Merebut Suamiku Kembali

Merebut Suamiku Kembali
Bab. 2


__ADS_3

Fika check out dari Hotel tempat seharusnya dia habiskan sebagai pasangan pengantin baru selama 4hari - 3malam.


Tiba disebuah Apartemen mewah di lantai 5, Fika memasuki Apartemen yang baru beberapa minggu di beli Raven dengan membanting koper jinjingnya. Fika masuk apartemen dalam keadaan marah karena di tinggalkan di hotel sendirian padahal usia pernikahan nya belum genap 24jam.


Apartemen tersebut terdapat dua kamar tidur, satu dapur dengan perkakas yang lengkap berukuran cukup untuk 3 orang melakukan kegiatan didapur dan menyambung langsung dengan ruang utama yang terdapat sebuah layar TV flat berukuran besar di salah satu di dinding, di ujung ruangan dekat dengan pintu kaca yang cukup digeser apabila ingin membuka atau menutupnya terdapat sebuah meja kerja, hanya di batasi dengan partisi ruangan agar tidak terlalu terganggu apabila TV dinyalakan.


Apartemen yang didominasi warna Abu abu, Hitam dan Putih terlihat maskulin dan mewah.


Fika tidak mempermasalahan dekorasi apartemen tersebut, yang di masalahkan Fika adalah penghuni dan pemilik apartemen ini yang sangat tidak bertanggung jawab dan tidak sopan menurut Fika.


Brakk...


Fika membuka kasar salah satu kamar yang diyakini Fika adalah kamar utama apartemen tersebut terlihat dari ukuran yang cukup luas dengan dekorasi warna sama dengan di dekorasi luar. Fika meyakini ini adalah kamar Raven terbukti dengan adanya jam tangan mahal milik Raven yang Fika ingat dipakai Raven disaat mereka melangsungkan pernikahan.


Fika membuka kamar mandi yang terdapat dalam kamar itu, ternyata tidak ada tanda tanda keberadaan Raven.


Akhirnya, Fika memutuskan untuk memasuki kamarnya sendiri yang berada tepat di depan pintu kamar Utama.


Ukuran kamarnya lebih kecil dengan dekorasi yang sama pula dengan dekorasi luar kamar. Namun cukup nyaman bagi Fika.


Fika menghempaskan tubuhnya dikasur yang berukuran sedang menatap langit langit ruangan berusaha menghentikan gemuruh di dadanya yang masih sakit hati pada Raven karena telah meninggalkan nya di hotel tanpa berpamitan.


Sudah senja, Fika memutuskan untuk mandi dan berencana keluar untuk berbelanja bahan makanan, karena tadi sempat dilihat isi kulkas yang kosong. Dan Fika tidak berencana menghabiskan lima hari masa cuti nikahnya hanya dengan jalan jalan. Fika berencana menghabiskan masa cuti nya berada di apartemen dan bermalas malas ria.


Ceklek..

__ADS_1


Fika dapat mendengar pintu utama apartemen dibuka. Dengan cepat Fika keluar kamar ingin mengetahui siapa yang datang. Ternyata Raven dengan setelan kerjanya.


"Kurang Ajar!! gak tau sopan santun. gak punya mulut apa? sampe kluar hotel tanpa pamit?"


Fika menyemburkan amarah yang sedari tadi dia tahan tepat ketika Raven membuka sepatunya. Dengan santai Raven menjawab


"Kita gak perlu saling ikut campur urusan masing masing."


Seperti mendapat tamparan keras di wajah, kata kata Raven yang tanpa penekanan membuat Fika terdiam. Fika tidak menyangka jika syarat pernikahan yang dia ajukan benar benar di laksanakan oleh Raven.


"Tapi setidaknya bisa saling menginfokan, supaya kalo ada yang nanya bisa saling tau. kamu bukan hidup di jaman batu kan?"


"Maaf, di Perjanjian tertulis tidak terlalu terperinci."


Raven meninggalkan Fika untuk masuk kedalam kamarnya, sedangkan Fika hanya terpaku ditempat mendapatkan jawaban singkat dari Raven.


Sangat tidak nyaman jika diteruskan situasi yang saling penuh emosi, pikir Raven.


"Fika, aku bener bener minta maaf sudah ninggalin kamu tadi pagi. aku bener bener jengkel dan terbawa emosi."


"..."


"Smalam setelah resepsi, aku berharap kita bisa bicarakan baik baik tentang pernikahan kita yang menurut aku juga gak masuk akal, tapi karena sudah terjadi.. yaa, harus disikapi dengan bener... Tapi aku gak nyangka, kamu malah terlebih dulu nyodorkan perjanjian gila itu."


"...."

__ADS_1


"Aku bener bener tersinggung dan emosi, jadi langsung ninggalin kamu. Aku bener bener minta maaf. Fik..., jangan diam aja. kita sudah nikah, stidaknya seperti yang kamu bilang tadi, kita bisa saling info apa yang kamu suka dan tidak dalam pernikahan ini begitu juga sebaliknya."


"...."


"Fika, tolong jangan diam saja. kamu mau gimana? aku harus gimana nih? jangan bikin bingung dong"


"Aku juga bingung... maksud ku perjanjian itu hanya sebagai batasan batasan saja. kamu kan sudah ku suruh nambahin, tapi kamu sendiri yang nolak. eh, tau taunya kamu main ninggalin. kamu pikir aja sendiri."


"Aku kan sudah minta maaf. terus aku harus gimana lagi?"


"Aku laper, tapi pengen nangis karena kesel banget sama kamu, tapi pengen ngomel ngomel juga tapi gak tau gimana ngomelnya.. huuu... hu.. huu.."


Tangis Fika pecah diiringi omelan omelan nya, Raven tersenyum melihat tingka Fika yang menurut nya menggemaskan.


"Yawdah, kita keluar makan yuk? ato kamu mau delivery aja?"


"Keluar aja. kamu traktir aku. abis itu aku mo belanja bahan makanan mang enak cuti tapi kullas kosong? huuu... huuu.. "


"Iya.. iya.. sementara aku mandi, kamu diam dulu dan rapikan diri kamu yah."


"Aku gak semengenaskan gitu Kok"


"Iya.. gak kok. tapu diam dulu yah."


Raven masuk kedalam kamar mandi, lalu beberapa saat kemudian keluar dengan pakaian casulanya. dan melihat Fika sedang duduk di meja makan kecil sedang mencatat bahan bahan belanjaan untuk mengisi kulkas.

__ADS_1


Ada perasaan senang dan hangat dalam dada Raven ketika melihat Fika sedang mencatat keperluan rumah tangga yang tidak ada dan akan membelinya untuk persediaan mereka.


seperti begini kali yah seharusnya berumah tangga, pikir Raven.


__ADS_2