Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
68. 1. Pertemuan Membuka Luka


__ADS_3

🌵Setiap orang pasti mempunyai kelemahan, tapi melihat sisi lemahmu … ingin rasanya aku mengusirnya.🌵


Author.


Udara lembab menyapa bersama embusan angin, dingin terasa menyentuh kulit. Jenar duduk di meja yang membentuk setengah lingkaran, tepat menghadap tebing. Di depannya telah tersaji secangkir kopi yang mengepulkan asap panas. Dia menangkupkan kedua telapak tangan menggenggam cangkir, dengan pandangan lurus ke depan. Berusaha menghalau dingin dengan menyentuhkan kulit pada permukaan cangkir yang terasa panas, sembari menatap keindahan panorama alam dari atas bukit.


Sementara itu, tiga pria duduk di tempat yang berbeda. Mereka tengah larut dalam perbincangan, seolah tidak peduli dengan keberadaan Jenar. Meski pada kenyataannya, salah satu diantara ketiga pria itu sesekali mencuri pandang pada gadis berjilbab ungu muda yang sejak tadi lebih banyak diam.


“She’s forgotten you,” ucap Danish yang menyadari sejak tadi adiknya melirik Jenar.


Sadar keasyikannya sedang diusik, Varen tertawa. Dia meraih cangkir dari meja, menyesap kopi sedikit lalu meletakkannya kembali.


“Don’t distrub her! Mengusik dia, sama artinya menabuh genderang perang dengan Mahardika Group. Kamu tahu sendiri, bahwa Aneesha sangat sayang pada adiknya. Karena ulahmu dulu, kakak harus bersusah payah memperbaiki hubungan dengan Reyfan.” Danish sengaja memberi penekanan pada beberapa kata, agar adiknya mengerti apa yang dia ucapkan.


“I know so well. Walaupun sampai saat ini dia masih membuatku penasaran, tapi aku sudah tidak tertarik lagi padanya,” jawab Varen sambil tersenyum remeh.


“Wanita di luar negeri lebih menarik, ya?” tanya Hara serius, tapi terdengar seperti gurauan di telinga Varen.


“No! Bukan karena itu. Aku hanya merasa percuma membuang waktu untuk mengejar perempuan yang tidak pernah memberi respon. Padahal di luar sana banyak cewek yang antri buat dapatin aku, kan?” Varen menyombongkan diri sendiri.


Hara menggelengkan kepala sambil menyimpan senyum, sedangkan Danish mengambil gelas minuman dan segera minum beberapa teguk. Varen memang memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, bahkan cenderung berlebihan. Meski sekarang sudah bisa bersikap sedikit lebih dewasa, tapi sifat sombongnya justru makin tinggi.


Matahari telah tergelincir, artinya sore hari segera datang mengganti siang. Hara dan Danish nampak melanjutkan obrolan, sedangkan Varen hanya sesekali menaggapi. Sebetulnya dia masih belum begitu tertarik dengan urusan bisnis. Kepergiannya ke Magelang adalah demi menuruti kehendak orang tua yang ingin dia belajar bisnis sejak dini dengan kakaknya. Sebagai putra pemilik kerajaan bisnis yang besar, tentu dia harus belajar mengurus perusahaan keluarga.


Varen lebih tertarik memerhatikan Jenar dari pada mendengarkan topik yang sedang dibicarakan oleh Hara dan kakaknya. Meski sudah diperingatkan oleh Danish, tapi pesona Jenar masih membuatnya terpana. Padahal sudah sangat lama mereka tidak saling berjumpa, bahkan sekedar berkabar lewat online pun tidak.


“Kak, aku ke sana, ya?” Varen mendorong kursi, lalu berdiri seraya menunjuk tempat Jenar.


Danish mengarahkan pandang mengikuti telunjuk adiknya. Dia membuang napas kasar lalu berkata tegas, “Sudah kakak bilang jangan ganggu dia!”


“Aku nggak akan ganggu dia, hanya ingin ngobrol sebagai teman yang sudah lama tidak bertemu. Aku kangen sama dia, Kak.” jawab Varen dengan raut wajah penuh permohonan.


“Lebih baik kamu ngobrol di sini saja, deh. Kakak nggak mau kamu bikin masalah sama dia. Lagian, buat apa kamu kangen? Mungkin dia tidak menganggap kamu sebagai teman, tapi musuhnya.” Danish kembali menegaskan ucapan sebelumnya.


Dia benar-benar tidak ingin kejadian masa lalu terulang, karena akan berpengaruh pada proyek kerja sama antara perusahaannya dengan milik Reyfan. Selain sebagai rekan bisnis, dia dan Reyfan bersahabat baik, Danish tidak ingin adiknya membuat masalah yang bisa berakibat pada retaknya hubungan persahabatan mereka.

__ADS_1


“Ngobrol sama kalian membosankan, nggak asyik.” Varen mengambil cangkir kopinya.


Sebelum adiknya itu benar-benar melangkah, Danish kembali memberi peringatan, “Awas kalau kamu macem-macem sama dia! Kakak bisa cabut semua fasilitas yang kamu pakai.”


“Iya, Kak. Iya. Varen ngerti banget,” jawab Varen remeh. Dia tidak memedulikan Danish yang menggerutu, tetap pergi untuk mendekati Jenar.


Hara tidak lepas menatap punggung Varen sampai pria itu mengambil tempat duduk di sebelah Jenar. Tatapan matanya lurus dan tajam, nampak seperti seekor singa yang sedang mengintai gerak-gerik mangsa. Dia tidak sadar, kalau Danish sedang memerhatikan sikap anehnya itu.


“Sudah berapa lama tinggal di Yogya?” Danish mencoba mengalihkan perhatian Hara dan berhasil. Pria itu memutus pandangan dari Varen dan Jenar.


Seperti seorang yang baru saja mengembalikan kesadaran, Hara berdehem lalu menegakkan badan. Baru dia menjawab pertanyaan Danish, “Sekitar dua-tiga bulanan.”


“Lama juga, ya? Sepertinya kamu betah sekali, ada yang menarik di sini?” tanya Danish dengan nada menyelidik.


Hara tertawa kecil, mengambil cangkir lalu menyesap kopi yang berangsur dingin. “Rumah Aneesha sedang direnovasi, mau tidak mau aku harus mengawasinya.”


"Oya? Memangnya tidak ada orang lain sampai kamu sendiri yang harus turun tangan? Sebegitu pentingkah renovasi rumah Aneesha sampai Reyfan mengirimu ke sini?" tanya Danish tidak percaya dengan jawaban Hara.


Hara mematahkan kecurigaan Danish dengan satu kalimat, "Apapun tentang Aneesha selalu menjadi prioritas paling penting bagi Reyfan."


Di tempat yang nampak seperti meja bar, Varen dan Jenar pun saling berbincang. Dari kejauhan sepasang pria dan wanita muda itu terlihat akrab, persis seperti dua orang teman karib. Tidak ada yang tahu, jika sebenarnya Jenar menyimpan rasa tidak nyaman duduk di dekat Varen. Meski keadaan mereka telah berbeda dan Varen terlihat lebih dewasa, tapi perasaan Jenar tidak bisa untuk baik-baik saja.


Angin bertiup kencang, seiring awan hitam yang semakin bertambah pekat. Suasana menjadi bertambah dingin dan syahdu. Hamparan pemandangan yang semula hijau perlahan memutih karena tertutup kabut bercampur gelapnya mendung.


"Anginnya besar, ya? Masuk aja, yuk!" ajak Varen. Ia dan Jenar sedang tanya jawab mengenai tempat kuliah, saat angin bertiup kencang.


Jenar menggeleng, meski sebenarnya ketakutan menghampiri karena berisik suara ranting pohon bergoyang ditiup angin terdengar gaduh. Awan pekat menggantung di angkasa, gelap merajai sekeliling. Meski semua lampu restoran sudah dinyalakan, tidak mampu mengusir ngeri yang tercipta.


Selama beberapa saat, angin kencang menyapu alam. Lambat laun memelan berganti suara gemuruh guntur disertai kilatan petir menyambar-nyambar. Mendung bertambah pekat, hanya menunggu waktu sampai awan tidak bisa lagi menahan kumpulan uap air, maka hujan pasti jatuh ke bumi.


Varen menengadah, saat merasakan tetes air mengenai kepala. Rintik demi rintik kecil menetes, lama kelamaan berubah menjadi rinai lebat hanya dalam waktu singkat. Tanpa berpikir panjang dia melepas jaket, menyampirkannya ke pundak Jenar. Dia lalu menarik tangan Jenar, mengajaknya berlari ke arah bangunan utama restoran untuk berteduh.


Sementara itu, Hara dan Danish pun segera membereskan barang-barang dan ikut berlari bersama pengunjung lain. Meski meja mereka dilindungi payung besar, tapi tidak bisa menghindarkan mereka dari terkena hujan yang bertambah lebat.


Kedua pria itu menyusul Jenar dan Varen yang sudah lebih dulu mengambil tempat duduk di dalam rumah joglo. Hara mengusap kedua lengan, lalu mengibaskan celana yang sedikit basah. Setelah menarik kursi dan duduk, dia menyugar rambut yang juga basah. Danish melakukan hal yang sama, dua pria itu sedang sibuk membersihkan diri karena terkena guyuran air hujan.

__ADS_1


Seketika rumah joglo yang merupakan bangunan utama restoran menjadi ramai. Semua pengunjung yang tadinya menikmati makanan sambil melihat pemandangan di luar ruangan, kini memilih masuk karena tidak ingin basah kehujanan.


“Baju kamu basah,” Varen meneliti pakaian Jenar yang warnanya menggelap di beberapa bagian, tanda basah. Walaupun sudah memakai jaketnya, ternyata tidak gamis Jenar tetap basah di beberapa bagian. Dia melongok ke arah office restoran seperti sedang mencari sesuatu.


“Ada ganti nggak, ya? Mungkin bisa cari pinjaman baju ke karyawan.” ucap Varen pelan, lebih mirip menggumam untuk dirinya sendiri.


Namun, tentu saja Jenar mendengar, karena Varen berdiri tepat di sampingnya. Segera dia mencegah niat Varen, “Nggak usah, Kak. Cuma basah sedikit, nanti juga kering sendiri.”


“Sedikit bagaimana?” Varen menunjuk jilbab Jenar yang basah di bagian kepala dan bahu, “Ini kalau nggak ganti kamu bisa masuk angin.”


“Nggak pa-pa, Kak. Beneran!” Jenar menolak dengan tegas, meski nada suaranya masih terdengar lembut.


Varen yang sudah sangat kenal dengan sifat dan sikap gadis itu, mengurungkan niat. Jika dia nekat mencari baju ganti untuk Jenar pun percuma, karena gadis itu tidak akan mengubah pendiriannya.


“Terserah, deh! Kamu masih keras kepala seperti dulu, ternyata.” ucap Varen bersungut-sungut.


Jenar tersenyum kecil. Dia mengusap kedua lengan dengan telapak tangan, sambil menggerak-gerakkan kaki. Bermaksud menghalau dingin yang menjalar dari ujung kaki sampai kepala. Jenar sangat sensitif dengan udara dingin. Jika telapak kakinya terkena air dingin maka tidak perlu menunggu waktu lama seluruh tubuh akan terasa menggigil.


.


.


.


Hai, teman-teman!😊


Sebenarnya saya sudah menyiapkan beberapa naskah di draft, biar bisa up setiap hari selama bulan puasa. Ternyata tetap tidak bisa maksimal, karena sekarang saya tidak bisa habis ngetik langsung up. Harus didiemin dulu beberapa saat biar mengembang. Terus disaring biar halus, baru deh dipanggang. 🤣 (Mau ngetik cerita atau bikin donat panggang, sih?)


Intinya semaksimal mungkin saya usahakan up cepat selama bulan ramadhan, biar bisa menemani ibadah teman-teman. Karena menahan rindu lebih susah dari pada menahan lapar.🤣


Teman-teman, komentar yang banyak biar Dek Jenar dan Pak Hara semangat sholat terawehnya. hehe.


Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga lancar, sehat dan berkah... aamiin...


With love,

__ADS_1


Desi Desma/La Lu Na


__ADS_2