
🌹Diantara semua keinginanku, ada satu asa yang paling kuat. Aku ingin bersimpuh di belakangmu saat kamu menengadahkan tangan, lalu kita mengaamiinkan do’a yang sama.🌹
Jenar.
Aku tidak pernah berpikir hubunganku dengan mas Ghufron akan sampai sejauh ini. Bisa kenal dan berteman dekat dengannya saja merupakan satu anugrah luar biasa bagiku.
Seorang gadis biasa cenderung ceroboh sepertiku, tidak punya perencanaan matang dalam hidup. Berbanding terbalik dengan mas Ghufron yang rapi dan punya tujuan hidup jelas. Mas Ghufron terlalu sempurna untukku yang punya banyak kekurangan.
Tapi bukankah manusia diciptakan oleh Alloh dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing? Mas Ghufron membimbingku sampai aku bisa meraba tujuan hidup dan cita-cita. Mas Ghufron juga bisa menjadi pendengar yang baik, saat aku ingin berbagi cerita. Mungkin Alloh menghadirkan mas Ghufron untuk mengisi kekuranganku dengan kelebihan yang ia miliki.
Setelah acara pertunangan kami tempo hari, aku dan mas Ghufron belum pernah bertemu lagi sampai hari ini. Sampai aku kembali melakukan aktivitas seperti biasa, karena ayah dan bunda sudah pulang ke Surabaya. Kakak dan kakak iparku pun sudah kembali ke Jakarta. Kami terlalu sibuk, jadwal kuliah yang bertabrakan tidak sama, juga karena aku lebih sering bolos kuliah saat harus menemani keluargaku tempo hari. Namun tentu saja kami tidak pernah alpa berkirim kabar lewat sambungan telepon atau pesan singkat.
Pagi tadi, aku menerima chat dari mas Ghufron. Dia memintaku tidak langsung pulang selesai kelas, sebab mas Ghufron ingin bertemu. Tidak biasanya dia membuat janji, pasti ada yang penting. Mungkin mas Ghufron ingin menyampaikan sesuatu yang tidak bisa dikatakan hanya lewat sambungan telepon.
Aku duduk di bangku selasar bersama teman-temanku. Membunuh waktu dengan membicarakan apa saja, karena kami sama-sama belum ingin pulang. Tentang mata kuliah, tugas yang diberikan dosen, drama korea terbaru, sampai topik sepele merk bedak yang kita pakai.
“Saya jarang pakai bedak, beli satu awet banget. Sampai dua tahun nggak habis-habis.” Teman-temanku menertawakan kepolosanku.
“Kamu enak, sih, Jen. Jarang pakai bedak tapi wajahnya mulus kayak jalan aspal.” Celetuk Ratri.
“Ho oh, pakai lipstik juga nggak pernah tapi bibirnya nggak pucet. Kamu perawatan pakai skincare apa, sih, Jen?” Yang ini suara Aina.
Aku hanya senyum-senyum saja mendengar mereka membicarakan wajahku. Memang aku jarang pakai make up, apalagi skincare. Sayang merogoh uang saku lebih, hanya untuk membeli skincare, apalagi melakukan perawatan wajah di salon. Lebih baik waktu luang kugunakan untuk tidur atau membaca buku dari pada untuk perawatan wajah.
“Gitu aja, kalian nggak tahu,” Addis berdiri dari duduk. Seperti seorang orator dia berbicara di depan kami, “Jenar pakai skincare air wudlu, make upnya cahaya surga yang memancar setiap kali dia membaca Al-qur’an. Jadi udah nggak butuh skincare dan alat mempercantik wajah buatan manusia.”
Sontan kami bertiga menutup mulut menahan tawa. Addis memang paling bisa merangkai majas hiperbola kalau kami sedang berbincang santai. Diantara kami berempat, dia paling bisa mencairkan suasana. Akan terasa sepi jika kami berkumpul tanpa keberadaan Addis.
“Eh! Itu cincin tunanganmu, Jen?” Aina mengambil tanganku, memperhatikan dari dekat cincin yang tersemat di jari manisku.
Aku mengangguk. Kubiarkan tiga temanku berkerumun melihat cincin tunanganku dengan mas Ghufron. Aku tersenyum sendiri karena mereka jelas terlihat kagum dengan cincin itu.
“Wah! Bagus banget. Kamu pilih sendiri atau kang ghufron yang milihin?” Tanya Ratri ingin tahu.
“Mas Ghufron yang pilih sendiri, beli sendiri, bayar sendiri.” Jawabku yakin, membuat ketiga temanku menatap iri padaku. Mereka kompak melepas jemariku, terduduk lesu di bangku.
“Beruntung banget, kamu. Iri dengki aku sama kamu, Jen. Bisa dapet cowok se soleh kang Ghufron,” ucap Aina dengan nada sendu yang dibuat-buat.
“Iri boleh, tapi jangan dengki, dong! Lagi pula, nih. Kalian pasti akan menemukan jodoh kalian masing-masing, kok. Yang pas dengan kalian, yang pasti cocok menurut Alloh.” Kubesarkan hati mereka. Karena aku yakin, Alloh sudah menyiapkan jodoh bagi setiap manusia, yang cocok dan pasti pas.
Kompak mereka mengaminkan ucapanku, “aamiin.”
Dari kejauhan kudengar suara memanggil. Membuat kami semua menoleh ke arah sumber suara. Mas Ghufron melambaikan tangan sambil berjalan ke arah kami, “Nduk!”
Aku berdiri, berpamitan kepada tiga temanku, “aku duluan, ya.”
“Iya, deh, yang udah dijemput calon imam,” cibir Addis.
“Apaan, sih?” Sanggahku seraya menggantungkan tali tas pada bahu kanan lalu berlalu dari hadapan teman-temanku setelah mengucapkan salam.
“Iket yang kenceng, Jen. Jangan sampai lepas!”
“Jangan sampai direbut sama Addis!”
“Jangan sampai dilirik cewek lain!”
Aku menggelengkan kepala mendengar celoteh tiga temanku itu. Kuhampiri mas Ghufron yang juga sedang menghampiriku. Ia ikut tersenyum, sudah pasti karena mendengar candaan dari temanku. Setelah jarak kami tinggal satu meter, kami sama-sama menghentikan langkah.
“Sudah selesai kelas, kan?” Mas Ghufron bertanya padaku.
“Sudah.” Jawabku.
“Kita jalan, ya.”
“Kemana?”
“Ada … ikut aja!” Aku mengikuti mas Ghufron yang berjalan mendahuluiku.
Ini menjadi kali kedua mas Ghufron mengajakku pergi hanya berdua saja. Kalau tempo hari ia mengajakku pergi dengan menggunakan mobil yang dipinjam dari temannya. Kali ini kami berboncengan naik motor matic milik mas Ghufron sendiri.
Tidak masalah bagiku, mau naik motor, mobil, bus atau jalan kaki sekali pun. Bisa jalan berdua dengan mas Ghufron saja sudah membuatku bahagia, tidak penting kemana tujuannya dan dengan apa kami pergi.
Mas Ghufron mengajakku menyusuri jalanan kota Yogyakarta yang selalu ramai. Dari kampus, ia melajukan motor dengan santai, tanpa buru-buru ingin cepat sampai. Saat berhenti karena lampu rambu lalu lintas berwarna merah, ia menoleh ke belakang hanya untuk memastikan aku baik-baik saja.
“Panas, Nduk?”
“Nggih, Mas.”
“Nggak pa-pa kepanasan, ya?”
“Nggih.”
“Nanti tak beliin es kopi kalau sudah sampai.”
“Nggih.”
“Nggak takut item, kan?”
“Sudah item sejak lahir, Mas.”
Mas Ghufron tertawa, kemudian sepeda motor kembali melaju karena lampu rambu lalu-lintas sudah berganti warna menjadi hijau. Ia berkendara dengan santai dan tenang. Mas Ghufron tidak tahu kalau sepanjang perjalanan jantungku berdetak sangat kencang tanpa irama. Mungkin karena ini untuk pertama kalinya, kami tanpa jarak. Bahkan bahu kananku menempel pada punggung mas Ghufron.
__ADS_1
Sudah ku atur jarak duduk kami, tapi yang namanya berboncengan tetap saja kami terlalu dekat. Padahal aku tidak melingkarkan tangan pada pinggang mas Ghufron. Tidak mungkin kulakukan hal itu, karena kami belum menjadi mahrom, masih haram bersentuhan, apalagi berpelukan.
Mungkin karena tahu aku tidak berpegangan padanya, mas Ghufron memilih berkendara dengan pelan dan sangat hati-hati. Tidak mengapa, walau itu artinya aku harus terbiasa dengan detak jantungku yang tidak beraturan selama aku duduk di belakangnya.
Mas Ghufron membawaku ke tempat yang selalu menjadi tujuan utama orang-orang jika berkunjung ke kota pelajar ini. Tempat paling nyaman dan paling menarik untuk menikmati suasana kota ini, titik nol kilometer kota Yogyakarta.
Matahari sedang sangat terik saat kami sampai. Meskipun demikian tetap banyak orang di sana. Ada yang hanya duduk sendirian sambil menatap sekitar, ada yang duduk dengan pasangan sambil berbincang, ada yang sibuk berfoto selfi maupun wefie. Ada juga yang berkerumun duduk bersila seraya bercanda tawa. Sungguh indah pemandangan tempat ini, lengkap dengan segala aktivitasnya.
Aku memilih duduk di bangku bersama mas Ghufron. Dari tempat ini kami bisa memandang gedung kantor pos besar Yogyakarta dan gedung BNI 46. banyak gedung ikonik di sekitar tempat ini, seperti museum serangan umum 1 maret 1949, gedung Bank Indonesia dan museum batik Yogyakarta. Tak salah jika tempat ini menjadi destinasi utama setiap wisatawan yang berkunjung.
“Nggak keberatan, kan, aku ajak kamu ke sini?” Tanya mas Ghufron setelah menenggak air mineral dalam botol.
“Ya, nggak-lah, Mas. Saya malah senang, baru kali ini ke sini siang-siang. Pas panas-panasnya lagi.” Sindirku karena udara memang terasa panas. Sebotol air mineral yang dibelikan mas Ghufron sudah tandas karena aku terlalu haus.
“Nyindir, nih?”
“Kalau ngerasa aja, sih, Mas.”
Kami tertawa bersama. Sudah biasa saling menyindir seperti ini, jika kami sedang tidak sependapat. Bukan berarti aku marah padanya, hanya ingin menunjukkan kalau aku sedang tidak suka saja. Mas Ghufron juga pasti sudah tahu harus melakukan apa jika aku sedang tidak suka.
“Maaf, ya. Terpaksa ngajak kamu ke sini siang-siang, kalau malam nanti susah prosedurnya. Harus minta ijin dulu ke ayah sama om kamu, belum lagi harus ngajak Nalini. Wah! Bisa nggak jadi jalan nanti, gagal acara kencan kita.”
“Bukannya kita memang tidak pernah kencan, ya, Mas?”
“Maka dari itu, sekali-kali boleh, kan? Mas ini juga sama seperti pria lain yang pengin berduaan sama pujaan hati.”
Tiba-tiba aku merasa geli dengan kalimat yang mas Ghufron ucapkan. Jadi ingat kalau aku ingin menunjukkan sesuatu padanya. Kutarik ujung lengan gamisku sedikit, mengulurkan tangan ke depan mas Ghufron, agar dia melihat sesuatu yang melingkar di pergelangan tanganku.
“Mas, lihat! Bagus tidak?”
Aku menunjukkan untaian tali kur yang kubuat menjadi gelang, melingkar cantik di pergelangan tanganku. Kulihat dia tersenyum, memerhatikan gelang tali berliontin huruf R. Liontin yang dia berikan padaku tempo hari, saat kami berwisata ke pantai bersama keluarganya.
Sumber foto : Tokopedia,com.
“Bagus, Nduk. Kamu buat sendiri?”
Aku mengangguk. Kutarik tanganku, kumainkan ujung gelang tali itu, memastikan terikat erat agar jangan sampai lepas.
“Sebentar lagi ada yang jualan gelang tali, nih, sepertinya.” Seloroh mas Ghufron yang membuatku menutup mulut, menahan tawa.
Dia memang paling tahu kalau aku selalu bisa memanfaatkan peluang. Apa saja ingin kujual jika memungkinkan. Bunda pernah bilang, bisnis paling mudah adalah berjualan. Sembilan dari sepuluh pintu rejeki adalah dari berdagang. Maka dari itu, selain kuliah aku juga berjualan online lewat sosial media. Lumayan nggak harus minta uang jajan ke ayah dan nggak bingung kalau uang kiriman dari ayah menipis.
“Setelah jilbab motif aksara jawa dan wayang, habis ini gelang tali kur plus liontinnya, nih?”
“Ehm … kalau prospek, sih, Mas. Belum aku pamerin di instagram, coba nanti cek ombak dulu.”
“Ehm … bunda kayaknya.”
Mas Ghufron tersenyum, hanya sebentar. Setelah itu kulihat dia menatap lurus ke depan, menerawang sambil membuang napas. Hal itu membuatku memiringkan badan, fokus menatapnya. Kalau sudah begini, biasanya mas Ghufron ingin mengatakan sesuatu yang sangat serius.
“Sebenarnya mas mengajakmu ke sini karena ingin ngobrol serius sama kamu, Nduk.”
Perkiaraanku tepat, kan? Ada sesuatu yang ingin dibicarakan mas Ghufron, dan apapun itu aku harus siap mendengarnya.
“Soal apa, Mas?”
“Soal kita,” dia beralih menatapku, meski hanya beberapa detik lalu kembali menatap ke depan, “hubungan kita sudah serius, sekarang. Bukan hanya tentang kita berdua, tapi sudah melibatkan keluarga. Jadi … mas ingin memastikan sama kamu.”
“Memastikan?” Kuulang ucapan mas Ghufron yang tidak kutahu maksudnya.
Dia mengangguk kemudian melanjutkan kalimat, “perasaan kamu terhadap mas.”
“Perasaan?” Aku kembali membeo ucapan mas Ghufron.
“kamu bener-bener mau jadi pendampingku, kan? Kamu serius mau nikah sama aku, kan?”
“Sudah sejauh ini, mas masih menanyakan soal itu? Mas pikir saya tidak serius dengan hubungan kita, gitu?”
“Jangan salah paham dulu, Nduk. Mas tahu kamu serius, hanya saja … apa kamu siap menerima mas apa adanya?”
“Maksud mas gimana, sih? Memangnya selama ini saya terlihat setengah hati menerima mas?” Aku hampir terpancing amarah. Dalam hati aku mengucap istighfar agar jangan sampai mengatakan kalimat bernada tinggi di depan calon suamiku ini.
“Nduk? Kamu tahu, kan, mas ini baru mau lulus sarjana kedokteran. Jalan mas untuk jadi seorang dokter sungguhan masih sangat jauh. Mas masih harus menjalani pendidikan profesi, ujian sertifikasi, lalu intership, belum lagi pendidikan spesialis, karena mas memang ingin menjadi dokter spesialis anak. Bisa jadi saat kamu sudah menjadi bidan nanti, mas justru masih menempuh pendidikan.”
Mas Ghufron membuang napas lagi, “selain mas butuh waktu lama untuk menyelesaikan pendidikan, mas juga butuh banyak biaya. Kalau kita nikah nanti apa kamu sanggup bertahan dengan hidup kita yang mungkin akan berbeda dari hidup kamu yang sekarang.”
“Apa mas sedang meragukan saya?”
“Bukan, Nduk. Mas ragu pada diri mas sendiri, apa mas bisa bahagiain kamu? Mencukupi semua kebutuhan kamu seperti orang tua kamu yang selalu bisa menuruti apa saja keinginanmu.”
Kuubah posisi duduk, seperti mas Ghufron, aku menerawang jauh ke depan sana. Tersenyum kecil seraya berkata, “ternyata mas belum kenal saya selama ini.”
“Mas cuma nggak ingin kamu yang biasanya selalu tercukupi, jadi menahan diri karena hidup bersama mas.”
“Kalau gitu, kenapa mas baru membahasnya sekarang? Kenapa tidak kemarin-kemarin?”
“Maaf mas egois, hanya memikirkan diri mas sendiri. Kemarin saat acara empat bulanan kakak kamu, mas jadi minder, Nduk.”
“Minder karena keluarga saya atau minder karena acara yang diadakan kak Aneesha terlalu berlebihan?”
__ADS_1
“Dua-duanya. Mas minder karena sudah jelas kamu berasal dari keluarga berada pun terpandang. Buktinya acara empat bulanan saja, kakak kamu bisa mengundang kyai besar.”
Aku tertawa kecil. Kuhalau amarah yang hampir keluar, tak akan kubiarkan menguasai diriku. Aku bukan seorang remaja yang mudah terpancing amarah hanya karena kesalah pahaman kecil seperti ini.
“Jadi karena alasan itu, mas nekat bawa saya pakai motor? Mau ngetes saya meleleh nggak kalau kena panas matahari langsung, gitu?” Tanyaku dengan nada bercanda.
“Nduk! Mas serius, lho.” Mas Ghufron menatap tak percaya padaku, karena aku hendak mencandainya.
“Saya juga serius, lho, Mas. Mas nggak usah khawatir tentang itu. Nggak usah mikirin tentang itu dulu, deh, sekarang.”
“Maksud kamu nggak mikirin bagaimana?”
“Maksud saya, sekarang mas fokus aja biar cepet lulus. Nggak usah mikirin soal kita nikah dulu, lagi pula siapa juga yang pengen buru-buru nikah.”
Mas Ghufron menoleh sambil mengernyit, mungkin sedang memastikan pendengarannya berfungsi dengan baik atau tidak.
“Ini baru tahun kedua saya kuliah, Mas. Perjalanan saya menjadi bidan juga masih jauh. Jadi mas nggak perlu khawatir, insyaalloh saya siap menunggu mas. Saya cuma butuh satu hal, Mas.”
“Apa itu, Nduk?”
“Tanggung jawab dan kesetiaan.”
“Itu bukan satu tapi dua, Nduk.”
“Oh, kalau gitu diralat. Saya hanya butuh dua hal, Mas. Sekali saya tahu mas nggak setia atau melalaikan tanggung jawab, saya tidak akan memberi mas kesempatan kedua.”
Meski tidak sedang melihatku, tapi aku tahu mas Ghufron sedang tersenyum. Ia mengambil botol air mineral, membuka, lalu meminumnya. Mendengar ia meneguk air mineral itu, entah mengapa hatiku merasa berdesir. Seperti ada kepakan sayap yang memenuhi perutku. Inikah yang disebut jatuh cinta?
“Tapi mas belum tentu bisa memberimu kehidupan mewah seperti kakakmu, bagaimana?”
“Mas … mas. Memangnya selama ini aku terlihat selalu hidup mewah, gitu? Tas yang saya pakai ini, bukan tas branded. Gamis, sepatu, jilbab yang saya pakai ini apakah dari merk ternama yang harganya bisa bikin ginjal menjerit?”
Mas Ghufron kini tertawa terbahak. Sampai mengundang perhatian orang yang melintas. Dia pasti tidak tahu kalau kak Aneesha hidup biasa saja dulu. Sebelum dia menerima warisan dari papa kandungnya. Jadi tidak ada alasan bagi mas Ghufron untuk rendah diri, karena merasa kami berbeda kasta.
“Jangan samakan saya dengan kak Neesha yang sekarang, ya, Mas. Rumah di Magelang itu milik kak Neesha pribadi, yang bangun juga kak Neesha pakai uangnya sendiri. Keadaan keluarga saya yang sebenarnya, itu sama dengan keluarga biasa lainnya. Jadi mas nggak perlu minder,” ucapku menenangkan.
Aku menceritakan tentang kak Aneesha, kenapa dia bisa memiliki harta yang berlimpah. Kuceritakan tentang keadaan keluargaku yang sebenarnya pada mas Ghufron, agar dia tidak rendah diri. Aku tidak pernah mempermasalahkan soal status sosial dalam menjalin hubungan. Sebab semua manusia sama di hadapan Alloh, yang membedakan hanyalah iman dan takwanya.
Aku senang mas Ghufron mau terbuka tentang perasaannya padaku sekarang. Awal yang baik, menurutku. Sebab nantinya kami pasti akan menemukan banyak perbedaan dan harus saling memahami. Saling terbuka adalah salah satu cara menjalin hubungan agar langgeng selamanya.
“Aku punya kabar baik juga, Nduk.”
“Apa itu, Mas?”
“Pengajuan skripsiku diterima, sudah ada jadwal sidang juga. Nanti kamu datang, ya?”
“Alhamdulillah … insyaalloh saya datang, mas.”
“Do’akan lancar.”
“Insyaalloh hasil maksyut.”
“Aamiin.”
Sayup-sayup terdengar azan ashar berkumandang, kukemasi barang-barangku. Mas Ghufron mengambil botol air mineral milik kami yang telah kosong, membuangnya ke dalam tempat sampah. Ia berdiri di depanku, aku harus mendongak sebentar ingin tahu apa yang akan mas Ghufron lakukan.
Ternyata dia hanya tersenyum lalu berkata, “karena kamu adalah calon istri yang baik dan tidak punya keinginan neko-neko. Jadi aku akan menuruti satu dari dua hal keinginanmu.”
Aku mengerutkan dahi, tapi ucapan mas Ghufron selanjutnya sukses membuat hatiku berdesir hebat, “akan kutunjukkan bahwa aku adalah laki-laki bertanggung jawab, memastikan kamu tidak meninggalkan salat meskipun sedang bepergian.” Dia berkata sambil melangkah, “Sudah azan, ayo salat!”
Kupanjangkan langkah untuk mengejarnya. Setelah bisa menyejajarkan langkah, aku menunjukkan raut muka memberengut yang kubuat-buat. Berkata ketus tanpa menatapnya, “hal kedua harus dituruti juga, dong!”
“Itu nanti kalau sudah nikah saja.”
“Maksud mas sekarang mas boleh tidak setia gitu?”
“Ya, tergantung, sih.”
“Kok, tergantung?”
“Iya. Tergantung ketahuan nggak sama kamu. Kalau nggak ketahuan, aman. Kalau ketahuan, ya, habis aku.”
“Ihh! Mas kok, gitu. Sih?”
Aku menghentakkan kaki sebal, tapi mas Ghufron justru makin menggodaku. Perjalanan ke masjid terdekat jadi terasa lama sekali karena kami saling meledek. Lebih tepatnya mas Ghufron terus menggodaku dan aku jadi kesal karenanya. Kesal tapi suka, suka tapi kesal … kesal yang berujung suka. Seperti ini cara mas Ghufron menyiram tunas cinta dalam hati, agar selalu tumbuh subur setiap waktu.
“Nanti pulangnya mas pesankan taksi online, ya? Mas yang bayar, maaf nggak bisa nganter. Takut khilaf pegang tangan kamu, kalau mas antar pakai motor.”
Aku mengangguk, menyembunyikan senyum sambil menjawab, “Nggih, Mas. Sama saya juga takut khilaf pegangan sama mas kalau boncengan lama-lama. Takut nggak pengen lepas, gitu.”
Kami menutup pertemuan hari ini yang terasa singkat. Mas Ghufron tidak mengantarku pulang dengan sepeda motornya. Tapi dia memesankan taksi online untukku. Mengikuti taksi online dari belakang, memastikan aku sampai di rumah om Dito dengan aman.
Kami sama-sama menjaga diri agar jangan sampai tergoda bujukan sesat setan. Mungkin hal sepele, berawal dari sentuhan tangan, lama kelamaan sentuh wajah, karena sudah nyaman jadi pengen sentuh yang lain juga. Seperti itu setan menggoda manusia, dari melakukan kesalahan kecil, hingga menjadi nyaman melakukan dosa besar. Na’udzubillahimindzalik …. Kami berlindung kepada Alloh dari hal itu (yang buruk).
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1