakit sampai rumah makan tidak terlalu jauh, dalam waktu 10 menit saja kami sudah sampai. Seorang pramusaji menyambut kedatangan kami di depan pintu masuk rumah makan. Dengan ramah ia menyerahkan daftar menu dan nota pemesanan kepadaku, serta mempersilakan kami memilih tempat duduk.


“Di sini ada musholanya, Mbak?” tanya Jenar, saat aku menerima buku menu dari pramusaji.


“Ada, Mbak. Di sebelah sana!” jawab pramusaji sembari menunjuk arah barat laut rumah makan.


“Saya salat dulu, ya, Pak?” pamit Jenar.


Sebelum dia sempat pergi, aku mencegahnya, “Kamu mau makan apa? Biar saya pesankan dulu.”


“Pak Hara saja, saya tidak makan. Maaf, saya sedang puasa.” jawab Jenar sambil lalu pergi menuju mushola.


Aku terpaku menatap punggungnya menjauh. Jenar, jenar … kenapa tadi tidak bilang kalau sedang puasa? Padahal aku mengajaknya makan karena khawatir dia kelaparan. Tahu begitu, tadi kuantar langsung pulang saja. Dasar perempuan! Apa susahnya berterus terang.


Untuk pertama kalinya dalam hidup aku merasa salah mengambil keputusan. Gagal sudah maksud hati ingin menjadi malaikat penolong yang memberi perhatian padanya.


.


.


.


Hai, teman-teman! Alhamdulillah, masih sempat menyapa😁. betewe masih dalam suasana lebaran, ya? Jadi izinkan saya memohon maaf lahir batin 🙏


Taqoballohu minna wa minkum, kullu aamiin wa antum bi khair...


Adakah yang notice sama Mbak Tiara?😉


Selamat idul fitri 1443 H

__ADS_1


La Lu Na/Desi Desma


__ADS_2